Baitullah: Rindu Tiada Bertepi

Ka’bah yang jadi kiblat ibadah umat Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hari ini sejak pagi saya wes menulis. Cukup banyak lembaran berganti. Kalau kemarin masih setengah mageran, banyak nonton, sedikit nulis. Saya maklumi saja. Ada masanya yo malez juga 😆

Eh lha pas break nulis kok ya timeline sosmed saya isinya seliweran foto-foto Baitullah. Wah, rindu saya pun menjadi-jadi. Ya Allah, rasanya pingin nangis aja dan ya nggak sadar saya wes nangis beneran. Rasa rindu yang nggak karuan mendesak-desak untuk segera kembali ke Tanah Suci 😭

Saya, seperti juga jutaan umat Islam di seluruh dunia, Baitullah bukan sekadar sebuah tempat fisik. Ini jadi simbol cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta.

Setiap detik, ratusan bahkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berdoa, bersujud, menangis, dan bermunajat di depan Ka’bah, menyampaikan segala harapan, keluh kesah, dan rasa syukur.

Baitullah menjadi pusat spiritual yang memanggil hati setiap Muslim, mengingatkan mereka pada tujuan hidup sejati: kembali kepada Allah.

Kerinduan kepada Baitullah adalah rindu yang tak terdefinisikan. Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, Baitullah terasa seperti mimpi yang selalu dirajut dalam doa.

Harapan untuk bisa bersujud di sana, merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram, serta menyaksikan keagungan Ka’bah adalah cita-cita yang terpatri dalam hati.

Sementara bagi mereka yang pernah menjadi tamu Allah, kerinduan itu tak pernah pudar, bahkan sering kali semakin membara setelah kepulangan mereka.

Mengapa rindu kepada Baitullah begitu mendalam? Sebagian mungkin berkata bahwa tempat ini adalah pusat dari semua doa, kiblat yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia.

Namun lebih dari itu, berada di depan Ka’bah memberikan rasa tenang yang tak tergantikan. Di tengah kesibukan dunia yang sering kali membuat hati gersang, Baitullah hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.

Beribadah di Tanah Suci juga mengajarkan makna kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa.

Semua mengenakan pakaian yang sama, memusatkan hati hanya kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, semua manusia berdiri sejajar, merasakan kebesaran Allah yang Maha Esa.

Kerinduan kepada Baitullah bukan hanya soal ingin berada di sana secara fisik, tetapi juga panggilan hati untuk selalu mendekat kepada Allah.

Bahkan, bagi yang belum memiliki kesempatan untuk datang, doa dan zikir yang diucapkan dengan tulus sudah menjadi jalan untuk merasakan kehadiran-Nya.

Baitullah adalah tempat yang mengajarkan kita untuk melepaskan ego, memohon ampunan, dan menemukan ketenangan sejati.

Rindu ini tak akan pernah bertepi, karena ia bersumber dari cinta kepada Sang Pemilik Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya, menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, dan merasakan nikmatnya bersujud di depan Baitullah. Amin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Long Weekend, Ngapain Aja?

Flaurent Salon. Tempat langganan saya sejak tahun 2010-an untuk perawatan badan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Libur panjang Sabtu s/d Rabu atau lima hari, bagi orang Jogja kayaknya biasa aja. Sedari pagi saya keluar rumah, melihat toko-toko kelontong yo tetep buka. Orang jualan hilir mudik. Yang punya usaha bengkel, service laptop, kerajinan, dll ya tetep buka. Nggak libur. Apalagi mereka yang bisnisnya di dunia pariwisata. Libur panjang waktunya meraup rezeki nomplok.

Rencananya pas liburan panjang ini, saya mo jagain tukang yang akan beberes beberapa bagian di rumah. Cuman karena tukangnya lagi dipake di rumah mertua adik saya, dengan gaweyan yang lebih urgent, jadi tempat saya pun mundur.

Berusaha cari tiket pulang kampung yang sesuai kantong saya kok wes amblaz. Iyalah, libur gini kan kudunya pesen tiket dari jauh hari. Dadakan adanya ya harga-harga yang masih terasa eman-eman kalau saya bayar 😂

Ibu saya justru bilang nggak usah pulang. Ntar sekalian aja pas ruwahan; nyekar, ikut selamatan, mandi adat, persiapan Ramadan. Jadi saya pun segera mengganti acara. Menikmati hidup, menyenangkan diri sendiri.

Saya reservasi untuk perawatan badan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Massage seluruh badan selama 1 jam, body spa, hair spa dan perawatan rambut, facial dan totok wajah, ratus, plus meni pedi. Komplit dan suwe.

Hampir seharian saya di Flaurent Salon. Tempat yang wes jadi langganan saya sejak 2010-an saat saya kudu bolak-balik Jogja Jakarta. Terutama untuk massage seluruh badan. Sungguh pas dan cocok di tubuh saya.

Saya mensyukuri berkat Tuhan pada hidup saya dengan cara merawatnya baik-baik. Makan sehat, hidup sehat, olahraga, check up kesehatan, laku ibadah, piknik, meditasi, dll aktivitas positif yang saya pahami sebagai wujud terima kasih saya atas semua anugerahNya.

Wajah saya jelas nggak secantik artis-artis ibukota. Tubuh dan postur saya jelas jauh dari kategori ideal, apalagi kelas peragawati. Toh semua yang diberikan Tuhan itu sungguh luar biasa.

Tubuh dan fisik keseluruhan yang sudah “sempurna” membawa saya menjalani hidup hingga nyaris paroh abad ini. Luar biasa dengan beragam jatuh bangun ekonomi dan masalah kehidupan; tubuh fisik, mental, spiritual saya tetap kokoh kuat, jarang sakit yang beribetan. Ya kalau sakit ringan, capek, drop karena beda cuaca, dll itu jelas wajar. Manusia ini, bukan robot.

Dan saya yakin, di luar semua penjagaan diri yang saya lakukan; yang terbesar adalah “penerimaan” dan “syukur” saya atas apapun yang terjadi dalam hidup. Pahit getir beratnya masa lalu, kalau sekarang saya ingat, kok ya baik-baik aja.

Lepas perawatan yang bikin badan saya enteng dan rileks; saya makan sate, gule, tongseng, kronyosan, sekomplitnya. Sampai beberapa orang melongok ke arah saya makan. Mungkin karena banyak macam porsi saya pesan dan nggak ada orang lain.

Habis? Ya jelas, saya kan bisa mengukur seberapa banyak porsi yang bisa saya habiskan. Lagi pula porsi sate dll olahan kambing di Jogja itu kan mung sithik-sithik. Sate aja seporsi isinya cuman 2 tusuk, tiap tusuk dagingnya mung 3 potong pulaaak. Mana cukup buat pecinta sate kek saya 😂

Dan syukur alhamdulillah, saya masih boleh bebas makan semua olahan daging dll dengan kandungan kolesterol atau asam urat tinggi tanpa khawatir. Teman-teman sebaya banyak yang iri dengan kondisi saya ini 😅

Habis itu saya nylingker ke supermarket. Belanja camilan, makanan frozenan, buah-buahan, dan aneka isian kulkas. Nggo bahan bakar saat saya “bertapa” beberapa hari untuk merampungkan tulisan pribadi saya. Novel yang sudah lama belum kelar 😆😅 dan tentu gaweyan kruncilan yang belum beres.

Untung minggu kemarin saya wes ke Bromo dengan sukacita. Energi kegembiraan itu terasa masih melimpah ruah. Menulis dalam suasana hati gembira itu hasilnya beda. Tenan.

Setelah itu ngapain? Yo pulanglah. Mosok thenguk-thenguk di tempat belanja? Kek kurang kerjaan bae 🤣 Sampai di rumah, saya memasukkan semua belanjaan ke tempatnya dan bersiap memulai long weekend dengan menulis. Pasti kesela juga nonton serial, entah dracin, drakor, atau film film lepas.

Jadi kalau kamu long weekend di rumah aja, menghindari keribetan ramenya jalanan karena liburan atau alasan lain, yo santai aja. Cari aktivitas yang positif.

Misalnya beberes dan bebersih rumah. Main dengan keluarga di sekitaran aja. Bikin acara masak bersama. Nobar di rumah dengan desain ala bioskop. Beresin gaweyan yang ketunda. Baca buku-buku. Dll.

Intinya, versi saya long weekend ya nggak selalu kita harus ikut arus keluar rumah untuk piknik. Yang penting nikmati hidupmu, syukuri berkatmu, dan sehat-happy selalu ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (10) Terimakasih, Ceria ❤

Ini TL Ceria yang mengawal pas saya ikut trip ke Magelang, Pacitan, dan Bromo. Saya memanggilnya Mas Brian. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya ikut open trip (OT) Ceria pertama itu ke Magelang, karena mereka punya destinasi Nepal van Java. Waktu itu ya belum kenal, cuman lihat foto-fotonya bagus (maturnuwun Mas Shidiq dan Mas Gama), terus respon adminnya cepat. Ditanyain apa-apa paham dan kesan positif.

Ya wes, saya bayar DP nya (ya ampun, di Ceria itu dengan trip yang istimewa, bayarnya ringan masih boleh dicicil pulak); dan saya lunasi pas berangkat. Karena ya belum kenal toh. Dalam hati saya, kalau ada apa-apa sekurangnya daerah Magelang masih kejangkau kalau saya pulang pake mobil online.

Alhamdulillah, saya happy gembira pas ke Nepal van Java meskipun ya gempor tenan kaki saya 😆😂 Fotonya bagus-bagus. Tripnya seru dan fun. Pas itu grup saya generasi kasepuhan, isinya orang 60-65 tahun yang memang doyan piknik. Jadi saya berasa malu kan, kalau saya nggak sekuat mereka yang jalan sampai ujung atas Nepal van Java.

Kedua ke Pacitan. Karena wes kenal di sini saya bayar bae langsung lunas, termasuk yang ke Bromo. Versi saya, trip ke Pacitan ini lebih seru karena orangnya lebih banyak. Susur sungai Maron yang eksoktis dan eksplore Goa Gong yang bikin lelah jiwa raga dan berasa ploooong banget begitu keluar dari goa. Seru, lucu lucu juga pose foto-fotonya dan menyenangkan.

Ketiga ke Bromo. Seru dan fun-fun aja meskipun ada gangguan di bus dan jeep. Kekuatan jalan tiap orang yang nggak sama aja yang bikin sedikit tersendat. Tetap versi saya, trip ke Bromo menyenangkan secara keseluruhan.

Saya malah sempat rerasan dengan Pak Chin, kalau nggak bisa ngitung gimana OT Ceria mo untung 😅😂 Lha kita naik kereta bisnis aja Jogja Malang PP wes sekira 700 an rb lebih. Naik bus sendiri aja juga sudah berapa. Mumet mikirin untuk ngatur semuanya.

Kawan yang lain bilang karena baru pertama ikut Ceria, dia milih karena OT Ceria paling murah dan paling banyak destinasi wisata dibandingkan lainnya. Wah, kalau ini jelas newbie tenan. Kita kalau yang wes biasa jalan pake biro, harga murah itu satu point; tapi profesionalisme dan baiknya layanan yang terjamin aman nyaman, itu lebih penting.

Dan OT Ceria memenuhi kategori layak untuk semua layanannya sedari awal. Waktu saya masih nanya-nanya dulu itu, terasa banget kalau adminnya hanya ingin memberikan info yang jelas. Dia nggak terpikir apakah saya akan join atau enggak. Dia wes profesional, memberikan info yang saya perlukan dengan cepat, praktis, solutif.

Masalah biaya ringan, isih bisa dicicil dengan layanan prima, itu juga jadi pilihan saya untuk kembali pake OT Ceria. Ke Dieng belum pernah pake, karena saya wes bolak-balik ke daerah ini. Tapi yo mungkin nanti bisa ikut lah kalau waktunya cocok. Hobinya di Ceria ini kan trekking yang bikin kaki kuat, hahaha😂

Berikutnya, OT Ceria ini menawarkan destinasi yang nggak semua biro ada. Ke Magelang, cek saja nggak semua bawa kita ke Nepal van Java. Medan sulit, biaya besar. Ke Pacitan ada sungai Maron, ini yo eksplore nggak murah terus cukup berisiko.

Bromo ada destinasi ke Kawah, itu kalau saya pribadi tepat waktu, pasti sampai ke sana juga. Mung wes gempor habis energi saya di Seruni. Juga karena perjalanan panjangnya dari Jogja ke TKP itu saja wes makan energi.

Lainnya, oh semua kru baik, tanggap, responsif. Dan terutama versi saya yang terpenting; nggak kacang. Tahu kacang? Itu singkatan omongan Jawa untuk kakehan cangkem atau terlalu banyak bicara. Kru Ceria rerata mereka tenang. Sedikit bicara, banyak kerja. Orientasi pada peserta tour sangat besar.

Foto-foto dan dokumentasi video bagus, tanpa charge tambahan. Wah, itu sungguh menyenangkan sekali 😀 Nggak ada biaya tambahan apa-apa di luar yang tercantum; kecuali wes diterangkan.

Info apapun seputar trip sangat cepat dan jelas. Orang mudah mengikuti dan bisa menghitung memperkirakan sesuai keperluan masing-masing.

Hal lain lagi, tepat waktu. Kalau banyak orang selisih 15-30 menit itu sudah pasti masuk toleransi trip. Dan itu biasanya karena kami pesertanya, bukan dari biro atau timnya.

Tim Ceria juga fleksibel. Saya boleh minta dipick up searah jalan kendaraan, pun turun di tempat yang lebih dekat dengan rumah. Tinggal bilang saja ke TL dan semua beres sudah. Menghemat waktu, menghemat biaya.

Request tertentu karena kondisi masing-masing peserta berbeda, juga direspon dengan baik. Misalnya saya pilih makan ikan daripada ayam dan atau sebaliknya. Semua diurus dengan baik.

Komplain atas ketidaknyamanan juga direspon dengan baik, solutif, profesional. Tanpa ada kesan menghakimi peserta. Kadang-kadang, sebaik apapun biro mempersiapkan segala sesuatu untuk trip, ada saja yang terlewat dan selama masih wajar, itu juga harus dimaklumi oleh peserta.

Beli oleh-oleh? Ada waktu, tempat, dan direkomendasikan apa saja yang khas dengan kualitas terbaik. Sungguh menyenangkan bagi mereka yang mau belanja-belinji.

Secara pribadi saya berterimakasih atas OT yang dibuka oleh Ceria. Pengalaman yang menyenangkan, fun, seru, meskipun saya pergi sendiri. Harga terjangkau, banyak pilihan trip, jadwal sudah ready, dokumentasi, dll layanan yang semua bagus.

Ikut saja kalau kamu malas mikirin tripmu. Pilih destinasi, jadwal trip, bayar, bawa badan, berangkat dan have fun😀 Oh iya, kamu juga bisa request ke mereka misalnya komunitasmu, keluargamu, dll konco-koncomu, mo piknik ke mana dengan budget tertentu. Minta saja sama mereka, pasti direspon dengan baik.

Sekali lagi, Terimakasih Ceria. Semoga terus menjaga kualitas layanan dan pembukaan trip-trip baru yang memanjakan mereka yang doyan piknik dengan harga terjangkau dan aman nyaman. ❤

Oke, sahabat-sahabat semuanya. Saya cukupkan catatan dolan saya ke Bromo. Maturnuwun, Terimakasih sudah menyimak dan sampai jumpa di catatan dolan saya berikutnya. Happy Travelling ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (9) Kalau Kamu Ikut Open Trip Sendirian

Ini lokasi saya masih di sekitaran puncak Seruni. Jalannya menurun, lebih “berbahaya” daripada saat naik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebelum pandemi (awal tahun 2020) saya terbiasa pergi dengan 1 atau 2 sahabat. Zaman itu belum begitu banyak biro yang bikin open trip (OT). Kami lebih sering arrange mau ke mana, kapan, budgeting. Lalu berbagi tugas, siapa yang pesan hotel/pesawat, transport/makan/tiket wisata/fotografer dll. atau memilih biro.

Kalau berbagi tugas, di awal kami sudah ngumpulin uang “iuran” untuk segala sesuatu yang perlu dibayar awal. Kami memilih 1 bendahara yang pegang duit tunai. Pas tiba di lokasi, dialah yang bayarin tiket wisata, makan di tempat, charge foto dadakan, tips dan bayar guide di lokasi, bayar toilet pun dia yang kasih duit recehnya.

Kalau uang yang dipegang bendahara mulai menipis, kami iuran lagi. Usai piknik, kami akan membagi uang tersisa atau kasih ke kotak sedekah sesuai kesepakatan.

Begitu dalam waktu lama, bahkan untuk trip-trip yang jauh di pelosok Sumatera atau Kalimantan. Alhamdulillah, saya happy-happy aja. Sampai kemudian, kami pesan trip lewat biro. Ndilalah embuh piye kok jadwal tugas 2 sahabat saya itu berubah dadakan. PNS atau ASN jelas gakbisa sembarangan izin apalagi bolos kalau nggak mau kena surat cinta 😆😅

Padahal saya wes bayar full di biro. Mereka juga sudah hampir lunas. Mau nggak mau saya harus berangkat kalau nggak mau duit ilang melayang. Mereka ya pasti rugi kan duit gak bisa ditarik ulang. Bismillah, saya berangkat. Lho ternyata sendirian ikut OT nggak seserem yang saya pikirkan 😅😂 Saya pun mulai “terbiasa” kalau harus pergi sendiri.

Ikut OT sendirian versi saya, bisa menjadi pengalaman yang seru dan memperluas jaringan pertemanan. Berikut beberapa tips dan trik untuk memastikan sampeyan dapat pengalaman istimewa.

Pertama, pastikan dulu jiwa ragamu sehat kuat. OT sendiri, berarti sampeyan siap menanggung segala sesuatunya sendiri tanpa ada orang yang sampeyan kenal untuk “membantu”. Pastikan cek kesehatanmu.

Saya kalau harus sendiri, ekstra ketat terhadap urusan kesehatan. Seperti pas mau ikut OT Pacitan dengan Ceria, begitu dokter bilang kondisi kesehatan kurang oke, saya pilih mundur saja. Risiko uang hilang itu harus dihadapi, tapi syukur alhamdulillah boleh reschedule di Ceria. Terimakasih ya 😀

Kedua, pilih biro terpercaya. Lakukan cek ricek tentang penyedia OT, baca ulasan dari peserta sebelumnya, dan pastikan mereka memiliki reputasi yang baik. Cek juga itinerary yang sesuai dengan minat dan semua fasilitas yang disediakan.

Ketiga, ketahui siapa yang bertanggung jawab pada OT yang kita pilih. Admin, TL, fotografer atau kameramen, driver/kru transportasi, guide, helper, dll yang bisa kita contact bila ada sesuatu yang kita perlu. Kenali, catat contact mereka.

Keempat, siapkan semua fotokopi dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor.
Bawa barang pribadi yang penting seperti obat-obatan, alat mandi, dan pakaian yang sesuai dengan destinasi.

Kelima, kenalan dengan peserta lain.
Bersikap ramah dan terbuka akan membuat kita lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak teman baru yang saya peroleh dari OT.

Tapi yo nggak usah memaksakan diri. Kalau di OT, mereka yang pergi dengan partner (entah pacar, gebetan, selingkuhan, pasangan, saudara, anak, keluarga, teman, bestie dll) biasanya nggak mau atau nggak sempat kenalan dengan orang lain. Wes sibuk dengan “dunia mereka” sendiri. Feel free aja, dapat kenalan alhamdulillah. Gak dapat ya tetap enjoy dengan tripnya.

Keenam, bawa uang tunai secukupnya, terutama jika destinasi berada di daerah terpencil yang mungkin tidak memiliki banyak ATM. Hitung berapa budget yang harus disiapkan.

Cek-cek apa yang nggak ditanggung biro, biaya lain yang mungkin ada, budget oleh-oleh dan souvenir, budget wahana yang optional, dan urusan biaya toilet. Eh ini meskipun receh tapi bisa habis banyak lho biaya toilet ini. Pastikan sediakan uang pas, kalau kamu nggak ingin bayar berlipat.

Misalnya charge toilet 2 rb tapi uangmu 5 rb, itu suka dan sering banget lho saya dibilangin nggak ada kembaliannya. Jadi terpaksalah mengikhlaskan 5 rb. Sekali oke, bolakbalik ya berlipat. Jadi pergi OT saya juga nyiapin recehan 2 rb dan 1 rb an untuk urusan ini.

Ketujuh, ikuti dan patuhi aturan yang diberikan oleh penyelenggara trip untuk kenyamanan dan keselamatan semua peserta. Ikuti jadwal yang telah ditentukan agar perjalanan berjalan lancar dan sesuai rencana. Jangan bikin acara sendiri.

Meninggalkan areal, bahkan meskipun ke toilet pastikan izin TL atau sekurangnya ada orang yang kamu pamiti ke mana kamu pergi. Aktifkan HP agar mudah dihubungi bila ada perubahan jadwal mendadak karena force majeur.

Kedelapan, bersikap fleksibel. Bersiaplah untuk situasi yang tidak terduga seperti perubahan cuaca atau jadwal. Bersikap fleksibel akan bikin kita lebih happy. Bila
ada waktu luang selama perjalanan, gunakan untuk refleksi pribadi atau menjelajahi tempat sekitar secara mandiri jika memungkinkan.

Kesembilan, jaga komunikasi. Jangan takut bertanya kalau ada yang nggak jelas atau belum paham. Jaga pembicaraan dengan sesama anggota tour. Kalau memerlukan sesuatu, jangan ragu juga bertanya atau meminta pada penanggung jawab OT.

Kesepuluh, jaga barang berharga dan selalu waspada terhadap lingkungan sekitar untuk menghindari kehilangan atau hal yang nggak diinginkan. Bawa selalu tas berisi barang penting bersama sampeyan. Jangan menaruh di kursi kendaraan atau menitipkan pada orang yang sampeyan pun nggak tahu namanya.

Intinya, kalau harus pergi sendiri OT karena beragam sebab; tetap enjoy aja. Ingat untuk bersenang-senang dan menikmati setiap momen dalam perjalanan. Versi saya berada di OT sendirian, itu kesempatan untuk mengeksplorasi dunia dengan cara baru.
Dengan mengikuti tips ini, semoga sampeyan dapat ikut OT sendirian dengan lebih percaya diri dan fun.

Happy Piknik ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (8) Belanja Oleh-oleh

Rombongan kami saat di Pasir Berbisik. Open Trip Ceria, Bromo 18-19 Januari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah kami dari Lembah Watangan yang jadi destinasi terakhir, kami kembali ke bawah. Balik areal rest area Sukapura. Di sini lumayan lama, sekira 2 jam. Istirahat, mandi, sholat, makan, jajan.

Saya bebersih, sholat, terus pesan makan. Salah satu hal yang biasa terjadi di rest area, makanan belum tentu cocok dengan selera kita, tapi harganya wes pasti berbeda dari harga di tempat umum 😆😅

Dan benarlah, saat saya pesan rawon; boleh dibilang rasanya nggak ngalor nggak ngidul. Superaneh. 😁😆 Untunglah pas pesan kopi, wah enak betul kopinya. Kopi Bromo rasanya khas, beda dengan kopi lainnya. Jadi saya tetap bergembira dengan rawon yang embuh. Sayang saya nggak inget moto.😆😅

Usai beberes makan, saya wes mendahului masuk bus. Masyaallah ngantuknya nggak tertahankan. Begitu masuk bus, saya wes tidur dan terbangun sejenak saat rombongan mau lanjut perjalanan. Ke pusat oleh-oleh.

Berbelanja oleh-oleh saat piknik itu bisa jadi penting, nggak penting. Ada yang sangat ngotot kudu beli oleh-oleh. Ada yang beli sambil lalu. Ada yang beli sedikit. Tiap orang beda-beda.

Saya bukan jenis orang yang mewajibkan piknik kudu beli oleh-oleh. Ya tergantung sikon dan budgetnya. Apalagi kalau pikniknya wes kebutuhan rutin, nyaris tiap bulan 1-2x jalan. Oleh-oleh bukan hal terpenting lagi, kecuali ada yang khusus.

Saya senang ikut OT Ceria ini ya salah satunya memberi kesempatan untuk beli oleh-oleh khas setempat. Baik waktu OT Magelang, Pacitan atau Bromo kali ini. Saya menshare pengalaman ini, mungkin saja bermanfaat bagi pembaca untuk trip-trip lainnya.

Pertama, cari tahu segala yang khas daerah setempat (yang nggak bisa dibeli secara online atau via marketplace) dan putuskan mana saja yang ingin sampeyan beli.

Seperti di Bromo ini, ada banyak oleh-oleh khas; tapi juga nggak sedikit yang sudah bisa diperoleh secara online. Beberapa yang berhasil saya identifikasi: bunga-bunga kering dari aneka perdu, kopi Bromo –ini jenisnya Arabica dengan aroma khas Bromo, keripik kentang, aneka keripik buah, olahan ikan kering, madu hutan, strowberry, apel, dan tape singkong non serat.

Kedua, setelah memutuskan mau membeli yang mana; sesuaikan dengan budget yang sampeyan anggarkan. Apakah beli oleh-oleh untuk diri sendiri, keluarga, tetangga, teman sekerja, dll. Ingat, jangan memaksakan diri. Mereka nggak ikut menanggung kalau keuangan sampeyan boncos di tengah bulan gegara membelikan oleh-oleh.

Ketiga, itung-itung bagasi. Ini terutama kalau bepergian dengan pesawat. Biro biasanya mengenakan charge pribadi untuk mereka yang over bagasi. Pun kalau naik kendaraan darat, sampeyan juga perlu menghitung ruang dan kapasitas yang diberikan biro untuk setiap peserta. Kalau bawa mobilmu sendiri siy yo sekareplah….

Keempat, pertimbangkan untuk mengirimkan. Ada beberapa pusat oleh oleh yang melayani juga pembelian dan pengiriman sampai alamat. Tentu dengan biaya yang lebih terjangkau. Pada saat di Bali, saya memilih jenis ini karena ada oleh-oleh khas yang hanya rilis saat itu dan harus membelikan beberapa orang, saya memilih mengirimkan langsung ke rumah. Praktis nggak gotong-gotong.

Kelima, kalau kamu nggak beli oleh-oleh jangan merasa terintimidasi atau merasa rendah diri dengan mereka yang belanja menggunung. Ingat, tujuanmu piknik dan kamu sudah membayar sama dengan lainnya. Tiap orang beda kepentingan terhadap oleh-oleh.

Kecuali di trip-trip yang memang orientasinya belanja; dan seluruh kru wisata itu dapat fee dari prosentase belanja peserta, maka itu jelas salah tempat kalau kamu nggak belanja. Tapi kalau trip umum, santai aja kalau nggak beli oleh-oleh. Nggak perlu kecil hati.

Keenam, bila memungkinkan ada tawar menawar; tawarlah harga dengan wajar. Jangan bikin kisruh, rusuh, gegeran di tempat wisata karena sampeyan menawar nggak lumrah. Kalau sudah menawar, pastikan juga membeli. Kalau masih ragu-ragu antara beli atau enggak, jangan menawar.

Ketujuh, cek-cek produk sebelum membeli atau memasukkan ke keranjang belanja. Nggak ada cacat, kemasan oke, masa kadaluarsa, izin-izin, kehalalan (bila kamu berbelanja di areal yang mayoritas penduduk non muslim), dll. Teliti sebelum membeli jauh lebih baik daripada menyesal pas lihat barangnya di rumah.

Kedelapan, beli di tempat terpercaya. Sekarang ini banyak tempat wisata sudah memasukkan produk UMKM-UMKM di areal mereka sebagai pasar wisata. Biasanya kualitas juga sudah terstandar. Cari info mana saja tempat belanja oleh-oleh yang direkomendasi.

Kesembilan, bawa tas lipat belanja. Biasanya siy kalau belanja, kita sudah diberi tas plastik. Cuman ya kadang nggak kuat. Bawa tas belanja sendiri memudahkan kita untuk membawa oleh-oleh dengan aman.

Kesepuluh, jangan alergi nyobain produk baru khas setempat. Mungkin saja kamu nggak akan ke tempat itu lagi.

Jadi, saya belanja oleh-oleh atau enggak dari Bromo? Belanjalah. Kan ada produk-produk khas yang sudah saya sebutkan sebelumnya 😀

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (7) Lembah Watangan, Romantisme Pelukan Alam

Salah satu sisi hijau padang rumput Lembah Watangan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah. Indah banget…!” Itu seruan saya dalam hati begitu kami sampai ke Lembah Watangan. Kalau sebelumnya di Puncak Seruni, Lautan Pasir, (dan juga kalau sampeyan pergi ke Kawah Bromo), Pasir Berbisik, semuanya didominasi lautan pasir; kini kita bertemu padang rumput yang menghampar bagai permadani.

View menghijau seluas mata memandang dari bawah sampai ujung-ujung atas bukitnya. Serasa kita masuk taman alami yang sengaja dicipta Tuhan untuk umatNya. Bunga-bunga dan aneka perdu pun tumbuh subur memberi aneka warna cantik. Sungguh perbedaan yang sangat kontras, padahal lokasi antara tempat ini dan Pasir Berbisik nggak terlalu jauh.

Sebelumnya tempat ini dikenal dengan nama Bukit Teletubies. Lalu diganti dengan nama Lembah Watangan. Namun nggak akan menghilangkan cirinya sebagai bukit yang menunjukkan romantisme alamiah, bukit yang berpelukan.

Persisnya, tempat ini berada di antara lautan pasir Bromo dan lereng Gunung Batok. Lembah ini menawarkan panorama alam yang luar biasa dengan perpaduan lanskap gunung, lembah, dan padang rumput yang luas.

Lembah Watangan dikelilingi oleh pegunungan yang membentuk background yang dramatis, dengan Gunung Bromo yang ikonis berdiri di tengahnya. Selain penuh padang rumput yang hijau, di beberapa bagian, terdapat tanaman perdu dan bunga edelweiss yang tumbuh subur.

Perpaduan warnanya menciptakan pemandangan yang memukau, terutama saat musim berbunga. Pada pagi hari, kata orang-orang lokal Bromo, biasanya tempat ini sering dipenuhi kabut tipis yang seolah-olah melayang di atas lembah. Saya bisa mengimajinasikan betapa eksotisnya kabut melayang-layang di atas warna-warni indah perdu dan rerumputan.

Lembah Watangan ini lebih populer bagi sebagian pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam Bromo dari sudut pandang yang berbeda. Terutama mereka yang malas kena debu pasir dan keribetan jalan berat di atas pasir.

Saya gembira aja di sini. Jalan dari ujung ke ujung. Menikmati udara segar yang terasa membawa nyawa baru di dalam tubuh saya. Kualitas oksigennya mungkin berbeda dari areal yang berpasir.

Salah satu aktivitas yang paling digemari pengunjung di sini ya berkuda menyusuri lembah. Selain itu, lembah ini juga menjadi tempat yang ideal untuk trekking atau berjalan kaki. Areal medannya relatif datar dan pemandangan yang memanjakan mata sepanjang perjalanan.

Kalau kamu senang motret, tempat ini juga bisa jadi lokasi favorit untuk memotret lanskap Bromo. Saya wes kebayang betapa bagusnya kalau bisa motret areal ini saat matahari terbit atau terbenam, ketika sinar matahari memantulkan warna-warna hangat di atas lembah dan pegunungan sekitarnya.

Lembah Watangan ini (sesuai info orang-orang lokal Bromo) juga termasuk wilayah adat Suku Tengger. Jadi kalau ada upacara Kasada tiap tahun, pasti melibatkan kawasan ini. Bagi saya, menarik juga mendengarkan kisah-kisah versi orang lokal Bromo tentang adat budaya mereka.

Mungkin akan saya tuliskan lain waktu. Karena menulis budaya berarti saya harus cek ricek referensi dan sumber sumber terkait. Tapi saya berterima kasih pada Ceria karena memberi waktu eksplore cukup banyak di sini, sehingga usai foto-foto; saya masih sempat nimbrung dengan warga lokal ngobrol banyak hal tentang adat istiadat mereka.

Oh iya, kalau di sini sewa kuda, jeep, atau motor trail juga gampang ya. Banyak yang nawarin. Terus ada banyak juga tenda warung sederhana yang jual aneka jajanan dan oleh-oleh. Fasilitas di sekitar lembah ini cukup memadai dengan adanya beberapa pos peristirahatan dan tempat parkir.

Bagi saya pribadi, Lembah Watangan menawarkan kombinasi yang sempurna antara keindahan alam, aktivitas petualangan, dan kekayaan budaya. Bagi siapa pun yang mencari ketenangan, keindahan alam, dan pengalaman budaya yang mendalam, Lembah Watangan boleh jadi pilihan utama.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bromo (6) Pasir Berbisik: Cinta Begitu Nyata

Di areal Pasir Berbisik juga mudah kalau mau lompat-lompat 😀 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pasir Berbisik di Bromo ini jadi destinasi kami berikutnya. Sebuah lanskap pasir yang sangat luas. Hamparan hitam penuh kekuatan magis yang populer di Jawa Timur. Tapi kayaknya daerah ini nggak cuman kondang di dalam negeri aja siy.

Karena pas kami di sini, bahkan sejak di Puncak Seruni itu, ada banyak turis manca negara. Sekurangnya saya mengidentifikasi dari bahasa mereka, pasti berasal dari Malaysia atau Brunei, Tiongkok, Jerman, Turki, Belanda, dan Jepang. Kalau kamu orang bahasa, biasanya telingamu peka terhadap kosakata-kosakata atau logat yang tidak biasa atau asing 😂😅

Memanglah kawasan lautan pasir ini sungguh memukau pandangan mata kita. Tempat yang mendapatkan namanya dari suara lembut pasir yang tertiup angin, seolah-olah berbisik ke telinga para pengunjungnya. Gemerisik halus seperti kalau kita tengah mengusap-usap kain selembut sutera.

Dengan hamparan pasir yang luas dan pemandangan yang spektakuler ini, Pasir Berbisik memang bikin kita punya pengalaman unik dan nggak terlupakan. Sampeyan boleh datang berkali-kali ke sini, tapi pasti sensasinya tetap berbeda 😆😅

Keindahan Pasir Berbisik terasa banget menaungi seluruh areal Gunung Bromo. Hamparan pasirnya yang membentang sejauh mata memandang, sungguh memberikan nuansa eksotis dan misterius. Kita seolah-olah dibawa berkunjung ke dunia yang berbeda.

Selepas hujan, pasirnya berwarna cokelat kehitaman pekat. Ini pasir hasil dari tumpukan letusan vulkanik Gunung Bromo yang terjadi berabad-abad silam. Ketika angin bertiup, butiran pasir halus tersebut bergerak perlahan. Kelembutan geraknya menghasilkan suara yang menyerupai bisikan lembut. Desirannya menciptakan suasana yang menenangkan jiwa. Bukti cinta Tuhan yang begitu nyata kepada kita, bagi mereka yang mau berpikir ❤️

Terus kita mau ngapain kalau di Pasir Berbisik ini? Ya, banyaklah. Suka-suka kamu mau ngapain. Kita dapat menjelajahi area ini dengan menunggang kuda. Atau yach sekedar menikmati sensasi jalan-jalan mider keliling, petualangan di tengah padang pasir yang luas.

Aktivitas off-road dengan jeep juga bisa jadi salah satu cara untuk melatih adrenalin melintasi bukit-bukit pasir. Kamu kudu sewa jeep dan bayar sendiri ya untuk kegiatan off-road ini 😆😅 Nggak ditanggung Ceria. Saya emoh, karena naik jeep di sini bikin kepala njeduk-njeduk terus, sakit semua😜

Buat kamu yang suka fotografi, tempat ini juga serasa surga untuk dapetin foto-foto bagus. Dengan pemandangan yang dramatis dan cahaya matahari yang berubah-ubah, kamu bisa dapat banyak kesempatan untuk mengambil gambar-gambar yang istimewa.

Tempat ini juga bagus untuk latihan lari. Kalau kamu mau ikut beragam program “run-run” alias lari-lari berbayar yang sangat populer sekarang ini, coba aja latihan di sini. Lompat-lompat tinggi juga boleh. Teriakan keras-keras juga nggak ada yang ngelarang. Pokmen, ada banyaklah aktivitas fisik yang bisa dilakukan di sini. Thenguk-thenguk sambil meratapi mantanmu yang ghosting juga boleh 😆😅

Fenomena suara pasir yang berbisik itulah yang jadi daya tarik utama tempat ini. Suara ini dihasilkan oleh pergerakan butiran pasir yang sangat halus ketika tertiup angin. Hal ini terjadi karena kondisi geografis dan komposisi pasirnya. Pasir Berbisik di Bromo ini, salah satu dari sedikit tempat di dunia dengan suara pasir yang dapat didengar dengan jelas.

Kalau jiwamu tenang, hatimu damai, kamu akan dibuat terkesima dengan keajaiban alam di sini. Rasanya tuh kayak kita sedang mendengar bumi berbicara. Kalau pas di Pasir Berbisik kemarin kamu nggak dengar “pasirnya berbisik” berarti kamu nggak fokus menikmati keheningan dan keindahan alamnya.

Saya sempat mendengarnya saat kiri kanan nggak ada orang dan angin bertiup lembut. Yach, mau kamu dengar pasirnya berbisik atau enggak, tempat ini memang luar biasa keindahan alamnya.

Oh iya, di areal Pasir Berbisik ini juga ada tradisi dan kearifan lokal dari Suku Tengger yang sangat kuat. Kawasan ini termasuk tempat penyelenggaraan upacara Kasada setiap tahun.

Pada saat upacara Kasada, masyarakat Tengger memberikan sesajen kepada dewa-dewa gunung sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan. Walaupun sudah begitu modern dan jadi areal wisata komersial, suku Tengger nggak pernah lupa menjaga adat istiadat warisan leluhurnya. Akar budaya nenek moyang yang masih bisa kita saksikan saat ada upacara Kasada.

Kamu tertarik ke sini? Selain siap dana, waktu, pastikan juga sehat badanmu ya. Kaki-kakimu harus cukup kuat untuk berlarian menikmati luasnya lautan pasir yang paling memikat di Indonesia ini.

Pokoknya Pasir Berbisik cocok buat mereka yang cari pengalaman unik dan penuh sensasi keajaiban alam. Setiap bisikan pasirnya seolah membawa cerita dari masa lalu, mengundang kita untuk mendengarkan dan meresapi keajaiban alam masa kini, dan mengantarkan kita melongok jauh ke masa depan. Sungguh pengalaman batin yang tiada duanya ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: