DSBK XVI 2025 (7): Ajang Temu Kangen

Saya bersama Mas Amien dan istrinya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya termasuk yang senang ikut beragam acara seminar baik akademis maupun non akademis, karena di tempat itu bisa sekaligus ajang temu kangen. Berjumpa dengan para senior, teman-teman seangkatan, yunior-yunior, atau bahkan relasi baru yang membawa banyak manfaat.

Sudah nggak terhitung berapa banyak saya mendapatkan pekerjaan menulis buku (biografi, company profil, naskah fiksi, buku nonfiksi, skenario, dll) atau mengisi kelas-kelas penulisan dari relasi-relasi baru; yang beneran baru ketemu di acara-acara semacam itu. Nggak terhitung pula berapa banyak buku yang terjual dari pertemuan dengan pihak-pihak baru.

Intinya memang menambah silaturahmi itu menambah rezeki. Makin jauh jalanmu, makin banyak temanmu, makin banyak pula rezekimu. Itu bagian prinsip hidup yang saya anut.

Jadi ya wes biasa saja bagi saya jalan jauh, ikut acara seminar, keluar biaya ini itu…. Tenang, nanti dapat gantinya lebih besar. Selalu begitu prinsip hidup saya berkaitan dengan charge untuk mendapatkan ilmu.

Di acara DSBK XVI 2025 ini saya juga jumpa banyak teman senegeri asal di Sasindo UGM. Sekurangnya ada Mas Amien (panitia kunci DSBK XVI). Saya mengenali beliau sebagai alumni Sasindo UGM karena ada di Facebook. Tetapi selama ini hampir nggak pernah ada komunikasi apapun. Selain ya, sesekali saya like postingannya yang berkaitan dengan sastra, bahasa, budaya.

Pas di acara DSBK ini, hadeuh, jumpa untuk foto sama beliau saja… wes, uangele rek, saking sibuknya 😀 Saya bae bisa foto pas di akhir acara. Itu pun beliau sarapan, masih keganggu ini itu yang mau pamitan, minta foto, minta contact, konfirm… heleh, banyak wes acaranya. Makan sepiring bae gak kelar-kelar gegara kesela-sela terus😄😅 Semoga lelahnya diganti amal jariyah yang membawa kebaikan. Amin YRA.

Beliau ini salah satu kunci kesuksesan acara DSBK ini. Yach, seperti rerata alumni UGM: tenang, kalem, anteng, nggak banyak bicara, tapi banyak kerja dan banyak kontribusi secara luas. Kebanyakan ya begitu kalau saya ketemu sesama alumni UGM dari berbagai latar belakang studi. Kultur kerja keras dalam kondisi kadang serba terbatas, membuat kami cenderung bekerja ekstra dibandingkan rerata alumni kampus lain. Ini siy pendapat saya pribadi ya. Sampeyan boleh nggak sependapat.

Kemudian saya juga ketemu Prof Chairil dari Pontianak, Kalimantan Barat. Ceritanya tentang masa lalu Sasindo UGM, sedikit banyak membuka gambaran bahwa sekolah dulu jauh lebih berat daripada sekarang. Toh, didikan UGM jugalah yang membuat banyak orang survive, eksis, jadi pimpinan di berbagai bidang kerja.

Saya bersama Mbak Erna dan temannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ada pula Mbak Erna dari Universitas Tarakan, Kaltara. Semula saya agak lupa ketika disapa. Lha dulu ketemu masih belia pas studi S-1. Sekarang anaknya aja sudah kuliah. Betapa cepatnya waktu berlalu. Menyenangkan juga berbagi cerita dengan mereka. Memang kalau satu asal itu, berasa ketemu saudara di perantauan.

Kalau nggak di acara begini, pasti sulit lah ketemu mereka. Apalagi kalau sudah ketambahan kata “menjabat”. Wes… urusannya jadi panjang. Tapi kalau di acara begini, gampang jumpanya. Kadang nggak janjian pun bisa jumpa.

Saya ada jumpa pula dengan Prof Ersis dari Kalsel, yang sempat mengatakan ragu-ragu mau menyapa duluan. Karena wajah saya berbeda dari terakhir saat kami jumpa (sekitar 2019 sebelum pandemi di Jogja). Menurut beliau saya makmur sekali sekarang (baca: gemoy, gemuk 😁😅). Saya pun berkelakar ya kalau sudah nggak disertasi, pasti gemuk. Nggak banyak pikiran. Sekolah S-3 memang sering bikin langsing mendadak 🤣

Saya dengan Prof Ersis dari Kalsel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tentu juga saya jumpa teman-teman lain di lingkungan Kaltim. Yang walaupun berjauhan kota, kalau masih di provinsi yang sama, kita bela-belain jumpa lah. Kapan lagi ke Kaltim. Pokoknya ada acara begini, kudu banget dimanfaatkan untuk ketemuan. 😀

Bagi saya, acara semacam ini beneran bermanfaat. Itu sebabnya kalau sudah dengar info dari jauh hari dan tahu butuh biaya besar; biasanya saya juga mulai menabung. Selalu begitu, karena ya terbiasa tidak pernah minta ganti uang. Lha kalau kamu penulis, apalagi freelancer, mo minta ganti sama siapa? Jadi kalau kampus nggak kasih uang untuk acara seperti itu, bagi saya yo wes biasa saja. Allah yang Maha Kaya, ngasih rezekinya suka lewat jalan nggak terduga dan biasanya jauh lebih banyak, lebih mudah caranya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *