Pendidikan Nasional: Belajar dengan Gembira

Tulisan ini sudah dimuat di penabicara.com hari Kamis, 12 Mei 2022 dengan link berikut ini: https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063383757/pendidikan-nasional-belajar-dengan-gembira?fbclid=IwAR00brdhD4HmC0n9-wfv-k1HSTbcOOp7xl_gbo_TSZQXIULYT0EV-3a3gNc

Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei sudah lewat beberapa hari. Namun karena pas hari itu kita masih merayakan Idul Fitri atau berlebaran, maka saya baru mengulas materi ini sekarang. Menurut saya, pendidikan tetap akan menjadi tema atau bahasan yang selalu up to date; karena di dalam pendidikan itu selalu ada proses belajar terus menerus untuk memperbaiki kehidupan.

Saya termasuk orang yang mempercayai bahwa pendidikan tinggi adalah satu-satunya jalan untuk memangkas kemiskinan. Kita secara langsung atau tidak langsung dapat melihat, mereka yang memiliki pendidikan tinggi —secara umum memiliki tata ekonomi yang lebih mapan. Tidak selalu seperti itu, tapi kecenderungan umum begitu. Mereka yang mendapatkan pendidikan formal lebih layak (tinggi), bisa mengakses pekerjaan formal secara lebih luas dibandingkan mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Oleh karena itu, meskipun bertahun-tahun sejak belia saya adalah freelancer sebagai penulis profesional, saya tetap memutuskan untuk sekolah tinggi. Saya melihat bahwa sekolah formallah yang membantu kita berpikir secara teoretis dan konstruktif. Sekolah formal mendorong kita untuk terbiasa melihat segala sesuatu secara sistematis dan menyeluruh. Sekolah tinggi bagi saya bukan semata-mata demi menambah gelar dan ijazah —yang ora payu ‘tidak laku’ di dunia freelancer, tetapi tentang membentuk pola pikir dan meluaskan jaringan atau relasi.

Saya bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan kepada saya kesempatan sekolah formal sampai tingkat tertinggi. Dan inilah yang menjadi persoalan ketika kemudian saya ditanya oleh mereka yang ingin menempuh sekolah tinggi; bagaimana cara lulus dari salah satu kampus terbaik dengan waktu yang sangat cepat. Pertanyaannya mudah, tetapi untuk menjawabnya saya perlu waktu untuk sedikit berpikir.

S-1 Sastra Indonesia UGM saya tempuh 3 tahun 1 bulan, S-2 Ilmu Linguistik UGM saya selesaikan 1 tahun 4 bulan, S-3 Ilmu-Ilmu Humaniora UGM saya rampungkan 3 tahun 3 bulan. Saya bejo alias beruntung dengan latar belakang anak desa nun jauh di Tulungagung, bisa mengenyam pendidikan tinggi di kampus biru ini. Waktu studi yang singkat, tidak menghalangi saya untuk menjadi bagian dari lulusan-lulusan terbaik.

Waktu studi yang singkat itu bisa saya tempuh, salah satu faktornya adalah kuliah dengan biaya mandiri alias mbayar dhewe. Semakin lama studi saya, tentu semakin besar biaya yang harus saya keluarkan. Kuliah dengan bekerja, tentu tidak sama dengan mereka yang hanya fokus kuliah dan dibiayai. Karenanya sejak awal kuliah, saya merasa wajib bertemu pembimbing dan dosen terkait untuk membicarakan soal masa studi dan cara agar saya bisa lulus cepat.

Selain itu, saya yakin yang mendorong saya lulus cepat adalah belajar dengan gembira. Saya senang pada materi pembelajaran yang saya pilih. Tantangan dan hambatan selama masa studi menjadi seperti lewat begitu saja. Jatuh bangun kuliah demi mendapatkan hasil terbaik, tidak menjadi beban bagi diri saya. Semua dapat saya lalui dengan hati riang gembira sebagai proses yang membuka mata ilmu saya.

Jauh sebelum saya menempuh pendidikan tinggi, tentu saya juga harus melewati masa pendidikan yang bernama sekolah —pendidikan dasar. Ada banyak kegembiraan sekolah di masa saya belia. Karena dulu saat masuk SD (Sekolah Dasar) tidak ada kewajiban untuk anak harus punya ijazah TK (Taman Kanak-Kanak) apalagi PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Jadi, saya sekolah mulai dari SD (Sekolah Dasar). Sekolahnya pun sekolah pemerintah, sekolah negeri. Kurikulum yang saya terima, tentu sesuai dengan kurikulum negara. Anak-anak masuk jam tujuh pagi dan pulang jam sepuluh siang untuk kelas satu dan dua. Selanjutnya setelah kelas tiga, masuk kelas jam tujuh pagi pulang jam dua belas siang. Setelah masuk SMP (negeri) dan SMA (negeri), sekolah pun tetap masuk kelas jam tujuh pagi dan pulang jam dua belas siang.

Apesnya karena orang tua saya terbatas secara ekonomi dan harus menyekolahkan enam orang anaknya, maka kami tidak dileskan ini itu atau diikutkan kursus pelajaran beragam. Waktu kami bebas untuk bermain di siang hari sampai tiba jam tiga sore. Jam empat sampai enam sore, saya bersaudara masuk pesantren untuk belajar agama Islam dari belia sampai lulus SMA.

Semuanya berlangsung begitu saja dengan kegembiraan. Ke sekolah, ke pesantren, saya gembira. Selain bertemu teman-teman ya karena sekolah tidak terlalu lama. Tugas-tugas sekolah dan dari pesantren ada, tapi tidak banyak dan tetap bisa dikerjakan dengan bermain-main. Saya pikir gembira dalam belajar itulah yang harus kita terapkan pada diri kita; bahkan saat kita bekerja. Hati yang riang gembira akan menjadikan semua proses sulit terasa lebih ringan dan mudah.

Mari kita lihat kondisi dunia pendidikan sekarang. Setiap anak yang mau masuk SD sudah harus punya ijazah PAUD dan TK. Selain itu ada semacam tuntutan masuk SD sudah harus bisa baca tulis. Sebagian sekolah swasta masih ditambah syarat pemenuhan lulus seleksi sesuai dengan standar yayasan.

Melihat anak-anak balita (PAUD dan TK) sudah menggotong tas berat berisi buku-buku atau materi pelajaran, bikin saya miris. Keponakan-keponakan saya pun begitu. Demi bisa lulus PAUD dan TK sebelum sekolah di SD. Mereka masuk kelas, berinteraksi dengan teman-teman, tapi dengan banyak pelajaran yang dituntut harus bisa, harus lulus. Versi saya, pendidikan dasar selazimnya memperkenalkan adab demi membentuk kepribadian yang baik. Bukankah semestinya proses belajar itu adab dulu baru ilmu?

Saya tidak hendak menyalahkan pembuat keputusan dunia pendidikan. Saya lebih ingin melihat beban pada anak-anak belia. Alangkah baiknya kalau mereka benar-benar “sekolah bermain”; tidak perlu dites ini itu demi selembar ijazah yang tidak berarti apa-apa.

Lha mbok yakin, ijazah PAUD sama TK itu lho, untuk apa nantinya saat mereka dewasa? Tidak berguna. Bahkan sekarang untuk ijazah SD, SMP, dan SMA pun bisa dianggap “tidak berguna” karena ora payu di dunia kerja. Dunia kerja kita (terutama yang formal) sudah menuntut minimal sarjana untuk setiap kesempatan.

Toh nyatanya banyak dari kita sebagai orang tua yang tergila-gila memfasilitasi anak-anak dengan beragam kesibukan sekolah sejak dini. Setelah anak-anak masuk SD, SMP, SMA —orang tua pun latah untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik dengan biaya mahal dengan beban kurikulum yang berat.

Semua itu menjadikan anak-anak ini seperti robot yang menghabiskan waktunya di ruang pembelajaran. Mereka tidak lagi memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Waktu mereka habis untuk sekolah dan tugas-tugas. Belum lagi les atau kursus ini itu —demi ambisi orang tua.

Sekolah telah menjadi “momok” bagi sebagian anak. Pembelajaran tidak lagi terasa menyenangkan. Sekolah telah menjadi kewajiban semata bagi sebagian pelajar. Banyak anak kehilangan minat belajarnya justru karena beban belajar yang berlebihan. Beban yang berat itu masih harus diikuti dengan serangkaian tuntutan dari orang tua yang ingin anaknya selalu juara. Mereka memberikan beban “belajar” tambahan yang berbiaya tinggi, demi anak-anak bisa menjadi juara-juara atau posisi-posisi terbaik. Juara di sekolah, juara di berbagai kegiatan lomba.

Saat memperoleh kejuaraan tersebut, apakah anak-anak itu bergembira? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Tapi yang jelas orang tuanya pasti gembira. Mereka merasa telah “berhasil” mendidik anak-anaknya menjadi generasi terbaik, terpandai, terpintar, dll sebutan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dibahas.

Bagi anak, seperti yang pernah saya alami di masa belia, kegembiraan yang paling benar adalah bermain bersama teman-teman, tertawa tanpa beban pekerjaan rumah atau tugas-tugas sekolah. Bisa jadi, kegembiraan anak versi sekarang sudah berubah; tetapi kalau beban sekolah terlalu berat akan menjadikan anak justru tidak tumbuh kembang secara optimal.

Saya tahu, kurikulum sekolah bertujuan baik untuk mendidik generasi yang terampil, cerdas, terbuka dan mampu berkompetensi di tengah kemajuan global. Tujuan yang sangat mulia. Pendidikan menjadi ujung tombak pembangunan mental suatu bangsa. Tapi perlukah itu semua untuk anak-anak di usia pendidikan dasar hingga SMA? Hingga kita harus rela mengorbankan masa bermain anak-anak?

Hanya pemikiran sederhana saya, bukankah lebih baik kalau pendidikan dasar itu anak-anak diajak untuk “beradab” dan setelah lepas SMA barulah dibawa untuk “berilmu”? Beradab tentu saja berarti memiliki adab yang baik dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian dari pendidikan dasar kita akan mendapatkan generasi yang tahu apa artinya antri, mengerti bagaimana tertib berlalu lintas, menghormati orang tua, menyayangi yang lebih muda, menghargai perbedaan, dll.

Dari pendidikan dasar ini akan “tercipta” generasi bangsa yang beradab dan berkepribadian luhur. Setelah anak memasuki masa perkuliahan barulah kita menuntut mereka untuk “berilmu”. Mereka bisa memiliki ilmu sesuai dengan passion masing-masing agar dapat berkompetisi di dunia kerja.

Tentu pemikiran ini, bukan sesuatu yang mudah untuk diterapkan dengan kultur pendidikan di Indonesia. Negeri kita ini sangat gila gelar dan ijazah. Ada banyak orang yang merencengi gelar tanpa kontribusi yang tetap diagung-agungkan. Sementara ada banyak orang tanpa gelar dengan kontribusi besar pada masyarakat, justru dipandang dengan sebelah mata.

Perlu satu tata perubahan keputusan dan keberanian untuk menjadikan pendidikan di Indonesia lebih “beradab” dan “berilmu” untuk mencetak generasi-generasi terbaik. Perlu kebesaran hati kita para orang tua untuk mengizinkan anak-anaknya belajar dengan gembira. Biarkan mereka memilih jalur pendidikan yang sesuai minat dan bakatnya.

Siapkah kita untuk itu? Bersediakah kita memberi ruang kepada anak-anak untuk gembira saat sekolah? Bisakah kita membebaskan mereka untuk tidak menjadi juara-juara di setiap hal?

Sekurangnya jawaban dari pertanyaan itulah yang dapat menolong anak-anak kita untuk tetap belajar dengan gembira. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itulah, yang membuat kita lebih arif ketika mendapati anak-anak kita ternyata tidak selalu menjadi anak-anak nomor satu. Gembira dalam belajar, sejatinya membawa kegembiraan dalam kehidupan. Hati yang riang gembira adalah obat dari segala persoalan kehidupan.

#tulisanmedia #publikasimedia #mediaonline #ariwulandari #kinoysanstory #pendidikannasional #belajardengangembira

Ari Kinoysan Wulandari

 

Please follow and like us:

Lebaran: Sudah Lebarkah Hati Kita?

Tulisan ini sudah dimuat di penabicara.com hari Kamis, tanggal 5 Mei 2022 dengan link berikut ini: https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063346820/lebaran-sudah-lebarkah-hati-kita?fbclid=IwAR0NY-xPBf5n-EiMDJyQWxx6LjzCDA5MWGRXl76vKoWlo3yPks-NzsQ4Wng

Mari kita ingat sejenak Ramadan 1443 H, bulan puasa kita tahun ini sebelum lebaran. Ramadan di bulan April 2022 ini, tidak terlalu mudah bagi sebagian orang Indonesia. Kehadiran saat puasa dibarengi dengan kenaikan harga aneka macam kebutuhan. Yach, nyaris sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ramadan adalah bulan ketika banyak orang menganggap sah kenaikan harga segala macam keperluan.

Toh Ramadan tahun ini terasa berbeda dari bulan-bulan puasa sebelumnya. Selain kita masih dalam masa pandemi, sebelumnya kita telah dihebohkan dengan kasus menghilangnya minyak goreng dari pasaran. Kalau pun ada minyak goreng, harganya tidak seperti biasa alias membubung tinggi. Sosial media (sosmed) kita begitu riuh berpantun tentang minyak goreng ini.

Sebaliknya, di tengah hiruk pikuk kelangkaan minyak goreng dengan harga meroket, kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) berlangsung begitu senyap. Dominasi rumpian ibu-ibu terhadap minyak goreng meredam keributan yang biasa timbul kalau BBM naik. Kita pun maklum, begitu BBM naik —naik pulalah semua harga barang kebutuhan pokok.

Kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dari 10 persen menjadi 11 persen, juga nyaris tidak terdengar. Seolah ini menjadi hal yang wajar saja. Sebagai warga negara yang patuh kepada pemerintah, tentu kita wajib mengikutinya. Protes pun, tidak membuat harga-harga dan ketentuan itu turun.

Semua akan terus berjalan sesuai yang telah ditetapkan. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Pilihannya ada pada diri kita masing-masing, mau memakai atau tidak. Kalau pakai ya bayar sesuai harga; kalau tidak pakai, ya sudah diam saja.

Semua proses kenaikan harga itu rasanya teredam dengan keriuhan umat Islam dalam menentukan awal bulan Ramadan. Rupanya isu pencarian hilal atau penampakan bulan sebagai penanda awal Ramadan, jauh lebih seksi di kalangan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Sudah bisa ditebak, awal Ramadan tidak sama.

Ramadan kali ini pun diwarnai dengan beragam kejadian memilukan. Sejak awal Ramadan, sepanjang Ramadan, hingga akhir Ramadan —telah banyak peristiwa yang menuntut kesabaran kita. Selain kenaikan beragam harga, selama Ramadan kita kali ini tidak lepas dari demo-demo —yang semula dijanjikan berlangsung damai, berubah menjadi anarkhis. Beragam tindak kejahatan pun tidak terhenti sepanjang Ramadan.

Kekerasan dengan beragam bentuk menjadi tontonan live yang memilukan jiwa. Betapa nyeri hati kita, saat ada pihak-pihak yang menganggap kekerasan di negeri kita boleh saja untuk mereka yang dianggap “tidak segolongan”. Astaghfirullah hal adzim…. Lupakah mereka yang membuat pernyataan itu? Bahwa sekalipun tidak bersaudara dalam agama, semua umat itu bersaudara dalam kemanusiaan?

Ramadan yang dianggap sebagai bulan suci dengan seribu berkah dan ampunan, bulan saat setan-setan dipenjara, ternyata tak cukup mampu memenjarakan nafsu angkara murka kita. Betapa banyak kejahatan yang semestinya terhenti karena Ramadan, justru menyeruak dengan hebatnya di padang terang bulan suci.

Apapun kegaduhan kita sepanjang awal hingga akhir Ramadan, alhamdulillah kita sudah melewati masa Ramadan yang penuh suka cita. Gema takbir yang mengalun indah di seluruh negeri, menjadi penanda datangnya Idul Fitri. Lebaran telah tiba.

Allaahu akbar…. Allaahu akbar…. Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil hamdu….

Ketika suara takbir sudah bersahutan dari satu masjid dengan masjid lain, dari mereka yang takbir keliling, dari lorong-lorong sunyi yang tetiba hidup meriah, pertanda lebaran jelang tiba. Alhamdulillah, lebaran 1443 H berlangsung serentak di Indonesia. Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2022 menggeser dengan  sukses peringatan Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) di Indonesia.

Semua orang Indonesia nyaris larut dalam kemeriahan lebaran; zakat, THR (Tunjangan Hari Raya), kue-kue khas lebaran, parsel, takbir keliling, mudik, sholat ied, ketupat opor, salam dan salim silaturahmi, bermaafan – memaafkan, baju baru, angpao, dll. Semua terasa begitu meriah dan hidup. Kita berasa baru lebaran lagi.

Yach, terutama karena tahun ini pemerintah mengizinkan kita untuk mudik lebaran. Alhamdulillah, setelah dua tahun kita “diminta” tidak mudik lebaran karena pandemi. Gegap gempita mudik lebaran menjadi begitu riuh. Jumpa peluk cium saudara kerabat di kampung halaman menjadi seperti sesuatu yang “baru” lagi di lebaran kita kali ini.

Hari kemenangan telah tiba. Hari bermaafan telah datang. Hari kembali suci telah menyapa. Saatnya bersilaturahmi dan bermaaf-maafan di hari yang fitri. Urusan minta maaf dan memaafkan sejatinya bukanlah urusan yang mudah. Setiap orang memiliki kesulitan dan permasalahannya masing-masing untuk perkara meminta maaf dan memaafkan.

Perkara meminta maaf dan memaafkan ini memang cukup mudah diucapkan di mulut, tetapi apakah kita benar-benar telah meminta maaf dan memaafkan secara tulus lahir dan batin kita? Wallahua’alam.

Mari kita cermati satu per satu. Ada banyak konflik terjadi di sekitaran kita. Baik itu antara kita dengan saudara, kita dengan menantu – mertua, kita dengan besan, kita sebagai anak dan orang tua, kita sebagai teman, kita dengan tetangga, kita dengan partner kerja, kita dengan anggota komunitas dll. hubungan sosial antar manusia.

Semua hubungan sosial pada prinsipnya rawan masalah. Sedikit saja salah ucap, salah paham, bisa berakibat fatal. Lalu menjadi masalah yang membesar dan tidak selesai bertahun-tahun. Padahal, kalau semuanya mau berbesar hati, menghadapi, meminta maaf dan memaafkan, bisa jadi urusannya akan segera selesai.

Nyatanya ini tidak selalu mudah. Karena minta maaf dan memaafkan bukanlah berarti siapa yang salah dan siapa yang benar. Ini berkaitan dengan siapa yang mau mengalahkan ego dan menghargai hubungan yang telah terjalin sebelumnya. Dan momen lebaran, sebenarnya saat yang tepat untuk sedikit menurunkan ego —meminta maaf dan memaafkan lebih dulu. Terutama meminta maaf dan memaafkan secara batin demi kelapangan hati dan jiwa kita.

Meminta maaf dan memaafkan orang-orang yang tidak pernah terlibat konflik dan masalah dengan kita, tentu hal yang mudah. Namun bagaimana dengan urusan meminta maaf dan memaafkan orang-orang yang merugikan kita? Orang-orang yang menghancurkan hidup kita? Orang-orang yang menjegal usaha kita? Orang-orang yang membuat kita sakit hati, luka hati, hingga berdarah-darah?

Tentu tidak mudah untuk meminta maaf dan memaafkan mereka. Bahkan kalau bisa, seumur hidup kita tidak perlu bertemu atau berurusan dengan mereka. “Kan dia yang salah, kenapa harus saya yang minta maaf duluan?”

Seringkah kita merasa begitu? Kalau kita menjadi pihak yang meminta maaf dan memaafkan, sementara pihak lain tidak mau; kita memang tidak mengubah peristiwa yang telah terjadi. Namun sebenarnya, kita sudah mengizinkan diri kita untuk menapaki hari yang lebih baik. Kita sudah melepaskan ego, dengki, kesal, marah, dll perasaan negatif yang mengganjal langkah kita.

“Tapi kelakuannya itu sungguh menjengkelkan. Gara-gara dia, saya rugi sekian… gara-gara dia saya tidak jadi kuliah…, dll.”

Wait…! Kita minta maaf dan memaafkan itu, bukan berarti kita melupakan kelakuan buruk yang pihak lain lakukan pada kita. Kita tetap perlu mencatatnya dalam hati, bahwa ada hal yang perlu kita pertimbangkan lebih dalam —kalau misalnya nantinya kita perlu berhubungan atau berurusan lagi dengan mereka.

Dengan meminta maaf dan memaafkan, kita sudah tidak menyimpan dendam dan kekecewaan, kita sudah melepaskannya. Kita sudah bisa menerima, bahwa memang itulah yang harus terjadi. Kita harus bersegera move on mengejar masa depan kita yang lain. Bukannya malah terus menerus meratapi kesalahan yang diperbuat orang lain pada kita, atau bahkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.

Ya, karena urusan minta maaf dan memaafkan itu tidak hanya dari kita kepada orang lain; tetapi juga pada diri kita masing-masing. Coba ingat-ingat, berapa banyak kesalahan yang kita lakukan? Berapa banyak perbuatan yang ternyata kita sesali sepanjang hidup hingga saat ini —yang membuat kita tidak bisa memaafkan diri sendiri? Kesalahan yang membuat kita stuck saja di persoalan itu. Sementara hari-hari sudah berlari sangat cepat dengan kemajuan yang luar biasa. Hidup kita pun menjadi terasa berat dan penuh beban.

Padahal kalau kita mau berbesar hati, mengambil hikmah bahwa yang kita lakukan sudah versi terbaik; lalu mengizinkan kita melakukan kesalahan, kekurangan, tidak sesuai harapan; kemudian bergerak memperbaiki diri, tentu lebih banyak hal baik dan indah yang kita peroleh.

Memaafkan diri sendiri berarti kita membuka ruang seluas-luasnya bahwa kita ini manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Seberapa baik kita merancang atau merencanakan sesuatu, kalau tidak tertulis dalam takdir Tuhan, pasti meleset atau tidak tergenggam juga.

Dengan kesadaran manusiawi tersebut, kita menjadi manusia yang ringan langkah. Hidup terasa membahagiakan dan mudah. Kita juga akan menjadi manusia-manusia yang toleran. Kita tidak akan mudah menghakimi atau menghujat orang lain. Karena kita menyadari, bahwa kemanusiaan tertinggi seorang manusia adalah melakukan kesalahan yang manusiawi. Meskipun hal ini tidak berarti boleh menjadi pembenar setiap kesalahan.

Menyadari adanya kesalahan tersebut, menuntut kita untuk minta maaf dan memaafkan diri sendiri. Berdamai dengan semua peristiwa yang tidak menyenangkan yang pernah kita alami. Kalau kita tahu pasti, Tuhan saja Maha Pengampun, mengapa kita sulit minta maaf dan memaafkan orang lain? Mengapa kita mempersulit diri sendiri dengan tidak memaafkan kesalahan-kesalahan kita?

Lebaran ini, mari kita koreksi diri masing-masing. Sudah lebarkah hati kita? Sudah luaskah pintu maaf kita, untuk semua pihak yang ternyata begitu banyak salah kepada kita? Sudah terbukakah hati kita untuk mendahului minta maaf kepada mereka yang menyakiti dan melukai hati?

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Semakin lapang hati kita, semakin mudah dan bahagia hidup kita. Semakin ringan langkah kita, semakin cerah masa depan kita. Damai sejahtera di bumi dan di surga.

Selamat berlebaran. Selamat Idul Fitri 1443 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Bermohon semua amal baik kita sepanjang Ramadan diterima Allah SWT dan tetap sehat, happy, berlimpah rezeki berkah, panjang umur sampai berjumpa Ramadan tahun depan. Amiiin.

#artikelmedia #publikasimedia #mediaonline #ariwulandari #penabicara #kinoysanstory

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Literasi Digital versi Ibu-ibu Pedagang Online

Tulisan ini dimuat di penabicara.com hari Kamis, 28 April 2022 dengan link berikut

https://www.penabicara.com/ruang-ngopi/pr-2063317051/literasi-digital-versi-ibu-ibu-pedagang-online?fbclid=IwAR2c-sOIDgDZaVL0A_anicOk7uq9uwr2Tql2rV47dIw8SlkM1UcRlxonn_I

Sejak Pemerintah merilis pengumuman pandemi awal Maret 2020 yang lalu, kita sudah menjalani masa pandemi selama tiga tahun berjalan. Adanya kebijakan untuk melakukan segala sesuatu dari rumah; baik kerja, sekolah, kuliah, dll aktivitas —secara tidak langsung telah mengubah perilaku bangsa Indonesia secara umum. Kalau sebelumnya semua hal harus offline atau dilakukan dengan tatap muka, semenjak pandemi semua menjadi “harus bisa online atau dilakukan dengan cara tidak langsung.

Pandemi telah menjadikan sosial media (sosmed) kita mengalami perubahan fungsi yang sangat drastis. Sebelumnya, sosmed memang sudah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Seluruh warga Indonesia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, lelaki atau perempuan; semua menggunakan sosmed. Akibatnya kebutuhan alat pendukung penggunaan sosmed pun meningkat. Mulai dari HP terintegrasi sosmed, laptop, tablet, kuota internet, server yang baik, hingga urusan sinyal yang memadai. Sosmed dalam beragam bentuk, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok, dll platform digital yang bisa diakses secara bebas, telah menyihir kehidupan warga negeri +62 secara umum.

Pandemi dengan kewajiban beraktivitas dari rumah, telah menjadikan orang-orang yang semula tidak pernah mengulik internet, sekarang pun mulai menilikinya. Mereka ingin turut serta numpang eksis agar tidak ketinggalan zaman. Di Indonesia, sosmed yang semula menjadi ruang saling sapa telah berubah peran menjadi beragam fungsi —dari yang bersifat nonkomersial menjadi komersial.

Sekurangnya, saya melihat bahwa sosmed di Indonesia memiliki lima fungsi, yaitu (1) sekedar bersapa hai dengan kawan dan kerabat —biasanya postingannya kalem dan tidak terlalu banyak frekuensi kemunculannya, (2) memajang karya kreatif —umumnya isinya berupa karya-karya yang dihasilkan, tidak selalu ada proses jual beli, tetapi lebih sering sebagai iklan versi halus, (3) untuk berdagang —bagi mereka yang menggunakan sosmed sebagai sarana berdagang (bukan marketplace), mereka secara sadar memposting dagangan termasuk interaksi dan tata cara transaksi jual belinya, (4) bersosmed hanya untuk ikut-ikutan —ini biasanya punya banyak akun sosmed, tapi nyaris semuanya tidak terurus, (5) hal lain-lain —ini bisa sebaran hoax, informasi dengan tema-tema tertentu, provokasi, dll.

Sosmed di Indonesia tidak dikontrol oleh pemerintah. Negara tidak mengurusi postingan apapun di sosmed. Setiap pengguna sosmed bebas posting apa saja, kapan saja, dari mana saja, di mana saja, modelnya seperti apa, dan untuk kepentingan apa. Namun pada beberapa kasus yang sangat krusial dan mengganggu, seperti fitnahan, pencemaran nama baik, adu domba, ujaran kebencian atau hate speech —dalam beberapa kasus sudah melalui proses jalur hukum.

Artinya, kebebasan bersosmed itu bukanlah kebebasan yang bablas sebebasnya tanpa aturan. Sebagai pengguna sosmed, sebebas apapun postingan anda, sebaiknya tidak menyalahi aturan umum yang berlaku. Tentu saja kalau anda tidak ingin terjerat kasus-kasus yang tidak menyenangkan gegara postingan di sosmed.

Salah satu fungsi medsos yang sangat menarik perhatian saya, adalah penggunaan medsos bukan marketplace untuk jual beli. Produk dagangannya dapat dikatakan hampir semua produk kebutuhan hidup. Mulai dari yang remeh-temeh semacam minyak gosok hingga barang bernilai milyaran seperti rumah dan mobil mewah. Pelakunya pun beragam, dari remaja sampai orang tua, bisa lelaki atau perempuan.

Berdasarkan pengamatan saya sebagai pengguna sosmed —pelaku pedagang online mayoritas adalah perempuan, terutama ibu-ibu. Secara prinsip ibu-ibu ini memiliki aktivitas lain, tetapi juga menggunakan sosmed untuk berdagang atau berjualan.

Saya pribadi sebagai penulis yang memanfaatkan sosmed untuk berbagai hal yang berkaitan —seperti memposting karya-karya terbaru, berbagi tips penulisan, informasi webinar dan kelas-kelas penulisan, bahasan buku dan film, jual beli buku, kadang-kadang juga curhat atau tanggapan terhadap suatu hal; saya tahu ada banyak perempuan lain yang memanfaatkan sosmed untuk sarana seperti ini. Sosmed seolah menggambarkan kegiatan atau aktivitas sehari-hari para penggunanya.

Dalam pandangan manajemen, hal yang beraneka macam seperti yang saya lakukan dan ratusan ribu atau mungkin jutaan ibu-ibu pengguna sosmed di Indonesia bisa jadi kurang pas, tidak benar, tidak sesuai, dan tidak menghasilkan keuntungan maksimal. Namun benarkah demikian? Apakah ini menjadi suatu yang salah dalam penggunaan sosmed?

Jawabannya jelas tidak. Ini bukan sesuatu yang salah. Pandemi telah mengubah potret ibu-ibu ini menjadi lebih berdaya. Mereka yang suaminya atau bahkan dirinya sendiri terkena dampak PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) selama pandemi, telah mengubah wajahnya menjadi perempuan-perempuan tangguh Indonesia. Mereka memberdayakan kemampuan atau keterampilannya menghasilkan produk, lalu berjualan di sosmed.

Dari sana, mereka mendapatkan penghasilan demi mempertahankan keberlangsungan hidup dirinya dan keluarganya. Apakah berhasil? Secara umum saya akan mengatakan berhasil. Karena semenjak pandemi, kalaupun banyak korban meninggal akabat virus C-19 —nyaris tidak terdengar korban meninggal karena kelaparan. Artinya, baik secara individu atau kolektif, masyarakat Indonesia tidak pada kondisi rawan ekonomi.

Hal ini justru mengingatkan kita akan adanya suatu potensi yang luar biasa dari perempuan —terutama ibu-ibu pedagang online yang membuka ruang baru dalam dunia literasi digital. Keinginan mereka untuk memperkenalkan produk dan menjualnya sebanyak mungkin, telah membuat mereka ini sekurangnya mau belajar beberapa hal mendasar sebelum mem-posting produk mereka di sosmed.

Keterampilan dasar yang harus dikuasai seorang ibu-ibu pedagang online, adalah prinsip-prinsip copywriting atau bahasa gampangnya adalah bahasa iklan. Ya, copywriting adalah teknik praktis mengiklankan suatu produk, sehingga menarik perhatian calon pembeli untuk menggunakan dan membelinya. Dengan demikian, tujuan ibu-ibu pedagang online mem-posting dagangan di sosmed dapat berakhir pada closing atau penjualan. Inilah yang akan menambah omzet dan penghasilannya.

Teori dan teknik copywriting sangat beragam dan komplek. Keterampilan dasar copywriting meliputi sekurangnya sepuluh aspek penting, yaitu (1) identifikasi produk dengan detail, (2) membuat foto produk yang menarik, (3) menentukan sasaran atau target pasar, (4) membuat caption atau headline postingan, (5) cara menawarkan, (6) penggunaan storytelling, (7) closing atau mendapatkan penjualan, (8) menjawab komentar dengan baik dan cepat, (9) memperhatikan kompetitor, dan (10) monev atau monitoring dan evaluasi.

Pertama, identifikasi produk. Yach, ibu-ibu pedagang online di sosmed kudu sadar, produk yang dijual itu apa. Mereka perlu menjelaskan, mendeskripsikan produknya sebaik mungkin, sedetail mungkin dengan prinsip 5W + 1H (what, who, when, where, why, dan how) yang berarti penjelasan dari apa produk tersebut, siapa penggunanya, kapan bisa digunakan, di mana tempat penggunaannya, mengapa perlu menggunakan produk tersebut, dan bagaimana cara menggunakan. Termasuk menerangkan harga dan cara transaksinya. Identifikasi produk ini akan memberikan informasi yang detail bagi calon pelanggannya.

Kedua, membuat foto produk yang menarik. Tidak dapat dipungkiri bahwa gambar produk yang menarik, akan mendorong calon pembeli untuk mengklik postingan kita. Jadi ibu-ibu pedagang online di sosmed kudu belajar prinsip dasar teknik fotografi yang baik. Ketiga, menentukan sasaran atau target pasar. Yach ini penting. Dengan mengenali target pasar yang tepat, ibu-ibu pedagang online bisa memilih foto dan gaya bahasa yang tepat, sehingga pas di hati audiensnya.

Keempat, membuat caption atau headline postingan. Ini semacam judul yang kudu menarik perhatian, menimbulkan rasa penasaran, sehingga calon pembeli mampir ke postingan kita dan membeli produk. Berikutnya yang kelima, cara menawarkan. Tidak pernah ada aturan baku dalam menawarkan produk di sosmed. Ada banyak ibu yang menggunakan teknik atau gaya iklan pribadinya untuk menggaet pembeli. Ibu-ibu pedagang online kudu menemukan teknik yang pas untuk dirinya sendiri. Tidak bisa copypaste dari orang lain.

Selanjutnya yang keenam, penggunaan storytelling. Teknik bercerita untuk berdagang sudah jamak dilakukan. Dengan cerita, orang atau calon pembeli lebih mudah menerima dan mengidentifikasi produk tersebut cocok atau tidak untuk dirinya. Terlebih kalau ceritanya berdasarkan kisah nyata penggunaan dan manfaat produk, biasanya perhatian audiens cukup besar. Yang ketujuh, closing atau mendapatkan penjualan. Tujuan utama dari copywriting adalah penjualan. Emak-emak pedagang online kudu memperhatikan cara closing, sehingga orang mau membeli, membayar produk kita, demi meningkatkan omzet penjualan.

Berikutnya yang kedelapan, menjawab komentar dengan baik dan cepat. Karena format iklannya di sosmed yang bersifat pribadi bukan marketplace, ibu-ibu pedagang online kudu cepat tangkas merespon komentar. Terlebih bila komentar tersebut berkaitan dengan produk yang dijual. Komentar dan respon yang baik sering membuka penjualan yang besar.

Kesembilan, memperhatikan kompetitor. Berdagang pasti tidak lepas dari persaingan. Ada baiknya para ibu pedagang online tidak membabi buta. Perhatikan kompetitor, tapi jangan merusuh. Jangan merusak pasaran orang dengan komentar agar orang membeli produk kita (yang setipe tetapi harganya lebih murah). Itu kurang sopan. Lebih baik fokus pada kelebihan produk dan melayani pelanggan dengan baik.

Terakhir yang kesepuluh, monev atau monitoring dan evaluasi. Namanya juga berdagang —tujuannya menjual, mendapatkan omzet, meraih keuntungan. Bukan kegiatan iseng-iseng berhadiah. Ibu-ibu pedagang online tetap perlu melakukan monev secara mandiri. Postingan seperti apa yang menghasilkan banyak respon dan penjualan, bagian mana yang tidak. Kemudian dari waktu ke waktu, apakah penjualan efektif menggunakan copywriting gaya tertentu ataukah perlu beralih cara, dll.

Semuanya itu merupakan keterampilan yang berbasis pada literasi digital. Seorang ibu pedagang online yang baik dan ingin sukses, sekurangnya telah turut serta berpartisipasi mentradisikan literasi digital. Mereka ini jumlahnya sangat banyak. Rasanya, hampir setiap ibu yang saya kenal, pasti pernah jualan online menggunakan sosmednya. Entah itu jualan produk yang dibuat sendiri, sebagai reseller, maupun sebagai dropshipper.

Aktivitas ibu-ibu pedagang online ini telah mewarnai dunia literasi digital Indonesia dengan lebih beragam sejak masa pandemi hingga sekarang. Keberadaan mereka ini kalau diberdayakan secara maksimal, akan menjadi kekuatan literasi digital yang besar. Selain itu, mereka juga bisa turut serta mensejahterakan diri dan keluarganya melalui perdagangan online yang mudah, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja, dengan beragam sosmed yang sesuai.

Apakah anda juga ibu-ibu pedagang online? Kiranya perlu menambah keterampilan menulis dan mengikuti bahasan copywriting demi kesuksesan penjualan produk anda. Karena saya yakin, tujuan anda berjualan pasti meningkatkan omzet penjualan. Dengan metode copywriting yang tepat, tujuan itu pasti lebih mudah tercapai.

#artikelmedia #ngopi #ariwulandari #penabicara #mediaonline #publikasimedia #literasidigital

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: