
Salah satu sisi penampakan Pura Ulun Danu dan Danau Beratan di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Destinasi berikutnya adalah Pura Ulun Danu di Bedugul. Salah satu tujuan wisata yang kondang di Bali karena keindahan alam dan udaranya yang sejuk. Tahukah kamu, Bedugul adalah salah satu tempat dengan kualitas oksigen terbaik di dunia; termasuk satu jenis kualitas dengan oksigen di Swiss dan Hawai.
Itu kenapa kalau ada orang sakit dengan beragam keluhan pernapasan, dokter-dokter yang mempelajari ilmu medis tradisional sering menyarankan untuk “tinggal” di sini beberapa waktu sampai sembuh.
Di Indonesia, tempat yang memiliki kualitas oksigen terbaik lainnya adalah kawasan Candi Gedong Songo, Jawa Tengah; dan Pulau Gili, Sumenep, Madura. Silakan cek-cek masyarakat di ketiga daerah tersebut nyaris nggak pernah sakit. 🤩👍

Rombongan kami di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Mumpung di Bedugul, saya memasukkan oksigen ke thumbler yang saya bawa dan menutupnya. Pas sampai rumah, lagi capek-capeknya, menghirup udara dari thumbler itu langsung lebih fresh. Boleh dicoba lhoooh kalau ke sana lagi atau ke tempat lain yang oksigennya sangat bagus.
Begitu sampai tempat ini, dan teman-teman sudah foto-foto saya merasa kayaknya baru kemarin deh ke sini. Setelah cek agenda, oh sudah Desember 2023. Sudah dua tahun lalu. Perasaan kita memang “berbahaya” kalau nggak dikontrol, suka ke mana-mana. Makanya sering banget kita dengar, “jangan baperan” 😁 Perasaanmu belum tentu mencerminkan realita sesungguhnya.
Saya senang ke tempat ini lagi. Kali ini bunga di mana-mana dan banyak yang sedang mekar. Beuh, kalau saya nggak malu akan minta foto di setiap sisi bunga-bunganya. Lha iya dong, masa kamu bangga pamer bunga tulipnya Amsterdam tapi nggak bangga dengan bunga-bunga Nusantara, eh bunga Bedugul😁

Berbunga-bunga di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Berbagai sisi tempat ini lebih tertata artistik. Beberapa bangunan saya lihat sudah selesai dibenahi. Penambahan ring penanda penjagaan juga lebih terlihat agar kita para pengunjung nggak pecicilan keluar masuk tempat suci seenaknya. Pokmen keren lah.
Air Danau Beratan juga terlihat indah keperakan diterpa matahari pagi. Cantik banget. Memang benar, kalau Jogja terbuat dari rindu dan angkringan; Bali terbuat dari adat tradisi dan keindahan alam. Semua sudut sisi Bali adalah keindahan kecantikan alamiah dan adat budaya yang sangat eksis.
Ada yang tahu awal mula terjadinya Danau Beratan di Bedugul ini? Konon tempat ini dulunya terkena abu vulkanik letusan gunung api. Masyarakat sudah lama mengungsi menghindari bencana letusan gunung api.

Kisah asal mula Danau Beratan terpampang pada ilustrasi timbul di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah letusan gunung mereda, masyarakat yang mengungsi kembali ke daerah ini. Tanahnya ternyata sangat subur. Mereka pun menanam padi dan tanaman pangan lainnya. Hasilnya sangat melimpah. Panen padi dilakukan secara gotong royong, para wanita memanen padi, sementara para pria mengangkutnya ke lumbung.
Namun, terjadi keanehan. Setiap kali mereka selesai memanen di satu area, padi di area lain sudah tumbuh lagi dan siap dipanen. Fenomena ini terjadi berulang-ulang, seolah-olah padi itu nggak pernah habis. Penduduk desa merasa kewalahan karena padi terus tumbuh tanpa henti.
Karena mereka terus-menerus memanen dan nggak ada habisnya, ladang-ladang mereka mulai tergenang oleh air yang meluap dari dalam tanah. Air ini terus bertambah hingga akhirnya menenggelamkan seluruh ladang, mengubahnya menjadi sebuah danau besar.

Bunga-bunga lainnya di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Penduduk desa pun terpaksa pindah dan mencari tempat tinggal baru. Danau yang terbentuk dari kejadian ini kemudian dikenal sebagai Danau Beratan.
Beberapa tahun setelah danau terbentuk, seorang raja Bali yang sedang bermeditasi di Gunung Mangu, nggak jauh dari danau, mendapatkan petunjuk. Ia melihat cahaya di tepi danau yang menandakan bahwa tempat itu suci dan harus didirikan sebuah pura. Raja Bali itu memerintahkan rakyatnya untuk membangun pura di tepi Danau Beratan.
Pura tersebut diberi nama Pura Ulun Danu Beratan, yang secara harfiah berarti “kepala danau” atau “penguasa danau”. Pura ini dibangun sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada Dewi Danu, dewi air, sungai, dan danau, yang dipercaya sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran.

Bambu kuning (jelmaan atau perwujudan padi), Dewi Danu, di areal yang dilingkari (dijaga atau di bawah kekuasaan) dua naga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Hingga kini, Danau Beratan dan Pura Ulun Danu menjadi simbol penting bagi masyarakat Bali, terutama dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Bahkan, rumpun bambu kuning yang tumbuh di sisi selatan pura dipercaya sebagai jelmaan dari tangkai padi yang dahulu ditancapkan saat panen, menjadi saksi bisu dari legenda tersebut.
Menarik kan kisahnya? Yach begitu negeri kita, setiap tempat istimewa pasti ada legenda dan asal usulnya. Bahkan mitos-mitosnya.
Di tempat itu juga ada 2 naga melingkari bambu kuning dan Dewi Danu. Saya kurang mengerti makna simbolis ini dalam versi Hindu Bali dan nggak ada yang ditanyai pula. Mbokde Saori (guide lokal Bali) entah ke mana; beberapa orang lokal yang saya tanyai nggak paham tentang naga itu.

Bunga-bunga lainnya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Secara umum di Nusantara, kita memiliki legenda naga dengan warna “hijau” dan “biru” yang sebenarnya sama saja: sisi kiri dan kanan; sebagai simbol penguasa Nusantara (maritim, khatulistiwa) yang harus kokoh berdiri tegak kuat menjaga Nusantara, terutama dari ancaman naga merah, naga api (kekaisaran Tiongkok, China).
Hal ini sudah terjadi sejak zaman Kertanegara memotong kuping, rambut, merusak wajah utusan China (Meng Ki) yang meminta Singosari tunduk dan mengirim upeti kepada China. Perlakuan itu bentuk simbolis perlawanan dan penolakan. Hingga sekarang pun sebenarnya kita sedang “perang” dalam bentuk yang lain dengan negeri tirai bambu ini.
Kalau sampeyan sering ke mana-mana, pasti akan menemukan simbol-simbol naga biru, hijau, atau emas di seluruh Nusantara. Simbol penguasa yang berdaulat dan menjaga kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya dengan melingkari seluruh arealnya menggunakan seluruh badan hingga ekornya.
Ini hanya interpretasi saya pribadi. Butuh sumber dan validasi ahli untuk mengetahui secara pasti makna simbolis dua naga yang melingkari bambu kuning dan perwujudan Dewi Danu.

Sisi lain pura yang banyak dipakai orang foto-foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di sini kami makan siang di areal restoran. Kenyang, enak. Oh iya, untuk Teman-teman muslim yang ikut trip ini, sampeyan kudu secara mandiri mengatur waktu sholat dan mencari tempat sholat ya. Karena ini trip umum, bukan khusus moslem friendly.
Begitu ada waktu istirahat, makan, di rest area; carilah waktu dan tempat untuk sholat. Jangan nungguin teman lainnya. Urusan sama Allah urusanmu pribadi, bukan urusan travel atau orang lain.
Sepanjang trip, saya menggunakan fasilitas kemudahan sholat sebagai musafir (dijamak, diqashar, sholat di bus, di tempat yang saya anggap bersih, dll) sesuai situasi dan keadaan.
Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung
