Menghadapi Situasi Nggak Terduga

Raja Ampat, Papua Barat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sudah jauh hari saya mendaftar ikut open trip (OT) ke Bandung 3 hari dengan menginap, Sabtu Minggu Senin, 10-12 Mei. Long weekend dan hari Selasa, 13 Mei saya masih bisa istirahat sehari sebelum rangkaian panjang tugas pengabdian.

Jauh hari sebelum lebaran pun biaya sudah saya lunasi. Seperti rencana awal saya, kalau rezeki saya nggak cukup untuk pergi jauh; maka saya akan menggunakannya untuk piknik dekat ke beberapa areal yang harus saya kunjungi ulang atau ya memang belum pernah saya datangi.

Bandung tentu sudah banyak kali saya datangi. Ketika saya kerja menetap di PH Jakarta, Bandung salah satu tempat pelarian dari keribetan gaweyan yang serasa nggak ada habisnya.

Saya ingin ke Bandung karena ada beberapa “hutang cinta, hutang karma” yang harus saya bereskan. Bebersih energi negatif bisa dari mana saja, tapi berada di lokasi kejadian akan membuat semua lebih mudah. Ini untuk yang mengerti soal energi saja. Abaikan bila sampeyan nggak memahami tentang energi.

Di beberapa kota di Indonesia, saya juga punya pengalaman nggak menyenangkan (yang ternyata mengendap nempel sebagai energi negatif) bertahun-tahun. Tiap kali datang ke kota yang sama, bawaannya nggak hoki mulu. Baru setelah dibersihkan, ya lepas semua. Energi positif, bawa hoki, bawa happy.

Bandung salah satunya dan saya wes niat kalau ada waktu agak panjang, saya akan datang. Membersihkan, membereskan hutang karma yang tetahunan masih belum lunas. Percayalah, memaafkan dan meminta maaf itu butuh lebih dari sekedar keberanian dan kebesaran hati. Ada banyak kejadian –yang saking pekatnya melukai hati, butuh waktu yang nggak singkat bagi saya untuk “memaafkan”.

Jelang libur panjang, saya yo wes siap-siap. Tiga hari dengan banyak destinasi, tentu kudu siap-siap fisik mental. Alhamdulillah saya wes sehat. Dokter nggak komen apa-apa saat saya tanya boleh jalan dengan medan yang berat atau enggak. Tripnya ada ke Tangkuban Perahu dan Kawah Putih. Jadi saya pede, aman niy.

Toh, hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang, kita sudah bikin acara satu hari dengan rapi, tapi tiba-tiba sakit, keluarga nyelo-nyelo urusan, atau produser meminta revisi mendadak. Situasi nggak terduga memang nggak bisa dihindari, tapi semua pasti bisa dihadapi dengan sikap yang bijak dan strategi yang tepat.

Sehari sebelum berangkat OT, saya sempat nanya ke biro karena kok belum diupdate sama sekali infonya. Biasanya H-5 kita sudah tahu semuanya. Ini belum sama sekali. Dikasih tahu kalau nanti malam akan diupdate. Yo wes. Hati saya mulai senik-senik nggak enak. Wah kayaknya nggak jadi niy, pikir saya. Lalu saya itung energi dengan SM (Soul Meter), lho kok saya nggak ada di Bandung. Jelas nggak berangkat ini.

Saya sudah hampir mengirim pesan pembatalan; tapi kalau saya yang batalin, jadinya angus dong semua duit saya. Tahu ya kalau kita pesan trip apapun, pembatalan di H-1 itu duit kayaknya 75-80% bahkan 100% ilang sepenuhnya. Jadi saya wait and see aja.

Beneran hampir tengah malam; saya dikonfirmasi kalau grup saya kurang batas minimal orang. Saya disarankan ikut grup lain yang beda tujuan, beda layanan, tapi sama-sama ke Bandung. Ini grup OT yang beneran massal, nggak cuma 20 orang tapi 150 an orang, labasan nggak ada nginep karena destinasi lebih banyak, harganya mung separoh dari harga yang saya bayarkan. Biyuuu…

Sadar diri kalau sudah nggak belia lagi, saya emoh hectic oyak-oyakan waktu, jadwal, dan layanan massal yang bikin lelah; saya menolak. Lagi pula tujuan utama saya ke Bandung nggak ada di destinasi grup trip massal itu.

Saya menerima pengembalian penuh duit yang saya bayarkan. Alhamdulillah, nggak ilang duitnya. Meskipun ya ada sedikit kecewa. Duh, belum bisa beresin bebersih energi negatif di Bandung.

Sesaat saya bengong. Njur saya ngapain empat hari? Saya nggak ada plan kerja (menulis) karena memang mau libur. Njur tiba-tiba nggak jadi. Haish, mengganti arah piknik mandiri yo bisa, tapi saya kok wes malas duluan mikirin keribetan dan macetnya jalanan ke tempat wisata saat long weekend gitu. Jogja apalagi. Kemruyuk padat merayap di semua tempat wisata.

Yo wes, lihat besok pagi aja; pikir saya dan langsung tidur. Bangun pagi, nggak sengaja lihat meja kerja yang menggunung dengan tumpukan kertas-kertas, saya mendekat. Ruang kerja saya nggak jadi satu dengan ruang tidur.

Tahu-tahu saya wes membereskan kertas-kertas dll yang nggak penting. Pokoknya hari itu wes lumayan bersih. Dan saya teruskan membereskan ruang kerja itu selama tiga hari, Sabtu-Senin. Tentu disambi-sambi gaweyan lain dan pastinya nonton drakor😄

Toh akhirnya saya malah senang nggak jadi liburan. Mungkin Allah suruh saya bersihin energi negatif yang jelas dekat dulu, daripada yang jauh. Begitu ruang kerja bersih rapi (versi saya) kayaknya saya lebih cepet mengerjakan gaweyan; termasuk persiapan kerja marathon.

Jadi ya, versi saya; kayaknya kita hanya perlu berdamai, tetap tenang dan sigap saat menghadapi hal-hal di luar kendali.

1. Tarik Napas, Tenangkan Diri
Reaksi pertama kita saat dihadapkan pada kejadian nggak terduga biasanya adalah panik, marah, kesal. Namun, satu hal kecil seperti menarik napas dalam-dalam bisa memberi jeda untuk berpikir jernih.

Cobalah hitung sampai lima saat menarik napas, tahan sebentar, lalu hembuskan perlahan. Ulangi beberapa kali hingga tubuh dan pikiran terasa lebih rileks.

2. Ubah Fokus: Dari “Kenapa Ini Terjadi?” ke “Apa yang Bisa Saya Lakukan?”
Mengeluh itu manusiawi, tapi terlalu lama tenggelam dalam pertanyaan “Kenapa ini terjadi?” hanya akan membuat kita lelah. Ubah fokus menjadi tindakan: “Apa langkah pertama yang bisa saya ambil sekarang?” Pertanyaan ini mengubah energi dari reaktif menjadi solutif.

3. Bersikap Fleksibel, Jangan Terlalu Kaku dengan Rencana
Rencana itu penting, tapi fleksibilitas adalah kunci bertahan. Jadikan rencana sebagai panduan, bukan penjara. Saat rencana A gagal, siapkan rencana B, bahkan C. Dengan begitu, kita nggak terpaku pada satu skenario dan bisa cepat beradaptasi.

Kalau nggak jadi liburan kali ini, saya memang nggak ada rencana B, C, dst. Karena jarang banget biro membatalkan OT seperti ini. Cuman ini, saya pikir karena ada trip dalam satu biro yang lebih murah tapi lebih banyak destinasinya saja, yang bikin OT semi privat yang saya pilih, gagal memenuhi kuota minimal. Logisnya kalau kamu bisa bayar A dapat 10, ngapain bayar 2A cuma dapat 5 meskipun layanannya jelas beda kelas.

4. Minta Bantuan Jika Perlu
Kita nggak harus jadi pahlawan super yang mengatasi semuanya sendirian. Ketika situasi di luar kendali, jangan ragu untuk meminta bantuan pasangan, teman, atau rekan kerja. Terkadang, hanya dengan berbagi cerita, beban terasa lebih ringan.

5. Jadikan Pelajaran, Bukan Penyesalan
Setelah masalah reda, luangkan waktu untuk refleksi. Apa yang bisa dipelajari dari kejadian tadi? Apakah ada cara untuk mencegahnya di masa depan? Sikap ini membantu kita tumbuh lebih tangguh dari waktu ke waktu.

6. Latih Diri Lewat Simulasi Sederhana
Mulailah membiasakan diri berpikir cepat dalam situasi kecil: “Bagaimana jika listrik mati saat Zoom meeting?” atau “Bagaimana jika mobil kehabisan bensin saat saya sedang buru-buru?” Simulasi ini membangun kesiapan mental dan memperkuat daya lenting.

Situasi nggak terduga bisa datang kapan saja, tapi kita nggak harus kalah oleh kepanikan, kemarahan, kekesalan. Dengan tetap tenang, berpikir jernih, dan membuka diri pada bantuan dan solusi, kita bisa melewatinya dengan kepala tegak.

Ingat, bukan tentang seberapa hebat kita menghindari masalah, tapi bagaimana kita menanggapinya dengan hati yang kuat.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Oh, Liburan Waisak Ini

Puja Dharma Bhakti Waisak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Saya baru sadar ini liburan Waisak, hari besar Umat Budha. Selamat merayakan bagi kaum Budhis. Lha mikirnya, pokok libur panjang ya ikut workshop yang manfaat, dolan, atau mudik.😀
.
Tahun lalu saya ikut Puja Dharma Bhakti Waisak di Borobudur dengan rangkaian trip panjang Sleman Kulon Progo; sejak pagi jam 06 WIB di titik kumpul Malioboro I, sampai kembali pulang di tempat yang sama jam 03 dini hari keesokan harinya. Capek, kaki gempor, ngantuk, rupa rupa rasanya; tapi puas dan happy banget 🥰
.
Bagi kamu yang doyan piknik dan belum pernah ikut acara ini, sekali seumur hidup cobalah ikut. Ini acara pelepasan lampion terbesar di Asia Tenggara yang diadakan setiap hari Raya Waisak di Borobudur.
.
Tiket masuk beragam dan nggak terlalu murah untuk wisata domestik; tapi jadi serasa nggak ada nilainya dibandingkan dengan seluruh kegembiraan dan pengalaman istimewanya. Dari tahun ke tahun harga tiketnya terus naik; karena animo wisatawan domestik dan mancanegara besar sekali.
.
Saran saya kalau mau ikut acara ini tahun depan, pesan tiket jauh jauh hari dari agen resmi dan pilih yang VIP atau VVIP, biar dapat di barisan depan dan antriannya nggak sampai lama banget. Kalau masih jauh hari, harganya umumnya normal dan nggak berlipat ❤
.
Tahun ini, liburan panjang saya di rumah saja. Bebersih ruang kerja. Sesuk masih libur sehari, mo baca dua novel yang sudah dibeli jauh hari 😀 Sudah lama rasanya nggak sesantai ini. Iyalah, empat hari nggo leda-lede nonton drakor pun sampai tamat 2 series 40-an episode. Terimakasih atas perayaan Waisak yang bikin saya ikut menikmati libur panjang 🤩
.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Ada Baiknya Juga Nggak Jadi Liburan

Meja kerja yang sudah saya bersihkan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Biasanya meja kerja saya nggak “sebersih” di foto tersebut. Kertas kerja, memo, post it, catatan, dll. numpuk ngumpul di meja kerja. Sering ada jajanan, cangkir kopi, dll minuman. Apalagi kalau sedang deadline oyak-oyakan. Wes pasti nggak ada ruang kosong tersisa di meja. Penuh sesak. 😆😅
.
Long weekend yang nggak jadi liburan ke Bandung karena beberapa sebab, memberi saya waktu “luang”. Saya bisa membersihkan meja kerja, membongkar menata ulang rak, dan menyisihkan buku-buku yang wes gak bakalan saya baca lagi.
.
Capek juga ternyata bebersih ngurusin isi ruang yang mung 3×3 meter itu. Lumayan ada dua dus buku yang bisa saya singkirkan; menyisakan ruang rak, sehingga nggak muwel numpuk seperti biasanya. Saya membuang banyak sekali kertas dan kruncilan nggak berguna. Hati saya kok ya terasa lebih lega 😀
.
Haish, saya juga punya kebiasaan buruk. Beli buku-buku baru, njur entah lupa bacanya kapan. Kadang ada yang dobel pula. Saking “pinginnya” baca, pokok beli dulu njur ada kesibukan ini itu, terlupakan.
.
Pokmen kalau nggak ditargetkan, sekarang baca buku itu ternyata yo nggak mudah 😁😆 Tiap kali janji nggak akan gitu lagi, ealah yo masih beberapa kali kebobolan beli buku-buku baru dan belum sempat baca.😅🙈
.
Kalau kamu long weekend ngapain aja? Hidup memang sering nggak sesuai rencana, tapi kalau kita lihat sisi positif; pasti selalu “ada baiknya” dalam setiap kejadian.
.
.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kalau Hidupmu Terasa Biasa-biasa Aja

Maluku. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak siy kamu duduk termenung dan merasa hidupmu berjalan begitu-begitu aja? Bangun pagi, beraktivitas, kerja, makan, tidur, ulangi lagi.

Nggak ada hal luar biasa yang terjadi, nggak ada pencapaian besar, dan rasanya kamu hanya bertahan hidup dari hari ke hari. Kalau kamu sedang merasakannya, kamu nggak sendiri.

Saya pun mengalaminya. Sempat terpikir, kok hidup saya gitu gitu aja. Nggak ada pencapaian tertentu, apalagi prestasi besar. Apa yang salah?

Banyak orang yang mungkin sama seperti saya, ngerasa hidupnya biasa-biasa aja. Nggak terlalu sukses, tapi juga nggak terlalu gagal. Mungkin nggak terlalu bahagia, tapi juga nggak benar-benar menderita. Berada di dunia “tengah”, sekelompok kaum mendang mending kalau dibandingkan dengan golongan bawah atau kismin.

Seolah kita niy sedang berada di zona netral yang bikin semuanya terasa datar. Namun, apa iya hidup yang biasa-biasa aja nggak bagus? Saya jadi mikir banyak untuk introspeksi.

Setelah lama bengong ngelamun, saya seperti diingatkan. Oh, hidup yang biasa-biasa aja itu wajar kok. Nggak semua orang ditakdirkan jadi tokoh besar, artis, publik figur, atau influencer dengan jutaan pengikut. Mayoritas dari kita ini ya orang-orang yang hidup dalam ritme sederhana. Dan pastinya kisah kita nggak mungkin ditulis dalam buku sejarah (makanya nulis dong😀), tapi hidup kita jelas punya arti yang mendalam.

Media sosial seringkali bikin kita ngerasa tertinggal. Kita lihat teman-teman flexing pencapaian, liburan, atau gaya hidup glamor, dan tiba-tiba hidup kita terasa membosankan. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari kehidupan orang lainโ€”biasanya bagian terbaiknya saja.

Oh haha, sebagai contoh saya nggak mungkin toh memposting betapa “berdarahdarahnya” capek lelah nyaris putus asanya saat studi lanjut? Yang diposting kan seremoni ujian dan wisuda. Senang-senangnya, happynya, bengepnya nggak diceritakan. Pun untuk buku buku bestseller saya, nggak mungkin banget saya posting bolak-balik revisinya, tengah malam harus bangun untuk wawancara tokoh yang di belahan dunia siang sementara kita malam, dll. Ini hanya bagian kecil sudut pandang pengalaman yang nggak terdokumentasi sosmed.😃

Saya pikir, yang bikin hidup terasa โ€˜biasaโ€™ sebenarnya bukan rutinitasnya, tapi kurangnya penghargaan yang kita berikan pada rutinitas itu. Bangun pagi bisa terasa membosankan kalau kamu melihatnya sebagai โ€˜kewajibanโ€™. Tapi bisa terasa berharga kalau kamu memulainya dengan rasa syukur bahwa kamu masih diberi satu hari lagi untuk hidup. Eh, di detik yang sama banyak lho orang mati. Alhamdulillah kita masih hidup.

Saya coba perhatikan kembali hidup sehari-hari yang saya jalani dan bertanya:

Apa saya sudah benar-benar hadir dalam setiap aktivitas?

Apa saya menikmati sarapan atau hanya menelannya sambil memikirkan tugas kantor?

Apa saya mendengarkan orang-orang yang berbicara dengan saya atau sekadar menunggu giliran bicara?

Oh ternyata perubahan kecil dalam cara memandang ini bisa bikin kita ngelihat hal-hal biasa terasa luar biasa. Ada kutipan terkenal dari Fred Rogers: โ€œYou donโ€™t have to do anything sensational to be loved.โ€

Ini mengingatkan kita bahwa jadi berarti nggak selalu datang dari hal-hal besar. Merawat keluarga, menjadi pendengar yang baik, membantu teman, atau sekadar menyapa orang lain dengan senyumanโ€”itu semua adalah hal kecil yang berdampak besar.

Mungkin kita bukan CEO perusahaan besar. Tapi kita bisa jadi seseorang yang selalu ada untuk sahabat kita saat dia butuh. Mungkin kita belum meraih mimpi-mimpi besar. Tapi bisa jadi kita adalah alasan seseorang tertawa bahagia hari ini. Dan itu rasanya sudah cukup.

Di sisi lain, jika kamu merasa hidup biasa-biasa saja karena kamu menyimpan potensi yang belum dikeluarkan, maka itu pertanda baik. Artinya ada api kecil yang masih menyala di dalam dirimu, menandakan bahwa kamu ingin lebih dari sekadar bertahan hidup.

Kamu ingin tumbuh. Kamu ingin berkembang. Kamu ingin menjalani hidup yang lebih penuh.

Pertanyaannya sekarang: Apa yang bisa kamu lakukan untuk menyalakan kembali semangat itu? Jawabannya bisa panjang banget.

Kita sering terjebak dalam pola yang sama setiap hari: kerja, pulang, tidur. Cobalah hal baru, sekecil apa pun. Baca buku di luar genre favoritmu. Ikut kelas online. Berkenalan dengan orang baru. Lakukan sesuatu yang memecah rutinitas.

Kamu nggak perlu langsung mengejar mimpi besar. Cukup mulai dengan tujuan sederhana: berolahraga tiga kali seminggu, baca satu buku per bulan, atau menulis jurnal harian. Tujuan kecil yang konsisten bisa membawa perubahan besar dalam jangka panjang.

Ingatlah, hidup nggak hanya tentang sampai ke tujuan, tapi juga tentang siapa kamu selama perjalanan itu. Jangan menunggu hidup jadi luar biasa baru kamu bahagia. Bahagialah dalam proses menjadikannya luar biasa.

Kadang, hidup yang terasa biasa menyimpan pelajaran luar biasa. Hidup yang nggak dipenuhi gemerlap dan sorotan justru bisa lebih tenang, lebih stabil, dan lebih damai. Dalam hidup yang sederhana, kita belajar bersyukur. Dalam rutinitas yang tenang, kita belajar mengenal diri.

Jangan remehkan kekuatan hidup yang sederhana. Orang yang hidupnya โ€˜biasaโ€™ pun bisa jadi inspirasiโ€”justru karena ia tahu cara bertahan, cara mencintai tanpa koar-koar, cara memberi tanpa pamrih.

Selalu ingat bahwa hidup bukan perlombaan. Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu sukses, siapa yang lebih terkenal, atau siapa yang lebih โ€˜wahโ€™. Kita semua hidup di jalan yang berbeda, pada waktu yang berbeda, dan dengan tantangan yang berbeda pula. Kamu nggak terlambat. Kamu hanya sedang berada di titik istirahat sebelum melangkah lagi.

Kalau hidupmu terasa biasa-biasa aja, mungkin itu bukan pertanda kegagalan. Mungkin itu justru ruang kosong yang bisa kamu isi dengan makna, syukur, dan harapan.

Bukan soal seberapa banyak sorotan yang kamu dapat. Tapi seberapa dalam kamu menikmati dan mensyukuri dirimu sendiri, lalu membagikan kebaikan di sekitarmu.

Karena sesungguhnya, hidup yang tenang, stabil, dan penuh cinta adalah salah satu bentuk hidup paling luar biasa yang bisa dimiliki manusia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis? Bikin Target yang Ringan Aja Dulu!

Belitung. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

โ€œAku ingin menulis buku.โ€
Kalimat ini sering muncul dari mulut banyak orangโ€”baik yang sudah pernah menulis, maupun yang baru ingin mulai menulis.

Namun, semangat yang menggebu di awal sering kali berubah menjadi beban ketika kita menetapkan target yang terlalu besar.

Padahal, dalam dunia menulis, konsistensi jauh lebih penting daripada ambisi besar yang tidak realistis.

Kenapa Target Menulis yang Ringan Itu Penting?

Membangun kebiasaan secara bertahap Menulis itu butuh latihan. Seperti olahraga, kamu tak bisa langsung lari 10 kilometer tanpa latihan sebelumnya.

Target ringan seperti โ€œmenulis 5 menit sehariโ€ membantu tubuh dan pikiran kita membiasakan diri dengan aktivitas menulis.

Menghindari stres dan tekanan
Target besar bisa membuat kita tertekan, apalagi saat tidak tercapai. Tekanan ini bisa membunuh kreativitas dan membuat kita jadi semakin malas menulis.

Target kecil terasa lebih mudah dicapai dan membuat kita merasa berhasil. Lebih mudah menjaga konsistensi ketika target ringan tercapai. Kita akan lebih mungkin melakukannya lagi setiap hari. Konsistensi inilah yang membentuk kebiasaan dan membawa kita ke garis akhir.

Contoh Target Menulis Ringan yang Bisa Kita Coba

Menulis 100โ€“200 kata per hari
Tidak perlu langsung satu halaman penuh. Satu paragraf saja sudah cukup, asal kita melakukannya secara rutin.

Menulis 10 menit setiap pagi atau malam
Gunakan alarm jika perlu. Tidak usah pikirkan hasilnya bagus atau tidakโ€”yang penting, kita menulis.

Satu paragraf ide cerita setiap hari
Bisa berupa percakapan, deskripsi tempat, atau potongan dialog. Kumpulkan, dan siapa tahu nanti bisa dikembangkan jadi cerpen atau novel.

Tulis catatan harian pribadi
Kadang, menulis tentang diri sendiri membantu melatih kepekaan emosi dan memperkaya gaya bahasa.

Tips Agar Target Ringan Ini Efektif
Tulis di tempat yang sama setiap hari: otak akan mengenali โ€œritualโ€ ini sebagai waktu menulis.

Jangan edit dulu saat menulis: biarkan mengalir dulu, revisi bisa nanti.

Gunakan aplikasi atau jurnal untuk mencatat progres penulisan kita.

Beri reward kecil untuk diri sendiri setiap kali berhasil menulis beberapa hari berturut-turut.

Mulailah dari yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini
Tidak ada penulis hebat yang langsung menulis buku dalam semalam. Mereka semua memulai dari satu kalimat, satu paragraf, dan terus menulis hari demi hari. Kamu juga bisa.

Kuncinya adalah: mulai sekarang, mulai kecil, dan terus menulis.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis dengan Gampang: Bukan Bakat, tapi Kebiasaan

Manado. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sudah hampir paroh Mei. Kamu yang punya resolusi nulis buku tahun ini, sudah bergerakkah? Sudah selesaikah naskahmu? Atau sudah sampai mana progress report kemajuan tulisanmu? Atau hanya berhenti di judul saja?

Banyak orang mengira menulis itu sulit, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang โ€œberbakatโ€. Padahal, kenyataannya, menulis itu bukan soal bakat semata, tapi soal kebiasaan. Semua orang bisa menulis dengan mudah asalkan tahu caranya dan mau membiasakan diri.

1. Mulai dari Hal Kecil
Jangan langsung berpikir harus menulis novel atau artikel panjang. Cukup mulai dari menulis catatan harian, caption media sosial, atau opini singkat tentang sesuatu yang kamu sukai. Menulis itu seperti otot โ€” makin sering dipakai, makin kuat dan mudah digunakan.

2. Tulis Dulu, Edit Belakangan
Salah satu kesalahan umum adalah terlalu fokus pada kesempurnaan di awal. Akibatnya, kita jadi takut salah dan tidak jadi menulis. Padahal, tahap awal menulis itu soal menuangkan ide, bukan langsung membuat tulisan yang rapi. Biarkan ide mengalir dulu, edit bisa nanti.

3. Jangan Takut Tulisanmu Jelek
Semua penulis hebat pun pernah menulis buruk. Yang membedakan mereka adalah: mereka tidak berhenti. Jadi, daripada menunggu tulisan sempurna, lebih baik punya banyak tulisan biasa yang terus berkembang.

4. Pakai Bahasamu Sendiri
Tidak perlu meniru gaya penulis terkenal. Gunakan gaya bahasa yang kamu kuasai. Semakin natural dan jujur tulisanmu, semakin enak dibaca orang.

5. Tentukan Waktu Khusus Menulis
Sediakan waktu 10-15 menit setiap hari untuk menulis. Bisa pagi sebelum aktivitas, siang saat istirahat, atau malam menjelang tidur. Konsistensi adalah kunci.

Menulis dengan gampang bukan mimpi. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan, konsistensi, dan keberanian untuk mulai. Ingat, menulis bukan hanya untuk mereka yang ingin jadi penulis โ€” menulis juga bisa menjadi sarana refleksi diri, berbagi inspirasi, dan menata pikiran.

Ari Kinoysan Wulandari


Please follow and like us:

Didik Dirimu Dulu: Refleksi Hardiknas

Buku sarana belajar yang praktis, mudah, dan bisa dibawa ke mana-mana. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momen penting untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara dan perjuangannya dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Namun, peringatan ini mestinya bukan sekadar seremoni. Hardiknas seharusnya menjadi refleksi pribadi dan masyarakat: Sudahkah kita benar-benar memahami makna pendidikan?

Dengan beragam hiruk-pikuk membenahi sistem, kurikulum, dan fasilitas, kita kerap lupa bahwa pendidikan sejati tidak hanya berlangsung di ruang kelas dan ruang koridor pendidikan formal. Pendidikan dimulai dari dalam diri setiap individu.

Sebelum menjadi guru bagi orang lain, sebelum menuntut anak untuk belajar, sebelum menyalahkan generasi muda yang dinilai “kurang sopan” atau “kurang rajin”โ€”tanya diri kita: Sudahkah aku mendidik diriku lebih dulu?

Ki Hadjar Dewantara berkata, โ€œIng ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.โ€ Kalimat ini menegaskan bahwa pemimpin sejati memberi teladan. Dan memberi teladan hanya bisa dilakukan jika kita telah menempa diri terlebih dahulu.

Mendidik diri berarti mengasah kesabaran, membentuk karakter, menumbuhkan empati, serta menjadi pembelajar seumur hidup. Pendidikan bukan hanya soal buku dan angka, melainkan tentang menjadi manusia yang utuhโ€”yang berpikir jernih, berperilaku bijak, dan berkontribusi bagi sesama dan semesta.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, anak-anak kita menghadapi tantangan yang berbeda dari masa lalu. Mereka butuh bukan hanya guru dan orang tua yang pandai, tapi sosok dan figur yang mampu menjadi panutan hidup.

Maka, sebelum kita menuntut anak untuk rajin membaca, mari kita lebih dulu membaca hati dan pikiran sendiri. Sebelum menyuruh anak berperilaku baik, mari kita koreksi tindakan dan kata-kata kita sehari-hari.

Hardiknas adalah saat yang tepat untuk kembali ke akar: bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang diajar dan mengajar, tapi siapa yang mau terus belajar. Dan murid terbaik adalah mereka yang terus belajar dari kesalahan, memperbaiki diri, dan menginspirasi perubahan lewat tindakan nyata. Pun guru terbaik adalah mereka yang memberi kontribusi nyata perbaikan dengan teladan.

Jadi, dalam semangat Hardiknas ini, mari kita mulai dengan satu langkah sederhana tapi berarti: didik dirimu lebih dulu. Karena dari sanalah, perubahan besar bisa dimulai.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: