Hal-hal yang Bikin Editor Sebel Sama Naskah (Kamu)

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Editor adalah orang kunci yang bikin naskah jadi “lebih baik” dan “lebih menjual”. Nah, biar jalan naskahmu mulus di tangan editor, berikut ini beberapa hal yang harus dihindari. Kalau bisa ditiadakan, biar editor nggak sebel sama naskah kamu dan kadang jadi merembet ke kamu (penulisnya).

  1. Banyak salah ketik. Modal dasar penulis adalah menulis huruf dengan benar. Kalau belum terbiasa menulis, minta orang untuk mengecek masalah salah ketik. Sekurangnya naskah harus bebas dari salah ketik.
  2. EYD yang masih berantakan (baca: penulisan tidak sesuai EYD). Sekarang EYD bisa diakses online dan nggak berbayar. Cek-cek ketentuannya, sehingga naskahmu lebih rapi dan terbaca sesuai EYD.
  3. Penyajian bahasa terlalu kaku. Dalam penulisan mengikuti aturan KBBI, EYD itu sangat baik. Namun kalau terlalu kaku demi mengejar kebakuan, ini juga bukan tulisan yang menyenangkan.
  4. Penyajian naskah bertele-tele dan melantur ke mana-mana, tidak fokus. Pastikan memeriksa bawa dari judul sampai bagian akhir, semuanya merupakan satu kesatuan dengan benang merah yang sama.
  5. Banyak kalimat yang tidak dimengerti apa maksudnya. Biasanya ini karena penulis berusaha membuat kalimat kalimat puitis, tapi kurang tepat pilihan kosakata dan penempatannya.
  6. Banyak kosakata jorki (baca: sadisme, pornografi, makian/umpatan, pertentangan SARA). Untuk kosakata yang harus sangat ekstrim wajib ada, cobalah memilih kosakata yang lebih ringan tanpa kehilangan maknanya. Beberapa penerbit langsung membuang naskah yang kosakatanya jorki, sadis, atau makian yang dianggap terlalu kasar.
  7. Tidak sesuai dengan orientasi penerbit. Kamu punya naskah fiksi, tapi kirim ke penerbit yang cuman bikin buku kesehatan. Ya jelas ditolak langsung. Jadi sebelum kirim naskah, cek-cek dan periksa orientasi penerbit atau medianya.
  8. Naskah tidak lengkap (tidak ada pengantar, daftar isi, sinopsis/intisari, proposal, dan biodata penulis). Daripada sulit-sulit, biasanya editor langsung meninggalkan naskah yang begini. Jadi pastikan naskahmu komplit ya, terutama kalau kamu baru berurusan dengan penerbit tersebut.
  9. Penulis tidak mau revisi. Kalau ketemu penulis yang begini, besoknya editor jadi males berurusan dengan penulisnya. Kalau memang sudah disepakati untuk perbaikan, lakukan saja dan jangan mangkir-mangkir.
  10. Penulis sulit dihubungi. Waah, hari gini kalau ada penulis yang sulit dihubungi, ya wislah, ditinggalkan saja. Jadi, pastikan memberi nomor contact yang online 24 jam…. apalagi kalau kasih contact ke produser…. itu jenis orang-orang ajaib, yang suka seenaknya mencari penulis. Nggak peduli jam dua pagi, kalau dirasa harus dibicarakan, pasti ditelpon. Hihi…. penulis memang hidupnya penuh keajaiban 😀

Editor juga sama manusiawinya dengan kita. Ada banyak capeknya, ada banyak deadline dan kerjaannya. Be nice-lah. Jangan mengejar-ngejar mereka tak kenal waktu. Kalau baru kasih naskah hari ini, ya jangan besok ditanyakan. Bulan depan mungkin, biar sekalian ingat.

Percaya deh, kalau naskah kamu bagus bingit nggak sampai seminggu kamu pasti sudah dapat kabar gembira. Apalagi kalau produser, bisa dua jam berikutnya sudah dapat kabar. Tapi kalau nggak, ya yang sabar dikit…. karena nggak cocok itu, bukan berarti naskah kamu selalu nggak bagus. Bisa jadi karena nggak cocok saja.

Happy Writing, Be A Good Writer ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mengembangkan Keterampilan Menulis

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menulis dengan baik adalah salah satu keterampilan yang paling dicari dan berguna dalam dunia kerja sekarang ini. Ironisnya, menulis juga termasuk salah satu jenis keterampilan paling langka. Dalam 100 orang, sekurangnya hanya ada 1 atau 2 yang bisa menulis dengan baik.

Berikut ini adalah beberapa tips untuk membantu kita mengembangkan keterampilan menulis. Keterampilan menulis, tidak hanya akan meningkatkan karir anda, tetapi juga membantu mengembangkan kemampuan berpikir dan menjelaskan topik yang paling sulit.

1. Miliki target pribadi.
Miliki target pribadi yang realistis sehingga cukup waktu untuk merencanakan, penelitian, menulis, dan merevisi.

2. Miliki rencana dan wujudkan.
Pasti tidak benar kalau ada penulis sukses yang bilang menulis tanpa rencana. Semua pasti direncanakan, meskipun (mungkin) tidak dituliskan dan hanya tergambar di otaknya.

3. Mulai di tengah.
Ya, sering kita sulit memulai dari awal. Lalu, kenapa tidak mulai dari tengah? Atau malah dari akhir. Dari mana kita mulai, itu urusan penulis; yang penting naskah selesai dan lengkap.

4. Izinkan draft pertama jelek.
Sering kita berharap sekali menulis langsung bagus. Wah, bagus dalam tulisan itu proses dari menulis jelek berulang-ulang.

5. Jangan plagiat.
Ini pelanggaran yang lebih berat dari pencurian barang-barang nyata. Hati-hatilah. Tulislah karya sendiri.

6. Penuhi aturan main.
Kalau mau kirim cerpen ke media tertentu aturannya 10 halaman, ya buatlah 10 halaman. Jangan 8 atau 15. Pasti ditolak.

7. Gunakan kamus dan ensiklopedi untuk membantu.
Data-data dan fakta kadang bisa dengan mudah ditemukan di kamus dan ensiklopedi. Jadi, bersabahatlah dengan keduanya.

8. Fokus pada apa yang anda kerjakan.
Jangan tolah-toleh. Kalau sudah merencanakan, mengerjakan, fokus saja sampai selesai. Harus kuat komitmennya untuk selesai.

9. Proofreading.
Sebagus apapun anda merasa “yakin” tetap harus dibaca ulang dan dikoreksi. Karena pasti ada kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki.

10. Berikan sesuatu.
Menulis pasti dengan tujuan. Berikan sesuatu untuk pembaca; entah itu informasi, inspirasi, humor, cerminan, dll.

Cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan menulis adalah dengan menulis, sebanyak yang anda bisa. Tips di atas akan membantu memberikan arah dan menunjukkan kepada anda kekurangan yang melemahkan tulisan.

Happy Writing, Be A Good Writer 😍

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tips Menulis dari Stephen King

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Stephen King: I have never felt like I was creating anything. For me, writing is like walking through a desert and all at once, poking up through the hardpan, I see the top of a chimney. I know there’s a house under there, and I’m pretty sure that I can dig it up if I want. That’s how I feel. It’s like the stories are already there. What they pay me for is the leap of faith that says: “If I sit down and do this, everything will come out OK.”

Terjemahan Bebas:
Saya tidak pernah merasa seperti menciptakan sesuatu. Bagi saya, menulis seperti berjalan melewati padang pasir dan sekaligus, menyembul melalui kondisi yang paling sulit, saya melihat bagian atas cerobong asap. Saya tahu ada rumah di bawah sana, dan saya yakin bisa menggalinya jika mau. Itulah yang saya rasakan. Perasaan ini seperti cerita tersebut sudah ada. Apa yang mereka bayar untuk saya seperti takdir yang mengatakan: “Jika saya duduk dan menuliskan ini, semuanya akan berhasil dengan baik.”

—Simpelnya, cerita-cerita yang dibuat oleh King, sebenarnya sudah ada di dunia ini dan tinggal menuliskannya.

Stephen King terkenal dengan kisah-kisah HOROR —jenis novel/film yang paling saya malas untuk ikuti, tapi kalau mau jadi penulis, ya harus baca dan nonton.

Karya-karya King antara lain The Body, Rita Hayworth and Shawshank Redemption, (difilmkan jadi Stand By Me dan The Shawshank Redemption), The Green Mile, Hearts in Atlantis, Salem’s Lot, Bag of Bones, Dolores Claiborne, The Stand, Under the Dome, It, The Shining, 11.22.63 —dan anda bisa menambahkan sendiri lainnya bila banyak yang saya tidak tahu. Bagi pencinta dan penggila kisah horor, sudah pasti King layak dibaca dan diikuti perjalanan penulisannya.

Tahukah Anda, King sebelum menjadi penulis kondang adalah seorang pekerja laundry (khusus menjadi tukang setrika). Bertahun-tahun naskahnya ditolak dan ditolak saja, tapi istrinya selalu memberi semangat.

Sampai akhirnya karya perdananya diterima dan jadilah kisah horor klasik CARRIE yang legendaris dan terjual 5 juta eksemplar serta jadi film sukses tahun 1976.

Apapun pekerjaan kita, MENULIS tetaplah PENTING. Menulis setidaknya akan bisa MENGUBAH HIDUP kita.

Jadi, apa anda masih mencari-cari alasan untuk tidak menulis?

Menulis bisa dilakukan siapa saja, asal ada niat dan tidak buta huruf.

Carilah semangat dari siapa saja atau apa saja, karena SEMANGAT itu seperti HARAPAN yang menyimpan KEKUATAN.


Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kompromi dengan Peluang Penulisan

Cover buku Tahajud Cinta. Pesan buku bisa ke gramedia.com atau amazon.com.

Saya memulai karir menulis dari cerita
anak, cerpen, cerbung di media, dan
mulai menulis novel secara mapan. Lalu bekerja menetap sebagai editor buku dan terakhir yang paling lama sebagai script
editor sinetron dan film.

Saya merasa jiwa penulisan saya ya di
materi fiksi, dan bersikukuh itulah yang
saya bisa. Namun dalam perjalanan industri penulisan, ada masa-masanya pasar fiksi begitu jenuh. Buku fiksi model apapun jeblok di pasaran, bahkan untuk mereka yang sudah punya nama besar.

Saat itu, salah satu penerbit menawarkan
saya, menulis nonfiksi. Apa itu nonfiksi….
Saya tidak tahu dan tidak berminat. Hei,
tapi begitu mendapatkan penjelasannya….
take it easy. Tidak ada salahnya mencoba,
toh ada editor yang bisa saya tanya apa dan
bagaimananya.

Saya pun tidak kepedean. Saat tawaran ini datang, saya sudah di Jakarta. Ada banyak penulis yang saya kenali. Saya pun “berguru” dengan serius untuk menulis buku nonfiksi selama berbulan bulan; mungkin setahunan. Sebelum akhirnya saya mencoba mengadu untung dengan menulis nonfiksi dan menyerahkan naskah saya ke penerbit.

Mana bisa saya prediksi kalau nonfiksi pertama saya “Tahajud Cinta” jadi istimewa dan laris manis…. dan setelah itu, saya lupa menghitung bagaimana buku-buku nonfiksi saya menjadi cukup banyak. Tenang saja, belum 1001 judul. Versi saya ya belum banyak 😃

Lalu, saya belajar dengan cepat. Bahwa dalam penulisan apapun, kadang kita harus berhitung dan kompromi dengan kesempatan dan peluang yang ada. Bisa jadi, siswa-siswa kelas yang ngotot betul “hanya mau menulis ini” sesuai bidangnya, padahal bidang itu jelas tidak dicari, perlu berpikir untuk kompromi dengan peluang.

Mungkin dengan menulis “pesanan” itu bisa jadi “batu loncatan” untuk menulis apa yang diinginkannya. Bagaimanapun, anda harus
tahu dan sadar: media, penerbit, PH, jauh lebih senang “menerima” tulisan dari penulis yang sudah eksis dibandingkan penulis yang belum dikenal, betapapun “sangat baiknya” tulisan anda.

Jadi, jangan alergi pada kesempatan. Ingat, berlian tidak ditemukan di permukaan 😃
Anda harus menggali sangat dalam untuk
bisa memperolehnya.


Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Masalah Penulisan dan Solusinya

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menulis pada realitanya (tidaklah) segampang berbicara. Ada banyak orang yang pandai berbicara, tapi tak pandai menulis. Sebaliknya pun mereka yang pintar menulis, tak selalu pintar berbicara.

Keterampilan lisan dan tulis, seharusnya diseimbangkan. Tujuannya agar orang terbiasa berbicara dengan dasar karena memiliki keterampilan menulis yang baik. Berikut ini permasalahan umum penulisan dan solusinya.

1. Saya Baru, Saya Tidak Bisa Menulis
Sebagai guru penulisan, saya sering menemukan tipe yang begini. Padahal menulis ya menulis saja. Ketika anda bicara soal ide, pemikiran, anda bisa menulisnya.
Tidak ada rahasia dalam menulis. Semakin orang berlatih, semakin baik jadinya.

Solusi: menulis saja, lupakan soal yunior senior, lupakan tidak bisa menulis. Prinsipnya: menulis menyampaikan sesuatu pada sahabat dekat. Cukup itu dan menulislah setiap hari.

2. Tidak Punya Waktu
Yach, kita semua sibuk. Menulis tidak menuntut sekaligus diselesaikan. Menulis hanya memerlukan kesungguhan. 10 menit cukup. Kalau anda tidak punya 10 menit untuk menulis, lupakan saja keinginan memiliki buku; atau anda cukup bayar ghostwriter untuk menulis naskah anda. Menulis memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir, merencanakan, menulis, merevisi, dan menulis ulang pekerjaan yang kurang baik.

Solusi: memaksa diri membiasakan 10 menit menulis dengan mengurangi nonton teve, telpon, socmed, chatt, dll. yang tidak produktif.

3. Terjebak Aspek Teknis
Sebagian besar penulis pemula terlalu sibuk memikirkan teknis, seperti bagaimana menulis, sumber idenya dari mana, tanda baca, format, dll.

Solusi: menulis saja seperti anda bercerita atau berbicara kepada orang dekat. Teknis itu mudah dibereskan.

4. Duduk Di Depan Komputer, Tapi Tak Bisa Menulis
Ya, terlalu banyak ide di kepala, tapi begitu menghadapi komputer, tak satu baris pun bisa ditulis. Anda terlalu banyak memikirkan sebelum menulisnya.

Solusi: anda harus membuat draft untuk memudahkan penulis. Perencanaan dalam bentuk draft tulisan juga membuat kita mudah menulisnya.

Seperti kalau kita baru sekali pergi dari Jakarta ke Jogja dengan mobil, tentu tidak asal jalan. Kita harus memetakan arah, memeriksa mobil dan memastikan tangki penuh, mendengarkan laporan lalu lintas untuk menghindari kemacetan dan rute alternatif, menentukan kapan harus istirahat, dst. yang membuat kita tenang karena tahu bagaimana mencapai tujuan.

5. Menulis Tanpa Pemahaman
Setiap penulis dalam menulis naskahnya pasti memiliki tujuan. Tujuan itulah yang harus anda pahami. Tanpa itu, tulisan anda akan ke mana-mana dan tidak jelas.

Solusi: dari awal tetapkan tujuan, apakah tulisan anda untuk hiburan, inspirasi, informasi, laporan, dll.

6. Terlalu Sibuk Dengan Tata Bahasa
Menulis tidak sama dengan berbicara. Memang betul. Namun, secara prinsip tidak banyak yang berbeda dari menulis dan berbicara. Ketika orang menulis dengan runtut orang yang membaca akan mudah memahami. Ketika orang bicara dengan tertib orang yang mendengar juga mudah mengerti.

Solusi: abaikan saja soal tata bahasa saat menulis, bereskan pada proses editing ketika semua konsep yang ingin anda sampaikan sudah tertulis.

7. Tidak Memiliki Mentor
Banyak penulis lahir secara otodidak, benar. Termasuk saya. Itu lebih karena pada masa itu tidak banyak pelatihan penulisan. Proses menulis menjadi lama dan harus belajar dari kesalahan sendiri. Sekarang dengan banyaknya kelas penulisan, tentu lebih mudah menulis dengan bimbingan mentor.

Solusi: cari mentor yang anda percayai. Anda boleh memilih mereka yang terpercaya dan sudah dikenal dengan karya karya baru.

8. Macet Menulis
Di tengah-tengah penulisan, tiba-tiba blank. Merasa tidak pede dengan draft yang sudah disusun. Tidak ada sesuatu yang bagus untuk dituliskan lagi.

Solusi: istirahat saja, lakukan sesuatu di luar penulisan. Macet menulis bisa karena bosan, lelah, kurang materi, kurang sehat, dll. jadi, istirahatlah dan kalau sudah fresh, anda bisa memulai lagi.

9. Keinginan Mendefinisikan
Dalam menulis ada banyak kosakata yang tidak biasa yang anda gunakan sesuai bidang penulisan. Anda terlalu khawatir orang tidak mengerti, sehingga sibuk mencari definisi kamus dan tidak menulis materi yang utama.

Solusi: lupakan soal definisi. Tulis saja nanti di lembar tersendiri ketika naskah sudah selesai.

10. Proofreading
Ada banyak penulis yang mengabaikan soal pembacaan naskah oleh orang lain. Menganggap dirinya sudah cukup “ahli”. Heloo…. tidak ada seorang penulis pun yang bisa menilai karyanya sendiri. Tetap harus dibaca dan dinilai orang lain.

Solusi: cari orang lain yang objektif. Tidak harus pintar dan sebidang, tapi cukup objektif dan jujur untuk menilai tulisan kita.

Fungsi proofreading sebenarnya lebih seperti ketika kita bikin kue tart untuk orang tersayang, tetapi kita tidak menyadari ada potongan daun buah yang melekat di salah satu sisi cokelatnya. Kebayang, pasti tidak elok dilihat secara keseluruhan. Nah, proofreading tugasnya menemukan potongan yang tidak berguna itu agar bisa diangkat dan kue tart tetap terhidang dengan sempurna.

Happy Writing, Be A Good Writer.

Ari Kinoysan Wulandari
Please follow and like us:

Hal Penting dalam Menulis Cerita Anak

Gambar sebagian cover buku cerita anak karya Ari Wulandari. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menulis cerita untuk anak, sedikit berbeda dengan penulisan fiksi lainnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Ending cerita anak umumnya bahagia. Anak-anak memang cenderung sensng dengan cerita yang fun, happy, gembira, banyak kreativitas.

2. Anak-anak tidak senang membaca cerita dengan karakter favorit berakhir sedih atau buruk. Namun dengan berbagai pengolahan cerita, anak perlu dibawa mengerti hidup tidak selalu “seperti dongeng”.

3. Lihat dunia dengan perspektif anak. Artinya melihat semua hal dari sudut pandang anak. Pernah melihat anak tetap bergembira meski hujan deras? Mereka bermain seolah tak khawatir atau cemas. Ya semua hal tetap menggembirakan bagi anak-anak.

4. Jelaskan tempat-tempat dan karakter sehingga pembaca dapat membayangkan hal tersebut dengan “cara mereka sendiri”. Ajak anak berfantasi dengan kemampuan mereka melalui tulisan.

5. Sebisa mungkin gunakan kosakata yang riil dan mudah dipahami. Kosakata abstrak sangat menyulitkan anak, terutama anak-anak di usia dini.

6. Alam dan kehidupan dalam cerita anak sering digambarkan sebagai sesuatu yang “cerah, membahagiakan, warna-warni, optimis.”

7. Atribut atau unsur-unsur “gelap” dalam cerita anak, tetap diperbolehkan asal kemasannya menarik anak. Seperti cerita Where the Wild Things Are atau seri Goosebumps.

8. Judul biasanya sesuai isinya. Pastikan membuat judul dengan kosakata yang riil, agar mudah dipahami.

9. Kalimat biasanya pendek-pendek dan praktis. Panjang cerita pun tidak terlalu panjang karena umumnya disertai gambar yang menarik.

10. Jadikan anak-anak yang sesuai umur segmentasi naskah sebagai first reader. Perhatikan komentar mereka tentang cerita tersebut. Perbaikilah apa yang menurut mereka kurang atau tidak dimengerti.

Menulis buku cerita anak kadang lebih menantang dan perlu usaha lebih banyak dari penulis. Biasanya penulis yang sudah dewasa “perlu ekstra keras” untuk menyelami dunia anak. Masa kecil si penulis (di masa lalu) tentu sangat berbeda dengan masa kecil anak-anak di saat cerita ditulis (di masa sekarang).

Happy Writing, be a Good Writer 🙂

Ari Kinoysan Wulandari

#arikinoysanwulandari #ariwulandari #kinoysanstory #dibalikbuku #tipsproduktif

Please follow and like us:

Tantangan di Dunia Penulis

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Senang dong Mbak Ari jadi penulis. Banyak nganggur. Kerja bisa seenaknya. Jalan-jalan terus. Uang datang sendiri.”

Sebenarnya, saya sudah agak ‘naik emosi’ membaca pesannya. Saya singkirkan saja pesan tersebut. Dia bukan penulis. Tidak perlu direspon.

Ya, jadi penulis memang banyak senangnya. Setidaknya, kerja bisa di rumah. Tidak harus ke kantor dan termakan kemacetan jalanan. Waktu fleksibel. Lebih lentur bekerja. Bisa memilih jenis tulisan.

Kalau mau dapet duit banyak tinggal nulis lebih rajin. Belum lagi kalau bukunya tiba-tiba terpilih proyek yang nilainya besar. Atau buku dan scriptnya hits, megabestseller di pasaran, pasti banyak bonusnya.

Sungguh tidak benar kalau penulis banyak nganggurnya. Kerja bisa seenaknya. Uang datang sendiri. Penulis sebenarnya pekerjaan yang (tidak) ringan. Otak harus terus bekerja dengan kreatif.

Menulis juga harus sesuai dengan aturan dan kesepakatan-kesepakatan yang —sangat banyak— dan kadang-kadang sangat ribet dengan berulang kali revisi. Royalti walaupun dikirim langsung oleh penerbit, bukan diberikan secara gratis. Itu hasil kerja keras. (Tidak) sehari dua hari, tapi berbulan-bulan.

Ya, yang bukan penulis mungkin tidak pernah tahu, bagaimana kadang buku yang dikerjakan berbulan-bulan, di akhir periode laporan royalti uangnya tak lebih dari sekian puluh ribu saja.

Yang bukan penulis juga mungkin tak pernah tahu, skenario yang sudah digarap dan direvisi berulang-ulang, akhirnya gagal diproduksi dan tidak dibayar. Padahal penulisnya sudah banyak mengeluarkan energi, waktu, biaya, dan pemikiran. Siapa yang peduli? Tidak ada skenario yang beres, ya tidak dibayar.

Belum lagi kalau minta royalti ke penerbit atau nagih ke produsernya aja pakai ngotot-ngototan atau dipingpong sana-sini. Atau bahkan ada juga lho penerbit dan produser yang ngemplang royalti dan honornya penulis. Berbagai kesulitan teknis yang dihadapi penulis. Revisi berulang. Deadline yang ketat. Pajak yang tinggi.

Campur tangan berbagai pihak yang membonsai dan mengkerdilkan kreativitas. Macet menulis. Tidak bisa menulis. Naskah yang dihargai dengan sangat tidak layak. Kondisi kesehatan yang tidak prima tanpa ada penjamin biaya kesehatan.

Naskah-naskah yang digarap istimewa toh jeblok juga di pasaran. Belum lagi begitu banyaknya penulis yang terlibat utang dengan penerbit dan produser. Pasti bukan maunya, tapi lebih sering karena hasil menulis tidak mengcover seluruh kebutuhan hidupnya.

Sedih saya kalau mendengar cerita-cerita miris seputar kehidupan penulis. Apalagi kalau mendengar langsung dari penerbit atau produser yang menyebut si A, si B, si ini si itu terlilit utang hanya karena putusan yang tidak tepat.

Jadi, memang jadi penulis tidak hanya ada senangnya. Ada juga (tidak) senangnya. Jadi penulis harus hati-hati. Bijaksana. Memanajemeni uangnya dengan baik. Menimba pengetahuan dan mau terus belajar. Mau rendah hati dan mendengar kata orang lain. Biar tidak mengambil putusan-putusan yang akan memberatkan dirinya di kemudian hari.

Alhamdulillah, saya jadi penulis baik-baik saja. Jatuh bangunnya menjadi penulis hanya seputar penolakan naskah di masa belia. Saya bersyukur berulang-ulang pada Allah dipertemukan dengan media, penerbit, produser, dan klien yang baik-baik.

Menulis (tidak) selalu gampang. Kadang begitu melelahkan jiwa raga. Kadang menulis juga terasa menjadi sangat “rutinitas” yang ingin saya tinggalkan. Ada masanya saya sangat malas menyentuh laptop atau bahkan sekedar membalas email dan inbox-inbox seputar penulisan. Tapi itu semua harus diatasi dan diselesaikan.

Hidup terus berjalan. Biaya hidup tidak mungkin dihentikan. Tidak ada yang menjamin hidup penulis. Harus lebih banyak berkarya untuk simpanan masa pensiun.

Tetapi bahwa, ada pihak yang bisa saya tanya dengan mudah; ada yang memback up saya dengan segala totalitasnya, adalah anugerah yang tidak bisa saya nilai dengan uang. Tentu saja, termasuk pembayaran yang mudah.

Selalu ada pasang surut dalam penerimaan penghasilan. Yang saya yakini bahwa selama kita bekerja sebaik yang kita bisa, rezeki akan selalu datang dengan caranya yang ajaib.

Mari bijaksana memandang pekerjaan penulis. Ini seperti pekerjaan lainnya. Penuh aturan. Penuh kompetisi. Penuh kedinamisan. Yang bukan penulis, jangan asal bicara yang bikin merah telinga.

Percayalah, saya tidak akan merespon. Tapi anda tidak akan selalu bertemu dengan penulis yang “sudah kebal” dengan omongan orang seperti saya. Bisa saja omongan anda yang asal itu dibalas dengan omelan yang tak kalah sengit oleh penulis lainnya.

Happy Writing, Be A Good Writer 😍
*Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Produktif? Gampang Koq!
*Jadi Penulis Nonfiksi? Gampang Kok!

Pesan buku wa.me/6281380001149.

Ari Kinoysan Wulandari

#ariwulandari #arikinoysanwulandari #kinoysanstory #dibalikbuku

Please follow and like us: