
Salah satu sisi depan tempat SC10 yang banyak dipake untuk foto-foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏
Usai makan siang, kami ke Hotel Ast*n tempat konferensi. Turun dari bus, saya mulai menangkap “kekurangberesan” layanan hotel ini. Sudah jelas 3 hari dipakai penuh untuk acara SC10 dengan lebih kurang 550 orang (500 peserta, 50 tim kru internal SC10 dll pendukung, cmiiw), kamar-kamar penuh dipakai peserta SC10, lhah kok nggak ada 1 pun petugas hotel di lobi atau sisi depan yang manggakke (menerima tamu) kami.
Jangan salah paham, saya (dkk Soul lain yang datang) jelas nggak harus disambut; tapi untuk hotel (sing nganggo bintang lebih dari 3) itu bagian standar layanan yang nggak boleh ditinggalkan. Dan saya (juga beberapa kawan dari Jogja) malah kudu nanya-nanya sendiri ke sesama teman Soul Com daerah lain yang sudah duluan datang, di mana tempat registrasinya.

…dengan Bu Iin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kedua, untuk kegiatan sebesar SC10 yang semua urusan tempat-makan-minum-snack-kamar kayak diborongkan ke Ast*n; bisa-bisanya mikrophone, pengeras suara bolak-balik error; nggak bisa dipake, sering mati. Petugasnya kurang training po itu? Atau kalau memang wes rusak nggak bagus, ya dibeliin baru dong.
Ketiga, snack box nya jian nggak bikin orang teringat selain ketidakseriusan mengurusinya. Kotak terlalu besar untuk isian yang nggak penuh. Mbokya tuku dus yang lebih pas dengan isinya. Terus nggak ada air mineralnya, hiiszh piye toh iki? Selain itu ada 1 atau 2 sesi, peserta nggak terima snack box pas acara karena keterlambatan datang. Kuy yang bertanggung jawab ngurus lagi bobok-bobok cantik po?

... dengan Pak Gede. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Keempat, nasi box dengan beragam isian; bisa-bisanya dikasih buah macam pir besar ngglundhung yang nggak dikupas. Dikira kita mongki yang bisa makan buah sekulitnya? 😂Dik Hana sampai bawa tuh buah pirnya balik ke Wonosobo. “Ntar mau aku lelang, Mbak. Buah pir paling mahal. Itung aja berapa biaya aku dari Wonosobo ke Banyuwangi.” Sungguh truwelu, mbokya mikir to itu bagian katering. Kalau apel, kayaknya masih masuk akal. Kita biasa makan apel sekulitnya dengan mencuci bersih. Lhah buah pir? Ampun….
Kelima, saya terganggu ketika petugas nggak dengan cepat menunjukkan cara praktis ke mushola. Saya tahu di hotel ini naik turun lift pakai card (yang hanya bisa diberikan pada tamu kamar hotel), tapi mosok ke mushola nggak bisa dibantu pakai card petugas untuk naik turun? Pakai tangga cuy….🤣 Beuuh, musholanya di lantai 2 yang karena gelap, tersembunyi dan sepi, malah bikin deg-degan. Usai sholat saya wes langsung kabur turun😂

...dengan Pak Agung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Keenam, kekurangsopanan petugas resto. Saat saya makan dengan Bu Nyoman, di depan saya ada sepasang suami istri sudah sepuh (peserta SC10 juga, tapi saya lupa dari mana). Ya karena makan di meja situ ada sendok garpu dan nasi box sendoknya plastik, beliau berdua hendak menggunakan sendok garpu. Dan apa yang terjadi? Seseorang langsung menegurnya dan hendak mengambil paksa sendok garpu itu. “Bu jangan pakai, itu punya resto! Sendok makan ada di dus!” serunya dengan nada cukup tinggi.
Saya langsung menyeru, “Pinjem dulu itu, Mbak. Nanti dikembalikan.” Lalu si petugas entah ngomong apa, terus pergi. “Pakai aja, Bu, Bapak. Nanti biar dicuci.” Ya ampun, itu lho sendok garpu punya resto (yang juga ada di hotel) dan jelas bisa dicuci nggak akan dicolong pula…

...dengan Bu Adek. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ketujuh, saya nggak tahu manajemen karyawan hotel. Setiap kali saya ke toilet itu ada 4 atau 5 (kadang lebih) karyawan hotel yang entah ngapain bergerombol di depan toilet. Pakai ribet rame ngerumpi pula. 🤣 Astaga, manajemen nya piye itu kok sampai ada banyak karyawan bisa thenguk-thenguk di jam kerja dan terang-terangan di depan peserta tamu; yang notabenenya pakai bayar layanan hotel. Btw, itu yang saya alami saja yes. Mungkin Teman-teman lain beda pengalaman nya.
Sekarang balik ke SC10 nya. Usai registrasi, terima logistik konferensi; saya mulai mider cari temen-temen yang saya kenali. Iya dong, masa enggak? Satu per satu ketemulah. Dengan Mbak Rina, Pak Gede, Bu Iin, Pak Agung, Bu Adek, Bu Pingky (alias Bu Eni Mariam 🙏), dkk lainnya.

...dengan Bu Pingky. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pokokmen konferensi untuk belajar dan bebersih hati jiwa itu ya penting, tapi kayaknya lebih penting reuninya… 😁😂 Ketemu temen-temen dan bisa ngelihat mereka baik-baik saja, ngobrol, foto-foto; haha hihi nggak jelas ngerumpi ngalor ngidul… Maafkan saya sajalah, Bunda Arsaningsih; kalau niatnya datang ke konferensi ada belak-belok nya dikit 😂🙏
Terus usai foto-foto saya wes duduk manis seperti arahan panitia SC10. Jan-jane ini tempat duduk saya kok nggak strategis gini ya? Di tepi pinggir sisi depan, nggak di sisi tengah yang biasanya dipake narasumber lewat sebelum ke panggung; termasuk Bunda Arsaningsih. Biar bisa foto-foto cepat 😂 Lha tenan to Bunda Arsaningsih dll narasumber lewatnya jalur tengah. Ah sudahlah, nanti juga jumpa. 😀🙏

...dengan Mbak Rina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Acara wes mulai dengan prapembukaan, nyanyi-nyanyi, tarian, sambutan-sambutan, njur sambutan Wakil Bupati Banyuwangi. Biyuu, nyadar juga beliau kalau mikrophone bermasalah. Wes ben kalau beliau yang protes mestinya direspon. Karena di hari kedua (cmiiw) kayaknya Bunda Arsaningsih cerita kalau tim SC10 sudah meminta membereskan urusan itu, tapi nggak ada respon. Baru setelah Pak Wabup yang nyebut baru direspon.😂😁 Kadang kita perlu membiarkan saja masalah untuk selesai dengan sendirinya (lewat orang lain, atau jalan lain).
Pak Wabup ini mengulas banyak tentang kemajuan Banyuwangi. Ya, kota ini meraih penghargaan beragam untuk urusan pemerintahan dan pariwisata. Dengan tagline Banyuwangi Njenggirat Tangi. Lah, njenggirat tangi itu bukannya kaget, terkejut? Seperti orang tidur dikagetin gitulah njur njenggirat tangi 😂😁🙈

...dengan teman-teman Soul Com Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

...Teman-teman Soul Com Joglosemar, yang belum semuanya saya hafal namanya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Duuh, saya kok langsung ketawa tapi takut dosa gitu ya.🙈 Kalau maksudnya bangkit semangat berjuang berkarya, kenapa nggak pake Gumregah Bangun Jiwa? Haizzh, kenapa saya yang malah mikirin slogannya orang Banyuwangi siy? 😁😂
Setelah itu yang sharing Pak Ganjar Pranowo. Ulasannya tentang pentingnya mendengarkan dan didengarkan. Iyes, nggak setiap kita lho bisa atau mau “mendengarkan” dan banyak dari kita yang bahkan sering merasa nggak “didengarkan”. Hayo ngaku…. 😂 Kalau di Soul kayaknya semua bisa mendengarkan dan pasti didengarkan asal berada pada waktu, tempat, dan dengan orang yang tepat.


...dengan teman-teman yang random asal daerah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pak GP lebih banyak mengulas sisi kesehatan mental dengan kedua hal itu. Yach, memang siy kadang masalah kita seberat apapun itu bisa selesai dengan sendirinya kalau “didengarkan” karena kita hanya perlu merasa “diterima”, “dimengerti”, “dipahami”, dan “didukung”; sekaligus kesadaran riil bahwa kita nggak sendirian. Ada lho orang yang bisa support.
Begitulah. Kemudian sesi foto-foto dan bagi-bagi souvenir. Setelah itu kayaknya Pak Wabup dan Pak GP njur meninggalkan ruangan. Nah tenan to, karena saya duduk di pinggiran gitu nggak bisa salaman atau foto dengan keduanya. Wes malez juga saya bergerak ngejar mereka. Di tengah kerumunan orang yang juga pasti mau foto-foto dan salaman😂🙈
Setelah itu apa ya acaranya? Bagi-bagi doorprize siy kayaknya. Ada nyanyi-nyanyi dan joget juga. Lupa saya detailnya. Tapi acara hari pertama ini sampai malem. Nah malemnya itu ngapain aja ya kami? Sik saya inget-inget dulu lah. 😂😁
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari



























