Lebaran Haji: Memotong Keserakahan, Menumbuhkan Kepedulian

Tas untuk wadah daging kurban dari keluarga kami. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, tahun ini saya bersaudara diberi rezeki untuk berkurban sapi. Pemotongan sapi akan dilakukan besok pagi, di tanah kelahiran kami, Tulungagung. Kegiatan dipusatkan di rumah ipar saya, di kecamatan paling timur Tulungagung; dengan pertimbangan halaman yang luas dan banyak kerabat, orang atau tenaga yang bisa dikerahkan agar urusan berkurban kami lebih lancar, lebih cepat selesai. Dengan teriring doa agar kami semua diberi sehat, iman, takwa, mudah-lancar-banyak-berkah rezeki, sejahtera, bahagia, panjang umur, dan tahun-tahun berikutnya selalu bisa berkurban sapi. Amin YRA.

Ya, kita sudah masuk lebaran haji hari ini. Versi saya, yang menyenangkan ada libur panjang empat hari. Saya tetap di Jogja, karena banyak gaweyan yang sedang oyak-oyakan. Libur yang berasa nggak prei. Seperti waktu-waktu sebelumnya; setiap tahunnya, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha, atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Lebaran Kurban atau Lebaran Haji.

Lebaran ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum refleksi spiritual yang sangat dalam. Di balik gemuruh takbir dan aroma segar daging kurban, ada pesan besar yang sering terlupakan: memotong keserakahan dalam diri kita.

Lebaran Haji bukan sekedar urusan potong memotong hewan kurban. Berkurban bukan hanya tentang menyembelih binatang ternak, seperti kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita arti pengorbanan sejati; yaitu merelakan sesuatu yang paling dicintai demi memenuhi perintah Allah SWT.

Dalam konteks kekinian, itu bisa berarti melepaskan ego, mengalahkan nafsu, dan menahan kerakusan. Daging kurban memang dibagikan, tapi tujuan utamanya adalah memperkuat nilai-nilai keikhlasan, kerelaan, dan kepedulian kita yang berkurban.

Di tengah budaya konsumtif dan kompetisi tiada henti, keserakahan bisa tumbuh diam-diam. Kita ingin lebih dalam banyak hal: lebih kaya, lebih terkenal, lebih diakui; bahkan jika itu berarti menginjak-injak hak atau semena-mena mengkambinghitamkan orang lain. Idul Adha datang sebagai pengingat bahwa tidak semua harus dimiliki, dan tidak semua yang bisa dimiliki harus dipertahankan.

Mari kita belajar dari seekor binatang kurban.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi dari seekor kambing atau sapi yang dikurbankan, kita bisa belajar arti memberi. Hewan itu mungkin tidak punya pilihan, tapi kita punya. Kita bisa memilih: hidup untuk diri sendiri, atau hidup untuk memberi manfaat lebih luas kepada sesama.

Mengurbankan sebagian harta untuk sesama adalah latihan melepaskan keserakahan. Ini adalah bentuk jihad melawan diri sendiri; melawan keinginan untuk terus menimbun harta dan enggan berbagi.

Lebaran Kurban juga bisa kita perluas maknanya. Di era krisis ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan sosial, “berkurban” bisa berarti menyumbang waktu untuk mengajar anak jalanan, menyisihkan gaji untuk keluarga atau tetangga yang membutuhkan, atau sekadar tidak mengambil hak orang lain, dll tindakan kebaikan untuk sesama dan semesta.

Memberi makan kucing jalanan pun kebaikan. Menyirami tanaman secara rutin pun jadi kebaikan. Menyingkirkan batu di jalan juga kebaikan. Ada begitu banyak ruang dan kesempatan untuk berbuat baik. Pastikan sampeyan ada di antara kebaikan-kebaikan itu. Bahkan jika tanpa publikasi atau diketahui pihak lain.

Berkurban adalah simbol pelepasan diri dari keserakahan pribadi. Simbol itu hanya bermakna jika diiringi perubahan perilaku. Semoga dengan berkurban kita menjadi lebih mudah berbagi, lebih mudah empati, lebih mudah peduli terhadap sesama dan semesta, sehingga keberadaan kita menjadi berkah di lingkungan sekitar.

Mari kita jadikan Idul Adha tahun ini lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Mari kita potong bukan hanya hewan kurban, tetapi juga rasa rakus, iri, tamak, dan ego yang berlebihan. Pada akhirnya, berkurban yang sejati adalah ketika kita mampu melepaskan diri dari belenggu kepentingan pribadi, demi kebaikan bersama.

Happy Idul Adha. Selamat Berkurban. Selamat menikmati hari-hari yang lebih ikhlas dan lebih banyak syukur ❤️🙏

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bisakah Kita Bebas dari Hutang?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebagai freelancer yang menekuni dunia tulis menulis dalam kurun hampir sepanjang hidup, saya tahu persis rasanya mendapatkan rezeki besar, rezeki sedang, rezeki kecil, atau bahkan tidak ada rezeki selama berbulan-bulan. Kalau manajemen keuangan saya tidak baik, pasti sudah sejak lama saya terjebak dengan masalah hutang saat tidak ada pekerjaan yang langsung menghasilkan uang.

Toh di sekitaran kita, tidak hanya freelancer yang terlibat masalah hutang. Mereka yang berpenghasilan tetap dan besar pun bisa terlibat masalah hutang. Biasanya hutang-hutang ini terjadi karena gaya hidup yang berlebihan, ibarat besar pasak daripada tiang. Atau bisa juga karena manajemen keuangan yang kurang baik. Uang dan seluruh penghasilan seperti menguap begitu saja, tanpa tahu persis penggunaannya.

Dalam kehidupan ini, siapa siy yang tidak pernah terlibat masalah hutang? Porsi hutang tiap orang dan sebab alasannya berbeda-beda. Hutang tidak selalu buruk. Ada orang yang memutuskan untuk mengalihkan investasinya sebagai hutang. Kalau tidak “berhutang” mereka tidak bisa menyisihkan uangnya.

Sebagai contoh, ada orang yang bekerja menetap dan tiap bulan mendapatkan gaji. Dia memilih untuk menanggung cicilan logam mulia emas 100 gram sebesar 1 gram setiap 1 bulan. Tentu saja biaya 1 gram itu harus ditambah biaya-biaya administrasi dan nilai perubahan selama masa mengangsur. Cicilan itu didebet langsung setiap bulan dari rekening gajinya.

Secara nalar, sebenarnya biaya mencicil logam mulia 100 gram itu jauh lebih besar dibandingkan kalau yang bersangkutan membeli logam mulia 1 gram setiap bulan. Namun pertimbangannya tidak seperti itu. Kalau membeli logam mulia 1 gram setiap bulan, dia belum tentu bisa. Sebaliknya kalau dipotong langsung setiap bulan (meskipun dengan biaya tambahan), dia selalu bisa. Hingga akhirnya lunas juga cicilan logam mulia 100 gram dan emas pun menjadi miliknya.

Tentu hutang seperti itu banyak jenisnya. Bisa untuk beragam kebutuhan besar; rumah, program pendidikan tinggi, mobil baru, haji – umroh, pensiunan, wisata ke luar negeri, dll kebutuhan hidup. Mereka pun sudah tahu dari mana sumber uang untuk membayar “hutang” itu. Biasanya pihak pemberi hutang juga sudah menentukan serangkaian syarat —termasuk kemampuan si penghutang untuk membayar.

Kalau hutang seperti ini rasanya bolehlah kita menganggapnya “bukan hutang”, tetapi cicilan. Hutang yang sudah jelas peruntukan dan sumber pembayarannya. Hutang-hutang yang sering tidak terduga itu lho yang membuat banyak orang sering kelimpungan. Hutang kartu kredit, penggunaan paylater yang berlebihan, hutang online atau pinjaman online, hutang-hutang pribadi karena hal-hal yang tidak urgent. Pembelian produk branded untuk sekedar memenuhi gengsi dan keinginan tanpa menghitung secara cermat kemampuan, biasanya menjadikan orang terjebak hutang berkepanjangan.

Sekali terlibat hutang model begini, agak sulit terbebas. Intinya, boleh hutang dengan tetap mengukur kemampuan masing-masing. Ingat saja, pujian orang pada barang-barang yang anda beli (dengan cicilan) tidak bisa membayari cicilan anda saat kesulitan uang.

Berhutang boleh saja, asal kita benar-benar memerlukannya. Pada saat sudah memiliki uang, bila memungkinkan segera bayar lunas hutang-hutang anda. Jangan menunda-nunda. Uang itu licin. Ke sana ke sini, merasa punya uang tanpa sadar menggunakan sedikit demi sedikit. Tidak terasa tahu-tahu uang habis tanpa tahu persis penggunaannya.

Bagaimana kalau saat ini kita masih terlibat hutang yang banyak? Mungkinkah kita bisa terbebas dari hutang? Jelas sangat mungkin. Ada banyak orang yang hidupnya tenang, bahagia, damai, sehat sentausa karena bebas hutang.

Bagaimana caranya bebas hutang? Sebenarnya ini tergantung dari setiap pribadi. Saya percaya setiap orang punya role atau model pengaturan keuangan yang berbeda. Carilah yang cocok dan nyaman, lalu terapkan. Kalau sudah ketemu yang cocok, jangan beralih lagi.

Ada beberapa tips yang saya gunakan sejak bertahun-tahun silam agar terbebas dari hutang, meskipun bekerja sebagai freelancer. Bagi mereka yang bekerja menetap dengan gajian tiap bulan, tentu lebih mudah lagi mengaturnya. Berikut ini uraian detailnya.

Kesatu, penghasilan. Petakan dan hitung keseluruhan penghasilan anda dalam setahun. Bagi freelancer bisa menggunakan penghasilan tahun sebelumnya sebagai patokan. Kalau anda berpasangan (suami/istri/partner/sahabat/saudara), hitung pula semua penghasilan yang anda berdua peroleh. Termasuk bonus-bonus dll yang pasti diterima sepanjang tahun.

Anda bisa menggunakan aplikasi pencatat keuangan yang free akses untuk memudahkan saat sudah mulai menerapkannya. Demikian juga dengan hal lain-lain. Dengan pencatatan detail menggunakan aplikasi akan memudahkan anda mengetahui secara pasti keadaan keuangan anda.

Kedua, pengeluaran. Petakan dan hitung semua kebutuhan pokok dalam setahun. Namanya saja kebutuhan pokok. Berarti mulai dari tempat tinggal (kalau anda mencicil, kontrak, kos, sewa, dll pembayaran), makan, pakaian, pendidikan anak-anak, kesehatan, transport, komunikasi, dll yang rinciannya bisa sangat banyak. Perhatikan juga perubahan-perubahan yang terjadi.

Kalau tahun sebelumnya keluarga dengan dua anak, tahun berikutnya ada tiga anak; tentu tidak bisa menyamakan jumlah kebutuhan pokok dan pengeluaran. Semakin rinci keperluan dan jumlah yang harus dikeluarkan akan semakin baik.

Ketiga, sedekah. Sebenarnya ini tidak ada aturan dalam manajemen keuangan; tapi pastikan anda membagikan sebagian rezeki kepada fakir miskin dan orang yang lebih membutuhkan. Besarannya beragam antara 2.5% s/d 10% sesuai dengan kemampuan anda. Ini bagian dari sedekah untuk menolak bala dan biar rezeki kita terus mengalir lancar sepanjang masa.

Keempat, dana darurat. Kalau sudah tahu berapa total penghasilan. pengeluaran setahun; hitung berapa jumlah uang yang tersisa dalam setahun. Uang ini bisa anda gunakan sebagian untuk dana darurat. Berapa besaran dana darurat, tiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Sekurangnya harus ada dana untuk 1 bulan biaya keperluan hidup. Jangan sampai tidak ada dana darurat sama sekali.

Kelima, total hutang. Hitung semua hutang anda. Ini tidak termasuk yang saya anggap “cicilan” seperti uraian di atas. Hal ini sudah termasuk kebutuhan pokok yang harus anda keluarkan. Hitunglah semua hutang yang belum ada jaminan pembayarannya. Dengan mengetahui total keseluruhan hutang, akan membantu anda untuk fokus melunasinya.

Keenam, bayar hutang. Hitung uang yang tersisa dari sebagian dana darurat (langkah keempat). Bagi yang memiliki hutang, anda bisa menggunakannya untuk membayar hutang-hutang. Harus segera membayarkan, terlebih kalau pihak pemberi hutang memberi kelonggaran anda untuk mencicil.

Misalnya anda punya hutang 150 juta pada beberapa pihak, tapi ada pemberi hutang mengizinkan anda mencicil. Setiap punya uang harus langsung mencicil hutang. Kalau anda menunggu sampai jumlahnya terpenuhi mungkin lebih sulit. Kalau tidak mungkin dicicil, berusahalah menabungkan dana bayar hutang di rekening non-ATM dan non-aplikasi, sehingga segera terpenuhi untuk membayar hutang.

Langkah kesatu sampai keenam itu, mungkin saja tidak mudah bagi anda yang baru berniat membebaskan diri dari hutang. Ini berarti anda harus hidup hemat, memangkas beberapa hobi dan kesenangan, dll. Kegiatan atau kesenangan yang biasanya boleh dilakukan menjadi “ditunda” dulu. Versi saya, kalau mau bebas hutang ya harus sedikit “berpuasa”.

Selanjutnya langkah ketujuh, penghasilan tambahan. Apabila memungkinkan carilah pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Anda bisa menekuni hobi yang menghasilkan uang. Anda bisa memanfaatkan aset-aset di rumah anda untuk berkarya atau kerja. Ingat, kalau anda tahu persis berapa hutang yang ingin anda lunasi; cara ini biasanya menambah semangat.

Kedelapan, fokus melunasi hutang. Kalau niat awalnya bekerja tambahan untuk membereskan hutang; fokuslah di situ. Jangan uangnya untuk foya-foya karena akan timbul masalah lagi. Membebaskan diri dari hutang ini perlu waktu yang beragam tergantung besar kecilnya hutang yang anda. Makin cepat beres makin baik jadinya.

Kesembilan, mengatur ulang. Kalau hutang-hutang sudah beres, anda boleh mengatur kembali manajemen keuangan. Uang-uang yang biasanya untuk membayar hutang sudah mulai bisa untuk menabung, investasi, atau memenuhi keperluan besar lain —wisata luar negeri, pendidikan tinggi, haji – umroh, membeli tanah rumah baru, dll sesuai keinginan anda.

Kesepuluh, hidup sederhana. Kalau sudah terbebas dari hutang-hutang, jangan jumawa, jangan sombong. Tetaplah hidup sederhana. Tetaplah fokus pada kebutuhan, bukan keinginan untuk hidup sehari-hari. Sementara untuk keinginan besar, anda bisa mulai menabung dan tidak perlu terlibat hutang.

Kalau harus berhutang untuk keinginan, pilihlah hutang yang cerdas. Misalnya, anda ingin umroh dan sudah menyiapkan dana 35 juta. Namun bank anda memberikan fasilitas kerjasama dengan agensi umroh. Pembayaran anda itu bisa diubah jadi cicilan 35 bulan dengan per bulan hanya 1 juta tanpa bunga selama 35 bulan; dan waktu umroh bisa anda tentukan sendiri tanpa harus menunggu pelunasan.

Kalau ada tawaran seperti itu, ya anda ikut saja. Uang 35 juta yang sudah anda siapkan bisa anda gunakan untuk investasi lain. Sementara anda bisa pergi umroh cukup dengan membayar 1 juta per bulan. Tidak selalu punya hutang itu buruk. Tidak selalu tidak punya hutang itu cerdas secara finansial. Pilih-pilihlah yang paling sesuai dan paling bikin anda bahagia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Ojo Njagakne Endhoge Si Blorok

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa waktu yang lalu saya pesan mobol untuk jarak jauh, biaya lebih kurang 150 rb (via aplikasi). Ternyata saya kenal drivernya, sebut saja Pak B; saya tanya apa mau menjemput saya lagi setelah tiga jam, kembali ke tempat yang sama; dengan charge sama 150 rb.

Biasanya siy cenderung mau. Karena kalau tidak lewat aplikasi tidak ada potongan 20% dan biaya layanan 5 rb. Artinya dia dapat utuh hanya kepotong BBM saja.

Urusan itu sudah beres. Karena saya memerlukan lagi beberapa hari kemudian, saya menanyakan pas balik apakah Pak B bisa antar jemput saya ke tempat yang sama di hari S. Dia bilang spontan bisa. Saya bilang oke dan akan WA hari S min 1.

Pikir saya, kalau sudah tahu orang dan model nyetirnya lebih mudah. Toh di aplikasi saya yo bayar lebih kurang segitu. Sekalian jadi jalan rezeki orang yang kita kenal.

Ealah, baru besoknya Pak B memberi tahu saya kalau tidak bisa mengantar saya karena ada pekerjaan mengantar rombongan piknik 2 hari. Saya bilang ya oke saja, tidak ada masalah. Tapi dia bilang sudah telepon temannya untuk antar jemput saya.

Saya, pengguna ojol dan mobol hampir 80 persen untuk transportasi sehari-hari dalam jarak maksimal 60 km pp. Pake aplikasi itu, saya juga bertemu orang yang tidak saya kenal; tapi sekurangnya identitasnya sudah tercatat di sistem, moda dan nomor kendaraan saya ketahui, No WA bisa diketahui, review pengguna bisa dilihat dan dibaca, rute perjalanan bisa dibagikan ke orang terdekat, dan kalau ada apa-apa bisa meminta bantuan dengan cepat. Sekurangnya dalam kondisi normal, lewat aplikasi keamanan dan keselamatan sudah lebih terjamin.

Sementara ini orang yang direkomendasikan; saya tidak kenal, tidak tahu mobilnya, tidak tahu gaya nyetirnya, tidak tahu kalau ada keribetan di jalan harus bagaimana; dan itu sebabnya saya menolak. Tapi Pak B agak ngotot karena merasa sudah menelponkan. Lha itu urusan dia sendiri. Urusan saya kan sama dia, terus batal ya sudah, selesai.

Saya tetap tegas menolak dan memintanya membatalkan. Saya orang yang mudah kompromi, tapi jelas bukan orang yang bisa seenaknya diatur atau dikendalikan orang lain.

Demi menghindari menunggu lama pas hari S, saya langsung pesan mobol terjadwal. Sudah aman. Terbayar. Dan wes gakjadi pikiran saya lagi. Nanti baliknya saya akan pake mobil dan driver yang sama kalau cocok, kalau enggak ya saya pesan terjadwal saat tiba di TKP. Urusan wes rampung.

Ealah pas hari S itu pagi buta, Pak B kirim WA ke saya kalau bisa antar jemput saya; karena piknik ditunda. Lah ya saya bilang wes pesan dan membatalkan pesanan hanya tinggal beberapa jam itu potongannya 50%. Tentu saya nggak mau.

Lalu saya terpikir cepat, ternyata ya rezeki itu sudah di depan mata, kalau bukan rezeki yo tetap nggak dapat. Lha wong dengan saya itu, Pak B jelas-jelas langsung bilang bisa, itu kan berarti belum ada kerjaan. Lalu ada gaweyan dengan charge lebih besar, langsung membatalkan saya. Yo wajar siy, tapi serasa njagakne endhoge si blorok. Padahal sudah dinasihati peribahasa Jawa: ojo njagakne endhoge si blorok.

Secara harfiah artinya “jangan berharap pada telurnya ayam blorok.” Tapi tentu saja, ini bukan soal ayam semata, melainkan sindiran yang penuh makna. Ayam blorok itu ayam yang bulunya nggak seragam, warnanya bercampur-campur. Dalam peribahasa ini, “si blorok” diibaratkan sebagai orang, sesuatu yang nggak bisa dipercaya, belum bisa dipastikan, nggak konsisten, mudah berubah-ubah, dan tidak jelas sikapnya. Telurnya dianggap nggak bisa diandalkan, nggak bisa diharapkan akan menetas atau memberi hasil.

Peribahasa ini memberi nasihat agar kita nggak menggantungkan harapan pada orang atau sesuatu yang nggak bisa dipercaya atau nggak bisa dipastikan. Ya seperti kasusnya Pak B tadi, dia melepaskan “telur kecil” yang pasti dari saya demi mendapatkan “telur besar” yang belum pasti. Padahal di hari yang sama dia berkendara 2 jam saja, full dapat 300 rb. Dikurangi BBM untuk 30 km pp ya lebih kurang 50 rb, masih utuh 250 rb. Hayaaah, gaji dosen anyaran sehari mung 100 rb masih dikurangi operasional transport dan makan siang.

Tapi bukankah begitu kebanyakan dari kita? Itu sebabnya kalau saya wes ada gaweyan kruncilan kecil-kecilan, terus jebret tiba-tiba ada gaweyan yang kayaknya gong besar; itu saya lempeng saja jawabnya. Pak, Bu, saya masih ada gaweyan sampai tanggal sekian. Kalau berkenan, monggo setelah itu kita jumpa. Kalau tidak sabar, silakan panggil penulis lain. Begitu juga soal jadwal-jadwal pelatihan, saya biasanya emoh pada mereka yang nyelow-nyelow dadakan, apalagi kalau saya kudu ngganti-ngganti jadwal yang sudah disusun dengan banyak pihak.

Biasanya siy, kalau memang rezeki saya mereka akan tunggu, bahkan kirim uang muka dulu agar saya nggak lari atau terima gaweyan lain. Tapi kalau enggak, sekurangnya saya nggak kehilangan telur-telur kecil yang sudah di tangan. Saya juga nggak perlu mencla mencle omong dengan pihak lain. Kalau A ya A, nggak njur diganti Z atau lainnya dengan sesukanya. Versi saya ini soal prinsip, soal keteguhan hati, dan tawakal kita pada yang memberi rezeki.

Kita memang perlu percaya pada orang lain, pada sesuatu, tapi juga harus bijak memilih kepada siapa kita menggantungkan harapan. Jangan mudah terbuai janji manis tanpa bukti. Jangan sampai kita berkali-kali kecewa karena menaruh harapan pada orang atau sesuatu yang salah.

Meskipun peribahasa ini mengajarkan kita untuk waspada, bukan berarti kita langsung menilai orang dari masa lalunya. Orang bisa berubah; kita lihat dari tindakannya, bukan hanya dari omongannya.

Mengikuti pesan dari “jangan berharap pada telurnya si blorok” bukan berarti kita jadi sinis pada setiap orang atau sesuatu. Tapi kita diajak untuk lebih bijaksana dan hati-hati. Pilih orang atau sesuatu yang benar dan pasti, agar sesuai dengan harapan kita.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Anak-anak Super Gunung Kidul

Anak-anak SMP Gunung Kidul setelah kelas penulisan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Alhamdulillah, hari ke-2 Bimtek Kepenulisan Angkatan 2; Selasa s/d Kamis 20-22 Mei sudah terlewati dengan baik. Masih ada 1 hari ekstra esok yang pasti bikin pemateri kudu lebih sabar. Kelas yang bikin saya … haish, ini bocah dikasih tahu belum selesai wes nyicriiis nyolot jawab aja.
.
Ya ampun, hampir semua begitu. Dan saya terperangah bagaimana mereka merasa baik-baik aja; menjawab spontan seolah tanpa sensor dengan ngeyelannya yang aduhai itu… 🤣🤣
.
Tapi ya, itulah anak-anak (cucu atau mungkin cicit) SMP kita. Bandel, ngeyelan, tapi cerdas, kritis, dan sering nggak mau ngalah. Kalau ngomong sama siapa aja, kayaknya kudu menang. Apa aja yang nggak sesuai pikirannya, akan dilawannya.
.
Toh saya tetap mengapresiasi keseriusan mereka mengikuti kelas, mengerjakan tugas menulis, menyimak materi, dan tanya jawab 2 jam tanpa ngantuk di siang bolong yang terik 🤩🥰
.
Kalian semua hebat, mung perlu lebih menjaga sopan santun dan kepatutan bicara saja. Percayalah, nanti kalian akan tahu bahwa ngotot, ngeyel, kadang cuma membuat kita lelah jiwa raga 😄😁
.
Sampai jumpa di kelas-kelas penulisan atau workshop berikutnya 😀🤩
.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Cari Rezeki Saat Demo

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi hari kemarin saat saya mau berangkat, saya heran karena tetangga ujung komplek malah sepedaan keliling. Pas saya tanya, jawabnya dia libur kerja karena hari ini ojol mobol (ojek online, mobil online) demo; minta share yang adil dan kenaikan tarif per km (cmiiw).
.
Kagetlah saya. Gakbisa pesan online dong. Ternyata bisa dan saya pun berangkat ke kampus dengan selamat. Si driver bilang kalau tetap narik, tapi nggak pake atribut.
.
Saya ulik lebih jauh, ya tetap cari rezeki Bu. Kan kalau saya nggak berangkat ngangkut penumpang yo gak dapat duit. Penumpangnya juga repot. Anak istri saya kan nggak libur makan meskipun ada demo, Bu.

Saya ikutan ngikik. Ya, demo itu satu hal. Urusan cari rezeki juga lain hal. Sama-sama penting, tapi kadang kita ini sebagai wong cilik kudu nerima saja; patuh dengan aturan kapitalis yang melakukan banyak potongan nggak kira-kira; mulai dari pajak, pungli, iuran-iuran, dana sosial, dll yang bikin pendapatan makin mengecil; ketambahan inflasi, makin bikin daya beli mengkerut.
.
Kalau mikirin gitu malah mumet, makanya wes santai bae. Waktunya kerja ya kerja. Ntar rezeki pasti datang. Seperti kata driver tadi, bagaimanapun yo tetap cari rezeki. Kita ngomelin keadaan pun tetap kudu makan, dan makan itu bisa tersedia kalau ada uang untuk membeli atau membuatnya.
.
Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998 saya ikut dengan ribuan mahasiswa untuk melengserkan Pres Soeharto. Hampir 30 tahun sejak Reformasi ternyata “konsep ideal” NKRI malah makin jauh panggang dari api, ada setitik sesal juga bikin beliau lengser. Bukan membela masa lalu, tapi masa kini nggak seindah harapan saat itu.
.
Dulu KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) masih samar, kecil-kecilan dan malu-malu; kini justru besar-besaran dan terang-terangan. Banyak pejabat nggak malu-malu flexing hidup hedon, gak peduli duitnya korupsi dari jutaan keringat dan darah rakyat yang dibayar lewat aneka pajak. Beragam aturan ditabrak diubah, dll. kejahatan masif dan kita suruh mengaminkan saja.
.
Duh, negeriku. Semoga Allah menjaga kita semua dengan keselamatan lahir batin dunia akhirat. Amin.
.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Monyet di Tempat Wisata

Monyet di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
.

Monyet, kera, lutung, kethek, munyuk, kingkong, simpanse, orangutan, bekantan, dll. adalah sebagian penyebutan “monkey” di Indonesia. Ajaibnya, spesies yang konon sering disalahkaprahi sebagai nenek moyang manusia ini, di Indonesia ada di banyak daerah, termasuk tempat-tempat wisata.
.
Di Malaysia saya jumpa banyak monyet, tapi nggak galak. Di China juga setipe, mereka bergelantungan ke sana kemari tanpa mengganggu wisatawan. Di Vietnam, kayaknya jinak juga. Nah di Indonesia ini, ada yang jinak, ada yang berangasan.
.
Di Sangeh, Bali saya wes hopeless, karena tas bahu dan kamera direbut monyet putih abu-abu ekor panjang dan dibawa lari. Baru bisa kembali setelah menghubungi penjaga. Horor tenan versi saya. Padahal saya wes mematuhi aturan, nggak kasih makan-minum, yo gak bawa makan-minum.
.
Di Tawangmangu, Karanganyar, setipe juga. Tapi di sini monyetnya lebih kecil dibandingkan yang ada di Sangeh. Mereka juga merebut makanan minuman pengunjung. Lebih ganas kalau kita memberi makan minum, tahu- tahu serombongan monyet akan datang dan merebut apa saja. Haish tetep serem.
.
Di Baluran, Banyuwangi yo begitu. Pict di atas saat saya di Baluran dengan monyet sudah mengambil tas yang saya geletakkin di rumput –karena semula nggak nampak tuh monyet-monyet. Baru sebentar mau saya tinggal foto, saya mendengar teriakan kalau tas saya diambil monyet. Sigap saya merebutnya dengan menarik paksa dari si monyet.
.
Gilak, dia menahan tas saya dan menunjukkan gigi taring-taringnya yang panjang. Untung dibantuin teman-teman saya mengusirnya; akhirnya dilepaskan tas saya. Ampun, kalau sampai dibawa lari –wes entah apa jadinya. Lha HP dompet dll kan di tas. Sejak itu saya nggak pernah lepas taruh tas sembarangan.
.
Di Kaliurang, setipe. Baru sebentar, monyet rombongan datang. Dengan segera mereka merebut makanan dan minuman yang kita bawa. Para pedagang cerita kalau mereka sering kecolongan makanan minuman karena monyet-monyet itu.
.
Pokmen kudu hati-hati ke areal wisata yang ada monyetnya. Bukannya happy tapi bisa rugi kehilangan barang-barang penting. Ada yang samaan dengan saya 🤔
.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Apalagi Yang Bisa Dihemat?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Bu Ari, kalau hidup kita sudah hemat dan cenderung kurang dalam beberapa hal, apalagi yang bisa dihemat untuk menabung?”

Jawab saya, “Kalau sulit, nggak usah menghemat lagi. Cari cara untuk mendapatkan uang lebih banyak. Nggak mudah, tapi kalau kita niat pasti ada jalan. Bahkan, menawarkan jasa untuk antar jemput sekolah anak tetangga saja (kalau beruntung) sudah bisa dapat uang lumayan.”

Indonesia secara umum di permukaan terlihat sangat baik. Tapi kalau sampeyan mau turun ke lapangan, berbicara dengan masyarakat luas; kita sebenarnya sedang perang menghadapi masalah ekonomi. Inflasi yang tinggi, tapi selalu diredam dengan berbagai “omongan baik” pemerintah nggak bisa mengelak dari masalah turunnya daya beli masyarakat.

Toko-toko kiri kanan rumah saya, yang seumur-umur saya tinggal di situ nggak pernah mengeluh, tahun ini beberapa kali tercetus sepinya pembeli dan sulitnya membayar cicilan bank atas utang usaha mereka.

Saya pribadi merasa bahwa harga-harga barang kebutuhan pokok menjadi “lebih nggak terkendali” sejak wacana PPN 12% Oktober tahun lalu digulirkan. Harga barang naik duluan dan nggak mau turun ketika wacana itu sudah dibatalkan. Daya beli masyarakat sudah terlanjur menurun.

Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, biaya-biaya jasa yang terus merangkak, dan tagihan yang seakan nggak mau kompromi itu, banyak dari kita mungkin sudah sering bertanya, “Apalagi yang bisa dihemat?”

Pertanyaan ini bukan hanya soal uang, tapi juga soal cara atau gaya hidup. Karena ternyata, banyak hal dalam hidup yang bisa kita hemat; dan bukan semua hanya soal angka atau uang kita di rekening.

Pertama, Uang Jelas Bisa Dihemat. Tapi Bagaimana Caranya?

Masak Sendiri:
Jajan kopi kekinian tiap hari? Bisa hemat ratusan ribu sebulan kalau diganti dengan seduh kopi di rumah. Bawa thumbler isi minuman saat keluar rumah.

Saya yang tetahunan sejak pandemi hingga Oktober tahun lalu; setiap hari beli makanan online 2x-3x sehari, sudah menghentikannya. Charge PPN 12 persen itu bikin pengeluaran makan saya yang mestinya A menjadi 2A, padahal nggak serta merta pendapatan naik 2x lipat.

Sejak Desember tahun lalu saya belajar lagi “memasak” dengan membeli aneka bahan makan mudah olah dan praktis. Ternyata hanya butuh biaya 1/2 A. Tentu saya yo kudu effort sedikit. Mencuci piranti masak, perlu gas, perlu sabun cuci, perlu air, listrik jadi tambah karena penggunaan airfryer, grill, blender, oven, pemanggang roti, dll.

Tapi bahwa total keseluruhan biaya hanya 1/2 A dengan makanan yang sudah 4 sehat 5 sempurna (kadang bahan masih ada banyak, bisa untuk setengah bulan berikutnya), itu sungguh bikin saya takjub. Ngopo kok nggak dulu-dulu, kan saya bisa piknik dekat-dekat lebih sering😂😁

Belanja dengan Daftar:

Iyes banget. Jangan berangkat ke tempat belanja: supermarket/mall/pasar/pameran/ galeri dll tanpa rencana. Impulsif itu musuh utama dompet! Tenan kuy 😀 Lapar mata, godaan diskon, tawaran manis Mbak-Mbak Cantik Sales kosmetik, dll itu bikin kita bisa belok haluan. Membeli yang nggak penting-penting amat. Duitnya keluar nggak bisa ditarik lagi, barangnya ternyata nggak kita perlukan.

Langganan Digital:
Punya lima aplikasi streaming, tapi nonton cuma satu? Saatnya unsubscribe. Pilih yang benar-benar sering dipake nonton. Mo cuma puluhan ribu sebulan, setahun ya cukup ada jumlahnya. Atau pilih layanan yang gratis aja. Baru beli layanan khusus untuk tayangan tertentu yang mau ditonton.

Kedua, Hemat Waktu
Scroll Media Sosial:
Satu jam scroll, lima menit bahagia, sisanya? Entah. Waktu bisa lebih bermanfaat kalau dipakai untuk membaca, olahraga, beberes rumah atau ngobrol dengan orang rumah.

Rapat Nggak Penting:
Hemat waktu dengan berkata jujur, “Ini bisa lewat email nggak, ya?”

Main Game Over Waktu:

Sesekali main game itu perlu, tapi kalau sampai over waktu, bahkan mengabaikan banyak kewajiban, itu perlu dibenahi ulang. Game juga menghabiskan uang kalau mainnya memakai koin atau poin yang harus dibeli dengan uang riil.

Ketiga, Hemat Energi Emosional
Drama Nggak Penting:
Pilih pembicaraan yang memang layak untuk dilakukan. Kadang lebih sehat untuk diam daripada menjelaskan pada mereka yang nggak mau mengerti.

Saya yo wes bolak-balik ditanyain kenapa nggak bawa motor atau mobil, malah pilih pesan motor atau mobil online. Kelihatannya boros versi mereka, tapi bagi saya lebih boros bawa kendaraan sendiri. Karena mereka hanya ngitung uang, nggak ngitung waktu, energi, konsentrasi saya yang hilang kalau saya harus berkendara sendiri.

Kalau bawa mobil sendiri, saya nggak bisa sambil ngetik to? Nggak bisa sambil baca atau ngaji to? Haish, orang memang beda-beda pemikiran. Jadi saya yo wes diam saja. Saya nggak hidup dari makan gengsi atau omongan orang. Nggak perlu juga validasi “mampu” hanya karena bawa mobil sendiri.

Overthinking:
Banyak hal yang kita takutkan ternyata nggak pernah terjadi. Jangan boros energi untuk skenario yang hanya ada di kepala kita. Mumet nanti. Mikir yang baik-baik aja. Nikmati, syukuri hidupmu. Kalau sudah cukup tanpa bisa menghemat, ya terima aja dulu. Sambil berjalannya waktu, cari cara untuk menambah penghasilan.

Keempat, Hemat Berkaitan Dengan Barang-barang Kita
Beli Sesuai Kebutuhan, Bukan Tren:

Lemari penuh tapi tetap merasa ‘nggak punya baju’? Bisa jadi yang dibutuhkan bukan baju baru, tapi mindset baru. Saya kadang mikir, baju mana lagi yang mau dipake. Kadang ini bikin impulsif beli-beli kain untuk dijahit. Tapi dengan adanya plan yang perlu budget tertentu, saya lebih bisa ngerem dan kadang “membarukan” baju lama dengan sedikit tambahan desain atau perubahan itu perlu.

Kelima, Mari Kita Terapkan Hidup Minimalis:
Hemat ruang, hemat waktu beberes, hemat pikiran. Semakin sedikit penampakan, semakin sederhana, semakin ringan beban hidup kita; karena kita hidup sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Nggak perlu panas hati, iri dengki kalau keluarga kita, tetangga kita, kawan kerja kita, tetiba beli barang-barang branded, piknik luar negeri, pesta mewah, dll. Kita kan nggak tahu toh usaha mereka untuk mendapatkan hal itu? Hidup sesuai kemampuan cenderung bikin hati lebih damai, adem ayem, nggak kemrungsung, nggak perlu dikejar-kejar utang pulak!

Keenam, Hemat Kata-kata
Komentar Negatif:
Nggak semua hal perlu dikomentari. Kadang diam adalah bentuk paling elegan dari hemat kata. Setiap orang punya pemikiran yang berbeda. Nggak usah ribet dengan kelakuan orang lain, selama itu nggak melanggar hukum dan aturan secara umum.

Janji Berlebihan:
Hemat janji, supaya nggak boros masalah kepercayaan. Jangan menjanjikan apapun pada anak, keluarga, pasangan, mertua, orang tua, teman, dll kalau sampeyan nggak yakin bisa. Alih-alih janji, kalau mampu saja langsung belikan atau ajak sesuai keinginan mereka. Lebih menyenangkan, lebih surprise.

Pada Akhirnya, Hemat Itu Soal Pilihan
Menghemat bukan berarti pelit. Menghemat adalah seni memilih apa yang benar-benar penting. Hidup bukan tentang punya segalanya, tapi tentang bagaimana kita menikmati segala yang kita miliki dengan tenang, bijak, dan sadar.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa masih serba mepet dalam banyak hal: waktu, tenaga, pikiran, dompet; coba tanyakan sekali lagi pada diri sendiri, “Apalagi yang bisa dihemat?”

Jawabannya mungkin lebih dari yang kamu kira. Pasti kamu akan ketemu beragam cara untuk berhemat dalam berbagai aspek kehidupan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: