Brokohan: Selamatan Bayi Lahir

Artikel ini telah dimuat di nongkrong.co pada hari Sabtu, 28 Mei 2022 dengan link berikut ini https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4313470327/brokohan-selamatan-untuk-bayi-lahir

Kelahiran bayi merupakan salah satu siklus penting dalam kehidupan orang Jawa. Manusia dalam siklus hidupnya akan memulai kehidupan dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, menikah, berkeluarga, membesarkan anak-anak, tua, renta, dan mati. Siklus kehidupan yang terus berulang pada setiap kehidupan.

Kelahiran bayi merupakan hal yang istimewa. Karena ada banyak perempuan yang mengandung bayi, tetapi tidak sampai melahirkan bayinya. Hal itu bisa disebabkan karena kecelakaan, meninggal, keguguran akibat sakit, tindakan medis pengangkatan janin demi penyelamatan jiwa si ibu, terpaksa aborsi, dll.

Oleh karena itu, kelahiran bayi dan keberadaan bayi yang lahir dengan sehat, selamat, sempurna tubuh fisiknya, merupakan anugerah bagi suami istri dan keluarga besarnya di kalangan orang Jawa. Mereka telah memiliki satu generasi penerus  untuk kelanggengan trah dan keturunannya.

Demi rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah itulah, orang Jawa kemudian mengadakan selamatan atau upacara selamat dengan mengadakan berkatan atau membagikan berkat berupa beberapa makanan dengan aturan tertentu dan doa selamat agar bayi terus hidup sehat, selamat, sejahtera, damai berkah hidupnya sepanjang masa sampai akhir hayatnya.

Selamatan bayi di kalangan orang Jawa sekurangnya ada enam, yaitu (1) brokohan —ketika bayi lahir, (2) sepasaran —5 hari dari bayi lahir, (3) selapanan —36 hari dari bayi lahir, (4) telonan —3 bulan dari bayi lahir, (5) pitonan —7 bulan dari bayi lahir, dan (6) setahun —1 tahun dari bayi lahir. Masing-masing selamatan ini memiliki aturan dan ketentuan yang berbeda-beda.

Sebagian masyarakat Jawa mengadakan acara selametan bayi tersebut tidak persis di hari perhitungannya. Misalnya bayi lahir hari ini, maka selamatan brokohan akan dilakukan keesokan harinya. Tujuan dari sedikit masa penundaan ini adalah untuk membiasakan si bayi agar kelak di kemudian hari tidak sakdeg saknyet (meminta segala sesuatu seketika itu juga). Harapannya dengan terbiasa sedikit ditunda haknya sedari lahir, si bayi akan memiliki sifat sabar, welas asih (penuh kasih sayang), dan tidak semena-mena pada pihak lain.

Pada kesempatan ini, saya mengulas tentang satu selamatan bayi yang paling awal, yaitu brokohan. Kata brokohan bukan asli dari bahasa Jawa. Istilah brokohan berasal dari serapan bahasa Arab barokah —berkah; yang berarti memohon berkah dari Allah SWT atas kelahiran si bayi dengan cara menyiapkan nasi berkat untuk kenduri dan doa bersama.

Namun seperti kita ketahui bersama, orang Jawa lidahnya ya orang Jawa. Mereka sulit untuk mengucapkan kata barokah, sehingga serapan itu menjadi brokah. Selanjutnya kegiatan memohon barokah itu menjadi brokahan, —penanda akhiran —an dalam bahasa Jawa berarti kegiatan, seperti syawalan, natalan, dll. Dari kata brokahan itulah yang selanjutnya menjadi brokohan, seperti yang kita kenal sekarang.

 Dalam perkembangan selanjutnya, brokohan dikenali sebagai upacara selamatan bayi saat bayi lahir. Selamatannya lebih sebagai pengiring prosesi penguburan atau pemendaman ari-ari bayi yang sudah dipotong. Ari-ari bayi yang lahir dipotong, kemudian dikubur atua dipendam dalam tanah. Biasanya kalau orang Jawa beranggapan, ari-ari bayi laki-laki dipendam di halaman depan rumah. Sedangkan ari-ari bayi perempuan dipendam di halaman belakang rumah. Setelah itu, tanah di atas pendaman ari-ari bayi tadi akan diberi penanda berupa kerobong, tutup dari bambu atau dipagari dan diberi penerangan lampu di waktu malam.

Orang Jawa melakukan hal ini karena mereka menganggap ari-ari bayi merupakan teman lahir si bayi ke dunia. Ari-ari bayi atau dalam dunia medis modern disebut dengan plasenta inilah yang mengirimkan segala keperluan bayi selama dalam kandungan, hingga tiba saatnya dilahirkan ke dunia. Pihak yang wajib mengubur ari-ari bayi adalah si bapak atau orang tua laki-laki si bayi. Tindakan ini merupakan simbol atau bentuk tanggung jawab orang tua laki-laki kepada anaknya.

Menu wajib dalam selamatan brokohan ini adalah (1) sega ingkung (nasi ingkung ayam), (2) sega gudangan (nasi dengan sayuran dan kelapa parut yang sudah diolah),  (3) bubur abang putih (bubur merah dan putih), dan (4) jajan pasar. Masing-masing menu tersebut memiliki makna filosofis yang berbeda-beda.

Pertama, Sega Ingkung (Nasi Ingkung Ayam)

Nasi ingkung ayam melambangkan simbol permohonan perlindungan pada bayi yang baru lahir tersebut. Kata ingkung sebenarnya berasal dari kata dalam bahasa Jawa Kuno ‘jinangkung’ dan ‘manekung’. Jinangkung berarti melindungi, mengayomi, menjaga. Manekung berarti bersujud, menghamba, memohon sungguh-sungguh dan dengan merendahkan diri.

Secara umum ingkung berarti bersujud, bermohon, menghambakan diri (pada Tuhan) untuk mendapatkan perlindungan, penjagaan, dan pelimpahan berkah. Dengan adanya ingkung pada saat selamatan bayi, merupakan tanda permohonan kepada Tuhan agar selalu menjaga dan melindungi bayi tersebut dari segala aral marabahaya.

Adapun pemilihan ayam sebagai bahan ingkung karena ayam itu merupakan simbol dari kelahiran bayi tersebut. Itulah sebabnya wujud ingkung adalah ayam utuh yang dimasak dan disajikan secara utuh dalam bentuk tersungkur.

Kalaupun sekarang ini ingkung ayam banyak dijual bebas di pasaran sebagai pendukung pariwisata budaya, tetapi pada saat-saat tertentu, ingkung ayam dibuat dengan tujuan sakral dan penuh filosofis.

 Kedua, Sega Gudangan (Nasi dengan Sayuran dan Kelapa Parut Yang Sudah Diolah)

Nasi dalam hal ini merupakan nasi putih yang lengket (diolah dari beras yang baik, sehingga nasinya dapat lengket satu sama lain). Nasi putih ini melambangkan kedekatan si bayi kelak dengan sesama. Artinya si bayi dapat hidup rukun bermasyarakat dengan warga lainnya.

Adapun gudangan terdiri aneka sayuran rebus, lauk pauk, dan kelapa parut yang sudah dibumbui dan dimasak atau lebih dikenal dengan urap. Bumbu urap ini menandakan adanya kehidupan. Hidup itu harus urip, urap yang berarti mampu menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya agar dapat berbahagia.

Sayur yang terdapat dalam gudangan biasanya terdiri dari tauge, kacang panjang, dan bayam. Taoge atau kecambah melambangkan pertumbuhan. Seseorang harus terus tumbuh semakin baik dari hari ke hari. Sementara kacang panjang menyimbolkan panjang umur, kehidupan yang harus dipikirkan panjang-panjang (matang, teliti, cermat), sehingga bisa mengambil tindakan yang tepat dan bijaksana. Adapun bayam menandakan harapan untuk hidup yang tenteram sejahtera, makmur damai, bahagia di dunia dan akhirat.

Sementara lauknya berupa ikan asin atau gereh pethek goreng, tempe rebus atau goreng, dan telur rebus. Ikan asin menandakan kerukunan hidup bersama. Hal ini dilihat dari sifat gereh pethek yang hidup di laut secara bersama-sama atau bergerombol. Manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah makhluk sosial.

Adapun tempe menunjukkan kesederhanaan. Tempe merupakan salah satu olahan kuliner orang Jawa yang menjadi makanan semua kalangan. Sedangkan telur rebus menandakan ketelitian, kehati-hatian dalam bertindak. Seperti sifat telur mentah kalau tidak hati-hati, sedikit terkena benturan saja langsung pecah. Itulah sebabnya harus direbus (digodok pemikirannya) agar matang sebelum bertindak. Dengan demikian, tidak akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Secara umum sega gudangan ini melambangkan harapan pada si bayi agar kelak menjadi dapat hidup rukun dengan sesama, hidup sederhana, sehat, bahagia, panjang umur, hati-hati dalam bertindak, dapat menghidupi keluarga, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Ketiga, Bubur Abang Putih (Bubur Merah Dan Putih)

Bubur merah putih merupakan representasi lelaki dan perempuan dalam kehidupan. Bubur merah putih melambangkan kerukunan hidup antara lelaki dan perempuan. Diharapkan dengan rukunnya orang tua baik lelaki maupun perempuan, si bayi akan mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang penuh dengan kasih sayang.

Proses pembuatan bubur merah putih untuk acara ritual seperti ini tidak bisa dibuat secara sembarangan. Ada doa dan resep khusus demi hasil yang terbaik. Pemasak bubur pun tidak boleh perempuan yang sedang datang bulan. Konon kalau pemasak buburnya sedang datang bulan, rasa bubur menjadi tidak sedap dan tidak enak.

Keempat, Jajan Pasar. 

Jajan pasar dalam kehidupan orang Jawa sangat banyak macamnya. Kalau disebutkan secara rinci, mungkin ada lebih dari seribu jenis. Namun dalam tradisi selamatan brokohan ini orang Jawa umumnya menggunakan sekurangnya tujuh macam jajan pasar. Ketujuh jajan pasar itu misalnya (a) wajik, (b) jadah, (c) onde-onde, (d) lupis, (e) klepon, (f) nagasari, dan (g) lemper.

 Tidak ada aturan baku berkaitan dengan jumlah jenis jajan pasar yang perlu disediakan ini. Secara umum, semakin mampu seseorang biasanya jenis jajanan pasar yang ada dalam berkatannya semakin banyak.

Jajan pasar ini secara umum melambangkan aneka rupa warna kehidupan yang akan dihadapi oleh si bayi di masa depan. Artinya, dalam kehidupan itu tidak hanya ada satu hal yang terasa manis, tetapi kadang juga asam, asin, pahit, hingga pedas. Harapannya dengan mengetahui aneka rasa tersebut, si bayi kelak tidak terkejut menghadapi beragam peristiwa kehidupan.

Menu selamatan ini akan diberikan doa selamat oleh tetua atau orang yang dituakan di lingkungan keluarga. Kadang-kadang membayar dukun atau tetua adat. Baru kemudian dimakan bersama. Sebagian diantarbagikan ke tetangga dan kerabat dekat.

Sekarang ada banyak orang Jawa yang mengganti semua komponen menu brokohan tersebut dengan sembako (beras, minyak goreng, gula, mie instan dll) demi kepraktisan dan kemudahan. Selain itu juga untuk alasan bahan mentah lebih tahan lama daripada masakan matang. Apabila masakan matang dikirimkan dan tidak segera dimakan, maka makanan tersebut akan menjadi basi dan dibuang.

Di lingkungan tradisional masyarakat Jawa, selamatan brokohan ini masih dilakukan. Kalaupun berkat yang dibagikan tidak banyak, tetapi syarat dan ketentuan dasar pelaksanaan brokohan tersebut telah memenuhi syarat. Kalau orang Jawa bilang, nggo syarat atau syarat dasar selamatannya telah terpenuhi. Ada sebagian masyarakat yang berpandangan kalau selamatan ini tidak dilaksanakan sesuai aturan, nantinya akan terjadi brahala ‘celaka’ dan rubeda ‘keribetan, banyak masalah’ pada si bayi dalam kehidupannya.

Namun di lingkungan perkotaan, tradisi seperti ini sebagian besar sudah dilupakan atau dihilangkan. Mereka yang beretnis Jawa, sebenarnya tahu tradisi ini, tetapi sengaja tidak melakukannya. Selain karena pertimbangan biaya dan keribetannya, mereka yang beragama Islam juga cenderung memberlakukan satu sikap melakukan aqiqah. Dengan menyembelih seekor kambing bagi anak perempuan, atau menyembelih dua ekor kambing bagi anak laki-laki, buat selamatan, lalu semuanya selesai. Tentu setiap orang berhak memilih pandangannya masing-masing.

Tetap baik juga berbagai selamatan brokohan karena ini secara praktis memberitahukan kepada tetangga, kerabat dekat, dan lingkungan sekitar tentang kehadiran warga baru. Selamatan itu juga bukti bahwa keberadaan bayi telah lahir selamat dan ibunya dalam keadaan baik. Bukankah bijak untuk mewartakan berita baik dengan berbagi kegembiraan?

 

Catatan:

Penulis adalah peneliti budaya Jawa dan dosen PBSI, FKIP, Universitas PGRI Yogyakarta. Web pribadi: arikinoysan.com

 

 

Jangan Omong Besar

Artikel ini telah dimuat di penabicara.com pada hari Kamis, 26 Mei 2022 dengan link berikut ini https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063472803/jangan-omong-besar

Suatu waktu –sebut saja A cerita bahwa omzet UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)-nya antara Rp 2-5 juta per hari. Saya berhitung cepat dengan harga jual produk Rp 10 s/d 50 ribu per item, sekurangnya omzet Rp 2 juta sehari dengan produk Rp 10 ribuan (katanya paling laris) berarti butuh 200 paket. Belum kalau omzetnya lebih dari Rp 2 juta. Dengan omzet Rp 2 juta sehari, berarti sebulan minimal omzetnya Rp 60 juta. Keuntungan anggaplah 30% dari omzet, berarti ada Rp 18 juta sebulan. Wah, itu sudah penghasilan makmur untuk hidup di Jogja.

Jelas kinerja yang sibuk: datangnya bahan produksi, pembuatan produk, penjualan yang ramai, packing yang banyak, alur pengiriman barang via pasukan oranye dan pasukan ijo (kurir marketplace), atau pasukan warna gado-gado (kurir non marketplace) yang akan bolak-balik, orang bekerja, dll.

Saya sempat bertanya pada A tentang tempat usahanya. Dia bilang semua dilakukan dari rumahnya dengan penjualan online. Toh yang saya saksikan adalah rumahnya yang sepi, kotor, dan tidak terurus. Nyaris tanpa kesibukan sebagai UMKM dengan omzet Rp 2-5 juta sehari.

Tidak sesuai dengan ombes —omong besarnya. Saya nyaris lupa dengan cerita itu. Sampai saya lihat ada tanda segel dari bank bahwa rumah si A dalam masa penyitaan. Catatan dari bank tertempel di dinding rumah. Pihak yang bersangkutan sudah lama tidak membayar cicilan KPR (Kredit Perumahan Rakyat)-nya. Menurut saya, horor juga ya peringatan dari bank model begini.

Kening saya sempat berkerut. Bank menyita rumah KPR tentu tidak karena satu atau dua bulan menunggak cicilan, pasti berbulan-bulan. Saya mengabaikan fakta tersebut dan menganggap usahanya sedang kena ujian.

Sampai seorang kawan saya —sebut saja B yang lama tidak ketemu, menelpon dan bilang mau mampir. Saya senang dengan kawan ini. Praktis, tidak banyak omong. Versi saya, dia sudah banyak memberdayakan orang dan keluarga miskin menjadi mandiri dan sejahtera melalui usaha-usahanya.

Kawan saya ini ternyata membeli rumah si A sebagai bentuk kepeduliannya agar si A punya cukup uang modal usaha dan rumah tidak disita bank. “Sudah aku lunasi utang banknya. Daripada pikiran, Ri. Ini aku urus balik namanya. Kudu minta surat-surat dari perangkat desa. Kusuruh pindah dalam tiga bulan, dia minta ngontrak setahun. Ntar mau dibeli lagi. Kalau dia pindah siy, kurobohin aja. Bangun baru untuk tempat usaha.”

Saya bilang ooo… dan tidak membahas cerita si A pada saya dengan si B. Ternyata cerita belum usai. Beberapa waktu kemudian si A masih ombes. “Itu Bu Ari, saya pulang lama untuk jual tanah di kampung. Rumah saya sudah kebeli lagi.”

Padahal versi si B saat ketemu saya, si A menghilang lama untuk menghindari orang-orang bank yang berulang datang. Saya tanya ke si B dan jawabannya, “Masih ngontrak, Ri. 12 juta setahun, minta keringanan. Aku kasih 8 juta, nyicil 4 kali.”

Anda tentu tahu, kepada siapa saya lebih percaya. Untungnya, saya bukan orang yang iseng mengirimkan jawaban si B kepada si A. Ketika cerita ini sampai kepada ibu saya, beliau merespon, “Dia tidak mau kalah sama kamu. Kelihatan pengangguran, tapi punya duit.” Saya ngakak. Pekerja kreatif kan sering identik sebagai pengangguran. Apalagi kalau kerjanya di rumah.

Kisah setipe pernah juga saya alami ketika perjalanan pulang ke rumah ibu. Di kereta, saya mempersiapkan laptop dll piranti kelas online. Masuklah seorang gadis remaja —sebut saja C. Atribut dandanannya banyak merek. Saya tersenyum, berbasa-basi. Saya sejenak “stres” saat bocah milenial ini memanggil saya “Dik” dan mengatakan mau ke Malang. Mungkin muka saya tanpa kacamata terlihat begitu belia.

Saya melanjutkan gaweyan. Saya sempat merasa aneh dengan kelakuannya. Dia memangku map bagus —yang saya tahu itu tempat dan pelindung ijazah dari UGM (Universitas Gadjah Mada). Lah dia bawa backpack besar, kenapa tidak dimasukkan ke tasnya yang sudah ditaruh di kabin atas? Haha… saya tidak sempat memikirkan lebih jauh.

Gadis belia ini terus beramah tamah kepada saya. Bertanya ini itu. Beberapa kali saya jawab. Rupanya dia tidak menyadari kesibukan saya, masih saja ngecuprus. Dari nada ceritanya terdengar betapa dia bahagia dan bangga (agak lebay).

Dia menceritakan betapa sulitnya seleksi masuk UGM, jurusan kuliahnya, proses pembelajaran yang tidak mudah, tugas-tugas yang banyak, dosen-dosen yang killer termasuk yang galak, sampai proses kelulusan yang tidak mudah. Yahaa… UGM sudah sejak dulu kondang, masuk (lolos seleksi) tidak mudah, keluar (lulus ujian berijazah) juga tidak gampang. Sudah mainstream yang dikenali umum karena UGM sebagai salah satu kampus terbaik di Negeri Khatulistiwa.

Saya, karena mengajar online menyambungi ceritanya dengan pendek-pendek: iya, oh begitu, hem, betul, dll. Kalau orang peka situasi, pasti sadar bahwa saya sedang mengerjakan hal lain. Sempat saya katakan sedang mengikuti kuliah online. Eh, si bocah milineal ini tetap cerita dengan kebanggaan lebaynya tentang UGM. Biyuuu… biyuuu….

Mengajar online dua jam, terus meeting online, dll kesibukan kerja online. Jadi saya tetap fokus gaweyan sambil mendengarkan si eneng yang berulang cerita tentang kuliahnya di UGM. Termasuk bapak ibunya yang menyiapkan pesta besar. Undangan resminya saja ada 500 sebagai bentuk syukuran kelulusannya. Dia juga menyebutkan salah satu nama hotel di Malang sebagai tempat acara. Biyuuu… biyuuu….

Saat kereta sudah sampai Kediri, saya pun menutup laptop dan membereskan piranti kerja. Saya memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Sebentar lagi kereta akan sampai Tulungagung dan saya harus turun. Barulah saya bisa “menanggapi” si bocah yang seusia dengan anak-anak saya ini.

Saya memaklumi kebanggaannya. Saya pun mengerti, bagi sebagian orang UGM adalah kampus idaman. Kalau kampus lain memiliki slogan mendidik calon pemimpin masa depan, kampus biru ini sudah teruji melahirkan pemimpin-pemimpin kelas dunia. Masuk UGM —sekurangnya jadi semacam “jaminan” masa depan yang lebih baik dan lebih cerah. Jejaring alumninya yang mendunia mampu memberikan akses dan kesempatan kerja  di ranah internasional.

Begitu pemberitahuan kereta akan berhenti di Tulungagung, saya menarik backpack. Tersenyum pada si C dan mengatakan akan turun. Dia memberi jalan. Saya menatap matanya yang berkilauan penuh rasa bangga itu dan berkata terang.

“Nak, selamat atas wisudamu ya! Silakan lanjut S-1 di kampus lain, biar nanti bisa kembali kuliah S-2 di UGM. Seperti katamu, seleksi UGM tidak mudah. Saya juga alumni UGM. Bukan hanya D-3, tapi sudah komplit S-3. Jadi lebih dari tahu jatuh bangun kuliah di UGM. Nama lengkap saya Dr. Ari Wulandari, S.S., M.A. Kamu bisa googling. Sudah ya, saya turun dulu!”

Saya menekankan kata “Nak”, agar dia tahu bahwa saya bukan remaja yang lebih muda dari umurnya. Anda terbayang ekspresi wajahnya? Sayang —saya harus turun dari kereta. Ketika cerita ini sampai ke adik saya, dia ngakak dan bilang, “Buaya dikadalin…!”

Ya, kami yang alumni UGM tahu kalau program-program diploma, baik D-1, D-2, D-3, atau D-4 yang ada di kampus biru adalah “program swasta”-nya UGM. Semua seleksi, aturan, dll perkuliahan program diploma menggunakan manajemen tersendiri. Mereka yang mengikuti program ini, di masa lampau bisa dengan mudah transfer (pindah) ke program S-1 di UGM setelah lulus diploma. Sekarang sepertinya tidak berlaku lagi. Mereka harus transfer studi S-1 di kampus lain non UGM. (cmiiw)

Jadi, tidak usah lebay dan jumawa berada di kampus ini. Apalagi kalau baru seunyik belajar. Ada banyak orang ahli yang berasal dari kampus ini. Mereka memilih berkontribusi untuk bangsa dan negara dalam sunyi —yang mungkin tidak anda kenali, tapi suara peran sertanya membahana ke bumi langit dunia.

Anda merasa cerita di atas setipe dengan banyak hal yang anda alami dalam kehidupan? Ada saja, orang yang entah kenapa selalu ombes kepada pihak lain —yang bahkan tidak dikenalnya. Ombes bisa dalam beragam bidang, mulai dari kepemilikan harta, pekerjaan, ibadah, wisata luar negeri, pendidikan, anak-anak, kerabat berkuasa, pasangan hebat, dll. Hampir semua hal pernah ada jenis cerita setipe.

Apakah ombes tidak boleh?

Pada tataran orang-orang ring satu (keluarga dan orang dekat), versi saya boleh, terutama dalam konteks untuk motivasi dan cita-cita. Misalnya, dulu saya bersaudara ketika masih bersulit kebutuhan sehari-hari, bayar kos, bayar SPP kuliah, dll. yang rasanya putus kuliah lebih mudah, kami ombes untuk menyemangati diri. Kami membesarkan hati dengan memikirkan betapa bahagianya kalau kami melempar toga wisuda, bekerja mapan, dan mendapatkan penghasilan yang baik.

Berasa seperti ombes saat itu bagi kami. Karena untuk makan besok saja kami pun (belum) tahu. Tapi itulah yang menjadi semangat dan mengantarkan kami mencapai satu demi satu jenjang pendidikan sebagai pendukung kinerja.

Tapi kalau ombes pada orang lain?

Wah, kayaknya anda perlu pikir-pikir dulu. Apalagi kalau anda tidak begitu kenal dengan lawan tutur anda. Kan rasanya “memerah muka” kalau lawan tutur anda ternyata membalas ombes anda dengan fakta yang tidak terbantahkan. Selain itu, hidup ini berputar. Roda kehidupan terus bergulir sesuai dengan garis takdirnya.

Kita tidak pernah tahu masa depan. Kita juga tidak pernah benar-benar tahu masa lalu seseorang. Kita tidak pernah mengalami sesuatu yang sama persis seperti yang dialami orang lain. Oleh karenanya, daripada ombes yang bikin kita malu hati, apakah tidak lebih baik kita berendah hati dan hidup sederhana sesuai kemampuan?

Ilmu padi ada baiknya digunakan. Semakin berisi semakin merunduk, semakin kuat semakin sederhana. Saya mencermati pengalaman dari banyak orang yang kuat secara ekonomi, ilmu, kekuasaan, keahlian, ibadah, dll. cenderung anteng —sunyi. Mereka tidak bersuara, tapi dunialah yang menyuarakannya dengan lebih nyaring dalam jangkauan yang lebih luas. Anda pilih yang mana? Jawabannya ada di hati anda masing-masing.

Ari Kinoysan Wulandari

 

Beradaptasi Lagi

Setelah lebaran, sebagian besar dari kita sudah memulai aktivitas versi baru. Kalau sebelumnya bekerja hampir seratus persen dari rumah, kini sudah mulai beranjak dari kantor. Perkuliahan dan sekolah yang sebelumnya banyak menggunakan sarana prasarana daring, kini berganti menjadi luring. Sebenarnya, ini hal yang sangat biasa kita lakukan sebelum pemerintah mengumumkan pandemi Maret 2020 silam dan kita diminta untuk berada di rumah demi mencegah persebaran virus C-19.

Toh, beradaptasi tidak selalu mudah bagi kita. Setelah cukup lama terdiam nyaman beraktivitas dari rumah, tiba-tiba kita dihadapkan pada persoalan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Kita kembali pada rutinitas yang ternyata tidak cukup mudah. Bersiap pagi-pagi, harus mempersiapkan sarapan, berjibaku dengan kemacetan di jalan, keribetan persiapan, dll.

Bagaimanapun juga ini adalah hal yang lumrah. Permintaan untuk segala sesuatu mulai luring, ternyata membawa dampak yang tidak cukup ringan. Banyak anak bertumbangan ketika mulai sekolah. Banyak mahasiswa yang mangkir perkuliahan tatap muka dengan beragam alasan. Banyak pekerja yang tidak datang ke tempat kerja dengan berbagai sebab. Banyak pula yang tiba-tiba “sakit” karena tiba-tiba berhadapan dengan kemacetan dan keribetan di jalan raya.

Sudut Malioboro

Yach, kita memang perlu beradaptasi lagi. Kita perlu membiasakan lagi dengan semua aturan aktivitas. Namun demikian, saya berharap para pengambil kebijakan dan keputusan, bisa mempertimbangkan tingkat efektivitas dan efisiensi. Apabila sesuatu dapat dilakukan secara daring dengan hasil sama baiknya atau lebih baik daripada luring, mungkin perlu dipertimbangkan untuk terus menggunakan cara daring. Sebaliknya aktivitas dan kinerja yang memerlukan sarana dan prasarana luring, memang tetap harus datang ke tempat.

Kita justru harus belajar dengan keberadaan pandemi, kita bisa memilih cara yang paling mudah dan paling efektif untuk semua hal. Bagaimanapun, kemajuan teknologi harus mempermudah kinerja kita. Kalau bisa online dengan mudah, kenapa kita harus memaksa orang-orang datang ke lokasi?

Ari Kinoysan Wulandari

Terus Belajar

Semangat yang saya bawa dalam keseharian adalah “terus belajar”. Dengan demikian, saya tetap merasa ringan hati kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan. Penerimaan diri pada proses belajar itu membuat saya tidak berambisi untuk jadi sempurna dalam mengerjakan sesuatu.

Setiap tindakan atau langkah sesuatu saya ikuti sebaik mungkin, tetapi dalam penentuan hasilnya saya tidak lagi merasa perlu terlibat. Proses kerja kita akan menunjukkan hasilnya. Kalau selama prosesnya, kita mengerjakan dengan sungguh-sungguh, maka hasilnya pun akan terbaik. Sebaliknya kalau kita asal-asalan pada prosesnya, maka hasilnya pun tidak akan memberikan versi terbaiknya.

Proses kinerja kreatif saya dan pengaturannya dapat anda baca di buku Manajemen Penulisan Kreatif ini. Pemesanan buku bisa langsung wa.me/6281380001149

Lepas lebaran kemarin, sebagian kerja sudah mulai dari kantor dengan sistem tatap muka sehari penuh. Manajer saya mengatakan kalau dengan perubahan itu, saya tidak mungkin merampungkan buku untuk penerbitan buku sistem reguler. Saya pun mengerti,

Saya rasa tidak ada masalah. Selama pandemi sampai sebelum lebaran itu, hampir keseluruhan waktu kerja saya untuk merampungkan buku-buku reguler yang tertunda. Artinya, naskah “stok” untuk terbit masih cukup banyak. Kecuali kalau penerbit tiba-tiba juga melakukan perubahan dengan mempercepat publikasinya, bisa saja stok naskah saya habis.

Lalu saya bertanya apa yang harus saya kerjakan di luar gaweyan yang sudah ada. Dia mengatakan ada beberapa penulisan artikel pendek-pendek yang cukup banyak. Saya menyanggupi. Itu hal yang ringan untuk saya kerjakan. Karena bahasannya artikel, saya jadi ingat janji pada kawan untuk menulis artikel pada medianya.

Saya pun memeriksa medianya dan ketemu model penulisannya. Saya mendiskusikan beberapa hal. Akhirnya ya sudah, saya sepakat untuk menulis satu artikel harian setiap minggu. Kalau di media penabicara.com ini saya tinggal menulis dan orang mereka yang mengurus kruncilannya sampai publish. Salah satu tulisan saya dapat dibaca di link ini: https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063422118/kebangkitan-nasional-bebas-dari-utang?fbclid=IwAR0KpLlqIWV0hFiUKFNk98Wp7SnHK3aQqYw0XBLIRppvB2eRnl7VgIFM0Ig

Setelah hampir sebulanan, ritme waktu saya mulai terbaca. Beberapa waktu masih selow, dan saya memiliki bank naskah berkaitan dengan budaya. Saya bertanya pada manajer apakah ada klien yang memerlukan naskah seperti itu. Jawabannya sementara belum. Saya pun membiarkannya.

Lalu saya ketemu media nongkrong.co yang ada bahasan budayanya. Segera saya mencari tahu siapa pemred atau penanggung jawabnya. Begitu contact, saya menanyakan apakah saya bisa bergabung dengan menulis artikel seminggu sekali. Wah, tanggapannya cepat dan memberikan kesempatan penuh pada saya.

Salah satu artikel saya dapat dibaca di link ini: https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4313426523/tamba-teka-lara-lunga-obat-datang-sakit-pun-pergi

Saya mendapatkan form yang harus saya isi dengan banyak hal berkaitan data diri, mulai dari nama, nik, no rek, npwp, foto, dll persyaratan. Saya “semoyo” karena tahu bahwa ngisi hal begitu kudu waktu tenang dan hati-hati. Saya memforward link ke manajer, dan dijawab kudu saya isi sendiri karena ada foto selfie.

Saya pun menunda beberapa waktu. Biyu… biyu…, pemrednya seperti khawatir kalau saya membatalkan rencana. Beliau meminta saya mengirim data saja biar diisikan oleh anak buahnya. Saya bilang nanti saya isi dulu. Saya langsung mengirimkan materi artikel lebih dulu, biar beliau tenang.

Setelah itu, pas sempat saya mulai mempelajari tutorialnya. Ya ampun, bikin isian untuk ID saja, nggak segampang yang saya pikir. Beberapa kali tertolak karena format tidak sesuai. Ya saya belajar lagi, sampai akhirnya bisa dan memiliki ID yang dapat saya gunakan untuk akses penulis.

Setelah itu, masalah belum usai. Memproses hasil penulisan untuk publish, saya pun bolak-balik salah dan tidak sesuai. Berulang saya harus tanya, iki piye, habis itu bagaimana, kenapa ini muncul dua kali, kenapa itu didelete tetap masih ada, dll.

Ya ampun, kalau saya nggak punya semangat terus belajar, mungkin saya sudah jengkel. Tapi saya hanya tersenyum saja, menerima itu bagian dari proses pembelajaran saya. Dan begitu bisa dengan lebih baik, sekurangnya sesuai standar, saya pun gembira 🙂

Semangat terus belajar itulah yang menjadikan saya ringan hati terhadap hal-hal baru. Seberapapun orang mengatakan “ahli” pada saya untuk penulisan kreatif, saya selalu memandang bahwa selalu ada hal baru yang saya “tidak ahli”. Dan ini menjadi ringan untuk saya belajar, ketika saya menyadari ketidakahlian saya itu. Semangat untuk terus belajar itu mungkin juga yang menjadikan saya selalu “muda” karena saya tidak khawatir dengan tantangan pembelajaran. Jiwa pembelajar adalah jiwa muda. Kalau anda memutuskan untuk berhenti belajar dalam kehidupan ini, saat itulah anda menjadi tua.

Ari Kinoysan Wulandari

#kinoysanstory #artikelmedia #belajar #semangat #ariwulandari #arikinoysanwulandari #mediaonline

Tamba Teka Lara Lunga

Artikel ini telah dimuat di nongkrong.co hari Sabtu, 21 Mei 2022 dengan link https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4313426523/tamba-teka-lara-lunga-obat-datang-sakit-pun-pergi

Tamba teka lara lunga ‘obat datang, sakit pun pergi’ merupakan salah satu pitutur luhur budaya Jawa yang cukup populer. Nasihat itu mencerminkan pemikiran dan pandangan orang Jawa bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Setiap orang sakit pasti dapat disembuhkan.

Dimensi pemikiran orang Jawa ini tidak hanya memuat masalah sakit dan obatnya, tetapi kalau kita cermati ternyata mengandung banyak pandangan berkaitan dengan penyakit dan pengobatannya di lingkungan orang Jawa. Bahasan tersebut sekurangnya terdiri dari lima hal penting, yaitu (1) sakit – penyakit, (2) obat – pengobatan, (3) ahli pengobatan tradisional, (4) sikap orang Jawa terhadap sakit dan penyakit, hingga (5) adaptasi orang Jawa terhadap kemajuan pengobatan modern.

Pertama, sakit penyakit.

Sakit adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Seseorang dapat mengalami sakit karena di dalam tubuhnya ada penyakit. Penyakit merupakan sesuatu yang mengganggu atau gangguan di dalam tubuh manusia, yang menyebabkan ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan tersebut mengganggu harmonisasi kinerja tubuh secara keseluruhan, sehingga penderitanya terkena sakit.

Berdasarkan penyebab sakit, orang Jawa mengelompokkan penyakit menjadi dua, yaitu  lelara lumrah ‘penyakit wajar’ dan lelara ora lumrah ‘penyakit  tidak wajar’. Penyakit wajar adalah penyakit fisik yang secara umum mudah diidentifikasi, seperti batuk, panas, bisul, cacar, dll. Adapun penyakit tidak wajar ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh “perbuatan agen” —manusia dengan perantara jin, setan, makhluk halus (black magic), seperti disanthet, diteluh, diguna-guna, kesurupan, dll.

Adanya jenis penyakit tidak wajar itulah yang menyebabkan pengobatan tradisional di Jawa tetap tumbuh dengan subur. Bahkan di era teknologi seperti sekarang ini, meskipun rumah sakit dengan piranti dan perobatan medis modern sudah bertebaran di mana-mana; pengobatan tradisional Jawa tetap eksis. Hal ini terjadi, karena ada jenis-jenis penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh medis modern.

Kalau ada kasus orang kesurupan (penyakit tidak wajar), maka keluarga si penderita tidak akan membawanya ke Puskemas, rumah sakit, atau dokter. Mereka akan segera memanggil dukun, paranormal, kyai, atau ustadz —yang dianggap mumpuni untuk mengatasi kesurupan. Demikian juga untuk kasus-kasus penyakit tidak wajar lainnya, seperti disantet, diguna-guna atau lainnya.

Kedua, obat – pengobatan.

Obat dan pengobatan merupakan hal yang berkaitan untuk menyembuhkan sakit dan penyakit. Pengobatan tradisional Jawa ada tiga jenis, yaitu (1) tamba ‘pengobatan’ bisa berupa obat, ramuan, cara pengobatan (2) jamu ‘jamu’ adalah obat yang dimakan atau diminum, dan (3) ritual ‘berkaitan dengan ritus (tata cara dalam upacara adat/keagamaan)’.

Tamba ‘pengobatan’ digunakan untuk menyembuhkan penyakit, orang masuk angin ‘masuk angin’ ditambani ‘diobati’ dengan kerokan ‘dikerok’. Adapun jamu selain digunakan untuk menyembuhkan penyakit juga untuk menjaga kesehatan. Misalnya dengan minum jamu beras kencur ‘beras kencur’ orang akan lebih sehat dan kondisi tubuhnya terjaga. Jamu juga untuk mengatasi sakit yang bukan penyakit, misalnya wanita sakit setelah melahirkan diberi jamu tertentu agar badannya lekas sehat dan pulih.

Ritual dalam pengobatan tradisional Jawa lebih berkaitan untuk penyembuhan penyakit tidak wajar, seperti suker ‘sakit-sakitan karena hal supranatural’ atau sukerta ‘orang yang terkena suker’ dapat disembuhkan dengan ruwatan ‘ruwatan’.

Pengobatan tradisional Jawa merupakan tradisi yang sudah mapan yang dapat dirunut sejarahnya dari relief candi, serat-serat, dan primbon-primbon pengobatan. Misalnya pada relief Candi Borobudur, yaitu pada relief Karmawibhangga panel 2, panel 11, panel 18, dan panel 19.

Adapun naskah-naskah yang membahas jenisjenis penyakit dan cara pengobatannya secara tradisional, antara lain Serat Centhini, Serat Primbon, Serat Primbon Sarat Warna-warni, Buku Primbon Jampi Jawi, Punika Kagungan Dalem Jampi, Serat Primbon Jampi-jampi, Catatan Jamu Tradisional I, Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, Serat Primbon Ratjikan Djampi Djawi Djilid 1-4, dan Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi. 

Panel 2 Relief Karmawibhangga Candi Borobudur (Pengobatan terhadap Anak yang Sakit oleh Laki-laki dan Perempuan)
Dokumentasi Ari Wulandari, 2015

Pemberian obat dan pengobatan oleh orang Jawa berdasarkan gejala-gejalanya, baru menentukan tindakan terhadap penyakit. Gejala penyakit dalam pandangan orang Jawa terdiri dari gejala katon ‘yang tampak’ atau fisik dan gejala ora katon ‘yang tidak tampak’ atau nonfisik.

Gejala fisik adalah gejala-gejala penyakit yang bersifat fisik, mudah diidentifikasi melalui pengamatan, penciuman, dan sentuhan. Misalnya mata abang ‘mata merah’ (identifikasi melalui pengamatan), abab mambu ‘nafas bau’ (identifikasi melalui penciuman), dan awak adhem ‘badan dingin’ (identifikasi melalui sentuhan). Pengenalan gejala yang tidak tampak atau nonfisik umumnya melalui tanya jawab antara penderita dan pengobat tradisional.

Gejala penyakit nonfisik adalah pengindikasian keberadaan suatu penyakit yang terjadi oleh diri pribadi atau orang lain. Hal ini biasanya bersifat subjektif menurut pengamatan atau pengalaman penderita, kemudian dipastikan melalui diagnosis pengobat tradisional.

Ketiga, ahli pengobatan tradisional.

Mereka yang bisa mengidentifikasi penyakit dan memilih pengobatan yang tepat adalah ahli pengobatan tradisional. Ahli pengobatan tradisional Jawa terdiri dari dukun, paranormal, wong tuwa ‘orang yang dituakan’, wong pinter ‘orang pintar’, kyai ‘kiai’, dan sesepuh ‘orang yang dituakan’. Dari ahli pengobatan tradisional Jawa tersebut ada yang dapat mengobati penyakit wajar dan penyakit tidak wajar. Ada yang bisa mengobati penyakit wajar saja, ada yang bisa mengobati penyakit tidak wajar saja.

Keberadaan para ahli pengobatan tradisional ini masih dapat ditemukan di seluruh tanah Jawa. Kadang-kadang tempat operasional mereka berdampingan dengan Puskesmas, rumah sakit, klinik bersalin, atau tempat praktik dokter. Hal ini menunjukkan orang Jawa menerima dengan baik adanya pengobatan tradisional dan pengobatan modern.

Keempat, sikap orang Jawa terhadap sakit dan penyakit.

Pada saat sakit, orang Jawa umumnya tidak langsung pergi ke Puskesmas, rumah sakit, dokter atau ahli pengobatan tradisional. Biasanya mereka akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut. Langkah pertama, mereka akan melakukan pengurangan aktivitas secara mandiri. Misalnya mereka yang terkena batuk atau pilek tetap akan bekerja seperti biasa, meskipun dengan pengurangan aktivitas.

Apabila dengan pengurangan tersebut, badan menjadi lebih sehat, mereka akan kembali beraktivitas penuh. Pada saat ini mereka tidak melakukan pengobatan sama sekali. Mereka sering menganggap gejala batuk, pilek, pusing, demam, panas ringan, tidak enak badan, dll yang setipe merupakan kondisi tubuh lelah dan harus istirahat.

Langkah kedua, kalau dalam tiga hari mereka melakukan pengurangan aktivitas fisik dan tubuhnya belum merasa sehat, mereka akan mencari obat. Pengobatan dalam hal ini merupakan jenis pengobatan mandiri. Mereka biasanya membeli obat di warung, apotik, supermarket terdekat sesuai dengan pengetahuan masing-masing. Misalnya obat sakit kepala, obat batuk, obat flu, dll. obat-obatan yang bebas beli tanpa perlu resep dokter.

Langkah ketiga, kalau sudah meminum obat dalam waktu tertentu, mereka belum sembuh; barulah mereka akan datang ke Puskesmas, rumah sakit, klinik, atau dokter terdekat. Pemikiran seperti inilah yang menyebabkan banyak sekali orang Jawa datang ke rumah sakit atau dokter setelah kondisinya parah.

Ada banyak kasus pengobatan yang lama dan berat, karena pemikiran yang seperti ini. Orang Jawa menganggap sakit bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Kalau mereka bisa mengobati secara mandiri, mereka menganggap tidak perlu berobat.

Langkah keempat, kalau sudah mendapatkan pengobatan dengan dokter atau ahli pengobatan tradisional yang mereka percayai, mereka akan mematuhinya. Terlebih kalau dengan kepatuhan tersebut mereka merasakan tubuhnya lebih sehat dan lebih enak untuk beraktivitas kembali.

Umumnya pada penyakit-penyakit wajar yang bersifat ringan dan sudah jelas pengobatannya, mereka yang menderita sakit dapat dengan mudah disembuhkan. Kecuali beberapa penyakit berat yang keberhasilannya masih cenderung kecil —seperti raja singa (HIV, aids), edan (gila, schizoprenia, depresi), kanker darah, kanker otak, stroke, demensia, dll.

Langkah kelima, orang Jawa menganggap bila seseorang sudah menjalani beragam pengobatan sampai titik maksimal yang bisa mereka dan keluarganya usahakan, tetapi tidak kunjung sembuh; kecenderungannya orang Jawa akan pasrah. Mereka harus bisa menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Mereka harus menganggap bahwa itu bagian dari takdir kehidupan manusia.

Kelima, adaptasi orang Jawa terhadap kemajuan pengobatan modern. Orang Jawa dengan budayanya yang sangat tua dan mapan, merupakan salah satu etnis di Indonesia yang terbuka, adaptif, dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini terbukti dengan adanya banyak perubahan dan modernisasi pada pengobatan tradisional Jawa. Modernisasi tersebut antara lain terlihat pada lima hal penting sebagai berikut.

Pertama, identifikasi penyakit mengikuti medis modern. Selain menggunakan identifikasi penyakit secara tradisional, pengobatan tradisional Jawa juga mulai mengikuti tradisi identifikasi penyakit dalam medis modern, seperti pemeriksaan denyut nadi, pemeriksaan darah, dan berbagai kemajuan lain untuk mempermudah pengobatan tradisional.

Kedua, komputerisasi atau pencatatan riwayat medis. Sebelumnya riwayat medis penderita berdasarkan ingatan pengobat tradisional, kini sebagian telah menggunakan sistem komputer atau sekurangnya dicatat secara teratur.

Ketiga, obat Jawa dalam bentuk modern. Pengobatan tradisional Jawa telah mengolah bahan-bahan obat dalam berbagai bentuk, seperti konsentrat, kering, teh, cair, kapsul, dll. sehingga lebih praktis, tahan lama, dan mudah dibawa ke mana-mana bila penderita berasal dari tempat yang jauh dari tempat pengobatannya.

Keempat, masalah izin dan tarif. Umumnya pengobatan tradisional tidak berbayar atau sak ikhlase ‘seikhlasnya’. Seiring perkembangan zaman, sebagian pengobatan tradisional telah menjadikan keahlian mengobati sebagai profesi.

Mereka pun mengikuti prosedur standar, mengurus izin, memasang tarif, dan berlomba-lomba pamer keahlian. Sebagian yang lain masih praktik tanpa izin karena menganggap “mengobati penyakit” adalah “panggilan hati”.

Kelima, medis tradisional Jawa bertemu medis modern. Orang Jawa termasuk etnis yang terbuka terhadap perubahan. Para ahli pengobatan tradisional memanfaatkan kemajuan medis modern untuk memperkuat medis tradisional. Kesadaran perlunya kerja sama antara medis tradisional dan medis modern itulah yang menyebabkan pengobatan tradisional Jawa tetap lestari dan terus berkembang.

Seperti itulah hal-hal yang berkaitan dengan nasihat tamba teka lara lunga ‘obat datang, sakit (pun) pergi’. Adanya pemikiran dan pandangan yang luas tersebut menunjukkan kearifan lokal orang Jawa. Kearifan lokal yang tercermin dalam pemikiran dan tindakan-tindakan orang Jawa berkaitan dengan obat dan penyakit.

Catatan:

Tulisan ini merupakan sebagian kecil dari hasil penelitian Disertasi S-3 Ari Wulandari, “Istilah Penyakit dan Pengobatan Tradisional Orang Jawa: Sebuah Kajian Linguistik Antropologis”, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 2016.

#publikasimedia #ariwulandari #artikelpopuler #jawa #kinoysanstory

Ari Kinoysan Wulandari

Kebangkitan Nasional: Bebas dari Utang

Artikel ini telah dimuat di penabicara.com hari Kamis, 19 Mei 2022 dengan link berikut: https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063422118/kebangkitan-nasional-bebas-dari-utang?fbclid=IwAR0KpLlqIWV0hFiUKFNk98Wp7SnHK3aQqYw0XBLIRppvB2eRnl7VgIFM0Ig

Hari Kebangkitan Nasional kita peringati setiap tanggal 20 Mei sebagai bentuk penghargaan dan peringatan atas perjuangan para generasi muda pendahulu kita, demi Indonesia Merdeka. Kini kita sudah 76 tahun merdeka dengan bentuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dari Sabang sampai Merauke. Kita terus melakukan pembangunan di segala bidang demi tercapainya bangsa Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Terlalu jauh kalau saya membahas urusan pembangunan dengan semangat kebangkitan nasional. Kebangkitan dalam versi saya sebenarnya bagaimana seseorang mengatasi kondisi buruk dan mengubahnya menjadi kondisi baik. Hal yang seperti ini ada banyak di sekitar kita. Bisa jadi kita pun mungkin mengalami. Tidak mungkin dalam kehidupan kita selamanya mulus-mulus saja. Pasti ada jatuh bangunnya, mulas mualnya —yang harus kita selesaikan.

Persoalan yang sering mengurung kita terpuruk dalam kehidupan adalah masalah utang dengan berbagai latar belakang. Utang membuat kita serasa terpenjara dalam kehidupan. Kita cenderung tidak bebas mengatur keuangan kalau punya utang. Mereka yang tidak punya utang —biasanya lebih “merdeka”, hidup tenang tidur nyenyak, tidak khawatir menyambut hari-hari baru.

Sebagai freelancer yang menekuni dunia tulis menulis dalam kurun hampir sepanjang hidup, saya tahu persis rasanya mendapatkan rezeki besar, rezeki sedang, rezeki kecil, atau bahkan tidak ada rezeki selama berbulan-bulan. Kalau manajemen keuangan saya tidak baik, pasti sudah sejak lama saya terjebak dengan masalah utang saat tidak ada pekerjaan yang langsung menghasilkan uang.

Toh di sekitaran kita, tidak hanya freelancer yang terlibat masalah utang. Mereka yang berpenghasilan tetap dan besar pun bisa terlibat masalah utang. Biasanya utang-utang ini terjadi karena gaya hidup yang berlebihan, ibarat besar pasak daripada tiang. Atau bisa juga karena manajemen keuangan yang kurang baik. Uang dan seluruh penghasilan seperti menguap begitu saja, tanpa tahu persis penggunaannya.

Dalam kehidupan ini, siapa siy yang tidak pernah terlibat masalah utang? Porsi utang tiap orang dan sebab alasannya berbeda-beda. Utang tidak selalu buruk. Ada orang yang memutuskan untuk mengalihkan investasinya sebagai utang. Kalau tidak “berutang” mereka tidak bisa menyisihkan uangnya.

Sebagai contoh, ada orang yang bekerja menetap dan tiap bulan mendapatkan gaji. Dia memilih untuk menanggung cicilan logam mulia emas 100 gram sebesar 1 gram setiap 1 bulan. Tentu saja biaya 1 gram itu harus ditambah biaya-biaya administrasi dan nilai perubahan selama masa mengangsur. Cicilan itu didebet langsung setiap bulan dari rekening gajinya.

Secara nalar, sebenarnya biaya mencicil logam mulia 100 gram itu jauh lebih besar dibandingkan kalau yang bersangkutan membeli logam mulia 1 gram setiap bulan. Namun pertimbangannya tidak seperti itu. Kalau membeli logam mulia 1 gram setiap bulan, dia belum tentu bisa. Sebaliknya kalau dipotong langsung setiap bulan (meskipun dengan biaya tambahan), dia selalu bisa. Hingga akhirnya lunas juga cicilan logam mulia 100 gram  dan emas pun menjadi miliknya.

Tentu utang seperti itu banyak jenisnya. Bisa untuk beragam kebutuhan besar; rumah, program pendidikan tinggi, mobil baru, haji – umroh, pensiunan, wisata ke luar negeri, dll kebutuhan hidup. Mereka pun sudah tahu dari mana sumber uang untuk membayar “utang” itu. Biasanya pihak pemberi utang juga sudah menentukan serangkaian syarat —termasuk kemampuan si pengutang untuk membayar.

Kalau utang seperti ini rasanya bolehlah kita menganggapnya “bukan utang”, tetapi cicilan. Utang yang sudah jelas peruntukan dan sumber pembayarannya. Utang-utang yang sering tidak terduga itu lho yang membuat banyak orang sering kelimpungan. Utang kartu kredit, penggunaan paylater yang berlebihan, utang online, utang-utang pribadi karena hal-hal yang tidak urgent. Pembelian produk branded untuk sekedar memenuhi gengsi dan keinginan tanpa menghitung secara cermat kemampuan, biasanya menjadikan orang terjebak utang berkepanjangan.

Sekali terlibat utang model begini, agak sulit terbebas. Intinya, boleh utang dengan tetap mengukur kemampuan masing-masing. Ingat saja, pujian orang pada barang-barang yang anda beli (dengan cicilan) tidak bisa membayari cicilan anda saat kesulitan uang.

Berutang boleh saja, asal kita memerlukannya. Pada saat sudah memiliki uang, bila memungkinkan segera bayar lunas utang-utang anda. Jangan menunda-nunda. Uang itu licin. Ke sana ke sini, merasa punya uang tanpa sadar menggunakan sedikit demi sedikit. Tidak terasa tahu-tahu uang habis tanpa tahu persis penggunaannya.

Bagaimana kalau saat ini kita masih terlibat utang yang banyak? Mungkinkah kita bisa terbebas dari utang? Jelas sangat mungkin. Ada banyak orang yang hidupnya tenang, bahagia, damai, sehat sentausa karena bebas utang.

Bagaimana caranya bebas utang? Sebenarnya ini tergantung dari setiap pribadi. Saya percaya setiap orang punya role atau model pengaturan keuangan yang berbeda. Carilah yang cocok dan nyaman, lalu terapkan. Kalau sudah ketemu yang cocok, jangan beralih lagi.

Ada beberapa tips yang saya gunakan sejak bertahun-tahun silam agar terbebas dari utang, meskipun bekerja sebagai freelancer. Bagi mereka yang bekerja menetap dengan gajian tiap bulan, tentu lebih mudah lagi mengaturnya. Berikut ini uraian detailnya.

Kesatu, penghasilan. Petakan dan hitung keseluruhan penghasilan anda dalam setahun. Bagi freelancer bisa menggunakan penghasilan tahun sebelumnya sebagai patokan. Kalau anda berpasangan (suami/istri/partner/sahabat/saudara), hitung pula semua penghasilan yang anda berdua peroleh. Termasuk bonus-bonus dll yang pasti diterima sepanjang tahun.

Anda bisa menggunakan aplikasi pencatat keuangan yang free akses untuk memudahkan saat sudah mulai menerapkannya. Demikian juga dengan hal lain-lain. Dengan pencatatan detail menggunakan aplikasi akan memudahkan anda mengetahui secara pasti keadaan keuangan anda.

Kedua, pengeluaran. Petakan dan hitung semua kebutuhan pokok dalam setahun. Namanya saja kebutuhan pokok. Berarti mulai dari tempat tinggal (kalau anda mencicil, kontrak, kos, sewa, dll pembayaran), makan, pakaian, pendidikan anak-anak, kesehatan, transport, komunikasi, dll yang rinciannya bisa sangat banyak. Perhatikan juga perubahan-perubahan yang terjadi. Kalau tahun sebelumnya keluarga dengan dua anak, tahun berikutnya ada tiga anak; tentu tidak bisa menyamakan jumlah kebutuhan pokok dan pengeluaran. Semakin rinci keperluan dan jumlah yang harus dikeluarkan akan semakin baik.

Ketiga, sedekah. Sebenarnya ini tidak ada aturan dalam manajemen keuangan; tapi pastikan anda membagikan sebagian rezeki kepada fakir miskin dan orang yang lebih membutuhkan. Besarannya beragam antara 2.5% s/d 10% sesuai dengan kemampuan anda. Ini bagian dari sedekah untuk menolak bala dan biar rezeki kita terus mengalir lancar sepanjang masa.

Keempat, dana darurat. Kalau sudah tahu berapa total penghasilan. pengeluaran setahun; hitung berapa jumlah uang yang tersisa dalam setahun. Uang ini bisa anda gunakan sebagian untuk dana darurat. Berapa besaran dana darurat, tiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Sekurangnya harus ada dana untuk 1 bulan biaya keperluan hidup. Jangan sampai tidak ada dana darurat sama sekali.

Kelima, total utang. Hitung semua utang anda. Ini tidak termasuk yang saya anggap “cicilan” seperti uraian di atas. Hal ini sudah termasuk kebutuhan pokok yang harus anda keluarkan. Hitunglah semua utang yang belum ada jaminan pembayarannya. Dengan mengetahui total keseluruhan utang, akan membantu anda untuk fokus melunasinya.

Keenam, bayar utang. Hitung uang yang tersisa dari sebagian dana darurat (langkah keempat). Bagi yang memiliki utang, anda bisa menggunakannya untuk membayar utang-utang. Harus segera membayarkan, terlebih kalau pihak pemberi utang memberi kelonggaran anda untuk mencicil.

Misalnya anda punya utang 150 juta pada beberapa pihak, tapi ada pemberi utang mengizinkan anda mencicil. Setiap punya uang harus langsung mencicil utang. Kalau anda menunggu sampai jumlahnya terpenuhi mungkin lebih sulit. Kalau tidak mungkin dicicil, berusahalah menabungkan dana bayar utang di rekening non-ATM dan non-aplikasi, sehingga segera terpenuhi untuk membayar utang.

Langkah kesatu sampai keenam itu, mungkin saja tidak mudah bagi anda yang baru berniat membebaskan diri dari utang. Ini berarti anda harus hidup hemat, memangkas beberapa hobi dan kesenangan, dll. Kegiatan atau kesenangan yang biasanya boleh dilakukan menjadi “ditunda” dulu. Versi saya, kalau mau bebas utang ya harus sedikit “berpuasa”.

Selanjutnya langkah ketujuh, penghasilan tambahan. Apabila memungkinkan carilah pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Anda bisa menekuni hobi yang menghasilkan uang. Anda bisa memanfaatkan aset-aset di rumah anda untuk berkarya atau kerja. Ingat, kalau anda tahu persis berapa utang yang ingin anda lunasi; cara ini biasanya menambah semangat.

Kedelapan, fokus melunasi utang. Kalau niat awalnya bekerja tambahan untuk membereskan utang; fokuslah di situ. Jangan uangnya untuk foya-foya karena akan timbul masalah lagi. Membebaskan diri dari utang ini perlu waktu yang beragam tergantung besar kecilnya utang yang anda. Makin cepat beres makin baik jadinya.

Kesembilan, mengatur ulang. Kalau utang-utang sudah beres, anda boleh mengatur kembali manajemen keuangan. Uang-uang yang biasanya untuk membayar utang sudah mulai bisa untuk menabung, investasi, atau memenuhi keperluan besar lain —wisata luar negeri, pendidikan tinggi, haji – umroh, membeli tanah rumah baru, dll sesuai keinginan anda.

Kesepuluh, hidup sederhana. Kalau sudah terbebas dari utang-utang, jangan jumawa, jangan sombong. Tetaplah hidup sederhana. Tetaplah fokus pada kebutuhan, bukan keinginan untuk hidup sehari-hari. Sementara untuk keinginan besar, anda bisa mulai menabung dan tidak perlu terlibat utang.

Kalau harus berutang untuk keinginan, pilihlah utang yang cerdas. Misalnya, anda ingin umroh dan sudah menyiapkan dana 30 juta. Namun bank anda memberikan fasilitas kerjasama dengan agensi umroh. Pembayaran anda itu bisa diubah jadi cicilan 30 bulan dengan per bulan hanya 1 juta tanpa bunga selama 30 bulan.

Kalau ada tawaran seperti itu, ya anda ikut saja. Uang 30 juta yang sudah anda siapkan bisa anda gunakan untuk investasi lain. Sementara anda bisa pergi umroh cukup dengan membayar 1 juta per bulan. Tidak selalu punya utang itu buruk. Tidak selalu tidak punya utang itu cerdas secara finansial. Pilih-pilihlah yang paling sesuai yang paling bikin anda bahagia.

 

#ariwulandari #publikasimedia #mediaonline #bebasdariutang #kinoysanstory #artikelmedia

Ari Kinoysan Wulandari

Hari Buku Nasional: Buku Pesanan atau Buku Pribadi?

Sebagai penulis profesional, keseharian saya jelas tidak bisa dilepaskan dari segala kegiatan tulis menulis. Beragam aspek dan pihak yang berkaitan dengan penulisan pun tidak bisa saya tinggalkan. Mulai dari book drafting, pembacaan referensi dan data, penelitian lapangan, wawancara, observasi, fotografi, ilustrasi, deadline, template, klien, media, penerbit, PH, buyer, editor, dll. Menulis sudah mendarah daging di dalam nadi saya.

Menulis sebagai pekerjaan tentu berbeda dengan menulis sebagai hobi. Menulis naskah pesanan itu kadang tidak seasyik menulis secara mandiri materi yang disukai. Saya menyadari bahwa yang paling saya senangi adalah menulis fiksi. Tentu jenis naskah fiksi dalam beragam versi bentuk, seperti cermin —cerita mini, cerpen —cerita pendek, cerbung —cerita bersambung, novelet, novel, skenario.

Menulis fiksi membebaskan saya dari beragam referensi yang sering kali memusingkan. Meskipun tentu saja, menulis fiksi tidak boleh serampangan; tetapi berdasarkan pengalaman dll cerita orang pun, sudah boleh atau sah digunakan sebagai materi cerita fiksi.

Namun dalam perjalanan waktu dunia penulisan, tidak selalu berpihak pada penulis. Saat kita masuk industri kreatif, kita harus sadar bahwa peluang dan kompromi menjadi sangat penting. Dengan kondisi itulah, penulisan saya pun menjadi tidak terprediksi. Menulis buku nonfiksi populer dan referensi, biografi, beragam profil dari perseorangan, komunitas, korporasi, pidato, artikel, esai, dll karya populer menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian kerja.

Lelah? Ada masanya iya.

Bosan? Ada waktu iya banget.

Pingin berhenti saja? Kadang-kadang.

Sulit? Beberapa kali iya.

Yach, itu adalah kondisi-kondisi yang kurang menyenangkan saat menulis naskah-naskah pesanan. Dan saat-saat seperti itu, berhenti saja menjadi pilihan yang mudah. Meninggalkan pekerjaan penulisan, mungkin lebih gampang daripada memesan makanan via aplikasi online.

“Diam Sejenak dan Bacalah Buku. Nikmati Tiap Halamannya dengan Sukacita.”

 

Bagi saya, dengan beragam jatuh bangun dunia penulisan ya, berusaha mengatasi semua kesulitan dan tantangan yang ada. Paling prinsip yang tetap saya pegang dalam mengerjakan naskah pesanan apapun; saya harus senang materinya, deadline yang wajar, dan pembayaran yang sesuai dengan standar profesional. Sekurangnya, dengan ketiga hal itu saya tetap bisa bekerja dengan wajar dan menghasilkan karya terbaik.

Hal yang paling “menantang” dalam proses kinerja seperti ini, kalau ada perasaan sakaw menulis. Tidak ada waktu, tapi kepala saya penuh sekali dengan pemikiran dan ide-ide materi fiksi. Dan ini benar-benar mengganggu kalau tidak segera ditulis. Maka, kalau sudah seperti itu biasanya saya meninggalkan saja pekerjaan sejenak dan menulis pemikiran tersebut dari awal sampai akhir. Selengkapnya. Serampungnya versi saya.

Berapa lama hal itu saya lakukan? Saya membatasi maksimal “nyelow-nyelow” seperti ini adalah tiga hari dalam kerja sebulan. Jadi, tidak sampai membuat saya pening karena pikiran-pikiran yang menghantui dan tidak membuat saya kehilangan materi atau ide yang bagus. Ingat, pikiran manusia itu pengingat yang lemah. Harus direkam, harus dicatat. Kalau tidak pasti ilang.  Lalu menulisnya kapan? Ya nanti kalau saya pas tidak ada kejaran deadline naskah pesanan.

Mengapa saya mendahulukan naskah pesanan? Ya karena naskah-naskah seperti itu yang begitu selesai, publish, atau rilis, uangnya akan segera dikirim. Beberapa pihak yang sudah bekerja sama dalam waktu yang lama, terbiasa menghitung dan melakukan pembayaran di depan untuk masa tertentu. Tentu saya harus memprioritaskan hal ini dibandingkan menulis buku secara mandiri.

Sistem antrian naskah di penerbit mayor hingga tiba waktunya menerima royalti itu bisa bertahun-tahun; dengan situasi dan jumlah royalti yang tidak pasti. Kadang tidak ada, ada sedikit, ada banyak, dan selalu tidak bisa diprediksi. Jadi, perlu ekstra kerja di bagian yang sudah pasti uangnya kalau ingin hidup tetap terjamin baik dari sisi penulisan. Yach, itu wes lagu biasa bagi freelancer.

Hari ini 17 Mei, biasa kita ingat sebagai Hari Buku Nasional. Kalau ditanya jumlah buku yang saya baca, tentu saya bisa menjawab SANGAT BANYAK. Beragam buku sejak saya umur lima tahun bisa baca tulis, sudah saya baca hingga saat ini. Terlebih kalau harus menulis buku nonfiksi atau buku referensi, wes jelas kudu baca banyak buku.

Kalau ditanya jumlah buku yang saya miliki, saya baru bisa menjawab TIDAK BANYAK. Mungkin dari dus-dus dan rak rak buku itu isinya hanya sekitar 2000 an judul; yang sudah mulai saya bersihin lagi buat dikirim ke beragam pihak. Baca buku versi saya tidak harus memiliki buku. Pinjam di perpustakaan dengan membayar iuran tahunan jauh lebih efektif. Kalau bukunya nggak ada di perpus, baru deh mikir beli. Kalau bukunya semacam referensi wajib, ya kudu dikoleksi. Kadang membeli dua atau tiga eks untuk berjaga-jaga. Karena buku dipinjam jarang yang kembali pulang 🙁

Kalau ditanya berapa buku yang saya tulis, maka saya akan bilang BELUM BANYAK. Sekira 120 buku terbitan nasional di penerbit mayor, bagi saya masih terlalu lamban untuk menjawab ribuan pemikiran di kepala saya yang muncul setiap saat. Menggunakan berbanyak asisten, tidak selalu membuat saya senang dengan karyanya.

Akhirnya, saya menyadari ada karya yang memang harus dikerjakan secara soliter. Buku-buku pribadi yang diterbitkan secara mandiri harus saya tangani secara privat mulai dari book drafting sampai naskah selesai. Itu pun saya kadang masih iyig mengawal naskahnya sampai jadi agar tidak kecolongan produksinya lepas kendali atau tidak sesuai. Dan yach, ini lebih rieweuh, tapi selalu ada kegembiraan dari setiap kali karya publish.

Hari Buku Nasional, setidaknya kita bisa mengingat kita termasuk orang yang seperti apa terhadap buku. Sekurangnya hari ini mengajak kita untuk lebih peduli pada buku. Kalau orang sering menyebut buku jendela ilmu, bagi saya buku justru menjadi ajang rekreasi yang menyenangkan —saat saya belum bisa ke tempat-tempat baru yang indah di berbagai belahan dunia.

Buku juga telah mengajak saya lebih banyak memaklumi pemikiran orang-orang. Setiap buku, sejatinya tidak lahir dari kekosongan. Di sana ada pengalaman, ada pembacaan, ada harapan, ada renjana kalbu, ada inspirasi, ada tata cara, ada pandangan dll intelektual seorang penulis. Membaca banyak buku, secara tidak langsung mengajak saya untuk lebih toleran, lebih banyak menghargai dan menghormati pemikiran yang berbeda, lebih berempati pada hal-hal yang tidak sebaik perkiraan saya, lebih banyak membuka wawasan, dll.

Bagaimana anda memandang buku? Bebas sesuai dengan pemikiran masing-masing.

Bagi saya sebagai seorang penulis, yang terpenting belilah buku-buku yang asli. Karena ini jadi nyawa ribuan penulis dan penerbit. Tulislah buku-buku yang baik. Karena kita tidak pernah tahu, siapa saja yang membaca buku kita. Bacalah buku sebanyak anda ingin menulis. Ingin banyak menulis buku? Bacalah buku dulu sebanyak-banyaknya.

Selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2022.

#haribukunasional #ariwulandari #arikinoysanwulandari #kinoysanstory

Ari Kinoysan Wulandari