Soul Conference 10 (SC10) [3]: Konferensi atau Reuni?

Salah satu sisi depan tempat SC10 yang banyak dipake untuk foto-foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Usai makan siang, kami ke Hotel Ast*n tempat konferensi. Turun dari bus, saya mulai menangkap “kekurangberesan” layanan hotel ini. Sudah jelas 3 hari dipakai penuh untuk acara SC10 dengan lebih kurang 550 orang (500 peserta, 50 tim kru internal SC10 dll pendukung, cmiiw), kamar-kamar penuh dipakai peserta SC10, lhah kok nggak ada 1 pun petugas hotel di lobi atau sisi depan yang manggakke (menerima tamu) kami.

Jangan salah paham, saya (dkk Soul lain yang datang) jelas nggak harus disambut; tapi untuk hotel (sing nganggo bintang lebih dari 3) itu bagian standar layanan yang nggak boleh ditinggalkan. Dan saya (juga beberapa kawan dari Jogja) malah kudu nanya-nanya sendiri ke sesama teman Soul Com daerah lain yang sudah duluan datang, di mana tempat registrasinya.

…dengan Bu Iin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedua, untuk kegiatan sebesar SC10 yang semua urusan tempat-makan-minum-snack-kamar kayak diborongkan ke Ast*n; bisa-bisanya mikrophone, pengeras suara bolak-balik error; nggak bisa dipake, sering mati. Petugasnya kurang training po itu? Atau kalau memang wes rusak nggak bagus, ya dibeliin baru dong.

Ketiga, snack box nya jian nggak bikin orang teringat selain ketidakseriusan mengurusinya. Kotak terlalu besar untuk isian yang nggak penuh. Mbokya tuku dus yang lebih pas dengan isinya. Terus nggak ada air mineralnya, hiiszh piye toh iki? Selain itu ada 1 atau 2 sesi, peserta nggak terima snack box pas acara karena keterlambatan datang. Kuy yang bertanggung jawab ngurus lagi bobok-bobok cantik po?

... dengan Pak Gede. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keempat, nasi box dengan beragam isian; bisa-bisanya dikasih buah macam pir besar ngglundhung yang nggak dikupas. Dikira kita mongki yang bisa makan buah sekulitnya? 😂Dik Hana sampai bawa tuh buah pirnya balik ke Wonosobo. “Ntar mau aku lelang, Mbak. Buah pir paling mahal. Itung aja berapa biaya aku dari Wonosobo ke Banyuwangi.” Sungguh truwelu, mbokya mikir to itu bagian katering. Kalau apel, kayaknya masih masuk akal. Kita biasa makan apel sekulitnya dengan mencuci bersih. Lhah buah pir? Ampun….

Kelima, saya terganggu ketika petugas nggak dengan cepat menunjukkan cara praktis ke mushola. Saya tahu di hotel ini naik turun lift pakai card (yang hanya bisa diberikan pada tamu kamar hotel), tapi mosok ke mushola nggak bisa dibantu pakai card petugas untuk naik turun? Pakai tangga cuy….🤣 Beuuh, musholanya di lantai 2 yang karena gelap, tersembunyi dan sepi, malah bikin deg-degan. Usai sholat saya wes langsung kabur turun😂

...dengan Pak Agung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keenam, kekurangsopanan petugas resto. Saat saya makan dengan Bu Nyoman, di depan saya ada sepasang suami istri sudah sepuh (peserta SC10 juga, tapi saya lupa dari mana). Ya karena makan di meja situ ada sendok garpu dan nasi box sendoknya plastik, beliau berdua hendak menggunakan sendok garpu. Dan apa yang terjadi? Seseorang langsung menegurnya dan hendak mengambil paksa sendok garpu itu. “Bu jangan pakai, itu punya resto! Sendok makan ada di dus!” serunya dengan nada cukup tinggi.

Saya langsung menyeru, “Pinjem dulu itu, Mbak. Nanti dikembalikan.” Lalu si petugas entah ngomong apa, terus pergi. “Pakai aja, Bu, Bapak. Nanti biar dicuci.” Ya ampun, itu lho sendok garpu punya resto (yang juga ada di hotel) dan jelas bisa dicuci nggak akan dicolong pula…

...dengan Bu Adek. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketujuh, saya nggak tahu manajemen karyawan hotel. Setiap kali saya ke toilet itu ada 4 atau 5 (kadang lebih) karyawan hotel yang entah ngapain bergerombol di depan toilet. Pakai ribet rame ngerumpi pula. 🤣 Astaga, manajemen nya piye itu kok sampai ada banyak karyawan bisa thenguk-thenguk di jam kerja dan terang-terangan di depan peserta tamu; yang notabenenya pakai bayar layanan hotel. Btw, itu yang saya alami saja yes. Mungkin Teman-teman lain beda pengalaman nya.

Sekarang balik ke SC10 nya. Usai registrasi, terima logistik konferensi; saya mulai mider cari temen-temen yang saya kenali. Iya dong, masa enggak? Satu per satu ketemulah. Dengan Mbak Rina, Pak Gede, Bu Iin, Pak Agung, Bu Adek, Bu Pingky (alias Bu Eni Mariam 🙏), dkk lainnya.

...dengan Bu Pingky. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pokokmen konferensi untuk belajar dan bebersih hati jiwa itu ya penting, tapi kayaknya lebih penting reuninya… 😁😂 Ketemu temen-temen dan bisa ngelihat mereka baik-baik saja, ngobrol, foto-foto; haha hihi nggak jelas ngerumpi ngalor ngidul… Maafkan saya sajalah, Bunda Arsaningsih; kalau niatnya datang ke konferensi ada belak-belok nya dikit 😂🙏

Terus usai foto-foto saya wes duduk manis seperti arahan panitia SC10. Jan-jane ini tempat duduk saya kok nggak strategis gini ya? Di tepi pinggir sisi depan, nggak di sisi tengah yang biasanya dipake narasumber lewat sebelum ke panggung; termasuk Bunda Arsaningsih. Biar bisa foto-foto cepat 😂 Lha tenan to Bunda Arsaningsih dll narasumber lewatnya jalur tengah. Ah sudahlah, nanti juga jumpa. 😀🙏

...dengan Mbak Rina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Acara wes mulai dengan prapembukaan, nyanyi-nyanyi, tarian, sambutan-sambutan, njur sambutan Wakil Bupati Banyuwangi. Biyuu, nyadar juga beliau kalau mikrophone bermasalah. Wes ben kalau beliau yang protes mestinya direspon. Karena di hari kedua (cmiiw) kayaknya Bunda Arsaningsih cerita kalau tim SC10 sudah meminta membereskan urusan itu, tapi nggak ada respon. Baru setelah Pak Wabup yang nyebut baru direspon.😂😁 Kadang kita perlu membiarkan saja masalah untuk selesai dengan sendirinya (lewat orang lain, atau jalan lain).

Pak Wabup ini mengulas banyak tentang kemajuan Banyuwangi. Ya, kota ini meraih penghargaan beragam untuk urusan pemerintahan dan pariwisata. Dengan tagline Banyuwangi Njenggirat Tangi. Lah, njenggirat tangi itu bukannya kaget, terkejut? Seperti orang tidur dikagetin gitulah njur njenggirat tangi 😂😁🙈

...dengan teman-teman Soul Com Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

...Teman-teman Soul Com Joglosemar, yang belum semuanya saya hafal namanya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Duuh, saya kok langsung ketawa tapi takut dosa gitu ya.🙈 Kalau maksudnya bangkit semangat berjuang berkarya, kenapa nggak pake Gumregah Bangun Jiwa? Haizzh, kenapa saya yang malah mikirin slogannya orang Banyuwangi siy? 😁😂

Setelah itu yang sharing Pak Ganjar Pranowo. Ulasannya tentang pentingnya mendengarkan dan didengarkan. Iyes, nggak setiap kita lho bisa atau mau “mendengarkan” dan banyak dari kita yang bahkan sering merasa nggak “didengarkan”. Hayo ngaku…. 😂 Kalau di Soul kayaknya semua bisa mendengarkan dan pasti didengarkan asal berada pada waktu, tempat, dan dengan orang yang tepat.

...dengan teman-teman yang random asal daerah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pak GP lebih banyak mengulas sisi kesehatan mental dengan kedua hal itu. Yach, memang siy kadang masalah kita seberat apapun itu bisa selesai dengan sendirinya kalau “didengarkan” karena kita hanya perlu merasa “diterima”, “dimengerti”, “dipahami”, dan “didukung”; sekaligus kesadaran riil bahwa kita nggak sendirian. Ada lho orang yang bisa support.

Begitulah. Kemudian sesi foto-foto dan bagi-bagi souvenir. Setelah itu kayaknya Pak Wabup dan Pak GP njur meninggalkan ruangan. Nah tenan to, karena saya duduk di pinggiran gitu nggak bisa salaman atau foto dengan keduanya. Wes malez juga saya bergerak ngejar mereka. Di tengah kerumunan orang yang juga pasti mau foto-foto dan salaman😂🙈

Setelah itu apa ya acaranya? Bagi-bagi doorprize siy kayaknya. Ada nyanyi-nyanyi dan joget juga. Lupa saya detailnya. Tapi acara hari pertama ini sampai malem. Nah malemnya itu ngapain aja ya kami? Sik saya inget-inget dulu lah. 😂😁

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Soul Conference 10 (SC10) [2]: Kesejenisan yang Indah

Sebagian dari Soul Com Jogja, usai makan siang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Jujurly, hari berangkat ke Banyuwangi itu saya beneran lelah. Pagi ke kampus dengan ragaman gaweyan yang tahu-tahu saja sudah Dhuhur. Saya langsung pergi dengan beberapa gaweyan yang jadi pe-er.

Sampai rumah beberes dan packing, mandi, sholat njur berangkat. Untung saya wes biasa pergi, jadi packing cepat dan praktis. Nggak sampai sejam wes rampung untuk pergi 5 hari.

Saat sampai SPBU Adisutjipto depan Lombok Ijo itu saya sempat telpon Mas Robert memastikan pick up saya. Lho ternyata SPBU bandara, saya salah ambil titik mobil online. Ya wes tinggal nambah charge saja. Sesampai di sini saya makan minum di gerai donat dan beli bakpao untuk bekal.

Nggak lama dari itu, bus rombongan sudah datang. Kalau kita ketemu teman-teman Soul Com itu auranya memang beda ya. Adem dan menenangkan. Saya menyalami dan menyapa semuanya, tapi beneran nggak semua nama saya ingat. Ketahuan saya anggota Soul yang nggak rajin ke center buat meditasi bersama 😂🙈🙏

Begitu di bus saya celingak-celinguk nyariin si Zaka, kawan saya pas S-2 di UGM, katanya ikut kok nggak kelihatan batang hidungnya. Bu Rai bilang dia masih di Samarinda dan akan nyusul besok. Ooh begitu. Saya pun ngobrol beberapa hal dengan Bu Rai dan Mbak Ririn. Setelah beberapa waktu, pamitan tidur.

Wajah-wajah semangat mo belajar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak ingat berapa kali bus berhenti, tapi sadar pas di rest area Surabaya. Makan malam. Ya ampun, saya ki pingin makan ayam KFC tapi kok ada yang dumeling (seperti muncul di hati); aah nanti di SC10 juga dapat, ngapain beli. Di sini ayamnya kecil-kecil, mahal pula😂 Akhirnya saya belok arah, makan bakso komplit sekenyangnya. Saya duduk dengan Bu Nyoman yang makan pecel (cmiiw).🙏

Dan ya, Subhanallah hari 1, hari 2, makan di hotel Aston tentu nggak ada ayam KFC. Lhah pas di Djawatan jeeng-jeeng…., dibagikan makan nasi box. Lho tenan ayam KFC dengan nasi sauprit (kecil), sementara ayam crispynya segede gaban 😂 Saya pas dapat 2 potong lagi. Puas betul rasanya… 😋🥰

Jadi beneran lho kalau hati kita pas bersih tuh, keinginan kita pun kayak langsung “dikasih tahu” ini baik, itu buruk, jangan begini, ikut itu saja, dll. Dan dari pengalaman saya hampir 7 tahun mengenal Soul, itu sudah berulang kali terjadi. 🥰

Sepanjang jalan saya lebih banyak tidur. Terbangun lagi di rest area sebelum masuk hutan Situbondo, dan tahu-tahu sudah sampai villa tempat kami menginap. Jadi, maafkan kalau saya nggak bisa cerita banyak tentang perjalanan saat berangkat. Meskipun rerame teman-teman cerita, saya tetap tidur dan nggak tahu mereka ngobrol apa saja.

Alhamdulillah. Villanya luas dan bersih. Saya satu kamar dengan Dik Hana. Beuh dia ini perjuangannya lebih banyak. Dari Wonosobo ke Jogja, lalu berangkat bersama rombongan ke Banyuwangi. Begitu sampai hotel saya beberes mandi, ganti pakaian tidur. Usai Shubuh, saya terkapar lagi: tidur.

Oh ya, untuk Teman-teman Muslim yang ikut acara Soul, karena ini lintas agama lintas budaya; silakan atur urus sendiri waktu sholatmu. Saya biasanya memanfaatkan keringanan ibadah saat perjalanan. Kalau ketemu masjid bagus dan bisa sholat jamak (gabung Dhuhur Ashar atau Maghrib Isya) ya saya lakukan. Tapi kalau nggak kondusif, biasanya saya sholat di kendaraan. Begitupun dengan Shubuh, pokoknya di manapun tetaplah terhubung dengan Tuhan sesuai agama dan kepercayaanmu masing-masing.

Saya tidur sampai matahari benderang. Oh ya, kamar saya cukup luas. Standar hotel bintang 3. AC, air panas dingin, wifi, air minum, teko pemasak air, dll cukup komplet. Cuman nggak ada peralatan mandi. Saya karena wes bawa, nggak ribet lagi soal itu. Dan terimakasih Mas Robert, Mbak Tika yang sudah nyariin kami villa bagus tur murah.😀

Lontong kupang yang kelihatannya enak dan full kerang, tapi nggak bisa saya makan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi itu kami wes diopyaki sarapan oleh Mbak Rischa dan itu bikin saya bengong. Kan acara jam 14 an nanti, kenapa heboh betul pagi-pagi? Oh iya, ibu-ibu biasa pagi-pagi sibuk siap-siap kerja, masak, nyiapin anak sekolah, nganterin pula. Jadi wes jelas biasa bangun pagi-pagi.

Saya turun makan dengan Dik Hana. Tapi masih dengan setengah nyawa saya. Ya Allah, kok masih lelah ya. Usai sarapan saya naik ke kamar lagi (kamar saya di lantai 2). Niat tidur lewat karena cerita-cerita dengan Dik Hana. Ya pengalaman spiritual setiap orang beda. Alasan bergabung ke Soul pun beragam. Tapi kesejenisannya adalah memperbaiki diri untuk hidup sehat tenang damai sejahtera, kembali kepada Tuhan dengan sempurna.

Jam 12 an kami diminta siap-siap; karena harus makan dulu sebelum ke acara. Saya wes sadar diri gakbawa kaos Soul is Solution karena itu di Tulungagung dan nggak sempat pulang ambil. Saya wes niat saja pakai kaos putih celana merah. Praktis. Tenang, nggak diusir kok nggak pake kaos Soul. Mung beda aja sama kawan-kawan lainnya.

Pas mau keluar lha kok Mbak Rischa ngaruhke. “Mbak kaosmu neng ndi?” “Di Tulungagung nggak sempat ambil.” “Pakai kaosku aja! Sik, tapi ukurane muat ora? Coba ya.” Dia terus ke kamar dan langsung balik bawa kaos Soul. Diberikan pada saya dan langsung saya rangkap saja begitu. Agak ketat, tapi ya wes ben.

Dia bilang selain bawa 2 kaos, juga bawa 2 jaket dan kepake semua. Jaketnya dipinjamkan Bu Ririn, kaosnya dipinjamkan ke saya. Terniyaaat😂😅 Maturnuwun ya, Mbak.. Tapi ya itu hal biasa di Soul. Orang orang yang penuh kasih sayang, saling membantu, saling berbagi, saling memberi, saling support.

Pokokmen kalau jiwamu nggak penuh kasih dan senang berbagi, sebentar aja pasti ketendang sendiri dari Soul, ya karena nggak sejenis. Nggak satu frekuensi, beda channel. Kalau nggak satu frekuensi kan pasti nggak nyambung. Burung-burung aja selalu terbang dengan kawanannya. Serupa betul, meskipun sebenarnya nggak sama. Di Soul pun begitu. Orangnya beda-beda, fisiknya beragam, tapi jiwanya setipe; satu model kebaikan untuk semesta.

Kami makan siang di foodcourt dengan aneka makanan. Salah satunya lontong kupang. Di Surabaya saya makan jenis olahan ini dan senang karena enak. Bumbunya banyak, isian nya udang kecil-kecil yang melimpah. Bayangan itu yang bikin saya memesan di sini. Bhadalah Gusti Allah, nggak sesuai impian saya. Isinya kerang-kerang (selain saya rada paranoid karena pernah keracunan kerang); sungguh ini versi saya, amis, kotor, dan kalau saya paksa teruskan mencium aromanya bae wes bikin mual; maafkan🙏

Jadi saya sorongkan ke tengah meja setelah saya makan lontongnya. Mider keliling mo pesan (indo)mie goreng atau rebus saja. Ndilalah bakule wes gakmau melayani. Ya ampun, akhirnya saya membeli jajanan itu ini yang sekira berat cukup untuk mengisi perut. Yach begitulah, ada yang nggak berkenan di hati saya. Makanya hitung SM saya pas ke SC10 ini nggak sempurna 10, karena ada beberapa hal yang bolong.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Soul Conference 10, Banyuwangi (SC10) [1]: Antara Iya Atau Enggak

Saya kebagian duduk paling belakang di bus; dengan Bu Ririn, Mbak Fefti, dan Bu Rai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin “nggak nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Saya lupa bulan apa melihat pengumuman SC10 di Banyuwangi, 5-7 Desember 2025. Waktu itu saya langsung nanya Mbak Rina, tentang syarat apakah harus member SDP (Soul Development Program); karena tahun sebelumnya saya nggak bisa ikut SC9 gegara tagline khusus anggota SDP itu jelas-jelas ada di program SC9 di Jakarta.

Agak lama nggak mendapatkan respon karena kesibukan Mbak Rina, di bulan Oktober saya mendapat info detail tentang SC10 di Banyuwangi; termasuk urusan daftar dan bayar. Saya berhitung cepat, biaya SC10 itu per orang 5,5 juta (IDR) non akomodasi dan transport. Kalau acara 3 hari, saya harus menghitung 5 hari (tambahan 1 hari berangkat, 1 hari pulang) PP dari Jogja Banyuwangi. Berhitung praktis, charge hotel, akomodasi, jajan, tiket wisata, transport lokal, oleh-oleh, dll. itu perlu uang min 10-12 juta. Mahal atau murah? Relatif untuk tiap orang. Mereka yang sudah berada di Soul Com biasanya sudah nyiapin dari awal tahun.

Dan versi saya, kalaupun nanti totalnya sekira 12 juta; itu jadi berasa kecil dibandingkan manfaatnya untuk kesehatan mental, hati, dan jiwa. Daripada kamu stres depresi bolak-balik ke layanan medis psikis; konsultasi, suruh cerita berulang-ulang masalahmu (tapi nggak beres-beres juga) lebih bagus ikut SC aja. Nggak usah cerita-ceriti, tahu-tahu beres masalahmu. Jiwamu langsung tenang damai lah, cieeee…. 😀🥰 Cuman ya syarat untuk ikut SC sekurangnya kudu sudah ikut WSM (Workshop Soul Meter).

Makanya Pak Ganjar Pranowo (Pak GP, mantan capres, mantan ketum Kagama) meski jadi pembicara di acara SC10 ini pun, nggak bisa ikut SC10 karena belum WSM. WSM dulu aja, Pak GP; biar tahun depan bisa ikutan SC11… hehe… biar saya bisa foto bareng-lah, Pak GP. Tahun ini saya nggak ikutan foto dengan beliau di SC10, gegara posisi jauh dan malez pulalah mengejar beliau yang langkah kaki panjang-panjang itu😂

Sampai Pak Agung (suami Bu Adek) pas sore atau malemnya di SC10 itu nanyain lepas Pak GP pergi, “Ari tadi kamu sudah foto sama Pak GP?” “Enggak, belom, Pak.” …begini begitu, saya ngelez menjawab pertanyaan Pak Agung dan (mungkin) rasa penasarannya; karena banyak yang minta foto sama Pak GP.

Saya siy cuek bebek, kalau lagi malez foto ya mager bae meskipun ada publik figur. Eh, tapi Pak GP bukanlah sosok asing untuk warga Kagama. Saya kan yo pernah satu frame dengan beliau pas ngisi workshop penulisan untuk Maba UGM dan peluncuran buku baru warga Kagama; tapi wes lali tahun berapa. Yach pokoknya pas beliau masih jadi Ketum Kagama. 😂🙏

Elok tenan kan program-program Soul Bunda Arsaningsih ini. Siapapun ya kudu patuh aturan dan prosedurnya. Nggak bisa instan. Proses bertumbuh itu kudu dilakoni dengan sabar, setahap demi setahap. Versi saya 5,5 juta itu, alhamdulillah kok jadi berasa enteng bae.

Oktober beneran bulan yang supersibuk untuk saya. Berasa habis tenan energi saya saat itu. Untungnya semua happy jadi nggak terlalu berasa capeknya. Wakatobi, Kendari, Surabaya, Gresik-Tuban, Lamongan-Bojonegoro, Tulungagung, Purworejo. Ada yang dolan, tapi gaweyannya lebih banyak berurusan dengan buku, film, dll proyek penulisan. Ada juga seminar akademis urusan kampus.

Full tenan aktivitasnya, sampai saya serasa lupa kalau jadi “dosen” di kampus offline; saking semua pembelajaran satu bulan itu nyaris online. Pun masalah kesehatan sempat bikin saya ragu, berangkat atau enggak ke SC10 ini. Daftar sekarang atau nanti sepulang umroh.

Di awal November, saya mikir serius soal SC10 ini. Itu pas saya melatih dan mendampingi penulisan buku referensi untuk dosen-dosen Teknik Informatika, Teknik Industri UII, Jogja. Rencana program 2 hari, saya minta dipangkas saja 1 hari full day pagi sampai sore. Untung lah pekerjaan kek gini menyenangkan. Happy-happy aja saya.

Kami Soul Com Joglosemar yang ikut bus ke Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Balik lagi saya mikirin SC10 tadi. Duit untuk program SC10, alhamdulillah ada. Kalau saya daftar dan bayar, ntar meskipun badan rada riwil dikit (batpil, flu ringan, atau lainnya), saya pasti tetap akan berangkat. Kalau nggak bayar, bisa jadi ada aja alasannya untuk nggak berangkat. Hitung SM (Soul Meter) kok tinggi, ya wes langsung bayar. Jian saya memang rada malez kalau ngisi-ngisi form. Mbak Rina yang isikan ini itu sesuai data saya; dan saya tinggal minta no rek untuk bayar. Beres sudah. Bismillah, saya datang ke SC10 untuk bersih hati, bersih jiwa, lebih sehat fisik mental, bahagia lahir batin, selamat dunia akhirat. Amiin YRA.

Dan waah, Soul Com Joglosemar yang berangkat ke SC10 lumayan banyak. Jadi ada Mas Robert yang sukarela dan baik sekali koordinir urusan villa dan transport. Wes nggak pake mikir, saya bilang ikut dan bayar. Berapa ya iurannya? Lupa persisnya, sekira 2 juta saja untuk 3 hari nginap, pp transport Jogja-Banyuwangi, dan wira wiri transport lokal Banyuwangi, termasuk beberapa kali sarapan. Alhamdulillah, budget saya turah banyak. Aman jiwa tenang hati kalau pergi dolan sangunya banyak 😀🙏 Sekarang saya tinggal fokus nyiapin urusan berangkat umroh.

Sampai akhirnya, kesehatan saya sempat drop rada payah. Drama sebelum umroh dan perjalanannya sudah saya catat di Umroh Istimewa, silakan aja lihat dan baca di blog arikinoysan.com ini. Teman-teman juga bisa follow sosmed saya di IG/Twitter/Thread @arikinoysan atau FB Ari Kinoysan Wulandari. Mana saja yang gampang diakses.

Pulang umroh dengan segala pengalaman barunya, saya masih sehat penuh. Tapi 2 hari kemudian, sekitar tanggal 25 November saya beneran ambruk. Dokter sudah keras betul meminta agar saya istirahat, ora pecicilan dolan ke medan-medan berat yang menguras energi. Iyo, saya patuh saja disuruh istirahat, minum obat, vitamin, sempat infus juga, terapi infra red, bekam, pijat, dan nggak dolan…

Hehe… ya pas nggak ada jadwal ke luar kota. Yang saya pikir niy, sekira 7 harian lagi saya wes sehat, bisa ke Banyuwangi jalan darat jauh gitu atau terpaksa absen? Beuuh, gaweyan kampus ya sebajeek banyaknya jelang akhir semester. Jadi saya sedang recovery, tetap kudu ke kampus beberes gaweyan.

Alhamdulillah, awal Desember saya ke dokter wes boleh aktivitas, jangan porsir energi. Tentu saya iyain aja, tapi di SC ya nggak mungkin diem-dieman mager. Jalan, gerak, joget, wirawiri wisata alam. Lha piye, sehat fisik mental itu kuncinya badan kudu aktif gerak😂😁🙏

Dan finally, alhamdulillah saya berangkat ke SC10 Banyuwangi. Ngepos dulu di SPBU Bandara Adisutjipto, jajan donat dan minuman panas dong. Lha hujan kok saat saya berangkat itu. Meskipun wes kenyang, saya kok ya masih laper mulut, pake beli bakpao menul-menul di depan gerai donat. Doyan jajan gitu kok mau langsing, piye ceritanya to Ri, Ari 😆😂

Oke, Teman-teman Soulmates, Soul Com, dkk lainnya; ikuti serunya acara SC10 Banyuwangi secara bersambung lewat tulisan di blog saya ini nggih. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (20) Tamat: Alhamdulillah. Terimakasih, Dewangga…

Warmindo seberang hotel tempat kami menginap di Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas nungguin bus yang akan membawa kami ke hotel, saya rerasan sama Mas Indra dan Mas Donni mo makan (indo)mie rebus yang panas dengan minuman panas. Sebenarnya kami juga diberi nasi box siang itu, tapi saya dengan beberapa jamaah langsung kasih aja ke petugas kebersihan bandara. Perut masih kenyang, tapi (ngidam) masakan warmindo.

Di bandara jelas nggak ada warmindo. Kami juga nggak tahu di sekitar hotel ada atau enggak. Ya nanti dicari. Ealah, syukur alhamdulillah itu warmindo cuman di samping seberang hotel. Mas Donni ngajak makan abiz mandi aja. Lhah kalau usai bebersih badan saya pasti wes milih tidur daripada keluar kamar. Mas Indra ngikut aja. Kami pergi sebelum masuk kamar, setelah memastikan barang-barang aman.

“Mbak Ari tahu tempatnya?” tanya Mas Donni. “Itu lho di seberang.” Cuman karena gelap dan kayaknya mereka berdua nggak yakin, saya memastikan ke satpam dan ditunjukkan di seberang. Pas bus belok ke hotel tadi, saya wes lihat lokasi warmindo 😂 Ya ampun, kalau identifikasi, menandai sesuatu di daerah asing, itu termasuk keahlian saya😀 Kalau solo travelling di manapun, selain maps saya juga menandai tempat dengan beragam hal yang cepat saya ingat; toko, rumah bentuk tertentu, tempat makan, masjid, sekolah, SPBU, pasar dll. yang mudah dikenali. Kadang saya potret juga untuk jaga-jaga kalau hilang arah.

Usai sarapan di lobi hotel, Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya pesan mie rebus dan minuman jeruk panas. Ya ampun, serindu itu saya sama makanan paling enak sedunia 😁🙈 Rekor 12 hari nggak makan mie instan. Eh enggak ding, saya ada sekali makan (pop)mie di Madinah. Lagi lagi Mas Donni nggak mau saya ikut bayar. Mas Indra bilang, “Nggak apa apa, Mbak. Duit dia banyak kok.” 😀😂 Lha iya dokter kepala RS kalau nggak ada duit malah aneh. Maturnuwun Mas Dokter 😁👏 Dan saya yo tetap seperti biasa, taruh uang tersendiri seharga makan minum, besoknya pindah ke tangan OB bandara yang saya anggap memerlukan. Wes kebiasaan begitu.

Pas kami balik ke hotel, Mas Donni bilang kalau wrapping kami sudah dibongkar; karena Bu Nunu/Bu Neli salah ambil packingan. Jadi tas kami berdua ada di kamar Bu Nunu. Saya ke kamar Bu Nunu ambil backpack. Baru deh saya mandi. Bu Yuli bilang ada urusan (entah apa, saya lupa) ke tempat Bu Nunu. Saya bilang nanti telpon aja kalau udah balik, karena kartu hanya satu.

Setelah itu saya sholat, berdoa, dan langsung tidur pules. Wes nggak dengar apa-apa. Terbangun jam dua pagi, saya langsung panik menyadari bed di samping saya kosong. Berusaha mengingat, lah Bu Yuli ke mana? Saya ambil HP nggak ada WA atau rekam panggilan. Hadeuh, ya ampun pasti saya nggak dengar bel pintu. Saya langsung WA Bu Yuli dan memintanya balik. Khawatir kalau dia nggak nyaman berdempetan tidur bertiga di kamar Bu Nunu.

Di bus dari hotel ke bandara Soetta untuk terbang je YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas sudah balik ke kamar Bu Yuli baru cerita kalau Bu Neli pergi ke Parung. Kakaknya meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Ndherek bela sungkawa, Bu Neli. Jadi dia bisa tidur di bed Bu Neli. Katanya dia sempat ngebel tapi nggak ada sahutan dan memilih tidur di kamar Bu Nunu daripada membangunkan saya. 😀🙏

Malam itu kami juga terima makan lagi berupa nasi box dan air mineral. Sama Ustadz Faqih diminta menerima semua. Nasi saya nggak kemakan, tapi Bu Yuli makan pas malam. Kami masih tidur lagi sampai Shubuh. Beberes dan sarapan di hotel. Usai itu saya thenguk-thenguk di lobi hotel. Ada yang foto foto. Ada yang ngobrol. Ada yang warawiri. Ada yang duduk-duduk. Kami menunggu bus yang akan membawa ke bandara.

Setelah beres kami pun terbang dengan Pelita Air menuju YIA. Di sini saya duduk dengan Bu Sida dan suaminya. Mas Donni dan Mas Indra embuh di mana, mungkin di kursi belakang. Sebentar saja kami sudah sampai YIA. Jogja tercinta 😀 Alhamdulillah. Sambil menunggu bagasi dan air Zam-Zam kami masih menerima lagi nasi box dan air mineral. Sebagian ada yang langsung makan. Sebagian sibuk mencari bagasi dan keluarganya. Sebagian ada yang langsung pulang karena sudah dijemput. Sebagian masih menunggu. Sebagian pelukan dan salam salaman sebelum pulang.

Saya dan Bu Yuli di Soetta sebelum terbang ke YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ya ampun, kayak bestie aja mereka berdua (Mas Indra, Mas Donni) tahu tahu nongol saat saya dan Bu Yuli mau photo 😀 Ini di Soetta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya, Bu Sida dan suaminya, Mas Indra termasuk yang ikut bus arah kantor Dewangga. Dan saya ternyata datang paling akhir, pun pulang paling akhir. Mail yang ikut jemput saya bilang, “Jalanannya macet, Bude. Mobil-mobil antri panjang banget.” Iya, Jakal sungguh nggak terkendali perkembangannya. Alhamdulillah. Usai makan malam, saya dibantu Mail langsung membagikan oleh-oleh umroh yang sudah disiapkan sebelumnya; untuk tetangga kiri kanan. Biar nggak ada tanggungan pikiran.

Terimakasih ya Allah atas segala berkat karunia-Mu; sepanjang perjalanan umroh berangkat hingga kembali ke Tanah Air dengan sehat, selamat nggak ada kurang apapun. Ya Rasulullah, kami mohon syafaatmu kelak di hari Kiamat.

Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada Dewangga dan kru yang sudah dengan sangat baik dan profesional mengurus perjalanan umroh ini. Sejak urusan administrasi, pembiayaan, keberangkatan dan kepulangan, makan dan snack yang luar biasa banyak, hotel yang dekat masjid dan nyaman, TL dan kru yang semuanya profesional-ramah-helpfull, destinasi yang lumayan padat tapi tetap bisa bernafas, manajemen ibadah yang baik, pengantaran dan penjemputan jamaah dari kantor ke bandara pp, dokumentasi, handling bandara dan imigrasi, dll yang superbaik. Tentu ada kurang begini begitu, karena banyak orang dengan kondisi yang berbeda-beda.

Saya, Bu Sida dan suaminya di Pelita Air menuju YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebagian dari kami di YIA sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh untuk skoring 0-10, boleh saya memberi nilai 8.5 ya… Jadi untuk Teman-teman yang cari rekomendasi biro travel umroh, monggo tenang saja kalau memilih Dewangga. Saya nggak sedang mengendorse; karena ini umroh bayar mandiri dan hanya menceritakan pengalaman riil. Selain untuk mencatatkan jejak perjalanan dan kenangan, syukur-syukur kalau ada yang baca dan belum umroh, bisa tergerak hatinya untuk segera berangkat. 😀

Terimakasih untuk Ustadz Faqih yang menemani kami dari berangkat sampai pulang dengan baik, sabar, dan sangat membantu. Juga untuk Ustadz Gilang yang menemani kami selama di Madinah dan Mekkah. Terimakasih untuk Teman-teman yang baik selama perjalanan: Bu Yuli kawan sekamar saya di Jakarta, Dubai, dan Turki. Bu Yaya, Bu Prapti, Bu Sida kawan sekamar saya di Madinah dan Mekkah. Kawan-kawan lain yang banyak berinteraksi; Bu Neli, Bu Nunu, Mas Indra, Mas Donni, dkk lainnya yang nggak bisa saya sebutkan satu persatu.

Terimakasih telah mewarnai perjalanan umroh kali ini. Sehat dan happy selalu, banyak rezeki berkah dan panjang umur; hingga bisa umroh lagi di lain kesempatan. Mohon maaf lahir dan batin bila ada ucapan, tindakan atau bahkan salah catatan saya di blog ini 🙏Catatan umroh istimewa saya cukupkan sampai di sini. Sampai jumpa lagi di kisah-kisah perjalanan lainnya. Berikutnya nanti akan saya catat keseruan Soul Conference 10 di Banyuwangi. Terimakasih.

Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (19): Ke Dubai (Lagi)?

Antrian check in di bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak terlalu perhatian pada rute perjalanan pulang. Saya kira dari Jeddah (King Abdul Aziz Int Airport) langsung ke Jakarta (Soekarno Hatta Int Airport). Lho ternyata rutenya nggak begitu. Berangkat pake Emirates ya baliknya pun pakai maskapai yang sama. Dari Jeddah ke Dubai dulu. Baru nanti transit beberapa jam njur terbang ke Jakarta.

Oalah, baru mudeng saya. Lha kok ya buang-buang waktu. Eits tapi pp dengan maskapai yang sama biasanya memang cukup ngirit banyak dibandingkan beda maskapai. Yo weslah wong tinggal pulang bae. Yang penting sehat, selamat, aman nyaman sampai tujuan.

Kami meninggalkan Garuda Resto di Mekkah yang menjadi persinggahan rasa rindu pada masakan Nusantara. Rombongan bergerak menuju bus yang telah menunggu. Kota Mekkah masih terasa hangat, baik oleh cuaca maupun oleh perasaan. Semacam campuran antara lelah, haru, dan syukur setelah rangkaian ibadah yang panjang.

Bus melaju meninggalkan Mekkah menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Jalanan membentang lurus, diapit gurun yang sunyi. Di dalam bus, suasana lebih tenang dari biasanya. Sebagian tertidur, sebagian lagi memandangi jalan sambil menyimpan kenangan, mungkin juga doa-doa yang telah dipanjatkan di Tanah Suci. Perjalanan darat itu menjadi semacam jeda: peralihan dari ruang spiritual menuju rutinitas perjalanan panjang.

Ya ampun, nggak sengaja di seberang sana itu kok ya McD 😀 Ini di bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setibanya di Bandara Jeddah, proses check-in dan imigrasi dilalui dengan tertib. Lama proses di sini. Saya yang biasanya membawa sendiri backpack dan tas selempang, memilih memasukkan backpack ke bagasi. Lebih enteng karena transit-transit itu. Meskipun kalau terpaksa membawa sendiri ya tetap ringan.

Antrian panjang di saat ngurusin check-in. Masing-masing orang harus bawa sendiri koper, tiket, paspor dll nya. Setiap urutan sekurangnya berisi tiga orang. Karena sejak awal saya mengekori Mas Indra dan Mas Donni, jadi check-in saya ikut mereka berdua. Ealah, meskipun sudah begitu nomor saya malah nyempal di kursi yang berbeda.

Waktu saya bilang Ustadz Faqih minta tukar yang sekursi dengan mereka berdua, masih disemayani. “Tunggu ya Bu Ari, nanti kita lihat tukarnya itu sama siapa. Orangnya mau atau enggak.” Saya mengangguk saja. Nggak tukar juga nggak apa-apa. Kayaknya saya sudah lumayan sehat, mungkin wes nggak perlu dokter. Tapi kalau darurat kesehatan, sekurangnya saya tahu di mana duduknya Mas Dokter.

Lama menunggu penerbangan, tim Dewangga masih ngurusi bagasi plus air Zam-Zam oleh-oleh. Nah di situlah saya dikasih tahu Ustadz Faqih kalau backpack saya dan juga punya Mas Donni nggak bisa masuk bagasi, terlalu ringan. Suruh nambahin batu katanya 😂😅 Lhah kalau punya saya masih ringan saja dibawa. Kalau punya Mas Donni, biyuu… isinya oleh-oleh (meskipun ringan ukuran bagasi), tetap berat itu kalau kudu digotong-gotong bawa sendiri.

Tapi ya dokter otaknya encer. “Kalau tas saya diwrapping jadi satu satu dengan tas Bu Ari, bisa?” Tanyanya ke Ustadz Faqih. “Oh ya bisa. Wrapping di sana,” Ustadz Faqih menunjukkan lokasi wrapping. Kami bertiga bergerak ke tempat wrapping.

Kami seperti kawan lama saja😀 Ini pas penerbangan ke mana ya? Pokoknya kalau nggak ke Dubai ya ke Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya lupa bayar wrappingnya berapa riyal karena dibayarin Mas Donni. Saya sodorin uang juga nggak mau. “Sudah ini saja, sekalian buang-buangin riyalnya.”
Maturnuwun yo, Mas Donni.😀 Pokoknya waktu itu langsung saya sisihkan sendiri uang yang seharusnya saya bayarkan. Lupa saya, uang itu pindah tangan ke OB pas di Jeddah atau di mana.

Saya penganut “nggak ada makan siang gratis”. Jadi kalau menerima kebaikan orang dalam bentuk apapun, termasuk non uang (biasanya saya konversikan atau kira-kira sendiri) lalu saya berikan ke orang-orang yang lebih memerlukan. Meneruskan kebaikan. Dan itu cara agar rezeki bagian saya nggak diambil sewaktu-waktu dalam jumlah besar; karena saya menerima hal-hal baik kecil-kecil tanpa mau mengeluarkan atau meneruskan kembali.

Setelah itu kami menyerahkan wrapping itu ke petugas Dewangga yang ngurusi bagasi. Lalu pergi duduk-duduk karena keberangkatan masih lama. Ya ampun, sungguh banyak tenan waktu terbuang. Tapi saya sungguh memakluminya. Pergi rombongan nggak bisa semua orang diajak cepat-cepat, jadi kudu ngikutin garis tengah, rerata kemampuan

Oh di bandara ini sempat saya terbengong dengan ulah Mas Indra. Dia ngasihin satu box Albaik-nya ke orang asing, lalu makan satu box-nya berdua dengan Mas Donni. Lah piye to, tadi katanya mo ikut ngabisin ayam punya saya? Malah mereka cuman makan ayam mereka sendiri. Jadilah tetap ayam saya itu utuh sampai Jogja, bagian si Mail beneran😆 Kalau kentang dan burgernya wes saya makan duluan.

Di bandara ini kami menunggu memang cukup lama. Saya sempat mengekori Mas Indra untuk ngisi air minum dari tempat yang jauh. Sambil ngobrolin a-z sana sini nggak nyambung tapi seru aja. Balik ke kursi tunggu, saya sempat ngelihat keriweuhan Mas Donni laporan gegara Credit Card-nya dibobol orang. Biyuuu…. sungguh nggak menyenangkan kudu laporan di tengah malam. Syukurlah itu bisa segera dibereskan. Tapi kan yo itu bukti bank seolah-olah “nggak memberi proteksi” super untuk membernya.

Mengingatkan saya pada kasus temen lainnya dari bank yang sama. Dulu itu ngurusnya agak ribet karena jumlahnya besar. Yach, keamanan data pribadi di negara kita ini memang sungguh nggak terlindungi. Jadi memang kita sendiri yang kudu ati-ati, waspada, terutama hal-hal yang berurusan dengan duit.

Aula bandara yang luas terasa penuh oleh manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan tujuan. Akhirnya tiba juga saat kami terbang. Dari Jeddah, pesawat lepas landas menuju Dubai. Saya duduk dengan Mas Donni dan Mas Indra. Ternyata kursi saya itu tempat suaminya Bu Sida, jadi bisalah tukar. Kan dia bisa dengan istrinya.

Dari balik jendela, hamparan gurun perlahan menghilang, digantikan oleh langit malam yang luas dan sunyi. Penerbangan ini relatif singkat, cukup untuk memejamkan mata sejenak atau sekadar merenung tentang perjalanan yang hampir usai.

Ini sudah di Soekarno Hatta, nungguin bus yang akan bawa kami ke hotel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Transit di Bandara Internasional Dubai menjadi pengalaman kedua saya, setelah kedatangan kemarin dulu itu. Bandara ini terang, modern, dan selalu hidup, bahkan di tengah malam. Berasa penuh sesak kayak Bandara Adisutjipto pas liburan panjang gitu. Langkah kaki bergema di lorong-lorong panjang, di antara toko bebas bea, papan petunjuk digital, dan penumpang dari seluruh dunia.

Waktu transit ini saya manfaatkan untuk tidur. Saya lupa saat itu saya duduk dengan Bu Yuli atau Bu Sida ya. Pokoknya begitu dapat kursi di ruang tunggu, saya langsung merem, tidur pulas. Nggak memperhatikan denyut bandara internasional yang nggak pernah benar-benar tidur.

Penerbangan berikutnya membawa rombongan dari Dubai menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Inilah penerbangan terpanjang; jam-jam yang diisi dengan tidur terputus, sajian makanan pesawat, dan sesekali menatap layar penunjuk rute yang perlahan mendekat ke Asia Tenggara. Saat pengumuman bahwa pesawat akan mendarat terdengar, ada perasaan lega sekaligus haru: perjalanan jauh ini akhirnya hampir selesai.

Pesawat mendarat di Jakarta, disambut udara tropis yang akrab. Alhamdulillah, Tanah Air tercinta. Proses imigrasi, pengambilan bagasi, dan langkah pertama keluar dari bandara menandai kepulangan yang sesungguhnya.

Dari Garuda Resto di Mekkah, melewati Jeddah dan Dubai, hingga kembali ke Jakarta, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat; melainkan rangkaian kisah, kenangan, dan perasaan yang akan tinggal lama dalam ingatan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (18): Masih Enak Olive

Saya dan Bu Sida sebelum check out hotel di Mekkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kepulangan ke Tanah Air kali ini bikin mata saya mengembun beberapa kali. Ya Allah, panggil saya lagi ke Baitullah dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amin YRA. Rasanya masih nggak mau pulang, tapi ya harus kembali. Sudah hampir habis jadwal perjalanan umroh kami.

Pas balik ini kami harus jalan lumayan jauh dari hotel ke bus; karena bus nggak bisa berhenti, menunggu lama-lama di jalan. Ya karena semua pelataran hotel di ring 1 Masjidil Haram itu langsung jalanan untuk lalu lalang kendaraan. Tempat jualan pedagang kaki lima dari berbagai negara. Kalau jelang waktu sholat, langsung berubah jadi tempat sholat dadakan di semua sisi. Campur baur, nggak laki-laki nggak perempuan dari berbagai ras berbagai negeri, pokmen gelar sajadah, sholat menghadap Ka’bah, arah Masjidil Haram.

Usai balikin kunci hotel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa kali karena nggak sanggup jalan ke mesjid, saya yo mung duduk ibadah di sekitaran orang-orang sholat di jalan itu. Kebayang betapa ngedropnya kesehatan saya, padahal jarak hotel ke mesjid itu hanya 300 meteran. Nambahnya banyak meteran kalau kita mau sholat yang langsung hadap Ka’bah. Perluasan Masjidil Haram memang bikin semua jamaah umroh kudu effort lebih banyak untuk bisa sholat di barisan terdepan.

Dalam rangkaian perjalanan pulang ini, kami ke museum dulu setelah meninggalkan hotel. Ngapain? Ya tengok-tengokin masa lalu lah. Sejarah Arab yang cukup panjang, tapi baru diterjemahkan dengan barang-barang kuno yang belum banyak. Kayaknya orang-orang Indonesia bae yang rajin ke museum ini. Petugasnya banyak. Ramah-ramah dan suka memotretkan.

Usai dari museum, kami pergi ke toko-toko oleh-oleh. Haiiizh, belanja lagi. Ya ampun, lupa saya ada berapa kali ya kegiatan belanja dalam perjalanan umroh kali ini? Pokoknya ada beberapa kali, belum mereka yang belanja secara mandiri non program biro. Dan kali ini waktu belanjanya cukup lama. Saya yang wes nggak lagi banyak pegang duit, wes jelas nggak belanja. Ada kerajinan unta dari perak dibingkai kaca yang versi saya cukup bagus, tapi harganya juga bunyi. Nggak saya beli.

Di Museum Alamoudi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Eh dapat info dari Mas Indra dan Mas Dokter kalau kerajinan perak Kotagede deket rumah Mas Indra bisa pesan aneka kerajinan dengan mumer, murah meriah karena langsung pengrajin nggak ada biaya distribusi, showroom dan pajak-pajak. Lah tapi sampai sekarang saya yo gak ke sana 🙈 Lha nggo apa pesan kerajinan unta dari perak? Memang godaan terbesar saat belanja tuh ya “laper mata”. Apalagi kalau ngerasa uangku masih banyak… haha😄😁 Meskipun nggak belanja, tapi beli cokelat dan makan es krim, tetap saya lakukan 😂😅

Ah iya, es krim di negeri Timur Tengah (termasuk Arab Saudi) itu beda rasanya dengan es krim di Indonesia. Kalau di Indonesia umumnya es krim tuh maniiz dan bikin eneg, kalau di sini tuh gurih, kering, dan krenyez-krenyez. Prosentase keju dan susunya lebih banyak. Jadi mo saya sedang batpil pun, makan es krim di sini ya nggak bikin parah. Santai aja.

Terus gitu harganya siy terjangkau versi saya. Ada yang 2, 5, 7, 10, 15, 20, 25, 30 dan 50 riyal. Dari es krim yang kelas kaki lima sampai bintang lima, saya wes pernah makan 😆😅 Beuuh, sampai hafal saya saking seringnya beli es krim 😂😅 Yang 25, 30, atau 50 riyal itu versi besar kek gelato gitu, jadi puaslah menikmatinya. Makin mahal makin nggak terlupakan rasanya 😂 Pokoknya kalau mo cari es krim di Arab Saudi, ajak saya yes. Lumayan tahulah nyari tempat-tempat orang jualan es krim 😂😅

Beuh Mas Dokter paling glowing. Tukar kulitnya dong Mas, biar saya lebih putih… hihihi😆😅 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai itu kami ngapain ya? Oh makan siang. Kami makan siang di rumah makan Garuda Resto, masih satu areal dengan tempat belanja-belinji oleh-oleh. Isian kulinernya ya masakan Nusantara juga. Cukup lama di sini karena sekalian ishoma, nunggu waktunya ke bandara. Rumah makan ini bersih, makan enak, tapi sarpras toilet dan tempat sholat masih perlu diperbaiki biar lebih nyaman untuk jamaah umroh dari Indonesia.

Di sini saya mung thenguk-thenguk. Do nothing. Nungguin waktunya berangkat ke bandara Jeddah. Usai makan-makan itu, TL kami membagikan ayam Albaik berukuran besar. Setiap orang dapat 1 box. Sebelumnya saya lihat banyak juga jamaah umroh yang berbelanja ayam ini untuk oleh-oleh. Sebagian ada yang beli untuk dimakan karena penasaran.

Isian box ayam Albaik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena bukan pecinta olahan ayam, saya nggak pernah beli ayam ini. Kalau dapat dari biro saya bawa pulang untuk si Mail (ponakan saya yang doyan ayam). Ayam ini kurang cocok dengan lidah saya. Masih lebih enak ayam McD (ini versi saya sungguh ayam mewah. Waktu kuliah S-1 saya kudu nabung dulu untuk beli sepaket komplit nasi, ayam, kentang, minum, dan es krimnya 😆😅). Paling enggak menurut saya harga Albaik ya sebelas dua belas dengan McD. Ealah dengan semena-menanya lho Bu Yuli malah bilang masih lebih enak ayam Olive…. astagaaa…. jatuhlah harga dirimu ayam Albaik 😂🤣

Oh soal Albaik ini saya ingat Ustazd Faqih bilang ada udang Albaik, tapi harganya mahal dan adanya di mana gitu, lupa. Ntarlah kalau ke Mekkah lagi cari tuh udang Albaiknya….. Nah kalau udang, doyanlah. Saya bisa makan banyak.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Umroh Istimewa (17): Berserah, Lakukan yang Terbaik

Masjid Nabawi yang akan selalu ada di hati. Ari Kinoysan Wulandari.

Kegiatan ibadah berikutnya adalah thawaf perpisahan. Biasanya pada kesempatan ini, mereka yang “beruntung” bisa mencium Ka’bah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Multazam, sholat di Hijir Ismail, dll tempat utama di sekitar Ka’bah. Saya sebut beruntung karena ya memang nggak setiap orang bisa mendapatkannya. Kadang-kadang ada yang sampai berjuang mati-matian pun nggak bisa dapet. Tapi ada yang lempeng, santai aja, langsung bisa mendapatkannya.

Di umroh-umroh sebelumnya karena alhamdulillah wes dapat semua dengan lempeng, saya (masih sering) takjub juga dengan karunia Allah yang luar biasa itu. Karena di tengah kerumunan orang sebegitu banyaknya, kok bisa ya dengan enteng saja mencium Kabah, mencium Hajar Aswad, menyentuh mengusap mencium Maqam Ibrahim, mengusap Multazam, sholat di Hijir Ismail, berdoa sebanyaknya dan nangis puas-puas di areal ini.

Saya pernah rerasan soal ini dengan Mas Dokter; biasanya kalau dalam keseharian kita jadi orang yang “entengan”, gampang menolong, mudah membantu, ndilalah pas di Tanah Suci itu apapun urusan kita ya jadi mudah, gampang saja. Bahkan untuk urusan ambil air Zam-Zam itu, bisa lho di tengah antrian yang begitu banyak orang, tahu-tahu aja satu tempat kosong dan kita bisa mengambilnya dengan mudah.

Kalau yang saya alami malah diambilkan oleh petugasnya, dicukupkan semua thumbler yang saya bawa (saya mengambilkan untuk beberapa orang). Setipe dengan yang dialami Mas Dokter. Padahal nggak sedikit orang yang kesulitan, yang dilarang ambil banyak air Zam-Zam oleh petugas. Wallahu’alam.

Versi saya, kita niy ya memang dituntut berbuat baik terus menerus sepanjang hayat. Mo besar kecil, mari kita terus berbuat baik. Karena “amalan baik” itu nggak cuma ibadah ritual seperti sholat, umroh, zakat, haji, puasa, dll. Tapi juga hal-hal sepele tapi penting, seperti menyingkirkan batu di tengah jalan.

Karena pemikiran itulah, ketika saya nggak bisa maksimal ritual ibadah karena kondisi kesehatan, njur melakukan hal terbaik lainnya dengan totalitas. Uang-uang yang sedianya mau untuk jajan dan belanja, berganti arah untuk berbagi ke OB-OB yang berada di sekitar mesjid. Sebagian saya belikan makanan dan saya bagikan begitu saja ke orang-orang entah dari mana. Sebagian berubah untuk sedekah Al Quran. Dan agak niat juga saya beli makanan burung 😂😅 Selain itu, doa dan dzikir saya jadi lebih banyak.

Areal Kabah. Tempat yang selalu ingin saya kunjungi setiap waktu. Ari Kinoysan Wulandari.

Pokoknya kalau versi saya nggak ada alasan, satu kondisi melemah njur merusakkan semuanya. Yo wes, saya beribadah lainnya yang saya pahami boleh dan bisa. Kita toh nggak pernah dituntut “berhasil”, tapi diminta untuk “berusaha” sekuatnya. Dan sunatullahnya kalau kita berusaha mati-matian, nggak mungkinlah nggak ada hasil baiknya. Sudah hukum alamnya begitu.

Itulah sebabnya pas ditanya oleh Bu Yaya dan Bu Prapti, bahwa saya pasti kesal, marah, jengkel dengan kondisi saya; lempeng saya menjawab, iya normally begitu. Belum bisa saya otomatis nggak jengkel, sudah sampai Mekkah malah ngedrop dan nggak bisa bolak-balik umroh? Tapi setelah menyadari bahwa saya nggak punya “harapan” apapun atas sesuatu, semuanya jadi lebih enteng. Saya tetap bisa mengikuti kegiatan lainnya dengan gembira, senyum lebar. Menyadari sepenuhnya saya nggak bisa “mendikte” takdir. Ditambah keyakinan bahwa Allah sudah mengatur semua dengan sebaik-baiknya. Jadi terasa ringan betul urusan hidup saya.

Setelah semua usaha saya lakukan, versi saya “berserah” adalah kunci kedamaian hati. Terkadang rencana kita memang nggak berjalan mulus; mungkin jatuh sakit, kehilangan barang, atau terjebak kerumunan sehingga nggak bisa mewujudkan rencana kita, dll. Berserah berarti meyakini bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah. Berserah berarti mengakui bahwa kita hanyalah hamba yang kecil dan fakir di hadapan-Nya.

Dibandingkan umroh-umroh sebelumnya, kali ini saya bisa menangkap makna, “Lakukan yang terbaik seolah semua tergantung pada usahamu, lalu berserahlah seolah semua tergantung pada doa-doamu.”

Saya lebih banyak berdiskusi dengan hati saya. Merasakan kalau Allah itu beneran dekat, baik saat khusyuk berdoa maupun saat sedang berdzikir. Semua adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan ikhlas. Dan baru kali ini, saya terkaget-kaget dengan cepatnya pengabulan doa.

“Ri, HP-ku hilang di Bangkok. Semua data dan foto penting, doakan bisa kembali dengan selamat.” Begitu kata kawan saya yang berada di KL. Begitu saja saya berdoa, dan dalam hitungan nggak sampai sejam, semua sudah terkondisikan dengan baik. HP-nya tertinggal di taksi Bangkok, saat ditelpon ngomongnya bahasa Thai yang tidak dipahami kawan saya; dan baru beres ketika disambung bicara orang Thai yang bisa berbahasa Indonesia. HP akan dibawakan serta saat orang Thai ini ke Indonesia. Subhanallah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari