Biaya Piknik, Pemborosan atau Investasi?

Raja Ampat. Makin jauh piknikmu, makin banyak biaya yang diperlukan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Piknik alias jalan-jalan udah jadi kebutuhan banyak orang zaman sekarang. Tapi, nggak jarang muncul dilema: kalau kita keluar duit buat liburan, itu masuk kategori pemborosan atau justru investasi?

Bayangin deh, kamu kerja seminggu penuh, penuh deadline, ketemu orang-orang yang bikin kepala panas, atau urusan rumah tangga yang nggak ada habisnya. Pas weekend datang, pengen healing, tapi langsung kepikiran, “Duh, duitnya abis dong kalau buat piknik.”

Nah, pertanyaan besar pun muncul: sebenernya piknik itu buang duit atau justru bikin hidup lebih valuable?

Banyak orang nganggep piknik cuma sekadar buang-buang duit: ongkos transport, tiket masuk, makan, sampai belanja oleh-oleh. Padahal, esensi piknik bukan cuma soal tempat, tapi juga soal nge-refresh diri. Sama kayak gadget, otak kita juga butuh di-charge. Jadi, biaya piknik itu bisa dilihat sebagai service fee buat diri sendiri.

Kalau ngomongin investasi, orang biasanya mikir saham, emas, atau properti. Padahal, investasi paling mahal tuh justru kesehatan mental. Stres yang nggak diolah bisa bikin produktivitas jeblok, mood amburadul, bahkan kesehatan fisik juga kena. Piknik bisa jadi bentuk self-care: keluar sebentar dari rutinitas, nyerap energi baru, dan balik lagi dengan pikiran lebih segar.

Kalau pikniknya bareng keluarga, pasangan, atau sahabat, ada nilai plus yang nggak bisa diukur dengan angka. Ada tawa, obrolan ringan, sampai momen konyol yang bakal jadi cerita bertahun-tahun ke depan. Uang bisa dicari lagi, tapi waktu kebersamaan nggak bisa diulang kayak tombol replay. Jadi, biaya piknik sebenarnya bisa jadi “harga” untuk kenangan.

Sering nggak sih, pas piknik ke tempat baru, kita jadi belajar sesuatu yang nggak ada di buku? Entah itu budaya lokal, makanan khas, atau bahkan sekadar ngobrol sama orang baru. Itu semua masuk kategori investasi pengalaman. Ingat ya, pengalaman nggak pernah basi.

Nah, biar piknik beneran jadi investasi, bukan boros, kita harus tahu batasnya. Kalau piknik cuma buat gaya-gayaan di Instagram, ya jelas jatohnya pemborosan. Tapi kalau niatnya buat recharge, nambah ilmu, atau bonding bareng orang tersayang, jelas itu investasi.

Nah, biar makin mantap, ada beberapa trik biar piknik tetep seru tanpa bikin saldo e-wallet nangis:

Pertama, pilih destinasi sesuai kantong. Healing nggak harus ke luar negeri. Indonesia punya banyak hidden gem murah meriah tapi vibes-nya juara. Pantai lokal, gunung deket kota, atau taman kota juga bisa jadi tempat piknik hemat tapi asik.

Kedua, manfaatkan promo dan diskon. Sekarang banyak banget aplikasi travel atau transportasi yang kasih promo tiket. Jangan gengsi jadi pemburu diskon, karena ini cara paling gampang hemat budget.

Ketiga, bawa bekal sendiri kalau memungkinkan. Selain lebih irit, bawa bekal juga bikin suasana piknik makin seru. Bisa sambil lesehan bareng, ala-ala piknik di film.

Keempat, jangan terjebak beli oleh-oleh. Hal ini sering jadi biang kerok kantong jebol. Beli secukupnya aja buat orang terdekat. Ingat, piknik itu buat kamu, bukan buat “pamer” ke orang lain.

Kelima, traveling bareng-bareng atau piknik rame-rame itu lebih hemat karena bisa patungan biaya transport, sewa villa, atau makanan. Bonusnya, lebih rame, lebih seru!

Keenam, fokus ke pengalaman, bukan gengsi. Healing nggak harus di tempat fancy. Yang penting suasana hati, bukan seberapa mahal destinasi. Kadang sunset di bukit kecil deket rumah bisa lebih bahagia daripada kafe hits yang mahal.

Jadi, piknik itu pemborosan atau investasi?Jawabannya tergantung cara kamu memandangnya. Kalau cuma buat pamer, ya jatohnya boros. Tapi kalau niatnya buat recharge energi, nambah pengalaman, memperkuat hubungan, dan menjaga kewarasan, jelas piknik itu investasi berharga.

Ingat, hidup bukan cuma tentang kerja, tabungan, atau tagihan. Kadang kita butuh berhenti sejenak, tarik napas, dan nikmatin momen. Jadi, lain kali ada yang bilang, “Ngapain piknik, buang-buang duit. Bikin boros aja,” kamu bisa senyum sambil jawab, “Boros? Nggak dong, ini investasi buat hidup gue!”

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bali Lovina (8): Tari Kecak, Perpaduan Magis antara Pura dan Laut

Salah satu adegan di Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai acara foto-foto dan mider-mider di Tanah Lot, acaranya bebas. Sebagian duduk-duduk, sebagian masih keliling, sebagian bersiap nonton pertunjukan Tari Kecak di areal Tanah Lot. Cuman ya, jalannya lumayan cuy dari bukit karang ke lokasi pertunjukan. Rada gemper sithik kakinya😁😜

Tari Kecak tentu sudah pernah saya tonton. Di Bali, ini jenis tari yang populer dan bisa dipentaskan di banyak tempat. Mung yo kuwi, saya nontonnya belum pernah seniat dan sekomplitnya seperti pas ikut Sering Travel. Mungkin karena di sini ruang penonton lebih lega, jadi lebih enak suasananya. Datang lebih awal juga bisa mengkavling tempat yang versi saya paling nyaman untuk nonton.

Adegan lain Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh ya, di sini tiketnya (kayaknya) paling murah dibandingkan tempat lain. Cukup 100 rb per gundul untuk nonton dari lebih kurang jam 18.30 s/d 19.30 WITA. Ini nggak ditanggung biro yes. Sampeyan nonton, ya bayar dhewe maning 😁🙏 Worth it bangetlah, dibanding sampeyan beli secangkir kopi dan seporsi kue di gerai branded. Sementara tiket Tari Kecak di Pantai Melasti 125 rb, di GWK (Garuda Wisnu Kencana) 150 rb, di Uluwatu 200 rb sd 400 rb, di Ubud lebih kurang 600 rb untuk 2 orang termasuk tiket masuk dan shuttle (cmiiw)🙏

Usai beli tiket, saya wes duduk manis di barisan paling depan. Baru sadar, air minum saya habis. Jadi saya keluar lagi untuk beli minuman. Terimakasih Bali, yang nggak ada mark up harga berlebihan untuk semua barang dagangan di tempat wisata. Saya beli air berion 600 ml cukup 10 rb, dari harga normal di tempat saya 8 rb an (nggak sebut merek, nggak sedang mengendorse atau iklan). Minuman-minuman lain sejak awal saya menjejak Bali, ya sekira 5-6 rb an dari harga normal sekitar 3-4 rb.

Tokoh Rama dan Sinta dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya duduk barisan depan titik rendah, dan mulai konsentrasi nonton. Matahari senja perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit memerah jingga. Riuh rendah terdengar ombak bergemuruh menghantam karang. Dan di saat yang sama terdengar suara “caaak-caaak-caaak” dari puluhan penari laki-laki bergema, membentuk harmoni yang mengguncang jiwa. Itulah momen ketika seni, alam, dan kepercayaan berpadu menjadi satu kesatuan magis.

Tari Kecak dikenal sebagai “tari sanghyang” atau tarian ritual yang awalnya digunakan untuk mengusir roh jahat. Namun dalam perkembangannya, tarian ini menjadi seni pertunjukan khas Bali yang menceritakan epos Ramayana; khususnya kisah Rama, Sinta, dan Hanoman melawan Rahwana.

Tokoh Lesmana dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak ada musik gamelan yang mengiringi, hanya suara koor para penari yang duduk melingkar, membentuk irama khas yang membuat bulu kuduk berdiri. Saat senja, penonton seakan terhanyut oleh suasana mistis: cahaya matahari yang meredup, suara ombak, dan gemuruh koor penari berpadu dalam satu harmoni alam dan budaya.

Bagi saya pribadi, menyaksikan Tari Kecak di Tanah Lot bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman spiritual dan budaya. Pertunjukan ini memperlihatkan cara masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur sambil tetap membuka diri bagi dunia. Nggak heran, pertunjukan ini menjadi salah satu agenda wajib bagi mereka yang berkunjung ke Bali, terutama bagi pecinta budaya.

Tokoh Jatayu dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lbih dalam lagi, Tari Kecak di Tanah Lot bisa dipandang sebagai simbol filosofi Bali: Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Lingkaran para penari melambangkan persatuan, sementara lokasi di tepi laut dan pura menegaskan hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas.

Saat cahaya obor menyala, suara “caaak-caaak-caaak” semakin cepat, dan kisah Ramayana mencapai klimaksnya, hati kita seakan terikat pada satu hal: Bali memang sebuah pulau yang hidup dalam tarian, doa mantra, dan keindahan.

Tokoh Hanoman dalam Tari Kecak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seperti pakemnya cerita Sinta diculik Rahwana dan diselamatkan oleh (H)Anoman, cerita di Bali ini ada penambahan karakter dibandingkan dengan kisah sejenis di Jawa. Di sini Rahwana ada asistennya atau raksasa yang bantu-bantuin dia gitu. Jadi tokoh utamanya ada 6: Rama, Lesmana, Dewi Sinta, Rahwana, Asisten Rahwana, dan Anoman. Terus saat mau menculik Dewi Sinta, Rahwana berubah wujud jadi aki-aki suci (pendeta) yang lemah dan butuh bantuan.

Usai pertunjukan banyak yang minta foto-foto pada tokoh-tokohnya ini. Sementara puluhan penari latar, wes nggak kelihatan lagi. Padahal seru juga kalau foto sama mereka. Karena mereka ini lintas generasi. Saya lihat pemainnya mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, simbah-simbah, bahkan ada yang (saya pikir) cukup tua, tapi sangat energik saat menari.

Saya sangat senang bisa menyimak tari ini dengan lengkap dari awal sampai akhir tanpa gangguan. Tanpa keribetan terpotong konsentrasi. Mungkin di sini tempat nonton Tari Kecak yang paling saya rekomendasikan dibandingkan tempat lainnya di Bali.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bromo (3) Mbak Seruni yang Menggemaskan

Sunrise di Bromo yang sempat saya abadikan, sebelum kabut menebal dan menutup matahari dari langit. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jam 2 dini hari rombongan jeep kami bergerak ke atas menuju Bromo. Peh, duduk berdua sekursi itu bikin pegel semua badan saya. Terlebih medannya bikin jeep guncang-guncang berdisko ria. Sungguh sejam lebih itu terasa sangat lama versi saya. Beberapa waktu saya ngajak si driver ngobrol, cuma karena jawabannya sepatah-patah, akhirnya saya diam.

Sekurangnya saya tahu di Bromo ada 1700 an jeep yang beroperasi 24 jam. Tiket masuk areal Bromo 130 rb plus 12 rb untuk 1 orang. Anggap saja 150 rb berarti 1 jeep chargenya 750 rb an. Versi saya terlalu murah untuk medan yang begitu sulit dan jauh.

Kami sempat tertahan lama di urusan tiket. Entah siapa yang salah, biro Ceria atau TN BTS (Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru) saya nggak tahu. Mungkin miskom saja, tapi menghabiskan waktu.

Kalau ikut OT Ceria, urusan tiket dan jeep sudah terkoper biaya ke biro. Tapi turun dari parkiran jeep untuk ke areal Seruni (salah satu puncak untuk lihat sunrise) itu bayar ojek motor 30 rb; sampeyan kudu bayar sendiri.

Ojek motor ini akan berhenti di areal kuda. Kalau sampeyan malas jalan, sewa kuda pp kena biaya 300-400 rb. Pastikan dulu, karena ada yang mau 300 rb ada yang ngotot 400 rb.

Kuda akan berhenti di areal tangga-tangga naik ke gapura Pura Poten di puncak Seruni. Jadi meskipun bayar ojek dan kuda, untuk sampai ke puncak Seruni, sampeyan tetep kudu jalan kaki.

Saya pas turun dari jeep itu masih bersama Bu Fifi dan Fahri (mahasiswa magang di OT Ceria). Jalan sampai ke pos kuda. Saya nggak naik ojek karena saya lihat jalan masih datar dan cukup dekat. Beberapa orang memilih naik ojek.

Setelah itu kami berhenti untuk minum dan ke toilet. Lalu jalan menanjak yang ndeder tinggi dan terasa nggak sampai-sampai. Itu sepanjang jalan, tukang tukang kuda ramai terus nawarin sewa kuda.

Saya wes hampir sewa kuda aja, karena memang sudah cari info sebelumnya tentang sewa kuda ini. Tapi dua kawan saya memilih jalan, wah, saya nggak jadi sewa.

Setelah setengah jam yang lama, barulah kami sampai pos perhentian. Di sini saya jumpa Bu Ita dan Bu Lies dari Semarang. Saya istirahat lama, sebelum memutuskan jalan lagi. Fahri entah ke mana. Bu Fifi ikut rombongan saya. Berempat kami naik.

Sudah lebih terlatih di sini, tapi jian capek tenan. Di perhentian, kami istirahat lagi. Saya memutuskan Shubuh di situ karena wes setengah lima. Kalau kamu muslim ikut OT Ceria, silakan atur waktumu sendiri untuk sholat di setiap ishoma ya…

Kami naik lagi. Di perhentian, ya istirahat lagi. Nah di sini Bu Fifi entah ke mana, saya nggak tahu. Jadi tinggal saya, Bu Ita, Bu Lies. Ya wes bertiga. Mereka sholat saya memesan minum panas. Baru lanjut ke atas lagi. Satu kali perhentian, kami naik tangga-tangga yang masih panjang berkelok, sebelum akhirnya sampai di gapura Pura Poten.

Jangan tanya gempornya kaki. Saya yang biasa jalan dan lari pun, terasa kemeng pegel pegel, apalagi yang nggak biasa. Terus gitu pas sudah sampai puncak Seruni, matahari terbit nya malu malu tertutup kabut dan awan. Wes, gemesin tenan.

Saya sebenarnya cukup “heran” kenapa orang-orang kita seperti terobsesi dengan sunrise dan sunset. Indah iya. Tapi dengan effort yang begitu besar, kadang bikin saya wes malas duluan diajak ngurusin liat matahari ini.

Lha dari lantai atas rumah saya itu, pagi sore saya bisa melihat sunrise dan sunset. Mungkin itu juga yang bikin saya nggak terlalu mau bekejaran dengan sunrise atau sunset.

Sepanjang kami bertiga jalan, saya nggak ngelihat orang-orang Ceria yang 40-an itu… kru nya juga nggak terlihat oleh saya. Dalam hati saya yakin, karena ini kami yang lambat. Tiap perhentian selalu break istirahat, wes payah tenan.

Saya melihat jam wes lewat jam 6 masih di atas. Padahal inget saya Itinerary nya di areal Seruni itu sampai jam 6 dan jam 7 sudah ada di areal lautan pasir untuk sarapan dan ke Kawah Bromo.

Saya sudah nggak mood foto-foto. Kabut makin tebal. Terus nggak ada yang motoin. Bu Ita sedang banyak gawe foto dengan Bu Lies. Jadinya saya di atas itu malah mung ngelihatin orang lalu lalang. Merekam view sekitaran sebanyak mungkin, tapi nggak ada foto saya 😂😅

Untung itu Mas Sidik jurfot Ceria ke atas, tapi ra nggawa kamera. Ya wes saya minta difotokan beberapa dengan HP, paling nggak ada foto saya di atas. Oh Bu Ita ternyata sempat memotretkan saya beberapa, tapi saya nggak ingat sebelumnya.

Wes, kami bertiga pun turun. Ketemu teman-teman yang pada telat. Saya tahu itu jam sudah lewat, tapi ya gimana lagi. Capek jalan kan yo kudu istirahat dulu.

Dan betullah, kami naik jeep ki wes jam 7 lewat. Jadi maklum saja kalau tiba di lokasi sarapan sudah hampir jam 8. Sudah lewat sejam dari jadwal acuan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Nikmati dan Syukuri Hidupmu ❤❤

Salah satu sesi foto Trip Magelang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nikmati dan Syukuri Hidupmu ❤❤
☝️ Nasihat itu klasik dan klise banget yach. Saking jadulnya, saya kadang mikir itu masih relevan nggak siy dengan kehidupan era milenial, gen z sekarang?
.
Tapi ya hidup memang nggak selalu mudah. Jadi apapun kondisimu, bersyukur dan menikmati hidup adalah kunci bahagia 🥰 Saya pun menerima bahwa itu cara mudah untuk “mengukur kemampuan dan kekuatan diri”, tidak hidup di luar batas.
.
Piknik bagi sebagian orang kebutuhan wajib. Bahkan ada yang membuat program khusus untuk pergi bergantian ke negeri-negeri jauh. Bagi yang lain, piknik itu sekedar pengisi waktu luang kalau pas banyak rezeki.
.
Bagi saya, piknik salah satu cara merecharge energi kreatif. Dan sesi bebas di lapangan bersama Ceria kali ini, merupakan cara baik untuk kesehatan jiwa raga; karena kami bisa lompat, lelarian, dan teriakan. Tidak lama siy, tapi saya yakin nggak cuma saya yang merasa terbebas dari “beban emosional” yang kadang tidak kita sadari 🙏
.
Bagi saya, piknik tidak harus jauh dan mahal. Saya juga tidak malu bilang kalau belum pernah ke sini, sini —meskipun dekat, dan banyak daerah jauh yang sudah saya kunjungi. Karena jauh dekat itu relatif. Dan khusus piknik, itu berkaitan pula dengan dana, waktu, kesehatan fisik mental, libur kerja, teman berangkat, dll yang setiap orang tidak sama kondisinya.
.
Jadi kalau kamu ngerasa pingin piknik dan budgetmu terbatas, ya pergi ke daerah atau tempat wisata yang dekat-dekat saja, yang belum pernah kamu datangi. Kalau kamu malez ribet urus printilan kruncilan piknik, ya ikut open trip atau kelompok wisata yang baik dan terjangkau. Pakai Ceria boleh dicoba. Eeh, saya nggak mengendorse lho ini. Saya ikut yo bayar. Jadi jangan minta gratisan sama saya 😀🙏
.
Pergilah ke daerah baru yang belum kamu datangi. Bergembiralah. Berbahagialah. Hidupmu terlalu wagu kalau hanya kamu habiskan untuk kerja, memperkaya orang lain, dan membahagiakan orang lain. Ingat, orang yang paling baik, paling setia, paling cinta padamu, ya dirimu sendiri. Baik-baiklah kepadanya ❤❤❤❤
.
.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Selamat Tahun Baru 2024

Aneka Makanan: Boleh Berharap Tahun 2024 Ada Banyak Kebaikan dan Sukacita

Tahun Baru 2024 ❤️

Saya sudah tidak ingat, sejak kapan berhenti dari kebiasaan keluar rumah dan ikut tradisi pesta perayaan tahun baru. 🙏

Jalanan yang penuh kendaraan dengan kelakuan yang tidak semua tertib lalu lintas. Warung kaki lima hingga resto bintang lima yang antri panjang. Parkiran yang jadi melebar ke mana-mana. Tempat wisata sungguh ekstrem kepadatannya.

Hotel harga standar pun berlipat. Tiket transportasi yang jadi berasa sah untuk berbeda harga. Areal-areal untuk pelepasan kembang api tahun baru pun, dijejali beragam anak bangsa entah dari mana saja. Di banyak tempat; jutaan keluarga, kelompok, komunitas, institusi, dll berasa harus sekali “bakar-bakar” demi merayakan tahun baru.

Saya menikmati semua itu hingga di tahun-tahun awal saya bekerja. Dengan banyak kawan dan sahabat. Lalu waktu berlalu, semua jadi seperti rutinitas yang tidak lagi baru. Perlahan durasi waktu saya berada di hiruk pikuk keramaian malam tahun baru berkurang, dan semakin berkurang.

Akhirnya saya merasa biasa aja berada di rumah tanpa keributan perayaan tahun baru. Bahkan tidak jarang, saya dkk masih berjuang merampungkan deadline yang tayang 1 Januari. Dan tentu saya baik-baik saja. Orang sekitaran saya oke-oke saja. Waktu terus berjalan dengan atau tanpa perayaan tahun baru.

Pun tahun ini, 30-31 Des 2023 dan 1 Jan 2024 saya masih banyak gaweyan. Ada duo bocil, Mail dan Fara yang sukses bikin rumah seperti kapal pecah. Bikin saya sempat tereak karena mereka ribut lelarian gedebukan hingga dini hari ini; sementara saya pas harus konsen menulis.

Perayaan? Kami makan berame, boleh menghabiskan makanan yang tersedia. Plus doa permohonan terbaik untuk masa satu tahun. Mohon maaf dan memaafkan secara batin kepada semua pihak, semua peristiwa baik buruk yang sudah terlewati. Dan tahun baru pun datang dengan suara jlederan kembang api dan riuh petasan di luaran yang rada jauh dari rumah.

Jadilah baik hari-hari di Tahun 2024 ❤️ Berikan semua keberlimpahan berkah, sehat, panjang umur, murah rezeki, damai dan bahagia untuk warga semesta ❤️ Selamat Tahun Baru 2024 ❤️❤️

#arikinoysanwulandari#ariwulandari#kinoysanstory

Please follow and like us:

Alhamdulillah, Terimakasih 2023; Lebih Happy 2024

Mawar Merah Muda: Simbol Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Hiruk pikuk bikin resolusi sering menyertai saat sebagian kita sibuk persiapan perayaan Natal, libur sekolah-tahun baru, agenda tahunan; camp, piknik, kunjungan, dll.

Saya? Lama jadi freelancer bikin saya “kalem” atas hidup. Target-target ada, tapi lentur dengan beragam situasi. Yo mosok, saya wes bikin target buku untuk penerbit dengan sistem royalti yang embuh kapan terbit dan dapat berapa; tetep harus saya dulukan saat ada gaweyan biografi yang jelas rampung dibayar? Tentu saya harus kompromi😀🙏

Pun tentang jumlah buku terbit, eps script yang ditulis, film yang diurus, judul yang disupervisi, dll. itu bagi saya jadi kurang signifikan. Kenapa harus ribut dengan jumlah karya, kl misalnya 1 biografi yang dikerjakan 6 bulan bisa untuk hidup layak 5 tahun? 😀🙏

Toh saya pekerja keras–versi saya lho 😅 Kl dijadwalkan, ya selesai. Gaweyan dadakan itu saya sebut rezeki tak terduga 💝 Tetap dengan kontrol terbaik; ada manajer, editor, proof reader, sutradara, produser, dll yang gak bakalan yo wes saja, salah kudu dibenerin, gak bagus kudu diganti, dst. Itu bikin saya terbiasa “terbaik”. Kerja beneran. Kl malas, mager, cuti saja.

2023 alhamdulillah; 3 buku terbit, ratusan artikel pop, 5 artikel ilmiah, ngisi embuh berapa workshop lupa, ngurus script lbh banyak, supervisor proyek buku beragam yang bikin saya ke Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa; kayak alap-alap, bolakbaliknya hectic. Stres itu kl gak biasa pergi. Apalagi? Umroh Istimewa ❤️ Memetik matoa, durian dari pohonnya. Watersport ❤️

2024? Gaweyan standar. Kontrak dengan satu brand besar Tiongkok dll kerja penulisan, insyaallah pasti bikin 2024 lebih banyak berkah dan happy ❤️

Jujurly saya gak pernah beneran bikin resolusi. Saya bekerja keras-cerdas, terbuka, berdoa, sedekah, dll yang versi saya jadi jalan kemudahan sesuai aturan Islam. Monggo yang mo bikin resolusi 2024, bikin yang realistis, yang bikin anda happy saat merayakan tahun baru 2025 nanti. Catatan ini di web pribadi saya sebagai perangkum satu tahun 2023 yang supersibuk. Semoga tahun 2024 dengan lebih banyak tangan, lebih mudah untuk aktif mengisi web pribadi ini.

Selamat berlibur. Selamat Tahun Baru 2024. Semoga kita semua berlimpah berkah di Tahun Naga Kayu 😀

#ariwulandari#arikinoysanwulandari#resolusi#kinoysanstory#tahunbaru#bersyukur

Please follow and like us:

Sok Sibuk atau Produktif?

Artikel ini telah dimuat di penabicara.com pada hari Jumat, 29 Juli 2022 dengan link sebagai berikut.

https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2064008440/sok-sibuk-atau-produktif

ARI WULANDARI

Dosen PBSI – FKIP – Universitas PGRI Yogyakarta, web: arikinoysan.com

Sehari semalam waktu kita sama 24 jam. Toh urusan kita tidak pernah sama. Kalau urusan mengukur “produktif” bagi mereka yang bekerja menetap dengan gaji bulanan, biasanya jauh lebih mudah. Di setiap institusi pemerintah atau non pemerintah, umumnya sudah ada aturan dan ketentuannya. Standar untuk memeriksanya pun sudah ada batas minimal yang harus dipenuhi.

Bagaimana untuk mengukur produktivitas kerja freelancer atau mereka yang bekerja di ranah informal? Jawabannya tergantung pada masing-masing orang. Bagaimana cara seseorang mengukur produktivitasnya, cenderung berhubungan dengan karakter pribadi dan keperluan hidupnya.

Mereka yang memiliki keperluan hidup lebih banyak dalam hidupnya, bekerja sebagai freelancer justru akan memompa kemampuan atau kapasitas terbaiknya. Mereka akan menghasilkan banyak, sehingga hasil kerjanya dapat dikomersialkan. Arti dari dikomersialkan berarti dapat dikonversikan dengan uang atau sejenis yang dapat dipertukarkan secara ekonomis (emas, ternak, sawah, tanah, hak eksploitasi, dollar Singapura atau Amerika, hak kelola, dll).

Sebagai freelancer, menyadari bahwa saya bukan orang gajian tiap bulan —bisa berulang kali menerima fee, honor, royaltie, share hasil, dll dalam jumlah besar, tapi juga bisa dalam masa tertentu saya hanya mendapat penghasilan tidak besar. Oleh karena itu, manajemen duit saya kudu bener.

Bukan berarti saya tidak menikmati hidup lho. Hidup saya sangat baik dan happy sesuai dengan standar pribadi. Saya hidup sewajarnya sepatutnya orang hidup. Itu pun ya sudah jauh di atas rata-rata kebanyakan orang. Saya nyaris tidak berkonflik dengan pengaturan uang pribadi.

Sekurangnya kalau saya mau dolan jauhan sedikit, saya tidak perlu merasa bersalah melihat charge yang harus saya bayar. Atau kalau saya sedang kalap memborong kain-kain khas daerah (wastra nusantara), saya pun tidak ada perasaan piye-piye. Atau berhari-hari saya ngepos di hotel ya tidak merasa sayang.  Duit-duit saya sendiri, kalau nggak saya nikmati atau saya gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, kalau saya mati ya tidak saya bawa.

Dengan kondisi tersebut, dengan sadar saya kudu bikin aturan kerja secara mandiri. Pada awalnya tidak mudah. Apalagi sebelumnya saya bekerja menetap dengan sistem gajian dan bonus. Bekerja dengan ritme deadline yang ketat yang sudah ditentukan bersama, membuat saya sudah tinggal menjalani. Seperti berlari dari satu tayangan ke tayangan lain. Ya begitulah kalau mengurusi sinetron dan film di Multivision Plus Jakarta.

Saat melepaskan pekerjaan itu, saya seperti jobless dan limbung mau ngapain, bingung. Mulailah saya memetakan pekerjaan, klien, sponsor, relasi, dll yang berkaitan dengan penunjang kinerja saya. Dari sana saya pun mulai mengatur waktu. Saya memastikan jam hidup saya adalah 03 pagi sampai 23 malam waktu WIB. Lainnya untuk tidur. Dari sekian banyak waktu itulah yang saya gunakan untuk semua aktivitas. Termasuk urusan gaweyan.

Kalau di Jakarta saya terbiasa bekerja dari pagi sampai pagi lagi, maka kembali ke Jogja adalah menikmati hidup yang selow-selow. Jogja tidak bisa dibuat saklek on time seperti Jakarta. Lha prinsipnya saja alon-alon waton kelakon, pelan-pelan asal terlaksana. Mayoritas orang-orangnya tidak bisa diajak berlari kencang.

Kalau di Jogja, mengajak orang lembur dari jam 18 ke 20 WIB saja sulit. Ada saja alasannya untuk cepat pulang. Akhirnya, untuk gaweyan-gaweyan yang rawan lembur-lembur, saya mengajak mereka yang terbiasa dengan ritme kerja di Jakarta. Nggak rampung gaweyan, nggak bayaran! Jadi saya tidak perlu berbual mulut untuk memastikan deadline terpenuhi.

Seiring waktu, saya kembali menikmati hidup di Jogja yang santai. Segala kuliner dan aneka tempat wisata bisa saya nikmati dengan murah. Beberapa kali saya sering syok, dengan harga-harganya yang sering versi saya tidak masuk akal. Hidup di Jakarta dengan segala fasilitas kantor yang mudah, penghasilan besar sekaligus biaya-biaya hidup yang tidak ringan, membuat saya terbiasa dengan “harga mahal” itu.

Jadi, biaya makan saya saja di Jakarta, wis bisa untuk hidup dengan layak saya bersama anak-anak asuh yang semuanya sekolah. Istilahnya, saya bekerja tetap dengan standar hitungan Jakarta, tapi untuk biaya hidup di Jogja. Ya jelas makmur. Meskipun tentu, dalam beberapa hal saya tetap harus bekerja mengikuti ritme Jakarta. Kadang-kadang saya harus bekerja dari pagi sampai pagi beberapa hari demi mengawal pekerjaan-pekerjaan urgent yang kudu naik layar.

Di hari yang lain, saya bisa selow tenan. Rebahan, nonton, baca, ngrusuhi ponakan-ponakan saya, nginguk teman-teman, nyambangi panti asuhan dan anak-anak asuh, pesantren, ngopeni tanduran, atau ibut menata buku dan souvenir yang sudah rapi diganti formasi, dll aktivitas yang sama sekali nggak ada duitnya. Itulah yang menghidupkan saya.

Sibuk? Iya. Setelah kembali ke Jogja, saya ya lebih banyak menulis buku, mengurusi anak-anak sekolah penulisan, dll yang tidak terlalu menguras energi fisik dan mental. Sekurangnya sekarang saya sudah ada 125 judul buku yang terbit di penerbit mayor.

Terbit di penerbit mayor itu artinya semua naskah tersebut sudah lolos seleksi standar penerbitan. Saya tidak perlu bayar biaya produksi, tinggal mengawal saja sampai terbit dan beredar di toko buku offline maupun online. Seterusnya saya perlu membantu promosi dengan maksimal, dan tiap enam bulan terima royalti.

Dengan 125 judul buku tersebut saya tulis dalam masa 20 tahun sejak saya mempublikasikan buku saya pertama di tahun 2002. Bukan dadakan langsung jleb ujug-ujug sebanyak itu. Sedikit demi sedikit. Kadang satu, dua, tiga, lima, atau maksimal dalam satu waktu bersamaan terbit enam judul buku.

Sekarang dengan adanya pembaruan untuk membuat semua buku akan dialihkan dalam versi digital atau ebook, jelas potensi pasar yang luar biasa. Kalau secara kasar dibilang, tidak perlu bekerja lagi pun, saya wis bisa hidup layak di Jogja ini. Ya karena royalti buku akan dibayarkan terus menerus selamanya —selama buku masih terjual. Lha kepenak to dadi penulis buku? 😀  

Tapi kan hidup kalau mung thenguk-thenguk ya nggak produktif. Sehari-hari saya tetap bekerja. Menulis, mengajar, mengawal kelas, mendampingi penulis, mengikuti berbagai program kerja PH, dll. Semuanya saya pilih yang menyenangkan. Ada yang (tidak/belum) ada duitnya, ada yang duitnya tidak banyak, ada yang duitnya banyak, sering pula ada duitnya sangat banyak. Saya bersyukur dengan semua berkat Tuhan.

Sebagai penulis yang sering dilabeli produktif dengan jumlah buku banyak hingga saat ini, saya hanya tersenyum. Kalau dihitung jumlah, mungkin iya produktif. Tapi apakah bagi saya ukuran produktif itu hanya jumlah karya baru?

Tentu tidak. Bagi saya pribadi, produktif berarti menghasilkan uang secara riil dari hasil karya. Itu berarti harus banyak buku terjual, sinetron yang rating, film yang box office, share hasil yang banyak, dll. sehingga menghasilkan uang yang melimpah.

Kalau tidak, berarti produktivitas itu hanya semu. Saya sebagai freelancer profesional berhitung berapa banyak uang yang dihasilkan. Dengan demikian, ada lebih banyak waktu untuk ongkang-ongkang tanpa bingung uang.

Jadi, kalau kamu merasa seharianmu sudah sibuk sedari bangun tidur sampai mau tidur —rasanya untuk selaw-selaw tidak bisa, coba cek aktivitasmu. Coba sekali saja, data kegiatanmu dalam satu hari penuh. Mungkin saja waktumu banyak terbuang untuk hal sia-sia.

Misalnya terlalu ngurusi kehidupan orang lain. Scrolling medsos tanpa henti tanpa tujuan. Nonton video-video dan cuplikan-cuplikan pendek yang hanya sekian detik, tahu-tahu sudah sejam. Bolak-balik update status di sosmed padahal nggak penting-penting amat. Bagian dari kaum juliders dan nyinyirens yang mengganggu perasaan orang lain. Terlibat dalam gosip dan perdebatan —baik di dunia nyata atau sosmed; ngobrol ke sana sini tanpa arah; dll yang saya yakin setiap pembaca bisa memetakan dengan baik.

Saya kalau pas selow, bisa mung rebahan dengan nonton saja seharian. Apalagi sekarang ada platform film murah-murah yang bisa diakses dari rumah. Asal internetmu lancar jaya, sehari semalam mo nonton ya bisa. Ini kelihatannya tidak produktif, bagi saya ya tetap produktif. Begitu rampung nontonnya, saya akan bikin ulasannya untuk media, PH, klien atau sponsor. Dan tentu sajaa dibayar, dapat duit.

Kalau berkaitan dengan produktif, saya yakin setiap orang bisa memetakan kemampuan riilnya. Kemampuan ini tidak hanya keahlian lho ya. Termasuk di dalamnya kesempatan, waktu, akses ke sumber daya, jejaring kerja, dll yang bisa menjadi sarana percepatan produktivitas.

Misalnya sampeyan ibu rumah tangga dan sudah sepakat dengan pasangan untuk ngurusi rumah dan anak-anak. Sementara suami bekerja keras memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sebenarnya sampeyan punya skill menulis, menggambar, melukis, fotografi, dll. yang bisa dikomersialkan. Karena kesibukan mengurusi anak-anak dan rumah tangga itu ibaratnya 27 jam sehari, ya tidak usah ngoyo ingin  produktif seperti mereka yang profesional bekerja di bidang tersebut.

Dalam kasus-kasus seperti ini, saya biasanya menyarankan untuk membuat jadwal  sehingga kemampuannya tidak hilang. Misalnya bisa menulis, ya isi saja blog pribadi setiap hari secara rutin. Tidak usah memikirkan hal besar, ambil saja dari sesuatu yang dialami atau dilakukan. Ini merupakan hal yang mudah. Selain gampang dilakukan, juga bisa menjadi sarana untuk pereda stress menghadapi keriuhan anak-anak super yang kadang kelakuannya bikin lelah jiwa raga.

Nah, dari ulasan saya di atas silakan menghubungkan dengan kondisi riil masing-masing. Silakan ngecek peta kapasitas atau kemampuan dan tentukan target yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi. Karena versi saya, produktif berkarya sekalipun kalau nggak menikmati hidup, ya tidak ada gunanya. Hidup kalau hanya untuk grundelan urusan gaweyan ya jelas mengganggu.

Pilihlah apa saja yang memungkinkan sampeyan semua agar produktif versi masing-masing. Sungguh tidak masuk akal kalau ada yang berteriak atau bilang, nggak bisa apa-apa. Yach, kecuali mereka yang sudah terbaring dengan begitu banyak selang pembantu hidup di ruang ICU, baru itu benar.

Kalau anda sehat, keluarga baik-baik, terdidik, punya lingkungan yang baik, lalu bilang tidak bisa apa-apa, saya tidak percaya. Mungkin sampeyan tipikal orang yang sok sibuk dan tidak mau produktif. Sampeyan pilih yang mana?. ****

Please follow and like us: