Bali Lovina (1): Demi Ketemu Lumba-lumba

Saya dengan Bu Sri (owner Bali Media Grup) usai siaran tentang Herbal dan Pengobatan Tradisional Bali untuk radio Bali.

Dari seluruh tempat di Indonesia, Bali paling indah dalam versi saya. Sejak belia saya sudah jatuh cinta dengan Bali. Alamnya yang indah, budayanya yang kuat terjaga, masyarakat pekerja seni yang ramah, dan tentu kemajuan zaman nggak membuatnya “berubah” dari adat tradisinya.

Sejak belia pula sudah nggak terhitung berapa kali saya ke Bali. Adik saya pun ada yang kuliah di Udayana, Bali. Beberapa orang dekat dan sahabat saya juga tinggal menetap di Bali. Kalau biaya hidup di Bali nggak mengikuti standar USD, mungkin saya pilih menetap di sini. Selain itu, karena saya muslim, kalau di Bali jelas butuh usaha lebih untuk ibadah. Gema adzan nggak akan bersahutan merdu seperti di Jogja.

Toh negeri seribu pura ini serasa rumah “kedua” yang paling sering saya tinggali selain Jogja. Terlebih ketika saya menetap kerja sebagai script editor ngurusin sinetron dan film di Multivision Plus Jakarta, Bali adalah tempat “menghilang” dari rutinitas kerja yang melelahkan.

Saya akan terbang Sabtu pagi-pagi ke DPS lalu kembali ke JKT Minggu dengan penerbangan paling malam. Hampir tiap bulan begitu selama 12 tahun. Ngapain saja di Bali? Ya suka-suka. Kadang jalan, piknik, wisata kuliner, belanja, melukis, kadang cuma pindah tidur tanpa gangguan. Bali adalah sisi lain yang saya kenali dengan sangat baik setiap sudut wisatanya.

Meskipun begitu, ada tiga tempat yang hampir setengah abad umur saya belum pernah saya tengok di Bali. Pantai Lovina. Desa Panglipuran. Desa Adat Pegringsingan. Entah ada aja sebab nggak jadi ke tempat itu. Terakhir di 2019, saya dengan sahabat wes ngatur piye caranya bisa ke tempat-tempat tersebut secara mandiri.

Saat itu saya ada gaweyan di KL. Karena sahabat saya selow, dari KL saya terbang ke DPS. Tiba jam 22 WITA, mestinya jam 23 WITA saya sudah keluar bandara. Niatnya segera istirahat (rumah sahabat saya di sekitaran bandara) agar besok jam 03 WITA saya dan sahabat sudah bisa memulai perjalanan menuju Lovina.

Ndilalah kok saya kena random check dan njelehi tenan pemeriksaan macam-macam karena saya membawa pil-pil putih nggak bernama (placebo) untuk penelitian, tapi nggak ada keterangan yang bikin pemeriksaan makin ruwet.

Rasa waspada (sampai mungkin paranoid) petugas bandara DPS dengan mereka yang gamisan dan jilbaban lebar juga bikin pemeriksaan identitas saya sangat lama. Saya sampai mengeluarkan kartu Kagama (alumni UGM) agar mereka bisa ngecek konfirmasi kalau saya bukan orang tanpa identitas dari Malaysia. Jelas nggak termasuk DPO atau jaringan teroris internasional.

Setelah kejadian itu, saya nggak pernah lagi terbang antar negara melewati bandara internasional pake gamis kerudungan lebar, kecuali umroh dengan rombongan yang urusan berangkat-pulang wes diurus biro dan TL-nya.

Keluar dari bandara saat itu wes hampir jam 04 pagi. Yo jelas ambyar semua rencana kami 😜 Saat itu kami memilih menertawakan sistem birokrasi bandara kita yang ruwet bin angelo itu dengan wisata kuliner dan belanja-belinji, tuku-tuku sakarepmu. Nggak bisa ke Lovina ditunda besoknya; karena saya sudah harus kembali ke Jogja hari itu. Gaweyan urgent gakbisa ditinggal. Lha kan itu yang bikin kita dapat duit.😁😂

Namanya juga keinginan, kalau belum kesampaian kayak mengganggu pikiran aja. Makanya begitu lihat flyer Sering Travel berseliweran di timeline FB saya dan ada destinasi Pantai Lovina, nggak pake mikir dua kali saya langsung daftar. Waktu itu bulan Februari 2025 (bisa cek kwitansi saya di admin) untuk keberangkatan bulan Juni 2025. Niat tenan dan versi saya biayanya ringan. Nggo beli tiket pesawat pp JOG DPS bae racukup😁

Kenapa Juni, kok nggak bulan sebelumnya? Beuh, jadwal saya wes penuh. Januari saya ke Bromo. Februari ke Ijen. Maret eksplore Gunung Kidul. April piknik keluarga besar di daerah DIY. Mei di sekitaran Trowulan, Jawa Timur. Juni belum ada jadwal. Nah itu sebabnya pilihan di bulan Juni.

Tapi ndilalahnya Juni saya ada tugas delegasi Dialog Sastra Melayu 3 Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam) di Kalimantan Timur. Biyuh, mundur lagi jadwal saya ke Lovina. Untungnya boleh diganti di bulan September.

Juni saya beneran turun hampir di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Juli saya full di Solo bolak balik Jogja. Agustus nggak ke mana-mana karena full dengan lomba-lomba Agustusan dan acara-acara ritual untuk penerimaan mahasiswa baru.

September ke Lovina. Oktober s/d Desember jadwal saya pun sudah penuh. Jadwal piknik (baca: bepergian) saya nyaris sebanyak jadwal mengisi kelas-kelas atau workshop penulisan di seluruh Indonesia; karena banyak juga piknik saya didanai klien atau sponsor.

Itu sebabnya kalau ada temen yang ngajak pergi dadakan, saya langsung setoran bendera putih. Mengganti jadwal nggak semudah membolakbalik tangan, apalagi kalau program yang melibatkan banyak orang. Dan finally, hore akhirnya saya berangkat betulan ke Lovina setelah (rasanya) berabad-abad tertunda melulu 😀🤩

Kenapa pingin sekali ke Lovina? Lihat lumba-lumba di alam aslinya. Di Maluku (tapi kalau secara de facto kayaknya lautan itu sudah masuk wilayah Australia), saya juga sudah pernah melihat lumba-lumba dan itu super “menyenangkan”. Happy dan takjubnya tuh nggak ilang selama berhari-hari.

Lumba-lumba yang saya lihat di Maluku. Sungguh wow… saya masih ingat betul teriakan heboh waktu melihat dua makhluk ini melompat di atas lautan. Sungguh menyenangkan.

Terus ada mitos di kalangan bangsa pelaut atau mereka yang punya tradisi maritim; siapa saja yang bisa melihat (bertemu) lumba-lumba di alam aslinya (adalah orang baik); dan akan mendapatkan beragam kebaikan, kesehatan, keberuntungan, keberlimpahan rezeki, keselamatan, keberkahan, dl.

Makanya saya juga ingin lihat lumba-lumba yang di Lovina. Secara biaya, ke Lovina jelas lebih terjangkau daripada pecicilan lagi ke Maluku. Pokmen kalau wisata Indonesia Timur, kalau nggak ditopang dana sponsor, beneran bisa bikin kantong jebol.

Ke Eropa 7 negara kamu cuma butuh 35 juta 14 hari sudah all in termasuk uang saku pribadi. Ke Maluku 35 juta cuma di Ambon sekitaran dan 7 hari saja, belum kalau laut lagi nggak bersahabat nggak bisa nyeberang, charge hotelmu bisa nambah terus 😂😁 Ke Eropa kalau dibuat flexing di sosmed sering di-like dan di-love banyak follower karena dianggap keren, glamour, kaya; Kalau ke Maluku capek fisik, ribet naik turun perahu, gonta-ganti pesawat kecil, jalan dan sarpras yang belum memadai, diposting di sosmed pun sering dianggap biasa aja😂😁

Wes pokmen, wisata domestik kita (mayoritas) memang masih mahal di ongkos terutama areal Indonesia Timur. Tapi bagi mereka yang doyan piknik; Indonesia Timur adalah “taman surga” yang mengejawantah di bumi. Semua alamnya cantik luar biasa. Biaya mahal, capeknya jalan di medan naik turun, ribetnya gonta-ganti pesawat atau perahu (kadang harus nunggu berhari-hari demi terpenuhi kuota minimal), dll effort besar itu nggak ada bandingannya dengan saat kita bisa berhadapan langsung dengan keindahan alam mahakarya sang Pencipta di muka bumi. Subhanallah ❤

Karena ini ikut open trip 4D3N saya tahu diri. Gakbawa koper, pakaian ganti secukupnya, gak bawa buku-buku yang biasanya selalu ada di tas kalau bepergian, gakbawa bantal pribadi. Lagipula, ini ke Bali; saya tenang aja. Kalau ada apa-apa, ada banyak orang yang bisa ditelponin untuk bala bantuan.

Bagaimana keseruan piknik saya bersama Sering Travel? Ikuti aja catatan saya berikutnya yes. Dan ingat, saya nggak sedang mengendorse biro wisata yes. Saya ikut trip ini bayar mandiri. Walaupun biaya ringan, tetep saya bayar 3x sesuai aturan mereka. Jadi di ingatan saya tuh, serasanya cuma bayar 300 rb (DPnya) sudah piknik ke Bali. Tentu masih banyak item yang kudu bayar dhewe. Ntar saya spill budget kalau sudah selesai ceritanya. Tapi sabar ya… nulisnya dikit-dikit😂

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bulan Agustus Penuh Warna

Saya ketika di Wahanarata Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bulan Agustus sudah berlalu beberapa hari. Bulan kemerdekaan ini menghadirkan nuansa istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah kita merayakan kemerdekaan dengan segala makna dan refleksinya.

Bendera merah putih berkibar gagah di setiap sudut jalan, lomba-lomba rakyat penuh keceriaan, hingga doa syukur terlantun di berbagai kesempatan. Semua itu mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah instan, melainkan buah perjuangan panjang yang diperoleh dengan pengorbanan besar.

Menghayati Agustus berarti belajar bersyukur. Bersyukur karena bisa hidup di negeri merdeka yang memberi ruang bagi kita untuk berpendapat, berkarya, dan menggapai mimpi. Bersyukur atas persatuan yang masih terjaga meski perbedaan begitu banyak. Bersyukur karena generasi sekarang bisa menikmati pendidikan, teknologi, dan kebebasan yang dahulu hanya bisa diimpikan para pejuang.

Namun, rasa syukur nggak cukup hanya diucapkan. Syukur sejati harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Kita bisa menunjukkan rasa syukur dengan menjaga lingkungan tetap lestari, menghargai orang lain tanpa memandang perbedaan, serta berkontribusi sesuai kemampuan untuk kemajuan bersama. Agustus menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan peran kita dalam melanjutkan semangat juang, bukan sekadar mengenang sejarah.

Saya pribadi mencatat banyak hal dan peristiwa di bulan Agustus. Dari rutinitas kerja menulis, mengajar, meneliti, juga banyak mengikuti kegiatan lomba-lomba Agustusan di lingkungan, kegiatan sosial, pergi ke beberapa daerah wisata sekitaran tempat tinggal, dll. Bulan Agustus saya lewati dengan banyak syukur dan sukacita.

Sekurangnya di bulan Agustus saya memutuskan untuk lebih produktif berkarya. Lebih banyak belajar hal-hal baru agar hidup lebih bermakna. Bagaimanapun hal yang membuat kita bahagia adalah pembaruan dan perbaikan terhadap hal-hal kecil yang kita lakukan secara terus menerus dan penuh syukur.

Alhamdulillah. Inilah yang membuat saya lebih optimis setiap hari, termasuk menapaki bulan September yang tahu-tahu sudah lewat lima hari. Betapa cepat waktu berlalu. Mari kita isi hidup dengan hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kenapa Kita (Nggak) Mudah Bersyukur?

Saya dengan salah satu guru saya, Uni Noni. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak sih, kamu merasa hidupmu “biasa-biasa saja”? Padahal kalau dilihat oleh orang lain, sebenarnya banyak banget hal yang bisa kita syukuri. Misalnya, kita sehat, punya keluarga, punya rumah, baju banyak, bisa makan tiga kali sehari, bisa tertawa bebas, bisa beribadah dengan mudah, punya pekerjaan dan penghasilan, dlsb. Tapi anehnya, hati tetap saja merasa kurang. Nah, kenapa ya kita sering kali nggak mudah bersyukur?

Manusia cenderung membandingkan. Saat teman liburan ke luar negeri, kita merasa liburan ke kota sebelah jadi “nggak ada apa-apanya”. Padahal, kebahagiaan bukan datang dari seberapa mewah tempatnya, tapi bagaimana kita menikmatinya.

Membandingkan terus-menerus bikin hati gampang merasa kurang, seolah apa yang ada sekarang nggak pernah cukup. Kita selalu menghitung-hitung yang belum kesampaian atau belum ada, sampai lupa menikmati semua yang sudah ada.

Sering kali kita mengukur hidup dari standar sosial media: harus punya barang-barang branded, wajah glowing, rumah estetik, piknik serba luar negeri, karier cemerlang, mobil mentereng, anak-anak sekolah di tempat-tempat elite favorit, dll. Kalau belum sampai titik itu, rasanya hidup kita (masih) gagal.

Padahal, standar kebahagiaan tiap orang berbeda. Kalau terus mengejar standar orang lain, kita akan sulit banget merasa cukup. Ibarat kata ukuran sepatu kita 40, tapi memakai sepatu ukuran 45 ya kegeden nggak pernah nyaman atau bahkan kesandung-sandung.

Saat sesuatu sudah jadi kebiasaan, kita sering lupa nilainya. Bisa makan enak, minum air bersih, bisa naik mobil, bisa pesan makanan online, punya rumah sendiri, punya gaweyan mapan, dll; semua itu sebenarnya kemewahan yang nggak semua orang punya. Tapi karena terbiasa, kita merasa itu “biasa saja”. Dan karena menganggap biasa saja, kita jadi lupa bersyukur. Iya apa iya?

Kadang, kita terlalu sibuk mengejar yang berikutnya sampai lupa berhenti sejenak. Hidup terasa seperti lomba tanpa garis finish. Kalau hati terus sibuk mengejar, kapan sempat berhenti dan berkata, “Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah untuk semua rezeki dan berkah-Mu hingga hari ini.”

Jadi, bagaimana biar lebih gampang bersyukur?

Belajar sadar momen kecil: nikmati secangkir kopi, obrolan hangat, atau sekadar bisa tidur nyenyak.

Kurangi membandingkan: ingat, highlight hidup orang lain di media sosial bukan cerita penuh mereka. Tampilannya mungkin hanya yang glamour, glossy, happy. Eh, coba ulik kehidupan riil mereka, kita nggak pernah tahu seberapa banyak jatuh bangun, keringat, airmata yang mereka curahkan untuk bisa pada titik itu. Jadi, kalau kamu iri sama “kesuksesan” orang lain, coba tengok perjuangan dan jatuh bangunnya juga.

Tulis jurnal syukur: coba tulis tiga hal yang kamu syukuri setiap malam. Lama-lama, otakmu terbiasa melihat sisi positif.

Berbagi: saat kita memberi, kita sadar bahwa ternyata apa yang kita punya sudah lebih dari cukup. Memberi membawa ruang kebahagiaan.

Bersyukur itu bukan berarti berhenti bermimpi atau pasrah. Bersyukur adalah menikmati apa yang ada sambil tetap berusaha lebih baik. Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan datang dari seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa happy kita menikmati dan menghargai segala yang sudah ada.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kita (Sungguh) Nggak Butuh Validasi Orang Lain untuk Maju

Setelah kegiatan-kegiatan Agustusan 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hidup saya (nggak selalu) mudah. Banyak jatuh bangun kehidupan yang saya lewati hampir setengah abad ini. Beragam keribetan menghadapi kenyinyiran dan kejulidan orang karena keberadaan saya yang lajang nggak sekali dua kali saya hadapi. Kadang-kadang rasanya begitu nggak sabar, tapi beruntung saya sudah terbiasa cuek dengan hal-hal yang versi saya nggak menambah isi saldo saya.

Ketika saya baru mau studi S-2, semua tetua di keluarga besar mencela dan ribut kalau makin tinggi sekolah, makin sulit jodohnya. Saya lempeng saja, sekolah saya yang menjalani, biaya saya yang bayarin. Nggak ada hubungannya dengan mereka. Urusan jodoh, itu seperti urusan kematian. Nggak ada yang tahu kapan datangnya.

Lalu ketika saya mau studi S-3, cercaan keluarga besar lebih ekstrim. Ibu saya sampai mengatakan bahwa mereka keterlaluan, bukannya mendukung keponakannya (saya) terdidik, tapi malah menghalangi kemajuan. Saya menenangkan ibu saya agar nggak menanggapi dengan emosi mereka yang asal bicara. Studi saya lanjut terus sampai selesai, dan saya baik-baik saja dengan tentangan mereka. Lha wong mereka yo nggak nyumbang sepeserpun biaya studi saya kok.

Dari situ saya belajar, untuk maju kita harus punya tekad kuat. Sungguh nggak butuh validasi atau kesepakatan dari pihak lain yang nggak ada kontribusinya dalam hidup kita. Coba kalau saya mendengarkan omongan mereka saat itu, mungkin saya belum sekolah tinggi, jodoh pun belum datang.

Versi saya, hidup saya itu tanggung jawab dan urusan pribadi. Saya memilih sesuatu, berarti harus siap dan sadar atas konsekuensinya. Selama itu sanggup saya jalani, ya lakukan saja. Masih banyak putusan besar lainnya dalam hidup saya, yang dianggap nggak biasa oleh orang lain (terutama di keluarga besar), tapi ya tetap saya lakukan. Karena kemajuan diri saya, kesejahteraan hidup saya nggak tergantung omongan mereka.

Nah, bagaimana denganmu? Pernah nggak sih kamu merasa capek banget karena seolah hidupmu harus selalu dapat lampu hijau dari orang lain? Mau ambil keputusan kecil sampai besar, rasanya masih nunggu komentar, pujian, atau bahkan sekadar “like” di media sosial. Kalau responnya sepi, langsung ragu sama diri sendiri.

Padahal, kalau dipikir baik-baik, kita sungguh nggak butuh validasi orang lain untuk maju. Salah satu jebakan terbesar di zaman sekarang adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita gampang merasa minder karena melihat orang lain lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih apa saja. Akhirnya, kita mencari-cari pengakuan lewat ucapan orang lain, seakan kalau nggak dipuji, berarti kita gagal.

Padahal hidup ini bukan kompetisi siapa yang paling hebat, bukan ajang pamer pencapaian. Hidup adalah perjalanan personal yang penuh warna. Setiap orang punya jalannya sendiri, punya ritmenya sendiri. Dan yang lebih tahu arah itu siapa? Ya kita sendiri, bukan orang lain.

Orang bisa bilang apa saja tentang kita. Ada yang memuji, ada yang meremehkan, bahkan ada juga yang sekadar mengomentari tanpa tahu ceritanya. Tapi, itu semua sifatnya sementara. Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Kalau kita terus bergantung pada validasi dari luar, kita akan kelelahan.

Validasi yang sejati itu datang dari dalam diri sendiri. Saat kita bisa berkata, “Aku sudah berusaha sebaik mungkin,” atau “Aku puas dengan prosesku,” di situlah sebenarnya kita sudah menang.

Nggak perlu menunggu orang lain berkata, “Kamu hebat,” karena kita sudah tahu dan merasakan sendiri perjuangan yang kita jalani.

Untuk bisa bersikap seperti itu, kita butuh percaya diri yang kuat. Percaya diri bukan berarti keras kepala, menutup diri dari masukan, atau merasa selalu benar. Percaya diri berarti tahu apa yang kita mau, tahu kenapa kita memilih jalan itu, dan berani melangkah walau belum ada yang mendukung.

Masukan atau saran dari orang lain tetap bisa jadi bahan pertimbangan, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kita. Studi S-3 saya itu saya anggap “kecelakaan” karena nggak terencana. Pembimbing saya mengatakan kalau masih mau lanjut sekolah, ya segera saja. Karena UGM makin lama makin mahal dan aturannya makin beragam. Dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi, akhirnya saya memilih mengikuti saran beliau. Dan syukurlah semua terlewati dengan baik. Kalau saat itu saya memilih studi S-3 nanti-nanti, wes mungkin nggak kesampaian juga; karena biaya yang makin tinggi dan seleksi makin ketat karena makin banyak peminat, sementara kapasitas sedikit.

Begitu juga dengan proses. Kadang kita terlalu fokus pada hasil, sehingga lupa menghargai perjalanan. Padahal, setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bagian dari kemajuan. Ketika kita berhenti mencari validasi, kita bisa lebih menikmati proses itu tanpa beban.

Saya lebih sering fokus untuk apa yang jadi tujuan. Bayangkan saja kalau energi yang biasanya habis untuk mikirin, “Apa kata orang?” Nah, kalau energi itu kita alihkan untuk belajar hal baru, memperbaiki diri, atau bahkan sekadar menjaga kesehatan mental, hidup pasti jauh lebih ringan. Kita bisa benar-benar berkembang, bukan sekadar berputar-putar tergantung opini orang lain.

Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Saat bisa menatap cermin dan berkata:
“Aku bangga dengan diriku, dengan segala jatuh-bangun dan proses yang sudah kulalui,”
itu jauh lebih berharga daripada seribu tepuk tangan dari luar. Karena pujian orang lain hanya singgah sebentar, tapi penghargaan dari diri sendiri bisa jadi bekal seumur hidup.

Jadi, jangan tunggu validasi orang lain untuk melangkah. Karena kebenarannya, kamu lebih dari tahu dirimu sendiri. Kamu hanya perlu percaya sama dirimu, terus bergerak maju, nikmati prosesnya, dan tetap bahagia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Apakah Dirimu Sudah Merdeka?

Sego pecel, Jawa Timur. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bulan Agustus selalu punya energi khusus. Jalanan rame bendera merah putih, anak-anak teriak semangat ikut lomba, dan suasana kampung jadi hangat. Tapi di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita tanya ke diri sendiri: “Aku sudah merdeka atau belum?”

Sekarang nggak ada lagi tentara asing yang datang menjajah. Tapi “penjajah” zaman now bentuknya bisa lebih licin:

  • Rasa takut gagal
  • Selalu mikirin penilaian orang
  • Rutinitas yang bikin kita mati rasa
  • Kebiasaan nyimpen mimpi cuma di kepala

Kalau kita masih takut melangkah hanya karena “takut salah” atau “takut omongan orang”, berarti kemerdekaan batin kita masih perlu diperjuangkan.

“Merdeka bukan berarti bebas dari aturan, tapi bebas dari ketakutan.”

Ciri-ciri kamu belum sepenuhnya merdeka: Pertama, susah bilang nggak walaupun itu bikin capek. Kedua, selalu minta validasi orang sebelum ambil keputusan. Ketiga, takut mencoba hal baru karena khawatir gagal. Keempat, nggak berani jujur soal apa yang sebenarnya diinginkan.

Merdeka artinya bisa memilih jalan hidup sendiri dan bertanggung jawab penuh atas pilihan itu. Kadang merdeka berarti berani keluar dari zona nyaman, walaupun awalnya bikin keringat dingin. Kadang juga berarti melepas sesuatu yang udah nggak sehat untuk jiwa kita.

“Bebas itu enak. Tapi merdeka itu tenang.”

Selain ikut lomba makan kerupuk atau tarik tambang, coba rayakan juga kemerdekaan pribadi:

  1. Katakan “tidak” tanpa rasa bersalah.
  2. Lakukan hal yang dari dulu cuma jadi wacana.
  3. Lepaskan hubungan atau kebiasaan yang bikin kamu stuck.
  4. Maafkan diri sendiri dan move on.

Karena, ujung-ujungnya… kemerdekaan yang paling mahal itu bebas jadi diri sendiri tanpa rasa takut.

“Negara sudah merdeka, sekarang giliran jiwamu.”

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bikin Dirimu Happy Duluan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kemarin, dengan obrolan panjang dengan kawan lama; saya merekam berapa banyak “orang” yang seringnya “nggak kita kenal” merusak kebahagiaan kita. Mereka menganggap “sepele” pencapaian kita. Sungguh ironis, di Indonesia yang dijuluki negeri damai, negeri bahagia, negeri dewata.

Saya pun, nggak sekali dua kali ngadepin orang-orang model begini. Semua pencapaian saya —yang tentu saja harus dengan effort luar biasa, dianggapnya sepele. Jian nggak mutu betul. Nggak tahu dia, kalau tiap orang punya ujian yang berbeda. Mungkin bagi dia gampang piknik ke kota sebelah saja, tapi bagi orang lainnya, bisa jadi nggak mudah.

Tapi bukankah bagi para pembenci, tukang iri dengki, julidan, nyinyiran, nggak ada satu hal pun yang lolos dari sifatnya itu? Jadi, yo weslah. Saya abaikan saja. Mari kita tetap berfokus pada tujuan dan mencapai hal-hal lain yang lebih besar, biarpun bagi mereka ya nanti direspon dengan celaan lainnya lagi.

Dan saya yakin, sampeyan semua pasti pernah merasa lelah karena terus berusaha bikin semua orang senang, tapi lupa nanya ke diri sendiri, “Aku tuh happy nggak sih?”

Kenyataannya, kita sering banget menomorduakan diri sendiri demi orang lain. Entah itu demi pekerjaan, pasangan, keluarga, anak-anak, atau sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Tapi yuk, tarik napas sejenak dan ingat lho, kamu juga butuh bahagia. Bahkan, kamu dulu yang harus bahagia, sebelum bisa bikin happy orang lain.

Selfish? Bukan. Self-love? Iya dong! Seringkali kita merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri. Padahal, memanjakan diri bukan egois; itu self-love. Kalau hatimu tenang dan pikiranmu bahagia, kamu akan punya energi lebih buat kasih cinta ke sekitar. Bayangin aja kalau kamu terus “kosong”, apa bisa ngisi kebahagiaan orang lain?

Bahagia nggak harus mahal atau heboh. Kadang cuma perlu secangkir kopi pagi tanpa gangguan, baca buku favorit, nonton ulang film yang kamu suka, atau sekadar tidur cukup. Bahkan, berkata “tidak” ke hal-hal yang menguras energi juga bentuk bahagia loh!

Belajar bilang, “Aku penting!” Mulai sekarang, coba bilang ke diri sendiri, “Aku berhak bahagia.” Jangan tunggu pengakuan orang lain untuk merasa happy. Dirimu yang sekarang, dengan segala luka, proses, dan pencapaianmu; itu layak dirayakan.

Percaya deh, dunia tetap berputar meski kamu rehat sejenak. Ambil waktu untuk dirimu. Nggak perlu selalu produktif. Kadang, yang kamu butuhin cuma duduk diam dan menyadari, “Wah, ternyata aku udah sejauh ini ya.”

Yuk, bahagiakan dirimu dulu. Karena ketika kamu bahagia, semua yang kamu lakukan akan terasa lebih ringan. Senyum jadi lebih tulus, niat jadi lebih murni, dan hidup jadi lebih bermakna. Hindari dan sebisa mungkin abaikan saja mereka yang cenderung “merusak” kebahagiaan kita.

Jadi, yuk mulai dari sekarang: bahagiain dirimu dulu. Bukan nanti. Tapi hari ini juga. Apapun itu, sekecil apapun pencapaianmu, tindakanmu, progress usahamu, piknik dekatmu, dll yang bikin kamu bahagia, rayakan saja. Nggak usah terlalu ambil pusing dengan omongan atau komentar orang. Terlebih mereka yang nggak ada saat kamu jatuh dan berjuang mati-matian untuk pencapaian, yang bisa jadi terlihat sepele di mata orang lain.

Hidup kita, tanggung jawab kita. Bahagia kita, kita sendiri yang tentukan. Bukan tergantung omongan atau validasi orang.

Happy Wednesday,
Saya penulis, alhamdulillah hidup sehat, layak, sejahtera, dan happy damai dengan penuh syukur pada Allah atas semua peristiwa dan jatuh bangun hidup saya hingga saat ini.❤

Kamu masih merasa sulit bikin dirimu happy? Syukuri hidupmu. Catat dan hitung semua pencapaianmu, sekecil apapun. Yakinkan, bahwa kamu penting. Kamu layak bahagia. ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Juli Penuh Reuni

Saya dan beberapa kawan Sasindo UGM angkatan 1997. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Juli sudah di ujungnya. Saya mereview laporan kerja dan mengingat sebulan sudah ngapain saja di luar kegiatan produktif komersial untuk menghasilkan uang. Ooh, sungguh menyenangkan karena ketemu banyak teman lama di moment tak terduga.

Saya sudah bilang kalau diundang apapun, kalau bisa, sanggup, nggak benturan jadwal, pasti saya datang. Begitupun undangan ketemu dengan teman-teman lama. Begitu diajak dan bisa, langsung berangkat. Tapi kalau nggak bisa, saya juga menjawab cepat. Biasanya karena jadwal nggak bisa digeser gegara ketemu banyak pihak.

Nah, bagaimana dengan kamu? Kalau dapat undangan ketemu, reuni, lalu bingung mau datang atau nggak? Rasanya campur aduk siy biasanya; antara penasaran, malu, takut dibanding-bandingin, atau malah malas dandan😂 Tenang, kamu nggak sendirian. Tapi jangan buru-buru nolak dulu. Reuni itu nggak selalu soal pamer pencapaian, kok. Banyak manfaat seru yang bisa kamu dapetin. Nih, coba aja simak dari pengalaman saya.

Mbak Kus salah satu senior dan idola saya di kampus UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketemu Teman Lama, Bikin Hati Hangat

Apa yang paling menyenangkan daripada ketemu orang yang pernah jadi bagian penting hidupmu? Ketawa bareng sambil ingat masa-masa sekolah atau kuliah bisa jadi obat rindu yang nggak bisa dibeli di apotek mana pun.

Ngobrol Seru, Nambah Energi Positif

Kadang, ngobrol sama teman lama bisa bikin semangat hidup balik lagi. Denger kisah hidup mereka, suka-dukanya, bahkan hal konyol zaman dulu bisa bikin kita mikir, “Wah, hidupku nggak sendirian, ya!”

Saya dengan salah satu sahabat sejak kuliah S-1 di UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Siapa Tahu Jodoh atau Rezeki Datang

Reuni juga bisa jadi ajang rezeki, lho. Nemu partner bisnis? Bisa. Ketemu jodoh yang dulu nggak sempat ditembak? Bisa banget. Dunia kecil, siapa tahu reuni jadi jalan ketemu orang penting dalam hidupmu berikutnya.

Nostalgia Itu Menyegarkan

Kadang kita terlalu sibuk sama urusan kerja, rumah, anak, atau keluarga. Reuni bisa jadi momen jeda buat balik ke masa-masa ringan, saat masalah terbesar cuma PR atau tugas kelompok.

Saya dengan Mbak Susi dkk, salah satu sahabat saat kos S-2 UGM di Bulaksumur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari

Bisa Refleksi Diri

Ketemu teman-teman lama bisa jadi cermin buat lihat sejauh apa kita berkembang. Bukan buat banding-bandingin, tapi lebih ke, “Eh, ternyata aku udah sejauh ini, ya!” atau “Wah, aku pengin belajar dari dia deh.”

Tertawa Lepas, Nggak Pake Jaim

Nggak ada yang ngerti jokes zaman dulu selain teman lama. Di reuni, kita bisa ketawa ngakak tanpa mikirin citra atau formalitas. Bebas jadi diri sendiri, kayak dulu lagi.

Saya dengan salah satu sahabat saat studi S-3 di UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena Waktu Nggak Bisa Diulang

Hidup terus jalan, dan kita nggak pernah tahu kapan bisa kumpul bareng lagi. Jadi, selagi bisa, sempatkan. Reuni itu bukan sekadar acara, tapi momen untuk menghargai waktu dan orang-orang yang pernah ada di hidupmu.


Akhir Kata…
Reuni itu bukan soal “siapa yang paling sukses”, tapi tentang “siapa yang masih mau hadir dan menghargai pertemanan”. Jadi, kalau ada undangan reuni, coba deh datang. Kalau ternyata seru, kamu bakal nyesel kenapa dulu sempat ragu-ragu.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: