Anak-anak Super Gunung Kidul

Anak-anak SMP Gunung Kidul setelah kelas penulisan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Alhamdulillah, hari ke-2 Bimtek Kepenulisan Angkatan 2; Selasa s/d Kamis 20-22 Mei sudah terlewati dengan baik. Masih ada 1 hari ekstra esok yang pasti bikin pemateri kudu lebih sabar. Kelas yang bikin saya … haish, ini bocah dikasih tahu belum selesai wes nyicriiis nyolot jawab aja.
.
Ya ampun, hampir semua begitu. Dan saya terperangah bagaimana mereka merasa baik-baik aja; menjawab spontan seolah tanpa sensor dengan ngeyelannya yang aduhai itu… 🤣🤣
.
Tapi ya, itulah anak-anak (cucu atau mungkin cicit) SMP kita. Bandel, ngeyelan, tapi cerdas, kritis, dan sering nggak mau ngalah. Kalau ngomong sama siapa aja, kayaknya kudu menang. Apa aja yang nggak sesuai pikirannya, akan dilawannya.
.
Toh saya tetap mengapresiasi keseriusan mereka mengikuti kelas, mengerjakan tugas menulis, menyimak materi, dan tanya jawab 2 jam tanpa ngantuk di siang bolong yang terik 🤩🥰
.
Kalian semua hebat, mung perlu lebih menjaga sopan santun dan kepatutan bicara saja. Percayalah, nanti kalian akan tahu bahwa ngotot, ngeyel, kadang cuma membuat kita lelah jiwa raga 😄😁
.
Sampai jumpa di kelas-kelas penulisan atau workshop berikutnya 😀🤩
.

Ari Kinoysan Wulandari

Cari Rezeki Saat Demo

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pagi hari kemarin saat saya mau berangkat, saya heran karena tetangga ujung komplek malah sepedaan keliling. Pas saya tanya, jawabnya dia libur kerja karena hari ini ojol mobol (ojek online, mobil online) demo; minta share yang adil dan kenaikan tarif per km (cmiiw).
.
Kagetlah saya. Gakbisa pesan online dong. Ternyata bisa dan saya pun berangkat ke kampus dengan selamat. Si driver bilang kalau tetap narik, tapi nggak pake atribut.
.
Saya ulik lebih jauh, ya tetap cari rezeki Bu. Kan kalau saya nggak berangkat ngangkut penumpang yo gak dapat duit. Penumpangnya juga repot. Anak istri saya kan nggak libur makan meskipun ada demo, Bu.

Saya ikutan ngikik. Ya, demo itu satu hal. Urusan cari rezeki juga lain hal. Sama-sama penting, tapi kadang kita ini sebagai wong cilik kudu nerima saja; patuh dengan aturan kapitalis yang melakukan banyak potongan nggak kira-kira; mulai dari pajak, pungli, iuran-iuran, dana sosial, dll yang bikin pendapatan makin mengecil; ketambahan inflasi, makin bikin daya beli mengkerut.
.
Kalau mikirin gitu malah mumet, makanya wes santai bae. Waktunya kerja ya kerja. Ntar rezeki pasti datang. Seperti kata driver tadi, bagaimanapun yo tetap cari rezeki. Kita ngomelin keadaan pun tetap kudu makan, dan makan itu bisa tersedia kalau ada uang untuk membeli atau membuatnya.
.
Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998 saya ikut dengan ribuan mahasiswa untuk melengserkan Pres Soeharto. Hampir 30 tahun sejak Reformasi ternyata “konsep ideal” NKRI malah makin jauh panggang dari api, ada setitik sesal juga bikin beliau lengser. Bukan membela masa lalu, tapi masa kini nggak seindah harapan saat itu.
.
Dulu KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) masih samar, kecil-kecilan dan malu-malu; kini justru besar-besaran dan terang-terangan. Banyak pejabat nggak malu-malu flexing hidup hedon, gak peduli duitnya korupsi dari jutaan keringat dan darah rakyat yang dibayar lewat aneka pajak. Beragam aturan ditabrak diubah, dll. kejahatan masif dan kita suruh mengaminkan saja.
.
Duh, negeriku. Semoga Allah menjaga kita semua dengan keselamatan lahir batin dunia akhirat. Amin.
.

Ari Kinoysan Wulandari

Monyet di Tempat Wisata

Monyet di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
.

Monyet, kera, lutung, kethek, munyuk, kingkong, simpanse, orangutan, bekantan, dll. adalah sebagian penyebutan “monkey” di Indonesia. Ajaibnya, spesies yang konon sering disalahkaprahi sebagai nenek moyang manusia ini, di Indonesia ada di banyak daerah, termasuk tempat-tempat wisata.
.
Di Malaysia saya jumpa banyak monyet, tapi nggak galak. Di China juga setipe, mereka bergelantungan ke sana kemari tanpa mengganggu wisatawan. Di Vietnam, kayaknya jinak juga. Nah di Indonesia ini, ada yang jinak, ada yang berangasan.
.
Di Sangeh, Bali saya wes hopeless, karena tas bahu dan kamera direbut monyet putih abu-abu ekor panjang dan dibawa lari. Baru bisa kembali setelah menghubungi penjaga. Horor tenan versi saya. Padahal saya wes mematuhi aturan, nggak kasih makan-minum, yo gak bawa makan-minum.
.
Di Tawangmangu, Karanganyar, setipe juga. Tapi di sini monyetnya lebih kecil dibandingkan yang ada di Sangeh. Mereka juga merebut makanan minuman pengunjung. Lebih ganas kalau kita memberi makan minum, tahu- tahu serombongan monyet akan datang dan merebut apa saja. Haish tetep serem.
.
Di Baluran, Banyuwangi yo begitu. Pict di atas saat saya di Baluran dengan monyet sudah mengambil tas yang saya geletakkin di rumput –karena semula nggak nampak tuh monyet-monyet. Baru sebentar mau saya tinggal foto, saya mendengar teriakan kalau tas saya diambil monyet. Sigap saya merebutnya dengan menarik paksa dari si monyet.
.
Gilak, dia menahan tas saya dan menunjukkan gigi taring-taringnya yang panjang. Untung dibantuin teman-teman saya mengusirnya; akhirnya dilepaskan tas saya. Ampun, kalau sampai dibawa lari –wes entah apa jadinya. Lha HP dompet dll kan di tas. Sejak itu saya nggak pernah lepas taruh tas sembarangan.
.
Di Kaliurang, setipe. Baru sebentar, monyet rombongan datang. Dengan segera mereka merebut makanan dan minuman yang kita bawa. Para pedagang cerita kalau mereka sering kecolongan makanan minuman karena monyet-monyet itu.
.
Pokmen kudu hati-hati ke areal wisata yang ada monyetnya. Bukannya happy tapi bisa rugi kehilangan barang-barang penting. Ada yang samaan dengan saya 🤔
.

Ari Kinoysan Wulandari

Apalagi Yang Bisa Dihemat?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Bu Ari, kalau hidup kita sudah hemat dan cenderung kurang dalam beberapa hal, apalagi yang bisa dihemat untuk menabung?”

Jawab saya, “Kalau sulit, nggak usah menghemat lagi. Cari cara untuk mendapatkan uang lebih banyak. Nggak mudah, tapi kalau kita niat pasti ada jalan. Bahkan, menawarkan jasa untuk antar jemput sekolah anak tetangga saja (kalau beruntung) sudah bisa dapat uang lumayan.”

Indonesia secara umum di permukaan terlihat sangat baik. Tapi kalau sampeyan mau turun ke lapangan, berbicara dengan masyarakat luas; kita sebenarnya sedang perang menghadapi masalah ekonomi. Inflasi yang tinggi, tapi selalu diredam dengan berbagai “omongan baik” pemerintah nggak bisa mengelak dari masalah turunnya daya beli masyarakat.

Toko-toko kiri kanan rumah saya, yang seumur-umur saya tinggal di situ nggak pernah mengeluh, tahun ini beberapa kali tercetus sepinya pembeli dan sulitnya membayar cicilan bank atas utang usaha mereka.

Saya pribadi merasa bahwa harga-harga barang kebutuhan pokok menjadi “lebih nggak terkendali” sejak wacana PPN 12% Oktober tahun lalu digulirkan. Harga barang naik duluan dan nggak mau turun ketika wacana itu sudah dibatalkan. Daya beli masyarakat sudah terlanjur menurun.

Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, biaya-biaya jasa yang terus merangkak, dan tagihan yang seakan nggak mau kompromi itu, banyak dari kita mungkin sudah sering bertanya, “Apalagi yang bisa dihemat?”

Pertanyaan ini bukan hanya soal uang, tapi juga soal cara atau gaya hidup. Karena ternyata, banyak hal dalam hidup yang bisa kita hemat; dan bukan semua hanya soal angka atau uang kita di rekening.

Pertama, Uang Jelas Bisa Dihemat. Tapi Bagaimana Caranya?

Masak Sendiri:
Jajan kopi kekinian tiap hari? Bisa hemat ratusan ribu sebulan kalau diganti dengan seduh kopi di rumah. Bawa thumbler isi minuman saat keluar rumah.

Saya yang tetahunan sejak pandemi hingga Oktober tahun lalu; setiap hari beli makanan online 2x-3x sehari, sudah menghentikannya. Charge PPN 12 persen itu bikin pengeluaran makan saya yang mestinya A menjadi 2A, padahal nggak serta merta pendapatan naik 2x lipat.

Sejak Desember tahun lalu saya belajar lagi “memasak” dengan membeli aneka bahan makan mudah olah dan praktis. Ternyata hanya butuh biaya 1/2 A. Tentu saya yo kudu effort sedikit. Mencuci piranti masak, perlu gas, perlu sabun cuci, perlu air, listrik jadi tambah karena penggunaan airfryer, grill, blender, oven, pemanggang roti, dll.

Tapi bahwa total keseluruhan biaya hanya 1/2 A dengan makanan yang sudah 4 sehat 5 sempurna (kadang bahan masih ada banyak, bisa untuk setengah bulan berikutnya), itu sungguh bikin saya takjub. Ngopo kok nggak dulu-dulu, kan saya bisa piknik dekat-dekat lebih sering😂😁

Belanja dengan Daftar:

Iyes banget. Jangan berangkat ke tempat belanja: supermarket/mall/pasar/pameran/ galeri dll tanpa rencana. Impulsif itu musuh utama dompet! Tenan kuy 😀 Lapar mata, godaan diskon, tawaran manis Mbak-Mbak Cantik Sales kosmetik, dll itu bikin kita bisa belok haluan. Membeli yang nggak penting-penting amat. Duitnya keluar nggak bisa ditarik lagi, barangnya ternyata nggak kita perlukan.

Langganan Digital:
Punya lima aplikasi streaming, tapi nonton cuma satu? Saatnya unsubscribe. Pilih yang benar-benar sering dipake nonton. Mo cuma puluhan ribu sebulan, setahun ya cukup ada jumlahnya. Atau pilih layanan yang gratis aja. Baru beli layanan khusus untuk tayangan tertentu yang mau ditonton.

Kedua, Hemat Waktu
Scroll Media Sosial:
Satu jam scroll, lima menit bahagia, sisanya? Entah. Waktu bisa lebih bermanfaat kalau dipakai untuk membaca, olahraga, beberes rumah atau ngobrol dengan orang rumah.

Rapat Nggak Penting:
Hemat waktu dengan berkata jujur, “Ini bisa lewat email nggak, ya?”

Main Game Over Waktu:

Sesekali main game itu perlu, tapi kalau sampai over waktu, bahkan mengabaikan banyak kewajiban, itu perlu dibenahi ulang. Game juga menghabiskan uang kalau mainnya memakai koin atau poin yang harus dibeli dengan uang riil.

Ketiga, Hemat Energi Emosional
Drama Nggak Penting:
Pilih pembicaraan yang memang layak untuk dilakukan. Kadang lebih sehat untuk diam daripada menjelaskan pada mereka yang nggak mau mengerti.

Saya yo wes bolak-balik ditanyain kenapa nggak bawa motor atau mobil, malah pilih pesan motor atau mobil online. Kelihatannya boros versi mereka, tapi bagi saya lebih boros bawa kendaraan sendiri. Karena mereka hanya ngitung uang, nggak ngitung waktu, energi, konsentrasi saya yang hilang kalau saya harus berkendara sendiri.

Kalau bawa mobil sendiri, saya nggak bisa sambil ngetik to? Nggak bisa sambil baca atau ngaji to? Haish, orang memang beda-beda pemikiran. Jadi saya yo wes diam saja. Saya nggak hidup dari makan gengsi atau omongan orang. Nggak perlu juga validasi “mampu” hanya karena bawa mobil sendiri.

Overthinking:
Banyak hal yang kita takutkan ternyata nggak pernah terjadi. Jangan boros energi untuk skenario yang hanya ada di kepala kita. Mumet nanti. Mikir yang baik-baik aja. Nikmati, syukuri hidupmu. Kalau sudah cukup tanpa bisa menghemat, ya terima aja dulu. Sambil berjalannya waktu, cari cara untuk menambah penghasilan.

Keempat, Hemat Berkaitan Dengan Barang-barang Kita
Beli Sesuai Kebutuhan, Bukan Tren:

Lemari penuh tapi tetap merasa ‘nggak punya baju’? Bisa jadi yang dibutuhkan bukan baju baru, tapi mindset baru. Saya kadang mikir, baju mana lagi yang mau dipake. Kadang ini bikin impulsif beli-beli kain untuk dijahit. Tapi dengan adanya plan yang perlu budget tertentu, saya lebih bisa ngerem dan kadang “membarukan” baju lama dengan sedikit tambahan desain atau perubahan itu perlu.

Kelima, Mari Kita Terapkan Hidup Minimalis:
Hemat ruang, hemat waktu beberes, hemat pikiran. Semakin sedikit penampakan, semakin sederhana, semakin ringan beban hidup kita; karena kita hidup sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Nggak perlu panas hati, iri dengki kalau keluarga kita, tetangga kita, kawan kerja kita, tetiba beli barang-barang branded, piknik luar negeri, pesta mewah, dll. Kita kan nggak tahu toh usaha mereka untuk mendapatkan hal itu? Hidup sesuai kemampuan cenderung bikin hati lebih damai, adem ayem, nggak kemrungsung, nggak perlu dikejar-kejar utang pulak!

Keenam, Hemat Kata-kata
Komentar Negatif:
Nggak semua hal perlu dikomentari. Kadang diam adalah bentuk paling elegan dari hemat kata. Setiap orang punya pemikiran yang berbeda. Nggak usah ribet dengan kelakuan orang lain, selama itu nggak melanggar hukum dan aturan secara umum.

Janji Berlebihan:
Hemat janji, supaya nggak boros masalah kepercayaan. Jangan menjanjikan apapun pada anak, keluarga, pasangan, mertua, orang tua, teman, dll kalau sampeyan nggak yakin bisa. Alih-alih janji, kalau mampu saja langsung belikan atau ajak sesuai keinginan mereka. Lebih menyenangkan, lebih surprise.

Pada Akhirnya, Hemat Itu Soal Pilihan
Menghemat bukan berarti pelit. Menghemat adalah seni memilih apa yang benar-benar penting. Hidup bukan tentang punya segalanya, tapi tentang bagaimana kita menikmati segala yang kita miliki dengan tenang, bijak, dan sadar.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa masih serba mepet dalam banyak hal: waktu, tenaga, pikiran, dompet; coba tanyakan sekali lagi pada diri sendiri, “Apalagi yang bisa dihemat?”

Jawabannya mungkin lebih dari yang kamu kira. Pasti kamu akan ketemu beragam cara untuk berhemat dalam berbagai aspek kehidupan.

Ari Kinoysan Wulandari

Budgeting Rumah Tangga

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil dari thegoldenadvisor.

Jadi penulis itu kadang mendapatkan banyak pertanyaan di luar bidang keahliannya. Seperti kali ini; karena saya sering menyinggung tentang manajemen duit, saya ditanya tentang budgeting rumah tangga. Situasinya gaji suami 5 juta, istri tidak kerja, anak kelas 1 dan kelas 5 SD, ada 2 motor di rumah, kontrak rumah sebulan 1 juta. Beuuh, belum-belum saya wes mumet duluan. 😀

Saya menyarankan untuk ngecek di web web para ahli manajemen keuangan keluarga dan buku buku referensi yang berkaitan. Karena kalau saya ngatur duit itu ya sesuai kebutuhan saya. Senyaman dan seluwesnya kondisi keuangan.

Artinya kalau sedang banyak rezeki, yo nggak foya-foya. Kalau sedang nggak banyak rezeki, ya tetap hidup seperti biasa. Karena sudah ada patokan standar berapa yang layak saya gunakan setiap bulan, tanpa terpengaruh situasi keuangan freelancer yang turun naik tidak menentu.

Tentu saja, saya juga memberikan gambaran budgeting yang dimintanya. Berikut contoh budgeting rumah tangga bulanan untuk keluarga dengan penghasilan 5 juta terdiri dari suami (bekerja), istri (tidak bekerja), dan dua anak (kelas 1 dan kelas 5 SD), dengan kondisi rumah kontrak dan memiliki 2 motor.

Penghasilan Bulanan
Gaji suami: 5.000.000

Pengeluaran Tetap

  • Sewa rumah 1.000.000
  • Listrik & air 250.000
    Bisa berbeda tergantung pemakaian
  • Pulsa/Internet rumah 150.000
    Bisa untuk HP & paket data anak sekolah
  • BBM 2 motor 250.000 (Misal 125 ribu/motor)
  • Uang sekolah (SPP, iuran, dll) 300.000 Tergantung sekolah anak (negeri/ swasta)
  • Iuran BPJS, iuran sosial lingkungan 150.000 (Menyesuaikan keperluan)
  • Tabungan darurat 200.000
    Penting walau sedikit
  • Infak/sedekah 100.000
    Disesuaikan niat dan kemampuan

Subtotal 2.400.000

Pengeluaran Harian (Bulanan)

  • Belanja dapur (makan) 1.800.000
    Sekitar 60 ribu/hari
  • Gas elpiji 40.000
    3 kg per 2 minggu @20.000
  • Sabun, shampo, dll 100.000
  • Jajan anak 150.000
    Disesuaikan, bisa dibatasi
  • Biaya tidak terduga 100.000
    Misal sakit, hajatan, dll

Subtotal 2.190.000

Total Pengeluaran
Pengeluaran tetap: Rp2.400.000

Pengeluaran harian: Rp2.190.000

Total: Rp4.590.000

Sisa Uang: Rp410.000

Sisa ini bisa digunakan untuk:

  • Tambahan tabungan (untuk anak, kesehatan, mudik, dsb.)
  • Dana pendidikan anak
  • Perawatan motor (oli, servis)
  • Kebutuhan mendadak yang tidak terduga

Tips Tambahan:

  • Manfaatkan BPJS Kesehatan untuk keluarga agar hemat biaya kesehatan.
  • Ajarkan anak membawa bekal agar hemat uang jajan.
  • Gunakan promo/belanja bulanan grosir untuk menekan biaya dapur.
  • Jika memungkinkan, istri bisa mulai usaha rumahan kecil-kecilan (misalnya jualan camilan atau pulsa, dll) untuk menambah penghasilan.

Semoga membantu ya. Cara terpenting kalau merasa “uang kurang” nggak usah berhemat, karena itu bikin nyesek. Terlebih di tengah inflasi yang cenderung tidak terkontrol seperti sekarang ini. Sebaiknya, pikirkan cara membuka peluang baru untuk menghasilkan uang. Karena bagaimanapun laju kenaikan gaji, selalu nggak sebanding dengan inflasi dan bertambahnya biaya kebutuhan keluarga.

Ari Kinoysan Wulandari

Gunung Kidul Luar Biasa…!

Saya dengan Mbak Yuni dari Dispussip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Bimtek Penulisan Angkatan 1. Rabu-Jumat, 14-16 Mei 2025. Tiga hari maraton. Full daya. Start jam 8 pagi selesai 14.30 sore. Ini hari kedua dengan peserta yang super. Alhamdulillah. Besok masih ada satu hari yang istimewa.

Saya berpartisipasi dengan literasi Gunung Kidul tuh wes lama banget. Tahun 2017 ketika Gus Hari –begitu saya memanggilnya; yang menggawangi salah satu penerbit dan pesantren, mencolek saya untuk ikut berbagi materi dan pengalaman sebagai penulis. Saya yang biasanya kalau waktu kosong, wes iyo iyo bae, kali ini memperjelas detail. Pesertanya siapa. Kalau minim peserta, saya belok kiri aja. Karena waktu yang diminta panjang.

Setelah diyakinkan kalau peserta cukup banyak 120 orang, saya baru iyo. Booom, saya kaget dengan ledakan semangat menulis peserta saat itu. Saya harus ekstra bekerja ngadepin orang-orang dengan semangat menulis 200%, alias super semangat ❤

Saya dengan peserta Bimtek Penulisan Angkatan 1 usai kelas. Rabu-Jumat, 14-16 Mei. Dispussip Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Lalu tahun-tahun berikutnya saya masih ikut serta kegiatan di Gunung Kidul; macem-macem bentuknya; sampai pandemi melanda. Semua pekerjaan saya berkaitan proyek penulisan (termasuk semua jadwal mengisi kelas, workshop, pelatihan, training, dll) di berbagai daerah di Indonesia; direschedule tanpa batas waktu. Bentuk halus dari kata dibatalkan. 😀

Tahu-tahu kemarin Februari, Mbak Yuni dari Dispussip Gunung Kidul yang menggawangi acara Bimtek ini mencolek saya untuk ikut lagi. Wah, setelah cocokan jadwal saya bilang oke. Senanglah saya kalau ketemu orang-orang yang semangatnya lebih kuat dari saya untuk menulis. Saya yo ketularan semangat. Saya tidak mengajar, tapi saya belajar menulis kembali bersama mereka ❤

Terimakasih untuk hari yang penuh semangat dan tertawa bersama. Sampai jumpa lagi 😀

Ari Kinoysan Wulandari

Kenapa Saya Nggak Menyarankan Jadi Penulis?

Bawah laut Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya jadi penulis nasional sejak belia, sekitar umur 12 tahun. Menulis dengan beragam bentuk, berbagai media, institusi, klien, dll. Mulai dari cerita anak, cerita pendek, cerita bersambung, novel, artikel, esai, resensi, review, kritik, buku nonfiksi, biografi, skenario untuk series dan film, hingga skenario iklan dan film dokumenter. Rasanya hampir semua segmen dunia industri kreatif penulisan sudah saya jejaki; tidak hanya di Indonesia tapi hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara. Sudah bertahun-tahun pula saya setia menulis hingga sekarang.

Sudah berbanyak waktu pula saya jadi trainer penulisan, dari tahun 2000 hingga sekarang. Mulai dari mengisi kelas gratisan, kelas berbiaya ringan hingga kelas yang sangat mahal (versi saya, 1 orang membayar 5 juta untuk workshop penulisan 1 bulan itu wes larang 😁). Mengajari menulis berbagai jenis tulisan untuk anak anak SD kecil (kelas 123) hingga orang dewasa dan segala umur secara random.

Segala jenis merah hitam suka duka berada di industri penulisan, dari tahun ke tahun sudah saya nikmati, saya lewati dengan penuh syukur dan sabar. Bersyukur karena menulis ternyata memberi saya dunia yang ajaib, dunia indah dan memberi banyak kebaikan sepanjang hidup saya hingga saat ini. Bersabar, sungguh kalau nggak lebih dari sabar di kala itu tahun 1990-an cerpen saya sebanyak 111x ditolak media nasional, jelas nggak akan terjadi. Kebayang kan kalau ada sekurangnya 10 x 111 lembar halaman yang saya ketik manual saat itu. Butuh kira-kira sekurangnya 2 x 111 perangko Tulungagung Jakarta untuk mengirim dan meminta pengembalian naskah saat itu. Belum amplop naskahnya. Belum itungan beli pita mesin ketiknya. Belum waktunya. Belum lelahnya ngetik 11 jari 😁😆 Tapi senang dan cinta adalah bahan bakar yang nggak akan habis hanya oleh satu kata “lelah” 😆😅

Lalu dari perjalanan panjang itu sering muncul pertanyaan, “Kenapa saya nggak pernah menyarankan seseorang untuk jadi penulis?”

Iya, saya hanya menyarankan orang untuk bisa menulis dengan baik, tapi nggak pernah menyarankan orang untuk jadi penulis. Karena saya wes nyebur, melihat, mengalami bahwa dunia kepenulisan itu sungguh penuh tantangan, ketidakpastian, dan kerja keras yang nggak selalu dihargai secara materi.

Tapi mari kita bahas dari berbagai sudut agar lebih jelas.

Alasan Kenapa Saya Nggak Menyarankan Orang Jadi Penulis
a. Penghasilan Nggak Stabil
Banyak penulis, terutama pemula, sulit mendapatkan penghasilan yang konsisten. Kecuali kamu sudah menjadi penulis best-seller atau bekerja di media besar, hasilnya bisa lumayan lah.

b. Persaingan Ketat
Banyak penulis, sedikit penerbit, sedikit PH, sedikit biro iklan, dan banyak karya bagus yang nggak lolos seleksi. Kadang bukan soal kualitas, tapi juga soal selera pasar, momentum, dan jaringan.

c. Kerja Mental yang Berat
Menulis bukan cuma soal duduk dan mengetik. Ini soal berpikir, riset, revisi berkali-kali, menerima kritik, dan menghadapi keraguan diri sendiri.

d. Kurangnya Pengakuan Sosial
Di beberapa masyarakat, profesi penulis nggak selalu dianggap “profesi serius” kecuali sudah sangat terkenal. Penulis pemula sering dianggap hanya “mengisi waktu luang.”

Namun… Kenapa Jadi Penulis (Kadang Justru) Layak Diperjuangkan? Ini khusus yang cinta pada dunia menulis saja 😀
a. Menulis Bisa Mengubah Hidup Orang
Buku, artikel, atau cerita yang kamu tulis bisa menyentuh, memotivasi, atau bahkan menyelamatkan seseorang. Dampaknya bisa sangat besar.

b. Sarana Ekspresi dan Refleksi Diri
Menulis membantu kita memahami dunia dan diri sendiri. Ini bentuk terapi, eksplorasi, dan pencapaian personal.

c. Membangun Identitas dan Warisan
Karya tulis bisa abadi. Kamu meninggalkan jejak pemikiran, nilai, dan cerita yang bisa dikenang lama.

d. Peluang di Era Digital
Kini, penulis bisa mandiri lewat blog, media sosial, self-publishing, podcast, atau platform seperti Wattpad, Dream, Fizzo, KBM, dll. Nggak harus selalu lewat penerbit besar.

Jadi, Menulis Itu Sebenarnya untuk Siapa?
Menulis bukan untuk semua orang –dan itu ya nggak apa-apa.

Tapi kalau kamu: merasa ada hal penting yang ingin disampaikan, bisa tahan kerja sendiri dalam waktu lama, nggak mudah menyerah saat karyamu ditolak atau diabaikan, merasa bahagia saat merangkai kata, maka kamu justru sebaiknya jadi penulis.

Kalimat “nggak usah jadi penulis” sering datang dari seseorang yang ingin kamu realistis. Tapi kadang, dunia justru butuh orang yang mau idealis dulu, lalu realistis kemudian.

Jadi gimana, kamu masih tertarik untuk menulis atau jadi penulis? Bisa untuk bidang fiksi, nonfiksi, atau lainnya. Yuk ikut kelas privat dengan saya, cek cek dan kontak saja di wa.me/6281380001149 ya 😃

Ari Kinoysan Wulandari