Ilmu Parenting, Buku Istimewa

Buku parenting versi Dad dan versi Mom. Pesan buku wa.me/6281380001149.

Sekira bulan Juli 2024, saya dihubungi Mbak Ana apakah bisa menggarap buku parenting. Lalu saya tanya narsum nya siapa. Mbak Verlita dan Mas Ivan. Dengan menjelaskan sedikit latar belakang. Nggak banyak tanya, saya bilang oke.

Mulailah kami bekerja. Saya menyusun kerangka acuan buku secara keseluruhan dan rinci per bab. Kemudian membahas detail dengan Mbak Ana sampai oke. Baru deh kami kirim ke Mbak Verlita dan Mas Ivan. Oke ada beberapa perbaikan dan mulailah agenda berikutnya.

Wawancara via zoom yang lebih sering malam-malam karena kesibukan narsum. Saya siy karena biasa kerja di Jakarta ya biasa aja. Untunglah Mbak Ana dan Tim Andi pun bisa menyesuaikan jam malam, yang jelas di luar jam kerja umum Jogja, 8-16 tiap hari. Dan cenderungnya no lembur lembur😂

Wawancara adalah proses yang lama. Selain karena kesibukan narsum, jadwal saya pun sering bentrok. Bikin urusan wawancara yang mestinya kelar sebulan, jadi molor panjang sampai di bulan November.

Untunglah saya ki terbiasa kerja sedikit demi sedikit. Jadi dari setiap wawancara yang sudah ada, saya minta bantuan asisten untuk mentransripsikan dan menandai point point penting. Dari sana saya mulai mengolah, menata, mengatur, memparafrasekan semua hasil wawancara sesuai standar penulisan buku.

Hal yang agak berat bagi saya mencari rujukan yang sesuai dengan materi yang sedang dibicarakan. Tapi ya sedikit demi sedikit ketemu juga. Proses yang harus dinikmati.

Parenting versi Dad karya Ivan Saba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, Bab 1 pun meluncur ke tangan Mbak Ana. Dan salah 😄 Maksudnya saya menulis dengan versi buku biografi, tapi yang diminta itu versi buku referensi, buku ilmu dan pengetahuan. Saya langsung sadar dan bilang akan menulis ulang Bab 1.

Setelah beres saya kirimkan lagi dan begitu dibilang oke, saya teruskan menggarap bab bab berikutnya sambil menunggu jadwal wawancara materi. Sekitar bulan November wes rampungan. Desember koreksi-koreksi dari narsum.

Saya meminta Mbak Verlita dan Mas Ivan untuk mencatat saja apa yang tidak cocok dan mau diganti seperti apa. Mas Ivan cukup cepat merespon. Menandai dan mencatat koreksi dan perbaikannya apa. Mbak Verlita, embuh belum dikirim-kirim 😁 Saya tagih ke Mbak Ana, belum juga katanya. Lho piye to.

Pas wes jelang liburan Nataru itu Mbak Verlita bilang mau ketemu biar koreksian langsung beres. Penerbit Andi dan tentu mayoritas perusahaan ya sedang libur panjang. Saya di Jogja, bisa jumpa Mbak Verlita dan Mas Ivan. Tapi saya emoh kalau nggak ada Tim Penerbit, kalau eyel-eyelan nggak ada penengahnya. Mas Yezky sang owner meyakinkan saya gak apa-apa karena revisi minor.

Saya bersikukuh tetap harus ada orang penerbit, karena revisi minor bagi orang non penulis, itu bisa jadi bukan revisi minor bagi penulis. Misalnya dalam cerita dari awal ditulis neneknya masih hidup; ternyata neneknya itu sudah mati.

Bagi orang non penulis, ya gampang aja kan tinggal mengganti kalimat dengan neneknya sudah mati. Tapi bagi penulis dengan naskah yang sudah jadi, itu berartti mengganti semua elemen di setiap halaman yang ada unsur cerita berkaitan dengan nenek masih hidup dan menyesuaikan kembali. Kalau halaman jumlahnya 150 ya wes jelas bukan revisi minor lagi 😁

Syukurlah pas wes disepakati jumpa di Jogja di tengah musim Nataru, Mbak Ana dan Tim Andi bisa mengawal. Mbak Verlita dan Mas Ivan orang yang tertib, tepat waktu. Janjian jam 14 an, jam 13 an kurang mereka sudah di hotel, tapi belum bisa masuk karena kamar belum ready.

Parenting versi Mom karya Verlita Evelyn. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Liburan Nataru, sulit cari kamar kosong di Jogja. Kamar itu tersedia tapi harus nunggu tamu sebelumnya check out, baru bisa dibersihkan, dan setelah itu barulah bisa dipakai tamu berikutnya. Begitulah lebih kurang yang dialami Mbak Verlita dan keluarganya.

Saya wes datang jam 13.30 an. Jadi nunggu mereka siap dulu. Dan lebih kurang jam 14.30 saya dengan Mbak Verlita wes ngurusi koreksi. Mbak Ana dan Tim Andi yo wes datang.

Beuuh, lama kami diskusi koreksi satu naskah buku. Sampai jam 20 an kami baru beres urusan satu buku. Njur makan malam. Saya pulang sekira jam 22 an. Besoknya kami mulai kerja lagi jam 19 an sampai jam 00.30 an. Biyuuu… ya begitulah kalau kerja menulis sedang marathon. Jangan dikira enteng-enteng bae. 😁

Setelah itu Tim Penerbit yang menyesuaikan perbaikan, melakukan setting ulang, mendesain lagi bagian cover dll urusan buku; sampai dummy buku pun siap. Dan horeee…. alhamdulillah, bukunya pun segera bisa sampeyan semua nikmati. Proses parenting berdasarkan pengalaman riil Verlita Evelyn dan Ivan Saba.

Harga nya sungguh ringan dibandingkan dengan pengalaman berharga mengurusi “rumah tangga” dengan “anak-anak” di era digital yang penuh tantangan. Bahwa zaman selalu berubah, anak-anak berubah, orang tua juga harus berubah. Demi kebaikan dan masa depan anak-anak penerus masa depan bangsa.

Monggo Teman-teman yang mau membaca lebih awal, bisa pesan langsung bukunya ke saya via wa.me/6281380001149 atau langsung ke andipublisher.com

Maturnuwun dan semoga menginspirasi serta memotivasi semua orang tua di luar sana untuk tumbuh berkembang bersama anak-anak tercinta dengan kebahagiaan yang utuh.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Oh, TPDA Saya….

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Salah satu konsekuensi kalau jadi dosen itu ya belajar terus, sekolah terus, update ilmu terus. Dan itulah yang harus saya alami begitu saya memutuskan bergabung menetap sebagai dosen UPY. Setiap langkah kemajuan menuntut proses belajar… yang kadang yo njelehi juga.

Masuk jadi dosen di paruh 2021, saya wes diminta ngurus jafung 2023 dan rilis keluar di tahun yang sama. Alhamdulillah. Njur diminta ngurus sertifikasi dosen atau biasa disebut serdos. Yungalaah, makanan jenis apalagi itu.

Syarat dasarnya sertifikat Pekerti, TKBI (sebangsa Toefl, Acept, dll) dan TKDA (sejenis TPA, PaPS, dll). Biyuuu… saya wes langsung bayar daftar pelatihan pekerti, selama 2 minggu online full Senin s/d Jumat jam 07.00 s/d 17.00 WIB nggak boleh blank, ngilang kamera dipanggilin satu per satu. Sabtu Minggu nggo bikin tugas tugas.

Bayare lupa 2 atau 2.5 juta per program. Wes bikin saya klenger bae…. ampun Gusti, ijazah S3 saya serasa nggak ada gunanya kek gitu…. njur saya break karena gaweyan administratif kampus yang ngujubileh banyaknya.

Saya pikir ya wes, alon alon waton kelakon bae. Rada selow, saya daftar TKBI. Saya rada pesimis karena teman-teman yang sudah ikut, banyak yang bolak-balik tes baru lulus. Maklum, bahasa Inggris bukan bahasa kita. Weeh… alhamdulillah saya kok sekali tes njur langsung gol, lolos. 400 an rb saja duit untuk daftarnya.

Sampailah waktunya TPDA. Biyuuu, bikin mumet tenan. Terutama bagian tes gambar-gambar kubus dan dimensi tiga itu. Ambyaar… ya wes gapapa. Saya yo tetap daftar dan ikut tes. Tiap tes lebih kurang bayar 400 an rb. Dan sampai yang ke-4 kali skor saya mung kurang 3 s/d 5. Beuuuh nggemesin tenan. Saya wes hampir nyerah. Karena skor yang bikin kurang itu ya gambar-gambar yang dibolak-balik, diputar-putar gitu.

Akhirnya saya cari mentor. Saya minta dia ngajarin gimana memecahkan masalah saya. Tentu saya wes daftar lagi ujian TPDA yang ke-5. Dapat hari Kamis. Jadi Rabu seharian saya sinau mung bagian gambar-gambar. Karena verbal dan aritmatika itu terhitung cincay, gampang lah versi saya. Mo semua nya bener, kalau tes bagian ketiga figural jebluk, ya rerata nya jadi nggak memenuhi syarat minimal.

Karena wes sinau tenanan, ya wes lebih dari 3x, saya terima pasrah bae, sebisanya. Kamis saya mangkat ujian TPDA. Begitu selesai, saya nggak lihat skor, malah ngurusin tas yang harus diperbaiki dan ATM yang nggak bisa dipakai. Njur tidur. Karepmu. Lulus atau enggaknya saya nggak mikir. Toh kalau belum lulus, yo tetep kudu ujian lagi sampai lulus.

Sesudah bangun tidur, beberes, mandi dll, saya baru inget ngecek skor TPDA (mestinya abiz ujian udah bisa) cuman saya malez kecewa di jalan, jadi nggak saya buka dulu. Saya lihat skor, njur nelpon penyelenggara berapa skor minimal serdos. Pas dijawab, saya ragu, khawatir kalau salah lihat. Saya kirim forward dan tanya lagi wes lulus belum. Dijawab sudah… alhamdulillah 😀😁

Ya, segala sesuatu itu memang ada ilmunya, ada gurunya. Di tangan guru yang tepat, soal sulit pun jadi mudah. Nggak bisa awuran. Alhamdulillah saya kok masih sempat nyadar tentang itu. 5x tes TPDA, 2x saya ngeblank karena sakit pas ujian. Jadi praktis yang tenanan tes 3x, tapi mbayar 5x… Jelas mbayar dhewe ora diijoli kampus (termasuk biaya Pekerti dan TKBI), tapi kalau nggak cepet ngurus serdos diopyaki kampus juga😂

Kalau dari awal saya cepet cari mentor, pasti nggak sampai tes TPDA 5x 😁😂 Ya kadang-kadang, dengar kata belajar bae wes bikin saya malaz duluan. Terus gitu, belajar ki ya butuh waktu dan usaha tersendiri untuk berhasil.

Wes alhamdulillah. Ini satu tahap lagi beres. Tinggal syarat kruncilan lainnya yang masih sekeranjang banyaknya. Ya Gusti… kenapa jadi dosen begitu banyak urusan administratif yang bikin… hiiih… apalagi ini😁😂

Jadi, ya kudune gaji dosen itu sak dos alias banyak, ora malah gajinya sak sen alias cuilik biangeeet😁😂

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Sensasi Benjol 🤣

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Produk-produk atau barang-barang yang dijual online itu bisa terlihat bagus-bagus dan keren-keren. Bikin kita laper mata, gatal tangan pingin beli semuanya. Terus gitu proses benjol (belanja online) itu kan tinggal pilih-pilih, transfer, debit, QRIS, atau ngutang dulu juga bisa (pake kartu kredit, paylater, dll model perpanjangan utang), barang langsung cuuz sampai rumah. Enak betul 😍🙏 Ada yang COD pula, barang datang barulah kita bayar.
.
Ntar yang bayar ya biar suami saja 🤣😎 Jadi, ngeh deh kenapa ada istri-istri, ibu-ibu yang di rumah pun sampe gila rajin banget benjol🤣 Sensasinya itu ternyata bikin orang happy dan (bisa bikin) kecanduan atau ketagihan. Apalagi kalau ngerasa dapat diskonan, gratis ongkir, beli 1 dapat 3, beli 2 dapat 5… Biyuu 😄

Eh, btw ini bukan saya lho 😅😄 Kebutuhan saya belum banyak dan toko sini situ dekat rumah masih ada semua barang keperluan saya. Cuman ya benjol pun lumayan sering, kalau diitung-itung jatuhnya lebih murah. Mana benjolnya bisa sambil rebahan pula. Gampang banget. Tapi ya masih seperlunya aja.
.
Pas scrolling sering banget saya masuk-masukin barang ini itu ke keranjang belanja. Njur kesela deadline atau tugas kerjaan, langsung saya tinggal. Eh, pas ditengok lagi… lah barangnya sudah abis, atau program promonya sudah ilang, udah nggak free ongkir, dll yang intinya kudu bayar penuh plus ongkir, plus admin, plus pajak… weslah, saya langsung belok kiri, nggak jadi beli. Haha… 😂
.
Lalu saya mikir, itu saya masukin barang ke keranjang belanja niatnya apaan ya? Beneran butuh atau ikut laper mata gegara program promo-promo? Atau rindu sensasi benjol aza?
.
Apalagi kalau pas di rumah denger teriakan kang paket, penasaran dan kepo; ntar barangnya seindah “fotonya” atau enggak? Atau malah “barang ajaib” yang nggak nyambung sama deskripsi produk yang kita beli. Aneka rasa lah. Kapusan, kecewa, barang nggak dikirim-kirim njur dibatalin sesukanya, barang nggak sesuai foto, dll. Entahlah.
.
Biar pun kek gitu, ya tetep bae suka benjol. Pas milih barang via benjol, ternyata bisa ngilangin stres. Masalah ntar jadi beli atau nggak ya tergantung duitnya 😂😂
.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Jurnal Predator dan Sedekah Pagi

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil semena-mena dari internet. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tadi malam sebelum tidur, saya sudah ngelist apa yang mau saya kerjakan hari ini. Penulisan. Revisi naskah. Pembayaran. Ketemu orang. Mengirimkan pakaian sangat layak pakai (saya wes gak bisa pakai lagi semata gegara tambah gemoy🤣).

Pagi-pagi saya wes beberes, berbenah. Menulis beberapa yang harus dibereskan. Lalu beralih ke baju-baju yang mau saya sedekahkan, saya masukkan dus sampai penuh. RT tempat saya tinggal sedang ada acara sambut Ramadan; pengumpulan macam-macam untuk baksos (pakaian dll piranti rumah tangga layak pakai, sembako, uang, dll keperluan) dari awal Januari s/d 7 Februari nanti.

Saya ya wes ikut serta ngumpulin baju itu 2x sebelumnya, ya lebih kurang 2 dus. Sithik-sithik ben gak capek bongkar lemari. Beneran malah sama bebersih lemari baju yang embuh kok rasanya nggak muat teruz 🤣 Hari ini pun demikian. Wes cukup penuh dusnya, langsung saya kirim ke tempat pengumpulan.

Nginguk kulkas, inget ada nasi tadi malam. Saya ambil lagi untuk dikasih ke ayam (tetangga). Ayam-ayam di sini yo pinter-pinter. Kalau nasi atau makanan basi yang dikasih, mereka tuh nggak mau makan. Jadi kalau ngasih nasi ya kudu yang sehat, masih layak makan. Saya (kadang) malez bae manasin lagi, lebih memilih masak nasi baru. Dan ayam-ayam itulah penampungnya😂

Saya sempat inguk-inguk sosmed. Beuuh, iklan piknik dari mana-mana muncul 😆😅 Saya sampai mikir, mungkin enak betul ya kalau duit nggak ada serinya tinggal ambil, transfer, debit, nggak pernah habis bisa untuk piknik bebas sepuasnya ke 200-an negara dengan fasilitas dan kondisi terbaik 😃🤩 Hadeuh, suka banget siy saya mimpi di siang bolong 🙈

Aiih, lupakan sejenak urusan piknik yang belum ada duitnya😅😂 Saya pun menelepon CS bank untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan pembayaran publikasi artikel di jurnal internasional. Terlebih karena pembayaran pakai USD, beda benua, pasti ada banyak syarat dan ketentuan, termasuk charge pengiriman.

Ya, setelah menunggu beberapa bulan, tentu saya happy banget dong pas terima surat penerimaan artikel. Termasuk pemberitahuan pembayaran, rekening bank, waktu publikasi. Noted, pada saat submit artikel, saya sudah berusaha memastikan bahwa ini jurnal kredibel, terakreditasi internasional, dll pengecekan standar.

Mbak CS yang suaranya renyah seperti keripik emping melinjo itu, menginfokan beberapa hal yang perlu saya siapkan untuk transfer uang; baik menggunakan rek IDR atau rek USD. Saya nggak perlu ke bank. Kalau kesulitan nanti bisa telpon atau WA untuk dibantu. Kalau mau lebih jelas, saya bisa ke bank.

Wah, saya nyicil ayem. Lumayan gampang prosesnya. Saya mikir akan ke bank saja dan membereskan semuanya hari ini. Ben ndang rampung, sisan cetha kalau duit tabungan saya itu berkurang, ojo mung mikirin piknik bae, Riii… Isih banyak yang perlu duit dan kudu bayar-bayar 😁

Lalu si Mbak CS ini nanya saya lagi, akan mau mengirim ke siapa (apakah institusi atau perseorangan), no rek berapa, berapa USD yang akan ditransfer, dan untuk keperluan apa. Dia akan membantu melakukan pengecekan bahwa si penerima adalah “real”. Mungkin kalau sesama bank bisa melakukan crosscheck ya satu sama lain untuk mendapatkan info yang benar.

Saya lalu memberikan detail info yang diminta. Si Mbak CS meminta saya menutup telpon dulu dan nanti maksimal 30 menit akan telpon saya. Teng tong… nggak sampai 15 menit, si Mbak wes telpon lagi.

“Bu Ari, ini nama sama, tapi alamat dan no rek berubah-ubah terindikasi penipuan. Silakan cek link jurnal yang saya kirim via WA, itu yang benar. Link yang ibu kirim untuk cc tembusan alamat pengiriman, itu link palsu yang dibuat sama persis seperti aslinya; hanya beda alamat. Kalau tidak cermat, pasti ketipu. Ibu tidak usah kirim uang karena jurnalnya abal-abal. Jurnal aslinya nama sama, dengan alamat link yang saya kirim, Bu. Itu link yang terintegrasi dengan penerbit dan universitas yang menaunginya.”

Saya wes langsung lemas, bengong beberapa saat. Ya Allah, betapa baiknya Engkau❤❤Maturnuwun atas pertolonganMu❤❤ Kalau saya nggak nanya-nanya dulu, pasti bablas kirim uang via non bank sesuai permintaan officer jurnal abal-abal ini dan sesudah kirim uangnya, pasti gak bisa ditarik balik. Amblazlah uang itu.

Jujurly, saya kecewa dan sedih lho sampai beberapa menit. Ya Allah, saya wes hati-hati saja masih nyaris kena jurnal abal-abal gini. Apalagi mereka yang serampangan buru-buru kemrungsung pokok publikasi njur akhirnya menangis darah kehilangan puluhan juta, duit utangan pula 😭Tapi ya sudah, saya pilih mensyukuri saja kebaikannya. Sekurangnya duit hampir 1000 USD itu terselamatkan. Alhamdulillah.❤

Saya yakin ini bukan karena “kehatian-hatian” saja, tapi jelas lebih karena sedekah pagi-pagi yang saya lakukan. Ikhlas tenan. Dan seperti terngiang-ngiang kata Ustadzah di depan Masjid Nabawi ketika kami berhasil ke Raudah dan selow 30 menitan lebih di areal rumah Nabi Muhammad SAW hingga puas doa, ibadah, nangis-nangis. “Pasti uang yang dipakai berasal dari sumber rezeki yang halal. Kalau uang halal itu mudah untuk ibadah dan biasanya bertahan lama, nggak mudah habis atau hilang.” Wallahua’lam.

Saya njur mikir, publikasi artikel internasional ke mana lagi ya yang waktunya nggak perlu tetahunan dan biayanya (sekurangnya masih cukup sanggup) saya bayar tanpa beribetan dengan sistem administrasi keuangan kampus? Heish, minta ganti charge publikasi ke kampus, laporannya sebejibun mumet, duitnya cair itu embuh kapan suka-suka mereka bae. Pasti diberikan, tapi waktunya itu yang embuh kapan 😅

Eh tapi yang begini, saya yakin nggak cuma kampus saya aja kok. Ada banyak yang lebih parah. Jadi saya slow motion tenan, pilih pilih publikasi internasional yang charge ringan dan kalau kampus menggantinya embuh kapan itu, nggak bikin budgeting saya rieweuh sana sini. Hidup kadang memang mung soal petang-petung uang kan 🤣

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Jadikan Rumahmu Berkah

Melati Belanda depan rumah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Pas pemilik rumah datang setelah rumahnya saya beli, beliau bilang, “Rumahnya jadi adem, Mbak Ari.”
.
Pikir saya beliau berdua dari luar di siang terik. Walau bermobil AC, tetap beda dengan duduk di rumah dengan pintu jendela terbuka.❤
.
Berbanyak kawan datang, pun begitu.
Adik saya, “Sebelum Mbak Ari tinggal,
aku takut ke sini. Serem dan bikin emosi. Sekarang adem, aku bisa tidur pules.”❤
.
Alhamdulillah. Dulu, dengan keadaan seadanya dan perabotan urgent, saya pindah. Lha wes beli rumah mosok nggak ditinggali. Tanpa pagar depan, gersang pasir, lantai atas pun terbuka. Orang loncat genteng bisa masuk rumah. Mesin sumur rusak, lampu ndak ada, korden ndak ada, kunci-kunci nggak fungsi dan banyak lagi yang kudu diberesi. Itu semua berarti pengeluaran.😃
.
Kok saya beli ndak mikir ini. Belum lagi omongan tetangga tentang kisah horor. Rumah sebelah kosong 10 tahun, bikin saya makin jiper 😆 Saya pun bismillah. Minta perlindungan Gusti Allah.❤
.
Pas saya mo beli taneman, nanya temen-temen deket yang harga murah. Mereka bilang nggak usah beli dan janji bawain dari rumahnya. Begitulah tanaman dari mereka tumbuh subur. Beberapa saya minta pas ke rumah teman (tanemannya melimpah dan nggak jualan taneman), beberapa saya barter.❤
.
Sedikit demi sedikit saya masang pagar, pelindung lantai atas, pengaman tangga, dll. Isi rumah? Ya diisi pas ada rezeki. Tapi ya gitu, ada temen datang njur beliin meja makan. Ada yang nanya mau rak buku besar dan mengirim. Ada klien dateng, lalu transfer dan minta saya beli kursi teras; dll. Rumah ini seperti memberesi dirinya sendiri.❤
.
Rumah saya njelik ndeso, tapi menteri, bupati, rektor, guru besar, dll orang penting datang berkaitan dengan gaweyan saya. Rezeki sering datang tidak terduga. Tetangga pun baik. Alhamdulillah ❤
.
Adik saya tanya, rumahnya dikasih apa kok berkah. Saya bilang: selalu bersyukur, dipakai sholat, ngaji; kalau ada orang bertamu, mereka kudu pulang dengan tangan berisi.❤
.
Bagaimana dengan rumahmu? Jadikan rumahmu berkah dengan bersyukur tiap saat. Biar rezeki mudah datang. Para penghuni rumah pun sehat dan happy ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Baitullah: Rindu Tiada Bertepi

Ka’bah yang jadi kiblat ibadah umat Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hari ini sejak pagi saya wes menulis. Cukup banyak lembaran berganti. Kalau kemarin masih setengah mageran, banyak nonton, sedikit nulis. Saya maklumi saja. Ada masanya yo malez juga 😆

Eh lha pas break nulis kok ya timeline sosmed saya isinya seliweran foto-foto Baitullah. Wah, rindu saya pun menjadi-jadi. Ya Allah, rasanya pingin nangis aja dan ya nggak sadar saya wes nangis beneran. Rasa rindu yang nggak karuan mendesak-desak untuk segera kembali ke Tanah Suci 😭

Saya, seperti juga jutaan umat Islam di seluruh dunia, Baitullah bukan sekadar sebuah tempat fisik. Ini jadi simbol cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta.

Setiap detik, ratusan bahkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berdoa, bersujud, menangis, dan bermunajat di depan Ka’bah, menyampaikan segala harapan, keluh kesah, dan rasa syukur.

Baitullah menjadi pusat spiritual yang memanggil hati setiap Muslim, mengingatkan mereka pada tujuan hidup sejati: kembali kepada Allah.

Kerinduan kepada Baitullah adalah rindu yang tak terdefinisikan. Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, Baitullah terasa seperti mimpi yang selalu dirajut dalam doa.

Harapan untuk bisa bersujud di sana, merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram, serta menyaksikan keagungan Ka’bah adalah cita-cita yang terpatri dalam hati.

Sementara bagi mereka yang pernah menjadi tamu Allah, kerinduan itu tak pernah pudar, bahkan sering kali semakin membara setelah kepulangan mereka.

Mengapa rindu kepada Baitullah begitu mendalam? Sebagian mungkin berkata bahwa tempat ini adalah pusat dari semua doa, kiblat yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia.

Namun lebih dari itu, berada di depan Ka’bah memberikan rasa tenang yang tak tergantikan. Di tengah kesibukan dunia yang sering kali membuat hati gersang, Baitullah hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.

Beribadah di Tanah Suci juga mengajarkan makna kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa.

Semua mengenakan pakaian yang sama, memusatkan hati hanya kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, semua manusia berdiri sejajar, merasakan kebesaran Allah yang Maha Esa.

Kerinduan kepada Baitullah bukan hanya soal ingin berada di sana secara fisik, tetapi juga panggilan hati untuk selalu mendekat kepada Allah.

Bahkan, bagi yang belum memiliki kesempatan untuk datang, doa dan zikir yang diucapkan dengan tulus sudah menjadi jalan untuk merasakan kehadiran-Nya.

Baitullah adalah tempat yang mengajarkan kita untuk melepaskan ego, memohon ampunan, dan menemukan ketenangan sejati.

Rindu ini tak akan pernah bertepi, karena ia bersumber dari cinta kepada Sang Pemilik Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya, menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, dan merasakan nikmatnya bersujud di depan Baitullah. Amin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Long Weekend, Ngapain Aja?

Flaurent Salon. Tempat langganan saya sejak tahun 2010-an untuk perawatan badan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Libur panjang Sabtu s/d Rabu atau lima hari, bagi orang Jogja kayaknya biasa aja. Sedari pagi saya keluar rumah, melihat toko-toko kelontong yo tetep buka. Orang jualan hilir mudik. Yang punya usaha bengkel, service laptop, kerajinan, dll ya tetep buka. Nggak libur. Apalagi mereka yang bisnisnya di dunia pariwisata. Libur panjang waktunya meraup rezeki nomplok.

Rencananya pas liburan panjang ini, saya mo jagain tukang yang akan beberes beberapa bagian di rumah. Cuman karena tukangnya lagi dipake di rumah mertua adik saya, dengan gaweyan yang lebih urgent, jadi tempat saya pun mundur.

Berusaha cari tiket pulang kampung yang sesuai kantong saya kok wes amblaz. Iyalah, libur gini kan kudunya pesen tiket dari jauh hari. Dadakan adanya ya harga-harga yang masih terasa eman-eman kalau saya bayar 😂

Ibu saya justru bilang nggak usah pulang. Ntar sekalian aja pas ruwahan; nyekar, ikut selamatan, mandi adat, persiapan Ramadan. Jadi saya pun segera mengganti acara. Menikmati hidup, menyenangkan diri sendiri.

Saya reservasi untuk perawatan badan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Massage seluruh badan selama 1 jam, body spa, hair spa dan perawatan rambut, facial dan totok wajah, ratus, plus meni pedi. Komplit dan suwe.

Hampir seharian saya di Flaurent Salon. Tempat yang wes jadi langganan saya sejak 2010-an saat saya kudu bolak-balik Jogja Jakarta. Terutama untuk massage seluruh badan. Sungguh pas dan cocok di tubuh saya.

Saya mensyukuri berkat Tuhan pada hidup saya dengan cara merawatnya baik-baik. Makan sehat, hidup sehat, olahraga, check up kesehatan, laku ibadah, piknik, meditasi, dll aktivitas positif yang saya pahami sebagai wujud terima kasih saya atas semua anugerahNya.

Wajah saya jelas nggak secantik artis-artis ibukota. Tubuh dan postur saya jelas jauh dari kategori ideal, apalagi kelas peragawati. Toh semua yang diberikan Tuhan itu sungguh luar biasa.

Tubuh dan fisik keseluruhan yang sudah “sempurna” membawa saya menjalani hidup hingga nyaris paroh abad ini. Luar biasa dengan beragam jatuh bangun ekonomi dan masalah kehidupan; tubuh fisik, mental, spiritual saya tetap kokoh kuat, jarang sakit yang beribetan. Ya kalau sakit ringan, capek, drop karena beda cuaca, dll itu jelas wajar. Manusia ini, bukan robot.

Dan saya yakin, di luar semua penjagaan diri yang saya lakukan; yang terbesar adalah “penerimaan” dan “syukur” saya atas apapun yang terjadi dalam hidup. Pahit getir beratnya masa lalu, kalau sekarang saya ingat, kok ya baik-baik aja.

Lepas perawatan yang bikin badan saya enteng dan rileks; saya makan sate, gule, tongseng, kronyosan, sekomplitnya. Sampai beberapa orang melongok ke arah saya makan. Mungkin karena banyak macam porsi saya pesan dan nggak ada orang lain.

Habis? Ya jelas, saya kan bisa mengukur seberapa banyak porsi yang bisa saya habiskan. Lagi pula porsi sate dll olahan kambing di Jogja itu kan mung sithik-sithik. Sate aja seporsi isinya cuman 2 tusuk, tiap tusuk dagingnya mung 3 potong pulaaak. Mana cukup buat pecinta sate kek saya 😂

Dan syukur alhamdulillah, saya masih boleh bebas makan semua olahan daging dll dengan kandungan kolesterol atau asam urat tinggi tanpa khawatir. Teman-teman sebaya banyak yang iri dengan kondisi saya ini 😅

Habis itu saya nylingker ke supermarket. Belanja camilan, makanan frozenan, buah-buahan, dan aneka isian kulkas. Nggo bahan bakar saat saya “bertapa” beberapa hari untuk merampungkan tulisan pribadi saya. Novel yang sudah lama belum kelar 😆😅 dan tentu gaweyan kruncilan yang belum beres.

Untung minggu kemarin saya wes ke Bromo dengan sukacita. Energi kegembiraan itu terasa masih melimpah ruah. Menulis dalam suasana hati gembira itu hasilnya beda. Tenan.

Setelah itu ngapain? Yo pulanglah. Mosok thenguk-thenguk di tempat belanja? Kek kurang kerjaan bae 🤣 Sampai di rumah, saya memasukkan semua belanjaan ke tempatnya dan bersiap memulai long weekend dengan menulis. Pasti kesela juga nonton serial, entah dracin, drakor, atau film film lepas.

Jadi kalau kamu long weekend di rumah aja, menghindari keribetan ramenya jalanan karena liburan atau alasan lain, yo santai aja. Cari aktivitas yang positif.

Misalnya beberes dan bebersih rumah. Main dengan keluarga di sekitaran aja. Bikin acara masak bersama. Nobar di rumah dengan desain ala bioskop. Beresin gaweyan yang ketunda. Baca buku-buku. Dll.

Intinya, versi saya long weekend ya nggak selalu kita harus ikut arus keluar rumah untuk piknik. Yang penting nikmati hidupmu, syukuri berkatmu, dan sehat-happy selalu ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: