Budgeting Rumah Tangga

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil dari thegoldenadvisor.

Jadi penulis itu kadang mendapatkan banyak pertanyaan di luar bidang keahliannya. Seperti kali ini; karena saya sering menyinggung tentang manajemen duit, saya ditanya tentang budgeting rumah tangga. Situasinya gaji suami 5 juta, istri tidak kerja, anak kelas 1 dan kelas 5 SD, ada 2 motor di rumah, kontrak rumah sebulan 1 juta. Beuuh, belum-belum saya wes mumet duluan. 😀

Saya menyarankan untuk ngecek di web web para ahli manajemen keuangan keluarga dan buku buku referensi yang berkaitan. Karena kalau saya ngatur duit itu ya sesuai kebutuhan saya. Senyaman dan seluwesnya kondisi keuangan.

Artinya kalau sedang banyak rezeki, yo nggak foya-foya. Kalau sedang nggak banyak rezeki, ya tetap hidup seperti biasa. Karena sudah ada patokan standar berapa yang layak saya gunakan setiap bulan, tanpa terpengaruh situasi keuangan freelancer yang turun naik tidak menentu.

Tentu saja, saya juga memberikan gambaran budgeting yang dimintanya. Berikut contoh budgeting rumah tangga bulanan untuk keluarga dengan penghasilan 5 juta terdiri dari suami (bekerja), istri (tidak bekerja), dan dua anak (kelas 1 dan kelas 5 SD), dengan kondisi rumah kontrak dan memiliki 2 motor.

Penghasilan Bulanan
Gaji suami: 5.000.000

Pengeluaran Tetap

  • Sewa rumah 1.000.000
  • Listrik & air 250.000
    Bisa berbeda tergantung pemakaian
  • Pulsa/Internet rumah 150.000
    Bisa untuk HP & paket data anak sekolah
  • BBM 2 motor 250.000 (Misal 125 ribu/motor)
  • Uang sekolah (SPP, iuran, dll) 300.000 Tergantung sekolah anak (negeri/ swasta)
  • Iuran BPJS, iuran sosial lingkungan 150.000 (Menyesuaikan keperluan)
  • Tabungan darurat 200.000
    Penting walau sedikit
  • Infak/sedekah 100.000
    Disesuaikan niat dan kemampuan

Subtotal 2.400.000

Pengeluaran Harian (Bulanan)

  • Belanja dapur (makan) 1.800.000
    Sekitar 60 ribu/hari
  • Gas elpiji 40.000
    3 kg per 2 minggu @20.000
  • Sabun, shampo, dll 100.000
  • Jajan anak 150.000
    Disesuaikan, bisa dibatasi
  • Biaya tidak terduga 100.000
    Misal sakit, hajatan, dll

Subtotal 2.190.000

Total Pengeluaran
Pengeluaran tetap: Rp2.400.000

Pengeluaran harian: Rp2.190.000

Total: Rp4.590.000

Sisa Uang: Rp410.000

Sisa ini bisa digunakan untuk:

  • Tambahan tabungan (untuk anak, kesehatan, mudik, dsb.)
  • Dana pendidikan anak
  • Perawatan motor (oli, servis)
  • Kebutuhan mendadak yang tidak terduga

Tips Tambahan:

  • Manfaatkan BPJS Kesehatan untuk keluarga agar hemat biaya kesehatan.
  • Ajarkan anak membawa bekal agar hemat uang jajan.
  • Gunakan promo/belanja bulanan grosir untuk menekan biaya dapur.
  • Jika memungkinkan, istri bisa mulai usaha rumahan kecil-kecilan (misalnya jualan camilan atau pulsa, dll) untuk menambah penghasilan.

Semoga membantu ya. Cara terpenting kalau merasa “uang kurang” nggak usah berhemat, karena itu bikin nyesek. Terlebih di tengah inflasi yang cenderung tidak terkontrol seperti sekarang ini. Sebaiknya, pikirkan cara membuka peluang baru untuk menghasilkan uang. Karena bagaimanapun laju kenaikan gaji, selalu nggak sebanding dengan inflasi dan bertambahnya biaya kebutuhan keluarga.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Gunung Kidul Luar Biasa…!

Saya dengan Mbak Yuni dari Dispussip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Bimtek Penulisan Angkatan 1. Rabu-Jumat, 14-16 Mei 2025. Tiga hari maraton. Full daya. Start jam 8 pagi selesai 14.30 sore. Ini hari kedua dengan peserta yang super. Alhamdulillah. Besok masih ada satu hari yang istimewa.

Saya berpartisipasi dengan literasi Gunung Kidul tuh wes lama banget. Tahun 2017 ketika Gus Hari –begitu saya memanggilnya; yang menggawangi salah satu penerbit dan pesantren, mencolek saya untuk ikut berbagi materi dan pengalaman sebagai penulis. Saya yang biasanya kalau waktu kosong, wes iyo iyo bae, kali ini memperjelas detail. Pesertanya siapa. Kalau minim peserta, saya belok kiri aja. Karena waktu yang diminta panjang.

Setelah diyakinkan kalau peserta cukup banyak 120 orang, saya baru iyo. Booom, saya kaget dengan ledakan semangat menulis peserta saat itu. Saya harus ekstra bekerja ngadepin orang-orang dengan semangat menulis 200%, alias super semangat ❤

Saya dengan peserta Bimtek Penulisan Angkatan 1 usai kelas. Rabu-Jumat, 14-16 Mei. Dispussip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Lalu tahun-tahun berikutnya saya masih ikut serta kegiatan di Gunung Kidul; macem-macem bentuknya; sampai pandemi melanda. Semua pekerjaan saya berkaitan proyek penulisan (termasuk semua jadwal mengisi kelas, workshop, pelatihan, training, dll) di berbagai daerah di Indonesia; direschedule tanpa batas waktu. Bentuk halus dari kata dibatalkan. 😀

Tahu-tahu kemarin Februari, Mbak Yuni dari Dispussip Gunung Kidul yang menggawangi acara Bimtek ini mencolek saya untuk ikut lagi. Wah, setelah cocokan jadwal saya bilang oke. Senanglah saya kalau ketemu orang-orang yang semangatnya lebih kuat dari saya untuk menulis. Saya yo ketularan semangat. Saya tidak mengajar, tapi saya belajar menulis kembali bersama mereka ❤

Terimakasih untuk hari yang penuh semangat dan tertawa bersama. Sampai jumpa lagi 😀

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kenapa Saya Nggak Menyarankan Jadi Penulis?

Bawah laut Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya jadi penulis nasional sejak belia, sekitar umur 12 tahun. Menulis dengan beragam bentuk, berbagai media, institusi, klien, dll. Mulai dari cerita anak, cerita pendek, cerita bersambung, novel, artikel, esai, resensi, review, kritik, buku nonfiksi, biografi, skenario untuk series dan film, hingga skenario iklan dan film dokumenter. Rasanya hampir semua segmen dunia industri kreatif penulisan sudah saya jejaki; tidak hanya di Indonesia tapi hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara. Sudah bertahun-tahun pula saya setia menulis hingga sekarang.

Sudah berbanyak waktu pula saya jadi trainer penulisan, dari tahun 2000 hingga sekarang. Mulai dari mengisi kelas gratisan, kelas berbiaya ringan hingga kelas yang sangat mahal (versi saya, 1 orang membayar 5 juta untuk workshop penulisan 1 bulan itu wes larang 😁). Mengajari menulis berbagai jenis tulisan untuk anak anak SD kecil (kelas 123) hingga orang dewasa dan segala umur secara random.

Segala jenis merah hitam suka duka berada di industri penulisan, dari tahun ke tahun sudah saya nikmati, saya lewati dengan penuh syukur dan sabar. Bersyukur karena menulis ternyata memberi saya dunia yang ajaib, dunia indah dan memberi banyak kebaikan sepanjang hidup saya hingga saat ini. Bersabar, sungguh kalau nggak lebih dari sabar di kala itu tahun 1990-an cerpen saya sebanyak 111x ditolak media nasional, jelas nggak akan terjadi. Kebayang kan kalau ada sekurangnya 10 x 111 lembar halaman yang saya ketik manual saat itu. Butuh kira-kira sekurangnya 2 x 111 perangko Tulungagung Jakarta untuk mengirim dan meminta pengembalian naskah saat itu. Belum amplop naskahnya. Belum itungan beli pita mesin ketiknya. Belum waktunya. Belum lelahnya ngetik 11 jari 😁😆 Tapi senang dan cinta adalah bahan bakar yang nggak akan habis hanya oleh satu kata “lelah” 😆😅

Lalu dari perjalanan panjang itu sering muncul pertanyaan, “Kenapa saya nggak pernah menyarankan seseorang untuk jadi penulis?”

Iya, saya hanya menyarankan orang untuk bisa menulis dengan baik, tapi nggak pernah menyarankan orang untuk jadi penulis. Karena saya wes nyebur, melihat, mengalami bahwa dunia kepenulisan itu sungguh penuh tantangan, ketidakpastian, dan kerja keras yang nggak selalu dihargai secara materi.

Tapi mari kita bahas dari berbagai sudut agar lebih jelas.

Alasan Kenapa Saya Nggak Menyarankan Orang Jadi Penulis
a. Penghasilan Nggak Stabil
Banyak penulis, terutama pemula, sulit mendapatkan penghasilan yang konsisten. Kecuali kamu sudah menjadi penulis best-seller atau bekerja di media besar, hasilnya bisa lumayan lah.

b. Persaingan Ketat
Banyak penulis, sedikit penerbit, sedikit PH, sedikit biro iklan, dan banyak karya bagus yang nggak lolos seleksi. Kadang bukan soal kualitas, tapi juga soal selera pasar, momentum, dan jaringan.

c. Kerja Mental yang Berat
Menulis bukan cuma soal duduk dan mengetik. Ini soal berpikir, riset, revisi berkali-kali, menerima kritik, dan menghadapi keraguan diri sendiri.

d. Kurangnya Pengakuan Sosial
Di beberapa masyarakat, profesi penulis nggak selalu dianggap “profesi serius” kecuali sudah sangat terkenal. Penulis pemula sering dianggap hanya “mengisi waktu luang.”

Namun… Kenapa Jadi Penulis (Kadang Justru) Layak Diperjuangkan? Ini khusus yang cinta pada dunia menulis saja 😀
a. Menulis Bisa Mengubah Hidup Orang
Buku, artikel, atau cerita yang kamu tulis bisa menyentuh, memotivasi, atau bahkan menyelamatkan seseorang. Dampaknya bisa sangat besar.

b. Sarana Ekspresi dan Refleksi Diri
Menulis membantu kita memahami dunia dan diri sendiri. Ini bentuk terapi, eksplorasi, dan pencapaian personal.

c. Membangun Identitas dan Warisan
Karya tulis bisa abadi. Kamu meninggalkan jejak pemikiran, nilai, dan cerita yang bisa dikenang lama.

d. Peluang di Era Digital
Kini, penulis bisa mandiri lewat blog, media sosial, self-publishing, podcast, atau platform seperti Wattpad, Dream, Fizzo, KBM, dll. Nggak harus selalu lewat penerbit besar.

Jadi, Menulis Itu Sebenarnya untuk Siapa?
Menulis bukan untuk semua orang –dan itu ya nggak apa-apa.

Tapi kalau kamu: merasa ada hal penting yang ingin disampaikan, bisa tahan kerja sendiri dalam waktu lama, nggak mudah menyerah saat karyamu ditolak atau diabaikan, merasa bahagia saat merangkai kata, maka kamu justru sebaiknya jadi penulis.

Kalimat “nggak usah jadi penulis” sering datang dari seseorang yang ingin kamu realistis. Tapi kadang, dunia justru butuh orang yang mau idealis dulu, lalu realistis kemudian.

Jadi gimana, kamu masih tertarik untuk menulis atau jadi penulis? Bisa untuk bidang fiksi, nonfiksi, atau lainnya. Yuk ikut kelas privat dengan saya, cek cek dan kontak saja di wa.me/6281380001149 ya 😃

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menghadapi Situasi Nggak Terduga

Raja Ampat, Papua Barat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sudah jauh hari saya mendaftar ikut open trip (OT) ke Bandung 3 hari dengan menginap, Sabtu Minggu Senin, 10-12 Mei. Long weekend dan hari Selasa, 13 Mei saya masih bisa istirahat sehari sebelum rangkaian panjang tugas pengabdian.

Jauh hari sebelum lebaran pun biaya sudah saya lunasi. Seperti rencana awal saya, kalau rezeki saya nggak cukup untuk pergi jauh; maka saya akan menggunakannya untuk piknik dekat ke beberapa areal yang harus saya kunjungi ulang atau ya memang belum pernah saya datangi.

Bandung tentu sudah banyak kali saya datangi. Ketika saya kerja menetap di PH Jakarta, Bandung salah satu tempat pelarian dari keribetan gaweyan yang serasa nggak ada habisnya.

Saya ingin ke Bandung karena ada beberapa “hutang cinta, hutang karma” yang harus saya bereskan. Bebersih energi negatif bisa dari mana saja, tapi berada di lokasi kejadian akan membuat semua lebih mudah. Ini untuk yang mengerti soal energi saja. Abaikan bila sampeyan nggak memahami tentang energi.

Di beberapa kota di Indonesia, saya juga punya pengalaman nggak menyenangkan (yang ternyata mengendap nempel sebagai energi negatif) bertahun-tahun. Tiap kali datang ke kota yang sama, bawaannya nggak hoki mulu. Baru setelah dibersihkan, ya lepas semua. Energi positif, bawa hoki, bawa happy.

Bandung salah satunya dan saya wes niat kalau ada waktu agak panjang, saya akan datang. Membersihkan, membereskan hutang karma yang tetahunan masih belum lunas. Percayalah, memaafkan dan meminta maaf itu butuh lebih dari sekedar keberanian dan kebesaran hati. Ada banyak kejadian –yang saking pekatnya melukai hati, butuh waktu yang nggak singkat bagi saya untuk “memaafkan”.

Jelang libur panjang, saya yo wes siap-siap. Tiga hari dengan banyak destinasi, tentu kudu siap-siap fisik mental. Alhamdulillah saya wes sehat. Dokter nggak komen apa-apa saat saya tanya boleh jalan dengan medan yang berat atau enggak. Tripnya ada ke Tangkuban Perahu dan Kawah Putih. Jadi saya pede, aman niy.

Toh, hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang, kita sudah bikin acara satu hari dengan rapi, tapi tiba-tiba sakit, keluarga nyelo-nyelo urusan, atau produser meminta revisi mendadak. Situasi nggak terduga memang nggak bisa dihindari, tapi semua pasti bisa dihadapi dengan sikap yang bijak dan strategi yang tepat.

Sehari sebelum berangkat OT, saya sempat nanya ke biro karena kok belum diupdate sama sekali infonya. Biasanya H-5 kita sudah tahu semuanya. Ini belum sama sekali. Dikasih tahu kalau nanti malam akan diupdate. Yo wes. Hati saya mulai senik-senik nggak enak. Wah kayaknya nggak jadi niy, pikir saya. Lalu saya itung energi dengan SM (Soul Meter), lho kok saya nggak ada di Bandung. Jelas nggak berangkat ini.

Saya sudah hampir mengirim pesan pembatalan; tapi kalau saya yang batalin, jadinya angus dong semua duit saya. Tahu ya kalau kita pesan trip apapun, pembatalan di H-1 itu duit kayaknya 75-80% bahkan 100% ilang sepenuhnya. Jadi saya wait and see aja.

Beneran hampir tengah malam; saya dikonfirmasi kalau grup saya kurang batas minimal orang. Saya disarankan ikut grup lain yang beda tujuan, beda layanan, tapi sama-sama ke Bandung. Ini grup OT yang beneran massal, nggak cuma 20 orang tapi 150 an orang, labasan nggak ada nginep karena destinasi lebih banyak, harganya mung separoh dari harga yang saya bayarkan. Biyuuu…

Sadar diri kalau sudah nggak belia lagi, saya emoh hectic oyak-oyakan waktu, jadwal, dan layanan massal yang bikin lelah; saya menolak. Lagi pula tujuan utama saya ke Bandung nggak ada di destinasi grup trip massal itu.

Saya menerima pengembalian penuh duit yang saya bayarkan. Alhamdulillah, nggak ilang duitnya. Meskipun ya ada sedikit kecewa. Duh, belum bisa beresin bebersih energi negatif di Bandung.

Sesaat saya bengong. Njur saya ngapain empat hari? Saya nggak ada plan kerja (menulis) karena memang mau libur. Njur tiba-tiba nggak jadi. Haish, mengganti arah piknik mandiri yo bisa, tapi saya kok wes malas duluan mikirin keribetan dan macetnya jalanan ke tempat wisata saat long weekend gitu. Jogja apalagi. Kemruyuk padat merayap di semua tempat wisata.

Yo wes, lihat besok pagi aja; pikir saya dan langsung tidur. Bangun pagi, nggak sengaja lihat meja kerja yang menggunung dengan tumpukan kertas-kertas, saya mendekat. Ruang kerja saya nggak jadi satu dengan ruang tidur.

Tahu-tahu saya wes membereskan kertas-kertas dll yang nggak penting. Pokoknya hari itu wes lumayan bersih. Dan saya teruskan membereskan ruang kerja itu selama tiga hari, Sabtu-Senin. Tentu disambi-sambi gaweyan lain dan pastinya nonton drakor😄

Toh akhirnya saya malah senang nggak jadi liburan. Mungkin Allah suruh saya bersihin energi negatif yang jelas dekat dulu, daripada yang jauh. Begitu ruang kerja bersih rapi (versi saya) kayaknya saya lebih cepet mengerjakan gaweyan; termasuk persiapan kerja marathon.

Jadi ya, versi saya; kayaknya kita hanya perlu berdamai, tetap tenang dan sigap saat menghadapi hal-hal di luar kendali.

1. Tarik Napas, Tenangkan Diri
Reaksi pertama kita saat dihadapkan pada kejadian nggak terduga biasanya adalah panik, marah, kesal. Namun, satu hal kecil seperti menarik napas dalam-dalam bisa memberi jeda untuk berpikir jernih.

Cobalah hitung sampai lima saat menarik napas, tahan sebentar, lalu hembuskan perlahan. Ulangi beberapa kali hingga tubuh dan pikiran terasa lebih rileks.

2. Ubah Fokus: Dari “Kenapa Ini Terjadi?” ke “Apa yang Bisa Saya Lakukan?”
Mengeluh itu manusiawi, tapi terlalu lama tenggelam dalam pertanyaan “Kenapa ini terjadi?” hanya akan membuat kita lelah. Ubah fokus menjadi tindakan: “Apa langkah pertama yang bisa saya ambil sekarang?” Pertanyaan ini mengubah energi dari reaktif menjadi solutif.

3. Bersikap Fleksibel, Jangan Terlalu Kaku dengan Rencana
Rencana itu penting, tapi fleksibilitas adalah kunci bertahan. Jadikan rencana sebagai panduan, bukan penjara. Saat rencana A gagal, siapkan rencana B, bahkan C. Dengan begitu, kita nggak terpaku pada satu skenario dan bisa cepat beradaptasi.

Kalau nggak jadi liburan kali ini, saya memang nggak ada rencana B, C, dst. Karena jarang banget biro membatalkan OT seperti ini. Cuman ini, saya pikir karena ada trip dalam satu biro yang lebih murah tapi lebih banyak destinasinya saja, yang bikin OT semi privat yang saya pilih, gagal memenuhi kuota minimal. Logisnya kalau kamu bisa bayar A dapat 10, ngapain bayar 2A cuma dapat 5 meskipun layanannya jelas beda kelas.

4. Minta Bantuan Jika Perlu
Kita nggak harus jadi pahlawan super yang mengatasi semuanya sendirian. Ketika situasi di luar kendali, jangan ragu untuk meminta bantuan pasangan, teman, atau rekan kerja. Terkadang, hanya dengan berbagi cerita, beban terasa lebih ringan.

5. Jadikan Pelajaran, Bukan Penyesalan
Setelah masalah reda, luangkan waktu untuk refleksi. Apa yang bisa dipelajari dari kejadian tadi? Apakah ada cara untuk mencegahnya di masa depan? Sikap ini membantu kita tumbuh lebih tangguh dari waktu ke waktu.

6. Latih Diri Lewat Simulasi Sederhana
Mulailah membiasakan diri berpikir cepat dalam situasi kecil: “Bagaimana jika listrik mati saat Zoom meeting?” atau “Bagaimana jika mobil kehabisan bensin saat saya sedang buru-buru?” Simulasi ini membangun kesiapan mental dan memperkuat daya lenting.

Situasi nggak terduga bisa datang kapan saja, tapi kita nggak harus kalah oleh kepanikan, kemarahan, kekesalan. Dengan tetap tenang, berpikir jernih, dan membuka diri pada bantuan dan solusi, kita bisa melewatinya dengan kepala tegak.

Ingat, bukan tentang seberapa hebat kita menghindari masalah, tapi bagaimana kita menanggapinya dengan hati yang kuat.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Oh, Liburan Waisak Ini

Puja Dharma Bhakti Waisak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Saya baru sadar ini liburan Waisak, hari besar Umat Budha. Selamat merayakan bagi kaum Budhis. Lha mikirnya, pokok libur panjang ya ikut workshop yang manfaat, dolan, atau mudik.😀
.
Tahun lalu saya ikut Puja Dharma Bhakti Waisak di Borobudur dengan rangkaian trip panjang Sleman Kulon Progo; sejak pagi jam 06 WIB di titik kumpul Malioboro I, sampai kembali pulang di tempat yang sama jam 03 dini hari keesokan harinya. Capek, kaki gempor, ngantuk, rupa rupa rasanya; tapi puas dan happy banget 🥰
.
Bagi kamu yang doyan piknik dan belum pernah ikut acara ini, sekali seumur hidup cobalah ikut. Ini acara pelepasan lampion terbesar di Asia Tenggara yang diadakan setiap hari Raya Waisak di Borobudur.
.
Tiket masuk beragam dan nggak terlalu murah untuk wisata domestik; tapi jadi serasa nggak ada nilainya dibandingkan dengan seluruh kegembiraan dan pengalaman istimewanya. Dari tahun ke tahun harga tiketnya terus naik; karena animo wisatawan domestik dan mancanegara besar sekali.
.
Saran saya kalau mau ikut acara ini tahun depan, pesan tiket jauh jauh hari dari agen resmi dan pilih yang VIP atau VVIP, biar dapat di barisan depan dan antriannya nggak sampai lama banget. Kalau masih jauh hari, harganya umumnya normal dan nggak berlipat ❤
.
Tahun ini, liburan panjang saya di rumah saja. Bebersih ruang kerja. Sesuk masih libur sehari, mo baca dua novel yang sudah dibeli jauh hari 😀 Sudah lama rasanya nggak sesantai ini. Iyalah, empat hari nggo leda-lede nonton drakor pun sampai tamat 2 series 40-an episode. Terimakasih atas perayaan Waisak yang bikin saya ikut menikmati libur panjang 🤩
.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Ada Baiknya Juga Nggak Jadi Liburan

Meja kerja yang sudah saya bersihkan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Biasanya meja kerja saya nggak “sebersih” di foto tersebut. Kertas kerja, memo, post it, catatan, dll. numpuk ngumpul di meja kerja. Sering ada jajanan, cangkir kopi, dll minuman. Apalagi kalau sedang deadline oyak-oyakan. Wes pasti nggak ada ruang kosong tersisa di meja. Penuh sesak. 😆😅
.
Long weekend yang nggak jadi liburan ke Bandung karena beberapa sebab, memberi saya waktu “luang”. Saya bisa membersihkan meja kerja, membongkar menata ulang rak, dan menyisihkan buku-buku yang wes gak bakalan saya baca lagi.
.
Capek juga ternyata bebersih ngurusin isi ruang yang mung 3×3 meter itu. Lumayan ada dua dus buku yang bisa saya singkirkan; menyisakan ruang rak, sehingga nggak muwel numpuk seperti biasanya. Saya membuang banyak sekali kertas dan kruncilan nggak berguna. Hati saya kok ya terasa lebih lega 😀
.
Haish, saya juga punya kebiasaan buruk. Beli buku-buku baru, njur entah lupa bacanya kapan. Kadang ada yang dobel pula. Saking “pinginnya” baca, pokok beli dulu njur ada kesibukan ini itu, terlupakan.
.
Pokmen kalau nggak ditargetkan, sekarang baca buku itu ternyata yo nggak mudah 😁😆 Tiap kali janji nggak akan gitu lagi, ealah yo masih beberapa kali kebobolan beli buku-buku baru dan belum sempat baca.😅🙈
.
Kalau kamu long weekend ngapain aja? Hidup memang sering nggak sesuai rencana, tapi kalau kita lihat sisi positif; pasti selalu “ada baiknya” dalam setiap kejadian.
.
.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kalau Hidupmu Terasa Biasa-biasa Aja

Maluku. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak siy kamu duduk termenung dan merasa hidupmu berjalan begitu-begitu aja? Bangun pagi, beraktivitas, kerja, makan, tidur, ulangi lagi.

Nggak ada hal luar biasa yang terjadi, nggak ada pencapaian besar, dan rasanya kamu hanya bertahan hidup dari hari ke hari. Kalau kamu sedang merasakannya, kamu nggak sendiri.

Saya pun mengalaminya. Sempat terpikir, kok hidup saya gitu gitu aja. Nggak ada pencapaian tertentu, apalagi prestasi besar. Apa yang salah?

Banyak orang yang mungkin sama seperti saya, ngerasa hidupnya biasa-biasa aja. Nggak terlalu sukses, tapi juga nggak terlalu gagal. Mungkin nggak terlalu bahagia, tapi juga nggak benar-benar menderita. Berada di dunia “tengah”, sekelompok kaum mendang mending kalau dibandingkan dengan golongan bawah atau kismin.

Seolah kita niy sedang berada di zona netral yang bikin semuanya terasa datar. Namun, apa iya hidup yang biasa-biasa aja nggak bagus? Saya jadi mikir banyak untuk introspeksi.

Setelah lama bengong ngelamun, saya seperti diingatkan. Oh, hidup yang biasa-biasa aja itu wajar kok. Nggak semua orang ditakdirkan jadi tokoh besar, artis, publik figur, atau influencer dengan jutaan pengikut. Mayoritas dari kita ini ya orang-orang yang hidup dalam ritme sederhana. Dan pastinya kisah kita nggak mungkin ditulis dalam buku sejarah (makanya nulis dong😀), tapi hidup kita jelas punya arti yang mendalam.

Media sosial seringkali bikin kita ngerasa tertinggal. Kita lihat teman-teman flexing pencapaian, liburan, atau gaya hidup glamor, dan tiba-tiba hidup kita terasa membosankan. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari kehidupan orang lain—biasanya bagian terbaiknya saja.

Oh haha, sebagai contoh saya nggak mungkin toh memposting betapa “berdarahdarahnya” capek lelah nyaris putus asanya saat studi lanjut? Yang diposting kan seremoni ujian dan wisuda. Senang-senangnya, happynya, bengepnya nggak diceritakan. Pun untuk buku buku bestseller saya, nggak mungkin banget saya posting bolak-balik revisinya, tengah malam harus bangun untuk wawancara tokoh yang di belahan dunia siang sementara kita malam, dll. Ini hanya bagian kecil sudut pandang pengalaman yang nggak terdokumentasi sosmed.😃

Saya pikir, yang bikin hidup terasa ‘biasa’ sebenarnya bukan rutinitasnya, tapi kurangnya penghargaan yang kita berikan pada rutinitas itu. Bangun pagi bisa terasa membosankan kalau kamu melihatnya sebagai ‘kewajiban’. Tapi bisa terasa berharga kalau kamu memulainya dengan rasa syukur bahwa kamu masih diberi satu hari lagi untuk hidup. Eh, di detik yang sama banyak lho orang mati. Alhamdulillah kita masih hidup.

Saya coba perhatikan kembali hidup sehari-hari yang saya jalani dan bertanya:

Apa saya sudah benar-benar hadir dalam setiap aktivitas?

Apa saya menikmati sarapan atau hanya menelannya sambil memikirkan tugas kantor?

Apa saya mendengarkan orang-orang yang berbicara dengan saya atau sekadar menunggu giliran bicara?

Oh ternyata perubahan kecil dalam cara memandang ini bisa bikin kita ngelihat hal-hal biasa terasa luar biasa. Ada kutipan terkenal dari Fred Rogers: “You don’t have to do anything sensational to be loved.”

Ini mengingatkan kita bahwa jadi berarti nggak selalu datang dari hal-hal besar. Merawat keluarga, menjadi pendengar yang baik, membantu teman, atau sekadar menyapa orang lain dengan senyuman—itu semua adalah hal kecil yang berdampak besar.

Mungkin kita bukan CEO perusahaan besar. Tapi kita bisa jadi seseorang yang selalu ada untuk sahabat kita saat dia butuh. Mungkin kita belum meraih mimpi-mimpi besar. Tapi bisa jadi kita adalah alasan seseorang tertawa bahagia hari ini. Dan itu rasanya sudah cukup.

Di sisi lain, jika kamu merasa hidup biasa-biasa saja karena kamu menyimpan potensi yang belum dikeluarkan, maka itu pertanda baik. Artinya ada api kecil yang masih menyala di dalam dirimu, menandakan bahwa kamu ingin lebih dari sekadar bertahan hidup.

Kamu ingin tumbuh. Kamu ingin berkembang. Kamu ingin menjalani hidup yang lebih penuh.

Pertanyaannya sekarang: Apa yang bisa kamu lakukan untuk menyalakan kembali semangat itu? Jawabannya bisa panjang banget.

Kita sering terjebak dalam pola yang sama setiap hari: kerja, pulang, tidur. Cobalah hal baru, sekecil apa pun. Baca buku di luar genre favoritmu. Ikut kelas online. Berkenalan dengan orang baru. Lakukan sesuatu yang memecah rutinitas.

Kamu nggak perlu langsung mengejar mimpi besar. Cukup mulai dengan tujuan sederhana: berolahraga tiga kali seminggu, baca satu buku per bulan, atau menulis jurnal harian. Tujuan kecil yang konsisten bisa membawa perubahan besar dalam jangka panjang.

Ingatlah, hidup nggak hanya tentang sampai ke tujuan, tapi juga tentang siapa kamu selama perjalanan itu. Jangan menunggu hidup jadi luar biasa baru kamu bahagia. Bahagialah dalam proses menjadikannya luar biasa.

Kadang, hidup yang terasa biasa menyimpan pelajaran luar biasa. Hidup yang nggak dipenuhi gemerlap dan sorotan justru bisa lebih tenang, lebih stabil, dan lebih damai. Dalam hidup yang sederhana, kita belajar bersyukur. Dalam rutinitas yang tenang, kita belajar mengenal diri.

Jangan remehkan kekuatan hidup yang sederhana. Orang yang hidupnya ‘biasa’ pun bisa jadi inspirasi—justru karena ia tahu cara bertahan, cara mencintai tanpa koar-koar, cara memberi tanpa pamrih.

Selalu ingat bahwa hidup bukan perlombaan. Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu sukses, siapa yang lebih terkenal, atau siapa yang lebih ‘wah’. Kita semua hidup di jalan yang berbeda, pada waktu yang berbeda, dan dengan tantangan yang berbeda pula. Kamu nggak terlambat. Kamu hanya sedang berada di titik istirahat sebelum melangkah lagi.

Kalau hidupmu terasa biasa-biasa aja, mungkin itu bukan pertanda kegagalan. Mungkin itu justru ruang kosong yang bisa kamu isi dengan makna, syukur, dan harapan.

Bukan soal seberapa banyak sorotan yang kamu dapat. Tapi seberapa dalam kamu menikmati dan mensyukuri dirimu sendiri, lalu membagikan kebaikan di sekitarmu.

Karena sesungguhnya, hidup yang tenang, stabil, dan penuh cinta adalah salah satu bentuk hidup paling luar biasa yang bisa dimiliki manusia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: