DSBK XVI 2025 (1): Obrolan di Stasiun

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat itu awal tahun 2025, saya sedang menunggu KRL untuk ke Solo di Stasiun Tugu. Sementara perempuan ini (yang saya pun nggak tahu namanya hingga sekarang) sedang menunggu kereta ke arah barat. Begitu saja kami berbincang. Dia berasal dari Pontianak. Senang membaca, senang menulis. Kami pun nyambung.

Sambil lalu, kalau nggak salah perempuan ini menyebutkan ada acara sastra besar di Samarinda, Kalimantan Timur sekitar bulan Juni atau Juli. Ada tiga negara. Begitu lebih kurang yang saya ingat. KRL datang, kami pun berpisah. Kami nggak berbagi contact. Nama pun nggak saling sebut.

Cuman karena disebut Samarinda, saya tiba-tiba saja berkeinginan untuk ikut. Itu pasti akan membahas Sastra Melayu, nggak mungkin membahas Sastra Jawa seperti kalau kegiatan seminar sastra di Jawa. Yach, itung-itung lihat perkembangan dan kemajuan sastra Melayu. Begitu pikir saya.

Di KRL, saya mulai menghitung budget yang harus saya siapkan untuk ikut acara tersebut. Kalau misal acara besar biasanya ya 5 hari kerja atau hitung seminggu. Berarti saya butuh anggaran selama 7 hari (2 hari untuk perjalanan, 5 hari kegiatan Senin sd Jumat). Biasanya kalau acara besar lebih kurang begitu berdasarkan pengalaman ikut acara-acara sebelumnya.

Saya langsung cek-cek harga; menghitung komponen tiket pesawat pp, transfer rumah bandara asal pp; bandara tujuan-lokasi pp, hotel 7 malam, makan 2 × 7 (hari) dengan sarapan include hotel, uang saku 7 hari, dana darurat, dana oleh-oleh beberapa pihak di Samarinda dan oleh-oleh pas balik Jogja; juga oleh-oleh untuk pribadi, biaya registrasi (bila ada), biaya publikasi tulisan (bila diperlukan), keperluan pribadi, dll. Hitung-hitung dengan rerata, ketemulah sejumlah anggaran biaya yang lumayan besar.

Saya sempat menghitung pula budget ke Derawan dari Samarinda. Tapi nanya sini situ lah… kok masih besar biayanya. Jadi besar kemungkinan, tujuan Derawan akan saya skip dulu. Ya sudah, bismillah. Ntar pas waktunya pasti ada jalan.

Waktu berlalu, saya sibuk mengajar, menulis, mengisi workshop penulisan, dll gaweyan seputar industri kreatif. Dan alhamdulillah, anggaran untuk program ke Samarinda wes ada di tangan. Tapi programnya pun belum saya dengar, belum ada kabar apapun dari Kalimantan.

Tiba-tiba di grup alumni Sasindo UGM, keluar flyer dll detail tentang kegiatan DSBK (Dialog Serantau Borneo Kalimantan) XVI 2025 bagian seleksi. Wah ini dia… yang saya tunggu-tunggu akhirnya muncul programnya. Wes, saya langsung ngisi-ngisi form dan melupakan. Saya feel free saja. Terserah panitia. Kalau warga non Kalimantan, non Melayu dianggap nggak bisa hadir, ya nggak apa-apa.

Saya pernah merasa salah ruang seminar ketika ada pertemuan internasional membahas kuliner “Nusantara” terkhusus “Sulawesi”, tapi saya menyajikan materi kuliner Jawa. Karena persepsi saya Jawa termasuk Nusantara, tapi nggak khusus Sulawesi. Toh itu sudah lewat seleksi dan kebijakan panitia.

Jadi ketika saya diserang peserta lokal Sulawesi yang nggak lolos seleksi penyaji makalah dan menganggap tulisan saya “salah program”, perwakilan panitia penyelenggara yang maju untuk menjelaskan dan bertanggung jawab.

Haish, kadang saya terlalu rajin datang dan ikut seminar begini, ya karena mencari ilmu dan melihat relasi yang lebih luas. Biar saat nulis tuh saya nggak mandeg dan membahas hal yang sama. Nyawa saya itu di penulisan kreatif. Jadi upgrade update ilmu penulisan kreatif itu wes jadi keharusan.
Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bentuk Tubuh Kita Memang (Nggak) Sempurna, Terimalah dengan Syukur

Ketidaksempurnaan adalah tanda bahwa kita manusia. Berbahagialah selalu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap kita pasti pernah bercermin, melihat figur yang “serupa” dengan diri kita. Sama persis. Lalu apa yang keluar dari hati, pikiran, batin, mulut kita? Pasti beragam.

Umumnya, kecenderungannya, kita langsung “mencela” kurang ini, kebanyakan itu, kok ya kebesaran ini, kelebihan itu, dll yang intinya “protes” klaim atas semua yang ada di tubuh kita. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sampeyan masih begitu?

Dulu, saya juga seperti itu. Tapi seiring kesadaran dan melihat dunia secara lebih luas, bertemu dengan lebih banyak orang; saya mengubah persepsi saya. Saya baik-baik saja dengan bentuk tubuh fisik yang nggak sempurna itu. Sekarang kalau bercermin, spontan saja berucap: Alhamdulillah, tubuhku sehat, jiwaku kuat, anggota badanku lengkap sempurna, wajahku sebaik-baik pemberian Allah.

Saya wes nggak pernah protes lagi dengan kondisi fisik. Menerima dengan sukacita semuanya. Dulu bahkan saya kesal dengan ukuran tubuh saya yang nggak tinggi; karena nggak bisa ikut paskibraka sebagai (versi saya) jalur cepat masuk istana negara. Oh, tapi dengan kemampuan yang lain, Allah membawa saya keluar masuk istana dengan mudah; tentu saja dengan peran dan tugas yang lebih penting.

Saya pernah nggak senang dengan suara saya yang alto besar, bukan suara khas perempuan. Suara yang sering jadi bahan ledekan dan becandaan teman-teman saya dari SD hingga perguruan tinggi. Lho, tapi dengan suara yang khas itu, teman-teman yang lama nggak jumpa langsung bisa mengidentifikasi keberadaan saya hanya dari mendengar suara saya di balik tembok yang tinggi. Amazing banget.

Pun itu suara yang sangat diperlukan untuk mereka yang harus banyak berbicara. Saya nggak perlu “mengeluarkan banyak energi” untuk bersuara besar saat harus membagikan materi pelatihan penulisan dengan audiens dalam jumlah besar. Hemat energi nggak sampai kehabisan suara.

Pun, saya pernah nggak suka banget sama gigi saya yang berwarna kuning akibat obat kejang waktu kecil. Sementara gigi orang putih-putih cemerlang. Makanya saya rajin betul sikat gigi, bisa 3x sd 4x sehari agar bersih terus. Lho tapi itu gigi yang dipuji banyak orang karena rapi, berderet mungil tanpa perlu ditata (aslinya yo begitu), tanpa pernah sakit beribetan (kecuali 4x operasi gigi belakang yang nggak kebagian tempat) dan alhamdulillah sehat kuat. Saya bisa tersenyum dan tertawa lebar tanpa khawatir dengan bentuk gigi saya. Gigi-gigiku sayang, teruslah sehat sampai akhir hayat.

Jadi dari situ pun saya belajar. Mungkin “nggak sempurna” itu kadang hanya persepsi kita. Kurangnya syukur kita. Setelah kita menerima dengan syukur, rasanya semua kok baik-baik saja. Seperti yang saya alami. Tapi untuk sadar dan menerima, ya perlu proses nggak ujug-ujug.

Terlebih di zaman sekarang, media sosial dipenuhi dengan wajah dan tubuh yang terlihat “sempurna”, seperti perut rata, kulit mulus, tubuh tinggi langsing, dan senyum yang selalu terlihat bahagia. Standar-standar kecantikan ini bisa dengan mudah membuat kita merasa bahwa tubuh kita “kurang” atau “nggak ideal”. Padahal kenyataannya, nggak ada satu pun tubuh manusia yang benar-benar sempurna. Dan ya, kita itu nggak harus sempurna kok untuk bisa bahagia.

Setiap lekuk tubuh, bekas luka, stretch mark, warna kulit, atau bentuk wajah yang kita miliki adalah bagian dari perjalanan hidup. Mungkin perut kita lebih buncit, habis melahirkan. Coba ingat, ada jutaan perempuan yang ingin melahirkan anak, tapi belum kesampaian.

Mungkin tangan kita berotot karena sering menggendong anak atau banyak membantu pekerjaan berat di rumah. Coba ingat mereka yang nggak punya anak, yang nggak ada rumah. Mungkin kita punya pipi tembem yang selalu jadi bahan candaan keluarga, tapi justru itu yang bikin kita terlihat awet muda.

Bentuk badan kita bukanlah sebuah kekurangan. Itu cerminan dari siapa kita sebenarnya. Bukankah jauh lebih indah menghargai tubuh yang bisa bikin kita bergerak bebas, bernapas lega, bekerja total, mencintai dan dicintai, merasakan dan menjalani hidup ini dengan totalitas?

Bersyukur atas tubuh yang kita miliki bukan berarti berhenti merawat diri. Tapi ini tentang menerima kenyataan bahwa tubuh kita punya kekuatan, punya cerita, dan layak dihargai apa adanya. Rasa syukur membuat kita berhenti menyiksa diri dengan perbandingan yang melelahkan. Rasa syukur menjadikan kita lebih ramah, lebih cinta pada diri sendiri, dan lebih ringan dalam menjalani hidup.

Kita bisa merawat diri, makan sehat, olahraga, dan tampil bersih, rapi dan cantik; bukan untuk memenuhi standar orang lain, tapi karena kita mencintai diri sendiri. Dan cinta sejati itu nggak butuh syarat harus langsing dulu, putih dulu, atau mulus dulu, dll.

Percayalah, hampir semua orang pernah merasa minder dengan tubuhnya. Tapi banyak juga orang yang akhirnya menemukan kedamaian saat mereka berhenti berusaha menjadi “sempurna” dan mulai mencintai diri mereka yang sebenarnya.

Jadi, yuk mulai hari ini, lihat cermin dan katakan: “Inilah diriku. Dengan segala kekurangan dan kelebihanku, aku bersyukur. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.” Karena tubuh kita bukan untuk dibandingkan, tapi untuk dijaga, dirawat, dihargai, dan disyukuri sepenuhnya.

Bisa jadi bentuk tubuh kita memang nggak sempurna. Tapi hidup jadi jauh lebih ringan dan indah kalau kita bisa menerimanya dengan syukur.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Merawat Rezeki Recehan: Uang Kecil yang Diterima dengan Besar Hati

Sapi kurban saya tahun ini; uang untuk membelinya juga saya kumpulkan dari rezeki-rezeki “recehan”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Survive sebagai penulis lepas (freelance writer) di tengah gempuran kemajuan teknologi dan membludaknya teknologi AI, sungguh nggak mudah. Banyak sekali pekerjaan kreatif penulisan (dan kerja kreatif lainnya) yang diambil alih dengan semena-mena oleh AI.

Saya sebagai penulis, perlu sekurangnya 30-60 menit untuk menulis artikel 2-3 hlm standar. Itupun masih perlu editing cek ricek sekitar 30-60 menitan. Yach anggaplah 2 jam kerja. Dengan fee beragam antara 250 rb sd 5 juta per artikel tergantung klien yang bayar.

Tapi dengan teknologi AI, orang bisa minta artikel hanya dalam hitungan menit dan cliiing… jadilah sudah. Meskipun hasil artikel dari AI sering diklaim bahasanya mesin, nggak ada perasaan, toh itu artikel sudah jadi. Gratis pula. Tentu orang awam akan memilih ini daripada “mahal-mahal” bayar penulis.

Hadirnya AI sempat juga bikin saya waswas. Biyuuu, njur bagaimana nasib saya sebagai penulis? Di situlah kemudian saya belajar, bahwa AI tetaplah mesin, piranti, alat, wujud kemajuan teknologi yang harus diterima sebagai kemajuan zaman. Dan setelah tahu bahwa AI tetap nggak bisa mengalahkan pola pikir, nilai rasa, pilihan kata, penggunaan metafora, gaya bahasa seorang penulis manusia; saya menerima AI sebagai bentuk alat yang bisa mempermudah kinerja penulisan.

Dan memang, ada cukup banyak pekerjaan yang dulunya bertahun-tahun saya kerjakan, sekarang klien sudah nggak memperpanjang kontrak lagi. Ya mereka menggunakan AI dan memperbaikinya, tanpa perlu membayar saya lagi. Ya wes nggak apa-apa. Rezeki saya lewat mereka sudah berakhir, selesai. Harus cari lahan baru untuk rezeki baru.

Untunglah, sepanjang karir saya sejak belia sebagai penulis, saya tetap menghargai rezeki recehan. Nggak pernah sekalipun saya meremehkan recehan. Kayaknya siy biasa saja kalau koin 5 ratus, 1 ribu atau bahkan uang kertas 2 ribu dianggap “nggak seberapa”. Jadinya uang-uang itu ditaruh sembarangan, tercecer di berbagai tempat, atau malah numpuk di laci sebagai sesuatu yang dipandang “nggak bernilai”.

Padahal, siapa sangka, rezeki besar sering dimulai dari rezeki kecil. Dari recehan yang dianggap sepele, bisa terkumpul jadi sesuatu yang luar biasa. Bukan cuma buat nabung, tapi juga jadi pengingat: rezeki itu bukan soal jumlah, tapi berkaitan dengan rasa syukur dan cara merawatnya.

Dengan situasi yang nggak menentu seperti sekarang ini, rezeki-rezeki “recehan” itulah yang justru sering jadi penyelamat hidup sehari-hari saya. Gaweyan tulisan kecil-kecil yang bernilai beberapa ratus ribu saja per item, tapi terus-menerus dan berulang, akhirnya ya bukit juga, lumayan banyak. Terasa kecilnya kalau menghitung per item, kalau berkumpul ya tetap banyak.

Sama seperti royalti buku, kalau terjual 1 buku mungkin uangnya hanya 2 ribu saja, tapi kalau buku terjual 100 rb eksemplar, tentu ya nggak sedikit lagi jumlahnya. Karena itu saya tetap menghargai rezeki recehan-recehan yang akan menjadi rezeki besar saat berkumpul rame-rame.

Coba ingat-ingat, pernah nggak kamu iseng masukin uang receh ke celengan tiap hari? Hari ini 1 ribu, besok 2 ribu, dst. Tanpa terasa, sebulan bisa jadi puluhan ribu. Setahun? Bisa ratusan ribu atau bahkan sejuta lebih. Kalau sudah terkumpul ya lumayan. Bisa buat traktir orang tua makan di luar, beliin hadiah kecil untuk pasangan, atau bantu temen yang lagi susah.

Merawat rezeki recehan ini bukan soal besarannya, tapi tentang kesadaran bahwa uang kecil juga punya potensi besar kalau dikumpulin dengan konsisten. Sering kita ngeluh rezeki seret, tapi kerjaan receh ditolak serampangan. Di sini letak pentingnya mindset: kalau kita bisa menghargai uang 1 ribu, kita akan lebih siap menerima rezeki yang lebih besar.

Karena Allah pun suka kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur dan bisa dipercaya menjaga rezeki kecil sebelum diberi rezeki besar. Gimana mau dikasih rezeki 10 juta kalau yang 1 ribu diabaikan?

Rezeki recehan bisa bermakna besar kalau kita menghargainya. Ada kisah tukang parkir yang bisa naik haji dari uang receh. Ada juga warung kecil yang terus hidup karena sabar nyimpen kembalian 5 ratusan. Bahkan banyak bisnis gede yang lahir dari modal kecil, serba ngirit, telaten ngatur duit, dan mulainya ya dari merawat “recehan”.

Kuncinya bukan jumlah uangnya, tapi lebih pada konsistensi dan niat baiknya. Mulai dari sekarang, kita bisa kok menghargai dan memanfaatkan uang receh. Coba simpan semua koin dan uang kecil di satu tempat khusus. Niatkan misalnya, ini buat sedekah, buat orang tua, atau buat mimpi tertentu.

Jangan malu bawa recehan. Eh, kasir supermarket pun pasti terbantu waktu kita bayar pas. Setiap kali dapat rezeki recehan dari gaweyan kecil-kecil, ucapkan syukur: “Alhamdulillah, dapat rezeki.”

Merawat rezeki recehan bukan cuma soal uang, tapi latihan menjaga hati dan tawakal kita. Supaya kita jadi pribadi yang menghargai rezeki kita, besar ataupun kecil. Bisa jadi, saat kita mulai bersyukur atas rezeki kecil, hidup kita diam-diam sedang disiapkan untuk rezeki yang lebih besar.

Rezeki receh itu memang kecil, tapi nilainya besar… kalau kita tahu cara merawatnya. Jangan pernah menyepelekan gaweyan dengan rezeki receh, karena sering kali rezeki kakap muncul di balik recehan itu.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Lebaran Haji: Memotong Keserakahan, Menumbuhkan Kepedulian

Tas untuk wadah daging kurban dari keluarga kami. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, tahun ini saya bersaudara diberi rezeki untuk berkurban sapi. Pemotongan sapi akan dilakukan besok pagi, di tanah kelahiran kami, Tulungagung. Kegiatan dipusatkan di rumah ipar saya, di kecamatan paling timur Tulungagung; dengan pertimbangan halaman yang luas dan banyak kerabat, orang atau tenaga yang bisa dikerahkan agar urusan berkurban kami lebih lancar, lebih cepat selesai. Dengan teriring doa agar kami semua diberi sehat, iman, takwa, mudah-lancar-banyak-berkah rezeki, sejahtera, bahagia, panjang umur, dan tahun-tahun berikutnya selalu bisa berkurban sapi. Amin YRA.

Ya, kita sudah masuk lebaran haji hari ini. Versi saya, yang menyenangkan ada libur panjang empat hari. Saya tetap di Jogja, karena banyak gaweyan yang sedang oyak-oyakan. Libur yang berasa nggak prei. Seperti waktu-waktu sebelumnya; setiap tahunnya, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha, atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Lebaran Kurban atau Lebaran Haji.

Lebaran ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum refleksi spiritual yang sangat dalam. Di balik gemuruh takbir dan aroma segar daging kurban, ada pesan besar yang sering terlupakan: memotong keserakahan dalam diri kita.

Lebaran Haji bukan sekedar urusan potong memotong hewan kurban. Berkurban bukan hanya tentang menyembelih binatang ternak, seperti kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita arti pengorbanan sejati; yaitu merelakan sesuatu yang paling dicintai demi memenuhi perintah Allah SWT.

Dalam konteks kekinian, itu bisa berarti melepaskan ego, mengalahkan nafsu, dan menahan kerakusan. Daging kurban memang dibagikan, tapi tujuan utamanya adalah memperkuat nilai-nilai keikhlasan, kerelaan, dan kepedulian kita yang berkurban.

Di tengah budaya konsumtif dan kompetisi tiada henti, keserakahan bisa tumbuh diam-diam. Kita ingin lebih dalam banyak hal: lebih kaya, lebih terkenal, lebih diakui; bahkan jika itu berarti menginjak-injak hak atau semena-mena mengkambinghitamkan orang lain. Idul Adha datang sebagai pengingat bahwa tidak semua harus dimiliki, dan tidak semua yang bisa dimiliki harus dipertahankan.

Mari kita belajar dari seekor binatang kurban.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi dari seekor kambing atau sapi yang dikurbankan, kita bisa belajar arti memberi. Hewan itu mungkin tidak punya pilihan, tapi kita punya. Kita bisa memilih: hidup untuk diri sendiri, atau hidup untuk memberi manfaat lebih luas kepada sesama.

Mengurbankan sebagian harta untuk sesama adalah latihan melepaskan keserakahan. Ini adalah bentuk jihad melawan diri sendiri; melawan keinginan untuk terus menimbun harta dan enggan berbagi.

Lebaran Kurban juga bisa kita perluas maknanya. Di era krisis ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan sosial, “berkurban” bisa berarti menyumbang waktu untuk mengajar anak jalanan, menyisihkan gaji untuk keluarga atau tetangga yang membutuhkan, atau sekadar tidak mengambil hak orang lain, dll tindakan kebaikan untuk sesama dan semesta.

Memberi makan kucing jalanan pun kebaikan. Menyirami tanaman secara rutin pun jadi kebaikan. Menyingkirkan batu di jalan juga kebaikan. Ada begitu banyak ruang dan kesempatan untuk berbuat baik. Pastikan sampeyan ada di antara kebaikan-kebaikan itu. Bahkan jika tanpa publikasi atau diketahui pihak lain.

Berkurban adalah simbol pelepasan diri dari keserakahan pribadi. Simbol itu hanya bermakna jika diiringi perubahan perilaku. Semoga dengan berkurban kita menjadi lebih mudah berbagi, lebih mudah empati, lebih mudah peduli terhadap sesama dan semesta, sehingga keberadaan kita menjadi berkah di lingkungan sekitar.

Mari kita jadikan Idul Adha tahun ini lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Mari kita potong bukan hanya hewan kurban, tetapi juga rasa rakus, iri, tamak, dan ego yang berlebihan. Pada akhirnya, berkurban yang sejati adalah ketika kita mampu melepaskan diri dari belenggu kepentingan pribadi, demi kebaikan bersama.

Happy Idul Adha. Selamat Berkurban. Selamat menikmati hari-hari yang lebih ikhlas dan lebih banyak syukur ❤️🙏

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bisakah Kita Bebas dari Hutang?

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebagai freelancer yang menekuni dunia tulis menulis dalam kurun hampir sepanjang hidup, saya tahu persis rasanya mendapatkan rezeki besar, rezeki sedang, rezeki kecil, atau bahkan tidak ada rezeki selama berbulan-bulan. Kalau manajemen keuangan saya tidak baik, pasti sudah sejak lama saya terjebak dengan masalah hutang saat tidak ada pekerjaan yang langsung menghasilkan uang.

Toh di sekitaran kita, tidak hanya freelancer yang terlibat masalah hutang. Mereka yang berpenghasilan tetap dan besar pun bisa terlibat masalah hutang. Biasanya hutang-hutang ini terjadi karena gaya hidup yang berlebihan, ibarat besar pasak daripada tiang. Atau bisa juga karena manajemen keuangan yang kurang baik. Uang dan seluruh penghasilan seperti menguap begitu saja, tanpa tahu persis penggunaannya.

Dalam kehidupan ini, siapa siy yang tidak pernah terlibat masalah hutang? Porsi hutang tiap orang dan sebab alasannya berbeda-beda. Hutang tidak selalu buruk. Ada orang yang memutuskan untuk mengalihkan investasinya sebagai hutang. Kalau tidak “berhutang” mereka tidak bisa menyisihkan uangnya.

Sebagai contoh, ada orang yang bekerja menetap dan tiap bulan mendapatkan gaji. Dia memilih untuk menanggung cicilan logam mulia emas 100 gram sebesar 1 gram setiap 1 bulan. Tentu saja biaya 1 gram itu harus ditambah biaya-biaya administrasi dan nilai perubahan selama masa mengangsur. Cicilan itu didebet langsung setiap bulan dari rekening gajinya.

Secara nalar, sebenarnya biaya mencicil logam mulia 100 gram itu jauh lebih besar dibandingkan kalau yang bersangkutan membeli logam mulia 1 gram setiap bulan. Namun pertimbangannya tidak seperti itu. Kalau membeli logam mulia 1 gram setiap bulan, dia belum tentu bisa. Sebaliknya kalau dipotong langsung setiap bulan (meskipun dengan biaya tambahan), dia selalu bisa. Hingga akhirnya lunas juga cicilan logam mulia 100 gram dan emas pun menjadi miliknya.

Tentu hutang seperti itu banyak jenisnya. Bisa untuk beragam kebutuhan besar; rumah, program pendidikan tinggi, mobil baru, haji – umroh, pensiunan, wisata ke luar negeri, dll kebutuhan hidup. Mereka pun sudah tahu dari mana sumber uang untuk membayar “hutang” itu. Biasanya pihak pemberi hutang juga sudah menentukan serangkaian syarat —termasuk kemampuan si penghutang untuk membayar.

Kalau hutang seperti ini rasanya bolehlah kita menganggapnya “bukan hutang”, tetapi cicilan. Hutang yang sudah jelas peruntukan dan sumber pembayarannya. Hutang-hutang yang sering tidak terduga itu lho yang membuat banyak orang sering kelimpungan. Hutang kartu kredit, penggunaan paylater yang berlebihan, hutang online atau pinjaman online, hutang-hutang pribadi karena hal-hal yang tidak urgent. Pembelian produk branded untuk sekedar memenuhi gengsi dan keinginan tanpa menghitung secara cermat kemampuan, biasanya menjadikan orang terjebak hutang berkepanjangan.

Sekali terlibat hutang model begini, agak sulit terbebas. Intinya, boleh hutang dengan tetap mengukur kemampuan masing-masing. Ingat saja, pujian orang pada barang-barang yang anda beli (dengan cicilan) tidak bisa membayari cicilan anda saat kesulitan uang.

Berhutang boleh saja, asal kita benar-benar memerlukannya. Pada saat sudah memiliki uang, bila memungkinkan segera bayar lunas hutang-hutang anda. Jangan menunda-nunda. Uang itu licin. Ke sana ke sini, merasa punya uang tanpa sadar menggunakan sedikit demi sedikit. Tidak terasa tahu-tahu uang habis tanpa tahu persis penggunaannya.

Bagaimana kalau saat ini kita masih terlibat hutang yang banyak? Mungkinkah kita bisa terbebas dari hutang? Jelas sangat mungkin. Ada banyak orang yang hidupnya tenang, bahagia, damai, sehat sentausa karena bebas hutang.

Bagaimana caranya bebas hutang? Sebenarnya ini tergantung dari setiap pribadi. Saya percaya setiap orang punya role atau model pengaturan keuangan yang berbeda. Carilah yang cocok dan nyaman, lalu terapkan. Kalau sudah ketemu yang cocok, jangan beralih lagi.

Ada beberapa tips yang saya gunakan sejak bertahun-tahun silam agar terbebas dari hutang, meskipun bekerja sebagai freelancer. Bagi mereka yang bekerja menetap dengan gajian tiap bulan, tentu lebih mudah lagi mengaturnya. Berikut ini uraian detailnya.

Kesatu, penghasilan. Petakan dan hitung keseluruhan penghasilan anda dalam setahun. Bagi freelancer bisa menggunakan penghasilan tahun sebelumnya sebagai patokan. Kalau anda berpasangan (suami/istri/partner/sahabat/saudara), hitung pula semua penghasilan yang anda berdua peroleh. Termasuk bonus-bonus dll yang pasti diterima sepanjang tahun.

Anda bisa menggunakan aplikasi pencatat keuangan yang free akses untuk memudahkan saat sudah mulai menerapkannya. Demikian juga dengan hal lain-lain. Dengan pencatatan detail menggunakan aplikasi akan memudahkan anda mengetahui secara pasti keadaan keuangan anda.

Kedua, pengeluaran. Petakan dan hitung semua kebutuhan pokok dalam setahun. Namanya saja kebutuhan pokok. Berarti mulai dari tempat tinggal (kalau anda mencicil, kontrak, kos, sewa, dll pembayaran), makan, pakaian, pendidikan anak-anak, kesehatan, transport, komunikasi, dll yang rinciannya bisa sangat banyak. Perhatikan juga perubahan-perubahan yang terjadi.

Kalau tahun sebelumnya keluarga dengan dua anak, tahun berikutnya ada tiga anak; tentu tidak bisa menyamakan jumlah kebutuhan pokok dan pengeluaran. Semakin rinci keperluan dan jumlah yang harus dikeluarkan akan semakin baik.

Ketiga, sedekah. Sebenarnya ini tidak ada aturan dalam manajemen keuangan; tapi pastikan anda membagikan sebagian rezeki kepada fakir miskin dan orang yang lebih membutuhkan. Besarannya beragam antara 2.5% s/d 10% sesuai dengan kemampuan anda. Ini bagian dari sedekah untuk menolak bala dan biar rezeki kita terus mengalir lancar sepanjang masa.

Keempat, dana darurat. Kalau sudah tahu berapa total penghasilan. pengeluaran setahun; hitung berapa jumlah uang yang tersisa dalam setahun. Uang ini bisa anda gunakan sebagian untuk dana darurat. Berapa besaran dana darurat, tiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Sekurangnya harus ada dana untuk 1 bulan biaya keperluan hidup. Jangan sampai tidak ada dana darurat sama sekali.

Kelima, total hutang. Hitung semua hutang anda. Ini tidak termasuk yang saya anggap “cicilan” seperti uraian di atas. Hal ini sudah termasuk kebutuhan pokok yang harus anda keluarkan. Hitunglah semua hutang yang belum ada jaminan pembayarannya. Dengan mengetahui total keseluruhan hutang, akan membantu anda untuk fokus melunasinya.

Keenam, bayar hutang. Hitung uang yang tersisa dari sebagian dana darurat (langkah keempat). Bagi yang memiliki hutang, anda bisa menggunakannya untuk membayar hutang-hutang. Harus segera membayarkan, terlebih kalau pihak pemberi hutang memberi kelonggaran anda untuk mencicil.

Misalnya anda punya hutang 150 juta pada beberapa pihak, tapi ada pemberi hutang mengizinkan anda mencicil. Setiap punya uang harus langsung mencicil hutang. Kalau anda menunggu sampai jumlahnya terpenuhi mungkin lebih sulit. Kalau tidak mungkin dicicil, berusahalah menabungkan dana bayar hutang di rekening non-ATM dan non-aplikasi, sehingga segera terpenuhi untuk membayar hutang.

Langkah kesatu sampai keenam itu, mungkin saja tidak mudah bagi anda yang baru berniat membebaskan diri dari hutang. Ini berarti anda harus hidup hemat, memangkas beberapa hobi dan kesenangan, dll. Kegiatan atau kesenangan yang biasanya boleh dilakukan menjadi “ditunda” dulu. Versi saya, kalau mau bebas hutang ya harus sedikit “berpuasa”.

Selanjutnya langkah ketujuh, penghasilan tambahan. Apabila memungkinkan carilah pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Anda bisa menekuni hobi yang menghasilkan uang. Anda bisa memanfaatkan aset-aset di rumah anda untuk berkarya atau kerja. Ingat, kalau anda tahu persis berapa hutang yang ingin anda lunasi; cara ini biasanya menambah semangat.

Kedelapan, fokus melunasi hutang. Kalau niat awalnya bekerja tambahan untuk membereskan hutang; fokuslah di situ. Jangan uangnya untuk foya-foya karena akan timbul masalah lagi. Membebaskan diri dari hutang ini perlu waktu yang beragam tergantung besar kecilnya hutang yang anda. Makin cepat beres makin baik jadinya.

Kesembilan, mengatur ulang. Kalau hutang-hutang sudah beres, anda boleh mengatur kembali manajemen keuangan. Uang-uang yang biasanya untuk membayar hutang sudah mulai bisa untuk menabung, investasi, atau memenuhi keperluan besar lain —wisata luar negeri, pendidikan tinggi, haji – umroh, membeli tanah rumah baru, dll sesuai keinginan anda.

Kesepuluh, hidup sederhana. Kalau sudah terbebas dari hutang-hutang, jangan jumawa, jangan sombong. Tetaplah hidup sederhana. Tetaplah fokus pada kebutuhan, bukan keinginan untuk hidup sehari-hari. Sementara untuk keinginan besar, anda bisa mulai menabung dan tidak perlu terlibat hutang.

Kalau harus berhutang untuk keinginan, pilihlah hutang yang cerdas. Misalnya, anda ingin umroh dan sudah menyiapkan dana 35 juta. Namun bank anda memberikan fasilitas kerjasama dengan agensi umroh. Pembayaran anda itu bisa diubah jadi cicilan 35 bulan dengan per bulan hanya 1 juta tanpa bunga selama 35 bulan; dan waktu umroh bisa anda tentukan sendiri tanpa harus menunggu pelunasan.

Kalau ada tawaran seperti itu, ya anda ikut saja. Uang 35 juta yang sudah anda siapkan bisa anda gunakan untuk investasi lain. Sementara anda bisa pergi umroh cukup dengan membayar 1 juta per bulan. Tidak selalu punya hutang itu buruk. Tidak selalu tidak punya hutang itu cerdas secara finansial. Pilih-pilihlah yang paling sesuai dan paling bikin anda bahagia.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Ojo Njagakne Endhoge Si Blorok

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa waktu yang lalu saya pesan mobol untuk jarak jauh, biaya lebih kurang 150 rb (via aplikasi). Ternyata saya kenal drivernya, sebut saja Pak B; saya tanya apa mau menjemput saya lagi setelah tiga jam, kembali ke tempat yang sama; dengan charge sama 150 rb.

Biasanya siy cenderung mau. Karena kalau tidak lewat aplikasi tidak ada potongan 20% dan biaya layanan 5 rb. Artinya dia dapat utuh hanya kepotong BBM saja.

Urusan itu sudah beres. Karena saya memerlukan lagi beberapa hari kemudian, saya menanyakan pas balik apakah Pak B bisa antar jemput saya ke tempat yang sama di hari S. Dia bilang spontan bisa. Saya bilang oke dan akan WA hari S min 1.

Pikir saya, kalau sudah tahu orang dan model nyetirnya lebih mudah. Toh di aplikasi saya yo bayar lebih kurang segitu. Sekalian jadi jalan rezeki orang yang kita kenal.

Ealah, baru besoknya Pak B memberi tahu saya kalau tidak bisa mengantar saya karena ada pekerjaan mengantar rombongan piknik 2 hari. Saya bilang ya oke saja, tidak ada masalah. Tapi dia bilang sudah telepon temannya untuk antar jemput saya.

Saya, pengguna ojol dan mobol hampir 80 persen untuk transportasi sehari-hari dalam jarak maksimal 60 km pp. Pake aplikasi itu, saya juga bertemu orang yang tidak saya kenal; tapi sekurangnya identitasnya sudah tercatat di sistem, moda dan nomor kendaraan saya ketahui, No WA bisa diketahui, review pengguna bisa dilihat dan dibaca, rute perjalanan bisa dibagikan ke orang terdekat, dan kalau ada apa-apa bisa meminta bantuan dengan cepat. Sekurangnya dalam kondisi normal, lewat aplikasi keamanan dan keselamatan sudah lebih terjamin.

Sementara ini orang yang direkomendasikan; saya tidak kenal, tidak tahu mobilnya, tidak tahu gaya nyetirnya, tidak tahu kalau ada keribetan di jalan harus bagaimana; dan itu sebabnya saya menolak. Tapi Pak B agak ngotot karena merasa sudah menelponkan. Lha itu urusan dia sendiri. Urusan saya kan sama dia, terus batal ya sudah, selesai.

Saya tetap tegas menolak dan memintanya membatalkan. Saya orang yang mudah kompromi, tapi jelas bukan orang yang bisa seenaknya diatur atau dikendalikan orang lain.

Demi menghindari menunggu lama pas hari S, saya langsung pesan mobol terjadwal. Sudah aman. Terbayar. Dan wes gakjadi pikiran saya lagi. Nanti baliknya saya akan pake mobil dan driver yang sama kalau cocok, kalau enggak ya saya pesan terjadwal saat tiba di TKP. Urusan wes rampung.

Ealah pas hari S itu pagi buta, Pak B kirim WA ke saya kalau bisa antar jemput saya; karena piknik ditunda. Lah ya saya bilang wes pesan dan membatalkan pesanan hanya tinggal beberapa jam itu potongannya 50%. Tentu saya nggak mau.

Lalu saya terpikir cepat, ternyata ya rezeki itu sudah di depan mata, kalau bukan rezeki yo tetap nggak dapat. Lha wong dengan saya itu, Pak B jelas-jelas langsung bilang bisa, itu kan berarti belum ada kerjaan. Lalu ada gaweyan dengan charge lebih besar, langsung membatalkan saya. Yo wajar siy, tapi serasa njagakne endhoge si blorok. Padahal sudah dinasihati peribahasa Jawa: ojo njagakne endhoge si blorok.

Secara harfiah artinya “jangan berharap pada telurnya ayam blorok.” Tapi tentu saja, ini bukan soal ayam semata, melainkan sindiran yang penuh makna. Ayam blorok itu ayam yang bulunya nggak seragam, warnanya bercampur-campur. Dalam peribahasa ini, “si blorok” diibaratkan sebagai orang, sesuatu yang nggak bisa dipercaya, belum bisa dipastikan, nggak konsisten, mudah berubah-ubah, dan tidak jelas sikapnya. Telurnya dianggap nggak bisa diandalkan, nggak bisa diharapkan akan menetas atau memberi hasil.

Peribahasa ini memberi nasihat agar kita nggak menggantungkan harapan pada orang atau sesuatu yang nggak bisa dipercaya atau nggak bisa dipastikan. Ya seperti kasusnya Pak B tadi, dia melepaskan “telur kecil” yang pasti dari saya demi mendapatkan “telur besar” yang belum pasti. Padahal di hari yang sama dia berkendara 2 jam saja, full dapat 300 rb. Dikurangi BBM untuk 30 km pp ya lebih kurang 50 rb, masih utuh 250 rb. Hayaaah, gaji dosen anyaran sehari mung 100 rb masih dikurangi operasional transport dan makan siang.

Tapi bukankah begitu kebanyakan dari kita? Itu sebabnya kalau saya wes ada gaweyan kruncilan kecil-kecilan, terus jebret tiba-tiba ada gaweyan yang kayaknya gong besar; itu saya lempeng saja jawabnya. Pak, Bu, saya masih ada gaweyan sampai tanggal sekian. Kalau berkenan, monggo setelah itu kita jumpa. Kalau tidak sabar, silakan panggil penulis lain. Begitu juga soal jadwal-jadwal pelatihan, saya biasanya emoh pada mereka yang nyelow-nyelow dadakan, apalagi kalau saya kudu ngganti-ngganti jadwal yang sudah disusun dengan banyak pihak.

Biasanya siy, kalau memang rezeki saya mereka akan tunggu, bahkan kirim uang muka dulu agar saya nggak lari atau terima gaweyan lain. Tapi kalau enggak, sekurangnya saya nggak kehilangan telur-telur kecil yang sudah di tangan. Saya juga nggak perlu mencla mencle omong dengan pihak lain. Kalau A ya A, nggak njur diganti Z atau lainnya dengan sesukanya. Versi saya ini soal prinsip, soal keteguhan hati, dan tawakal kita pada yang memberi rezeki.

Kita memang perlu percaya pada orang lain, pada sesuatu, tapi juga harus bijak memilih kepada siapa kita menggantungkan harapan. Jangan mudah terbuai janji manis tanpa bukti. Jangan sampai kita berkali-kali kecewa karena menaruh harapan pada orang atau sesuatu yang salah.

Meskipun peribahasa ini mengajarkan kita untuk waspada, bukan berarti kita langsung menilai orang dari masa lalunya. Orang bisa berubah; kita lihat dari tindakannya, bukan hanya dari omongannya.

Mengikuti pesan dari “jangan berharap pada telurnya si blorok” bukan berarti kita jadi sinis pada setiap orang atau sesuatu. Tapi kita diajak untuk lebih bijaksana dan hati-hati. Pilih orang atau sesuatu yang benar dan pasti, agar sesuai dengan harapan kita.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Anak-anak Super Gunung Kidul

Anak-anak SMP Gunung Kidul setelah kelas penulisan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Alhamdulillah, hari ke-2 Bimtek Kepenulisan Angkatan 2; Selasa s/d Kamis 20-22 Mei sudah terlewati dengan baik. Masih ada 1 hari ekstra esok yang pasti bikin pemateri kudu lebih sabar. Kelas yang bikin saya … haish, ini bocah dikasih tahu belum selesai wes nyicriiis nyolot jawab aja.
.
Ya ampun, hampir semua begitu. Dan saya terperangah bagaimana mereka merasa baik-baik aja; menjawab spontan seolah tanpa sensor dengan ngeyelannya yang aduhai itu… 🤣🤣
.
Tapi ya, itulah anak-anak (cucu atau mungkin cicit) SMP kita. Bandel, ngeyelan, tapi cerdas, kritis, dan sering nggak mau ngalah. Kalau ngomong sama siapa aja, kayaknya kudu menang. Apa aja yang nggak sesuai pikirannya, akan dilawannya.
.
Toh saya tetap mengapresiasi keseriusan mereka mengikuti kelas, mengerjakan tugas menulis, menyimak materi, dan tanya jawab 2 jam tanpa ngantuk di siang bolong yang terik 🤩🥰
.
Kalian semua hebat, mung perlu lebih menjaga sopan santun dan kepatutan bicara saja. Percayalah, nanti kalian akan tahu bahwa ngotot, ngeyel, kadang cuma membuat kita lelah jiwa raga 😄😁
.
Sampai jumpa di kelas-kelas penulisan atau workshop berikutnya 😀🤩
.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: