Umroh Istimewa (9): Jejak Sejarah Konstantinopel

Petunjuk arah tempat di areal Istana Sultan Ahmed (Mehmed). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya break menulis cerita umroh ini, karena kok ya ngedrop cukup lama. Alhamdulillah kini sudah lumayan baik, jadi saya teruskan kembali tulisannya. Jangan berhenti membaca dan menengok blog pribadi saya yes 😀

Usai makan siang (oh ternyata nama restoran tempat kami makan kuliner khas Turki adalah Bukhara Resto). Siang itu di Istanbul terasa tenang, meski selalu ada denyut kehidupan yang nggak pernah benar-benar berhenti. Udara cukup bersahabat siang itu, nggak terlalu panas; masih ada sisa-sisa dingin hujan dari pagi harinya.

Universitas Marmara, Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari restoran kami berjalan kaki menuju komplek istana Sultan Ahmed (Mehmed). Jalannya semua berbatu rapi. Ketika sudah mulai masuk areal bersejarah ini, ada penanda, petunjuk jalan. Di sisi yang lain, saya melihat identitas kampus: Universitas Marmara.

Udara sejuk menguar bercampur aroma roti simit dari pedagang yang baru membuka gerobak. Saya menarik napas, menatap jalan berbatu yang menurun sedikit, lalu mulai melangkah. Mengikuti teman-teman rombongan. Sebagian masih berfoto. Sebagian duduk-duduk lelah. Oh ya, habis makan biasanya memang ngantuk dan enaknya tidur. Sebagian berjalan saja menuju tempat wisatanya.

Saya dan Bu Yuli di jalur pedestrian menuju lokasi wisata komplek istana Sultan Ahmed (Mehmed). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jlur pedestrian yang saya ikuti dikelilingi bangunan-bangunan kuno bergaya Ottoman; jendela kayu dengan kusen gelap, kafe kecil dengan meja besi, dan toko suvenir yang penuh gantungan mata biru nazar. Setiap 50- an langkah, terdengar logat bahasa yang berbeda (sekurangnya yang bisa saya identifikasi ada bahasa): Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman, Belanda dan tentu saja Turki yang dilafalkan tegas tapi hangat.

Saat mendekat ke kawasan Sultanahmet, Masjid Biru menjulang di kejauhan, kubahnya berlapis-lapis seakan memanggil. Ada ramai orang berfoto di sini. Saya sempat terpesona dengan masjid cantik ini. Hingga diingatkan Gus Faqih mengikuti rombongan. Kalau nggak, mungkin saya lebih lama di tempat ini. Masjid, versi saya memang punya daya tarik tersendiri bagi saya pribadi. Setiap piknik, saya pasti berusaha mencari masjid. Bahkan di negeri-negeri komunis seperti Vietnam dan China; mesjid terasa seperti oase yang menyejukkan hati.❤

Areal Mesjid Biru yang sedang pada tahap renovasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di areal Masjid Biru itu, versi saya ada satu bangunan yang tampak paling mendominasi cakrawala: Hagia Sophia, tempat yang terlihat megah, teduh, dan misterius dalam satu pandangan.

Begitu tiba di halaman depan Hagia Sophia, saya terdiam. Antrian mengular karena ini nanti orang mau sholat berjamaah. Dari luar, bangunan ini seperti buku sejarah raksasa yang belum selesai dibaca: minaret (mercusuar, menara; bahasa Arab) Ottoman berdiri tegak, tapi dinding-dinding berwarna merah kusam yang masih menyimpan sentuhan Bizantium.

Pelataran tempat wisata sebelum masuk ke areal mesjid besar di Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Antrean wisatawan semakin ramai, tapi suasananya tetap tenang. Cahaya matahari memantul lembut di kubah emas, membuatnya tampak menyala dari dalam.Masuk ke dalam Hagia Sophia terasa seperti memasuki dunia lain; karena ada beberapa hal.

Pertama, pilar marmer yang menjulang seperti hutan batu. Kedua, kaligrafi bundar berukuran raksasa tergantung anggun di dinding. Ketiga, mozaik emas Bizantium yang bersinar samar menjadi pengingat masa ketika tempat ini masih menjadi gereja kerajaan.

Saya di pintu masuk dan tempat wudu di mesjid agung Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap kali ada yang melangkah di lantai marmernya; seolah terdengar gema halus di telinga saya, seolah ribuan kisah dari abad ke-6 hingga kini berbisik dalam diam yang dinamis.

Di satu sisi ruangan, saya melihat sinar jatuh dari deretan jendela kubah. Boleh jadi itu cahaya yang sama yang pernah menerangi pasukan Sultan Mehmed II saat pertama kali memasuki gereja ini pada 1453.

Saya, Bu Sida, Bu Yuli di areal dalam mesjid agung, Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keluar dari Hagia Sophia, saya melangkah mengikuti kerumunan ke arah taman hijau. Sebenarnya tujuan berikutnya adalah Istana Topkapi. Namun karena kami hanya photostop di tempat ini, jadi saya tidak tahu isinya dan nggak ada pengalaman tentang ini. Saya cek harga tiket masuk di marketplace sekitar 1.2-1.5 juta IDR. Saya kira bukan hanya masalah pertimbangan harga kami nggak ke sini, tapi juga masalah waktu karena luasnya istana itu.

Jadi di sini saya catatkan dari berbagai referensi tentang Istana Topkapi. Tempat ini hanya 3–5 menit berjalan kaki dari lokasi saya berada. Iya, sebuah gerbang megah dengan ukiran emas tampak di depan: Bab-ı Hümayun, gerbang kekaisaran menuju Istana Topkapi, istana pertama Dinasti Ottoman setelah penaklukan Konstantinopel. Konon, kalau memasuki kompleks ini seperti memasuki dunia Sultan Mehmed Sang Penakluk: hening, luas, dan penuh simbol kekuasaan.

Sisi lain halaman Hagia Sophia, masih dalam proses renovasi; jadi nggak semua tempat boleh dimasuki wisatawan. Alhamdulillah, sampai juga saya di Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada halaman pertama, pepohonan tua menaungi jalur setapak. Burung-burung camar melintas, sementara para pengunjung duduk di bangku taman. Pada halaman kedua, terdapat dapur istana dan ruang dewan. Aroma masa lalu terasa kuat, seakan suara para penasihat dan janissari (pasukan khusus yang dibentuk pada masa Kesultanan Ustmaniyyah abad 14 Masehi) masih bergema di menara keadilan.

Oh iya, untuk bisa menikmati wisata sejarah di areal ini, saya sarankan teman-teman sebelum datang ke sini, sudah punya gambaran tentang Sultan Ahmed 2 (Mehmed 2) dengan penaklukan Konstantinopel…. paling nggak bisa nyambung dengan alur perjalanan wisata yang saya ceritakan ini. Sayang siy memang di tour ini nggak ada guide lokalnya, jadi nggak bisa ditanya-tanya.

Saya dan Bu Yuli di areal taman, sisi lain, Hagia Sophia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Termasuk ketika saya merasa ada “gap” dari gambaran sejarah dan apa yang saya lihat saat berada di lokasi. Ya, seperti bangunan sejarah lainnya; tentu ada yang rusak, dialihfungsikan, direhab, atau bahkan dihilangkan dari jejak sejarah. Bisa jadi yang ada di sini pun begitu; tapi saya nggak bisa menunjukkan atau menceritakan yang mana saja, karena nggak ada informan valid.

Catatan saya di bagian ini saya rujuk dari perjalanan di lokasi dan data-data yang saya catat dan tandai dari buku-buku, jurnal-jurnal, dan web yang membahas Konstantinopel. Bagian Harem pada saat ini adalah lorong-lorong sempit dengan ubin biru Iznik (ubin dari tembukar yang dibuat di Iznik, kota sebelah barat Anatolia, Turki) pintu lengkung emas, dan jendela kecil yang mengintip ke taman pribadi. Semuanya terasa akrab sekaligus misterius, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan oleh kerajaan selama berabad-abad.

Saya, Bu Ening, Bu Atmudah, Bu Neli, Bu Nunu, Bu Yuli di halaman depan Hagia Sophia menuju pintu keluar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selanjutnya pada halaman ketiga dan keempat; merupakan ruang relik suci. Terasa hening sekali. Lalu di paviliun taman di halaman terakhir, angin Bosphorus membawa aroma laut yang segar. Dari sini, Istanbul tampak tenang dan damai; padahal di bawahnya tersimpan sejarah penaklukan, peperangan, dan kebangkitan yang memukau.

Saat matahari mulai condong ke barat, saya kembali berjalan perlahan ke luar, melewati pepohonan dan gerbang besar istana. Dari Hagia Sophia, ke tempat Sultan Mehmed memimpin kekaisarannya, hingga ke areal Universitas Marmara.

Perjalanan singkat ini bukan sekadar wisata.
Ini seperti menapaki garis waktu: dari Bizantium, ke Ottoman, hingga Istanbul modern yang kini menyatukan semuanya. Di kota ini, sejarah seolah nggak hanya diceritakan. Sejarah berabad ini bisa sampeyan sentuh, lihat, hirup, dan rasakan dengan langkah-langkah kaki dan gerak tangan sampeyan sendiri.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (8): No, Tambah 50 Ribu Lagi…

Sisi depan toko tempat beli oleh-oleh di Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di Turki mata uangnya Lira. Tapi kalau kamu piknik ke sini, mata uang apa aja diterima. USD, Riyal, IDR, debit Visa Mastercard bahkan kartu kredit di beberapa gerai. Belanja memang gampang dan lebih menyenangkan lagi “menghabiskan uang” 😀

Saat di Indonesia saya nggak menukar Lira karena mikir nggak belanja. Hanya tukar USD dan Riyal secukupnya. Beneran saya nggak ada niat belanja. Oleh-oleh umroh wes dikompliti di rumah diurus saudara saya. Biar nggak berat di bagasi dan saya pun nggak ribet gotong-gotong oleh-oleh.

Tenan, kalau sudah lelah dari perjalanan jauh itu, bawa diri sendiri bae bisa terasa berat. Apalagi masih kudu narik bawa koper berat. Weizh… saya siy ogah. Ada porter yang bisa kita minta bantuan; tapi pada titik-titik tertentu tetep kita sendiri yang harus beresin.

Mendengarkan kuliah bakul manisan asli Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah dari Bosphorus, kami mampir ke pusat oleh-oleh khas Turki. Komplit di sini untuk semua makanan tradisional dan khas yang wes diolah dan dikemas modern. Setipe dengan Kebun Kurma di Madinah, mereka juga menyediakan aneka tester gratis ambil bebas makan dan minum. Termasuk cokelat, manisan, aneka teh, dll.

Di sini tuh toko jualan kek-nya seperti kewajiban ada presentasi dulu. Ada orang yang jelasin tentang produk-produknya dengan rinci detail, lalu memberi tester. Wes mengadopsi cara dagang China banget, terutama di areal wisata. Bahkan di China ada program wisata shopping. Ya piknik, tapi lebih fokus ke belanja produk dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Pokmen masuk toko/mall/perusahaan wisman kudu dengerin kuliah dulu; dan biasanya yang dipajang tuh ganteng-ganteng atau cantik-cantik 😂 Setelah itu kita kudu belanja. Kalau sampeyan nggak belanja, haizh bisa dikejar-kejar sampai beli pokoknya 🤣

Di Indonesia? Kayaknya sudah hampir semua tempat pariwisata Indonesia wes saya jelajahi; baik dengan trip mandiri, private trip, atau open trip, tapi belum ada aturan model begini. Hanya beberapa saja yang melakukan dan itu kebijakan internal perusahaan mereka. Di Bali, beberapa toko yang sudah begitu. Di Magelang, justru beberapa UMKM yang begitu. Wisatawan disambut, dikuliahi produk produk dan cara produksinya termasuk masuk ke unit-unit pembuatannya, lalu ke showroom jualan produk mereka. Di Lombok ada beberapa yang begitu.

Niat nggak belanja boleh aja, tapi perempuan pasti tetap beli-beli. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Daerah-daerah lainnya di Indonesia kok belum dan pemerintah kayaknya juga tidak (cmiiw) mewajibkan model begini. Padahal ini jelas presentadi begitu bisa mendongkrak omzet penjualan. Karena kalau kita paham manfaat produknya, kecenderungan beli lebih besar.

Di sini saya ada membeli beberapa jajanan dan souvenir untuk kepentingan pribadi. Pas bayar itu saya tahu harga manisannya 388 rb IDR. Jadi saya kasih uang 350 rb IDR. Kasirnya bilang, “No, tambah 50 rb lagi.” Kebetulan saat itu uang saya 50 ribuan.

Saya ngikik, lah ini kasir nya kok mudheng hitung duit. Saya pun kasi 50 rb lagi dan sampeyan tahu, kembalian 12 rb itu berupa recehan 2 ribuan sebanyak 6 lembar. Biyu… Sereceh itu pun mereka punya uang kita. Ketahuan kan kalau pasti banyak turisman Indonesia yang belanja di sini dengan mata uang IDR 😁😆

Setelah itu kami makan siang. Sik lali saya nama restonya apa ya? Itu di dekat areal perbelanjaan oleh-oleh, tapi makanannya khas Turki banget. Ya nanti kalau ada fotonya saya sebut namanya.

Saya, Bu Yuli, Pak Bambang, Bu Ening; saat makan siang di sekitaran tempat belanja oleh-oleh. Saya lupa nama tempatnya dan jangan tanya nama menu makanannya, ora ngerti 😁Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai makan… Cuuuz… Kami jalan ke areal Sultan Mehmed, areal Hagia Sophia. Tempat wisata ikonik di Turki. Pokmen kalau sampeyan ke sini, itu formasi atau struktur tempat dan bangunannya setipe dengan areal Malioboro ke arah istana Jogja. Inget-inget areal pariwisata seputar titik 0 km Jogja wes. Ada keraton/istana, mesjid, kaki lima (Malioboro), museum, dan taman-taman😁😅

Tenan, model atau struktur tata letaknya ya mirip-mirip gitulah. Kalau kita rujuk sejarah tata kota di Indonesia, jelas warisan kolonial (Belanda, Eropa). Nah, Turki ini kiblatnya yo Eropa, meskipun sebagian yo Asia kek kita (tapi mereka lebih senang kalau “dianggap, diakui” sebagai bagian Eropa. Kalau ada komparasi sejarah bangunan, mungkin lebih banyak persamaannya antara Istanbul dengan Jogja daripada perbedaannya.

Lha wong yang jualan jagung rebus sama galundeng (roti goreng) pun ada di sini 😁😆 Saya beli jajanan itu? Jelas enggak. Rasanya jagung rebus, westalah di mana-mana podho bae. Daripada makan jagung rebus jauh-jauh ke Turki, ke rumah saya bae bisa taksuguh munyukan komplet (kacang, kedelai, jagung, ubi, ketela, pisang —semua direbus) bisa makan sakkemenge, sekenyangnya.😁 Belum jalan mider keliling, saya merasa Istanbul nggak asing-asing atau beda banget dari Jogja🤣

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (7): Iki Bosphorus atau Mahakam Siy?

Salah satu sisi Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hujan turun lumayan deras saat kami meninggalkan Best Fashion. Tujuan kami selanjutnya ke Bosphorus. Salah satu ikonik pariwisata di Turki. Kami akan naik kapal keliling untuk melihat keindahan salah satu tempat unik di dunia ini. Karena separoh wilayahnya sangat Asia, dan separoh lainnya sangat Eropa; tapi menyatu dalam satu laut di negara yang sama: Turki.

Karena hujan, jalan-jalan di sini terasa sedikit berbeda. Kudu payungan, jaketan, bahkan banyak orang di lokasi perahu atau kapal yang krubut-krubut pake jas hujan. Saya pun ke sini dengan jaketan dan payungan. Kalau masih bulan November di sini belum turun salju, tapi udara sudah lumayan dingin dan sering turun hujan.

Ada gunanya juga saya bawa payung. Areal kapal sandar, Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nanti kalau Desember akhir, salju-salju cantik bisa dilihat di banyak tempat di wilayah ini. Konon bagi warga di berbagai negara empat musim, kalau menyaksikan salju pertama kali turun kudu cepet-cepetan make a wish; bikin harapan, doa; karena katanya doa dan harapan itu lebih cepat terkabul atau terwujudnya. Wallahu’alam.

Naik kapal, karena hujan cukup riuh kami nggak bisa di atas dek yang langsung outdoor. Di atas kapal yo boleh siy, tapi jelas kehujanan. Dan itu bukan pilihan yang disarankan untuk trip panjang begini. Saya duduk-duduk saja di sisi jendela kapal dengan Bu Yuli menikmati pemandangan.

Saya dengan Bu Yuli. Di dalam kapal untuk keliling Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di seberang sisi kanan saya ada Mas Donni dan Mas Indra. Entah mereka berdua heboh cerita apa dengan Mas Issam, si fotografer di Turki sampai ketawa lepas begitu. Saya lebih fokus ke pemandangan di luar jendela kapal dan tentu nggak nyimak obrolan mereka. Saya juga nggak terlalu perhatian pada aktivitas orang-orang saat itu. Kayaknya ya biasa saja. Foto-foto, makan-makan, ngobrol, ngelamun, balesin WA, dll.

Di sini ada dijual makanan minuman aneka macam. Popmie pun ada 😁😅 Yungalaah, jauh-jauh ke Turki kok makan popmie 50 rb. Di Jogja mung 5 rb wes dimasakin. Sama seperti saat saya ngetawain temen-temen deket yang ke Eropa Barat non biro wisata. Lha jauh-jauh ke Eropa kok mung makan ayam McD berulang, mbok di rumah bae sepuasnya. Katanya takut nggak halal karena semua identitas makanan pake bahasa yang nggak mereka kenal 😄😁

Lepas betul ketawa mereka. Mas Donni, Mas Indra, Mas Issam (fotografer di Turki). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau versi saya siy, dolan itu ya termasuk menikmati seluruh makanan lokalnya (yang halal). Kalau perlu membaur dengan kehidupan orang-orang setempat; agar kenangan dan pengalamanmu tentang tempat asing itu lebih berwarna.

Hal kek gitu biasanya yang bikin piknik atau private trip saya jadi lama. Apalagi kalau merasa sedang banyak uang dan partner saya itu sahabat yang juga doyan dolan. Klop sudah. Mblayang suwe gakpapa. Uang habis ya nanti kita cari lagi 😁🙏 Menurut saya pengalaman itu jauh lebih berharga daripada kepemilikan atas barang-barang.

Orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing saat di dalam kapal. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pengalaman hidup, ilmu dan keahlian, mindset positif, karakter baik, kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik; itu adalah hal-hal yang melekat pada setiap personal, yang mo diapakan juga tetap nggak bisa dicuri orang lain. Dicontoh, direduplikasi bisa, tapi diambil dicuri, jelas nggak mungkin.

Beda dengan mobil bagus, produk produk branded dll barang bisa dengan mudah diambil atau dicuri orang. Bisa rusak, bisa terbakar, hancur kena bencana, dll. Jadi pilih-pilih dengan apa yang hendak kamu klaim sebagai milikmu.

Oh ya, soal popmie dan McD tadi bukan berarti nggak boleh makan yang sudah biasa lho ya. Lha wong di Madinah bae saya yo jajan popmie kok. Di Jakarta transit malah makan indomie rebus dengan Mas Donnie dan Mas Indra. Tapi ya itu karena pingin dan rindu aja, bukan menu harian. Trip umroh kali ini embuh saya kok nggak minat beli McD atau KFC 😁

Sisi lain view Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di kapal ini juga ada layanan foto langsung jadi. Ning larang iki. Masa 3 foto 5R aja 350 rb. Ada bingkai bagus siy, jadi kelihatan mewah. Saya tawar 100 rb gak boleh, ya wassalam wes. Saya pikir fotonya saja, rasah dibingkai berat gitu nambahin beban bagasi bae😆😅

Pokoknya di Bosphorus ini berasanya saya kek tour Sungai Mahakam dari Samarinda sampai Kutai Kartanegara pp (silakan sampeyan baca catatan saya DSBK dari awal sampai rampung). Ada jembatannya pula di tengah-tengah pelayaran saat di Bosphorus ini.

Beuuuh, jadi berasa persis, mung Mahakam nggak ada bangunan super kuno dan megah kek di Bosphorus; tapi Mahakam dengan bangunan rumah-rumah panggung berdiri di atas air juga nggak kalah eksotisnya. Ditambah kapal kapal batu bara dan pasir besi yang hilir mudik. Mahakam air tawar. Bosphorus air laut.

Jembatan melintas di atas laut Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Foto-foto sakkemengmu sakbosenmu di sini. Kanan kiri semua oke viewnya. Ini kalau matahari cerah pasti bagus banget di kamera. Cuman karena hari hujan, jadi banyak warna abu-abu. Yo weslah terima saja dengan syukur. Saya toh juga tetep ambil foto-foto sesuka, semampunya.

Eh beneran lho, kalau kamu jago motret, pasti ada ratusan foto yang bisa kamu jual via aplikasi online. Setiap sudut Bosphorus ini memancarkan kekuatan sejarah dan tradisi yang kental. Burung-burung terbang rendah begitu cantik. Rintik hujan dan mendung pekat, seolah nggak menghalangi mereka menjemput rezekinya masing-masing.

Burung-burung yang mengajarkan kita bahwa rezeki sudah dijamin oleh sang Pencipta. Mereka berangkat dengan perut lapar di pagi hari, pulang dengan perut kenyang di sore hari. Tanpa menyimpan makanan, mengingatkan kita ojo serakah. Keperluan kita dalam hidup ini sebenarnya nggak banyak-banyak amat kok.😄

Burung-burung terbang rendah di areal Bosphorus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Situasi di kapal cukup adem, tapi karena saya wes jaketan ya hangat. Temaram cuaca bikin hati rindu sinar mentari yang benderang. Belum belum saya wes rindu Jogja yang hangat sepanjang tahun.

Kami turun dari kapal masih lanjut perjalanan berikutnya. Saya agak lupa dari sini tuh terus ke mana ya? Nanti saya lihat lagi foto-fotonya. Trip panjang bikin ingatan saya terdistraksi; apalagi setelah mulai beribetan dengan teriakan deadline akhir tahun 😁 Dan saya bukan jenis orang yang terniyat mencatat agenda piknik dengan tertib saat berada di lapangan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (6): Jaket Best Fashion

Saya, Bu Atmudah, Bu Neli, Bu Nunu, Bu Yuli. Istanbul Buyuk. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, sebelum saya lupa. Grup umroh kami kali ini isinya 33 orang (30 orang dewasa, 2 remaja, 1 bocil), ditambah 1 TL dan 1 muthowib. Jadi sekali jalan di bus selama di Madinah Mekkah ada 37 orang (driver dan kru), kadang 38 kalau ada fotograger turut serta. Cukup ideal untuk ditangani oleh seorang TL.

Nah di grup kami ini ada 2 orang yang saya sebut happy virus, orang yang gembira terus, bikin orang lain ketawa; Bu Neli dan Bu Nunu. Dua kakak beradik beriparan ini, kalau saya nimbrung ngobrol dengan mereka, ya ampun bisa kaku perut saya diajak ketawa. 😂

Di luar teman sekamar, dengan keduanya saya cukup nyambung. Prinsip hidup mereka yang sederhana, melihat hidup dari sisi yang lebih objektif, menghadapi tantangan dengan keteguhan hati mereka. Energi positif yang mereka bawa, terasa ikut menghangatkan hati saya pas down. Trip umroh kali ini, terasa bukan trip yang “mudah” buat saya. Toh saya tetap bersyukur, berterima kasih pada Allah yang telah melingkupi saya dengan orang-orang baik sepanjang perjalanan dari berangkat hingga kembali ke tanah air. Terimakasih untuk Bu Nunu dan Bu Neli, sampai jumpa lagi di umroh-umroh berikutnya ❤❤

Beberapa menu yang ada di resto GHotel, Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, sekarang saya lanjutin cerita perjalanannya. Di pesawat menuju Turki, saya yo tidur 😀 Orang-orang dekat yang sudah biasa jalan dengan saya, tahu betapa mudahnya saya tidur. Terutama kalau do nothing, tidur bikin saya lebih aman dari dosa-dosa nggak sadar (misalnya ngrasani orang, mikirin dengan iri pulak kok hidup orang kayaknya lebih enak daripada saya😂, dll yang bikin nggak syukur bae). Tahu-tahu pas dibangunin untuk makan. Habis makan kenyang yo tidur lagi sampai tiba di bandara Istanbul.

Kami keluar bandara dengan bus menuju hotel. Di hotel masih dibagi nasi box dan air mineral. Perasaan di pesawat barusan makan. Tapi semua diminta untuk menerima, karena saya pun maunya menolak. Jelas nggak kemakan. Di bandara YIA saja, saya mengekori seseibu yang menyerahkan nasi box nya ke OB di bandara. Kalau enggak, yo nggak kemakan dan dibuang pula. Pokmen kalau ikut Dewangga rasah sangu makanan minuman, wes turah-turah. Mengingatkan saya pada biro Blessing Tone yang semua trip dengan makanan enak-enak berlimpah turah-turah 😀

Kami nginep di GHotel. Saya sekamar dengan Bu Yuli. Usai mandi, sholat, saya njur pamitan Bu Yuli untuk tidur. Kayaknya Bu Yuli belum selesai mandi pun, saya wes pules meskipun di pesawat saya wes tidur terus. Kayaknya “capek” saya sejak 3 bulan terakhir masih belum ilang dari tubuh bawah sadar saya.

Pagi kami sarapan di hotel dengan makanan ala Turki (Eropa) nggak ada nasi, tapi full roti, olahan gandum, pasta, kentang-kentung, jus, susu, keju, selai, dll. Nggak sempat lapar, saya makan yang versi lidah bisa saya makan.

Fashion show di Best Fashion, Istanbul, Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Topi kami cakep kan? Produk Best Fashion. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah itu kami pergi nonton fashion show di Best Fashion. Ini brand terkenal di Turki dengan produksi fashion dari kulit domba. Industri fashion kulit yang memasok produk produk branded kelas dunia di Eropa dan Amerika. Produk halusan yang tahan lama sampai sebosannya kita pake. Pun jangan tanya harganya. Bandrol jaket dewasa saja antara 1500 s/d 15000 USD. Mabuk tenan.

Saya yo nggak ada niatan beli apapun dari brand sini. Indonesia juga banyak produk kulit berkelas. Eh, pas mider mider di bagian limited edition ada jaket warna gading dan lebih gelap. Pas saya di situ nggak ada marketing nya. Jadi saya cobain deh. Mikir kalau nggak cocok, bisa langsung saya lepas tanpa banyak pertanyaan.

Ealah, baru saya pake jaket itu satu lengan lhah kok makbedunduk (ujug-ujug alias tiba-tiba), marketing nya muncul. Hadeuuh…. Saya diurusinnya dan jaket pun melekat pas di tubuh saya. Ukurannya pun nggak perlu motong, mermak, jian pas dan enak tenan. Ya ampun, saya kok wes suka duluan. Karena saat itu dingin, di badan langsung terasa hangat, ringan, dan lembut.

Best limited, hanya dibuat 1-5 untuk setiap model. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya dengan marketing Best. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Biyuuu… Lihat harganya beuuh, menjerit tenan IDR saya. Tapi khusus rombongan umroh Indonesia bisa dapat diskon sd 60% atau lebih. Dan saya dikasih tahu harga jaket itu jadi turun jauh setelah diskon. Duit jelas (alhamdulillah) saya punya, tapi bayar segitu banyak untuk 1 jaket jelas meringis saya. Menawar begini begitu, turun lagi. Saya wes mikir emoh saja, tapi berasa nggak ikhlas juga melepas jaketnya. Nyaman tenan jaket ini. Beuuuh, perempuan ya. Maunya dapat barang bagus harga murih 😁😆

Saya boleh jadi buta merek fashion (nggak beli barang dari brand-nya), tapi saya pastikan semua baju saya dibuat dari bahan terbaik (versi saya) dan dijahit penjahit langganan yang saya tahu persis kualitas halusan, teliti, rijik, rapi, detail jahitannya. Pun kalau beli jadi, yo yang terbaik dan harganya terjangkau duit saya. Kalau sudah begitu kan jelas dipake tuh nyaman dan bikin pede. Versi saya, itu sih yang paling penting soal pakaian.

Nah soal jaket ini, saya njur ngitung harga jaket dengan kurs IDR menggunakan debit internasional. Lha kok itu setara gaji pokok saya sebagai dosen 4 bulan, nggak boleh diutak-atik.😆 Wes mau saya lepas saja, tapi inget saya biasa pergi ke mana-mana dan sering beribetan dengan jaket besar, berat, gembung; jaket itu nggak jadi saya lepas lagi. Saya minta harga turun lagi, salesnya ngeyel nggak boleh.

Sampe akhirnya manajernya kasih harga mati no tawar tawar lagi. Ya weslah saya bilang oke. Jaket termahal yang saya beli hingga saat ini. Beberes bayar dan jaket ya langsung saya pake. Lha itu pas hujan di Turki. Jadi berasa banget nyamannya dan yo pisan saya pake sholat bolak-balik, takut kalau hisabnya berat.

Ahamdulillah. Menyenangkan diri sendiri dengan hal-hal ringan di hati. Percayalah saya beli jaket itu bukan lantaran brand-nya; tapi karena fungsinya, tingkat kepraktisan, kelembutan, dan kenyamanannya. Dibawa pun mirip outer tipis yang ringan dan nggak bikin tas tenteng saya “menggendut”. Selain itu, nggak ada tulisan/tanda brand di areal luar jaket, justru bikin hati tenang. Kalau saya pake, nggak akan dihitung orang😆😅

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (5): Dubai yang Fantastik

Saya dengan Bu Yuli sarapan di hotel Ibis, Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Masuk bandara Dubai, aroma kemewahan dan kemegahan mulai terasa. Saya lebih fresh karena sepanjang waktu keberangkatan lebih banyak tidur dan tidur. Alhamdulilah gigi saya ora beribetan. Sempat berasa nyeri, tapi begitu minum obat nyeri yo wes lewat saja.

Pagi itu dengan bus kami menuju Hotel Ibis Dubai, untuk bebersih badan dan sarapan. Lumayanlah badan kena air, bisa cuci muka bersih-bersih dan gosok gigi. Kalau orang Jawa bilang sibinan. Makanan di resto hotel ini enak-enak dan melimpah. Alhamdulillah.

Kesan pertama saya, Dubai bersih, rapi, sejuk, tertib, mewah, dan jangan tanya soal harga di sini 😁 Fantastik juga alias cukup larang nggo ukuran kantong saya. Di sini saya mung beli cokelat dan es krim. Dua jajanan favorit yang bisa memperbaiki mood. Saya mengikuti semua kegiatan tour dari Dewangga dengan senang hati.

Dubai Frame, ikonik nya Dubai Trade Center 2. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Baru kali ini saya ke Dubai. Jadi yo jelas semangat. Di areal pertokoan yang semua produk branded begitu, duh saya ngerasa betapa ketimpangan ekonomi itu riil adanya. Ngelihat sepatu-sepatu, baju-baju, parfum-parfum, perhiasan cantik-cantik sekisar harga 2000 USD ke atas, itu kok ya berasa ngenes di hati saya. 😆😂 Terasa betul “kisminnya” saya di depan harga-harga USD yang aduhai ini. Ya ampun, itu semua serasa nggak terbeli lho dengan mata uang IDR yang saya punya 😁

Untung saya nggak tinggal di sini, jadi nggak perlu berkecil hati dengan semua produk pajangan itu. Meskipun di hati saya, perasaan itu kadang muncul juga kalau saya masuk ke mall-mall terbesar di negara-negara Asia Tenggara. Wes, kesenjangan tenan antara label harga dan duit yang saya punya.

Makanya saya malez beut kalau diajak ke mall tanpa urusan yang jelas. Lihat harga-harga selangit itu, kadang bikin hati mengeluh dan nggak bersyukur bae 😁 Berasa betapa banyaknya kekurangan uang saya untuk membeli barang-barang yang sudah ada label mereknya itu.

Aquarium raksasa air laut di mall Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di mall Dubai ini ada aquarium raksasa air laut, berisi ikan-ikan dan aneka hewan laut. Duh, saya nggak bisa ngitung berapa jenisnya dan nggak ada keterangan untuk itu. Kalau sampeyan turun ke bawah laut Wakatobi, insyaallah ketemu semua deh dengan makhluk-makhluk laut yang ada di aquarium itu. Wakatobi, Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan bawah laut yang luar biasa.

Dari 1500 jenis spesies makhluk bawah laut yang ada di seluruh dunia, 750 spesiesnya ada di bawah laut Wakatobi. Saya ingat jelas jumlah ini, karena disebut-sebut oleh Wagub Sultra pas pembukaan Wakatobi WAVE 2025, 3-5 Oktober 2025 —saya datang atas undangan Bupati Wakatobi. Tapi percaya deh, kalau orang kita disuruh memilih piknik ke Wakatobi atau Dubai, lha mbok yakin pasti mayoritas memilih Dubai. Lagipula charge biayanya lebih murah ke Dubai daripada datang ke surga bawah laut di negeri para pelaut ini.

Kalau sampeyan foto-foto di areal aquarium raksasa ini gratis alias gak bayar. Kalau masuk untuk bisa melihat langsung makhluk-makhluk laut di air dengan tabung kaca (semacam sea walker di Tanjung Benoa, Bali) yo bayar tiket 50-75 USD (cmiiw). Versi saya isih bagusan sea walker di Tanjung Benoa atau Bunaken lah, langsung ke laut luas; ini mung ke aquarium raksasa buatan manusia.

Gedung pencakar langit, ikoniknya Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lepas dari aquarium raksasa, kami masuk ke ikonik Dubai. Gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Lupa saya tingginya berapa ratus meter. Yang jelas gedung-gedung di Dubai itu sekarang jadi gedung-gedung tertinggi nomor satu di dunia; wes ngalah-ngalahin gedung-gedung tinggi di Beijing. Kalau China penakluk kemustahilan (telur, beras bae China bisa bikin tiruan yang seenak aslinya), maka Dubai boleh disebut sebagai penakluk ketinggian.😁

Di sini ada juga kolam buatan yang berwarna hijau tosca cantik diterpa sinar matahari di siang bolong. Hadeuh, saya merasa nyesel salah pilih warna baju karena warnanya setipe dengan warna air aquarium raksasa dan warna air kolam. Nah kolam ini kalau bahasa kampung saya disebut dengan embung 😁 ya tapi embung-nya Dubai dibandingkan dengan embung Nglanggeran atau embung Potorono di sekitaran rumah saya, jelas beda jauh… Gengsinya itu lho…. begitu kata ipar saya 😅

Mo panas-panas juga, foto-foto yang saya ambil cukup banyak. Jelas bukan foto saya selfie. Tapi foto tempat-tempat, areal unik, orang-orang, bangku-bangku, lah kucing pun saya potret. Pokokmen apapun yang kena “beda” di mata saya yo takpotret. Berguna atau enggak, ya urusan nanti.

Embung-nya Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah itu kami ke areal patung tiga jari. Ke tempat ini dari mall Dubai itu naik bus atau enggak ya? Saya lupa dan lupa pula nama tempatnya.😅😂 Pokoknya tempat itu disebut patung tiga jari. Ini tempat wisata yang masih tergolong baru di Dubai. Jadi yo wes iyiklah… Ditungguin sampai lama pun, orang tetap banyak. Nggak ada sepinya. Mereka lalu lalang, jalan jalan mider, foto-foto, memvideo, duduk-duduk ngobrol, makan es krim atau jajanan, pacaran –bebas peluk cium di sini asal nggak berisik, dll.

Sepuasnya di sini, saya motretin banyak hal yang versi saya menarik. Dubai boleh jadi masih “Arab”, tapi kehidupannya sungguh sudah nampak “hedon” dalam keseharian. Saya nggak bisa bahasa Arab dan mereka (orang lokal) nggak bisa bahasa Inggris. Jadi saya nggak bisa nanya seputar kehidupan dan pendapatan orang-orang Dubai dari warga lokal.

Dari TL Dewangga lokal Dubai, Mas Dhani saya dapat gambaran kehidupan yang makmur dari warga Dubai. Jawaban begini, sungguh nggak memuaskan hati saya yang biasa turun meneliti di lapangan. Browsing beberapa ketemu juga “sisi lain” atau “sisi gelap” kehidupan di balik glamournya Dubai dengan gedung-gedung tinggi yang fantastik itu. Yach, ini sekurangnya membetulkan teori, semakmur apapun sebuah negara; selalu ada minoritas terabaikan dalam berbagai bidang. Intinya, ora kabeh orang Dubai sugih juga😁

Patung tiga jari. Saya dengan Bu Yuli. Abaikan figuran yang nggak diedit. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Siangnya kami makan di Little Bali, rumah makan Indonesia yang khas Bali. Tentu makanan yang disajikan pun masakan Nusantara khas Bali. Enak dan melimpah tenan makanan. Ikut trip dengan Dewangga, jangan khawatir soal makan. Tiap kali naik bus pun kita dapat snack berat dan 1 botol air mineral. Di mana saja sejak keberangkatan sampai kepulangan.

Usai makan siang yang wes jelang sore itu, kami njur meneruskan perjalanan ke Turki dengan pesawat Emirates. Saya duduk dengan siapa ya di pesawat itu? Sepertinya dengan orang-orang non Dewangga. Lupa, nggak ada fotonya.🙈 Tapi ingat Bu Yuli, Mas Indra, Mas Donni duduk di bangku depan saya. Nggak ada fotonya juga. Wes malez buka HP kalau kantuk sudah datang😆

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (4): Tidur dan Tidur Lagi

Tagline nya bagus ya. Saya menyambungnya dengan Umroh Happy, (dan) Umroh Lagi 😀 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi Shubuh saya bangun dengan syukur melimpah. Badan saya terasa full energi. Mandi, sholat Shubuh. Bebersih rumah. Masih sempat membuat review artikel, merekam materi perkuliahan, dll gaweyan sampai adik dan ipar saya datang. Mruput mereka karena nggak bisa antar ke bandara; ada arisan trah.

Kami hanya sebentar ngobrol karena urusan arisan trah 100 an orang ya rada rieweuh. Saya njur melanjutkan gaweyan. Karena hari sudah terang, saya bisa pamitan tetangga kiri kanan secara langsung. Kalau umroh harus berangkat jam 03 dini hari, pamitan mung via grup WA. Ya nggak mungkin lah saya gedor rumah orang pagi pagi gulita 😀🙏

Ya ampun, niy rombongan yang satu bus dengan saya jian rajin-rajin. Lha jadwalnya diminta datang jam 11.00; lha jam 10.30 wes lengkap kecuali saya. Hadeuh berasa telat deh. Untung saya datang tepat waktu. Jam 10.55 setelah saya datang dan duduk, bus langsung berangkat ke bandara. Ustadz Faqih sempat menanyakan tentang koper kecil saya. “Memang nggak dibawa.” Jawab saya. “Hanya backpack itu saja?” Tegasnya lagi. Saya mengangguk.

Bersama adik lelaki dan ipar saya di Bandara Soetta, Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sepertinya Ustadz Faqih ingin memastikan bahwa nggak ada barang bawaan saya yang tertinggal. Kalau dia sempat menenteng tas punggung saya itu pasti terasa ringannya (hanya berisi 2 setel baju dan alat mandi minimalis), power bank, topi payung, dan copy berkas identitas. Paling hanya 3 kg dari kapasitas total 12 kg. Sementara ada banyak orang (terutama ibu-ibu) yang bawaannya mbriyut.

Saya termasuk yang sangat praktis membawa barang saat bepergian. 12 hari ya berarti 12 setel baju lengkap dari ujung rambut ke ujung kaki, plus 3 baju tidur, piranti mandi komplit, 2 setel baju cadangan, 2 mukena plus sajadah, sandal, jas hujan, obat-obatan, makanan kering, gantungan baju, dll kruncilan barang perempuan. Dari 30 kg beban koper, hanya terpakai 15 kg. Itu karena saya wes antisipasi, sebab di penerbangan domestik bagasi hanya dapat 20 kg. Kelebihan yo silakan tanggung sendiri. Lumayanlah kalau masih ada 5 kg nggo oleh-oleh nanti. Kalau kurang, masukkan saja ke backpack. Jadi nggak ada cerita koper beranak dan over bagasi.

Bagi mereka yang wes biasa travelling, itung-itungan begitu sudah otomatis terpetakan di kepala. Tambah bagasi, tambah beban, tambah charge. Kalau ketemu modelan kek bandara Vietnam yang nggak mau dibayar pake mata uang apapun kecuali Dong Dong, itu sudah bikin mumet lagi. Tukar tukar uang dulu, lari sana sini pula… Beuuh😆😅

Dan seperti kebiasaan, setelah menyapa kawan duduk saya, sebentar saja duduk di bus langsung tidur. 😂🙈 Bangun sudah dekat YIA. Turun, mider sebentar. Njur saya makan bekal. Lha orang-orang yang datang baru sedikit, masih lama. Wes beberes foto-foto dll masuk bandara dengan syukur melimpah saya. Ya Rabb, saya penuhi panggilan-Mu. Mudahkan semua urusan kami. Kabulkan semua doa kami. Ampunilah semua dosa-dosa kami. Belum berangkat pun, saya wes ndremimil berdoa. Karena kita nggak pernah tahu doa yang mana, di saat apa yang dikabulkan oleh Allah.

Saya, Mas Donni (Mas Dokter), Mas Indra di Emirates untuk penerbangan Jakarta Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nunggu is waiting. Saya bengong bingung mo ngapain. Njur tertidur lagi, sebelum boarding. Alhamdulillah kami dari YIA-YK ke SOETTA- JKT dengan Trans Nusa. Adem. Dapat snack minum. Layanan ramah. Full banget pesawat. Weekend ya. Yang dari Jogja pada pulang Jakarta. Sesuk nyambutgawe.

Sebentar saja wes landing. Jakarta. Wah, senangnya. 12 tahun di Jakarta tentu saya nggak asing dengan bandara ini. Tapi beneran syok dengan perubahannya. Luar biasa. Saya bahkan bingung ketika adik dan ipar saya menanyakan mau jumpa di mana di bandara. Wes saya manut saja dan nanti akan tanya orang. Adik saya bilang di dekat tempat check in Emirates saja.

Iya, penerbangan kami dengan Emirates. Alhamdulillah. Maskapai besar ini kondang sebagai penerbangan dengan full service, full hiburan, full makan minum, dan tentu saja AC nya dingin. Kelas ekonominya pun wes super sekelas Etihad. Apalagi kelas bisnisnya, nyamannya pasti luar biasa. Satu kursi di kelas bisnis itu setara ruang 4-5 kursi di kelas ekonomi. Jadi maklumilah kalau harganya juga 5-10 kali kelas ekonomi.

Umroh kedua saya (tahun 2023) alhamdulillah menggunakan Etihad bisnis, jian nyaman tenan. Versi saya itu tentang mencintai diri sendiri, menghargai hasil kerja keras untuk saya nikmati dengan sukacita. Toh ini untuk perjalanan ibadah, bukan perjalanan aneh-aneh atau maksiat.

Salah satu pramugari Emirates di kelas bisnis. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan memang enak betul di kelas bisnis. Check in wes diuruskan, boarding nggak perlu antri, barang dibawain, tempat duduk luas, tidur nyaman serasa di kasur empuk, selimut hangat, makanan melimpah, layanan hiburan beragam, turun duluan nggak perlu nunggu. Beneran pengalaman yang nggak murah, tapi sungguh menambah syukur saya pada Allah yang Maha Memberi Rezeki ❤

Kalau naik first class nya turun dijemput pake limosin 😀 Saya belum kuat untuk naik first classnya 😁 Ya nanti kalau diberi rezeki berlimpahan, sekali-kali bayar first class biar tambah syukurnya. Beda harga memang beda layanan. Saya bekerja sangat keras, salah satunya biar enteng beli atau bayar ini itu tanpa beribetan dengan hitungan duit. Saya hidup sederhana, tapi urusan mencintai diri sendiri sungguh nggak pernah sederhana.😀

Di penerbangan Emirates dari Jakarta ke Dubai ini saya duduk dengan Mas Donni (Mas Dokter) dan Mas Indra. Karena saya wes capek dan ngantuk banget, begitu menyapa mereka berdua, saya langsung pamitan tidur. Dan beneran tidur pules. Hanya terbangun saat guncangan pesawat karena petir hujan, njur tidur lagi. Bangun lagi wes jelang waktu makan.

Saat itu saya belum tahu kalau dokter yang disebut-sebut di grup kami itu ya Mas Donni yang duduk di samping saya. Saya merasa lebih tenang. Kalau ada kedaruratan soal kesehatan saya, sekurangnya ada yang bisa dimintai instruksi P3K standar dokter. Belum-belum saya merasa betapa sayangnya Allah sama saya. Kesehatan saya nggak prima, di grup wes ada dokternya 🤩 Alhamdulillah.

Besoknya pas sudah sampai di Dubai, Mas Donni cerita kalau nggak bisa tidur di pesawat. Hanya bisa ngelihatin kami (saya dan Mas Indra) di kiri kanan, tidurnya pules bener. Hahaha… maafin kami ya Mas Dokter, yang nggak toleran soal tidur 🤣🙈

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (3): Seberapa Kuat Tekadmu

Kuitansi pembelian paket data umroh dari 3 provider. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah saya bangun pagi nggak sakit. Sarapan, minum obat nyeri, saya memenuhi saran dokter ke RS gigi. Saya ke RSGM UGM. Searah jalan, saya ngurus paket internet umroh. Beuh iki galeri 3Store jian penuh dan CS nya mung siji ndhil. Mbak Cantik itu terlihat sangat cekatan, tapi yo gak bisa cepet. Antri saya 1,5 jam. Sampai di-WA dari RSGM UGM memastikan jam berapa saya datang.

Untung pas giliran saya, cepet urusannya. Beli kartu, pilih paket, registrasi dan aktivasi. Pembelian ini versi saya lebih mudah dan murah daripada aktivasi langsung dari kartu Halo Pascabayar saya. Teman-teman bisa memilih kuota data dan masa berlaku sesuai jenis kartu dan paket yang diinginkan. Karena saya pergi 12 hari, saya memilih paket 15 hari untuk jaga-jaga maju mundur keberangkatan dan kepulangan. Harga dan pilihan beragam, sekitar 350 s/d 750 rb.

Usai beres dan bayar paket internet, saya njur ke RSGM UGM. Dan drama pun dimulai. Daftar, cek periksa awal. Saya syok tensi saya tinggi itu piye to? Lha semalem aja saya 120/80 normal sehingga dokter berani ambil gigi saya yang guncang. Ini mendadak tinggi banget, apa yang salah? Berulang cek hanya turun di kisaran yang masih tergolong tinggi. Beuuh, masalah apa ini!

Masuk ruang dokter gigi, saya disuruh cerita kronologis nya dan dokter bilang kalau tensi tinggi nggak bisa mengambil tindakan. Tapi mau cek cek dulu, dan setelah dapat gambaran gigi saya, dokter minta Rontgen.

Balik lagi, saya harus turun. Antri. Ambil Rontgen njur suruh bayar dulu, baru bisa ambil foto. Membagongkan kenapa nggak ntar aja bayar jadi satu, karena saya masih ada rangkaian tindakan. Ya wes manut bolak balik. Lalu ke ruang dokter lagi.

Dokter gigi cantik ini jelasin kondisi gigi saya yang problematis dan bilang drg umum nggak sanggup, harus ke spesialis bedah mulut. Jadi harus hari Senin s/d Jumat pas mereka praktik. Alhamdulillah, pikir saya. Ntar aja pas lepas umroh.

Saya menceritakan kondisi saya. Dokter setuju dengan rencana saya. Tapi karena tensi saya yang tinggi, beliau merujuk agar saya periksa lagi ke dokter umum dan minta obat. Hiih, gemes saya disuruh minum obat. Saya bilang kalau tensi tinggi itu pasti karena emosi, kemrungsung, takut dengan segala piranti dokter gigi. Karena biasanya tensi saya ya normal bae.

Rujukan dari dokter gigi untuk penanganan tensi dan bedah mulut dari RSGM UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dokter bersikeras, karena dengan tensi setinggi itu mestinya saya wes pusing berat, badan nggak keruan rasanya, nggak bisa jalan, nggak bisa lihat, panas, demam atau lain lain kondisi kegawatan. Lha saya masih teges saja, enteng bicara, langkah ringan; dokter bilang malah curiga dan khawatir penyakit lainnya.

Saya nggak mungkin debat sama dokter, akhirnya yo wes periksa ulang dan dikasih obat penurun tensi. Sudah saya ambil juga. Masalah saya minum atau enggak, yo nanti saya pikir lagi. Kayaknya saya perlu alat tensi biar nggak beribetan begitu.

Pulang dari RSGM UGM wes sore, hujan deras pula. Baru saya berasa laper. Mampir Mirota Kampus beli botol spray untuk isian air zamzam saat di Baitullah, biar muka tangan kaki bisa disemprot terus menerus dengan air zamzam dan nggak kering sepanjang musim “dingin”.

Njur melipir makan sekenyangnya baru pulang. Mail ponakan saya mo datang, tapi saya larang karena saya capek banget; dan pinginnya mandi, sholat njur tidur. Dan itu yang saya lakukan. Sungguh baru kali ini, kurang dari 24 jam mo berangkat umroh saya masih berkeliaran di luar rumah. Untuk urusan yang nggak terprediksi.

Beruntung besok itu umrohnya berangkat siang. Nggak kemrungsung esuk-esuk gelap. Jadi lebih entenglah nggak buru-buru.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari