Bromo (10) Terimakasih, Ceria ❤

Ini TL Ceria yang mengawal pas saya ikut trip ke Magelang, Pacitan, dan Bromo. Saya memanggilnya Mas Brian. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya ikut open trip (OT) Ceria pertama itu ke Magelang, karena mereka punya destinasi Nepal van Java. Waktu itu ya belum kenal, cuman lihat foto-fotonya bagus (maturnuwun Mas Shidiq dan Mas Gama), terus respon adminnya cepat. Ditanyain apa-apa paham dan kesan positif.

Ya wes, saya bayar DP nya (ya ampun, di Ceria itu dengan trip yang istimewa, bayarnya ringan masih boleh dicicil pulak); dan saya lunasi pas berangkat. Karena ya belum kenal toh. Dalam hati saya, kalau ada apa-apa sekurangnya daerah Magelang masih kejangkau kalau saya pulang pake mobil online.

Alhamdulillah, saya happy gembira pas ke Nepal van Java meskipun ya gempor tenan kaki saya 😆😂 Fotonya bagus-bagus. Tripnya seru dan fun. Pas itu grup saya generasi kasepuhan, isinya orang 60-65 tahun yang memang doyan piknik. Jadi saya berasa malu kan, kalau saya nggak sekuat mereka yang jalan sampai ujung atas Nepal van Java.

Kedua ke Pacitan. Karena wes kenal di sini saya bayar bae langsung lunas, termasuk yang ke Bromo. Versi saya, trip ke Pacitan ini lebih seru karena orangnya lebih banyak. Susur sungai Maron yang eksoktis dan eksplore Goa Gong yang bikin lelah jiwa raga dan berasa ploooong banget begitu keluar dari goa. Seru, lucu lucu juga pose foto-fotonya dan menyenangkan.

Ketiga ke Bromo. Seru dan fun-fun aja meskipun ada gangguan di bus dan jeep. Kekuatan jalan tiap orang yang nggak sama aja yang bikin sedikit tersendat. Tetap versi saya, trip ke Bromo menyenangkan secara keseluruhan.

Saya malah sempat rerasan dengan Pak Chin, kalau nggak bisa ngitung gimana OT Ceria mo untung 😅😂 Lha kita naik kereta bisnis aja Jogja Malang PP wes sekira 700 an rb lebih. Naik bus sendiri aja juga sudah berapa. Mumet mikirin untuk ngatur semuanya.

Kawan yang lain bilang karena baru pertama ikut Ceria, dia milih karena OT Ceria paling murah dan paling banyak destinasi wisata dibandingkan lainnya. Wah, kalau ini jelas newbie tenan. Kita kalau yang wes biasa jalan pake biro, harga murah itu satu point; tapi profesionalisme dan baiknya layanan yang terjamin aman nyaman, itu lebih penting.

Dan OT Ceria memenuhi kategori layak untuk semua layanannya sedari awal. Waktu saya masih nanya-nanya dulu itu, terasa banget kalau adminnya hanya ingin memberikan info yang jelas. Dia nggak terpikir apakah saya akan join atau enggak. Dia wes profesional, memberikan info yang saya perlukan dengan cepat, praktis, solutif.

Masalah biaya ringan, isih bisa dicicil dengan layanan prima, itu juga jadi pilihan saya untuk kembali pake OT Ceria. Ke Dieng belum pernah pake, karena saya wes bolak-balik ke daerah ini. Tapi yo mungkin nanti bisa ikut lah kalau waktunya cocok. Hobinya di Ceria ini kan trekking yang bikin kaki kuat, hahaha😂

Berikutnya, OT Ceria ini menawarkan destinasi yang nggak semua biro ada. Ke Magelang, cek saja nggak semua bawa kita ke Nepal van Java. Medan sulit, biaya besar. Ke Pacitan ada sungai Maron, ini yo eksplore nggak murah terus cukup berisiko.

Bromo ada destinasi ke Kawah, itu kalau saya pribadi tepat waktu, pasti sampai ke sana juga. Mung wes gempor habis energi saya di Seruni. Juga karena perjalanan panjangnya dari Jogja ke TKP itu saja wes makan energi.

Lainnya, oh semua kru baik, tanggap, responsif. Dan terutama versi saya yang terpenting; nggak kacang. Tahu kacang? Itu singkatan omongan Jawa untuk kakehan cangkem atau terlalu banyak bicara. Kru Ceria rerata mereka tenang. Sedikit bicara, banyak kerja. Orientasi pada peserta tour sangat besar.

Foto-foto dan dokumentasi video bagus, tanpa charge tambahan. Wah, itu sungguh menyenangkan sekali 😀 Nggak ada biaya tambahan apa-apa di luar yang tercantum; kecuali wes diterangkan.

Info apapun seputar trip sangat cepat dan jelas. Orang mudah mengikuti dan bisa menghitung memperkirakan sesuai keperluan masing-masing.

Hal lain lagi, tepat waktu. Kalau banyak orang selisih 15-30 menit itu sudah pasti masuk toleransi trip. Dan itu biasanya karena kami pesertanya, bukan dari biro atau timnya.

Tim Ceria juga fleksibel. Saya boleh minta dipick up searah jalan kendaraan, pun turun di tempat yang lebih dekat dengan rumah. Tinggal bilang saja ke TL dan semua beres sudah. Menghemat waktu, menghemat biaya.

Request tertentu karena kondisi masing-masing peserta berbeda, juga direspon dengan baik. Misalnya saya pilih makan ikan daripada ayam dan atau sebaliknya. Semua diurus dengan baik.

Komplain atas ketidaknyamanan juga direspon dengan baik, solutif, profesional. Tanpa ada kesan menghakimi peserta. Kadang-kadang, sebaik apapun biro mempersiapkan segala sesuatu untuk trip, ada saja yang terlewat dan selama masih wajar, itu juga harus dimaklumi oleh peserta.

Beli oleh-oleh? Ada waktu, tempat, dan direkomendasikan apa saja yang khas dengan kualitas terbaik. Sungguh menyenangkan bagi mereka yang mau belanja-belinji.

Secara pribadi saya berterimakasih atas OT yang dibuka oleh Ceria. Pengalaman yang menyenangkan, fun, seru, meskipun saya pergi sendiri. Harga terjangkau, banyak pilihan trip, jadwal sudah ready, dokumentasi, dll layanan yang semua bagus.

Ikut saja kalau kamu malas mikirin tripmu. Pilih destinasi, jadwal trip, bayar, bawa badan, berangkat dan have fun😀 Oh iya, kamu juga bisa request ke mereka misalnya komunitasmu, keluargamu, dll konco-koncomu, mo piknik ke mana dengan budget tertentu. Minta saja sama mereka, pasti direspon dengan baik.

Sekali lagi, Terimakasih Ceria. Semoga terus menjaga kualitas layanan dan pembukaan trip-trip baru yang memanjakan mereka yang doyan piknik dengan harga terjangkau dan aman nyaman. ❤

Oke, sahabat-sahabat semuanya. Saya cukupkan catatan dolan saya ke Bromo. Maturnuwun, Terimakasih sudah menyimak dan sampai jumpa di catatan dolan saya berikutnya. Happy Travelling ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (9) Kalau Kamu Ikut Open Trip Sendirian

Ini lokasi saya masih di sekitaran puncak Seruni. Jalannya menurun, lebih “berbahaya” daripada saat naik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebelum pandemi (awal tahun 2020) saya terbiasa pergi dengan 1 atau 2 sahabat. Zaman itu belum begitu banyak biro yang bikin open trip (OT). Kami lebih sering arrange mau ke mana, kapan, budgeting. Lalu berbagi tugas, siapa yang pesan hotel/pesawat, transport/makan/tiket wisata/fotografer dll. atau memilih biro.

Kalau berbagi tugas, di awal kami sudah ngumpulin uang “iuran” untuk segala sesuatu yang perlu dibayar awal. Kami memilih 1 bendahara yang pegang duit tunai. Pas tiba di lokasi, dialah yang bayarin tiket wisata, makan di tempat, charge foto dadakan, tips dan bayar guide di lokasi, bayar toilet pun dia yang kasih duit recehnya.

Kalau uang yang dipegang bendahara mulai menipis, kami iuran lagi. Usai piknik, kami akan membagi uang tersisa atau kasih ke kotak sedekah sesuai kesepakatan.

Begitu dalam waktu lama, bahkan untuk trip-trip yang jauh di pelosok Sumatera atau Kalimantan. Alhamdulillah, saya happy-happy aja. Sampai kemudian, kami pesan trip lewat biro. Ndilalah embuh piye kok jadwal tugas 2 sahabat saya itu berubah dadakan. PNS atau ASN jelas gakbisa sembarangan izin apalagi bolos kalau nggak mau kena surat cinta 😆😅

Padahal saya wes bayar full di biro. Mereka juga sudah hampir lunas. Mau nggak mau saya harus berangkat kalau nggak mau duit ilang melayang. Mereka ya pasti rugi kan duit gak bisa ditarik ulang. Bismillah, saya berangkat. Lho ternyata sendirian ikut OT nggak seserem yang saya pikirkan 😅😂 Saya pun mulai “terbiasa” kalau harus pergi sendiri.

Ikut OT sendirian versi saya, bisa menjadi pengalaman yang seru dan memperluas jaringan pertemanan. Berikut beberapa tips dan trik untuk memastikan sampeyan dapat pengalaman istimewa.

Pertama, pastikan dulu jiwa ragamu sehat kuat. OT sendiri, berarti sampeyan siap menanggung segala sesuatunya sendiri tanpa ada orang yang sampeyan kenal untuk “membantu”. Pastikan cek kesehatanmu.

Saya kalau harus sendiri, ekstra ketat terhadap urusan kesehatan. Seperti pas mau ikut OT Pacitan dengan Ceria, begitu dokter bilang kondisi kesehatan kurang oke, saya pilih mundur saja. Risiko uang hilang itu harus dihadapi, tapi syukur alhamdulillah boleh reschedule di Ceria. Terimakasih ya 😀

Kedua, pilih biro terpercaya. Lakukan cek ricek tentang penyedia OT, baca ulasan dari peserta sebelumnya, dan pastikan mereka memiliki reputasi yang baik. Cek juga itinerary yang sesuai dengan minat dan semua fasilitas yang disediakan.

Ketiga, ketahui siapa yang bertanggung jawab pada OT yang kita pilih. Admin, TL, fotografer atau kameramen, driver/kru transportasi, guide, helper, dll yang bisa kita contact bila ada sesuatu yang kita perlu. Kenali, catat contact mereka.

Keempat, siapkan semua fotokopi dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor.
Bawa barang pribadi yang penting seperti obat-obatan, alat mandi, dan pakaian yang sesuai dengan destinasi.

Kelima, kenalan dengan peserta lain.
Bersikap ramah dan terbuka akan membuat kita lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak teman baru yang saya peroleh dari OT.

Tapi yo nggak usah memaksakan diri. Kalau di OT, mereka yang pergi dengan partner (entah pacar, gebetan, selingkuhan, pasangan, saudara, anak, keluarga, teman, bestie dll) biasanya nggak mau atau nggak sempat kenalan dengan orang lain. Wes sibuk dengan “dunia mereka” sendiri. Feel free aja, dapat kenalan alhamdulillah. Gak dapat ya tetap enjoy dengan tripnya.

Keenam, bawa uang tunai secukupnya, terutama jika destinasi berada di daerah terpencil yang mungkin tidak memiliki banyak ATM. Hitung berapa budget yang harus disiapkan.

Cek-cek apa yang nggak ditanggung biro, biaya lain yang mungkin ada, budget oleh-oleh dan souvenir, budget wahana yang optional, dan urusan biaya toilet. Eh ini meskipun receh tapi bisa habis banyak lho biaya toilet ini. Pastikan sediakan uang pas, kalau kamu nggak ingin bayar berlipat.

Misalnya charge toilet 2 rb tapi uangmu 5 rb, itu suka dan sering banget lho saya dibilangin nggak ada kembaliannya. Jadi terpaksalah mengikhlaskan 5 rb. Sekali oke, bolakbalik ya berlipat. Jadi pergi OT saya juga nyiapin recehan 2 rb dan 1 rb an untuk urusan ini.

Ketujuh, ikuti dan patuhi aturan yang diberikan oleh penyelenggara trip untuk kenyamanan dan keselamatan semua peserta. Ikuti jadwal yang telah ditentukan agar perjalanan berjalan lancar dan sesuai rencana. Jangan bikin acara sendiri.

Meninggalkan areal, bahkan meskipun ke toilet pastikan izin TL atau sekurangnya ada orang yang kamu pamiti ke mana kamu pergi. Aktifkan HP agar mudah dihubungi bila ada perubahan jadwal mendadak karena force majeur.

Kedelapan, bersikap fleksibel. Bersiaplah untuk situasi yang tidak terduga seperti perubahan cuaca atau jadwal. Bersikap fleksibel akan bikin kita lebih happy. Bila
ada waktu luang selama perjalanan, gunakan untuk refleksi pribadi atau menjelajahi tempat sekitar secara mandiri jika memungkinkan.

Kesembilan, jaga komunikasi. Jangan takut bertanya kalau ada yang nggak jelas atau belum paham. Jaga pembicaraan dengan sesama anggota tour. Kalau memerlukan sesuatu, jangan ragu juga bertanya atau meminta pada penanggung jawab OT.

Kesepuluh, jaga barang berharga dan selalu waspada terhadap lingkungan sekitar untuk menghindari kehilangan atau hal yang nggak diinginkan. Bawa selalu tas berisi barang penting bersama sampeyan. Jangan menaruh di kursi kendaraan atau menitipkan pada orang yang sampeyan pun nggak tahu namanya.

Intinya, kalau harus pergi sendiri OT karena beragam sebab; tetap enjoy aja. Ingat untuk bersenang-senang dan menikmati setiap momen dalam perjalanan. Versi saya berada di OT sendirian, itu kesempatan untuk mengeksplorasi dunia dengan cara baru.
Dengan mengikuti tips ini, semoga sampeyan dapat ikut OT sendirian dengan lebih percaya diri dan fun.

Happy Piknik ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (8) Belanja Oleh-oleh

Rombongan kami saat di Pasir Berbisik. Open Trip Ceria, Bromo 18-19 Januari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah kami dari Lembah Watangan yang jadi destinasi terakhir, kami kembali ke bawah. Balik areal rest area Sukapura. Di sini lumayan lama, sekira 2 jam. Istirahat, mandi, sholat, makan, jajan.

Saya bebersih, sholat, terus pesan makan. Salah satu hal yang biasa terjadi di rest area, makanan belum tentu cocok dengan selera kita, tapi harganya wes pasti berbeda dari harga di tempat umum 😆😅

Dan benarlah, saat saya pesan rawon; boleh dibilang rasanya nggak ngalor nggak ngidul. Superaneh. 😁😆 Untunglah pas pesan kopi, wah enak betul kopinya. Kopi Bromo rasanya khas, beda dengan kopi lainnya. Jadi saya tetap bergembira dengan rawon yang embuh. Sayang saya nggak inget moto.😆😅

Usai beberes makan, saya wes mendahului masuk bus. Masyaallah ngantuknya nggak tertahankan. Begitu masuk bus, saya wes tidur dan terbangun sejenak saat rombongan mau lanjut perjalanan. Ke pusat oleh-oleh.

Berbelanja oleh-oleh saat piknik itu bisa jadi penting, nggak penting. Ada yang sangat ngotot kudu beli oleh-oleh. Ada yang beli sambil lalu. Ada yang beli sedikit. Tiap orang beda-beda.

Saya bukan jenis orang yang mewajibkan piknik kudu beli oleh-oleh. Ya tergantung sikon dan budgetnya. Apalagi kalau pikniknya wes kebutuhan rutin, nyaris tiap bulan 1-2x jalan. Oleh-oleh bukan hal terpenting lagi, kecuali ada yang khusus.

Saya senang ikut OT Ceria ini ya salah satunya memberi kesempatan untuk beli oleh-oleh khas setempat. Baik waktu OT Magelang, Pacitan atau Bromo kali ini. Saya menshare pengalaman ini, mungkin saja bermanfaat bagi pembaca untuk trip-trip lainnya.

Pertama, cari tahu segala yang khas daerah setempat (yang nggak bisa dibeli secara online atau via marketplace) dan putuskan mana saja yang ingin sampeyan beli.

Seperti di Bromo ini, ada banyak oleh-oleh khas; tapi juga nggak sedikit yang sudah bisa diperoleh secara online. Beberapa yang berhasil saya identifikasi: bunga-bunga kering dari aneka perdu, kopi Bromo –ini jenisnya Arabica dengan aroma khas Bromo, keripik kentang, aneka keripik buah, olahan ikan kering, madu hutan, strowberry, apel, dan tape singkong non serat.

Kedua, setelah memutuskan mau membeli yang mana; sesuaikan dengan budget yang sampeyan anggarkan. Apakah beli oleh-oleh untuk diri sendiri, keluarga, tetangga, teman sekerja, dll. Ingat, jangan memaksakan diri. Mereka nggak ikut menanggung kalau keuangan sampeyan boncos di tengah bulan gegara membelikan oleh-oleh.

Ketiga, itung-itung bagasi. Ini terutama kalau bepergian dengan pesawat. Biro biasanya mengenakan charge pribadi untuk mereka yang over bagasi. Pun kalau naik kendaraan darat, sampeyan juga perlu menghitung ruang dan kapasitas yang diberikan biro untuk setiap peserta. Kalau bawa mobilmu sendiri siy yo sekareplah….

Keempat, pertimbangkan untuk mengirimkan. Ada beberapa pusat oleh oleh yang melayani juga pembelian dan pengiriman sampai alamat. Tentu dengan biaya yang lebih terjangkau. Pada saat di Bali, saya memilih jenis ini karena ada oleh-oleh khas yang hanya rilis saat itu dan harus membelikan beberapa orang, saya memilih mengirimkan langsung ke rumah. Praktis nggak gotong-gotong.

Kelima, kalau kamu nggak beli oleh-oleh jangan merasa terintimidasi atau merasa rendah diri dengan mereka yang belanja menggunung. Ingat, tujuanmu piknik dan kamu sudah membayar sama dengan lainnya. Tiap orang beda kepentingan terhadap oleh-oleh.

Kecuali di trip-trip yang memang orientasinya belanja; dan seluruh kru wisata itu dapat fee dari prosentase belanja peserta, maka itu jelas salah tempat kalau kamu nggak belanja. Tapi kalau trip umum, santai aja kalau nggak beli oleh-oleh. Nggak perlu kecil hati.

Keenam, bila memungkinkan ada tawar menawar; tawarlah harga dengan wajar. Jangan bikin kisruh, rusuh, gegeran di tempat wisata karena sampeyan menawar nggak lumrah. Kalau sudah menawar, pastikan juga membeli. Kalau masih ragu-ragu antara beli atau enggak, jangan menawar.

Ketujuh, cek-cek produk sebelum membeli atau memasukkan ke keranjang belanja. Nggak ada cacat, kemasan oke, masa kadaluarsa, izin-izin, kehalalan (bila kamu berbelanja di areal yang mayoritas penduduk non muslim), dll. Teliti sebelum membeli jauh lebih baik daripada menyesal pas lihat barangnya di rumah.

Kedelapan, beli di tempat terpercaya. Sekarang ini banyak tempat wisata sudah memasukkan produk UMKM-UMKM di areal mereka sebagai pasar wisata. Biasanya kualitas juga sudah terstandar. Cari info mana saja tempat belanja oleh-oleh yang direkomendasi.

Kesembilan, bawa tas lipat belanja. Biasanya siy kalau belanja, kita sudah diberi tas plastik. Cuman ya kadang nggak kuat. Bawa tas belanja sendiri memudahkan kita untuk membawa oleh-oleh dengan aman.

Kesepuluh, jangan alergi nyobain produk baru khas setempat. Mungkin saja kamu nggak akan ke tempat itu lagi.

Jadi, saya belanja oleh-oleh atau enggak dari Bromo? Belanjalah. Kan ada produk-produk khas yang sudah saya sebutkan sebelumnya 😀

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (7) Lembah Watangan, Romantisme Pelukan Alam

Salah satu sisi hijau padang rumput Lembah Watangan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah. Indah banget…!” Itu seruan saya dalam hati begitu kami sampai ke Lembah Watangan. Kalau sebelumnya di Puncak Seruni, Lautan Pasir, (dan juga kalau sampeyan pergi ke Kawah Bromo), Pasir Berbisik, semuanya didominasi lautan pasir; kini kita bertemu padang rumput yang menghampar bagai permadani.

View menghijau seluas mata memandang dari bawah sampai ujung-ujung atas bukitnya. Serasa kita masuk taman alami yang sengaja dicipta Tuhan untuk umatNya. Bunga-bunga dan aneka perdu pun tumbuh subur memberi aneka warna cantik. Sungguh perbedaan yang sangat kontras, padahal lokasi antara tempat ini dan Pasir Berbisik nggak terlalu jauh.

Sebelumnya tempat ini dikenal dengan nama Bukit Teletubies. Lalu diganti dengan nama Lembah Watangan. Namun nggak akan menghilangkan cirinya sebagai bukit yang menunjukkan romantisme alamiah, bukit yang berpelukan.

Persisnya, tempat ini berada di antara lautan pasir Bromo dan lereng Gunung Batok. Lembah ini menawarkan panorama alam yang luar biasa dengan perpaduan lanskap gunung, lembah, dan padang rumput yang luas.

Lembah Watangan dikelilingi oleh pegunungan yang membentuk background yang dramatis, dengan Gunung Bromo yang ikonis berdiri di tengahnya. Selain penuh padang rumput yang hijau, di beberapa bagian, terdapat tanaman perdu dan bunga edelweiss yang tumbuh subur.

Perpaduan warnanya menciptakan pemandangan yang memukau, terutama saat musim berbunga. Pada pagi hari, kata orang-orang lokal Bromo, biasanya tempat ini sering dipenuhi kabut tipis yang seolah-olah melayang di atas lembah. Saya bisa mengimajinasikan betapa eksotisnya kabut melayang-layang di atas warna-warni indah perdu dan rerumputan.

Lembah Watangan ini lebih populer bagi sebagian pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam Bromo dari sudut pandang yang berbeda. Terutama mereka yang malas kena debu pasir dan keribetan jalan berat di atas pasir.

Saya gembira aja di sini. Jalan dari ujung ke ujung. Menikmati udara segar yang terasa membawa nyawa baru di dalam tubuh saya. Kualitas oksigennya mungkin berbeda dari areal yang berpasir.

Salah satu aktivitas yang paling digemari pengunjung di sini ya berkuda menyusuri lembah. Selain itu, lembah ini juga menjadi tempat yang ideal untuk trekking atau berjalan kaki. Areal medannya relatif datar dan pemandangan yang memanjakan mata sepanjang perjalanan.

Kalau kamu senang motret, tempat ini juga bisa jadi lokasi favorit untuk memotret lanskap Bromo. Saya wes kebayang betapa bagusnya kalau bisa motret areal ini saat matahari terbit atau terbenam, ketika sinar matahari memantulkan warna-warna hangat di atas lembah dan pegunungan sekitarnya.

Lembah Watangan ini (sesuai info orang-orang lokal Bromo) juga termasuk wilayah adat Suku Tengger. Jadi kalau ada upacara Kasada tiap tahun, pasti melibatkan kawasan ini. Bagi saya, menarik juga mendengarkan kisah-kisah versi orang lokal Bromo tentang adat budaya mereka.

Mungkin akan saya tuliskan lain waktu. Karena menulis budaya berarti saya harus cek ricek referensi dan sumber sumber terkait. Tapi saya berterima kasih pada Ceria karena memberi waktu eksplore cukup banyak di sini, sehingga usai foto-foto; saya masih sempat nimbrung dengan warga lokal ngobrol banyak hal tentang adat istiadat mereka.

Oh iya, kalau di sini sewa kuda, jeep, atau motor trail juga gampang ya. Banyak yang nawarin. Terus ada banyak juga tenda warung sederhana yang jual aneka jajanan dan oleh-oleh. Fasilitas di sekitar lembah ini cukup memadai dengan adanya beberapa pos peristirahatan dan tempat parkir.

Bagi saya pribadi, Lembah Watangan menawarkan kombinasi yang sempurna antara keindahan alam, aktivitas petualangan, dan kekayaan budaya. Bagi siapa pun yang mencari ketenangan, keindahan alam, dan pengalaman budaya yang mendalam, Lembah Watangan boleh jadi pilihan utama.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (6) Pasir Berbisik: Cinta Begitu Nyata

Di areal Pasir Berbisik juga mudah kalau mau lompat-lompat 😀 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pasir Berbisik di Bromo ini jadi destinasi kami berikutnya. Sebuah lanskap pasir yang sangat luas. Hamparan hitam penuh kekuatan magis yang populer di Jawa Timur. Tapi kayaknya daerah ini nggak cuman kondang di dalam negeri aja siy.

Karena pas kami di sini, bahkan sejak di Puncak Seruni itu, ada banyak turis manca negara. Sekurangnya saya mengidentifikasi dari bahasa mereka, pasti berasal dari Malaysia atau Brunei, Tiongkok, Jerman, Turki, Belanda, dan Jepang. Kalau kamu orang bahasa, biasanya telingamu peka terhadap kosakata-kosakata atau logat yang tidak biasa atau asing 😂😅

Memanglah kawasan lautan pasir ini sungguh memukau pandangan mata kita. Tempat yang mendapatkan namanya dari suara lembut pasir yang tertiup angin, seolah-olah berbisik ke telinga para pengunjungnya. Gemerisik halus seperti kalau kita tengah mengusap-usap kain selembut sutera.

Dengan hamparan pasir yang luas dan pemandangan yang spektakuler ini, Pasir Berbisik memang bikin kita punya pengalaman unik dan nggak terlupakan. Sampeyan boleh datang berkali-kali ke sini, tapi pasti sensasinya tetap berbeda 😆😅

Keindahan Pasir Berbisik terasa banget menaungi seluruh areal Gunung Bromo. Hamparan pasirnya yang membentang sejauh mata memandang, sungguh memberikan nuansa eksotis dan misterius. Kita seolah-olah dibawa berkunjung ke dunia yang berbeda.

Selepas hujan, pasirnya berwarna cokelat kehitaman pekat. Ini pasir hasil dari tumpukan letusan vulkanik Gunung Bromo yang terjadi berabad-abad silam. Ketika angin bertiup, butiran pasir halus tersebut bergerak perlahan. Kelembutan geraknya menghasilkan suara yang menyerupai bisikan lembut. Desirannya menciptakan suasana yang menenangkan jiwa. Bukti cinta Tuhan yang begitu nyata kepada kita, bagi mereka yang mau berpikir ❤️

Terus kita mau ngapain kalau di Pasir Berbisik ini? Ya, banyaklah. Suka-suka kamu mau ngapain. Kita dapat menjelajahi area ini dengan menunggang kuda. Atau yach sekedar menikmati sensasi jalan-jalan mider keliling, petualangan di tengah padang pasir yang luas.

Aktivitas off-road dengan jeep juga bisa jadi salah satu cara untuk melatih adrenalin melintasi bukit-bukit pasir. Kamu kudu sewa jeep dan bayar sendiri ya untuk kegiatan off-road ini 😆😅 Nggak ditanggung Ceria. Saya emoh, karena naik jeep di sini bikin kepala njeduk-njeduk terus, sakit semua😜

Buat kamu yang suka fotografi, tempat ini juga serasa surga untuk dapetin foto-foto bagus. Dengan pemandangan yang dramatis dan cahaya matahari yang berubah-ubah, kamu bisa dapat banyak kesempatan untuk mengambil gambar-gambar yang istimewa.

Tempat ini juga bagus untuk latihan lari. Kalau kamu mau ikut beragam program “run-run” alias lari-lari berbayar yang sangat populer sekarang ini, coba aja latihan di sini. Lompat-lompat tinggi juga boleh. Teriakan keras-keras juga nggak ada yang ngelarang. Pokmen, ada banyaklah aktivitas fisik yang bisa dilakukan di sini. Thenguk-thenguk sambil meratapi mantanmu yang ghosting juga boleh 😆😅

Fenomena suara pasir yang berbisik itulah yang jadi daya tarik utama tempat ini. Suara ini dihasilkan oleh pergerakan butiran pasir yang sangat halus ketika tertiup angin. Hal ini terjadi karena kondisi geografis dan komposisi pasirnya. Pasir Berbisik di Bromo ini, salah satu dari sedikit tempat di dunia dengan suara pasir yang dapat didengar dengan jelas.

Kalau jiwamu tenang, hatimu damai, kamu akan dibuat terkesima dengan keajaiban alam di sini. Rasanya tuh kayak kita sedang mendengar bumi berbicara. Kalau pas di Pasir Berbisik kemarin kamu nggak dengar “pasirnya berbisik” berarti kamu nggak fokus menikmati keheningan dan keindahan alamnya.

Saya sempat mendengarnya saat kiri kanan nggak ada orang dan angin bertiup lembut. Yach, mau kamu dengar pasirnya berbisik atau enggak, tempat ini memang luar biasa keindahan alamnya.

Oh iya, di areal Pasir Berbisik ini juga ada tradisi dan kearifan lokal dari Suku Tengger yang sangat kuat. Kawasan ini termasuk tempat penyelenggaraan upacara Kasada setiap tahun.

Pada saat upacara Kasada, masyarakat Tengger memberikan sesajen kepada dewa-dewa gunung sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan. Walaupun sudah begitu modern dan jadi areal wisata komersial, suku Tengger nggak pernah lupa menjaga adat istiadat warisan leluhurnya. Akar budaya nenek moyang yang masih bisa kita saksikan saat ada upacara Kasada.

Kamu tertarik ke sini? Selain siap dana, waktu, pastikan juga sehat badanmu ya. Kaki-kakimu harus cukup kuat untuk berlarian menikmati luasnya lautan pasir yang paling memikat di Indonesia ini.

Pokoknya Pasir Berbisik cocok buat mereka yang cari pengalaman unik dan penuh sensasi keajaiban alam. Setiap bisikan pasirnya seolah membawa cerita dari masa lalu, mengundang kita untuk mendengarkan dan meresapi keajaiban alam masa kini, dan mengantarkan kita melongok jauh ke masa depan. Sungguh pengalaman batin yang tiada duanya ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (5) Si Mogi, Kuda yang Cerdas

Saya dengan Si Mogi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di belakang tempat kami sarapan, saya jumpa kru Ceria. Saya tanya ke Mas Brian acara saat itu. Ternyata sama dengan di Itinerarynya. Acara bebas sampai jam 9, terus ke Pasir Berbisik. Mestinya free time untuk ke Kawah Bromo jam 7-9, tapi Mas Brian dll nggak ke atas. Kru Ceria lainnya menyambung, memberikan info ke saya tentang Kawah Bromo.

Keterangan mereka lebih kurang sama dengan info yang saya peroleh pas kasak kusuk di sekitaran toilet. Ya weslah, lagi pula kaki saya masih gemeteran beberapa kali saking gempornya ke Seruni.

Acara bebas, foto-foto sebentar, saya wes bosan. Saya jenis orang kalau sudah capek tuh yang saya pikirin cuman satu: tidur. Apalagi perut kenyang abiz sarapan to, bawaannya liyer bae. Sudah segar pula keguyur air mandi 😆😂 Kalau sudah tidur, meski sejam aja itu semua lelah fisik saya, kayaknya sudah ilang menguap dan kembali fresh.

Nama tempat kami sarapan itu areal Lautan Pasir. Seperti namanya, di mana-mana ya hamparan pasir. Kali ini pasirnya tidak berwarna “putih”, tapi hitam pekat karena baru saja terkena air hujan. Nggak berdebu dan suhu cukup bersahabat.

Kalau sampeyan datang ke sini pas musim kemarau panjang, bisa dapet tuh warna lautan pasir yang keperakan “putih” karena kering dan terkena sinar matahari. Cuman ya itu, biasanya debunya jadi sangat mengganggu. Belum lagi kalau belerang yang terus menerus dikeluarkan Gunung Bromo tertiup angin dan menabrak-nabrak muka atau mata kita, wes jelas pedis dan bikin merah-merah sakit bagi yang kulitnya alergian atau sensitif.

Itu juga salah satu alasan saya memilih ke Bromo saat masih musim hujan atau pas suhu dingin. Januari Februari termasuk waktu yang ramah untuk eksplore areal ini. Kalau September Desember biasanya hujan deras lebih sering dan sering nggak bisa eksplore. Kalau sudah Maret Agustus, musim kering melanda. Puncaknya di Juli Agustus, ini beneran panas, debu pasir, angin gunung; banyak gangguan meskipun nggak hujan.

Cuman karena waktu masih lebih kurang 30 an menit, saya berkeliling areal tersebut. Tapi ya sama aja. Lautan pasir 😆😅 Banyak orang lalu lalang, foto-foto. Pedagang nawarin oleh-oleh atau piranti khas Bromo. Jeep meraung untuk pergi dan datang. Kuda-kuda berlarian sana sini.

Saya melihat banyak juga orang yang foto-foto dengan kuda. Saya sebenarnya ingin berkuda. Areal ini sungguh menyenangkan dan cukup ideal untuk berkuda bebas lepas. Tapi dengan tubuh lelah, gampang emosi itu jelas nggak bagus untuk berkuda.

Kuda salah satu binatang yang peka energi dan emosi. Binatang ini juga tergolong cerdas, mudah memahami perintah manusia. Kalau si kuda menangkap sebaran energi dan emosi nggak bagus, dia bisa “ngamuk”, lari nggak terkendali dan bikin penunggangnya jatuh terlempar. Nasihat pelatih yang selalu terngiang di telinga saya, “Stabilkan emosimu sebelum berkuda”.

Saya wes nggak niat sewa kuda. Lha tadi saja untuk pergi segitu dekat di Seruni 300-400 rb PP. Pikir saya, berarti ya kisaran 200 rb lah kalau mo pake kuda. Kalau cuma dipake bentar atau foto-foto doang, rugi doong. Aaah perempuan, mo punya duit pun tetep akan itung-itungan 😆😅 Kecuali lagi bucin, hihihi…

Eh, tiba-tiba Mas Sidiq nanya, saya nggak foto dengan kuda. Saya balik nanya apa bisa sewa kuda untuk foto doang, karena mestinya sewa kuda itu ya untuk berkuda. Katanya bisa dan cuma 20 rb. Saya kaget semurah itu. Saya pikir ya tetap 200 rb an. Saya bilang kuda yang dipake orang-orang foto itu kecil, nggak gagah, saya nggak mau.

Jadi saya berkeliling dulu, cari kuda yang versi saya cukup besar dan gagah. Kalau berkuda, kuda besar gagah itu larinya lebih kencang dan kita tuh berasa terbang tapi masih di daratan 😂

Ada si bapak dengan kuda putihnya yang lagi dipake foto orang. Mas Sidiq bilang kalau saya mau pake kuda itu, harus segera bilang ke bapaknya, ntar keburu pergi. Saya pun bergegas, tanya nama kudanya dan bapak itu bilang namanya Mogi. Bagus juga namanya.

“Mogi, kamu umur berapa?” Tanya saya sambil mengelus surainya (rambutnya). Si bapak menjawab dua tahun.

Pas saya tanya berapa untuk foto. Ya benar, 20 rb saja. Ya wes. Saya ajak ngobrol dulu si Mogi biar kenal.

“Mogi, saya Bu Ari. Nanti kamu jangan lari atau jalan jauh ya! Saya lagi capek, jadi mo ambil foto-foto aja. Boleh ya, Mogi? Kalau ada lain waktu jumpa, kita bisa lari atau jalan jauh.”

Dan si Mogi seperti mengerti. Merespon saya dengan menolehkan kepalanya ke arah saya. Wajahnya juga terlihat tersenyum ramah, tanda mengerti. Baru saya naik kuda yang cukup tinggi besar itu. Bapaknya mau membantu, tapi saya bilang kalau bisa naik kuda. Plek, plek, saya wes di atas kuda.

Mas Sidiq ambil foto saya beberapa kali, mutar-muter sebentar. Si Mogi kayaknya pingin juga ngajak saya jalan, dia melangkah beberapa kali sampai bikin saya kaget. Takut kalau dia jalan atau lari beneran, karena pasti jadi lama itu nanti.

Bapak pemilik kuda mengatakan nggak papa. Iya betulan, Mogi sudah berhenti tanpa saya bilang apa-apa. Mungkin maksud si Mogi membantu saya dapat foto-foto yang bagus. Kuda yang cerdas😀

Kalau kamu pernah berkuda, kamu akan ngerti kalau itu termasuk pengalaman seru. Badanmu kecil seperti saya? Nggak usah takut. Begitu kamu bersahabat dengan si kuda, dia akan membawamu dengan baik. Paling-paling kalau belum pernah dan kamu riwil, yo kepental jatuh saat kuda berlari kencang 🤪🙈

Dan pasti sakit semua lah…. soale saya wes pernah beberapa kali, tapi yo nggak kapok. Kalau medannya berpasir bae paling-paling yo makgedebuuk… njur seminggu punggung badanmu memar biru hitam, nyeri sakit semua 😁

Itu sebabnya kalau capek, emosi nggak stabil, energi juga nggak full, versi saya jangan berkuda. Lakukan kalau pas beneran fit dan gembira. Saat itu, rasanya kita seperti dibawa terbang si kuda sambil membuang semua beban jiwaa ragaaa…. hahahah…😂😆

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (4) Gajinya Kecil, Amal Jariyahnya Besar

Saya di areal lautan pasir. Sudah penuh kabut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai sarapan di lautan pasir, saya tanya Mas Brian (TL) di mana lokasi toilet. Cukup jauh, tapi karena saya mau mandi dan ganti baju, saya pun bergegas. Dengan pesan ke Bu Fifi kalau saya belum kembali, berarti masih di toilet.

Lautan pasir di sepanjang hamparan mata memandang. Dengan jeep-jeep berseliweran, kuda-kuda berlarian, orang berlalu lalang, motor-motor meraung di areal pasir, hingga pedagang hilir mudik ramai menawarkan dagangan.

Sampai toilet, terkejutlah saya. Antrian mengular. Kotor pasir di mana-mana. Wah, bisa-bisa nggak jadi mandi ini. Karena kalau kelamaan di kamar mandi digedor pintunya.

Pas saya antri itu, seseorang di depan menanyai saya dari mana. Setelah saya jawab Jogja, ibu itu kelihatan gembira sekali. Lalu cerita begitu saja, dua anak lelakinya sebelumnya kuliah di UIN dan UII lalu dapat beasiswa S2 di Mesir dan Arab Saudi. Sementara 2 anak lainnya sekarang kuliah di UAD dan UNY.

“Semuanya saya suruh cari beasiswa, sekolah tinggi biar bisa jadi dosen, Mbak. Nggak apa-apa gajinya kecil, tapi insyaallah berkah dan amal jariyahnya banyak.”

Kata-kata ibu itu sebenarnya biasa saja, tapi seperti godam bertalu-talu di telinga saya. Hampir 3 tahunan ini saya menetap jadi dosen UPY; tapi lebih sering kesal dengan gaji yang seiprit, keribetan administrasi, potongan tunjangan-tunjangan karena belum publikasi artikel internasional; yang bikin penghasilan saya sebagai dosen sebulan untuk transport umum pun, saya masih nombok.

Kalau nggak inget ibu saya yang lebih senang saya jadi dosen daripada jadi penulis, wes tahun pertama saya hengkang. Dosen memang bukan keinginan saya. Saya studi S3 lulus 2016 itu karena memang perlu ilmu untuk menulis buku-buku saya. Dan sampai 2021, ijazah dan gelar doktor yang banyak orang mati-matian berjuang itu, di saya nganggur saja. Ada tawaran dosen dari ini itu, tapi karena semua di luar Jogja, saya pilih emoh.

Pas ditawarin di UPY karena di Jogja, saya pikir ya weslah oke. Tapi mana tahu kalau gaji dosen pake ijazah S3 pun begitu kecil. Saya rasa pemerintah kalau ingin mencerdaskan bangsa, itu aturan penggajian guru, dosen, ustad/dzah dll sebutan pendidik anak bangsa kudu diupgrade 5-10x lipat dari sekarang biar fokus mendidik.

Lha gimana mau fokus kerja, gajinya seimit dengan kebutuhan keluarga segerobak? Saya beruntung jadi dosen, wes solid ekonomi dari pekerjaan sebagai penulis profesional. Lha kalau enggak, nomboki kekurangan biaya operasional itu dari mana kalau nggak ngutang-ngutang?

Saya diam agak lama, tapi merasa sepertinya Allah sedang mengajak saya berbicara lewat ibu yang entah siapa ini. Ya weslah, mari ikhlas-ikhlasan aja. Wes gak usah terlalu dipikirin urusan duitnya kalau jadi dosen.

Sepanjang waktu ini toh saya yo wes maksimal berusaha tetep jadi dosen yang baik, tanpa mikirin gaji itu. Karena saya yakin Allah memberi ganti lewat jalur lain. Meskipun sering kesal juga dengan tuntutan institusi (yang versi saya) nggak masuk akal dengan fee yang mereka berikan.

Tahu-tahu kok hati saya plong sendiri. Wes benlah, saya akan ingat kata-kata itu. Gajinya kecil, tapi amal jariyahnya besar. Mana tahu justru itu yang kelak bawa saya ke surga. Biar nggak terlalu bikin kesal hati lagi. Atau seperti kata manajer saya, gaweyan dosen dianggap kerja bakti saja. Haish, kerja bakti kok tiap hari 😅😂

Pas giliran saya masuk toilet; saya gosok gigi, cuci muka, mengguyur seluruh tubuh dengan air biar nggak lengket keringat; lalu bersicepat memakai baju. Membereskan kerudung dan make up di luar toilet.

Pas sudah beres saya melihat lihat ke atas dulu. Seingat saya kawah Bromo ada di atas. Saya njur kasak kusuk nyari informasi dari orang-orang yang nawarin kuda dan ojek.

Kalau mau ke kawah Bromo, kita harus jalan kaki dan naik tangga-tangga. Sekira jalan naik ya perlu 30-40 menit. PP berarti wes sejam lebih. Foto-foto 10 menitan, berarti butuh waktu paling cepat 1.5 jam untuk bolak-balik kawah ke areal ini. Ada tukang kuda yang nawarin untuk nemenin kalau saya mau naik. Dia minta bayar 50 rb, sudah termasuk memotretkan.

Saya ngecek cara ke kawah Bromo itu karena di Itinerary nya Ceria ada tour ke kawah pas usai sarapan. Jam 7-9. Cuman karena semua wes telat molor dari awal, jelas ini nggak mungkin ke sana. Saya masih ingak inguk antara pergi ke kawah atau enggak. Kalau ada yang motretin gini malah karuan jelasnya.

Jam wes setengah 9, berarti free time-nya tinggal 30 menit. Repot kalau saya cuman setengah jalan ke kawah; dengan kaki yang rasanya wes gempor dihabiskan oleh Mbak Seruni.

Akhirnya saya memutuskan turun saja, nggak ke kawah. Kembali ke areal makan. Jumpa Bu Fifi katanya orang-orang eksplor di belakang tempat kami sarapan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: