
Di depan sisi kanan Museum Mulawarman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Acara berikutnya setelah rangkaian seminar yang panjang adalah trip budaya atau wisata budaya. Kami pergi ke Tenggarong. Saya tidak ingat persis rincian acara. Wes ikut saja. Usai sarapan, foto-foto, naik bus, dan pergilah kami berpesiar. Setahu saya hanya ke museum dan balik naik kapal.
Tiba di Museum Mulawarman, hujan rintik cenderung deras. Tapi nggak lama. Begitu selesai mendapatkan penjelasan singkat dan diizinkan masuk, saya sudah langsung berkeliling areal museum. Dari depan sampai ujung, atas bawah semua saya tengokin. Butuh waktu cukup lama untuk bisa eksplore museum ini. Saya sempat mikir kenapa diberi waktu 3 jam untuk sekedar keliling museum? Biasanya nggak sampai sejam juga kita sudah keluar areal museum. Versi saya, museum Lagaligo di Makassar wes cukup luas dan komplet, tapi ya nggak sampai 2 jam mider wes beres keliling dan foto-foto.

Kursi singgasana Raja Kutai dan naga emas simbol kekuasaan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Wah, ternyata museum ini luas banget. Tempat ini tergolong cukup lengkap koleksinya untuk menggambarkan Kutai Kartanegara dari awal berdiri, hubungan dagang dan diplomasi dengan Dinasti Ming dan Dinasti Ching, hubungan dengan bangsa-bangsa Eropa dan masa kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga bergabung dengan Republik Indonesia. Tentu hampir semua barang koleksi adalah replika. Sebagian saja yang asli untuk menghindari penjarahan, pencurian, kebakaran, dll.
Gedung ini dulunya gedung istana raja, bangunan Belanda, jadi sebagian masih terlihat kokoh kuat. Di sini juga ada beberapa tempat yang dulunya “penjara” bawah tanah, yang sekarang sudah difungsikan sebagai gudang barang. Jadi nggak serem lagi. Berbeda dengan beberapa penjara bawah tanah seperti di museum Lagaligo, Lawang Sewu, Siwalima, dll. yang masih dipertahankan sesuai versi aslinya.
Dari museum ini, yang membuat saya paling ingat adalah koleksi alat tangkap iklannya. Ada lebih kurang 20 jenis alat tangkap ikan (cmiiw) yang disebut dalam bahasa lokal. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kaltim begitu dekat dengan kehidupan sungai. Mereka sudah memiliki kearifan lokal memberdayakan alam sekitarnya, termasuk Sungai Mahakam.

Salah satu alat tangkap ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sungai Mahakam yang lebar, luas, dalam, bukan sekedar kumpulan air; tapi telah membawa kehidupan yang makmur dan sejahtera bagi masyarakat Kaltim di masa lalu. Sekurangnya mereka telah memanfaatkan sungai untuk mendapatkan ikan, kebutuhan air, keperluan mencuci, memberi minum ternak, hingga transportasi air. Mahakam adalah sebagian nyawa kehidupan orang Kaltim.
Di masa lampau, rumah-rumah orang Kaltim menghadap ke Sungai Mahakam. Mereka masing-masing memiliki perahu atau jukung-jukung yang ditambatkan di dekat rumah, sebagai alat transportasi. Ketika masa Orde Baru, pemerintah mengubah paksa haluan tersebut.

Setelah melewati aneka jenis alat tangkap ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Rumah-rumah harus berbalik arah menghadap jalan baik jalan raya besar atau kecil. Kehidupan dengan transportasi air di Sungai Mahakam bukan lagi sarana utama. Ini adalah perubahan ekstrem, karena membalikkan arah dari transportasi air ke transportasi darat. Hal yang tidak mudah karena berabad-abad mereka sudah terbiasa dengan kehidupan dan transportasi air.
Versi saya pribadi, sebenarnya kalau pemerintah pusat lebih berwawasan budaya; hal tersebut tidak perlu diubah. Hanya ditambahkan saja ada transportasi darat. Biarkan masyarakat Kaltim tetap hidup dengan rumah rumah menghadap sungai dengan jukung-jukungnya; sementara sisi yang menghadap jalan pun tetap tersedia. Ini bisa jadi warisan budaya yang bermanfaat untuk wisata budaya.
Toh nasi telah menjadi bubur. Perusakan budaya atas nama pembangunan terjadi di mana-mana di segala sudut bumi Nusantara. Kita memiliki aneka kekayaan pangan etnis (jagung, sagu, singkong, talas, dll) yang semua dianggap kurang berbudaya saat pemerintah memaksakan beras sebagai bahan pangan nasional. Begitu gagal panen, beras langka, kita semua repot dan harus kembali ke warna lokal pangan dasar yang lebih mudah dihasilkan, seperti jagung, singkong, dll. Tapi lidah kita secara nasional sudah terlanjur rusak; seolah belum makan dan nggak kenyang lagi kalau nggak makan nasi.

Ruang luas dan lengang yang memudahkan saya untuk meditasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ternyata cukup lelah berkeliling museum ini. Begitu selesai keliling saya balik ke depan. Minta foto-foto dari panitia njur bengong. Saya meditasi sejenak untuk membersihkan diri dari energi negatif di sekitaran museum. Ada cukup banyak energi negatif, terutama di areal bawah tanah tempat menyimpan berbagai guci dan keramik sejak Dinasti Ming hingga versi terbaru dari keramik-keramik Eropa. Saya yakin, hubungan dagang mereka nggak sepenuhnya murni, karena toh akhirnya Kutai juga terimbas kolonialisasi Belanda dan pendudukan Jepang.
Usai bebersih energi, saya melihat masih banyak peserta yang berkeliling. Saya berasa sudah lelah dan energi cukup drop. Perlu beberapa waktu untuk memulihkan energi. Untung ada ruang yang cukup luas tanpa perabot, sehingga memudahkan saya untuk memulihkan energi. Rasanya langsung segar bugar. Urusan saya dengan pastlife belum selesai. Ini hal penting yang kudu saya bereskan hari ini.
Jujurly, saya rada jiper kalau harus ke makam sendirian. Ini yang bikin saya galau. Gegara dua teman saya (Mbak Erna dan temannya) yang tadinya mau ikut keliling museum bilang merinding dan nggak enak perasaan sedari masuk museum. Karena itu saya langsung melarang mereka keliling museum. Khawatirnya mereka drop, pingsan, atau malah kesurupan ntar semua repot.
Nah sekarang saya nggak melihat batang hidung mereka berdua. Di sekitaran masih banyak orang, tapi saya nggak kenal meskipun sesama peserta. Nggak enak juga minta mereka ujug-ujug nemenin ke makam. Hadeuh, bagaimana ini? Mosok sudah sampai sini nggak diberesin hutang karmanya?
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
