Wonderful Umroh (19) Singapura, Negeri Jiran yang Pingin Saya Tinggali

Salah satu kampus di Singapura. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai makan minum, saya berdoa dan sholat di pesawat. Meminta air pada pramugari dan kembali tidur. Beneran tidur yang nyenyak. Bangun lagi untuk makan snack dan sholat. Tidur kembali sampai terdengar pemberitahuan pesawat hendak mendarat. Changi, Singapura.

Karena tidur saya tidak tahu apa yang terjadi di kiri kanan saya selama di pesawat. Begitu turun dan masuk areal bandara, saya langsung izin ke toilet. Bebersih badan, ganti baju, dan kembali ke rombongan. Badan saya terasa lebih bugar dan fresh.

Keributan jamaah perkara haus nggak diberi air minum masih saya dengar. Saya mengarahkan mereka untuk ambil air minum yang ada di bandara.

Saya melewati imigrasi rada lama. Di sini imigrasinya sudah otomatis; tinggal scan paspor, foto, sidik jari, dan keluar. Karena badan saya yang belum tinggi itu 😅 kamera otomatis tidak bisa mengidentifikasi keseluruhan wajah saya. Pas berangkat ada petugas, jadi kamera langsung disetel lebih rendah. Kali ini nggak ada petugas. Saya ke office nya, baru kamera disetel seukuran tinggi badab saya dan bisa keluar dari imigrasi. Heish, besok-besok pakai sepatu hak tinggi ya, Ri 😂😅

Kami dijemput TL Singapore, Pak Rusli dan Mbak Mayra. Dibawanya kami ke areal Jewel Changi. Agak lama juga kami di sana. Saya siy happy saja.

Negeri yang nggak ada separohnya kota Surabaya ini, adalah Negeri Jiran pertama yang di tahun 2006-2007 bikin saya jatuh cinta untuk tinggal.

Negeri yang bersih, rapi, tertib, dan cantik. Sempat terpikir kalau biaya hidup di sini setara Jakarta saja, saya wes sejak lama pindah kewarganegaraan.

Sayang, biaya hidup di sini sangat mahal. Kalau Jakarta biaya hidupnya 6-10x biaya hidup di Jogja, maka Singapura 6-10× biaya hidup di Jakarta.

Kalau ada transit internasional; saya lebih memilih Singapura daripada bandara lainnya. Singapura memberi gambaran pada saya tentang tata kota yang sangat efektif.

Lepas dari Jewel, kami menuju restoran Padang sekalian sholat Dhuhur. Saya kira dengan budget yang sangat ringan di Dewangga itu, city tour Singapura akan berlangsung singkat, makan dengan nasi box dan tidak menginap. Ternyata enggak.

City tour seharian sampai jam 8 malam. Makan siang tersaji model orang Padang makan dengan aneka menu di meja. Masih menginap semalem di hotel yang bagus di areal wisata, masih dapat nasi box makan malam dan nasi box sarapan keesokan paginya.

Biyuuu… wes hitunglah sendiri itu… saya merasa ini bonus berlimpahan. Kalau sampeyan biasa jalan atau traveller, westalah bisa menghitung sendiri charge wisata hari itu. Terlebih Singapura bukan tempat yang murah untuk jalan-jalan.

Dari makan siang, kami ke Merlion Park. Tempat patung singa mancur😆😅 (istilah saya sendiri), ikon Singapore yang wes bertebaran di mana mana. Konon nggak ke Singapura kalau kamu nggak foto di situ. Karena wes bolak-balik ke Singapura, saya malahan banyak eksplore sudut-sudut yang sepi pengunjung. Menikmati Singapura dari sisi yang lain.

Usai dari sana, kami ke Universal Studio. Wes, gembira betul saya. Berkeliling dan foto-foto seolah nggak berasa lelah lagi kaki saya. Alhamdulillah. Sebagian kami ada yang belanja belinji. Boneka, sovenir, kaos, dll. Sampai malamlah kami baru keluar areal itu.

Sekitar jam 8 kami tiba di hotel. Pembagian kunci kamar (sekamar berdua) dan nasi box untuk makan malam. Beberapa dari kami masih shopping di sekitaran hotel setelah memasukkan bawaan ke kamar.

Masalah muncul saat saya tahu, kawan sekamar saya (sebut saja Bu J); selain tidurnya mendengkur, harus lampu terang, AC pun harus mati. Pengap sesak rasanya di saya; sementara dia tidur sesengguran mendengkur.

Saya masih belum bisa tidur, ketika Bu J ini bangun dan bolak-balik ke kamar mandi. Lalu dia bilang mau ke sebelah (kawannya ada di kamar sebelah). Nggak lama Bu J balik lagi. Kelihatan resah dan tidak nyaman.

Saya tanya kenapa, Bu J bilang masuk angin. Biasanya dikerok. Saya menawarkan diri mengerokinya. Lama itu sampai sekujur punggungnya merah-merah, lalu dia muntah-muntah. Saya memberinya air minum dan kelihatannya setelah itu dia lebih tenang. Saya menyuruhnya tidur agar cepat sehat.

AC saya nyalakan dengan temperatur paling panas agar tidak pengap. Pas Bu J sudah tidur, saya turunkan ke level dingin.

Baru saja saya tertidur, badan saya sudah diguncang-guncang dengan keras. “Ayo Bu Ari, berangkat. Nanti kita telat!”

Saya melek dan melihat HP, belum jam 2 dini hari. Astaga…!

“Bu, kita keluar kamar jam 4. Boarding jam 7. Nanti saya bangunkan!”

Saya berusaha tidur lagi, tapi wes nggak bisa. Mung bisa scrolling HP sampai pagi. Wes, beneran gangguan tidur. Pagi-pagi saya mandi dan bersiap-siap. Jam 3 lewat saya wes keluar kamar. Membantu ibu ibu yang beribetan ngisi form beacukai, kesehatan, imei.

Kami mendapatkan nasi box lagi pagi itu saat keluar kamar hotel. Tapi saya taruh saja karena rasanya masih kenyang dan ke Jogja nanti sebentar saja, bisa langsung cari makan di YIA.

Begitu masuk pesawat, saya tidur. Membayar gangguan tidur di kamar hotel. Saya bangun ketika sudah mendengar pemberitahuan pesawat hendak mendarat di YIA.

Alhamdulillah, Jogja. Begitu seru saya pas keluar dari pesawat. Proses imigrasi lumayan gampang. Saya nggak bisa langsung pulang. Kudu nungguin bagasi dan air zamzam yang sedang diurus TL.

Ealah, di sini lho sudah mau pulang itu, kami masih diberi nasi box lagi. Alhamdulillah. Niy Dewangga beneran mantap kok support layanannya.

Kali ini saya makan, karena ya wes lapar terus masih rada lama nungguin bagasi. Selesai makan, pas adik saya wes menjemput dengan mertua dan dua tetangganya. Ponakan saya si Mail nanti kami samperin saat mau balik.

Alhamdulillah. Saya pamitan pada semuanya. Saya wes nggak ngelihat keberadaan Bu X. Embuh nggak tahu ke mana. Seinget saya, Bu X juga mo ikut bus rombongan Dewangga yang balik ke kantor.

Saya sempat bilang Bu B kalau foto-foto Bu X di HP saya (yang kalau minta fotonya maksa dan nggak mau pake HP nya sendiri) sudah saya kirim semua ke nomor Bu X. Mbok ya respon oke ajalah kalau nggak mau terimakasih. Bu B bilang, “Kalau Saya takbuang delete saja, Bu Ari. Dia aja nggak peduli kok.”

Saya cuman tersenyum, sebelum mengekori adik saya yang mendorong troli isi barang barang dan bagasi bawaan saya. Mungkin benar kata orang, saya terlalu baik…

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Wonderful Umroh (18) Lagi-lagi Bawaan Pating Cerentel

Bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan dari toko pasar murah ke bandara mestinya hanya 40-60 menit saja. Karena hari itu macet total, kami baru tiba di bandara Jeddah setelah perjalanan 3 jam. Saya mengingat betul, Ustad Sule bersyukur begitu kami sampai bandara. Kalau sampai telat, 40 tiket itu jelas harus diganti untuk kepulangan. Padahal kami belum check in bagasi, imigrasi, dll.

Saat turun dari bus inilah, ketahuan kembali tipikal ibu-ibu yang bawaannya pating cerentel tas kresek. Termasuk Bu X, si emak rempong. Bawa tas selempang, koper kabin, tas kresek lebih dari empat.

Seingat saya, sejak pagi saat diminta packing untuk kepulangan, Bu B wes ngingetin Bu X agar nggak bawa cerentelan tas kresek yang merepotkan. Tapi ya gitulah masih berulang lagi.

Dan karena terakhir sebelum masuk bus itu belanja, saya pun memaklumi kalau bawaan tas kresek ibu-ibu (juga bapak-bapak) beranak pinak.

Ustad Jordan meminta semua jamaah yang bawaannya pating cerentel itu mempacking ulang di bagasi besar atau wrapping agar bisa masuk bagasi bawah. Toh ya namanya ibu-ibu, paling emoh to kalau diminta tambahan keluar duit ini itu, meskipun itu ya gegara dia sendiri yang belanja over.

Ustad Jordan dibantu petugas Dewangga menyisihkan koper-koper yang sudah aman; tidak dibuka-buka lagi; dan koper yang masih ditata ulang pemiliknya. Suwe itu, makan waktu sejam lebih sebelum akhirnya semua koper ditata di depan areal check in.

Kalau pas berangkat koper kabin bisa diikutkan di bagasi bawah, pas pulang tidak bisa. Bagasi masing-masing jamaah tambah 5 liter air zamzam dan pasti kopernya juga sudah makin menggendut karena belanjaan.

Saya bae berangkat nggak sampai 20 kg, tapi dengan oleh oleh kruncilan itu sudah pasti 25 kg. Pas lah jatah saya 30 kg dengan 5 liter air zamzam.

Kalau ibu-ibu masih beribetan dengan kopernya, sejak masuk areal bandara saya wes duduk anteng. Koper wes beres sejak keluar hotel. Backpack dan tas selempang yang saya bawa yo ringan saja.

Beres check in dll kami ke imigrasi. Gusti Allah Yang Maha Agung, itu lho emak rempong ya tetep aja dengan bawaan pating cerentel tas kreseknya dan nggak mau wrapping biar ringkas.

Dan ternyata Bu X salah ambil koper kabin pulak. Dia salah ambil punya orang. Koper punya dia masih tertinggal di sekitar areal check in.

Gusti… ya wes TL nya lagi yang balik ke areal check in. Orang lain (entah siapa, saya lupa) yang kopernya diambil Bu X nggak sadar, karena versinya dia sudah mengikutkan koper itu di bagasi bawah (padahal ya wes diberitahu koper kabin dibawa masing-masing). Westalah… salah paham geje. Tapi jelas si Bu X ini yang nggak teliti barang sendiri. Padahal tiap koper kan sudah ada namanya.

Saya cuman bisa geleng-geleng. Berat betul gaweyan TL dan Muthowib di grup rombongan umroh saya kali ini. Tiap sesi, ada aja yang bikin emosi jiwa. Beuh, kalau mereka nggak sabar itu wes pasti perang mulut dengan kelakuan yang nggak disiplin gitu.

Di saat antrian menunggu boarding, Bu X masih bikin ulah lagi. Sudah diberitahu kalau pergi, bahkan ke toilet pun harus izin dan sekurangnya berdua.

Eh, tahu tahu dia nyelonong pergi sendiri aja. Entah ke mana. Padahal toilet di sekitar kami itu ke arah kanan, tapi dia ke kiri. Saya yang melihat, meneriakinya tapi malas mengikutinya.

Satu jamaah laki-laki mendengar teriakan saya, langsung mengejar Bu X. Baru Bu X balik dan ke toilet yang diarahkan. Embuhlah orang kok angel betul diingatkan.

Saya baru merasa lebih lega ketika sudah duduk manis di pesawat. Kali ini saya wes memutuskan untuk tidur lebih awal, istirahat. Saya merasa lelah karena uyuk-uyukan pagi di areal Ka’bah; lelah emosi juga karena kelakuan Bu X yang masih aja mengganggu.

Bolak-balik saya istighfar untuk menetralisir energi negatif gegara emak rempong ini. Dan tahu-tahu saya wes tertidur. Terbangun saat bahu saya diguncang perlahan oleh pramugari, waktunya makan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Selamat Tahun Baru 2025

Merlion Park, salah satu ikon Singapore. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Mo kamu piknik atau nggak piknik, hari tetap berganti. Tahun 2024 tetap berlalu dan ganti
Tahun Baru 2025. Bertepatan pula dengan bulan Rajab yang mulia.❤️
.
Beriringan doa dan ibadah, semoga tahun 2025 lebih banyak piknik, banyak rezeki, banyak sehat, banyak berkah kemudahan, berlimpah kebaikan, dan tentunya panjang umur ❤️
.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Wonderful Umroh (17) “Kalau Saya yang Nemuin Belanjaannya, Nggak Saya Balikin!”

Di salah satu sudut Museum Alamoudi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya lupa persisnya jam berapa kami check out dari hotel Mekkah. Jelas sudah siang. Tujuan kami berikutnya ke museum, belanja oleh-oleh, dan ke bandara untuk balik ke Tanah Air.

Selain kasus permintaan tolong saya untuk memotretkan di museum yang tidak direspon dengan baik, tidak ada hal khusus yang bisa saya ceritakan.

Museum Abubker Alamoudi tentu semakin berbenah dari tahun ke tahun. Baik dari sisi koleksi maupun penataan dan layanannya. Jadi lebih menarik untuk dikunjungi.

Tahun 2017, saya tidak merasa ada guide dan penjaga di setiap koleksinya. Kini hampir setiap koleksi ada penjaga yang bisa dimintain motret dan menjelaskan segala hal dengan bahasa Indonesia. Luar biasa.

Selain itu, model penataan dari pintu masuk kita sudah dihadapkan pada kedai-kedai kecil yang isinya mayoritas “jajanan cemilan” orang Indonesia. Indomie, popmie, kue-kue, aneka minuman sachet, jeruk, buah segar, aneka souvenir, dll. Berasa kek di angkringan Malioboro gitu lah ngeliat tempat ini.

Lalu kita akan diarahkan masuk keliling, berputar dari satu sisi ke bagian yang lain –yang sudah lebih banyak koleksi dengan keterangan yang mudah dipahami. Saya lupa, apakah ada bahasa atau tulisan Indonesianya, tapi pasti ada Arab dan Inggrisnya.

Kalau suka dengan museum, sampeyan bisa mengambil beragam gambar dari berbagai koleksi bersejerah (yang mayoritas tiruan saja dari versi aslinya) di berbagai spot. Gratis.

Di sini ada beberapa orang yang lambat masuk bus, tapi tidak sampai bikin jamaah lain kesal seperti sebelum-sebelumnya.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke pasar murah. Toko langganan hampir seluruh biro umroh tanah air. Sebutannya murah, tapi ya nggak murah juga.

Terus ampun, maksainnya untuk belanja ini itu, bikin saya kurang nyaman. Mungkin memang gaya berjualan orang di Arab seperti itu. Hampir di semua tempat, nawarinnya setengah mendesak, memaksa biar kita beli.

Saya mencari barang-barang yang mau saya beli. Beberapa magnet kulkas dengan pict Makkah Madinah yang sangat khas. Aneka manisan, cokelat, permen, dan kue kue kecil kesukaan saya. Tasbih lucu-lucu, yang pasti bukan buatan Indonesia 😅🤣

Ada juga saya beli beberapa souvenir dinding. Tentu saja boneka unta yang cukup besar. Ini saya beli karena saya tuh sukanya kalau koleksi sepasang. Unta sudah ada satu, berarti harus satu lagi. Dan ini sukses bikin backpack saya makin gendut, meskipun nggak berat 😂😅

Sudah selesai belanja, saya thenguk-thenguk saja duduk-duduk di depan toko. Lalu Ustad Sule bilang, sudah boleh makan kalau sudah beres belanja. Makannya di Ayam Bakar Wong Solo, yang ada di sisi belakang toko.

Saya ke tempat itu, meskipun mayoritas ibu-ibu rombongan saya masih belanja. Masuk di Wong Solo, terasa panas, gerah, banyak orang. Karena ini untuk makan jamaah dari berbagai biro umroh tanah air.

Saya duduk di salah satu kursi kosong. Mencari tempat yang dekat kipas angin. Petugas Dewangga memberitahu kalau jadwal kami makan sekira 30an menit lagi. Prasmanan itu masih bagian biro lain.

Saya mengerti dan menikmati saja jajanan dan minuman yang saya bawa. Sambil memperhatikan lalu lalang orang yang beributan makan. Membalas pesan-pesan WA yang masuk. Melihat foto-foto. Jian selow tenan saya 😅😆

Tahu-tahu Bu X datang dan menaruh begitu saja tas belanjaan besar yang isinya entah apa, di meja, di depan saya duduk. Lalu tanpa berkata apa-apa, dia langsung pergi. Saya memicingkan mata mengekori arah perginya. Oh ambil air, pikir saya berarti ya segera balik untuk urus belanjaannya.

Ternyata sampai 40 menitan, saat kami jamaah Dewangga sudah diperbolehkan makan, itu emak rempong nggak kembali. Saya sudah berulang kali pula menjawab pertanyaan bahwa kursi di depan saya ada orangnya.

Mulai kesal saya. Nggak mungkin belanjaan segitu besar saya tinggal. Terpaksa saya gotong (berat juga, entah apa isinya) itu tas berkeliling sambil nanya ibu ibu satu rombongan di mana Bu X.

Sebagian ibu-ibu bertanya kenapa saya cari Bu X. Saya menunjukkan tas besar, “Ini belanjaannya ditinggal begitu saja. Saya mau makan.”

Langsung beberapa menyahut, “Kalau saya yang nemuin belanjaannya, nggak saya balikin, Bu Ari. Orang kok nggak tahu diri banget.” Beribetan macam-macam komentar. Tapi saya belum nemuin Bu X.

Baru itu orang ketemu setelah saya ke ujung-ujung ruangan yang nggak ada rombongan Dewangga. Saya taruh belanjaan berat di meja depan mukanya. Berterimakasih? Jelas enggak.

Saya bergegas untuk makan. Karena wes kesal, mood makan saya sudah ambyar. Apalagi tahu menunya ayam; menu yang kalau ada pilihan lain, pasti saya nggak makan.

Cuman saya ingat, niy nanti perjalanan panjang. Laper haus, harus saya tanggung sendiri kalau sekarang nggak makan. Jadi saya ambil menu non ayam dan berdoa mohon agar kekesalan hati saya dihilangkan.

Alhamdulillah, saya cukup makan minum. Cukup kuat bertahan saya rasa, sampai saatnya nanti makan minum di pesawat. Kami pun keluar dari Wong Solo menunggu kedatangan bus yang akan membawa kami ke bandara.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Wonderful Umroh (16) “Mbak, Saya Ikut! Saya Jangan Ditinggal!”

Pintu 84 atau King Abdul Azis Gate, salah satu pintu yang biasa kami gunakan keluar masuk areal Ka’bah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ibadah terakhir dari Dewangga adalah thawaf wada’ atau thawaf perpisahan. Acara ini dilakukan di pagi hari. Seluruh jamaah diminta berkumpul usai Shubuh di depan WC 6.

Malamnya sebelum tidur, saya dan Bu B menanyai Bu X akan ikut atau tidak. Karena jawabannya nggak jelas, kami pun tidur.
Pagi-pagi, saya dan Bu B wes bersiap. Kami bertanya lagi pada Bu X, dijawabnya nggak ikut thawaf wada’.

Saya memberitahu Ustad Sule tentang Bu X, dan kami pun berangkat ke Masjidil Haram. Ibadah sampai Shubuh, lalu berkumpul di depan WC 6.

Ealah, uraian Ustad Sule di WAG itu wes sangat jelas; tapi ya tetep aja ada yang bandel. Bikin acara sendiri, minta dijemput di dekat areal Ka’bah, ada yang di areal masjid tapi bingung di mana, ada yang masih di sekitaran hotel. Biyuuu…. mbokya wes keluar dulu, bergabung rombongan. Suwe maneh nungguinnya.

Tiba-tiba, ujug-ujug Bu X muncul mau ikut thawaf. Saya menegur, “Bu, gimana siy? Katanya nggak ikut, ini kok malah datang? Tiwas saya wes lapor Ustad.”

Bu X, entah menjawab apa seperti nggeremeng nggak jelas. Saya laporan Ustad Sule. Niy Bu X ikut thawaf wada’ tanpa kursi roda. Kalau pingsan, jatuh di areal Ka’bah yang full byuuuk orang itu; bisa bikin gawe. Bikin repot semua jamaah.

Saya nggak mau ikut disalahkan kalau ada kasus begitu. Karena mulutnya jamaah rombongan saya yang cukup tajam.
Ustad Sule sabar sekali. Menerima laporan saya dengan senyum dan berdoa semoga semua sehat. Saya wes lebih tenang.

Setelah tunggu-tungguan cukup lama, kami pun berangkat ke areal Ka’bah. Ustad Sule dan Ustad Jordan wes menertibkan dan wanti-wanti kami agar tidak terpisah dari rombongan.

Pas awal-awal, saya yakin betul kalau saya mengikuti rombongan. Pas mau ke arah Ka’bah itu, saya nggak tahu bagaimana ujug-ujug terpisah dari rombongan. Saya celingak celinguk wes nggak ada anggota rombongan.

Saya sempat galau, tapi seperti ada yang mengingatkan saya untuk ke Ka’bah. Tiba-tiba saja saya merasa ada yang memegang pinggang dan tangan saya kuat kuat, sambil teriak, “Mbak, saya ikut! Saya jangan ditinggal!”

Saya menoleh, melihat ibu-ibu dan jelas orang Indonesia, teringat ibu saya. “Oh ya Bu, sini!”

Saya mengawal ibu ini agar bisa maju, berusaha menghalau orang-orang tinggi besar yang menghalangi jalan kami ke Ka’bah. Saya sambil terus menerus berdoa mohon dimudahkan sampai Ka’bah dan bisa berdoa di depan Ka’bah.

Tiba-tiba saja itu jalan seperti terbuka dan tahu-tahu kami berdua sudah di depan Ka’bah. Saya menangis sejadinya. Bisa menyentuh, memegang kuat, mencium, mengusapkan seluruh permukaan tas yang saya bawa ke Ka’bah; agar aroma Ka’bahnya tidak hilang.

Saya berdoa sekomplitnya. Sebisanya di tengah terpaan rasa haru yang luar biasa. Saya merasa tempat itu beneran hening, sunyi, adem, damai, bahagia, sukacita; seperti bukan areal Ka’bah yang membara. Apakah seperti itu kelak suasana surga? Wallahua’lam.

Saya terus berdoa. Sementara si ibu menangis sejadi-jadinya. Bolak-balik menciumi Ka’bah. Saya mengingatkan untuk berdoa, tapi saya malah mendengar isak tangisnya yang lebih keras. Lama rasanya kami di situ.

Saya mengajak si ibu ke Multazam. Wes ini versi saya beneran perjuangan. Orang-orang tinggi-tinggi besar berada di sekitaran kami dan rasanya begitu sulit untuk mengambil celah.

Saya seperti diingatkan kalau ibu ini sangat ingin ke Multazam. Akhirnya saya berdoa dimudahkan sambil menarik tangan ibu tersebut. “Ayo Bu, sini!”

Tapi langkah saya terhalang tangan-tangan yang sedang menggapai-gapai Multazam. Beberapa berusaha menyingkirkan kami. Saya keukeuh berdoa dan tahu-tahu tangan si ibu sudah bisa memegang Multazam. “Berdoa, Bu!” seru saya saat mendengar ibu itu malah menangis lagi.

Alhamdulillah, saya di samping ibu itu bisa memegang Multazam dan berdoa, sekhusyuk yang saya bisa. Sama rasanya saat menciumi Ka’bah. Saya merasakan hening, sunyi, adem, damai, bahagia, sukacita.

Saat saya rasa sudah cukup berdoa, saya ada niat membawa ibu ini ke Hajar Aswad. Tapi melihat tempat itu dipenuhsesaki lelaki tinggi-tinggi besar dan rapat padat sekali, saya wes jiper duluan.

Saya melihat ke sekeliling; wes nggak tampak satu pun jamaah dari rombongan saya. Pas melihat arloji, saya menghitung waktu dari mulai thawaf, mestinya rombongan saya sudah di hotel. Waduh, bisa ribet ntar kalau diteriakin, diomelin jamaah lainnya gegara telat.

Sesaat saya galau, jadi saya tanya si ibu. Mau ke Hajar Aswad atau enggak, dia bilang manut saya. Ya wes, saya menarik tangan ibu itu untuk mendekat ke Hajar Aswad, tentu sambil berdoa; tapi kami malah terdorong menjauh. Saya paham, berarti tidak diizinkan.

Saya memutuskan untuk meninggalkan Ka’bah karena pertimbangan waktu. Untuk ke pinggir ke pintu 79 atau 84, tentu kami harus “miyak” ribuan orang dengan melawan arus. Sementara kami masih beberapa jengkal saja dari Ka’bah.

Saya terus berdoa agar dimudahkan. Beneran, jalan kayak terbuka sendiri; tahu tahu kami sudah di pinggiran sekitaran pintu 79 atau 84 itu. Kami sholat sunnah dua rakaat, baru kemudian keluar areal mesjid. Si ibu entah kenapa menangis lagi dan memeluk saya kuat-kuat.

“Terimakasih ya Mbak, sudah mau saya ikuti! Alhamdulillah. Alhamdulillah saya bisa mencium Ka’bah. Masyaallah. Saya seperti menemukan Allah. Masyaallah, Masyaallah.”
Masih dengan menangis sesenggukan.

Haish, saya malah bingung kudu ngapain. Iya saya mengerti harunya, perasaan guncang saat pertama menyentuh, mencium, memeluk Ka’bah, berdoa dengan jarak begitu rapat di depannya, seperti mendapatkan anugerah berlimpahan yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Sudah, Bu. Alhamdulillah. Ayo kita balik. Saya wes ketinggalan rombongan.”

Baru ibu itu mau melepaskan pelukannya dan berhenti menangis. Matanya pun masih memerah. Saya wes memastikan si ibu baik-baik saja dan kembali ke rombongannya.
Saya memberitahu Ustad Sule di WAG posisi saya. Mendapatkan jawaban singkat agar saya langsung ke ruang makan. Saya setengah berlari ke hotel. Nggak sampe 10 menit wes sampai 😆😅

Di restoran, rombongan saya tinggal beberapa orang yang makan. Saya menghitung waktu, rupanya lumayan lama juga saya di depan Ka’bah tadi. Alhamdulillah. Di luar itu, Alhamdulillah saya karena nggak telat jadwal dan nggak jadi sasaran omelan jamaah lain.

Saya yakin, tiap orang yang umroh punya pengalaman spiritual yang berbeda-beda. Beneran, setiap kali berada di areal yang makbul untuk berdoa itu; saya seperti tersedot pusaran arus, lalu dibawa di ruang yang begitu menyejukkan dan mendamaikan jiwa.

Ruang yang terbebas dari segala kekhawatiran dunia. Ruang yang begitu indah dan hening sunyi; padahal kiri kanannya orang ramai berthawaf. Wallahua’lam.

Ya Allah, saya wes rindu lagi ke rumahMu yang Agung. Bawa saya ke sana lagi ya Rabb. Amin YRA.

Ari Kinoysan Wulandari
Please follow and like us:

Wonderful Umroh (15) Ayo, Bu…! Ayo, Bu…! Hajar Aswad!

Hajar Aswad dari jarak dekat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tempat-tempat yang ingin dicapai oleh jamaah umroh di sekitaran Ka’bah itu ya mencium dan berdoa di depan Ka’bah, mencium Hajar Aswad, berdoa di Multazam, mencium dan berdoa di Maqam Ibrahim, berdoa di bawah Mirzab (pancuran yang dipasang di atas Ka’bah), berdoa dan sholat di Hijir Ismail. Di sekitarnya lagi tentu ingin melihat dan berdoa di dekat atau sekitaran sumur air zamzam, berdoa di bukit Shafa dan Marwa.

Areal di sekitar Ka’bah itu sungguh perjuangan betul untuk bisa mencapainya. Mencium Ka’bah? Kalau nggak dengan izin ridha Allah, entah bagaimana bisa.

Memikirkan saja saya sudah malas duluan, kudu “miyak” melewati ribuan orang besar kecil dari berbagai negara.

Toh alhamdulillah sudah berulang pula saya menciumi dan berdoa di depan kiblat dari umat Islam ini.

Lalu Multazam, alhamdulillah pokokmen tiap datang pasti kebagian tempat ini. Entah siapa yang bawa saya ke situ.

Pernah juga dibawa orang yang saya tidak kenal, tapi mengarahkan sampai tempat. Bisa berdoa dan lama menangis.

Hajar Aswad, saya termasuk orang yang mudah pasrah. Pertama umroh dulu (tahun 2017), ya seperti keajaiban saja. Mencium, memegang, menyentuh Hajar Aswad, berdoa cukup sampai doa sapu jagad rampung.

Umroh kedua (tahun 2023), dalam kondisi kesehatan yang tiba-tiba memburuk, kok ya masih diberi kesempatan menciumi batu surga itu.

Jadi umroh kali ini (tahun 2024) pun saya wes pasrah aja, diberi alhamdulillah tidak yo tetap alhamdulillah. Karena itu beneran untuk dapat Hajar Aswad seperti berkat Tuhan yang tidak bisa diirikan oleh orang lain. Seperti keajaiban itu bisa mencium Hajar Aswad. Alhamdulillah.

Teman-teman yang pingin ke Hajar Aswad hati-hati ya. Karena banyak calo yang berteriak, “Ayo, Bu…! Ayo, Bu…! Hajar Aswad!” Nah kalau sampeyan terima dan bisa ke Hajar Aswad, ntar sampeyan dimintain fee antara 500 s/d 1500 riyal. Mahal tenan. Dia akan terus nungguin, maksain agar kita bayar.

Jadi hati-hati sajalah. Jangan dikira itu bantuan gratis. Lebih baik pasrah berserah, doa yang sungguh-sungguh biar diberi jalan untuk ke Hajar Aswad. Foto-foto? Itu kalau bejo atau beruntung saja.

Karena sungguh beneran nyaris nggak pernah selow, Hajar Aswad itu kecuali untuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Ya beda cerita kalau kamu presiden dan keluarganya atau relasi dekat keluarga kerajaan Arab Saudi. Tempat bisa disterilkan untuk kamu. Tapi tetap, Allah yang mengizinkan kita untuk bisa mencapai tempat ini.

Maqam Ibrahim? Nah wes alhamdulillah saya berulang bisa ke sini ya. Saya ngikut Ustad saja, tahu-tahu wes bisa peluk cium dan berdoa di tempat ini.

Kalau umroh (2017), (2023) dulu saya bisa sholat di Hijir Ismail, kali ini nggak bisa. Ya wes, gakpapa. Semoga sholat berulang di pelataran Ka’bah dicatat sebagai amal berlimpah. Semoga itu berarti tahun depan saya dipanggil datang lagi. Amin YRA.

Di bawah Mirzab itu biasanya saya berdoa pas di depan Ka’bahnya. Jadi kayaknya dituntun ke tempat yang berdekatan semuanya itu. Bagaimana caranya, yo embuh saya pun nggak bisa jelasin. Tahu tahu bisa saja.

Sementara di bukit Shafa dan Marwa ya itu pas kita sa’i. Sementara di areal sumur zamzam itu pasti kita lewati setelah beres umroh dan keluar dari areal Masjidil Haram. Biasanya kita di sini juga disunahkan berdoa.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Wonderful Umroh (14) Umroh Kedua Bu X

Di Jabal Rahmah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selama di Mekkah, saya tidak dekat Bu X, menghindari emosi buruk. Di hotel kami di Mekkah nggak ada hairdryer, jadi si emak rempong ini mung nyuci pakaian dalamnya. Tahu sendiri bau penguknya baju yang dipakai berhari-hari kena debu, angin, keringat, kotoran campur aduk; untuk tidur pulak.

Selain itu, versi saya kan pakaian mungkin wes kena kotoran, najis; karena kepijak-pijak pas jalan, dibawa ke kamar mandi atau toilet umum; apakah masih terjaga kebersihannya, sebagai salah satu bagian syarat sah sholat atau ibadah lainnya? Entahlah.

Wes, perkiraan saya Bu X bawa 2 baju njur beli di Madinah atau Mekkah ambyar saat tahu itu. Untuk jemaah perempuan yang baru mau umroh, jangan sekali bawa baju seperti itu ya. Sekurangnya 8 gamis/setel untuk 10 hari.

Kecuali seperti teman yang pernah saya tuliskan, dia bawa baju yang di badan, pakaian dalam secukupnya, lalu beli baju/abaya di sana, selesai pakai dibuangnya. Cuman itu berlaku untuk orang dengan postur tubuh sesuai ukuran pasar yang standar, S, M, L, XL, dst nya pasti cocok. Kalau posturnya kek saya, beli baju jadi kalau nggak kekecilan ya kegedean, jelas repot. Jadi ya memang kudu bawa baju yang jelas nyaman dipakai dari rumah.

Kalau nggak ganti-ganti baju gitu, bisa jadi temennya yang kebauan; cuman emoh bilang aja. Lagipula kan tidak nyaman to baju dipakai berhari-hari? Jadinya kalau terpaksa di dekat Bu X, masker saya ikat rapat-rapat.

Dewangga memberikan 2x umroh setiap jamaah di rombongan saya. Umroh ini siang hari setelah city tour; karena kami kan harus ambil miqat atau niat dulu.

Namanya city tour ya pasti capek. Sebenarnya saya tidak terlalu antusias dengan city tour, karena selain masih begitu saja; ya lebih baik hemat energi. Cuman ngapain juga bengong di bus sendirian?

Pas ke Jabal Rahmah, tahun lalu masih boleh naik, tahun ini sudah enggak. Bus parkir jauh dari lokasi bukit. Wes panas, capek banget jalannya. Terus pedagangnya, ampun nawarinnya sampai ngotot-ngotot gitu. TL sudah melarang kami belanja di sini, karena biasanya tawar menawar njur tertinggal.

Dan ya beneran, ada saja yang tertinggal sampai kita nungguin lama. Ustad Sule juga yang balik turun bus nyariin. Embuhlah kenapa ini jamaah sulit banget disuruh patuh sama TL dan ingat waktu. Berasane lagi di Beringharjo po ya?

Karena waktu yang banyak terbuang, beberapa tujuan seperti Jabal Tsur, Padang Arafah, Muzdalifa, Mina, terus beberapa masjid yang mestinya dikunjungi hanya dilewati saja.

Kami pun ambil miqot umroh kedua di Masjid Aisyah. Menghindari kepadatan di Ji’ronah. Hari Sabtu karena libur, konon banyak warga lokal yang mengambil umroh di hari-hari itu. Jadi lebih banyak orang yang datang.

Umroh kedua ini bersifat bebas, boleh ikut, boleh enggak. Boleh umroh untuk diri sendiri, boleh untuk badal orang lain yang sudah meninggal. Kalau sampeyan punya cukup uang, juga bisa membatalkan umroh keluarga yang sudah meninggal. Tarifnya beragam, antara 1.5 sd 2.5 juta per orang. Kalau badal haji biasanya lebih mahal, antara 3.5 sd 5 juta per orang.

Saya dan Bu B sudah mengingatkan Bu X kalau mau ikut umroh kedua, kudu pesan kursi roda cepat-cepat karena nggak bisa dadakan. Petugas selalu kerja. Ini sudah kami bilang pas umroh pertama. Dianya iya iya aja dan kami pikir ya sudah pesan.

Ealah baru pas city tour itulah Bu X pesan. Ya wes telat, nggak bisa umroh kedua hari itu. Nggak ada petugas yang nganggur. Dikiranya pesan gofood di Jogja apa ya? Lah pesan makanan online di libur nataru gini saja, biasanya 15 menit sampai kudu nungguin 1 jam lebih dan nggak boleh protes kok 😅 Jadi Ustad Sule memastikan bahwa besoknya Bu X baru bisa umroh sendiri dengan kursi roda.

Sudah begitu, wes ngerti harganya kursi roda kok ya nggak cepetan dibayar atau ditransfer. Weish, ini orang. Gitu aja kalau cerita sama Bu B, anaknya kerja di LN duitnya sahohah, tapi keceplosan sendiri pas cerita sama saya kalau anaknya (entah ini anak yang sama atau anak yang berbeda dengan anak yang di LN) kerja di Bali akan balik ke Jogja, dan dia mau ikutan liburan ke Bali meskipun bayar tiket dan urus makan sendiri.

Saya mung bengong, lah kok gitu amat ya kudu bayar tiket dan urus makan sendiri? Saya bae, mungkin duit saya nggak sehohah, tapi kalau ibu saya sampai bilang mau pergi ke mana; westalah, pasti saya usahakan semuanya saya bayarin dan urus sebaik-baiknya.

Pikir saya kalau anaknya kaya dan hubungannya baik-baik, nggak mungkin Bu X yang wes lansia, nggak sehat, pelupa akut, banyak bikin masalah dengan jamaah itu umroh sendirian. Pasti ada orang yang diminta mendampingi. Wallahua’lam karena saya yo nggak tahu background keluarganya.

Umroh yang kedua ini versi saya lebih ringan. Kan wes terlatih pas umroh pertama. Alhamdulillah. Yang belum kesampaian oleh saya, mandi air zamzam. Kalau dari areal tahalul terus keluar masjid, itu pasti melewati areal sumur zamzam. Di sinilah kita boleh ambil air zamzam banyak-banyak sepuas kita. Ada banyak laki-laki yang mandi pun.

Beuh, saya nyesel bener saat itu. Karena saya kan bawa mantel hujan. Kenapa nggak saya bawa pas umroh kedua ini? Kalau saya bawa mantel, kan saya bisa mandi air zamzam dari ujung rambut ke ujung kaki, lalu pakai mantel hujan. Jadi bentuk tubuh yang tercetak akibat mandi air zamzam, bisa tertutup oleh mantel hujan. Haish, ini juga yang bikin saya wes pingin balik Mekkah lagi ❤️🙏

Setelah umroh kedua, kami bebas istirahat. Agenda tinggal thawaf wada dll city tour, belanja, dan balik ke Tanah Air via Singapura.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali, Bu X wes bersiap untuk umroh kedua. Setelah semalem beributan nyari bolpoin untuk nyatet rekening transfer Pak Ustad. Sampai saya dipaksanya membongkar tas karena saya bilang ada bolpoin. Itupun dia transfernya nggak langsung full, padahal pasti sudah tahu harga 1.5 juta untuk kursi roda dan pengantar sekali umroh. Tapi wes embuhlah. Itu urusan dia.

Untuk Teman-teman yang tidak biasa bekerja dengan buku dan bolpoin, saat umroh pastikan juga bawa ya. Ini untuk mencatat hal-hal darurat; contact TL, muthowib, alamat dan no tlp hotel, no darurat keluarga yang bisa dihubungi, no paspor, ktp, visa, boarding, dll. Semua ada di HP? Iyes, tapi kita tidak pernah tahu kapan membutuhkan dan tetiba saja HP kita bermasalah. Kadang cara tradisional itu bisa nyelametin kita dari berbagai keribetan.

Pas malamnya saat saya mau tidur, kok ya ndadak Bu B itu cerita ke saya. Pas itu Bu X belum di kamar, mungkin masih belanja. Bu B tanya ke Bu X, berapa ongkos taksi dari hotel ke Ji’ronah pp ke Masjidil Haram. Karena kan itu nggak masuk biaya 1.5 juta. Bu X dengan enteng bilang, “Nggak tahu, dibayari ustadnya.”

Ya ampun Gusti, bisa tekor dadakan ini ustadnya mbayari pp taksi yang jelas ada harganya. Versi Bu B, sudah mengingatkan Bu X untuk tanya ustadnya dan bayar, tapi dia kayaknya sambil lalu nggak mau tahu atau nggak peduli. Duh, maafkan saja salah satu jamaahmu itu ya, Ustad.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: