Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Produk-produk atau barang-barang yang dijual online itu bisa terlihat bagus-bagus dan keren-keren. Bikin kita laper mata, gatal tangan pingin beli semuanya. Terus gitu proses benjol (belanja online) itu kan tinggal pilih-pilih, transfer, debit, QRIS, atau ngutang dulu juga bisa (pake kartu kredit, paylater, dll model perpanjangan utang), barang langsung cuuz sampai rumah. Enak betul 😍🙏 Ada yang COD pula, barang datang barulah kita bayar. . Ntar yang bayar ya biar suami saja 🤣😎 Jadi, ngeh deh kenapa ada istri-istri, ibu-ibu yang di rumah pun sampe gila rajin banget benjol🤣 Sensasinya itu ternyata bikin orang happy dan (bisa bikin) kecanduan atau ketagihan. Apalagi kalau ngerasa dapat diskonan, gratis ongkir, beli 1 dapat 3, beli 2 dapat 5… Biyuu 😄
Eh, btw ini bukan saya lho 😅😄 Kebutuhan saya belum banyak dan toko sini situ dekat rumah masih ada semua barang keperluan saya. Cuman ya benjol pun lumayan sering, kalau diitung-itung jatuhnya lebih murah. Mana benjolnya bisa sambil rebahan pula. Gampang banget. Tapi ya masih seperlunya aja. . Pas scrolling sering banget saya masuk-masukin barang ini itu ke keranjang belanja. Njur kesela deadline atau tugas kerjaan, langsung saya tinggal. Eh, pas ditengok lagi… lah barangnya sudah abis, atau program promonya sudah ilang, udah nggak free ongkir, dll yang intinya kudu bayar penuh plus ongkir, plus admin, plus pajak… weslah, saya langsung belok kiri, nggak jadi beli. Haha… 😂 . Lalu saya mikir, itu saya masukin barang ke keranjang belanja niatnya apaan ya? Beneran butuh atau ikut laper mata gegara program promo-promo? Atau rindu sensasi benjol aza? . Apalagi kalau pas di rumah denger teriakan kang paket, penasaran dan kepo; ntar barangnya seindah “fotonya” atau enggak? Atau malah “barang ajaib” yang nggak nyambung sama deskripsi produk yang kita beli. Aneka rasa lah. Kapusan, kecewa, barang nggak dikirim-kirim njur dibatalin sesukanya, barang nggak sesuai foto, dll. Entahlah. . Biar pun kek gitu, ya tetep bae suka benjol. Pas milih barang via benjol, ternyata bisa ngilangin stres. Masalah ntar jadi beli atau nggak ya tergantung duitnya 😂😂 . Ari Kinoysan Wulandari
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil semena-mena dari internet. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tadi malam sebelum tidur, saya sudah ngelist apa yang mau saya kerjakan hari ini. Penulisan. Revisi naskah. Pembayaran. Ketemu orang. Mengirimkan pakaian sangat layak pakai (saya wes gak bisa pakai lagi semata gegara tambah gemoy🤣).
Pagi-pagi saya wes beberes, berbenah. Menulis beberapa yang harus dibereskan. Lalu beralih ke baju-baju yang mau saya sedekahkan, saya masukkan dus sampai penuh. RT tempat saya tinggal sedang ada acara sambut Ramadan; pengumpulan macam-macam untuk baksos (pakaian dll piranti rumah tangga layak pakai, sembako, uang, dll keperluan) dari awal Januari s/d 7 Februari nanti.
Saya ya wes ikut serta ngumpulin baju itu 2x sebelumnya, ya lebih kurang 2 dus. Sithik-sithik ben gak capek bongkar lemari. Beneran malah sama bebersih lemari baju yang embuh kok rasanya nggak muat teruz 🤣 Hari ini pun demikian. Wes cukup penuh dusnya, langsung saya kirim ke tempat pengumpulan.
Nginguk kulkas, inget ada nasi tadi malam. Saya ambil lagi untuk dikasih ke ayam (tetangga). Ayam-ayam di sini yo pinter-pinter. Kalau nasi atau makanan basi yang dikasih, mereka tuh nggak mau makan. Jadi kalau ngasih nasi ya kudu yang sehat, masih layak makan. Saya (kadang) malez bae manasin lagi, lebih memilih masak nasi baru. Dan ayam-ayam itulah penampungnya😂
Saya sempat inguk-inguk sosmed. Beuuh, iklan piknik dari mana-mana muncul 😆😅 Saya sampai mikir, mungkin enak betul ya kalau duit nggak ada serinya tinggal ambil, transfer, debit, nggak pernah habis bisa untuk piknik bebas sepuasnya ke 200-an negara dengan fasilitas dan kondisi terbaik 😃🤩 Hadeuh, suka banget siy saya mimpi di siang bolong 🙈
Aiih, lupakan sejenak urusan piknik yang belum ada duitnya😅😂 Saya pun menelepon CS bank untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan pembayaran publikasi artikel di jurnal internasional. Terlebih karena pembayaran pakai USD, beda benua, pasti ada banyak syarat dan ketentuan, termasuk charge pengiriman.
Ya, setelah menunggu beberapa bulan, tentu saya happy banget dong pas terima surat penerimaan artikel. Termasuk pemberitahuan pembayaran, rekening bank, waktu publikasi. Noted, pada saat submit artikel, saya sudah berusaha memastikan bahwa ini jurnal kredibel, terakreditasi internasional, dll pengecekan standar.
Mbak CS yang suaranya renyah seperti keripik emping melinjo itu, menginfokan beberapa hal yang perlu saya siapkan untuk transfer uang; baik menggunakan rek IDR atau rek USD. Saya nggak perlu ke bank. Kalau kesulitan nanti bisa telpon atau WA untuk dibantu. Kalau mau lebih jelas, saya bisa ke bank.
Wah, saya nyicil ayem. Lumayan gampang prosesnya. Saya mikir akan ke bank saja dan membereskan semuanya hari ini. Ben ndang rampung, sisan cetha kalau duit tabungan saya itu berkurang, ojo mung mikirin piknik bae, Riii… Isih banyak yang perlu duit dan kudu bayar-bayar 😁
Lalu si Mbak CS ini nanya saya lagi, akan mau mengirim ke siapa (apakah institusi atau perseorangan), no rek berapa, berapa USD yang akan ditransfer, dan untuk keperluan apa. Dia akan membantu melakukan pengecekan bahwa si penerima adalah “real”. Mungkin kalau sesama bank bisa melakukan crosscheck ya satu sama lain untuk mendapatkan info yang benar.
Saya lalu memberikan detail info yang diminta. Si Mbak CS meminta saya menutup telpon dulu dan nanti maksimal 30 menit akan telpon saya. Teng tong… nggak sampai 15 menit, si Mbak wes telpon lagi.
“Bu Ari, ini nama sama, tapi alamat dan no rek berubah-ubah terindikasi penipuan. Silakan cek link jurnal yang saya kirim via WA, itu yang benar. Link yang ibu kirim untuk cc tembusan alamat pengiriman, itu link palsu yang dibuat sama persis seperti aslinya; hanya beda alamat. Kalau tidak cermat, pasti ketipu. Ibu tidak usah kirim uang karena jurnalnya abal-abal. Jurnal aslinya nama sama, dengan alamat link yang saya kirim, Bu. Itu link yang terintegrasi dengan penerbit dan universitas yang menaunginya.”
Saya wes langsung lemas, bengong beberapa saat. Ya Allah, betapa baiknya Engkau❤❤Maturnuwun atas pertolonganMu❤❤ Kalau saya nggak nanya-nanya dulu, pasti bablas kirim uang via non bank sesuai permintaan officer jurnal abal-abal ini dan sesudah kirim uangnya, pasti gak bisa ditarik balik. Amblazlah uang itu.
Jujurly, saya kecewa dan sedih lho sampai beberapa menit. Ya Allah, saya wes hati-hati saja masih nyaris kena jurnal abal-abal gini. Apalagi mereka yang serampangan buru-buru kemrungsung pokok publikasi njur akhirnya menangis darah kehilangan puluhan juta, duit utangan pula 😭Tapi ya sudah, saya pilih mensyukuri saja kebaikannya. Sekurangnya duit hampir 1000 USD itu terselamatkan. Alhamdulillah.❤
Saya yakin ini bukan karena “kehatian-hatian” saja, tapi jelas lebih karena sedekah pagi-pagi yang saya lakukan. Ikhlas tenan. Dan seperti terngiang-ngiang kata Ustadzah di depan Masjid Nabawi ketika kami berhasil ke Raudah dan selow 30 menitan lebih di areal rumah Nabi Muhammad SAW hingga puas doa, ibadah, nangis-nangis. “Pasti uang yang dipakai berasal dari sumber rezeki yang halal. Kalau uang halal itu mudah untuk ibadah dan biasanya bertahan lama, nggak mudah habis atau hilang.” Wallahua’lam.
Saya njur mikir, publikasi artikel internasional ke mana lagi ya yang waktunya nggak perlu tetahunan dan biayanya (sekurangnya masih cukup sanggup) saya bayar tanpa beribetan dengan sistem administrasi keuangan kampus? Heish, minta ganti charge publikasi ke kampus, laporannya sebejibun mumet, duitnya cair itu embuh kapan suka-suka mereka bae. Pasti diberikan, tapi waktunya itu yang embuh kapan 😅
Eh tapi yang begini, saya yakin nggak cuma kampus saya aja kok. Ada banyak yang lebih parah. Jadi saya slow motion tenan, pilih pilih publikasi internasional yang charge ringan dan kalau kampus menggantinya embuh kapan itu, nggak bikin budgeting saya rieweuh sana sini. Hidup kadang memang mung soal petang-petung uang kan 🤣
Melati Belanda depan rumah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pas pemilik rumah datang setelah rumahnya saya beli, beliau bilang, “Rumahnya jadi adem, Mbak Ari.” . Pikir saya beliau berdua dari luar di siang terik. Walau bermobil AC, tetap beda dengan duduk di rumah dengan pintu jendela terbuka.❤ . Berbanyak kawan datang, pun begitu. Adik saya, “Sebelum Mbak Ari tinggal, aku takut ke sini. Serem dan bikin emosi. Sekarang adem, aku bisa tidur pules.”❤ . Alhamdulillah. Dulu, dengan keadaan seadanya dan perabotan urgent, saya pindah. Lha wes beli rumah mosok nggak ditinggali. Tanpa pagar depan, gersang pasir, lantai atas pun terbuka. Orang loncat genteng bisa masuk rumah. Mesin sumur rusak, lampu ndak ada, korden ndak ada, kunci-kunci nggak fungsi dan banyak lagi yang kudu diberesi. Itu semua berarti pengeluaran.😃 . Kok saya beli ndak mikir ini. Belum lagi omongan tetangga tentang kisah horor. Rumah sebelah kosong 10 tahun, bikin saya makin jiper 😆 Saya pun bismillah. Minta perlindungan Gusti Allah.❤ . Pas saya mo beli taneman, nanya temen-temen deket yang harga murah. Mereka bilang nggak usah beli dan janji bawain dari rumahnya. Begitulah tanaman dari mereka tumbuh subur. Beberapa saya minta pas ke rumah teman (tanemannya melimpah dan nggak jualan taneman), beberapa saya barter.❤ . Sedikit demi sedikit saya masang pagar, pelindung lantai atas, pengaman tangga, dll. Isi rumah? Ya diisi pas ada rezeki. Tapi ya gitu, ada temen datang njur beliin meja makan. Ada yang nanya mau rak buku besar dan mengirim. Ada klien dateng, lalu transfer dan minta saya beli kursi teras; dll. Rumah ini seperti memberesi dirinya sendiri.❤ . Rumah saya njelik ndeso, tapi menteri, bupati, rektor, guru besar, dll orang penting datang berkaitan dengan gaweyan saya. Rezeki sering datang tidak terduga. Tetangga pun baik. Alhamdulillah ❤ . Adik saya tanya, rumahnya dikasih apa kok berkah. Saya bilang: selalu bersyukur, dipakai sholat, ngaji; kalau ada orang bertamu, mereka kudu pulang dengan tangan berisi.❤ . Bagaimana dengan rumahmu? Jadikan rumahmu berkah dengan bersyukur tiap saat. Biar rezeki mudah datang. Para penghuni rumah pun sehat dan happy ❤
Ka’bah yang jadi kiblat ibadah umat Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hari ini sejak pagi saya wes menulis. Cukup banyak lembaran berganti. Kalau kemarin masih setengah mageran, banyak nonton, sedikit nulis. Saya maklumi saja. Ada masanya yo malez juga 😆
Eh lha pas break nulis kok ya timeline sosmed saya isinya seliweran foto-foto Baitullah. Wah, rindu saya pun menjadi-jadi. Ya Allah, rasanya pingin nangis aja dan ya nggak sadar saya wes nangis beneran. Rasa rindu yang nggak karuan mendesak-desak untuk segera kembali ke Tanah Suci 😭
Saya, seperti juga jutaan umat Islam di seluruh dunia, Baitullah bukan sekadar sebuah tempat fisik. Ini jadi simbol cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Setiap detik, ratusan bahkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berdoa, bersujud, menangis, dan bermunajat di depan Ka’bah, menyampaikan segala harapan, keluh kesah, dan rasa syukur.
Baitullah menjadi pusat spiritual yang memanggil hati setiap Muslim, mengingatkan mereka pada tujuan hidup sejati: kembali kepada Allah.
Kerinduan kepada Baitullah adalah rindu yang tak terdefinisikan. Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, Baitullah terasa seperti mimpi yang selalu dirajut dalam doa.
Harapan untuk bisa bersujud di sana, merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram, serta menyaksikan keagungan Ka’bah adalah cita-cita yang terpatri dalam hati.
Sementara bagi mereka yang pernah menjadi tamu Allah, kerinduan itu tak pernah pudar, bahkan sering kali semakin membara setelah kepulangan mereka.
Mengapa rindu kepada Baitullah begitu mendalam? Sebagian mungkin berkata bahwa tempat ini adalah pusat dari semua doa, kiblat yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia.
Namun lebih dari itu, berada di depan Ka’bah memberikan rasa tenang yang tak tergantikan. Di tengah kesibukan dunia yang sering kali membuat hati gersang, Baitullah hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.
Beribadah di Tanah Suci juga mengajarkan makna kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa.
Semua mengenakan pakaian yang sama, memusatkan hati hanya kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, semua manusia berdiri sejajar, merasakan kebesaran Allah yang Maha Esa.
Kerinduan kepada Baitullah bukan hanya soal ingin berada di sana secara fisik, tetapi juga panggilan hati untuk selalu mendekat kepada Allah.
Bahkan, bagi yang belum memiliki kesempatan untuk datang, doa dan zikir yang diucapkan dengan tulus sudah menjadi jalan untuk merasakan kehadiran-Nya.
Baitullah adalah tempat yang mengajarkan kita untuk melepaskan ego, memohon ampunan, dan menemukan ketenangan sejati.
Rindu ini tak akan pernah bertepi, karena ia bersumber dari cinta kepada Sang Pemilik Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya, menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, dan merasakan nikmatnya bersujud di depan Baitullah. Amin.
Flaurent Salon. Tempat langganan saya sejak tahun 2010-an untuk perawatan badan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Libur panjang Sabtu s/d Rabu atau lima hari, bagi orang Jogja kayaknya biasa aja. Sedari pagi saya keluar rumah, melihat toko-toko kelontong yo tetep buka. Orang jualan hilir mudik. Yang punya usaha bengkel, service laptop, kerajinan, dll ya tetep buka. Nggak libur. Apalagi mereka yang bisnisnya di dunia pariwisata. Libur panjang waktunya meraup rezeki nomplok.
Rencananya pas liburan panjang ini, saya mo jagain tukang yang akan beberes beberapa bagian di rumah. Cuman karena tukangnya lagi dipake di rumah mertua adik saya, dengan gaweyan yang lebih urgent, jadi tempat saya pun mundur.
Berusaha cari tiket pulang kampung yang sesuai kantong saya kok wes amblaz. Iyalah, libur gini kan kudunya pesen tiket dari jauh hari. Dadakan adanya ya harga-harga yang masih terasa eman-eman kalau saya bayar 😂
Ibu saya justru bilang nggak usah pulang. Ntar sekalian aja pas ruwahan; nyekar, ikut selamatan, mandi adat, persiapan Ramadan. Jadi saya pun segera mengganti acara. Menikmati hidup, menyenangkan diri sendiri.
Saya reservasi untuk perawatan badan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Massage seluruh badan selama 1 jam, body spa, hair spa dan perawatan rambut, facial dan totok wajah, ratus, plus meni pedi. Komplit dan suwe.
Hampir seharian saya di Flaurent Salon. Tempat yang wes jadi langganan saya sejak 2010-an saat saya kudu bolak-balik Jogja Jakarta. Terutama untuk massage seluruh badan. Sungguh pas dan cocok di tubuh saya.
Saya mensyukuri berkat Tuhan pada hidup saya dengan cara merawatnya baik-baik. Makan sehat, hidup sehat, olahraga, check up kesehatan, laku ibadah, piknik, meditasi, dll aktivitas positif yang saya pahami sebagai wujud terima kasih saya atas semua anugerahNya.
Wajah saya jelas nggak secantik artis-artis ibukota. Tubuh dan postur saya jelas jauh dari kategori ideal, apalagi kelas peragawati. Toh semua yang diberikan Tuhan itu sungguh luar biasa.
Tubuh dan fisik keseluruhan yang sudah “sempurna” membawa saya menjalani hidup hingga nyaris paroh abad ini. Luar biasa dengan beragam jatuh bangun ekonomi dan masalah kehidupan; tubuh fisik, mental, spiritual saya tetap kokoh kuat, jarang sakit yang beribetan. Ya kalau sakit ringan, capek, drop karena beda cuaca, dll itu jelas wajar. Manusia ini, bukan robot.
Dan saya yakin, di luar semua penjagaan diri yang saya lakukan; yang terbesar adalah “penerimaan” dan “syukur” saya atas apapun yang terjadi dalam hidup. Pahit getir beratnya masa lalu, kalau sekarang saya ingat, kok ya baik-baik aja.
Lepas perawatan yang bikin badan saya enteng dan rileks; saya makan sate, gule, tongseng, kronyosan, sekomplitnya. Sampai beberapa orang melongok ke arah saya makan. Mungkin karena banyak macam porsi saya pesan dan nggak ada orang lain.
Habis? Ya jelas, saya kan bisa mengukur seberapa banyak porsi yang bisa saya habiskan. Lagi pula porsi sate dll olahan kambing di Jogja itu kan mung sithik-sithik. Sate aja seporsi isinya cuman 2 tusuk, tiap tusuk dagingnya mung 3 potong pulaaak. Mana cukup buat pecinta sate kek saya 😂
Dan syukur alhamdulillah, saya masih boleh bebas makan semua olahan daging dll dengan kandungan kolesterol atau asam urat tinggi tanpa khawatir. Teman-teman sebaya banyak yang iri dengan kondisi saya ini 😅
Habis itu saya nylingker ke supermarket. Belanja camilan, makanan frozenan, buah-buahan, dan aneka isian kulkas. Nggo bahan bakar saat saya “bertapa” beberapa hari untuk merampungkan tulisan pribadi saya. Novel yang sudah lama belum kelar 😆😅 dan tentu gaweyan kruncilan yang belum beres.
Untung minggu kemarin saya wes ke Bromo dengan sukacita. Energi kegembiraan itu terasa masih melimpah ruah. Menulis dalam suasana hati gembira itu hasilnya beda. Tenan.
Setelah itu ngapain? Yo pulanglah. Mosok thenguk-thenguk di tempat belanja? Kek kurang kerjaan bae 🤣 Sampai di rumah, saya memasukkan semua belanjaan ke tempatnya dan bersiap memulai long weekend dengan menulis. Pasti kesela juga nonton serial, entah dracin, drakor, atau film film lepas.
Jadi kalau kamu long weekend di rumah aja, menghindari keribetan ramenya jalanan karena liburan atau alasan lain, yo santai aja. Cari aktivitas yang positif.
Misalnya beberes dan bebersih rumah. Main dengan keluarga di sekitaran aja. Bikin acara masak bersama. Nobar di rumah dengan desain ala bioskop. Beresin gaweyan yang ketunda. Baca buku-buku. Dll.
Intinya, versi saya long weekend ya nggak selalu kita harus ikut arus keluar rumah untuk piknik. Yang penting nikmati hidupmu, syukuri berkatmu, dan sehat-happy selalu ❤️
Ini TL Ceria yang mengawal pas saya ikut trip ke Magelang, Pacitan, dan Bromo. Saya memanggilnya Mas Brian. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya ikut open trip (OT) Ceria pertama itu ke Magelang, karena mereka punya destinasi Nepal van Java. Waktu itu ya belum kenal, cuman lihat foto-fotonya bagus (maturnuwun Mas Shidiq dan Mas Gama), terus respon adminnya cepat. Ditanyain apa-apa paham dan kesan positif.
Ya wes, saya bayar DP nya (ya ampun, di Ceria itu dengan trip yang istimewa, bayarnya ringan masih boleh dicicil pulak); dan saya lunasi pas berangkat. Karena ya belum kenal toh. Dalam hati saya, kalau ada apa-apa sekurangnya daerah Magelang masih kejangkau kalau saya pulang pake mobil online.
Alhamdulillah, saya happy gembira pas ke Nepal van Java meskipun ya gempor tenan kaki saya 😆😂 Fotonya bagus-bagus. Tripnya seru dan fun. Pas itu grup saya generasi kasepuhan, isinya orang 60-65 tahun yang memang doyan piknik. Jadi saya berasa malu kan, kalau saya nggak sekuat mereka yang jalan sampai ujung atas Nepal van Java.
Kedua ke Pacitan. Karena wes kenal di sini saya bayar bae langsung lunas, termasuk yang ke Bromo. Versi saya, trip ke Pacitan ini lebih seru karena orangnya lebih banyak. Susur sungai Maron yang eksoktis dan eksplore Goa Gong yang bikin lelah jiwa raga dan berasa ploooong banget begitu keluar dari goa. Seru, lucu lucu juga pose foto-fotonya dan menyenangkan.
Ketiga ke Bromo. Seru dan fun-fun aja meskipun ada gangguan di bus dan jeep. Kekuatan jalan tiap orang yang nggak sama aja yang bikin sedikit tersendat. Tetap versi saya, trip ke Bromo menyenangkan secara keseluruhan.
Saya malah sempat rerasan dengan Pak Chin, kalau nggak bisa ngitung gimana OT Ceria mo untung 😅😂 Lha kita naik kereta bisnis aja Jogja Malang PP wes sekira 700 an rb lebih. Naik bus sendiri aja juga sudah berapa. Mumet mikirin untuk ngatur semuanya.
Kawan yang lain bilang karena baru pertama ikut Ceria, dia milih karena OT Ceria paling murah dan paling banyak destinasi wisata dibandingkan lainnya. Wah, kalau ini jelas newbie tenan. Kita kalau yang wes biasa jalan pake biro, harga murah itu satu point; tapi profesionalisme dan baiknya layanan yang terjamin aman nyaman, itu lebih penting.
Dan OT Ceria memenuhi kategori layak untuk semua layanannya sedari awal. Waktu saya masih nanya-nanya dulu itu, terasa banget kalau adminnya hanya ingin memberikan info yang jelas. Dia nggak terpikir apakah saya akan join atau enggak. Dia wes profesional, memberikan info yang saya perlukan dengan cepat, praktis, solutif.
Masalah biaya ringan, isih bisa dicicil dengan layanan prima, itu juga jadi pilihan saya untuk kembali pake OT Ceria. Ke Dieng belum pernah pake, karena saya wes bolak-balik ke daerah ini. Tapi yo mungkin nanti bisa ikut lah kalau waktunya cocok. Hobinya di Ceria ini kan trekking yang bikin kaki kuat, hahaha😂
Berikutnya, OT Ceria ini menawarkan destinasi yang nggak semua biro ada. Ke Magelang, cek saja nggak semua bawa kita ke Nepal van Java. Medan sulit, biaya besar. Ke Pacitan ada sungai Maron, ini yo eksplore nggak murah terus cukup berisiko.
Bromo ada destinasi ke Kawah, itu kalau saya pribadi tepat waktu, pasti sampai ke sana juga. Mung wes gempor habis energi saya di Seruni. Juga karena perjalanan panjangnya dari Jogja ke TKP itu saja wes makan energi.
Lainnya, oh semua kru baik, tanggap, responsif. Dan terutama versi saya yang terpenting; nggak kacang. Tahu kacang? Itu singkatan omongan Jawa untuk kakehan cangkem atau terlalu banyak bicara. Kru Ceria rerata mereka tenang. Sedikit bicara, banyak kerja. Orientasi pada peserta tour sangat besar.
Foto-foto dan dokumentasi video bagus, tanpa charge tambahan. Wah, itu sungguh menyenangkan sekali 😀 Nggak ada biaya tambahan apa-apa di luar yang tercantum; kecuali wes diterangkan.
Info apapun seputar trip sangat cepat dan jelas. Orang mudah mengikuti dan bisa menghitung memperkirakan sesuai keperluan masing-masing.
Hal lain lagi, tepat waktu. Kalau banyak orang selisih 15-30 menit itu sudah pasti masuk toleransi trip. Dan itu biasanya karena kami pesertanya, bukan dari biro atau timnya.
Tim Ceria juga fleksibel. Saya boleh minta dipick up searah jalan kendaraan, pun turun di tempat yang lebih dekat dengan rumah. Tinggal bilang saja ke TL dan semua beres sudah. Menghemat waktu, menghemat biaya.
Request tertentu karena kondisi masing-masing peserta berbeda, juga direspon dengan baik. Misalnya saya pilih makan ikan daripada ayam dan atau sebaliknya. Semua diurus dengan baik.
Komplain atas ketidaknyamanan juga direspon dengan baik, solutif, profesional. Tanpa ada kesan menghakimi peserta. Kadang-kadang, sebaik apapun biro mempersiapkan segala sesuatu untuk trip, ada saja yang terlewat dan selama masih wajar, itu juga harus dimaklumi oleh peserta.
Beli oleh-oleh? Ada waktu, tempat, dan direkomendasikan apa saja yang khas dengan kualitas terbaik. Sungguh menyenangkan bagi mereka yang mau belanja-belinji.
Secara pribadi saya berterimakasih atas OT yang dibuka oleh Ceria. Pengalaman yang menyenangkan, fun, seru, meskipun saya pergi sendiri. Harga terjangkau, banyak pilihan trip, jadwal sudah ready, dokumentasi, dll layanan yang semua bagus.
Ikut saja kalau kamu malas mikirin tripmu. Pilih destinasi, jadwal trip, bayar, bawa badan, berangkat dan have fun😀 Oh iya, kamu juga bisa request ke mereka misalnya komunitasmu, keluargamu, dll konco-koncomu, mo piknik ke mana dengan budget tertentu. Minta saja sama mereka, pasti direspon dengan baik.
Sekali lagi, Terimakasih Ceria. Semoga terus menjaga kualitas layanan dan pembukaan trip-trip baru yang memanjakan mereka yang doyan piknik dengan harga terjangkau dan aman nyaman. ❤
Oke, sahabat-sahabat semuanya. Saya cukupkan catatan dolan saya ke Bromo. Maturnuwun, Terimakasih sudah menyimak dan sampai jumpa di catatan dolan saya berikutnya. Happy Travelling ❤
Ini lokasi saya masih di sekitaran puncak Seruni. Jalannya menurun, lebih “berbahaya” daripada saat naik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sebelum pandemi (awal tahun 2020) saya terbiasa pergi dengan 1 atau 2 sahabat. Zaman itu belum begitu banyak biro yang bikin open trip (OT). Kami lebih sering arrange mau ke mana, kapan, budgeting. Lalu berbagi tugas, siapa yang pesan hotel/pesawat, transport/makan/tiket wisata/fotografer dll. atau memilih biro.
Kalau berbagi tugas, di awal kami sudah ngumpulin uang “iuran” untuk segala sesuatu yang perlu dibayar awal. Kami memilih 1 bendahara yang pegang duit tunai. Pas tiba di lokasi, dialah yang bayarin tiket wisata, makan di tempat, charge foto dadakan, tips dan bayar guide di lokasi, bayar toilet pun dia yang kasih duit recehnya.
Kalau uang yang dipegang bendahara mulai menipis, kami iuran lagi. Usai piknik, kami akan membagi uang tersisa atau kasih ke kotak sedekah sesuai kesepakatan.
Begitu dalam waktu lama, bahkan untuk trip-trip yang jauh di pelosok Sumatera atau Kalimantan. Alhamdulillah, saya happy-happy aja. Sampai kemudian, kami pesan trip lewat biro. Ndilalah embuh piye kok jadwal tugas 2 sahabat saya itu berubah dadakan. PNS atau ASN jelas gakbisa sembarangan izin apalagi bolos kalau nggak mau kena surat cinta 😆😅
Padahal saya wes bayar full di biro. Mereka juga sudah hampir lunas. Mau nggak mau saya harus berangkat kalau nggak mau duit ilang melayang. Mereka ya pasti rugi kan duit gak bisa ditarik ulang. Bismillah, saya berangkat. Lho ternyata sendirian ikut OT nggak seserem yang saya pikirkan 😅😂 Saya pun mulai “terbiasa” kalau harus pergi sendiri.
Ikut OT sendirian versi saya, bisa menjadi pengalaman yang seru dan memperluas jaringan pertemanan. Berikut beberapa tips dan trik untuk memastikan sampeyan dapat pengalaman istimewa.
Pertama, pastikan dulu jiwa ragamu sehat kuat. OT sendiri, berarti sampeyan siap menanggung segala sesuatunya sendiri tanpa ada orang yang sampeyan kenal untuk “membantu”. Pastikan cek kesehatanmu.
Saya kalau harus sendiri, ekstra ketat terhadap urusan kesehatan. Seperti pas mau ikut OT Pacitan dengan Ceria, begitu dokter bilang kondisi kesehatan kurang oke, saya pilih mundur saja. Risiko uang hilang itu harus dihadapi, tapi syukur alhamdulillah boleh reschedule di Ceria. Terimakasih ya 😀
Kedua, pilih biro terpercaya. Lakukan cek ricek tentang penyedia OT, baca ulasan dari peserta sebelumnya, dan pastikan mereka memiliki reputasi yang baik. Cek juga itinerary yang sesuai dengan minat dan semua fasilitas yang disediakan.
Ketiga, ketahui siapa yang bertanggung jawab pada OT yang kita pilih. Admin, TL, fotografer atau kameramen, driver/kru transportasi, guide, helper, dll yang bisa kita contact bila ada sesuatu yang kita perlu. Kenali, catat contact mereka.
Keempat, siapkan semua fotokopi dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor. Bawa barang pribadi yang penting seperti obat-obatan, alat mandi, dan pakaian yang sesuai dengan destinasi.
Kelima, kenalan dengan peserta lain. Bersikap ramah dan terbuka akan membuat kita lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak teman baru yang saya peroleh dari OT.
Tapi yo nggak usah memaksakan diri. Kalau di OT, mereka yang pergi dengan partner (entah pacar, gebetan, selingkuhan, pasangan, saudara, anak, keluarga, teman, bestie dll) biasanya nggak mau atau nggak sempat kenalan dengan orang lain. Wes sibuk dengan “dunia mereka” sendiri. Feel free aja, dapat kenalan alhamdulillah. Gak dapat ya tetap enjoy dengan tripnya.
Keenam, bawa uang tunai secukupnya, terutama jika destinasi berada di daerah terpencil yang mungkin tidak memiliki banyak ATM. Hitung berapa budget yang harus disiapkan.
Cek-cek apa yang nggak ditanggung biro, biaya lain yang mungkin ada, budget oleh-oleh dan souvenir, budget wahana yang optional, dan urusan biaya toilet. Eh ini meskipun receh tapi bisa habis banyak lho biaya toilet ini. Pastikan sediakan uang pas, kalau kamu nggak ingin bayar berlipat.
Misalnya charge toilet 2 rb tapi uangmu 5 rb, itu suka dan sering banget lho saya dibilangin nggak ada kembaliannya. Jadi terpaksalah mengikhlaskan 5 rb. Sekali oke, bolakbalik ya berlipat. Jadi pergi OT saya juga nyiapin recehan 2 rb dan 1 rb an untuk urusan ini.
Ketujuh, ikuti dan patuhi aturan yang diberikan oleh penyelenggara trip untuk kenyamanan dan keselamatan semua peserta. Ikuti jadwal yang telah ditentukan agar perjalanan berjalan lancar dan sesuai rencana. Jangan bikin acara sendiri.
Meninggalkan areal, bahkan meskipun ke toilet pastikan izin TL atau sekurangnya ada orang yang kamu pamiti ke mana kamu pergi. Aktifkan HP agar mudah dihubungi bila ada perubahan jadwal mendadak karena force majeur.
Kedelapan, bersikap fleksibel. Bersiaplah untuk situasi yang tidak terduga seperti perubahan cuaca atau jadwal. Bersikap fleksibel akan bikin kita lebih happy. Bila ada waktu luang selama perjalanan, gunakan untuk refleksi pribadi atau menjelajahi tempat sekitar secara mandiri jika memungkinkan.
Kesembilan, jaga komunikasi. Jangan takut bertanya kalau ada yang nggak jelas atau belum paham. Jaga pembicaraan dengan sesama anggota tour. Kalau memerlukan sesuatu, jangan ragu juga bertanya atau meminta pada penanggung jawab OT.
Kesepuluh, jaga barang berharga dan selalu waspada terhadap lingkungan sekitar untuk menghindari kehilangan atau hal yang nggak diinginkan. Bawa selalu tas berisi barang penting bersama sampeyan. Jangan menaruh di kursi kendaraan atau menitipkan pada orang yang sampeyan pun nggak tahu namanya.
Intinya, kalau harus pergi sendiri OT karena beragam sebab; tetap enjoy aja. Ingat untuk bersenang-senang dan menikmati setiap momen dalam perjalanan. Versi saya berada di OT sendirian, itu kesempatan untuk mengeksplorasi dunia dengan cara baru. Dengan mengikuti tips ini, semoga sampeyan dapat ikut OT sendirian dengan lebih percaya diri dan fun.