Terowongan Niyama dan Banjir

Jabodetabek banjir. Sosmed riuh sekali. Tapi yang saya lihat, bukan itu. Banyak sekali kabar dan foto-foto yang beredar di sosmed, justru TNI dan Kepolisian bersama masyarakat sigap saling membantu dan berusaha mengatasi persoalan banjir, menolong orang, mengevakuasi, menyediakan makanan, pengungsian darurat, dan banyak kegiatan lain. Semoga banjir lekas surut dan hujan tidak sangat ekstrem; karena kalau prediksi BMKG ini baru permulaan dan puncaknya akan ada di bulan Februari nanti.

Saya tidak akan membahas banjir Jabodetabek. Karena banjir Jakarta itu dejavunya ke saya nggak enak; dingin, genangan air tinggi, listrik mati, air bersih habis, kekurangan makanan, terkurung, akses sulit berhari-hari (itu tahun 2007). Saya beruntung sekarang nggak di Jakarta lagi. Jadi, saya bisa merasakan betapa riewuh dan tidak enaknya bencana banjir. Daripada turut meributkan, saya doakan saja banjir lekas surut.

Banjir juga mengingatkan saya tentang kota Tulungagung, kota kecil yang indah dan memiliki banyak pantai.  Semasa kecil, kota kelahiran saya ini sempat banjir. Tulungagung memang daerah berawa. Namanya saja dulunya Ngrowo, sebelum diganti menjadi Tulungagung —penolong yang agung, negeri yang penuh dengan pertolongan. Ya, memang begitulah adanya. Kalau datang ke kota ini, kamu pasti akan melihat kota yang ramah dan apa-apa masih serba murah.

Stasiun Tulungagung

Banjir bagi anak-anak seperti saya (mungkin kelas dua atau tiga SD), adalah banjir yang berkah. Karena tidak terlalu tinggi, hanya selutut anak kecil seperti saya. Ciblon ‘main air’ menjadi arena permainan yang menyenangkan. Tapi banjir adalah kisah yang sekarang berasa “mitos” di kota ini. Sudah berabad-abad rasanya tanah ini kering.  Semoga seterusnya akan begitu.

Adapun penangkal banjir yang sangat ampuh di kota saya itu bukanlah pawang hujan atau orang pinter, tapi Terowongan Niyama. Yes, terowongan ini memang terowongan asli bangunan tentara Jepang pada saat menguasai Indonesia. Seperti yang saya sampaikan tadi, Ngrowo atau Tulungagung itu daerah banjir. Termasuk pada saat Perang Dunia II saat Jepang berkuasa di Indonesia.  Versi Nenek Buyut saya dulu, Sungai Brantas meluap karena hujan yang terus menerus. Ratusan desa dan ribuan  rumah terendam, areal pertanian hancur. Lalu membentuk genangan rawa yang sangat luas.

Serem. Iyes, banget. Nenek Buyut saya sempat menceritakan peristiwa ini kepada saya. Jadi, ya banjir memang bencana yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan wilayah itu adalah daerah yang sekarang disebut dengan Kecamatan Campur Darat, maksudnya ya air campur daratan.

Terowongan Niyama

Jepang memutuskan untuk menguras air yang menggenangi rawa-rawa itu ke Samudera Hindia, Laut Selatan. Dimulailah pembangunan Terowongan itu setahun setelah banjir (berarti 1943). Pekerjanya siapa? Ya romusha lah… masa orang Jepang! Ribuan orang romusha dikerahkan setiap hari untuk mengeduk tanah dengan alat seadanya. Zaman itu jangan dibayangin alat-alat berat sudah canggih seperti sekarang. Jadi, saya pikir hanya orang cari sensasi aja yang membersihkan atau mengeduk sungai dengan tangan.

Batu-batu kapur di punggung bukit dihancurkan, tapi sayangnya kurang dinamit. Masih dalam cerita Nenek Buyut yang saya ingat, daerah itu pernah jadi landasan terbang orang Belanda —jadi nggak aneh kalau Tulungagung ada banyak bangunan kuno model Belanda dan Nonik-Nonik Belanda (dalam versi hantu, tapi) di beberapa tempat di Tulungagung. Tulungagung bukan daerah yang terisolir. Belanda dan Jepang ya ikut ada di kota ini selama mereka berkuasa, meskipun jarak dari Surabaya itu sekitar 160 km.  Itu karena Tulungagung keren 🙂 Sejuk, indah, banyak tempat wisata, kulinernya enak-enak, orangnya baik-baik, dan perempuannya cantik-cantik. Halah….

Jepang lalu menyisir daerah itu dan menemukan bom yang digunakan untuk peledak. Pembangunan mulai digalakkan, lalu tersendat dalam urusan pengerahan romusha. Jumlah romusha terus berkurang karena mati kepayahan, kelaparan, terus serangan malaria, binatang buas, hingga banyaknya hantu dan roh jahat yang memangsa mereka.

Jepang lalu mendesak setiap pangreh praja untuk setor romusha sebanyak-banyaknya untuk megaproyek ini. Konon sebelum Indonesia merdeka, terowongan sudah selesai (berarti di tahun 1944). Disebut dengan tumpak oyot (akar gunung) romusha. Itulah yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang sebagai ne (akar) yama (gunung). Lalu warga lokal menyebutnya Neyama Romusha. Sekarang siy sebutannya Terowongan Niyama.  Terowongan itu praktis menghentikan banjir dan tetap bisa digunakan sampai terjadi banjir bandang tahun 1955. Lalu tahun-tahun berikutnya kota ini masih langganan banjir.

Sungai Niyama

Baru sekitar tahun 1960 dengan dana rampasan dari perang Jepang, terowongan ini dibangun lagi. Seterusnya terowongan ini menjadi tameng dari banjir besar. Pemerintahan Orde Baru membangun Niyama II dan diresmikan tahun 1986. Iyo, Presiden Soeharto datang waktu itu. Tulungagung jadi meriah banget kayaknya. Saya sudah lupa-lupa ingat soal ini. Yang pasti siy, sejak sekali banjir masa SD itu, rasanya kota saya itu tidak pernah banjir lagi. Semoga tetap begitu…

Intinya bukanlah tentang sejarah Niyama (silakan cari data yang lebih lengkap). Saya hanya merekam lagi cerita Buyut saya. Sejak kecil saya diberitahu lewat cerita; bagaimana terowongan yang mengalirkan air  ke laut itu jadi solusi banjir di Tulungagung. Bukan dimasukkan ke tanah, ya kalau tanahnya seluas lautan dan bisa dibangun sumur-sumur raksasa untuk menampung air banjir… Lha tanahnya penuh dengan kebun beton. Ya jelas menggenangi kebun beton itu dan banjirlah di mana-mana.

Yach, semoga di manapun tempatnya di Indonesia, aman dari banjir. Karena di negeri kita banjir sudah sering terjadi; semestinya kita pun sadar akan bencana banjir ini. Nggak buang sampah sembarangan, nggak babad hutan serampangan, dan tentunya nggak memilih pemimpin yang serombongan aja asal berkuasa.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Maluku: A Hidden Paradise (2)

Pantai dan Laut yang Mempesona (2)

Halo semuanya…. Selamat Tahun Baru 2020 ya…. Setelah lama nggak aktif di web ini, hari ini saya berusaha untuk ngecek dan nerusin yang sudah tertulis terakhir tentang Maluku. Berikut ini lanjutannya ya….

Bagi mereka yang sudah malang melintang turun dan pesiar laut ke laut di Indonesia, bisa jadi Kepulauan Maluku adalah surganya. Hampir di setiap laut dan pantai yang ada di pulau-pulau tersebut, indah luar biasa. Jangankan yang sampai jauh-jauh, lha yang di Ambon saja bagus-bagus.

Anda tidak perlu ribet untuk pesiar laut di Pulau Ambon. Karena hampir semua wilayah Ambon dikelilingi laut. Anda bisa dengan mudah tanpa keluar atau turun dari kendaraan untuk menikmati pemandangan laut. Namun kalau ingin ke laut, ya mau tidak mau anda harus turun.

Sejauh yang saya amati, pantai-pantai di sini bersih sekali. Warna airnya itu beda. Tidak hanya biru, tapi campuran antara hijau, tosca, putih, biru, perak. Sangat indah. Sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Kalau kita datang sendiri ke sana, baru bisa melukiskan dengan pas sesuai dengan pilihan kosakata kita masing-masing.

Laut Ambon

Pagi dan senja adalah warna yang menurut saya sangat indah. Matahari bisa bersinar dengan terang dan sempurna di depan mata kita saat pagi. Kebetulan pas ke Ambon saya tinggal di Mess Transit TNI AU Pattimura, yang langsung berhadapan dengan laut. Kalau pagi, wow…. sinar mataharinya menyilaukan mata. Jam 4 pagi waktu Ambon, yang berarti jam 2 waktu Jogja semburat cahaya mulai nampak dan terus semakin terang sampai sore. Di senja, matahari senja di sepanjang pantai selalu indah.

Laut Maluku

Dan matahari baru benar-benar tenggelam ketika pukul 7 malam waktu Ambon. Bagi saya, yang bermimpi punya rumah atau villa menghadap laut, pengalaman tinggal di Ambon seminggu itu benar-benar istimewa. Oh, masih lebih istimewa lagi karena di samping kanan dan kiri tempat tinggal itu ada Masjid dan Gereja. Bagus sudah. Setiap pagi dengar orang ngaji dan adzan terdengar sempurna.

Pemandangan bawah laut di semua laut Kepulauan Maluku dapat dikatakan luar biasa. Anda harus datang ya. Silakan merencanakan liburan ke Maluku. Mengajak saya yo boleh. Jujur saja saya pingin banget bikin acara traveling writing ke Maluku. Pasti seru. Apalagi kalau yang ditulis benar-benar setting Maluku. Tentu lebih hidup dan bernyawa tulisannya. Sementara segini dulu ya soal Maluku. Nanti kalau ada energi lagi pas ke sana lagi, akan saya tuliskan lagi.

 

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Maluku: A Hidden Paradise (1)

Ayo pergi ke Maluku…!

Pantai Batukuda

Maluku adalah negeri kepulauan yang sangat indah. Itu kesan saya begitu saya pertama kali datang dan tiba di Ambon. Sebuah negeri yang saya terpikir untuk datang saja tidak pernah. Mengapa begitu? Ya karena saya tidak tahu. Ketidaktahuan itu karena berbagai hal. Pertama, tidak ada yang cerita ke saya tentang Maluku. Kedua, gambaran tentang Ambon pernah rusuh berdarah juga mempengaruhi referensi saya tentang Maluku. Ketiga, tidak cukup waktu untuk browsing melihat keindahan Maluku dari para traveller yang sudah pernah datang. Keempat, yach, you know it lah… Wisata ke Indonesia Timur itu lebih mahal daripada ke Eropa 🙂 Beneran lho….

Akhirnya, Tuhan mengubah pandangan saya dengan hal sederhana saja. Saya harus datang ke sana karena pekerjaan. Yes, senang dan senep sekaligus. Senang karena saya akan datang ke negeri yang belum pernah saya kunjungi. Senep ya karena ini pekerjaan di luar prediksi dan datang di akhir tahun yang kita biasanya sudah plan gak ada kerjaan lagi. Tapi saya melihat sisi positif nya saja. Pasti bisa lah dikerjakan kalau pekerjaan itu sampai di tangan saya.

Benteng di Bandaneira

Dan begitulah, alhamdulillah semua urusannya dimudahkan. Karena saya sendiri ingin, ada banyak orang yang melihat dan datang ke Maluku. Mau berwisata, mau usaha, mau cari tempat tinggal, mau tanam modal, mau bangun restoran, hotel, bisnis ikan, bisnis pariwisata, dll. semua serba mungkin dilakukan di Maluku. Negeri ini kaya raya banget. Harus datang untuk lihat pantai-pantainya yang memikat, menikmati alunan musik yang beragam, menyantap ikan yang segar, mencicipi kuliner yang khas, ketemu orang-orang yang luar biasa, atau sekedar mengingat jejak sejarah di Maluku. Semuanya harus dilihat. Liburan jangan hanya ke Bali. Helllo…. kita punya Maluku 🙂

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bunaken: Dadakan Snorkeling

Bunaken

Apakah anda sudah pernah ke Bunaken? Sudah sering? Sudah pernah? Atau belum pernah? Yes, its ok. Tapi pasti pernah dong dengar “Bunaken”? Ini adalah salah satu ikon pantai paling cantik di Sulawesi Utara. Meskipun sebenarnya kecantikan itu adalah kecantikan bawah laut. Kalau sekedar di atas, laut ini mungkin terlihat tidak ada bedanya dengan laut-laut lainnya di Indonesia.

Tahun lalu saya sudah pergi ke Bunaken, tapi tidak sampai turun ke laut; karena gelombang tinggi dan berangkat dari kota sudah terlalu siang. Jadi cukup puas saja lihat permukaan laut yang biru –sebirunya— langit yang juga biru sekali, pemandangan gunung “kecil” yang selalu terlihat dari pelabuhan sampai ke tempat transit Bunaken; sebelum anda turun ke laut, dan tentu saja kapal-kapal yang warna-warni lalu lalang. Plus udara panas dengan terik matahari yang sanggup bikin kepala nyut-nyutan “pusing”.

Tahun ini saya kembali ke Bunaken selepas mengikuti acara seminar internasional di Manado yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara. Wes, saya tidak berpikir akan turun ke laut karena hari itu adalah jadwal saya presentasi makalah selepas dari Bunaken. Dan saya lihat di agenda panitia ya hanya ke Bunaken. Tidak tertulis acara “basah-basahan”.

Papan nama Bunaken

Standar ke pantai ya minum air kelapa muda, makan seafood, dan foto-foto. Tapi di sini sebaiknya tidak makan seafood karena “cukup mahal”; pun dengan makanan dan minuman lainnya. Selain itu, tempatnya kurang memadai untuk kita bisa menikmati makanan enak dan pantai yang indah. Jadi, ya kudu “sabar” dan “jangan mengeluh” kalau di sini “tidak seindah” foto-foto atau video dari agen wisata atau tampilan yang anda saksikan di media online atau offline. (Noted: saya tidak memotret bagian ini karena bikin saya sedih saja). Saya berharap pemerintah, masyarakat setempat, dan pihak terkait bisa menjadikan kawasan ini lebih bersih, rapi, dan bersahabat untuk semua wisatawan domestik atau wisatawan asing.

Kami makan pisang groho (pisang goreng besar dengan sambal) salah satu cara makan pisang yang tidak biasa bagi saya. Kalau di Jawa makan pisang goreng ya rasa manis lah…. Bukan malah pedas dengan sambal. Ehh, tapi rasanya enak banget. Cobain deh…. Kalau ke Sulut ada bisa ditemukan di rumah makan atau ya ke Bunaken ini.

Nah, sudah beberapa lama ngobrol dan foto-foto dan berkeliling lalu salah satu panitia berteriak menanyakan siapa yang mau berenang dan snorkeling…. lah, saya galau antara mau ikut atau tidak. Tidak itu pingin tahu bawah laut, ikut itu ntar kalau capek dan gak bisa presentasi gimana dong… kan saya ke Manado yang penting presentasi dan seminarnya. Eh, mengingat belum tentu segera ke sini lagi, ya sudah bismillah saya ikut dan turun.

Rombongan yang turun ke laut
Saya selepas dari snorkeling

Kami bersembilan yang turun ke laut yang sungguh indah. Wow… tapi oh tapi, kaki saya beberapa kali terasa seperti kram. Namun setelah kembali saya gerakkan, netral lagi. Tidak seperti air laut Belitung yang hangat, saya merasakan air laut Bunaken lebih dingin…. barangkali saja karena saya turun lebih dalam; meski beberapa kali saya sempat sangat takut. Dan keinginan tukang foto bawah laut untuk mengabadikan foto itu justru bikin saya stres. Saya memunculkan kepala ke atas dan berseru, “Mas, saya mau lihat ikan, tidak usah foto-foto tidak apa-apa.” Karena setiap mereka teriak hadap kamera, konsens saya buyar dan lepas alat napas itu, yang bikin saya gelagepan kebanyakan minum air laut. Yach, namanya juru foto tugasnya memotret dan memastikan semua peserta ada “potretnya” saya tidak bisa marah, tapi jengkel yes…. agak banget.  Toh mereka bisa dapat juga foto saya dengan ikan-ikan itu meski nggak menghadap kamera.

Saya dan ikan-ikan

Kalau diterus-terusin nggak akan puas rasanya berada di bawah laut Bunaken. Mengingat saya belum presentasi, sejam sudah cukup di air laut Bunaken.  Saya tetap senang ke Bunaken. Saya cinta laut dan senang sekali turun ke laut, meski sering juga rasa takut datang tiba-tiba. Tapi nggak apa-apa, takut itu menyadari bahwa kita tidak ada apa-apanya di tengah lautan yang bisa tiba-tiba ganas dengan ombak badainya yang bergulung-gulung.  Jadi, kapan anda mau ke Bunaken? Eh, boleh ajak-ajak saya lho…. apalagi kalau bersama-sama grup dalam program travelling writing 🙂

Ari Kinoysan Wulandari

 

 

Please follow and like us:

Hainan is Beautiful Island (10)

Alhamdulillah, Kami Selamat 😍

Hal-hal penting dan menarik sudah saya ceritakan di sesi 1-9 dolan saya ke Hainan. Tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tour ini sudah include makan, snack dan minuman. Menu dan restoran ganti tiap sesi. Terdiri dari qingbuliang (makanan manis), tahu qiongshan, bihun lingshan, ayam semut goreng limiao (ayam kecil), ayam qiong zhongshan, bihun baoluo, bihun hainan, bihun asam lingshui, dendeng sapi jingshan, udang halus hainan, bacang, bakpao, kambing dongshan, bebek kecap, nasi hainan, sayuran, buah, dan rumput laut. Saya paling suka olahan rumput laut 😋

Desa Bali-1
Desa Bali-2

Soal oleh-oleh anda tinggal siapin yuan yang banyak. Pastikan anda tidak membeli produk China yang ada di Indonesia dan lebih murah. 😀 Saya lebih banyak beli produk herbal dan beragam teh kering.

Kuliah-1
Kuliah-2

Malam terakhir adalah waktu yang panjang. Penerbangan dini hari. Sebagian shopping. Sebagian lagi duduk-duduk di lobi hotel. Sebagian naik kapal pesiar keliling kota. Saya berkeliaran mencari jejak. Feeling saya kurang nyaman dengan cuaca hari itu. Berkali-kali saya lihat langit, awan hitam tidak bersahabat, angin cukup keras menampar kulit. Saya meneruskan niat mencari info seputar hotel yang horor itu sebelum balik ke bandara.
Tengah malam di bandara dan ketidaknyamanan itu saya rasakan lagi. Langit begitu pekat. Angin lebih kencang. Penerbangan on schedule. Berdoa aman selamat.

Mulailah horor di dalam pesawat. Badai buruk di Laut China Selatan. Pesawat mengalami guncangan hebat berulang. Sebagian yang lelah tidur nyenyak. Saya sangat cemas 😭 Ini lebih horor daripada menghadapi hantu di kamar.
Agak mereda ketika pramugari membagikan makanan; meski saya masih waswas. Baru ketika pesawat mendarat di Surabaya, alhamdulillah kami selamat. Lega dan syukur 😇

Hidup kita penuh dengan kesibukan, tapi piknik itu investasi kebahagiaan. Kalau mau ke Hainan, anda bisa cari Bu @annavincentia di 082111533588. Wes tinggal bayar, tinggal berangkat. Ngajak saya boleh, asal gratis dan ada waktu, haha😂

Sampai jumpa di catatan dolan saya berikutnya. 🤗

Tamat

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Hainan is Beautiful Island (9)

You Have a Great Luck

Kalau ke China saya ingin ke Beijing, Hainan, dan Chengdu. Beijing ada Great Wall, Hainan ada Bau Shu Tang —pabriknya di Beijing, dan Chengdu ada panda😍

Bau Shu Tang

China sangat mapan soal obat tradisional. Penerjemah dokter untuk saya orang Sleman, sudah 50 tahun di Hainan dan jadi WN China. Dia senang sekali tahu saya dari Jogja. Seperti ada banyak kenangan-rindu pada Jogja. Karena larangan memotret, saya tidak punya fotonya; termasuk dokter-dokter yang praktek.

Dokter minta saya menunjukkan telapak tangan dan kaki, memeriksa mata, dan lidah, lalu menerangkan kondisi kesehatan saya secara detail. Termasuk yang harus saya lakukan agar lebih sehat. Dan produk-produk yang perlu saya konsumsi. Tetap saja, mereka jualan 😀

Pijat Kaki

Bapak si penerjemah berbicara pada saya dengan bahasa Jawa dan Indonesia, dan bicara pada dokter dengan bahasa China yang fasih. Saya takjub dengan pemeriksaan garis telapak tangan dan kaki untuk tes kesehatan. Di Jawa tidak ada. Kalau pemeriksaaan mata dan lidah secara tradisional, saya tahu.

Klinik

Ketika orang-orang masih diperiksa dan beli obat-obatan, di luar iseng
saya tanya, dokter tahu kesehatan lewat garis tangan, apa tahu peruntungan saya. Dia berujar, “You have a great luck.”

Ini yang dikatakannya. Hidung besar menunjuk pada rezeki yang banyak. Mata bersinar berarti hati yang baik. Dahi lebar itu pemikir, banyak ilmu, dan sabar. Senyum manis dan bentuk pipi merujuk pada keluarga yang baik dan rukun. Jari jari saya adalah tangan orang terampil, tidak pernah kerja kasar. Postur tubuh saya adalah ciri orang sehat dan panjang umur.

Waduh, saya tersandung mendengar pujiannya 😂 Lalu dia mengatakan suami saya nanti adalah orang yang baik, setia, sehat, menyenangkan, dan beruntung; karena saya akan membuatnya jadi orang besar.

Lah, dari mana dokter tahu saya belum menikah? Apa garis tangan saya juga menunjukkan status saya? Bahaya ini! Saya berkelakar anda dokter atau peramal; dia bilang tergantung kebutuhan pasien 🤣

Jadi, kalau pingin berobat dan tahu peruntungan anda, datanglah ke Bau Shu Tang. (Bersambung)

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Hainan is Beautiful Island (8)

Gak Bisa Nyanyi, Gak Bisa Hidup

Luas China 4x Indonesia, penduduknya paling banyak di dunia, sekaligus negeri yang paling berambisi menguasai dunia; sekarang tidak lewat perang, tapi mencaplok wilayah orang dengan monopoli dagang atau sistem utang. Jadi, kl suatu negara utangnya terlalu banyak ke China ya kudu waspada.

Pulau Hainan (PH) provinsi paling selatan dan paling kecil di China. Luasnya 6x luas Pulau Bali. Ada banyak kota di PH, karena namanya sulit dieja, silakan cari sendiri. Ada 3 bandara, yang saya ingat Haikou dan Sanya. Suku-suku di sini ada Suku Han, Miao, Liu, dan Zhang. Suku Han adalah mayoritas, 80%.

Nah, yang gak bisa menyanyi gak bisa hidup itu Suku Han. Karena dalam setiap siklus kehidupan mereka, dari lahir sampai mati penuh dengan nyanyian. Orang bertamu saja harus menyanyi, senang sama gadis, menyanyi, melamar menyanyi, mau ajak kerjasama kelompok lain ya menyanyi.

Menyanyi terutama diwajibkan pada lelaki. Posisi perempuan lebih tinggi karena harus memberikan “mahar” —saya lupa istilahnya, kepada laki-laki. Di dalamnya ada gelang perak leluhur turun temurun si perempuan yang harus dipakai oleh si lelaki.

https://web.facebook.com/arikinoysan/videos/10156444313923249/

Gelang ini (lihat di video yang dipake di tangan kiri) berfungsi untuk mengecek kesehatan, menyembuhkan sakit, dan konon mendeteksi kalau si lelaki selingkuh. Kalau lelakinya selingkuh, dianggap maklum kalau dalam waktu tertentu akan mati; karena diracun sedikit demi sedikit oleh istrinya.

Atau kalau istrinya cinta banget sama suaminya, biasanya yang diracun selingkuhannya. Sedikit demi sedikit, tapi mematikan dan tidak terlihat seperti diracun. Berasa nonton kisah sang Permaisuri yang meracun sedikit demi sedikit selir kesayangan sang Raja 😂

Orang Han mayoritas penganut Budha Mahayana, pekerja keras, detail menyimpan kekayaan, dan membanggakan keluarganya. Guide kami orang Han, dia bisa menyanyi dan ada banyak hal yang diceritakan tentang suku Han. (Bersambung)

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: