Fokus Merampungkan Tulisan

Menulis itu memiliki tantangan tersendiri. Terlebih menulis naskah yang panjang. Perlu materi, sarpras, waktu, energi, konsentrasi, dan suka cita yang melimpah. Tanpa dukungan yang prima, menulis panjang bisa jadi hanya impian yang sulit untuk diwujudkan.

Jangankan bagi mereka yang tidak berprofesi sebagai penulis, mereka yang penulis profesional pun (tidak selalu) mudah merampungkan naskah. Godaan, gangguan, dan tantangannya saat proses menulis itu beragam. Apakah deadline tidak bisa membantu? Tenggat waktu sangat mendorong seseorang bekerja cepat, tetapi tidak selalu dalam hal merampungkan penulisan.

Oleh karena itu, kalau sudah memutuskan untuk menulis panjang: misalnya 500 halaman, sudah memiliki gambaran materi, sudah menyiapkan materi secara keseluruhan, deadline sudah ada, sarpras sudah memadai, waktu dan energi prima, lakukan saja. Segera menulis. Tidak perlu berencana nanti, besok, dll.

Tulip Merah

Menulis dengan fokus merampungkan. Tidak usah menoleh-noleh. Tidak usah berpikir ini baik atau buruk, cocok atau tidak, sesuai dengan standar kelayakan tulis atau belum, dll. Berhentilah memikirkan tentang “kualitas” saat menulis draft pertama. Rampungkan secepat mungkin yang anda bisa.

Setiap orang punya waktu sama, 24 jam per hari. Namun kesibukan dan problematika kehidupannya berbeda. Anda wajib tahu, berapa alokasi waktu yang anda sediakan untuk menulis setiap hari demi tujuan anda. Kalau sudah ketemu besaran waktu dan saatnya, tetaplah menulis di jam yang sama. Ini biar naskah anda segera rampung.

Singkirkan semua gangguan yang mungkin terjadi pada saat anda menulis. Baik itu sosmed, telepon, keriuhan, anak-anak, cucu cicit, keributan tetangga, suara berisik pembangunan komplek, dll. Anda yang tahu, anda yang bisa mengatasinya.

Bila naskah sudah rampung, rasa lega akan memenuhi hati dan jiwa anda. Tidak peduli kualitasnya masih jauh dari harapan, tapi naskah itu sudah selesai. Anda bisa mulai memperbaiki, membenahi, menambah mengurangi, mengecek kesalahan-kesalahan, dll yang anda rasa harus diperbaiki.

Di sinilah objektivitas anda diuji. Anda harus bersedia mengatakan oh, bagian ini kurang dalam; bagian itu kelebihan; ini karakternya kok tahu-tahu hilang; ini dialognya kok kepanjangan; dst. Kalau hati anda terbuka; saya yakin anda bisa memperbaiki naskah semaksimal mungkin.

Kalau tidak bisa objektif dan merasa tulisan sudah terbaik, bagaimana? Cari aja editor freelance untuk memeriksa dan memberikan masukan. Yach, ini berbayar siy. Tapi saya yakin, menggunakan jasa editor justru bisa menambahkan masukan dan perbaikan yang lebih banyak daripada kita sekedar membaca secara mandiri.

Bagi anda yang memerlukan jasa editor freelance yang baik dan terpercaya dengan harga terjangkau, bisa wa.me/6281380001149. Saya akan menghubungkan anda dengan para editor freelance yang kerjanya cepat, praktis, dengan hasil sangat prima.

Tulip Ungu

Atau kalau anda tidak mau membayar editor, sekurangnya carilah first reader yang anda percayai pendapat dan masukannya. Minta mereka membedah karya anda untuk diperbaiki. Tentu ini tergantung dari masing-masing penulisnya ya. Ada penulis yang merasa cukup dengan editing pribadi atau self editing. Namun ada yang merasa perlu ada pihak lain yang membantu, selain pertimbangan objektivitas ya karena ada dana yang tersedia.

Lalu bagaimana kalau sudah mendapatkan masukan? Putusan revisi atau perbaikan ada di tangan anda. Mau anda revisi atau tidak, itu hak anda. Tapi kalau dari awal anda sudah meniatkan cari masukan, yo diperbaiki to. Percayalah, pembacaan orang lain sering lebih baik daripada penilaian versi kita. Santai santai saja. Memperbaiki memang perlu waktu yang sering lebih lama daripada proses menulisnya. Kalau ini menjadikan buku bestseller dan bisa merambah ke mana-mana, ya kenapa tidak.

Kalau sudah beres, selesailah sudah naskah anda. Sekurangnya anda punya satu naskah yang oke. Siap diperjualbelikan. Siap diperdagangkan. Entah itu mau anda publish ke media, penerbit, atau versi lain sesuai keperluan. Anda sudah bisa tenang. Kalaupun ada program publish harian, anda sudah punya naskahnya dan tidak perlu ngos-ngosan setiap hari.

Salam kreatif,

#happywriter #happylife #tipsfiksi #tipsproduktif #arikinoysantips

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Penilaian Naskah di Penerbit


Setiap hari ratusan, mungkin bisa ribuan naskah baru yang diterima oleh penerbit. Semakin besar penerbit, biasanya naskah yang diterima semakin banyak dan semakin lama pula proses penentuan atau penilaian.

Apa saja siy sebenarnya yang dinilai oleh penerbit berkaitan dengan naskah yang kita kirimkan? Uraian berikut kiranya dapat membantu.

Tim Redaksi
Pada umumnya, tim redaksi di penerbit melakukan penilaian dengan melihat hal-hal berikut.

1. Konsep yang diajukan; apakah sesuai dengan visi misi penerbitan atau tidak. Misalnya penerbit konsepnya buku-buku rohani, anda mengirim buku masakan, jelas ditolak.

2. Sistematika penyajian; harus sesuai dengan konsep yang disampaikan.

3. Bahasa; yang baik, benar, taat azas, sesuai dengan keperluan.

4. Pembahasan; apakah mendalam, cukup, atau hanya menempel di permukaan.

5. Kebaruan dan trend masalah. Ini sangat penting. Masalah kebaruan ini tidak mesti segala hal yang baru, tetapi bisa saja hal lama tetapi masih diperlukan oleh pembaca dan target market.

6. Format penulisan; apakah formatnya biasa, luar biasa, sangat menarik, dll.

7. Pesaing; adakah buku sejenis yang sudah beredar di pasaran.

8. Editorial; apakah tulisannya rapi, atau banyak sekali kesalahan-kesalahan pengetikan, ejaan, plagiat atau tidak, dll yang bersifat teknis tulisan.

9. Nama penulis; walaupun tidak ada aturan penulis lama dan penulis baru, senior dan yunior, tapi biasanya redaksi akan mendahulukan mereka yang sudah punya nama atau sudah biasa berurusan dengan redaksi.

10. Sistem kerja sama; ada beberapa penerbitan yang mulai mendahulukan penulis-penulis yang mau membiayai percetakan bukunya sendiri. Jadi, kalau anda mengikuti sistem penerbitan konvensional, sabarlah.

Panduan Penulisan Fiksi


Tim Produksi
Jangan berpikir, naskah diterbitkan di penerbit hanya urusan redaksi. Semua tim terlibat. Termasuk tim produksi.

Tim ini biasanya melakukan penilaian dengan melihat hal-hal berikut.

1. Mudah dan bisa diproduksi dalam waktu cepat.

2. Biaya produksi terjangkau, sesuai standar penerbit.

3. Bisa dijual dengan harga bersaing.

4. Kemasan bisa cantik dan eye catching dengan budget standar.

Tim Pemasaran dan Promosi
Di beberapa penerbitan, tim pemasaran dan promosi kadang digabungkan jadi satu, tetapi ada juga yang memisahkan.

Biasanya tim ini yang “paling bawel” dan “paling ribet” soal naskah yang mau diterbitkan. Karena mereka yang berada di depan, ujung tombak penerbitan, yang setiap bulannya dikenai target penjualan, sehingga sering dianggap tim yang paling “sulit” untuk menerima naskah. Meskipun sebenarnya urusan “sulit” tersebut sangat relatif dan kembali lagi pada naskah yang kita tulis serta kita kirim ke penerbit.

Biasanya, tim ini melakukan penilaian pada:
1. Naskah tersebut layak jual.

2. Ketiadaan pesaing.

3. Formatnya harus berbeda dengan buku yang sudah ada, bila ada pesaing.

4. Harganya bersaing.

5. Penulisnya “bermutu”.

Buku Panduan Penulisan


Nilai Plus untuk Penilaian Naskah
Point atau nilai plus yang bisa ditambahkan agar naskah cepat diterima dan diterbitkan:

1. Naskah yang diperlukan masyarakat luas.

2. Anda sebagai penulis menjamin naskah tersebut dipesan atau dibeli dalam jumlah besar.

3. Ada sponsorship atau kerja sama biaya cetaknya.

4. Sedang trend.

Nah, semoga ini membantu. Jadi penulis jangan bawel. Kalem-kalem saja, sabar, dan tidak usah terlalu ribut dengan naskah anda.

Sepanjang pengelolanya jelas, penerbitnya masih ada dan bisa dikontak, saya tidak pernah ambil pusing berapa lama naskah saya antri di penerbit. Karena toh pada akhirnya akan mendapat kabar juga, baik diterima atau ditolak.

Daripada ribut menunggu proses penilaian yang ngujubileh panjangnya itu, bukankah lebih baik kita menulis lagi.

Merancang buku baru, mungkin untuk penerbit lain. Kita tidak jengkel, dan justru produktif. Tahu-tahu buku kita banyak saja yang beredar 😊

*Jadi Penulis Fiksi
*Jadi Penulis Nonfiksi
*Jadi Penulis Skenario
*Jadi Penulis Produktif
#BukuPanduanPenulisan
.
.
Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us:

Nonfiksi dan Informasi

Some of my books

Sering kali, saat menulis NONFIKSI kita berusaha untuk mengesankan pembaca tentang sesuatu yang besar dan istimewa, sehingga lupa dengan prinsip dasarnya; memberi INFORMASI.

Cobalah mengingat informasi utama yang harus disampaikan.Tunjukkan apa yang anda ketahui. Jangan gunakan kosakata yang anda sendiri tak paham maksudnya. Kalimat panjang/rumit/aneh tak akan mengesankan siapapun kalau poin kuncinya tidak jelas.

Happy Writing, Be A Good Writer

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Riset untuk Nonfiksi

Herbal Nusantara

http://andipublisher.com/produk-0213004642-herbal-nusantara-1001-ramuan-tradisional.html

Menulis nonfiksi sering kali lebih “ribet” daripada menulis fiksi. Nonfiksi tidak boleh berdasarkan imajinasi. Anda harus memiliki data yang sesuai. Oleh karena itu, sebelum menulis nonfiksi anda perlu melakukan riset terlebih dahulu. Tips nonfiksi ini semoga membantu.

Kalau anda sangat ahli di bidang yang anda tulis, tentu mudah bagi anda untuk mengumpulkan referensi yang mendukung. Anda tidak perlu lagi melakukan riset ulang. Ini akan sangat menguntungkan. Namun tetap lebih baik kalau anda melengkapinya dengan referensi terbaru.

Anda yang tidak sangat menguasi bidang yang anda tulis, dapat melakukan riset di lapangan dengan mewawancarai narasumber, terlibat langsung dengan sesuatu yang hendak anda tulis di lapangan, membuat kuesioner, memeriksa jurnal-jurnal terbaru, membaca buku, dan juga web-web yang kompeten berkaitan dengan tema-tema anda.

Riset memang dapat memperlambat proses Anda dalam menulis. Oleh karena itu, lakukan riset penulisan sesuai kebutuhan. Kalau misalnya anda menemukan kesulitan penulisan saat menulis maka beri saja tanda, teruskan menulis. Nanti kalau sudah selesai, risetlah pada saat anda tidak menulis.

Data-data atau apapun dari hasil riset yang tidak anda gunakan saat itu, jangan dibuang. Anda bisa menggunakannya lain waktu ketika anda menulis hal lain yang mungkin masih berhubungan dengan riset anda.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Memilih Topik

Membangun Indonesia Dari Desa

Memilih topik untuk naskah nonfiksi dapat dikatakan sebagai sesuatu yang sulit-sulit gampang. Gampang banget enggak, sulit banget juga enggak. Bagi mereka yang sudah terbiasa menuli nonfiksi, menemukan topik itu seperti menikmati kopi saja. Tinggal memilih dan tinggal minum.

Topik yang harus dipilih sebaiknya topik yang sedang populer, terutama kalau anda menulis nonfiksi untuk jangka pendek ya. Kalau contoh naskah #MembangunIndonesiaDariDesa di atas topiknya ditentukan ketika Undang-Undang Desa baru saja dibicarakan. Nah, karena ada kesesuaian maka dibuatlah topik tentang desa dan pembangunan.

Pilihlah TOPIK untuk proyek Anda dengan hati-hati. Hal ini mungkin tampak seperti tidak ada yang baru dan tidak ada aturan. Ini adalah tantangan pribadi. Anda sendiri yang tahu apakah Anda berhasil atau gagal.

Oleh karena itu, Anda harus memilih topik yang pas, terutama jika anda memiliki pekerjaan tetap lainnya yang tidak berurusan dengan penulisan. Jangan memulai menulis sesuatu yang sangat besar dan nyaris tak terjangkau dengan kekuatan anda. Menulis dengan topik sederhana, yang diselesaikan, dan dipublikasikan jauh lebih baik daripada menulis sesuatu yang besar tetapi nggak selesai-selesai.

Mulailah dengan topik yang cocok untuk hal yang terasa bisa dilakukan dengan mudah. Yang memberikan Anda kesempatan keberhasilan yang lebih tinggi. Gunakan tips nonfiksi ini kalau anda ingin mendapatkan topik yang dapat diselesaikan dengan cepat.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Membaca dengan Mata

Revolusi Mental

Pada saat membaca ulang tulisan kita, jenis apapun —membaca dengan mata itu sangat penting. Membaca dengan mata artinya membaca menggunakan mata, bukan menggunakan pikiran atau asumsi yang bisa kita gunakan. Tips nonfiksi ini sangat penting terutama kalau anda sedang memeriksa naskah nonfiksi yang penuh dengan angka. Anda tahu kan, kurang angka 0 saja nilainya sangat berbeda jauh. Jadi, pastikan anda tidak melakukan kesalahan.

“Mbak, tulisan saya sudah saya periksa berulang-ulang sebelum saya kirim ke media. Saya yakin tidak ada yang salah ketik dan sudah benar. Setelah lewat waktu, saya baca ulang masih saja ada yang salah, ada yang kurang, masih singkatan. Bagaimana solusinya?”

“Baca dengan mata.”

“Saya tidak mengerti, Mbak.”

“Baca dengan mata itu menggunakan “mata” atas setiap tulisan. Apa yang tertera ‘yg’ kalau pikiran pasti bacanya ‘yang’, tapi kalau mata ya tetap ‘yg’. Begitu pula ‘dgn’ kalau pikiran akan terbaca ‘dengan’, tapi kalau mata ya tetap terbaca ‘dgn’. Begitu pula kesalahan-kesalahan lain, karena kita memfungsikan pikiran bukan menggunakan mata saat memeriksa.”

Cara membaca anda pun sepertinya perlu direvolusi agar tepat dan sesuai.


Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Membangun Kreativitas

Berpikir Kreatif

Apa siy yang dimaksud dengan kreativitas? Apakah anda ingin meningkatkan kreativitas dalam menulis? Jangan terlalu percaya diri sebagai orang yang kreatif.

Berikut beberapa hal yang berkaitan dengan KREATIVITAS.

Kreativitas adalah kemampuan untuk menghubungkan ide-ide yang tampaknya tidak tersambung. Menghubungkan ide-ide menjadi seperti baru adalah dasar kreativitas.

Kreativitas tidak terbatas pada orang-orang berbakat, siapa saja bisa menjadi orang kreatif.

Kreativitas tidak semata-mata harus dikembangkan dalam dunia yang berkaitan dengan penulisan, tetapi seluruh bidang kehidupan memerlukan kreativitas untuk berkembang.

Kreativitas seseorang dapat dilatih dengan sering mengasah kemampuan. Banyak sekolah dan pelatihan-pelatihan khusus untuk mengasah kreativitas.

Kreativitas dapat ditingkatkan secara konsisten dengan:
Mengamati semua hal di sekitar anda dan menemukan hal yang baru.

Mempertanyakan dari apa yang anda amati, tulis 50 daftar pertanyaan dan kemudian buat 5-10 pertanyaan mendalam untuk menguji dan mengetahui hal-hal baru.

Networking; bagaimanapun semakin luas pergaulan seseorang semakin berwarna kreativitasnya.

Eksperimen; dengan penelitian kita bisa menjawab pertanyaan baru atau menemukan hal yang baru. Penelitian termasuk di dalamnya mengunjungi daerah-daerah baru.

Jadi Penulis Nonfiksi

http://andipublisher.com/produk-0716006126-jadi-penulis-nonfiksi–gampang-kok.html

Jangan membatasi diri; jangan mudah mengatakan, oooh itu bukan dunia saya…. segala sesuatu bisa dicoba dan mungkin anda menemukan hal baru yang menyenangkan.

Memperbanyak wawasan dengan membaca, travelling, sekolah, workshop, seminar, dll. yang memungkinkan ilmu anda berkembang.

Menerima tantangan untuk menuliskan hal baru yang sama sekali berbeda dengan lingkungan dan dunia kita.

Selamat mengasah kreativitas anda. Tips nonfiksi kali ini sebenarnya berlaku juga untuk penulisan dengan tips fiksi maupun tips produktif. Kreativitas pada dasarnya penting untuk semua pekerjaan kreatif.

Happy Writing, Be A Good Writer 😍
*Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Produktif? Gampang Koq!
*Jadi Penulis Nonfiksi? Gampang Kok!

Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us: