Juli Penuh Reuni

Saya dan beberapa kawan Sasindo UGM angkatan 1997. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Juli sudah di ujungnya. Saya mereview laporan kerja dan mengingat sebulan sudah ngapain saja di luar kegiatan produktif komersial untuk menghasilkan uang. Ooh, sungguh menyenangkan karena ketemu banyak teman lama di moment tak terduga.

Saya sudah bilang kalau diundang apapun, kalau bisa, sanggup, nggak benturan jadwal, pasti saya datang. Begitupun undangan ketemu dengan teman-teman lama. Begitu diajak dan bisa, langsung berangkat. Tapi kalau nggak bisa, saya juga menjawab cepat. Biasanya karena jadwal nggak bisa digeser gegara ketemu banyak pihak.

Nah, bagaimana dengan kamu? Kalau dapat undangan ketemu, reuni, lalu bingung mau datang atau nggak? Rasanya campur aduk siy biasanya; antara penasaran, malu, takut dibanding-bandingin, atau malah malas dandan😂 Tenang, kamu nggak sendirian. Tapi jangan buru-buru nolak dulu. Reuni itu nggak selalu soal pamer pencapaian, kok. Banyak manfaat seru yang bisa kamu dapetin. Nih, coba aja simak dari pengalaman saya.

Mbak Kus salah satu senior dan idola saya di kampus UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketemu Teman Lama, Bikin Hati Hangat

Apa yang paling menyenangkan daripada ketemu orang yang pernah jadi bagian penting hidupmu? Ketawa bareng sambil ingat masa-masa sekolah atau kuliah bisa jadi obat rindu yang nggak bisa dibeli di apotek mana pun.

Ngobrol Seru, Nambah Energi Positif

Kadang, ngobrol sama teman lama bisa bikin semangat hidup balik lagi. Denger kisah hidup mereka, suka-dukanya, bahkan hal konyol zaman dulu bisa bikin kita mikir, “Wah, hidupku nggak sendirian, ya!”

Saya dengan salah satu sahabat sejak kuliah S-1 di UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Siapa Tahu Jodoh atau Rezeki Datang

Reuni juga bisa jadi ajang rezeki, lho. Nemu partner bisnis? Bisa. Ketemu jodoh yang dulu nggak sempat ditembak? Bisa banget. Dunia kecil, siapa tahu reuni jadi jalan ketemu orang penting dalam hidupmu berikutnya.

Nostalgia Itu Menyegarkan

Kadang kita terlalu sibuk sama urusan kerja, rumah, anak, atau keluarga. Reuni bisa jadi momen jeda buat balik ke masa-masa ringan, saat masalah terbesar cuma PR atau tugas kelompok.

Saya dengan Mbak Susi dkk, salah satu sahabat saat kos S-2 UGM di Bulaksumur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari

Bisa Refleksi Diri

Ketemu teman-teman lama bisa jadi cermin buat lihat sejauh apa kita berkembang. Bukan buat banding-bandingin, tapi lebih ke, “Eh, ternyata aku udah sejauh ini, ya!” atau “Wah, aku pengin belajar dari dia deh.”

Tertawa Lepas, Nggak Pake Jaim

Nggak ada yang ngerti jokes zaman dulu selain teman lama. Di reuni, kita bisa ketawa ngakak tanpa mikirin citra atau formalitas. Bebas jadi diri sendiri, kayak dulu lagi.

Saya dengan salah satu sahabat saat studi S-3 di UGM. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena Waktu Nggak Bisa Diulang

Hidup terus jalan, dan kita nggak pernah tahu kapan bisa kumpul bareng lagi. Jadi, selagi bisa, sempatkan. Reuni itu bukan sekadar acara, tapi momen untuk menghargai waktu dan orang-orang yang pernah ada di hidupmu.


Akhir Kata…
Reuni itu bukan soal “siapa yang paling sukses”, tapi tentang “siapa yang masih mau hadir dan menghargai pertemanan”. Jadi, kalau ada undangan reuni, coba deh datang. Kalau ternyata seru, kamu bakal nyesel kenapa dulu sempat ragu-ragu.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

“Survival Writer” di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan (AI)

Singgasana Raja Kutai Kartanegara di Museum Mulawarman. Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di era teknologi yang melesat tanpa ampun, kecerdasan buatan (AI) kini nggak hanya jadi asisten canggih dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga mulai merambah wilayah yang dulu dianggap sebagai “wilayah eksklusif” manusia; salah satunya dunia kepenulisan. Dari menghasilkan artikel, puisi, hingga novel, AI seperti ChatGPT dan sejenisnya telah menunjukkan kemampuan yang mengesankan.

Maka, muncul pertanyaan besar: masihkah penulis manusia dibutuhkan?

Penulis dalam Bayang-Bayang Algoritma

Kini siapa pun bisa meminta AI untuk menuliskan apa saja; dalam hitungan detik. Dunia jurnalisme, periklanan, hingga penerbitan digital mulai terguncang. Bahkan profesi penulis konten dianggap “terancam punah” oleh sebagian kalangan.

Namun, di tengah kecemasan itu, muncul pula gelombang penulis tangguh yang memilih untuk beradaptasi, bukan menyerah. Mereka ini layak disebut sebagai survival writer; penulis yang bertahan hidup dan terus berkarya di tengah gempuran teknologi.

Bukan Soal Kecepatan, Tapi Kepekaan

AI mungkin bisa menulis cepat, tetapi ia masih belum bisa merasakan bahagianya pernikahan, gembiranya mendapatkan pekerjaan baru, harunya pertemuan kembali, getirnya patah hati, sakitnya pengkhianatan, rumitnya relasi manusia, atau mendalami budaya dengan kehalusan rasa seperti manusia. Di sinilah survival writer mengambil tempat.

Penulis manusia memiliki keunggulan yang nggak bisa digantikan AI: kepekaan emosi, perspektif pribadi, dan pengalaman hidup. Cerita yang menyentuh, opini yang menggugah, serta gaya bahasa yang khas tetap menjadi kekuatan utama penulis manusia.

Adaptasi Itu Kuncinya

Saya sebagai penulis sejak belia hingga sekarang, hampir 4/5 umur saya lakoni pekerjaan sebagai penulis. Sudah banyak berganti masa, sudah banyak ragam teknologi yang mau nggak mau harus saya ikuti. Pun teknologi yang terasa mengguncang seluruh industri kreatif: AI yang mewabah di semua bidang kerja. Dunia kreatif yang semula punya “keunikan”, langsung ambyar di hadapan AI. AI membuat apa saja yang diciptakan manusia dalam industri kreatif dengan kecepatan yang nggak tertandingi oleh para profesional sekalipun.

Pada awalnya, saya bener-bener galau, sedikit frustasi, dan berasa hilang langsung semua harapan atas dunia tulis menulis. Tapi begitu mengetahui kelemahan dan kekurangan AI, saya optimis kembali. Yach AI justru bisa jadi alat bantu yang memudahkan pekerjaan menulis. Sama persis dengan tahunan silam saat saya mengenal grammar checker, editing text, Google translit, final draft, dll alat bantu yang bikin pekerjaan “sangat sulit” terasa lebih ringan.

Para penulis yang berhasil bertahan bukanlah mereka yang anti-teknologi, melainkan yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti. Mereka menggunakan AI untuk riset cepat, penyusunan draft awal, atau sekadar untuk brainstorming ide. Namun, sentuhan akhir tetap diberikan dengan jiwa dan rasa manusiawi.

AI bisa jadi “asisten” yang baik dan canggih, bukan sebagai “penguasa”. Inilah bentuk kolaborasi baru di era digital: manusia + mesin = hasil maksimal.

Revolusi Gaya Hidup Penulis

Survival writer juga harus mulai membangun personal branding yang kuat, aktif di media sosial, membuat newsletter, membuka kelas menulis, bahkan menjual karya dalam bentuk digital seperti e-book atau audiobooks.

Dengan gaya hidup baru ini, mereka nggak hanya jadi penulis, tapi juga pengusaha kreatif, pendidik digital, dan influencer literasi.

Karya Otentik Akan Tetap Dicari

Saya percaya pada akhirnya, pembaca yang cerdas akan tetap mencari karya otentik atau tulisan yang bisa membuat mereka merasa “dilihat” dan “didengar”. AI bisa merangkai kata, tapi belum bisa membangun koneksi emosional yang dalam seperti penulis manusia yang menulis dengan hati.

Jadi Penulis: Mau Bertahan atau Berinovasi?

Era AI bukan akhir bagi para penulis. Justru ini adalah momen pembuktian: siapa yang mampu berinovasi dan terus tumbuh. Survival writer bukan hanya bertahan, tapi mampu menjadikan teknologi sebagai batu loncatan menuju masa depan literasi yang lebih inklusif, cepat, dan menginspirasi.

Menjadi penulis di zaman AI bukan soal kalah atau menang, tapi soal berani menjadi manusia di tengah dunia yang semakin canggih.

Selamat beradaptasi dan berinovasi. Ingat, teknologi dibuat untuk memudahkan hidup kita, gunakan saja dengan bijak.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Juli Berisi

Salah satu sisi titik nol Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hitung kalender, lah sudah Juli aja. Perasaan baru reribetan tahun baru. Ternyata sudah memasuki bulan Juli. Kita seperti diberikan lembaran baru di tengah tahun yang berjalan cepat. Setelah melewati enam bulan pertama dengan berbagai tantangan, keberhasilan, bahkan kegagalan, Juli hadir sepeti titik jeda. Juli memberi ruang bagi kita untuk bernapas, mengevaluasi, dan menumbuhkan kembali harapan.

Harapan bukanlah hal besar yang harus menunggu momen spektakuler. Ia bisa hadir dari hal-hal kecil: pagi yang cerah, pelukan hangat dari orang terkasih, atau keberanian untuk memulai kembali, meski pernah gagal.

Bulan Juli bisa menjadi momentum untuk menumbuhkan harapan-harapan baru; baik dalam pekerjaan, hubungan, kesehatan, atau impian yang sempat terlupakan. Juli memberi kesempatan 6 bulan sebelum berganti tahun.

Juli juga menjadi waktu refleksi. Apa saja yang sudah kita capai hingga pertengahan tahun ini? Apa yang belum berjalan sesuai harapan? Bagaimana pencapaian keseluruhan kita?

Dengan mengevaluasi diri secara jujur, kita bisa memperbaiki arah dan menyusun langkah yang lebih terencana untuk enam bulan ke depan. Ingat ya, nggak pernah ada kata terlambat untuk memulai ulang. Kita selalu bisa memperbarui komitmen kita terhadap sesuatu.

Dunia memang nggak selalu ramah. Ada kalanya hidup terasa sulit dan penuh ketidakpastian. Namun, Juli mengingatkan kita bahwa musim akan terus berganti. Seperti halnya hujan yang akhirnya digantikan oleh pelangi, kesulitan juga akan digantikan oleh kemudahan jika kita terus bergerak dan nggak menyerah.

Bagi banyak orang, Juli adalah bulan liburan, saatnya mengisi ulang energi. Tapi lebih dari itu, Juli bisa menjadi bulan untuk memperkuat mental dan spiritual. Juli bisa jadi titik balik kesuksesan yang kita idamkan.

Mungkin dengan lebih banyak waktu bersama keluarga, merenung di tengah alam, atau menulis rencana hidup yang lebih bermakna. Bisa juga untuk sekedar memperbaiki tubuh yang dirasa mulai nggak ideal. Selalu ada hal yang bisa kita jadikan orientasi kemajuan.

Mari jadikan Juli sebagai bulan penuh harapan. Bulan Juli yang berisi. Bukan sekedar harapan kosong, tetapi harapan yang diiringi tekad, kerja nyata, dan keyakinan bahwa segala sesuatu bisa berubah menjadi lebih baik.

Apa pun yang terjadi di bulan-bulan sebelumnya, Juli mengajak kita untuk bangkit, bergerak, dan percaya bahwa hari-hari indah masih menunggu di depan. Mari terus bergerak maju, menuju impian kita masing-masing.

Selamat datang, bulan Juli. Bawalah semangat baru dan harapan indah ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (12): Jangan Lewatkan Kepiting Balikpapan

Saya bersama keluarga adik saya di Balikpapan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kebiasaan yang sering saya lakukan saat menginap di tempat asing, berkeliaran di waktu malam (lepas jam 12 malam sampai sebelum Shubuh). Ngapain? Ya lihat situasi malam kota tersebut.

Di Samarinda dengan energi yang belum sepenuhnya pulih, saya nyaris membatalkan rencana tersebut. Cuman karena wes pesen mobil dan driver, saya yo tetep mider. Sudah lumayan pulih, kalaupun belum bisa pecicilan lagi: ambil foto, minta foto, nanya dan nyapa-nyapa orang, memeriksa detail tempat, dll.

Samarinda di waktu malam, nggak lagi sesepi dulu. Masih ramai. Di beberapa tempat banyak berdiri kafe yang masih benderang. Kota ini nggak lagi “sunyi”. Sisa-sisa deras hujan masih ada di berbagai sudut.

Ke mana tujuan saya? Nggak ada. Yo mung keliling begitu aja. Tapi karena terbiasa, kecenderungannya saya itu “seperti langsung tahu” harus ke sini, pergi ke situ, dll. Versi saya pribadi, dengan jalan begitu bisa untuk melengkapi tulisan saya bila harus menggambarkan situasi yang nggak biasa.

2 jam kurang saya mider mengikuti jalan karena ngantuuuknya kok ampun. Jadi saya meminta driver segera balik. Bahkan saya menolak pengembalian uang karena hanya sebentar saja keliling. Masuk kamar wes langsung tidur. Pules betul dan kebangun saat alarm Shubuh. Kali ini saya merasa sudah pulih total. Usai mandi pagi, saya wes packing untuk ke Balikpapan.

Pagi itu kami masih sarapan di hotel. Jumpa Mas Amien dengan istrinya. Juga beberapa kawan lain yang masih ikut sarapan. Sebagian sudah pergi sejak semalem atau pagi pagi buta. Saya dengan istri Mas Amien sempat rerasan tentang bermacam lomba penulisan buku anak-anak tingkat nasional. Versi saya pribadi, persyaratan teknisnya wes bikin mumet dan kadang rada membagongkan. Penulis kok dibebani begitu banyak hal teknis yang nggak masuk akal.

Karenanya meskipun saya penulis buku anak, ada lebih dari 30 judul buku anak di penerbit mayor dan sebagian besar masih memberikan royalti hingga saat ini; alhamdulillah; ketambahan saya juga peraih Anugerah Kebudayaan sebagai penulis buku anak yang berdedikasi pada kebudayaan; nggak pernah sekalipun ikut lomba itu. Lha pikir saya, menulis hal cerita singkat tapi kok menghabiskan waktu gegara masalah teknis yang biasanya diurus layouter.

Selain itu slentingan kurang baik ya wes saya dengar sejak bertahun silam. Tentang penentuan juri yang nggak fair, sampai dari tahun ke tahun juri jurinya ya itu itu saja, sehingga pemenangnya bertahun-tahun juga itu itu saja. Mungkin selalu ada siy satu dua penulis baru, tapi silakan cermati pemenangnya dari tahun ke tahun ya kok itu itu saja namanya.

Jadi saya nggak mau habis waktu, bersangka buruk, kesal jengkel kalau ikut lomba lomba ini. Itu sebabnya saya belok kiri, wes gak usah melu-melu. Saya nulis untuk penerbit atau klien bae. Cuman kalau ada praktik-praktik nggak fair kayak gitu, padahal duit yang dipake juga duit negara yang berarti duit rakyat, gemas juga saya. Mudah-mudahan kalau ada pejabat atau pihak berwenang yang membaca tulisan saya ini; bisa meninjau ulang semua kebijakan tentang lomba penulisan buku anak (juga buku-buku lainnya), sehingga menghasilkan buku-buku berkualitas tanpa bikin aturan-aturan yang membagongkan dan menyulitkan banyak penulis. Akhirnya ya kek gitu, penulis penulis yang berkualitas malah hengkang nggak berpartisipasi. Haizh…

Pagi itu saya tahu rombongan peserta DSBK XVI dari Malaysia berangkat dan perginya lewat bandara Balikpapan. Jadi mereka masih banyak yang ikut sarapan pagi itu. Dari mereka saya juga tahu, kalau rombongan Malaysia memberi dua jempol untuk panitia. Versi mereka kalau di Malaysia mereka nggak akan mau menanggung full biaya dari makan, hotel, beragam acara, publikasi, seragam, ATK, s/d uang harian. Bebas biaya publikasi mungkin, tapi keseluruhan jelas tidak.

Dalam hati saya tertawa. Ya jelas kalian orang Malaysia nggak akan mau menanggung kami. Kalian cuma 15 orang, kami 185 orang kok. Lha apa nggak tekor bandar itu kalau menanggung seluruh biaya kami 😂 Entah saya yang baper atau memang begitu adanya, saya menangkap ungkapan rasa iri kawan-kawan Malaysia ini dengan situasi dan keberadaan sastrawan kita di Kaltim. Apapun itu, saya juga sangat mengapresiasi seluruh panitia dalam acara DSBK XVI 2025 ini.

Duit yang saya anggarkan dari Januari 2025, lumayan banyak tersisa; bisa untuk foya-foya selama di Kaltim 😀😁 Itu sebabnya saya mau balik YK dari BPN. Karena ketemu ponakan-ponakan saya, makan-makan dengan mereka pun jelas pakai uang. Angpao pun dengan uang lah bukan kertas 😁😂

Ya begitulah, saya pamitan ke Mas Amien dkk yang masih ketemu hari itu. Dengan mobil charter saya langsung ke BPN, meski sempat pakai drama. Drivernya nggak biasa lewat tol, jadi sempat nyasar, muter-muter. Mestinya kalau lewat tol 2 jam saja, ini ya 3 jam.

Saya jumpa adik, ipar dan trio keponakan yang super pintar. Mereka juara juara di sekolahnya. Hafalan Qurannya juga rerata di atas 5 juz. Alhamdulillah. Semula mereka mo ngajak makan seafood di areal pantai. Tapi mengingat pertimbangan waktu, akhirnya kami memutuskan makan kepiting di sekitaran terdekat.

Saya sempat khawatir nanti kalau nggak enak, bagaimana. Karena sepanjang beberapa kali makan kepiting di BPN jujugan saya pasti ke Da*nd*t*. Jelas enaknya ning harganya juga bunyi 😁😂 Tapi karena adik saya bilang tempat itu rekomendasi, jadi saya ngikut saja. Karena penyuka kepiting dan bukan itu lidahnya beda. Syukurlah masakannya oke, tempat bersih, layanan cepat dan harga cukup bersahabat.

Adik saya masih mau ngajak jalan, saya wes nyerah. Karena nanti malam masih perjalanan panjang. Besok paginya saya ada dua kelas jam 9-11 dan 13-15. Jadi kudu simpan energi. Kami akhirnya ngobrol saja. Terus sempat saya tidur sebentar, sebelum balik ke bandara BPN. Terbang 2 jam, saya tidur. Bangun wes di YIA. Sampai rumah jam 22 malam. Lega. Plong. Alhamdulillah. Beres semua urusan saya di Kaltim.

Terimakasih untuk Mas Amien dan seluruh panitia penyelenggara acara DSBK XVI 2025. Terimakasih untuk seluruh peserta dan pendukung acara ini. Terimakasih untuk seluruh teman, sahabat, relasi, keluarga, dan berbagai pihak di Kaltim yang telah mengawal, membantu, menemani saya selama ada di Kaltim. Semoga semua jadi amalan kebaikan berlimpah berkah. Amin YRA. Sampai jumpa lagi.

Selesai.
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (11): Minum Air Mahakam, Kamu Pasti Akan Kembali

Jembatan Mahakam, salah satu ikon kota Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selesai urusan bebersih karma dan energi negatif di Kutai Kartanegara, saya beneran merasa lemas. Energi tipis banget. Jadi begitu jalan ke arah kapal, nggak banyak foto dan juga wes malas mengambil foto.

Padahal sekitaran museum ke pelabuhan cukup banyak view yang bisa dibidik. Biasanya saya cukup hectic dan motret banyak di tempat baru. Kadang rumput beda bentuk aja saya potret 😁

Tentu masih ada foto-foto yang memang harus saya ambil. Setelah itu saya wes langsung ke kapal. Kami akan kembali ke Samarinda dengan kapal lebih kurang 2 jam perjalanan.

Titik Nol Kutai Kartanegara. Di tengah-tengah Museum Mulawarman dan Pelabuhan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lantai bawah kapal sudah penuh. Orang-orang juga sudah banyak yang makan, ngobrol, sebagian mulai siap-siap menyanyi dan berjoget.

Saya, Mbak Erna dan temannya segera mengambil nasi box dan ke lantai atas. Lebih panas di sini, tapi lebih leluasa. Masih banyak kursi kosong.

Bertiga kami duduk. Saya wes minum banyak, terus langsung makan. Sementara Mbak Erna dan temannya tidak langsung makan. Katanya masih kenyang beli jajanan dan makan dekat areal masjid. Saya makan, sambil berdoa memulihkan energi saya.

Sisi lain Titik Nol Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah sudah lumayan pulih, meskipun belum 100 persen. Berbincang tentang banyak hal dengan 2 teman duduk terasa cepat membuang waktu.

Kehebohan Teman-teman lain peserta DSBK XVI yang menyanyi dan berjoget, untunglah nggak menggoda Mbak Erna dan temannya untuk ikut. Jadi saya ada temannya terus.

Semilir angin, suara air, udara panas tapi sejuk, perut kenyang dan kurang energi adalah paduan sempurna untuk tidur. Cuman karena ada banyak hal seru yang kami bicarakan, saya pun nggak jadi tidur.

Kapal wisata yang kami tumpangi dari Kutai Kartanegara ke Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mahakam membentang luas dengan airnya yang cokelat pekat. Ada banyak kapal angkut batu bara lalu lalang. Ada banyak pula kapal penumpang. Jembatan Mahakam yang membentang gagah di tengah-tengah sungai Mahakam, sungguh cantik kilau nya di waktu senja. Kerlap kerlip lampu di malam hari menambah pesona cantiknya.

Rumor mitos yang masih terdengar hingga sekarang, kalau sudah pernah minum air Mahakam (pernah datang) pasti akan datang lagi. Ya, ternyata saya pun begitu. Sudah pernah datang, ternyata ya datang lagi. Justru karena mitos itulah, saya tenang-tenang aja kalau satu sesi kedatangan ini belum selesai semua urusan, ya nanti datang lagi.

Begitu sampai pelabuhan di Samarinda, rombongan terpisah 2 bus. 1 bus pergi ke mall untuk beli belanja oleh-oleh. 1 bus lagi langsung balik hotel.

Pulau Kumala yang berada di tengah-tengah Sungai Mahakam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mbak Erna dan temannya naik maxim online karena buru-buru mau langsung ke hotel. Mereka ada perlu dengan kawan lainnya. Mereka juga mengajak saya serta, tapi saya memilih ikut bus yang ke hotel.

Sampai kamar hotel, terasa betul capeknya saya. Jadi langsung mandi, sholat ashar, dan bleees… tidur pules saya. Tahu-tahu sudah maghrib saja. Usai sholat, tidur lagi saya.

Dekat-dekat jam 8 malam baru makan. Sementara itu ada rombongan yang ikut pekan budaya. Saya yo nggak ikut datang. Lelah bener. Belum pulih energi saya. Lha ndilalah hujan deras malam itu. Tapi Mas Amien cerita keesokan harinya kalau di tempat pekan budaya terang benderang. Pasti mereka pakai pawang hujan. Saya cuma mikir dalam hati, oh pawang hujan juga dikenal di sini. Nggak cuma di Jawa aja.

Dermaga Mahakam Ilir yang berada di Samarinda. Di sinilah kapal kami dari Kukar berlabuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Malam itu, sebenarnya saya sudah janjian jumpa Uda dan beberapa teman. Cuman karena hujan, bubar jalan. Saya pun males kalau hujan keluar. Selain ya, energi saya belum beneran pulih. Kalau capek fisik, tidur sebentar sudah fresh. Tapi yang ditarik energi, pulihnya rada perlu waktu.

Untunglah beli oleh-oleh sekarang yo segampang pesan online. Pesan, transfer, ambil pake gojek untuk diantar ke tempat kita menginap pun bisa; bahkan bisa pesan untuk langsung dikirimkan ke alamat kita di Jogja. Jer basuki mawa kanca. Dengan bantuan teman, urusan begini langsung beres.

Setelah beres urusan itu, saya sempat ngobrol dengan beberapa peserta yang hilir mudik di lobi nunggu jemputan mo belanja malam itu. Sebagian ada yang sudah langsung pulang. Ada info juga rombongan yang mobilnya nabrak mobil orang. Syukurlah semua orang selamat, meskipun mobil nggak selamat. Terpaksa mereka balik lagi ke hotel dan baru keesokan harinya bisa pulang.

Ini kucing Kutai Kartanegara di sekitaran makam Raja-raja Kukar yang memgekori saya dari ujung ke ujung, tapi menghilang pergi di sekitaran Masjid Kukar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya sempat rerasan dengan Mas Amien kalau pergi pas maghrib memang nggak baik. Masa yang berat, karena bangsa lelembut sangat powerfull saat itu. Kekuatannya bisa mengganggu manusia yang kondisi energi drop, apalagi lelah seperti saat itu; seharian di lapangan mider jalan. Belum mereka yang aktif nyanyi joget. Gembira iyes, rasa capek mungkin tidak, tapi energi berkurang itu nggak bisa diakali.

Kembali ke kamar, sebentar saja saya wes tidur. Pokoknya kalau urusan tidur, alhamdulillah saya paling gampang. Bangunnya juga mudah. Mungkin 2 jam lah saya tidur. Pas buka WA ada pengumuman untuk urus uang saku.

Turun ke meja panitia, pake ditanyain aura ballroom bagaimana sama salah satu panitia. Saya bilang baik-baik saja. Kalau aura panitia, sambil tertawa saya jawab semua lelah. Duh, saya kok lupa tenan nggak foto sama mereka semua. Haizh, saya masih mbliyat-mbliyut energi belum 100 persen.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (10): Terbayar Lunas

Pintu makam salah satu Raja Kutai Kartanegara. Makam ini biasanya terkunci, nggak selalu bisa diakses umum. Tapi pas saya datang, nggak terkunci dan saya bisa masuk. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sering kali niat baik itu menemukan jalannya sendiri. Begitupun dengan niat saya membayar hutang-hutang karma pastlife dengan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa yang sudah terlewat berabad-abad silam.

Urusan di sekitaran dan dalam Museum Mulawarman yang berkaitan dengan pastlife sudah saya bersihkan. Untungnya saya nggak ada sesak nafas, asma, nggak phobia gelap, sempit; sehingga ketika mengakses ruang bawah tanah di museum itu pun tetap dengan ringan hati, meskipun harus mider sendirian. Karena Mbak Erna dan temannya nggak bareng saya lagi.

Sisi dalam makam Raja Kutai Kartanegara yang nggak selalu terbuka untuk umum. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau saya berada di Museum Trowulan, Majapahit saya nggak akan seberani dan sepecicilan di sini. Di salah satu sesi pastlife, energi dan trah bangsawan saya boleh besar, tapi di depan raja-raja Majapahit saya tetaplah rakyat yang kalah “power” kalah “awu” dari mereka. Tapi di depan raja-raja Kutai, tentu saya lebih menang power dan menang awu daripada mereka.😀🙏

Saya masih terbengong memikirkan siapa yang mau saya minta nemenin ke makam dan masjid. Di depan museum ada beberapa tim panitia DSBK. Saya nimbrung saja dan tiba-tiba ada obrolan soal penjara bawah tanah. Mata saya sedikit membola.

Makam Raja Kutai Kartanegara yang lain. Kalau makam ini terbuka untuk umum. Nggak pernah dikunci. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lho ada penjara bawah tanah (lainnya)? Di mana? Bagian mana? Saya jadi penasaran. Karena versi saya, semua sisi museum atas bawah, pokok ujung, depan belakang, kanan kiri wes saya kelilingi dengan tertib. Nggak ada yang terlewat. Mas Amien bilang kalau itu juga di bawah tanah di areal guci-guci dan keramik. Wah, saya pasti terlewat kalau begitu. Daripada penasaran dan karena ada dua panitia yang mau ngecek, saya ikut mereka lagi.

Oalah itu ternyata tetap sama, penjara bawah tanah yang sudah dialihfungsikan sebagai gudang. Tempat yang sudah nggak serem lagi tadi, meskipun ya ruangannya dalam kondisi normal gelap gulita. Tapi pintu tidak dikunci, sehingga bisa dibuka tutup untuk dilihat ruangnya secara keseluruhan.

Penanda areal cagar budaya untuk komplek makam Raja-raja Kutai Kartanegara. Ini searah menuju masjid. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah dari ruang bawah tanah, kami mider ke makam raja-raja. Wah kebenaran sekali. Di seluruh areal komplek itu, saya mengendapkan pikiran untuk fokus meminta maaf dan memaafkan semua hal. Di beberapa titik saya merasakan bahwa ada tarikan energi besar, tanda ada proses pembersihan energi-energi negatif sedang berlangsung.

Areal makam ini cukup luas. Ada 2 atau 3 petugas yang berjaga di sisi lain. Tapi areal makam boleh diakses untuk umum, kecuali makam yang paling depan. Makam ini selalu terkunci dan kalau mau nyekar atau ziarah harus menghubungi petugas. Tapi beruntung pas saya datang, makam itu nggak terkunci. Jadi hanya perlu menggeser kotak infak dan saya pun bisa masuk.

Sisi depan masjid Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Duduk hormat, menyambungkan hubungan batin di kehidupan pastlife… alhamdulillah, akhirnya beres dan bersih. Terbayar lunas hutang-hutang cinta di salah satu sisi kehidupan saya. Plong tenan rasanya begitu beberes urusan dengan raja-raja Kutai Kartanegara.

Makam raja di sini nggak dikeramatkan kayak di Jawa ya… dan secara energi lebih bersih karena berada di areal dekat masjid. Lokasinya juga satu komplek istana di masa lampau. Saya lega, dan seolah-olah juga bisa melihat mereka senang saya datang untuk menepati janji.

Salah satu sisi di dalam masjid Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Tinggal satu areal yang belum saya bersihkan. Masjid. Dari komplek makam yo lumayan jalannya sekitar 500 meter menuju jalan besar. Letak masjid berhadapan dengan kantor pemerintahan. Kalau dilihat pola tata kelola komplek istana ini ya nggak beda dari tata kelola komplek istana Majapahit.

Teman-teman bisa mengecek yang ada di lingkungan Trowulan, areal yang hingga kini diaminkan sebagai bekas pusat Kerajaan Majapahit. Tratag Agung (tempat pertemuan, kendali pemerintahan) di Trowulan juga berhadapan dengan candi (tempat ibadah), di sisi lainnya juga terdapat makam.

Kantor pemerintahan Kutai Kartanegara yang terletak di depan masjid. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Meskipun Majapahit sering dilabeli kerajaan Hindu Budha, silakan cek juga ada penguasa-penguasa Islam (tentu dengan masyarakat) dan mata uang gobang dari masa itu pun bertuliskan Arab Pegon. Jadi klaim kerajaan Hindu Budha itu, versi saya karena mayoritas penguasa dan masyarakat saat itu beragama Hindu Budha. Tentu untuk membuktikan dan memberikan statemen tersebut masih perlu banyak penelitian valid dari pihak-pihak yang berkompeten.

Di masjid saya wudu, sholat, berkeliling, bermeditasi; memaafkan dan meminta maaf atas banyak peristiwa pada orang, tempat, kejadian di pastlife berabad silam. Cukup lama saya berada di tempat ini. Karena sekaligus menunggu adzan dan sholat Dhuhur. Alhamdulillah, tunai sudah urusan beberes hutang-hutang karma pastlife saya. Rasanya ringan banget di hati.

Sekurangnya sudah sampai di Taman Titik Nol Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dua orang panitia yang sebelumnya bersama saya wes nggak nampak batang hidungnya. Lha nggak ada yang saya kenal. Untung Mas Amien masih ada di situ. Sekurangnya saya bisa meminta difotokan di depan masjid kerajaan ini. Maturnuwun Mas Amien 😀🙏

Keluar dari areal masjid untuk menuju kapal di pelabuhan yang ada di depan museum, berasa energi saya tipis banget. Habis untuk bersih bersih karma. Tapi untuk sekedar foto-foto dan jalan ya masih kuat lah. Cuman, mata berasa liyernya mengajak tidur. Toh madih sempat juga saya dan dua orang yang menemani ke makam dan masjid berfoto di titik nol Kutai Kartanegara.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (9): Museum Mulawarman, Paling Lengkap Koleksi Alat Tangkap Ikan

Di depan sisi kanan Museum Mulawarman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Acara berikutnya setelah rangkaian seminar yang panjang adalah trip budaya atau wisata budaya. Kami pergi ke Tenggarong. Saya tidak ingat persis rincian acara. Wes ikut saja. Usai sarapan, foto-foto, naik bus, dan pergilah kami berpesiar. Setahu saya hanya ke museum dan balik naik kapal.

Tiba di Museum Mulawarman, hujan rintik cenderung deras. Tapi nggak lama. Begitu selesai mendapatkan penjelasan singkat dan diizinkan masuk, saya sudah langsung berkeliling areal museum. Dari depan sampai ujung, atas bawah semua saya tengokin. Butuh waktu cukup lama untuk bisa eksplore museum ini. Saya sempat mikir kenapa diberi waktu 3 jam untuk sekedar keliling museum? Biasanya nggak sampai sejam juga kita sudah keluar areal museum. Versi saya, museum Lagaligo di Makassar wes cukup luas dan komplet, tapi ya nggak sampai 2 jam mider wes beres keliling dan foto-foto.

Kursi singgasana Raja Kutai dan naga emas simbol kekuasaan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, ternyata museum ini luas banget. Tempat ini tergolong cukup lengkap koleksinya untuk menggambarkan Kutai Kartanegara dari awal berdiri, hubungan dagang dan diplomasi dengan Dinasti Ming dan Dinasti Ching, hubungan dengan bangsa-bangsa Eropa dan masa kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga bergabung dengan Republik Indonesia. Tentu hampir semua barang koleksi adalah replika. Sebagian saja yang asli untuk menghindari penjarahan, pencurian, kebakaran, dll.

Gedung ini dulunya gedung istana raja, bangunan Belanda, jadi sebagian masih terlihat kokoh kuat. Di sini juga ada beberapa tempat yang dulunya “penjara” bawah tanah, yang sekarang sudah difungsikan sebagai gudang barang. Jadi nggak serem lagi. Berbeda dengan beberapa penjara bawah tanah seperti di museum Lagaligo, Lawang Sewu, Siwalima, dll. yang masih dipertahankan sesuai versi aslinya.

Dari museum ini, yang membuat saya paling ingat adalah koleksi alat tangkap iklannya. Ada lebih kurang 20 jenis alat tangkap ikan (cmiiw) yang disebut dalam bahasa lokal. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kaltim begitu dekat dengan kehidupan sungai. Mereka sudah memiliki kearifan lokal memberdayakan alam sekitarnya, termasuk Sungai Mahakam.

Salah satu alat tangkap ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sungai Mahakam yang lebar, luas, dalam, bukan sekedar kumpulan air; tapi telah membawa kehidupan yang makmur dan sejahtera bagi masyarakat Kaltim di masa lalu. Sekurangnya mereka telah memanfaatkan sungai untuk mendapatkan ikan, kebutuhan air, keperluan mencuci, memberi minum ternak, hingga transportasi air. Mahakam adalah sebagian nyawa kehidupan orang Kaltim.

Di masa lampau, rumah-rumah orang Kaltim menghadap ke Sungai Mahakam. Mereka masing-masing memiliki perahu atau jukung-jukung yang ditambatkan di dekat rumah, sebagai alat transportasi. Ketika masa Orde Baru, pemerintah mengubah paksa haluan tersebut.

Setelah melewati aneka jenis alat tangkap ikan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Rumah-rumah harus berbalik arah menghadap jalan baik jalan raya besar atau kecil. Kehidupan dengan transportasi air di Sungai Mahakam bukan lagi sarana utama. Ini adalah perubahan ekstrem, karena membalikkan arah dari transportasi air ke transportasi darat. Hal yang tidak mudah karena berabad-abad mereka sudah terbiasa dengan kehidupan dan transportasi air.

Versi saya pribadi, sebenarnya kalau pemerintah pusat lebih berwawasan budaya; hal tersebut tidak perlu diubah. Hanya ditambahkan saja ada transportasi darat. Biarkan masyarakat Kaltim tetap hidup dengan rumah rumah menghadap sungai dengan jukung-jukungnya; sementara sisi yang menghadap jalan pun tetap tersedia. Ini bisa jadi warisan budaya yang bermanfaat untuk wisata budaya.

Toh nasi telah menjadi bubur. Perusakan budaya atas nama pembangunan terjadi di mana-mana di segala sudut bumi Nusantara. Kita memiliki aneka kekayaan pangan etnis (jagung, sagu, singkong, talas, dll) yang semua dianggap kurang berbudaya saat pemerintah memaksakan beras sebagai bahan pangan nasional. Begitu gagal panen, beras langka, kita semua repot dan harus kembali ke warna lokal pangan dasar yang lebih mudah dihasilkan, seperti jagung, singkong, dll. Tapi lidah kita secara nasional sudah terlanjur rusak; seolah belum makan dan nggak kenyang lagi kalau nggak makan nasi.

Ruang luas dan lengang yang memudahkan saya untuk meditasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ternyata cukup lelah berkeliling museum ini. Begitu selesai keliling saya balik ke depan. Minta foto-foto dari panitia njur bengong. Saya meditasi sejenak untuk membersihkan diri dari energi negatif di sekitaran museum. Ada cukup banyak energi negatif, terutama di areal bawah tanah tempat menyimpan berbagai guci dan keramik sejak Dinasti Ming hingga versi terbaru dari keramik-keramik Eropa. Saya yakin, hubungan dagang mereka nggak sepenuhnya murni, karena toh akhirnya Kutai juga terimbas kolonialisasi Belanda dan pendudukan Jepang.

Usai bebersih energi, saya melihat masih banyak peserta yang berkeliling. Saya berasa sudah lelah dan energi cukup drop. Perlu beberapa waktu untuk memulihkan energi. Untung ada ruang yang cukup luas tanpa perabot, sehingga memudahkan saya untuk memulihkan energi. Rasanya langsung segar bugar. Urusan saya dengan pastlife belum selesai. Ini hal penting yang kudu saya bereskan hari ini.

Jujurly, saya rada jiper kalau harus ke makam sendirian. Ini yang bikin saya galau. Gegara dua teman saya (Mbak Erna dan temannya) yang tadinya mau ikut keliling museum bilang merinding dan nggak enak perasaan sedari masuk museum. Karena itu saya langsung melarang mereka keliling museum. Khawatirnya mereka drop, pingsan, atau malah kesurupan ntar semua repot.

Nah sekarang saya nggak melihat batang hidung mereka berdua. Di sekitaran masih banyak orang, tapi saya nggak kenal meskipun sesama peserta. Nggak enak juga minta mereka ujug-ujug nemenin ke makam. Hadeuh, bagaimana ini? Mosok sudah sampai sini nggak diberesin hutang karmanya?

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: