“Dalam Cerita, Kita Bicara”: Bedah Buku dan (Dadakan) Bimtek Kepenulisan

Flyer Bedah Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah, terimakasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Kidul yang telah menyelenggarakan acara Festival Literasi 19-23 September 2025 dan bedah buku “Dalam Cerita, Kita Bicara” menjadi acara inti pembuka di hari Jumat yang mulia, 19 September 2025 jam 13.30 WIB sd 16.15 WIB.

Terimakasih Mbak Yuni dan Bu Purwati yang telah dengan baik mengurus dan mempersiapkan acara bedah buku tersebut. Terimakasih juga untuk dua pembedah yang luar biasa Mbak Ummi dan Mas Hariwijaya. Maturnuwun atas support luar biasanya. Terimakasih juga untuk sang Momod, Mas Imron yang telah memandu acara ini dengan baik.

Jujurly, saya nggak menyangka bahwa buku yang kami buat (ada 75 orang penulis, 3 dosen PBSI dan 72 mahasiswa prodi PBSI dan Manajemen UPY) dapat lolos terpilih untuk sesi bedah buku di acara istimewa ini.

Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penulisan buku itu sendiri versi saya nggak mudah. Mengumpulkan tulisan dari banyak orang yang mayoritas bukan penulis, sama sekali nggak ringan. Lebih kurang 6 bulan kami berjibaku mulai dari menulis naskah, mengumpulkan naskah, menggabungkan jadi satu file, mengeditkan naskah, baru kemudian membawa ke penerbit untuk diterbitkan.

Dananya? Tentu saja dana mandiri kami bersama-sama. Alhamdulillah, meskipun sempat nggak sinkron di urusan cover dan tata letak, akhirnya kami sepakat memilih versi buku seperti yang sudah tersaji covernya. Sungguh, proses yang nggak mudah buat saya yang mengkoordinir seluruh urusan. Syukurlah banyak teman mahasiswa yang membantu dari awal sampai akhir proses kerja. Maturnuwun.

Sesaat setelah pembukaan acara Festival Literasi oleh Kepala Dispusip Kabupaten Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Buku ini juga bukti, bahwa menulis bukanlah bakat. Menulis hanya perlu “ilmunya” dan kemudian membuat tulisan sampai rampung, meskipun sederhana. Ya, kami memilih pentigraf yang hanya 150-250 kata untuk satu cerita yang utuh. Alhamdulillah semua terpenuhi. Ada kurang ini itu, saya sebagai penulis dan dosen pun memakluminya. Mereka sudah luar biasa mengeluarkan effort agar tulisannya rampung dan ikut mejeng di buku tersebut.

Saya juga bergembira ketika Mas Hariwijaya memberikan nilai bahwa buku tersebut sudah sangat layak terbit dan kemasannya pun cantik menjual. Tinggal masalah uji pasar, apakah buku terjual atau enggak. Sekurangnya, saya perlu berterima kasih kepada Penerbit Literasi Nusantara, yang sudah sabar telaten mengurus naskah-naskah saya; yang kadang beribet minta ini itu agar “perfect” dan “cantik”. Kerjasama yang panjang, juga membuat kami lebih mudah komunikasi ini itu agar hasil kemasan buku maksimal. Nggak akan bikin malu siapapun yang menjadi penulis di dalamnya. Maturnuwun. Alhamdulillah.

Saat sang Momod memulai acara bedah buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya cukup terkejut, ketika sesi tanya jawab yang ditanyakan peserta banyak yang keluar dari urusan “bedah buku” tapi malah membahas banyak materi tentang “menulis” dan “penulisan”. Tapi yo sudah, yang ditanyakan ke saya ya tetap saya jawab semampunya. Dan luar biasa waktu 2,5 jam (ini beneran panjang lho), jadinya nggak terasa. Alhamdulillah.

Oh, saya ingat ada kata Mbak Ummi agar kalau menulis nggak cuma mikirin uang atau komersial tapi juga bermanfaat untuk generasi muda; sebagai respon saya untuk mencatat ide dan memilih yang versi saya bisa diuangkan “bisa dijual dan dapat duit” lebih dulu. Saya nggak mengcounter balik –waktu sudah habis. Tapi kalau membaca 145 judul buku saya yang seluruhnya terbit di penerbit mayor (Gramedia Grup, Mizan Grup, Andi Grup, Medpres Grup, Agromedia Grup) yang seluruh naskah sudah melewati seleksi ketat, urusan manfaat dan kualitas, saya anggap sudah lewat.

Mereka di penerbit sudah lebih ahli dari saya untuk menilai manfaat dan kualitas naskah, sehingga memutuskan untuk menerbitkan, menjualkan, mendistribusikan, dan memberikan royalti 10-15% secara berkala tiap 6 bulan. Hingga sekarang (saya mulai menerbitkan buku tahun 2006 di Gramedia Grup) masih ada 100-an judul buku saya yang aktif dijual dan ada sekitar 10-an judul yang sudah 19 tahun terus menerus memberikan royalti. Alhamdulillah.

Pesona seni tari gadis-gadis remaja Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi urusan bikin naskah dan kualitas serta manfaat itu sudah pasti kewajiban saya, tapi kesadaran harus bikin materi yang laku, itu salah satu sebab buku saya tiap tahun bertambah. Alhamdulillah. Percayalah, penerbit juga nggak mau memodali naskah yang nggak laku di pasaran.

Beragam pertanyaan tentang penulisan itu membuat saya optimis, masih banyak orang yang “ingin bisa menulis” dan pasti kelas-kelas penulisan, bimtek penulisan juga akan terus diperlukan. Sungguh menarik ketika sebuah acara literasi bukan hanya sekadar bedah buku, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang belajar menulis yang penuh kejutan.

Begitulah suasana dalam kegiatan “Dalam Cerita, Kita Bicara”, sebuah acara diskusi buku yang mendadak juga jadi ajang bimtek (bimbingan teknis) penulisan yang hadir secara dadakan, tapi justru terasa segar dan membekas. Untungnya baik Mas Hariwijaya maupun Mbak Ummi juga penulis, jadi bisa ikut menjawab pertanyaan para audiens.

Acara ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar tentang membaca buku tebal atau menulis panjang. Literasi adalah tentang membuka percakapan, berbagi makna, dan menemukan suara diri melalui kata-kata. Dalam satu forum blended ini ada sekitar 50-an peserta luring dan 57-an peserta daring, terjadi perjumpaan antara pembaca, penulis, dan calon penulis yang saling menginspirasi.

Setelah bedah buku, dengan Mbak Yuni dan Mbak Ummi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

“Dalam Cerita, Kita Bicara” meninggalkan jejak: bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak dituliskan. Bedah buku ini bisa menjadi gerakan kecil yang menumbuhkan keberanian menulis. Karena pada akhirnya, cerita bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dibicarakan dan dituliskan.

Sekali lagi, terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini. Seperti biasa, saya nggak akan mengajak orang untuk jadi penulis (karena jatuh bangunnya nggak mudah), tapi saya akan selalu mendorong orang untuk menulis. Sekurangnya, menulislah 1 buku seumur hidup: boleh juga autobiografi (biografi diri sendiri) seperti anjuran Mas Hariwijaya. Maturnuwun.

Salam Literasi dan majulah Indonesia Raya.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Ilmu Parenting, Buku Istimewa

Buku parenting versi Dad dan versi Mom. Pesan buku wa.me/6281380001149.

Sekira bulan Juli 2024, saya dihubungi Mbak Ana apakah bisa menggarap buku parenting. Lalu saya tanya narsum nya siapa. Mbak Verlita dan Mas Ivan. Dengan menjelaskan sedikit latar belakang. Nggak banyak tanya, saya bilang oke.

Mulailah kami bekerja. Saya menyusun kerangka acuan buku secara keseluruhan dan rinci per bab. Kemudian membahas detail dengan Mbak Ana sampai oke. Baru deh kami kirim ke Mbak Verlita dan Mas Ivan. Oke ada beberapa perbaikan dan mulailah agenda berikutnya.

Wawancara via zoom yang lebih sering malam-malam karena kesibukan narsum. Saya siy karena biasa kerja di Jakarta ya biasa aja. Untunglah Mbak Ana dan Tim Andi pun bisa menyesuaikan jam malam, yang jelas di luar jam kerja umum Jogja, 8-16 tiap hari. Dan cenderungnya no lembur lembur😂

Wawancara adalah proses yang lama. Selain karena kesibukan narsum, jadwal saya pun sering bentrok. Bikin urusan wawancara yang mestinya kelar sebulan, jadi molor panjang sampai di bulan November.

Untunglah saya ki terbiasa kerja sedikit demi sedikit. Jadi dari setiap wawancara yang sudah ada, saya minta bantuan asisten untuk mentransripsikan dan menandai point point penting. Dari sana saya mulai mengolah, menata, mengatur, memparafrasekan semua hasil wawancara sesuai standar penulisan buku.

Hal yang agak berat bagi saya mencari rujukan yang sesuai dengan materi yang sedang dibicarakan. Tapi ya sedikit demi sedikit ketemu juga. Proses yang harus dinikmati.

Parenting versi Dad karya Ivan Saba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oke, Bab 1 pun meluncur ke tangan Mbak Ana. Dan salah 😄 Maksudnya saya menulis dengan versi buku biografi, tapi yang diminta itu versi buku referensi, buku ilmu dan pengetahuan. Saya langsung sadar dan bilang akan menulis ulang Bab 1.

Setelah beres saya kirimkan lagi dan begitu dibilang oke, saya teruskan menggarap bab bab berikutnya sambil menunggu jadwal wawancara materi. Sekitar bulan November wes rampungan. Desember koreksi-koreksi dari narsum.

Saya meminta Mbak Verlita dan Mas Ivan untuk mencatat saja apa yang tidak cocok dan mau diganti seperti apa. Mas Ivan cukup cepat merespon. Menandai dan mencatat koreksi dan perbaikannya apa. Mbak Verlita, embuh belum dikirim-kirim 😁 Saya tagih ke Mbak Ana, belum juga katanya. Lho piye to.

Pas wes jelang liburan Nataru itu Mbak Verlita bilang mau ketemu biar koreksian langsung beres. Penerbit Andi dan tentu mayoritas perusahaan ya sedang libur panjang. Saya di Jogja, bisa jumpa Mbak Verlita dan Mas Ivan. Tapi saya emoh kalau nggak ada Tim Penerbit, kalau eyel-eyelan nggak ada penengahnya. Mas Yezky sang owner meyakinkan saya gak apa-apa karena revisi minor.

Saya bersikukuh tetap harus ada orang penerbit, karena revisi minor bagi orang non penulis, itu bisa jadi bukan revisi minor bagi penulis. Misalnya dalam cerita dari awal ditulis neneknya masih hidup; ternyata neneknya itu sudah mati.

Bagi orang non penulis, ya gampang aja kan tinggal mengganti kalimat dengan neneknya sudah mati. Tapi bagi penulis dengan naskah yang sudah jadi, itu berartti mengganti semua elemen di setiap halaman yang ada unsur cerita berkaitan dengan nenek masih hidup dan menyesuaikan kembali. Kalau halaman jumlahnya 150 ya wes jelas bukan revisi minor lagi 😁

Syukurlah pas wes disepakati jumpa di Jogja di tengah musim Nataru, Mbak Ana dan Tim Andi bisa mengawal. Mbak Verlita dan Mas Ivan orang yang tertib, tepat waktu. Janjian jam 14 an, jam 13 an kurang mereka sudah di hotel, tapi belum bisa masuk karena kamar belum ready.

Parenting versi Mom karya Verlita Evelyn. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Liburan Nataru, sulit cari kamar kosong di Jogja. Kamar itu tersedia tapi harus nunggu tamu sebelumnya check out, baru bisa dibersihkan, dan setelah itu barulah bisa dipakai tamu berikutnya. Begitulah lebih kurang yang dialami Mbak Verlita dan keluarganya.

Saya wes datang jam 13.30 an. Jadi nunggu mereka siap dulu. Dan lebih kurang jam 14.30 saya dengan Mbak Verlita wes ngurusi koreksi. Mbak Ana dan Tim Andi yo wes datang.

Beuuh, lama kami diskusi koreksi satu naskah buku. Sampai jam 20 an kami baru beres urusan satu buku. Njur makan malam. Saya pulang sekira jam 22 an. Besoknya kami mulai kerja lagi jam 19 an sampai jam 00.30 an. Biyuuu… ya begitulah kalau kerja menulis sedang marathon. Jangan dikira enteng-enteng bae. 😁

Setelah itu Tim Penerbit yang menyesuaikan perbaikan, melakukan setting ulang, mendesain lagi bagian cover dll urusan buku; sampai dummy buku pun siap. Dan horeee…. alhamdulillah, bukunya pun segera bisa sampeyan semua nikmati. Proses parenting berdasarkan pengalaman riil Verlita Evelyn dan Ivan Saba.

Harga nya sungguh ringan dibandingkan dengan pengalaman berharga mengurusi “rumah tangga” dengan “anak-anak” di era digital yang penuh tantangan. Bahwa zaman selalu berubah, anak-anak berubah, orang tua juga harus berubah. Demi kebaikan dan masa depan anak-anak penerus masa depan bangsa.

Monggo Teman-teman yang mau membaca lebih awal, bisa pesan langsung bukunya ke saya via wa.me/6281380001149 atau langsung ke andipublisher.com

Maturnuwun dan semoga menginspirasi serta memotivasi semua orang tua di luar sana untuk tumbuh berkembang bersama anak-anak tercinta dengan kebahagiaan yang utuh.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Mau Jadi Ghoswriter? Pikirkan Dulu…!

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mau Jadi Ghostwriter? Wah enak ya jadi ghoswriter, bisa nulis banyak, duitnya banyak, nggak perlu bertanggung jawab ke pembaca karena namanya “nggak muncul” di cover buku. Apa iya begitu? Mari kita lihat bersama-sama.

1. Ghostwriter adalah penulis yang menuliskan sesuatu atas nama orang lain dan nama kita tidak dicantumkan.

2. Tidak ada nama di dalam tulisan yang kita buat itu sering kali jadi masalah ketika tulisan tersebut booming.

3. Naluri untuk mengatakan itu karya saya, cenderung sangat besar untuk mereka yang belum terbiasa jadi ghostwriter.

    Padahal ini sudah tercantum dalam kesepakatan ghostwriter tidak boleh menyebut dirinya menulis apa dan untuk siapa.

    4. Oleh karena itu pikirkan betul ketika mau jadi ghostwriter, ikhlas, atau nggak rela kalau tulisannya diakui sebagai tulisan orang lain. Kalau tidak ikhlas jangan jadi ghostwriter.

      5. Kalau bisa ikhlas baru anda boleh menjajal posisi ghostwriter 😂 Karena sudah tidak pingin nama dan tidak pingin pengakuan bahwa itu karya anda.

      6. Karena peliknya urusan nama, kalau saya menyarankan pastikan saja uang yang anda terima dari klien cukup layak mengganti keikhlasan anda. Negokan dengan baik, karena begitu anda lepas anda tak berhak apapun atas naskah itu.

      7. Jangan juga egois karena hilang hak cipta, anda jual jasa sangat mahal. Ntar nggak ada yang pakai jasa anda, njur stres pula. Yang penting menurut anda sesuai, ya terima saja.

        8. Karenanya mau ada kerjaan ghostwriter, penulisan biografi atau tidak, saya tetap menulis. Sesibuk apapun urusan pas sekolah yang bikin so busy ya harus nulis, karena kalau kita punya naskah cadangan dan bisa terus terbit, kita bisa menaikkan posisi tawar kita.

        9. Punya cukup banyak buku terbit juga membuat kita lebih tenang. Kalau royalti tak banyak bisa membantu mendagangkan buku. Hei, royalti penulis hanya 10% potong pajak 15%. Tapi jual buku sendiri, pasti anda dapat 30%.

        10. Jadi ghostwriter itu cara cepat punya duit banyak dari menulis, tapi ya itu lah anda harus cukup ikhlas kalau tulisan anda diakui sebagai milik orang lain. Dan ini tidak mudah lhooo 😀

          Kalau saya ikhlas saja. Nanti untuk diri sendiri ya tulis lagi karya versi saya.

          Ari Kinoysan Wulandari

          Please follow and like us:

          Tantangan Terberat dalam Menulis

          Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

          Dunia penulisan di Indonesia bergerak sangat dinamis. Semua bidang pekerjaan hampir dipastikan pernah berurusan dengan dunia tulis menulis. Sekurangnya membuat nota transaksi jual beli pun berurusan dengan tulis menulis.

          Namun dalam industri kreatif, penulisan berkaitan dengan karya; cerpen, cerbung, novel, buku, sinetron, film, dokumenter, biografi, dll. Menciptakan karya tersebut, berbasis penulisan yang memiliki banyak tantangan. Mari kita lihat satu per satu.

          1. Menulis itu (tidak) gampang. Lebih tidak gampang lagi pada mereka yang tidak disiplin. Segala teori penulisan menjadi sia sia kalau kita tidak menulis.

          2. Ada banyak orang yang sebenarnya tidak tahu dan tidak mengerti cara menulis, tapi mereka menulis. Tidak selalu baik, tapi ada tulisan yang bisa dikoreksi untuk menjadi baik.

          3. Kebiasaan harus selalu diingatkan, ditagih, diomelin, jelas bukan kebiasaan yang baik untuk seorang penulis. Anda harus melatih disiplin.

          4. Tanpa disiplin, kita sulit progress dengan tulisan karena nyaris tak ada yang peduli ketika tulisan itu baru berupa embrio. Anda harus menjadikannya naskah agar bisa dijual.

          5. Tantangan terberat penulis: menulis naskah pertama dan mempublish naskah pertama.

          Tak peduli semahir apa anda sekolah penulisan, menulis pertama tetap tidak mudah. Butuh tekun dan disiplin.

          6. Sebagus apapun tulisan pertama kita, tetep juga diover sana sini kalau di media. Bisa ditaruh dulu, dibawa dulu… Dan bisa 3-4 tahun lho berjuang untuk first publication 😭

          7. Urusan teknis menulis sungguh urusan gampang. Anda bisa baca tulis, cukup sudah. Tapi menyelesaikan naskah pertama, terlalu banyak godaan. Kalau anda nggak cukup niat, seringnya naskah tak selesai.

          8. Lalu berikutnya proses publikasi pertama, bisa makan hati kalau tak sabar. Dan saya sudah belajar menulis itu kesenangan. Diterbitkan atau belum, tulis saja terus. Apalagi zaman internet gini, yang anda boleh pilih suka suka medianya sebebas anda memilih rasa es krim 😂

          9. Jadi yang bikin sulit menulis ya jelas diri kita sendiri. Baru nulis sedikit ributnya ampun 🙈 baru kirim naskah 6 bln sudah beriweuh di mana mana. Lha gimana to, persaingan makin ketat penulis makin banyak. Kalau lebih suka ribut daripada nulis ya anda ditinggal. Karena tak punya naskah baru untuk ditawartawarkan lagi.

          10. Kisah jatuh bangun menulis saya sudah banyak saya tuliskan. Tapi kemarin saya dapat cerita penulis script yang laris manis, katanya dulu sampai tiga tahun hidup menyusu pada istrinya (dihidupi istrinya) demi bisa jadi penulis script.

          Ditolak di sana sini, dicuekin produser, tidak dipedulikan. Lalu kesempatan berubah ketika ia datang di acara pralaunching film. Dia datang awal sekali, panitia saja belum semua ada.

          Membantu orang di situ untuk menyiapkan kursi kursi untuk tamu. Dush, dia tidak tahu produser datang dan malah mempersilakan duduk. Lalu dia ikut membantu kegiatan. Pas acara tahulah dia siapa produser. Dan dia minta waktu 5 menit saja untuk presentasi 1 sinopsisnya. Tapi 5 menit itu jadi 1 jam dan esoknya dia dapat kontraknya dan karya hits.

          Lalu semua cerita nya yang ditolak-tolak dulu menjadi diburu-buru produser. Hingga sekarang sudah hampir 30 tahunan dia menulis.

          Hidup tenang dan tetap sabar tekun meskipun namanya seperti jaminan sinetron panjang.

          Komitmen dan kesabaran sepertinya adalah dua makhluk langka di kalangan penulis pemula. Pinginnya nulis langsung bagus langsung hits. Lupa kalau yang bagus itu ada prosesnya. Yang hits itu pasti ada kisah berliku yang panjang untuk diceritakan.

          Bagaimana, kamu masih tertarik menulis dan menghasilkan karya? Ikut kelas mentoring privat atau pesan buku panduan penulisan, wa.me/6281380001149.

          Ari Kinoysan Wulandari

          Please follow and like us:

          Penulis Buku? Jangan Alergi Jualan Buku!

          Pesan buku cetak dan bertandatangan bisa wa.me/6281380001149.

          “Jualan buku?”

          Begitu tanya seorang Bapak ketika saya di kereta mengeluarkan buku-buku. Niatnya mau saya pindahsatukan ke tas yang lain. Biar lebih ringkas dan bisa saya letakkan di kompartemen atas kursi.

          “Oh iya, Pak. Bapak mau lihat-lihat?”

          Saya balik bertanya dan mengeluarkan semua buku yang saya bawa. Satu per satu dan saya mulai menceritakan isi materinya; kelebihan-kelebihan dan harganya.

          Beliau menunjuk beberapa dan bertanya apa bisa transfer. Jual beli terjadi. Saya tidak menyebut sama sekali kalau saya penulisnya.

          Tapi yang saya ingat adalah komentarnya, “Biasanya orang jual buku nggak ngerti apa isi bukunya.” Sampai kami berpisah, beliau tidak tahu kalau saya penulisnya. Tidak apa-apa. Karena yang terpenting beliau membeli buku saya😀

          Saya sudah lebih sering menutup mulut untuk menyebut bahwa saya penulis buku tertentu saat berhadapan dengan calon pembeli. Karena itu “sering kali” tidak penting bagi pembaca dan atau pembeli buku. Bagi penerbit pun kadang yang terpenting, bukunya laris atau tidak.

          Yach, saya menjadi penulis sedari belia hingga sekarang. Menekuni ruang sunyi demi hasil karya terbaik. Menulis memanglah kerja tenang yang tidak beribetan dengan pihak lain.

          Industri membuat saya harus keluar dari kesunyian itu. Berbicara, mengajar, melatih, menjual, menceritakan, mendongeng, mempresentasikan, mempromosikan, dll demi semua produk terjual dengan baik. Karena mau sehebat apapun karya kita, tulisan kita, kalau ia tidak terjual pasti akan mematikan kreatornya. Penulis termasuk di antaranya.

          Kesadaran itulah yang membuat saya membawa buku ke mana-mana; bahkan saat saya tidak niat jualan. Dan mungkin itu juga sebabnya dari sekian banyak penulis, alhamdulillah saya bertahan lempeng di tengah gempuran ekstrim kecanggihan kerja AI yang bisa mematikan semua kreativitas dan porak porandanya industri perbukuan cetak kita.

          Toh selalu ada sisi baik. Versi saya itu kemudahan dan kecanggihan yang membantu kinerja. Dan tentu saja, saya tetap menulis, tetap mempromosikan buku, menjual buku, terus mengisi kelas, belajar mengajar, book signing, berbagi tips penulisan lewat media massa, teve, radio, medsos dll sebagai bagian kerja penulis profesional.

          Bagaimana dengan kamu? Sudah pernah membawa dan menjual bukumu ke mana saja? Oh iya, kalau kamu jadi penulis buku, pesan saya jangan alergi jualan buku. Kamu nggak harus jadi ahli marketing kok.

          Cukup ceritakan saja bukumu pada pihak pihak yang tertarik. Kamu hanya perlu lebih rajin menampakkan bukumu pada pihak lain. Caranya juga nggak harus hard selling, bisa dengan mengisi kelas, lomba resensi, bedah buku, book signing, menceritakan kembali, dll. Mereka membeli atau tidak, itu bukan hal yang perlu kita jadikan beban. Sayang kan kalau misalnya ada orang yang pingin beli bukumu, tapi nggak tahu di mana caranya? Tugas penulis saat menulis memang bertenang diri, tapi saat karyanya sudah jadi harus beramai diri untuk promosi 😀
          .

          Ari Kinoysan Wulandari

          Please follow and like us:

          Kamu Mau Eksis di Industri Kreatif? Kompromilah…!

          Selepas talkshow Menulis Buku Bestseller. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

          Kemarin lepas ngisi talkshow di Penerbit Andi, saya sempat ngobrol dengan Mbak Anna dan Mbak Nita tentang kerieweuhan industri buku sekarang ini. Model dan gaya baca buku yang sudah berubah. Aneka platform baca non komersial. Aneka platform penulisan yang nggak berbayar. Monopoli toko pasar. Kebijakan perusahaan.  Kelakuan penulis. Dan banyak hal.

          Ya, dunia industri kreatif buku telah berubah. Saya masih mengalami zaman keemasan sebagai penulis kesayangan; itu bisa lho begitu tanda tangan kontrak cetak buku langsung 25 ribu eksemplar. Beberapa bahkan ada yang 50 ribu eksemplar dan langsung ilang dari display dalam sebulan saja; itu berarti harus cetak ulang lagi.

          Lalu beranjak mulai pasar fiksi turun, tapi ya nggak ngedrop banget. Sekurangnya tiap tanda tangan kontrak saya dengan penerbit, sekali cetak 5 atau 10 ribu eksemplar masih kepegang. Dan jumlah cetakan inilah yang selanjutnya jadi acuan umum penerbit besar untuk setiap kontrak penerbitan buku massal.

          Model, selera pasar berubah. Fiksi yang jenuh itu mendorong penerbit mengeksplorasi pasar nonfiksi habis-habisan. Saya dengan mainstream fiksi, pun harus belajar cepat nulis nonfiksi. Untuk bisa menulis buku nonfiksi yang bagus. Untuk dapat uang baru. Untuk survive. Dan ya kemudian saya beradaptasi cepat dengan segala perubahan industri perbukuan; termasuk kalau harus “menulis yang tidak sehati” dalam beberapa kasus.

          Saya mendengar banyak penulis yang “to much” permintaannya macem macem pada penerbit. Masih bagus kalau bukunya laku, lha kebanyakan yang berulah itu justru yang buku bukunya jeblok di pasaran. Jadinya kan penerbit ya males ngurusin naskah mereka. Apalagi kalau penerbitan jalur standar dibiayai penerbit.

          Penulis berulah itu kayak apa siy? Banyak. Di antaranya tidak terima dengan perubahan sistem. Sekarang buku diterbitkan, dicetak terbatas (50-200 eks), lalu ada sistem POD, ebook, nggak masuk toko buku mayor itu sebenarnya hal biasa. Tapi penulis yang nggak paham teriak teriak penerbit mayor kok sistem POD.

          Lha kalau dicetak ribuan eks nggak laku, kamu mau gantiin duitnya? Mikir dong. Wes gitu penulisnya lempeng pula nggak mau bantuin promosi. Haish, saya bae sebel sama penulis yang begitu. Apalagi penerbit yang ngeluarin duit.

          Makanya saya waktu diminta ditanya, apakah mengizinkan seluruh buku saya diformat versi ebook dan pembaruan kontrak? Saya langsung bilang oke. Nyetak buku itu gampang, njualnya itu lho yang nggak mudah. Dan versi ebook adalah salah satu cara yang lebih mudah, lebih murah memasarkan buku.

          Penulis berulah juga minta minta honor untuk jatah promosi. Piye to… nggak tahu ya kalau penerbit bikin acara itu wes modal buat bantuin ngiklanin bukunya, situ malah minta honor. Eeh situ waras? 😆😅

          Penulis berulah juga ngejar ngejar terus kapan naskahnya terbit. Biyuuu… nggak tahu ya ada naskah saya antri 7 tahun baru terbit? Kenapa? Ya karena penerbit harus duluin buku buku yang sudah jelas duitnya. Bayar pegawai itu pake duit, bukan pake daun… 

          Penulis berulah banyaklah jenisnya; ntar bisa sebuku sendiri nyeritain kelakuan minus penulis pada penerbit. Dan itu semuanya bikin orang di penerbitan kesal. Biasanya males beribet ya wes blacklist saja dari penerbit. Kalau nggak bayar biayaiin sendiri no publish. Yach versi saya siy serem.

          Saya mungkin bukan penulis yang seluruh bukunya hits di rangking teratas. Saya belum pernah terima royalti 1 milyar.  Tapi jelas buku buku saya banyak yang bertahan lebih dari 10 tahun dengan terus menerus memberi uang penjualan. Dan masih bisa dengan enteng menyambung menerbitkan buku buku baru.

          Percayalah itu tidak akan pernah terjadi kalau saya jenis penulis yang berulah. Saya sadar betul bahwa industri itu tentang perolehan uang. Dan hukum pasar berlaku, siapa yang menguntungkan itu yang akan terus kita ikuti.

          Jadi penulis masuk industri, ya kita harus kompromi, membantu, mengikuti sistem. Bukan sakarepe dhewe. Kalau mo terbitan pake duitmu sendiri siy terserah, tapi kalau pake duit penerbit, distribusi juga, marketing iya, dll itu ya ikuti aja aturan mainnya.

          Harus saya sampaikan kepada para penulis, yang pengin buku bukumu laris bestseller itu nggak cuma kamu penulisnya; tapi semua komponen industri penerbitan. Karena kalau bukumu laris, itu mensupport banyak orang yang bekerja di balik layar. Jadi baik baiklah, kompromi, kerja sama, membantu promosi, itu bagian dari tugas penulis buku-buku bestseller.

          Ari Kinoysan Wulandari

          Please follow and like us:

          Menulis Naskah Nonfiksi

          Batik Nusantara. Contoh buku nonfiksi. Pesan buku cetak wa.me/6281380001149.

          Bagi sebagian orang menulis naskah nonfiksi dianggap lebih mudah karena data dan fakta telah tersedia. Selain itu, tidak perlu menggunakan banyak imajinasi untuk menulis. Benar mungkin, tapi tidak sepenuhnya benar.

          Dalam menulis apapun, imajinasi tetap penting. Data dan fakta juga harus benar. Terlebih untuk nonfiksi. Buku harus benar, tidak boleh menyesatkan pembacanya.

          Berikut langkah-langkah penulisan naskah nonfiksi.

          1. Tetapkan topik yang akan ditulis. Jelas, penting, spesifik. Makin spesifik makin baik karena akan membuat tulisan kita fokus dan mendalam.
          2. Carilah sumber informasi; referensi, browsing, dokumen sejarah, studi lapangan, kuesioner, wawancara, uji lab, hasil penelitian, dll.
          3. “Baca” sumber informasi dan buat catatan serinci mungkin. Kadang-kadang hal yang kita anggap kecil sebenarnya besar dan penting bagi keseluruhan naskah.
          4. Atur ide-ide penulisan secara sistematis. Gunakan sistem pembuka, inti, kesimpulan atau penutup. Paragraf pendek-pendek. Contoh-contoh spesifik. Gambar pendukung. Data yang terbaru.
          5. Tulis draft pertama secara cepat; yang penting selesai dulu. Tidak perlu mengedit saat menulis.
          6. Buat catatan kaki atau catatan akhir untuk sumber dokumen; dan jangan lupakan daftar referensi.
          7. Biodata yang praktis sesuai jenis naskah nonfiksi yang ditulis. Singkat, padat, komprehensif. Lebih kurang setengah halaman.
          8. Revisi draft pertama setelah kita mengendapkan beberapa waktu. Revisi sangat penting karena inilah “penyempurnaan” naskah kita. Kalau malas, anda bisa minta bantuan editor.
          9. Verifikasi dari ahli. Cari ahli kompeten untuk keabsahan naskah kita. Salah satu tantangan penulisan nonfiksi adalah verifikasi dari ahli; bila kita bukan orang yang ahli sesuai dengan jenis tulisan yang dibuat. Bukan tidak mungkin, untuk sesi ini, naskah kita akan dibongkar habis oleh ahlinya dan terpaksa menulis ulang. Siap-siaplah.
          10. Naskah nonfiksi sudah siap kita tawarkan atau kirimkanke penerbit. Siapkan copy file, print, proposal naskah, sponsor (bila ada). Carilah pihak ketiga yang cocok untuk mempublish karya kita.

          Pada prinsipnya menulis jenis apapun, selalu ada tantangan dan kesulitan masing-masing. Tugas kita menaklukkan tantangan dan kesulitan tersebut agar naskah bisa selesai. Selamat mencoba 😀🙏

          Ari Kinoysan Wulandari

          Please follow and like us: