Jadi Penulis Produktif. Perlu buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Penulis paling ahli pun sesekali membuat kesalahan tata bahasa. Masalahnya, kesalahan kecil ini dapat merusak kredibilitas Anda dan mengganggu aliran pembacaan. Pembaca yang terusik oleh typo dan tata bahasa yang salah akan kesulitan fokus pada ide besar Anda.
Mengedit tata bahasa adalah tentang disiplin. Berikut adalah tujuh kesalahan paling umum dalam penulisan bahasa Indonesia (dan tip praktis untuk menghindarinya).
Penggunaan Preposisi Di dan Ke yang Terpisah dan Bersambung Ini mungkin adalah kesalahan tata bahasa yang paling sering terlihat, terutama dalam penulisan online.
Aturan: Preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah harus dipisah. Imbuhan pembentuk kata kerja pasif harus disambung.
Contoh Salah: Disana (seharusnya di sana), di tempel (seharusnya ditempel).
Cara Menghindari: Jika Anda bisa mengganti kata tersebut dengan “di samping,” pisahkan. Jika tidak bisa, sambung.
di sana (bisa diganti di samping), di kantor (bisa diganti di samping).
ditulis (tidak bisa diganti di samping tulis).
Penulisan Partikel -Pun dan -Per Banyak penulis bingung kapan partikel ini harus digabung atau dipisah.
Partikel -Pun: Ditulis terpisah kecuali untuk 12 kata yang sudah baku (misalnya: adapun, meskipun, walaupun, biarpun, ataupun, kalaupun, kendatipun, siapapun, bagaimanapun, sungguhpun, jangankan, dan sekalipun).
Contoh: Anda pun bisa berhasil. (Pun berarti ‘juga’).
Partikel -Per: Partikel per yang berarti “mulai,” “demi,” atau “tiap” harus dipisah.
Contoh: Mereka bertemu per hari Kamis. Harga naik per dua minggu.
Penggunaan Tanda Koma (,) yang Keliru Koma adalah jeda penting dalam kalimat; menggunakannya secara berlebihan atau kurang dapat mengacaukan makna.
Fungsi Koma: Memisahkan unsur-unsur dalam pemerincian (Saya suka kopi, teh, dan susu). Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat mendahului induk kalimat (Karena sakit, ia tidak masuk).
Kesalahan Umum: Meletakkan koma untuk memisahkan subjek dan predikat yang tidak terlalu panjang (Ani, sedang membaca buku – SALAH).
Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Adalah Secara Berlebihan Beberapa penulis cenderung menggunakan di (sebagai kata kerja pasif) atau adalah secara berlebihan, yang membuat kalimat terasa pasif dan lemah.
Hindari: “Pekerjaan itu adalah untuk membersihkan.”
Perbaiki: “Pekerjaan itu membersihkan.” (Gunakan kata kerja aktif)
Penulisan Huruf Kapital pada Istilah Unik Penulis sering tergoda untuk menggunakan huruf kapital pada setiap istilah yang mereka anggap penting.
Aturan: Gunakan huruf kapital hanya untuk nama diri, nama geografis, singkatan resmi, dan awal kalimat. Jangan gunakan huruf kapital untuk istilah umum, bahkan jika itu adalah istilah kunci dalam tulisan Anda.
Contoh Salah: “Kami membahas tentang Karya Tulis Ilmiah.”
Contoh Benar: “Kami membahas tentang karya tulis ilmiah.”
Penggunaan Kata Penghubung Ganda (Double Conjunctions) Kesalahan ini terjadi ketika penulis menggunakan dua kata penghubung yang memiliki fungsi serupa dalam satu kalimat, menyebabkan pemborosan kata (redundancy).
Contoh Salah: “Meskipun dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”
Perbaiki: Pilih salah satu. “Meskipun dia gagal, dia akan mencoba lagi.” ATAU “Dia gagal, tetapi dia akan mencoba lagi.”
Penggunaan Tanda Hubung (-) untuk Menghubungkan Semua Kata Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur yang memiliki hubungan erat atau mengulang kata. Penulis sering salah menggunakannya untuk semua gabungan kata.
Gunakan untuk: Kata ulang (berlari-lari), gabungan unsur dengan imbuhan () di-PHK), atau untuk memperjelas makna (ibu-bapak vs ibu bapak).
Hindari: Menggunakan tanda hubung untuk semua gabungan kata yang sudah padu.
Tata bahasa yang benar adalah bentuk penghormatan kepada pembaca Anda. Dengan secara rutin memeriksa tujuh kesalahan umum ini saat mengedit, Anda akan memastikan bahwa tulisan Anda tidak hanya brilian secara ide, tetapi juga bersih, profesional, dan sangat mudah dipahami.
Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menulis itu seperti piknik, healing untuk kesehatan mental. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kamu pernah nggak sih ngerasa kepala lagi penuh banget sama pikiran, hati kayak sesak, tapi bingung mau curhat ke siapa? Kadang kalau cerita ke orang lain, ujung-ujungnya cuma dikasih kalimat klasik: “Sabar ya,” atau “Udah, jangan dipikirin.”. Padahal otak lagi mumet banget, kan? Nah, di titik inilah menulis bisa jadi sahabat terbaik kamu.
Menulis itu bukan cuma soal bikin karya sastra, novel, atau caption Instagram estetik. Lebih dari itu, menulis bisa jadi healing tool alias alat terapi buat kesehatan mental.
Kenapa Menulis Bisa Jadi Terapi? Kayak curhat, tapi aman. Kertas atau layar HP nggak bakal nge-judge kamu. Mau nulis hal receh, marah-marah, atau nangis dalam kata-kata, semuanya bisa. Kamu bebas banget.
Melepas beban pikiran. Kadang isi kepala tuh kayak tabungan yang udah overload. Begitu ditulis, rasanya kayak dipindahin ke luar otak. Lebih plong!
Self-awareness naik level. Dengan nulis, kamu jadi lebih kenal diri sendiri. Apa sih yang bikin kamu sedih, marah, atau bahagia? Dari situ kamu bisa pelan-pelan ngerti cara nge-handle diri.
Jadi memori keeper. Nulis juga bikin kamu inget perjalanan diri sendiri. Kadang baca lagi tulisan lama bikin sadar, “Wah, ternyata aku udah kuat banget ya bisa lewatin masa itu.”
Cara Asik Mulai Menulis Buat Healing: Nggak usah ribet mikir format. Nulis aja kayak lagi curhat sama temen deket. Nggak perlu mikir EYD, tanda baca, apalagi gaya bahasa baku.
Coba journaling. Tulis tiap hari 5–10 menit. Bisa soal apa yang kamu rasain hari itu, hal-hal kecil yang bikin kamu bersyukur, atau sekadar keluhan receh.
Bikin “surat tak terkirim”. Pernah pengen ngomong sesuatu ke orang tapi nggak bisa? Tulis aja surat buat dia (meski nggak dikirim). Trust me, rasanya lega banget.
Gunain HP atau buku. Kamu tim ngetik di notes HP atau tim nulis tangan di buku? Dua-duanya oke, pilih aja yang bikin nyaman.
Efek positif nulis buat kesehatan mental: Tidur bisa lebih nyenyak karena isi kepala udah “dituangin” sebelum tidur.
Stress bisa turun karena kamu punya outlet buat buang energi negatif. Rasa percaya diri bisa naik, soalnya kamu jadi terbiasa jujur sama diri sendiri.
Jadi, kalau kamu lagi ngerasa hidup berat, jangan buru-buru nyalahin diri atau mikirin omongan orang. Coba deh ambil pena atau buka notes di HP, terus tulis semua yang numpuk di pikiran.
Anggep aja menulis itu kayak “spa buat otak” atau piknik untuk healing kesehatan mental. Menulis itu murah meriah, gampang, tapi efeknya bisa bikin jiwa kamu lebih sehat. Karena kadang, yang kita butuhin bukan kata “sabar”, tapi ruang buat cerita. Dan menulis bisa jadi ruang kita cerita tanpa harus melibatkan orang lain.
Wisuda doktor, GSP, UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pendidikan itu penting banget, gengs. Apalagi kalau udah ngomongin kuliah S-1, lanjut S-2, bahkan S-3. Tapi jujur aja, biaya kuliah sekarang nggak murah. Dari uang pangkal, UKT (Uang Kuliah Tunggal), biaya hidup, sampai print tugas tebel-tebel; semuanya butuh duit. Nah, biar nggak kaget pas waktunya tiba, kita perlu strategi buat nyiapin dana pendidikan tinggi. Yuk, kita bahas tuntas.
Kenapa dana pendidikan harus dipersiapin dari awal? Ya, bayangin deh, biaya kuliah tiap tahun itu naik kayak harga cabe waktu lebaran. Kalau kita nggak punya perencanaan, bisa-bisa stress duluan sebelum sidang skripsi. Nyiapin dana pendidikan dari awal bikin kita lebih tenang, nggak gampang panik, dan yang paling penting: masa depan pendidikan nggak ketunda gara-gara masalah finansial.
Berikut ini ada tips persiapan untuk dana pendidikan tinggi, yang boleh kamu coba.
Pertama, mulai nabung sejak dini. Jangan nunggu “nanti kalau ada rezeki lebih” baru nabung. Percaya deh, kalau nunggu lebih, ujung-ujungnya malah abis buat jajan atau nongkrong.
Mulailah dari kecil; misalnya tiap bulan sisihin 10% dari gaji/uang jajan khusus buat tabungan pendidikan. Kalau konsisten, lama-lama jadi bukit.
Kedua, bedain pabungan pendidikan sama tabungan jajan. Ini penting banget. Jangan campur aduk antara tabungan buat beli sneakers baru sama tabungan buat biaya kuliah.
Bikin rekening terpisah atau pakai aplikasi keuangan biar lebih gampang tracking. Jadi, dana pendidikan aman dari godaan impulsif.
Ketiga, investasi yang ringan-ringan. Kalau mau lebih serius, coba belajar investasi. Nggak perlu langsung ke saham yang ribet, bisa mulai dari reksa dana atau deposito. Return-nya lumayan buat ngimbangin inflasi biaya pendidikan. Tapi inget, jangan asal ikut-ikutan. Pelajari dulu risikonya biar nggak nyesel.
Keempat, cari info beasiswa. Siapa bilang semua biaya kuliah harus ditanggung sendiri? Banyak kok beasiswa dari kampus, pemerintah, bahkan swasta. Mulai dari beasiswa prestasi, penelitian, sampai beasiswa khusus bidang tertentu. Jadi, sambil nyiapin dana, jangan males riset peluang beasiswa.
Kelima, jangan malu kerja sampingan. Buat yang udah S-1 atau lanjut S-2/S-3, kerja sampingan bisa jadi solusi. Misalnya freelance desain, ngajar les, jadi content creator, atau jualan online. Lumayan banget buat nambahin dana pendidikan tanpa ngerepotin orang tua.
Keenam, diskusiin bareng keluarga. Klau kamu masih di tahap rencana, jangan sungkan ngobrol sama keluarga. Bisa aja ada dukungan finansial atau ide dari mereka. Ingat, pendidikan itu investasi keluarga juga, jadi ngobrolin dari awal bikin lebih ringan.
Ketujuh, potong pengeluaran nggak penting. Ngopi cantik tiap hari? Scroll marketplace terus checkout barang nggak urgent? Coba tahan dulu. Alihin sebagian budget gaya hidup ke tabungan pendidikan. Bukan berarti anti jajan, tapi belajar prioritas.
Kedelapan, manfaatkan teknologi. Sekarang banyak aplikasi finansial yang bisa bantu atur duit, bahkan ada fitur khusus nabung buat pendidikan. Gunain fitur auto-debet biar nggak ada alasan lupa nabung tiap bulan.
Nah, kamu bisa memulai program siap-siap dana pendidikan dengan mengetahui tingkat pendidikan yang ingin kamu tempuh. Mari kita cek. S-1, S-2, atau S-3: itu bedanya apa?
S-1: Biaya kuliah biasanya masih bisa dicari part-time, tapi tetep butuh persiapan, apalagi kalau ngekos.
S-2: Lebih mahal, tapi biasanya waktunya lebih singkat. Beasiswa S-2 banyak banget, jadi jangan males apply.
S-3: Ini level dewa, gengs. Biayanya tinggi banget, tapi banyak juga sponsor dari kampus luar negeri. Kalau minat, persiapannya harus lebih matang dan panjang.
Jadi, boleh dibilang nyiapin dana pendidikan itu kayak nge-build karakter di game. Kalau kamu konsisten nabung, pintar atur duit, dan rajin cari peluang (beasiswa atau kerja sampingan), jalan menuju S-1, S-2, bahkan S-3 bakal lebih mulus. Ingat, pendidikan itu bukan sekadar gelar, tapi investasi jangka panjang buat masa depan.
Dan, jangan tunggu besok untuk siap-siap. Mulai hari ini juga. Karena masa depan kamu nggak bisa nunggu saldo rekening penuh dulu baru dijalanin.
Sharing pengalaman tentang penulisan di FIB, UNS, Solo. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pernah nggak sih kamu ngerasa otak lagi penuh banget; kayak laptop kebanyakan tab, mau meledak? Nah, salah satu cara paling ampuh buat ngerapiin isi kepala itu ya… menulis.
Buat sebagian orang, menulis mungkin keliatan sepele. Tinggal ketik atau coret-coret di kertas. Tapi sebenarnya, menulis itu bukan cuma soal kata-kata. Menulis bisa jadi cara buat ngehidupin jiwa.
Menulis itu terapi murah meriah. Kalau lagi suntuk, capek, atau patah hati, coba deh tulis semua unek-unek. Bisa di buku harian, blog, atau notes HP. Ajaib banget, hati jadi lebih plong. Kayak lagi curhat, tapi sama kertas. Bedanya, kertas nggak bakal nge-judge kamu.
Menulis bikin kenangan nggak hilang. Ingat nggak momen pertama kali kamu jatuh cinta, atau waktu liburan seru bareng sahabat? Kalau cuma disimpen di kepala, lama-lama bisa pudar. Tapi kalau ditulis, kenangan itu bisa kamu “putar ulang” kapan aja. Jadi, menulis itu kayak mesin waktu versi personal.
Menulis berarti mengenal diri sendiri. Seringkali kita nggak sadar apa yang bener-bener kita rasain sampai ditulis. Pas baca ulang, baru deh mikir, “Oh ternyata ini yang aku rasain.” Jadi, menulis bisa jadi cermin buat ngerti siapa diri kita sebenarnya.
Menulis bikin ide jadi nyata. Pernah punya ide keren tiba-tiba, tapi ilang gitu aja karena nggak ditulis? Nah, menulis itu cara paling gampang buat ngabadikan ide. Siapa tahu dari coretan kecil, lahir karya besar: novel, lagu, bahkan bisnis.
Menulis itu warisan jiwa. Buku, blog, puisi, atau bahkan caption panjang di medsos; semua itu bisa jadi jejak yang ditinggalin. Bayangin deh, tulisan kamu bisa dibaca orang lain, bahkan setelah kamu udah nggak ada. Itu artinya, lewat tulisan, jiwa kamu tetap hidup.
Tips Biar Nulis Lebih Hidup
Pertama, nulis apa aja dulu; nggak usah mikirin bagus atau enggak. Tulis aja. Kedua, jangan takut typo; edit belakangan, yang penting ide keluar dulu. Ketiga, bawa notes/HP ke mana-mana; inspirasi suka datang tiba-tiba. Keempat, coba berbagai jenis; puisi, cerita pendek, blog, bahkan catatan random. Kelima, nikmatin proses; menulis itu bukan lomba, tapi perjalanan.
Intinya… Menulis itu bukan cuma aktivitas, tapi cara buat hidup lebih hidup. Setiap kata yang ditulis bisa jadi jalan buat nyembuhin luka, nyimpen kenangan, nemuin jati diri, bahkan ninggalin warisan jiwa.
Jadi, jangan nunggu “siap” dulu baru mulai nulis. Segera ambil kertas, buka laptop, atau ketik di HP. Karena setiap kali kamu menulis, sebenarnya kamu lagi ngasih “napas” baru buat jiwa kamu sendiri. Menulis itu menghidupkan jiwa. Dan jiwa yang hidup, selalu punya cerita.
Piknik, salah satu sumber anggarannya dari penghematan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tulisan ini bermula dari pertanyaan, “Apa bedanya hemat dan pelit?”
Saya yang sudah biasa berhemat tanpa harus menjadi pelit, pun mikir: bagaimana cara menjelaskannya. Karena kriteria hemat, pelit itu beda-beda tipis dan tiap orang punya “persepsi” atau “pandangan” yang beragam tentang hitung-hitungan uang.
Mari kita ulik soal ini. Mungkin saat kamu berhemat agak ketat demi tujuan tertentu, kadang mikir: “Sebenarnya aku ini lagi hemat atau pelit siy? 🤔 Kadang garis tipis antara dua kata ini bikin kita bingung. Soalnya, hemat itu keliatan keren, pintar ngatur duit, bijak finansial. Tapi kalau udah kelewatan, bisa-bisa capnya langsung berubah jadi, “Uuh, dasar pelit!”
Kalau versi saya, hemat itu intinya me-manage duit biar kita tetap survive dan nggak bocor halus tiap akhir bulan. Terlebih bagi freelancer yang duitnya datang nggak menentu.
Misalnya:
Milih masak sendiri daripada beli masakan/makanan online tiap hari. Selain lebih sehat, puas, ternyata juga lebih irit banget.
Beli barang pas lagi diskon, terutama kalau bukan keperluan urgent. Diskon berapapun, tetap “uang” yang bisa dijumlahkan.
Nabung dikit-dikit buat goals masa depan. Kalau saya sudah pingin ke tempat A tanggal sekian, itu berarti saya kudu liat anggaran yang ada. Kalau masih kurang ya kudu nabung. Kadang target waktunya jadi molor, demi tersedianya budget. Nabung ini sering saya ambil dari budget “nongkrong” ganti suasana kerja. Biasanya sebulan 8x, wes cukup 2x aja.
Hemat tuh lebih ke strategi. Kita jadi ngerti mana kebutuhan, mana keinginan. Kita bijak menggunakan uang. Kita sadar mana prioritas yang lebih penting. Meskipun uang kita sendiri, tetap nggak bijak foya-foya.
Nah, kalau pelit beda cerita. Pelit biasanya udah masuk ke ranah, “Duh, segitunya. Pelit amat siy.”
Contohnya:
Nongkrong rame-rame, tapi pas bayar malah pura-pura sibuk cari dompet. Biar temen yang bayarin. Sekali dua kali oke, berkali-kali sampeyan akan ditinggalkan teman-teman.
Pakai barang sampe rusak parah, tapi nggak mau ganti padahal mampu. Ini siy kelewatan. Masa sama diri sendiri pelit?
Ngasih traktiran aja pake hitungan kayak kalkulator jalan. Heish, kalau ketemu orang yang itung-itungan parah itu emang nyebelin. Mendingan nggak usah terima traktirannya dan nggak usah ajakin kalau kita mo nongkrong atau jalan. Daripada beribet ntar pas bayarnya.
Kalau hemat bikin hidup lebih terkontrol, pelit justru bikin orang di sekitar jadi males. Bayangin gini deh: kamu lagi jalan bareng temen, terus dia ngajak makan di resto fancy. Kamu nolak karena budget terbatas dan nggak mau utang; itu hemat. Tapi kalau kamu nolak, padahal saldo tabungan gemuk dan pengen tetep gratis makan? Nah, itu baru pelit! 😅
Hemat biasanya dihormati orang: “Wih, dia pinter ngatur duit.” Pelit? Bisa-bisa kamu dihindarin. Orang males main bareng yang setiap nongkrong atau beli-beli malah ujung-ujungnya bikin ribet soal bayar.
Sah-sah aja hemat, malah harus banget! Tapi inget, hidup juga bukan cuma soal nabung terus. Kadang traktir temen, beliin hadiah kecil buat orang tersayang, atau sekadar bayar ongkos driver lebihin dikit, itu nggak bikin kamu miskin, justru bikin hati lega. Ini juga bikin kita happy.
Jadi lain kali kalau kamu ngaku, “Aku lagi hemat nih,” coba cek dulu… itu beneran hemat atau jangan-jangan kamu lagi pelit tapi nggak sadar? 😉
Wisuda S-3 di kampus FIB UGM tahun 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kasus dugaan ijazah palsu sang mantan Presiden Joko Widodo yang begitu heboh dan muncul beragam tudingan, fitnah, saling serang, dll disusul pula dugaan ijazah palsu sang putra mahkota yang jadi Wapres Gibran Rakabuming Raka pun ikut memanas. Belum lagi kasus-kasus setipe yang terjadi pada banyak pejabat dan petinggi negara dan banyak lagi kasus sejenis pada public figur dari beragam bidang kerja. Sesuatu yang menandakan bahwa dunia pendidikan kita memang “nggak baik-baik” saja.
Kalau ada yang bilang sekolah itu gampang, coba deh tanya lagi sama anak-anak yang tiap hari harus bangun pagi, ngantuk di kelas, PR numpuk, plus ulangan yang datang tanpa basa-basi. Sekolah tuh memang perjalanan panjang yang bikin capek, kadang bikin senyum, tapi malah sering kali bikin kita pengen teriak, “Kenapa sih susah (sulit) banget?”
Hal pertama yang bikin sekolah terasa ribet jelas soal tugas dan nilai. Matematika dengan rumus yang muter-muter, bahasa dengan esai yang panjang-panjang, IPA dan IPS dengan hafalan yang nggak ada habisnya. Padahal, nggak semua orang jago di bidang itu. Ada yang otaknya encer di Matematika tapi belepotan kalau disuruh bikin cerpen. Ada juga yang jago gambar, tapi mumet kalau ketemu tabel periodik.
Masalahnya, sistem sekolah kita memberi tuntutan agar siswa oke di semua mata pelajaran. Jadinya apa? Ya jelas, banyak anak yang ngerasa nggak cukup baik, padahal sebenarnya mereka punya bakat lain yang nggak kalah keren.
Selain tugas, dunia pertemanan juga punya cerita sendiri. Buat sebagian orang, sekolah itu tempat nemuin sahabat sejati, geng seru, atau partner kerja kelompok yang bisa diandalkan. Tapi, ada juga yang justru ngerasa sekolah jadi medan perang karena ada drama, gosip, bahkan bullying (perundingan).
Nggak heran, kadang ada yang bilang sekolah itu lebih melelahkan secara mental daripada pelajarannya. Bayangin, harus mikirin nilai yang udah bikin pusing, ditambah lagi drama sosial yang bikin hati panas dingin.
Jangan salah, bukan cuma murid yang pusing. Guru juga punya tantangan. Mereka harus ngadepin puluhan anak dalam satu kelas, dengan karakter yang beda-beda. Ada yang aktif banget, ada yang diem aja, ada juga yang sukanya bikin onar. Bagi guru, ngajarin anak-anak itu nggak sekadar nyampein materi, tapi juga butuh kesabaran ekstra.
Orang tua pun sering kebagian “PR tambahan”. Mereka harus nemenin anak belajar di rumah, ngelesin di luar (bimbel), keluar duit buat keperluan sekolah, dan kadang ikut stres kalau anaknya mulai ngeluh. Ada yang santai, ada juga yang justru makin nambah tekanan karena pengen anaknya selalu ranking satu.
Di balik semua drama itu, sekolah punya banyak momen seru. Main bola pas istirahat, ketawa bareng di kantin, sampai pengalaman pertama ikut lomba atau tampil di depan kelas. Hal-hal kecil kayak gitu justru sering jadi kenangan manis setelah lulus.
Sekolah juga ngajarin kita hal-hal penting di luar buku pelajaran. Dari belajar kerja sama pas bikin proyek, belajar ngadepin kegagalan waktu nilai jeblok, sampai belajar tanggung jawab kalau lupa bawa tugas. Semua itu bikin kita jadi lebih tangguh menghadapi dunia nyata.
Di tingkat pendidikan yang lebih tinggi (kuliah) juga lebih kurang setipe. Program sudah penjurusan, tapi semua studi masih harus meribetkan tetek bengek perkuliahan dasar (MKU) yang sebenarnya wes gak begitu relevan lagi untuk programnya. Tuntutan lulus banyak SKS, selain bikin mumet mahasiswa dan masa studi lama (yang berimbas pada banyak pengeluaran, mahal) membuat kuliah sering jadi momok bagi masyarakat menengah ke bawah.
Makin tinggi tingkat sekolahnya makin ruwet aturannya. Studi S-1, S-2, S-3 bukan hal yang menyenangkan bagi banyak orang karena tuntutan ekstrim agar “lulus” tepat waktu.
Nggak heran kalau banyak lulusan sekolah tinggi yang begitu jadi pejabat publik njur dipertanyakan soal kelulusannya, bahkan dikuliti ijazahnya, nilai-nilainya, sekolah/kampusnya, kawan-kawannya, dll. Ya karena mereka pejabat kok pahpoh, ngahngoh, bikin kebijakan geje, gakbisa bikin sambutan, gakbisa pidato, waton jeplak kalau bicara, dll yang sangat tidak mencerminkan mereka lulusan sekolah tinggi.
Jangan salah, gelar dari sekolah tinggi nggak selalu berarti seseorang bisa memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan mental, dan kecerdasan spiritual yang tinggi pula. Karena itu semua baru bisa diperoleh atau didapatkan dari kesungguhan belajar, beradaptasi, mengikuti proses sekolah dengan wajar. Bukan tembak nilai, bayar beli ijazah dari kampus yang embuh pula status akreditasinya.
Saya wes melewati proses sekolah dari tingkat dasar sampai yang paling tinggi (S-3, Doktor) dari sekolah-sekolah dan kampus terbaik di dalam negeri, tahu betapa nggak user friendly-nya sistem pendidikan kita untuk peserta didik. Beruntung, saya bersaudara tumbuh di lingkungan yang nggak menganggap sekolah kudu nomor 1, kudu terbaik dengan cara apapun.
Wisuda S-3 di halaman Graha Sabha Permana UGM, Januari 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Nggak ada orang tua kami begitu. Sekolah ya biasa saja bagi kami. Usahakan yang terbaik dengan cara yang baik dan menyenangkan. Jadi, saya sekolah nggak ada tuntutan kudu juara satu, kudu begini begitu. Jadinya, saya tahu bagian atau subjek pelajaran yang saya senang, nilainya tinggi. Yang nggak senang, nilai kebanyakan ya cukup standar saja untuk kelulusan atau naik kelas.
Lalu apakah dengan standar “sederhana” saat sekolah itu bikin hidup saya nggak baik? Yo enggak tuh. Malah banyak temen yang dulunya pinter-pinter jadi stres karena tuntutan berlebihan dari orang tuanya atau dirinya sendiri pada standar angka dan konversi nilai.
Sekolah saya pun jadi lebih menyenangkan. Semua saya lewati dengan cepat dan hasil terbaik, ya justru karena nggak ada beban. Tapi sekolah sesuai pilihan, yang saya senangi, dan keahlian saya pun terbentuk dengan lebih mudah karena ada kesadaran dari diri pribadi.
Bukan berarti saya bilang sistem pendidikan di negeri kita mudah ya. Sulit, bahkan termasuk sulit banget. Berat betul sekolah di Indonesia karena dituntut semua serba bisa, serba bagus sesuai standar “sama”. Padahal sudah jelas kemampuan dan bakat tiap orang berbeda.
Jadi, nggak heran kalau banyak yo nggak mau ribet, punya duit, dan mental ngaji mumpung, wesbayar saja untuk nilai-nilai dan ijazahnya. Ya bisa jadi memang nggak ada yang tahu. Apalagi kalau nggak jadi pejabat publik atau kerja formsl yang beribetan dengan nilai dan ijazah. Iya kan, kalau membohongi orang lain itu mudah. Yang nggak mudah itu kan kalau membohongi diri sendiri. Sampeyan tahu persis apa yang telah anda lakukan.
Solusinya bagaimana? Saya bukan akademisi yang dari awal usia produktif kerja nyemplung dunia pendidikan. Menjadi dosen juga baru seumur jagung. Tapi versi saya, kasus-kasus jual beli nilai, jual beli ijazah, ijazah palsu, jasa bikin skripsi, tesis, disertasi, dll publikasi untuk kepentingan pendidikan itu; nggak akan terjadi atau minim-lah kalau aturan main dan syarat kelulusan pendidikan atau sistem nya secara umum lebih ramah dan mengutamakan minat bakat pribadi, meskipun belajar secara kolektif.
Misalnya: PAUD-TK itu ya wes bermain, beradaptasi, bersosialisasi, seni praktis menari menyanyi, etika dasar. Nggak malah dibebani calistung yang kalau saya lihat pun mumet, apa lagi guru-guru dan muridnya.
Lalu SD-SMP nah di sini kasih keterampilan ilmu dasar calistung dan etika-etika atau budi pekerti untuk tingkat madya. Lalu di SMA baru persiapan untuk program penjurusan ke perguruan tinggi yang dituju. Ditambah pengetahuan etika yang lebih tinggi dan pengetahuan global (bahasa Internasional, teknologi informasi, public speaking, etika Internasional, dll nilai-nilai universal).
Di perguruan tinggi? Ya mestinya wes kuliah sesuai jurusannya saja, non MKU (ini hampir 1/3 lho dari total 144-156 SKS). Buang buang waktu dan nggak relevan. Apa coba relevansinya Pancasila, Pendidikan Agama untuk Jurusan Sastra Indonesia? Suruh bikin Sastra Pancasila? Yang bener aja…. ini sudah selesai mestinya saat anak wes menempuh PAUD s/d SMA. Nggak perlu ngulang lagi. Apamaneh kalau kurikulumnya gonta-ganti tiap kali menteri atau dirjennya lampu merah alias berhenti 😁
S-2 ya wes simpel saja, nggak perlu ada matkul umum lagi. Perlunya bikin laporan riset (tesis) atau studi terapan dengan produk. Jadi 1 tahun rampung dan nggak mengulang-ulang matkul S-1.
S-3 mestinya juga didesain lebih sederhana tapi komprehensif. Nggak perlu kuliah lagi. Ya wes tinggal laporan riset (disertasi) atau produk untuk studi terapan; tentu dengan standar yang lebih tinggi dari S-2. Jadi 1-2 tahun bisa kelar.
Mungkin kalau begitu, bisa jadi sekolah di Indonesia terasa lebih ringan, biaya lebih sedikit, waktu lebih sedikit, dan relatif nggak memusingkan yang mau sekolah.
Sekolah di Indonesia mau di tingkat dasar, madya, maupun tinggi memang (nggak) mudah. Dibandingkan sisi nyenenginnya, lebih banyak ribetnya. Kadang bikin nangis, kadang bikin berhenti aja saat beribetan dengan segala aturan yang terasa “nggak manusiawi”.
Tapi satu hal yang pasti: sekolah bukan cuma soal nilai dan ijazah, tapi juga tentang perjalanan yang membentuk siapa kita nanti. Kalau kita bisa nikmatin prosesnya, sekolah bakal jadi cerita seru yang suatu hari bakal kita kenang dengan senyum; meski dulu rasanya pengen cepat-cepat lulus.
Bagaimana cerita sekolahmu? Seru? Menyenangkan? Kamu termasuk orang yang beruntung.
Flyer Bedah Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Alhamdulillah, terimakasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Kidul yang telah menyelenggarakan acara Festival Literasi 19-23 September 2025 dan bedah buku “Dalam Cerita, Kita Bicara” menjadi acara inti pembuka di hari Jumat yang mulia, 19 September 2025 jam 13.30 WIB sd 16.15 WIB.
Terimakasih Mbak Yuni dan Bu Purwati yang telah dengan baik mengurus dan mempersiapkan acara bedah buku tersebut. Terimakasih juga untuk dua pembedah yang luar biasa Mbak Ummi dan Mas Hariwijaya. Maturnuwun atas support luar biasanya. Terimakasih juga untuk sang Momod, Mas Imron yang telah memandu acara ini dengan baik.
Jujurly, saya nggak menyangka bahwa buku yang kami buat (ada 75 orang penulis, 3 dosen PBSI dan 72 mahasiswa prodi PBSI dan Manajemen UPY) dapat lolos terpilih untuk sesi bedah buku di acara istimewa ini.
Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Penulisan buku itu sendiri versi saya nggak mudah. Mengumpulkan tulisan dari banyak orang yang mayoritas bukan penulis, sama sekali nggak ringan. Lebih kurang 6 bulan kami berjibaku mulai dari menulis naskah, mengumpulkan naskah, menggabungkan jadi satu file, mengeditkan naskah, baru kemudian membawa ke penerbit untuk diterbitkan.
Dananya? Tentu saja dana mandiri kami bersama-sama. Alhamdulillah, meskipun sempat nggak sinkron di urusan cover dan tata letak, akhirnya kami sepakat memilih versi buku seperti yang sudah tersaji covernya. Sungguh, proses yang nggak mudah buat saya yang mengkoordinir seluruh urusan. Syukurlah banyak teman mahasiswa yang membantu dari awal sampai akhir proses kerja. Maturnuwun.
Sesaat setelah pembukaan acara Festival Literasi oleh Kepala Dispusip Kabupaten Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Buku ini juga bukti, bahwa menulis bukanlah bakat. Menulis hanya perlu “ilmunya” dan kemudian membuat tulisan sampai rampung, meskipun sederhana. Ya, kami memilih pentigraf yang hanya 150-250 kata untuk satu cerita yang utuh. Alhamdulillah semua terpenuhi. Ada kurang ini itu, saya sebagai penulis dan dosen pun memakluminya. Mereka sudah luar biasa mengeluarkan effort agar tulisannya rampung dan ikut mejeng di buku tersebut.
Saya juga bergembira ketika Mas Hariwijaya memberikan nilai bahwa buku tersebut sudah sangat layak terbit dan kemasannya pun cantik menjual. Tinggal masalah uji pasar, apakah buku terjual atau enggak. Sekurangnya, saya perlu berterima kasih kepada Penerbit Literasi Nusantara, yang sudah sabar telaten mengurus naskah-naskah saya; yang kadang beribet minta ini itu agar “perfect” dan “cantik”. Kerjasama yang panjang, juga membuat kami lebih mudah komunikasi ini itu agar hasil kemasan buku maksimal. Nggak akan bikin malu siapapun yang menjadi penulis di dalamnya. Maturnuwun. Alhamdulillah.
Saat sang Momod memulai acara bedah buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya cukup terkejut, ketika sesi tanya jawab yang ditanyakan peserta banyak yang keluar dari urusan “bedah buku” tapi malah membahas banyak materi tentang “menulis” dan “penulisan”. Tapi yo sudah, yang ditanyakan ke saya ya tetap saya jawab semampunya. Dan luar biasa waktu 2,5 jam (ini beneran panjang lho), jadinya nggak terasa. Alhamdulillah.
Oh, saya ingat ada kata Mbak Ummi agar kalau menulis nggak cuma mikirin uang atau komersial tapi juga bermanfaat untuk generasi muda; sebagai respon saya untuk mencatat ide dan memilih yang versi saya bisa diuangkan “bisa dijual dan dapat duit” lebih dulu. Saya nggak mengcounter balik –waktu sudah habis. Tapi kalau membaca 145 judul buku saya yang seluruhnya terbit di penerbit mayor (Gramedia Grup, Mizan Grup, Andi Grup, Medpres Grup, Agromedia Grup) yang seluruh naskah sudah melewati seleksi ketat, urusan manfaat dan kualitas, saya anggap sudah lewat.
Mereka di penerbit sudah lebih ahli dari saya untuk menilai manfaat dan kualitas naskah, sehingga memutuskan untuk menerbitkan, menjualkan, mendistribusikan, dan memberikan royalti 10-15% secara berkala tiap 6 bulan. Hingga sekarang (saya mulai menerbitkan buku tahun 2006 di Gramedia Grup) masih ada 100-an judul buku saya yang aktif dijual dan ada sekitar 10-an judul yang sudah 19 tahun terus menerus memberikan royalti. Alhamdulillah.
Pesona seni tari gadis-gadis remaja Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jadi urusan bikin naskah dan kualitas serta manfaat itu sudah pasti kewajiban saya, tapi kesadaran harus bikin materi yang laku, itu salah satu sebab buku saya tiap tahun bertambah. Alhamdulillah. Percayalah, penerbit juga nggak mau memodali naskah yang nggak laku di pasaran.
Beragam pertanyaan tentang penulisan itu membuat saya optimis, masih banyak orang yang “ingin bisa menulis” dan pasti kelas-kelas penulisan, bimtek penulisan juga akan terus diperlukan. Sungguh menarik ketika sebuah acara literasi bukan hanya sekadar bedah buku, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang belajar menulis yang penuh kejutan.
Begitulah suasana dalam kegiatan “Dalam Cerita, Kita Bicara”, sebuah acara diskusi buku yang mendadak juga jadi ajang bimtek (bimbingan teknis) penulisan yang hadir secara dadakan, tapi justru terasa segar dan membekas. Untungnya baik Mas Hariwijaya maupun Mbak Ummi juga penulis, jadi bisa ikut menjawab pertanyaan para audiens.
Acara ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar tentang membaca buku tebal atau menulis panjang. Literasi adalah tentang membuka percakapan, berbagi makna, dan menemukan suara diri melalui kata-kata. Dalam satu forum blended ini ada sekitar 50-an peserta luring dan 57-an peserta daring, terjadi perjumpaan antara pembaca, penulis, dan calon penulis yang saling menginspirasi.
Setelah bedah buku, dengan Mbak Yuni dan Mbak Ummi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
“Dalam Cerita, Kita Bicara” meninggalkan jejak: bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak dituliskan. Bedah buku ini bisa menjadi gerakan kecil yang menumbuhkan keberanian menulis. Karena pada akhirnya, cerita bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dibicarakan dan dituliskan.
Sekali lagi, terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini. Seperti biasa, saya nggak akan mengajak orang untuk jadi penulis (karena jatuh bangunnya nggak mudah), tapi saya akan selalu mendorong orang untuk menulis. Sekurangnya, menulislah 1 buku seumur hidup: boleh juga autobiografi (biografi diri sendiri) seperti anjuran Mas Hariwijaya. Maturnuwun.