
Pintu makam salah satu Raja Kutai Kartanegara. Makam ini biasanya terkunci, nggak selalu bisa diakses umum. Tapi pas saya datang, nggak terkunci dan saya bisa masuk. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sering kali niat baik itu menemukan jalannya sendiri. Begitupun dengan niat saya membayar hutang-hutang karma pastlife dengan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa yang sudah terlewat berabad-abad silam.
Urusan di sekitaran dan dalam Museum Mulawarman yang berkaitan dengan pastlife sudah saya bersihkan. Untungnya saya nggak ada sesak nafas, asma, nggak phobia gelap, sempit; sehingga ketika mengakses ruang bawah tanah di museum itu pun tetap dengan ringan hati, meskipun harus mider sendirian. Karena Mbak Erna dan temannya nggak bareng saya lagi.

Sisi dalam makam Raja Kutai Kartanegara yang nggak selalu terbuka untuk umum. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kalau saya berada di Museum Trowulan, Majapahit saya nggak akan seberani dan sepecicilan di sini. Di salah satu sesi pastlife, energi dan trah bangsawan saya boleh besar, tapi di depan raja-raja Majapahit saya tetaplah rakyat yang kalah “power” kalah “awu” dari mereka. Tapi di depan raja-raja Kutai, tentu saya lebih menang power dan menang awu daripada mereka.😀🙏
Saya masih terbengong memikirkan siapa yang mau saya minta nemenin ke makam dan masjid. Di depan museum ada beberapa tim panitia DSBK. Saya nimbrung saja dan tiba-tiba ada obrolan soal penjara bawah tanah. Mata saya sedikit membola.

Makam Raja Kutai Kartanegara yang lain. Kalau makam ini terbuka untuk umum. Nggak pernah dikunci. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Lho ada penjara bawah tanah (lainnya)? Di mana? Bagian mana? Saya jadi penasaran. Karena versi saya, semua sisi museum atas bawah, pokok ujung, depan belakang, kanan kiri wes saya kelilingi dengan tertib. Nggak ada yang terlewat. Mas Amien bilang kalau itu juga di bawah tanah di areal guci-guci dan keramik. Wah, saya pasti terlewat kalau begitu. Daripada penasaran dan karena ada dua panitia yang mau ngecek, saya ikut mereka lagi.
Oalah itu ternyata tetap sama, penjara bawah tanah yang sudah dialihfungsikan sebagai gudang. Tempat yang sudah nggak serem lagi tadi, meskipun ya ruangannya dalam kondisi normal gelap gulita. Tapi pintu tidak dikunci, sehingga bisa dibuka tutup untuk dilihat ruangnya secara keseluruhan.

Penanda areal cagar budaya untuk komplek makam Raja-raja Kutai Kartanegara. Ini searah menuju masjid. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah dari ruang bawah tanah, kami mider ke makam raja-raja. Wah kebenaran sekali. Di seluruh areal komplek itu, saya mengendapkan pikiran untuk fokus meminta maaf dan memaafkan semua hal. Di beberapa titik saya merasakan bahwa ada tarikan energi besar, tanda ada proses pembersihan energi-energi negatif sedang berlangsung.
Areal makam ini cukup luas. Ada 2 atau 3 petugas yang berjaga di sisi lain. Tapi areal makam boleh diakses untuk umum, kecuali makam yang paling depan. Makam ini selalu terkunci dan kalau mau nyekar atau ziarah harus menghubungi petugas. Tapi beruntung pas saya datang, makam itu nggak terkunci. Jadi hanya perlu menggeser kotak infak dan saya pun bisa masuk.

Sisi depan masjid Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Duduk hormat, menyambungkan hubungan batin di kehidupan pastlife… alhamdulillah, akhirnya beres dan bersih. Terbayar lunas hutang-hutang cinta di salah satu sisi kehidupan saya. Plong tenan rasanya begitu beberes urusan dengan raja-raja Kutai Kartanegara.
Makam raja di sini nggak dikeramatkan kayak di Jawa ya… dan secara energi lebih bersih karena berada di areal dekat masjid. Lokasinya juga satu komplek istana di masa lampau. Saya lega, dan seolah-olah juga bisa melihat mereka senang saya datang untuk menepati janji.

Salah satu sisi di dalam masjid Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tinggal satu areal yang belum saya bersihkan. Masjid. Dari komplek makam yo lumayan jalannya sekitar 500 meter menuju jalan besar. Letak masjid berhadapan dengan kantor pemerintahan. Kalau dilihat pola tata kelola komplek istana ini ya nggak beda dari tata kelola komplek istana Majapahit.
Teman-teman bisa mengecek yang ada di lingkungan Trowulan, areal yang hingga kini diaminkan sebagai bekas pusat Kerajaan Majapahit. Tratag Agung (tempat pertemuan, kendali pemerintahan) di Trowulan juga berhadapan dengan candi (tempat ibadah), di sisi lainnya juga terdapat makam.

Kantor pemerintahan Kutai Kartanegara yang terletak di depan masjid. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Meskipun Majapahit sering dilabeli kerajaan Hindu Budha, silakan cek juga ada penguasa-penguasa Islam (tentu dengan masyarakat) dan mata uang gobang dari masa itu pun bertuliskan Arab Pegon. Jadi klaim kerajaan Hindu Budha itu, versi saya karena mayoritas penguasa dan masyarakat saat itu beragama Hindu Budha. Tentu untuk membuktikan dan memberikan statemen tersebut masih perlu banyak penelitian valid dari pihak-pihak yang berkompeten.
Di masjid saya wudu, sholat, berkeliling, bermeditasi; memaafkan dan meminta maaf atas banyak peristiwa pada orang, tempat, kejadian di pastlife berabad silam. Cukup lama saya berada di tempat ini. Karena sekaligus menunggu adzan dan sholat Dhuhur. Alhamdulillah, tunai sudah urusan beberes hutang-hutang karma pastlife saya. Rasanya ringan banget di hati.

Sekurangnya sudah sampai di Taman Titik Nol Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dua orang panitia yang sebelumnya bersama saya wes nggak nampak batang hidungnya. Lha nggak ada yang saya kenal. Untung Mas Amien masih ada di situ. Sekurangnya saya bisa meminta difotokan di depan masjid kerajaan ini. Maturnuwun Mas Amien 😀🙏
Keluar dari areal masjid untuk menuju kapal di pelabuhan yang ada di depan museum, berasa energi saya tipis banget. Habis untuk bersih bersih karma. Tapi untuk sekedar foto-foto dan jalan ya masih kuat lah. Cuman, mata berasa liyernya mengajak tidur. Toh madih sempat juga saya dan dua orang yang menemani ke makam dan masjid berfoto di titik nol Kutai Kartanegara.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
