Piknik, salah satu sumber anggarannya dari penghematan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tulisan ini bermula dari pertanyaan, “Apa bedanya hemat dan pelit?”
Saya yang sudah biasa berhemat tanpa harus menjadi pelit, pun mikir: bagaimana cara menjelaskannya. Karena kriteria hemat, pelit itu beda-beda tipis dan tiap orang punya “persepsi” atau “pandangan” yang beragam tentang hitung-hitungan uang.
Mari kita ulik soal ini. Mungkin saat kamu berhemat agak ketat demi tujuan tertentu, kadang mikir: “Sebenarnya aku ini lagi hemat atau pelit siy? 🤔 Kadang garis tipis antara dua kata ini bikin kita bingung. Soalnya, hemat itu keliatan keren, pintar ngatur duit, bijak finansial. Tapi kalau udah kelewatan, bisa-bisa capnya langsung berubah jadi, “Uuh, dasar pelit!”
Kalau versi saya, hemat itu intinya me-manage duit biar kita tetap survive dan nggak bocor halus tiap akhir bulan. Terlebih bagi freelancer yang duitnya datang nggak menentu.
Misalnya:
Milih masak sendiri daripada beli masakan/makanan online tiap hari. Selain lebih sehat, puas, ternyata juga lebih irit banget.
Beli barang pas lagi diskon, terutama kalau bukan keperluan urgent. Diskon berapapun, tetap “uang” yang bisa dijumlahkan.
Nabung dikit-dikit buat goals masa depan. Kalau saya sudah pingin ke tempat A tanggal sekian, itu berarti saya kudu liat anggaran yang ada. Kalau masih kurang ya kudu nabung. Kadang target waktunya jadi molor, demi tersedianya budget. Nabung ini sering saya ambil dari budget “nongkrong” ganti suasana kerja. Biasanya sebulan 8x, wes cukup 2x aja.
Hemat tuh lebih ke strategi. Kita jadi ngerti mana kebutuhan, mana keinginan. Kita bijak menggunakan uang. Kita sadar mana prioritas yang lebih penting. Meskipun uang kita sendiri, tetap nggak bijak foya-foya.
Nah, kalau pelit beda cerita. Pelit biasanya udah masuk ke ranah, “Duh, segitunya. Pelit amat siy.”
Contohnya:
Nongkrong rame-rame, tapi pas bayar malah pura-pura sibuk cari dompet. Biar temen yang bayarin. Sekali dua kali oke, berkali-kali sampeyan akan ditinggalkan teman-teman.
Pakai barang sampe rusak parah, tapi nggak mau ganti padahal mampu. Ini siy kelewatan. Masa sama diri sendiri pelit?
Ngasih traktiran aja pake hitungan kayak kalkulator jalan. Heish, kalau ketemu orang yang itung-itungan parah itu emang nyebelin. Mendingan nggak usah terima traktirannya dan nggak usah ajakin kalau kita mo nongkrong atau jalan. Daripada beribet ntar pas bayarnya.
Kalau hemat bikin hidup lebih terkontrol, pelit justru bikin orang di sekitar jadi males. Bayangin gini deh: kamu lagi jalan bareng temen, terus dia ngajak makan di resto fancy. Kamu nolak karena budget terbatas dan nggak mau utang; itu hemat. Tapi kalau kamu nolak, padahal saldo tabungan gemuk dan pengen tetep gratis makan? Nah, itu baru pelit! 😅
Hemat biasanya dihormati orang: “Wih, dia pinter ngatur duit.” Pelit? Bisa-bisa kamu dihindarin. Orang males main bareng yang setiap nongkrong atau beli-beli malah ujung-ujungnya bikin ribet soal bayar.
Sah-sah aja hemat, malah harus banget! Tapi inget, hidup juga bukan cuma soal nabung terus. Kadang traktir temen, beliin hadiah kecil buat orang tersayang, atau sekadar bayar ongkos driver lebihin dikit, itu nggak bikin kamu miskin, justru bikin hati lega. Ini juga bikin kita happy.
Jadi lain kali kalau kamu ngaku, “Aku lagi hemat nih,” coba cek dulu… itu beneran hemat atau jangan-jangan kamu lagi pelit tapi nggak sadar? 😉
Wisuda S-3 di kampus FIB UGM tahun 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kasus dugaan ijazah palsu sang mantan Presiden Joko Widodo yang begitu heboh dan muncul beragam tudingan, fitnah, saling serang, dll disusul pula dugaan ijazah palsu sang putra mahkota yang jadi Wapres Gibran Rakabuming Raka pun ikut memanas. Belum lagi kasus-kasus setipe yang terjadi pada banyak pejabat dan petinggi negara dan banyak lagi kasus sejenis pada public figur dari beragam bidang kerja. Sesuatu yang menandakan bahwa dunia pendidikan kita memang “nggak baik-baik” saja.
Kalau ada yang bilang sekolah itu gampang, coba deh tanya lagi sama anak-anak yang tiap hari harus bangun pagi, ngantuk di kelas, PR numpuk, plus ulangan yang datang tanpa basa-basi. Sekolah tuh memang perjalanan panjang yang bikin capek, kadang bikin senyum, tapi malah sering kali bikin kita pengen teriak, “Kenapa sih susah (sulit) banget?”
Hal pertama yang bikin sekolah terasa ribet jelas soal tugas dan nilai. Matematika dengan rumus yang muter-muter, bahasa dengan esai yang panjang-panjang, IPA dan IPS dengan hafalan yang nggak ada habisnya. Padahal, nggak semua orang jago di bidang itu. Ada yang otaknya encer di Matematika tapi belepotan kalau disuruh bikin cerpen. Ada juga yang jago gambar, tapi mumet kalau ketemu tabel periodik.
Masalahnya, sistem sekolah kita memberi tuntutan agar siswa oke di semua mata pelajaran. Jadinya apa? Ya jelas, banyak anak yang ngerasa nggak cukup baik, padahal sebenarnya mereka punya bakat lain yang nggak kalah keren.
Selain tugas, dunia pertemanan juga punya cerita sendiri. Buat sebagian orang, sekolah itu tempat nemuin sahabat sejati, geng seru, atau partner kerja kelompok yang bisa diandalkan. Tapi, ada juga yang justru ngerasa sekolah jadi medan perang karena ada drama, gosip, bahkan bullying (perundingan).
Nggak heran, kadang ada yang bilang sekolah itu lebih melelahkan secara mental daripada pelajarannya. Bayangin, harus mikirin nilai yang udah bikin pusing, ditambah lagi drama sosial yang bikin hati panas dingin.
Jangan salah, bukan cuma murid yang pusing. Guru juga punya tantangan. Mereka harus ngadepin puluhan anak dalam satu kelas, dengan karakter yang beda-beda. Ada yang aktif banget, ada yang diem aja, ada juga yang sukanya bikin onar. Bagi guru, ngajarin anak-anak itu nggak sekadar nyampein materi, tapi juga butuh kesabaran ekstra.
Orang tua pun sering kebagian “PR tambahan”. Mereka harus nemenin anak belajar di rumah, ngelesin di luar (bimbel), keluar duit buat keperluan sekolah, dan kadang ikut stres kalau anaknya mulai ngeluh. Ada yang santai, ada juga yang justru makin nambah tekanan karena pengen anaknya selalu ranking satu.
Di balik semua drama itu, sekolah punya banyak momen seru. Main bola pas istirahat, ketawa bareng di kantin, sampai pengalaman pertama ikut lomba atau tampil di depan kelas. Hal-hal kecil kayak gitu justru sering jadi kenangan manis setelah lulus.
Sekolah juga ngajarin kita hal-hal penting di luar buku pelajaran. Dari belajar kerja sama pas bikin proyek, belajar ngadepin kegagalan waktu nilai jeblok, sampai belajar tanggung jawab kalau lupa bawa tugas. Semua itu bikin kita jadi lebih tangguh menghadapi dunia nyata.
Di tingkat pendidikan yang lebih tinggi (kuliah) juga lebih kurang setipe. Program sudah penjurusan, tapi semua studi masih harus meribetkan tetek bengek perkuliahan dasar (MKU) yang sebenarnya wes gak begitu relevan lagi untuk programnya. Tuntutan lulus banyak SKS, selain bikin mumet mahasiswa dan masa studi lama (yang berimbas pada banyak pengeluaran, mahal) membuat kuliah sering jadi momok bagi masyarakat menengah ke bawah.
Makin tinggi tingkat sekolahnya makin ruwet aturannya. Studi S-1, S-2, S-3 bukan hal yang menyenangkan bagi banyak orang karena tuntutan ekstrim agar “lulus” tepat waktu.
Nggak heran kalau banyak lulusan sekolah tinggi yang begitu jadi pejabat publik njur dipertanyakan soal kelulusannya, bahkan dikuliti ijazahnya, nilai-nilainya, sekolah/kampusnya, kawan-kawannya, dll. Ya karena mereka pejabat kok pahpoh, ngahngoh, bikin kebijakan geje, gakbisa bikin sambutan, gakbisa pidato, waton jeplak kalau bicara, dll yang sangat tidak mencerminkan mereka lulusan sekolah tinggi.
Jangan salah, gelar dari sekolah tinggi nggak selalu berarti seseorang bisa memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan mental, dan kecerdasan spiritual yang tinggi pula. Karena itu semua baru bisa diperoleh atau didapatkan dari kesungguhan belajar, beradaptasi, mengikuti proses sekolah dengan wajar. Bukan tembak nilai, bayar beli ijazah dari kampus yang embuh pula status akreditasinya.
Saya wes melewati proses sekolah dari tingkat dasar sampai yang paling tinggi (S-3, Doktor) dari sekolah-sekolah dan kampus terbaik di dalam negeri, tahu betapa nggak user friendly-nya sistem pendidikan kita untuk peserta didik. Beruntung, saya bersaudara tumbuh di lingkungan yang nggak menganggap sekolah kudu nomor 1, kudu terbaik dengan cara apapun.
Wisuda S-3 di halaman Graha Sabha Permana UGM, Januari 2018. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Nggak ada orang tua kami begitu. Sekolah ya biasa saja bagi kami. Usahakan yang terbaik dengan cara yang baik dan menyenangkan. Jadi, saya sekolah nggak ada tuntutan kudu juara satu, kudu begini begitu. Jadinya, saya tahu bagian atau subjek pelajaran yang saya senang, nilainya tinggi. Yang nggak senang, nilai kebanyakan ya cukup standar saja untuk kelulusan atau naik kelas.
Lalu apakah dengan standar “sederhana” saat sekolah itu bikin hidup saya nggak baik? Yo enggak tuh. Malah banyak temen yang dulunya pinter-pinter jadi stres karena tuntutan berlebihan dari orang tuanya atau dirinya sendiri pada standar angka dan konversi nilai.
Sekolah saya pun jadi lebih menyenangkan. Semua saya lewati dengan cepat dan hasil terbaik, ya justru karena nggak ada beban. Tapi sekolah sesuai pilihan, yang saya senangi, dan keahlian saya pun terbentuk dengan lebih mudah karena ada kesadaran dari diri pribadi.
Bukan berarti saya bilang sistem pendidikan di negeri kita mudah ya. Sulit, bahkan termasuk sulit banget. Berat betul sekolah di Indonesia karena dituntut semua serba bisa, serba bagus sesuai standar “sama”. Padahal sudah jelas kemampuan dan bakat tiap orang berbeda.
Jadi, nggak heran kalau banyak yo nggak mau ribet, punya duit, dan mental ngaji mumpung, wesbayar saja untuk nilai-nilai dan ijazahnya. Ya bisa jadi memang nggak ada yang tahu. Apalagi kalau nggak jadi pejabat publik atau kerja formsl yang beribetan dengan nilai dan ijazah. Iya kan, kalau membohongi orang lain itu mudah. Yang nggak mudah itu kan kalau membohongi diri sendiri. Sampeyan tahu persis apa yang telah anda lakukan.
Solusinya bagaimana? Saya bukan akademisi yang dari awal usia produktif kerja nyemplung dunia pendidikan. Menjadi dosen juga baru seumur jagung. Tapi versi saya, kasus-kasus jual beli nilai, jual beli ijazah, ijazah palsu, jasa bikin skripsi, tesis, disertasi, dll publikasi untuk kepentingan pendidikan itu; nggak akan terjadi atau minim-lah kalau aturan main dan syarat kelulusan pendidikan atau sistem nya secara umum lebih ramah dan mengutamakan minat bakat pribadi, meskipun belajar secara kolektif.
Misalnya: PAUD-TK itu ya wes bermain, beradaptasi, bersosialisasi, seni praktis menari menyanyi, etika dasar. Nggak malah dibebani calistung yang kalau saya lihat pun mumet, apa lagi guru-guru dan muridnya.
Lalu SD-SMP nah di sini kasih keterampilan ilmu dasar calistung dan etika-etika atau budi pekerti untuk tingkat madya. Lalu di SMA baru persiapan untuk program penjurusan ke perguruan tinggi yang dituju. Ditambah pengetahuan etika yang lebih tinggi dan pengetahuan global (bahasa Internasional, teknologi informasi, public speaking, etika Internasional, dll nilai-nilai universal).
Di perguruan tinggi? Ya mestinya wes kuliah sesuai jurusannya saja, non MKU (ini hampir 1/3 lho dari total 144-156 SKS). Buang buang waktu dan nggak relevan. Apa coba relevansinya Pancasila, Pendidikan Agama untuk Jurusan Sastra Indonesia? Suruh bikin Sastra Pancasila? Yang bener aja…. ini sudah selesai mestinya saat anak wes menempuh PAUD s/d SMA. Nggak perlu ngulang lagi. Apamaneh kalau kurikulumnya gonta-ganti tiap kali menteri atau dirjennya lampu merah alias berhenti 😁
S-2 ya wes simpel saja, nggak perlu ada matkul umum lagi. Perlunya bikin laporan riset (tesis) atau studi terapan dengan produk. Jadi 1 tahun rampung dan nggak mengulang-ulang matkul S-1.
S-3 mestinya juga didesain lebih sederhana tapi komprehensif. Nggak perlu kuliah lagi. Ya wes tinggal laporan riset (disertasi) atau produk untuk studi terapan; tentu dengan standar yang lebih tinggi dari S-2. Jadi 1-2 tahun bisa kelar.
Mungkin kalau begitu, bisa jadi sekolah di Indonesia terasa lebih ringan, biaya lebih sedikit, waktu lebih sedikit, dan relatif nggak memusingkan yang mau sekolah.
Sekolah di Indonesia mau di tingkat dasar, madya, maupun tinggi memang (nggak) mudah. Dibandingkan sisi nyenenginnya, lebih banyak ribetnya. Kadang bikin nangis, kadang bikin berhenti aja saat beribetan dengan segala aturan yang terasa “nggak manusiawi”.
Tapi satu hal yang pasti: sekolah bukan cuma soal nilai dan ijazah, tapi juga tentang perjalanan yang membentuk siapa kita nanti. Kalau kita bisa nikmatin prosesnya, sekolah bakal jadi cerita seru yang suatu hari bakal kita kenang dengan senyum; meski dulu rasanya pengen cepat-cepat lulus.
Bagaimana cerita sekolahmu? Seru? Menyenangkan? Kamu termasuk orang yang beruntung.
Flyer Bedah Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Alhamdulillah, terimakasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Kidul yang telah menyelenggarakan acara Festival Literasi 19-23 September 2025 dan bedah buku “Dalam Cerita, Kita Bicara” menjadi acara inti pembuka di hari Jumat yang mulia, 19 September 2025 jam 13.30 WIB sd 16.15 WIB.
Terimakasih Mbak Yuni dan Bu Purwati yang telah dengan baik mengurus dan mempersiapkan acara bedah buku tersebut. Terimakasih juga untuk dua pembedah yang luar biasa Mbak Ummi dan Mas Hariwijaya. Maturnuwun atas support luar biasanya. Terimakasih juga untuk sang Momod, Mas Imron yang telah memandu acara ini dengan baik.
Jujurly, saya nggak menyangka bahwa buku yang kami buat (ada 75 orang penulis, 3 dosen PBSI dan 72 mahasiswa prodi PBSI dan Manajemen UPY) dapat lolos terpilih untuk sesi bedah buku di acara istimewa ini.
Buku “Dalam Cerita, Kita Bicara”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Penulisan buku itu sendiri versi saya nggak mudah. Mengumpulkan tulisan dari banyak orang yang mayoritas bukan penulis, sama sekali nggak ringan. Lebih kurang 6 bulan kami berjibaku mulai dari menulis naskah, mengumpulkan naskah, menggabungkan jadi satu file, mengeditkan naskah, baru kemudian membawa ke penerbit untuk diterbitkan.
Dananya? Tentu saja dana mandiri kami bersama-sama. Alhamdulillah, meskipun sempat nggak sinkron di urusan cover dan tata letak, akhirnya kami sepakat memilih versi buku seperti yang sudah tersaji covernya. Sungguh, proses yang nggak mudah buat saya yang mengkoordinir seluruh urusan. Syukurlah banyak teman mahasiswa yang membantu dari awal sampai akhir proses kerja. Maturnuwun.
Sesaat setelah pembukaan acara Festival Literasi oleh Kepala Dispusip Kabupaten Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Buku ini juga bukti, bahwa menulis bukanlah bakat. Menulis hanya perlu “ilmunya” dan kemudian membuat tulisan sampai rampung, meskipun sederhana. Ya, kami memilih pentigraf yang hanya 150-250 kata untuk satu cerita yang utuh. Alhamdulillah semua terpenuhi. Ada kurang ini itu, saya sebagai penulis dan dosen pun memakluminya. Mereka sudah luar biasa mengeluarkan effort agar tulisannya rampung dan ikut mejeng di buku tersebut.
Saya juga bergembira ketika Mas Hariwijaya memberikan nilai bahwa buku tersebut sudah sangat layak terbit dan kemasannya pun cantik menjual. Tinggal masalah uji pasar, apakah buku terjual atau enggak. Sekurangnya, saya perlu berterima kasih kepada Penerbit Literasi Nusantara, yang sudah sabar telaten mengurus naskah-naskah saya; yang kadang beribet minta ini itu agar “perfect” dan “cantik”. Kerjasama yang panjang, juga membuat kami lebih mudah komunikasi ini itu agar hasil kemasan buku maksimal. Nggak akan bikin malu siapapun yang menjadi penulis di dalamnya. Maturnuwun. Alhamdulillah.
Saat sang Momod memulai acara bedah buku. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya cukup terkejut, ketika sesi tanya jawab yang ditanyakan peserta banyak yang keluar dari urusan “bedah buku” tapi malah membahas banyak materi tentang “menulis” dan “penulisan”. Tapi yo sudah, yang ditanyakan ke saya ya tetap saya jawab semampunya. Dan luar biasa waktu 2,5 jam (ini beneran panjang lho), jadinya nggak terasa. Alhamdulillah.
Oh, saya ingat ada kata Mbak Ummi agar kalau menulis nggak cuma mikirin uang atau komersial tapi juga bermanfaat untuk generasi muda; sebagai respon saya untuk mencatat ide dan memilih yang versi saya bisa diuangkan “bisa dijual dan dapat duit” lebih dulu. Saya nggak mengcounter balik –waktu sudah habis. Tapi kalau membaca 145 judul buku saya yang seluruhnya terbit di penerbit mayor (Gramedia Grup, Mizan Grup, Andi Grup, Medpres Grup, Agromedia Grup) yang seluruh naskah sudah melewati seleksi ketat, urusan manfaat dan kualitas, saya anggap sudah lewat.
Mereka di penerbit sudah lebih ahli dari saya untuk menilai manfaat dan kualitas naskah, sehingga memutuskan untuk menerbitkan, menjualkan, mendistribusikan, dan memberikan royalti 10-15% secara berkala tiap 6 bulan. Hingga sekarang (saya mulai menerbitkan buku tahun 2006 di Gramedia Grup) masih ada 100-an judul buku saya yang aktif dijual dan ada sekitar 10-an judul yang sudah 19 tahun terus menerus memberikan royalti. Alhamdulillah.
Pesona seni tari gadis-gadis remaja Gunung Kidul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jadi urusan bikin naskah dan kualitas serta manfaat itu sudah pasti kewajiban saya, tapi kesadaran harus bikin materi yang laku, itu salah satu sebab buku saya tiap tahun bertambah. Alhamdulillah. Percayalah, penerbit juga nggak mau memodali naskah yang nggak laku di pasaran.
Beragam pertanyaan tentang penulisan itu membuat saya optimis, masih banyak orang yang “ingin bisa menulis” dan pasti kelas-kelas penulisan, bimtek penulisan juga akan terus diperlukan. Sungguh menarik ketika sebuah acara literasi bukan hanya sekadar bedah buku, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang belajar menulis yang penuh kejutan.
Begitulah suasana dalam kegiatan “Dalam Cerita, Kita Bicara”, sebuah acara diskusi buku yang mendadak juga jadi ajang bimtek (bimbingan teknis) penulisan yang hadir secara dadakan, tapi justru terasa segar dan membekas. Untungnya baik Mas Hariwijaya maupun Mbak Ummi juga penulis, jadi bisa ikut menjawab pertanyaan para audiens.
Acara ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar tentang membaca buku tebal atau menulis panjang. Literasi adalah tentang membuka percakapan, berbagi makna, dan menemukan suara diri melalui kata-kata. Dalam satu forum blended ini ada sekitar 50-an peserta luring dan 57-an peserta daring, terjadi perjumpaan antara pembaca, penulis, dan calon penulis yang saling menginspirasi.
Setelah bedah buku, dengan Mbak Yuni dan Mbak Ummi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
“Dalam Cerita, Kita Bicara” meninggalkan jejak: bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak dituliskan. Bedah buku ini bisa menjadi gerakan kecil yang menumbuhkan keberanian menulis. Karena pada akhirnya, cerita bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dibicarakan dan dituliskan.
Sekali lagi, terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini. Seperti biasa, saya nggak akan mengajak orang untuk jadi penulis (karena jatuh bangunnya nggak mudah), tapi saya akan selalu mendorong orang untuk menulis. Sekurangnya, menulislah 1 buku seumur hidup: boleh juga autobiografi (biografi diri sendiri) seperti anjuran Mas Hariwijaya. Maturnuwun.
Bahkan untuk membicarakan buku saja (Bedah Buku), kita memerlukan uang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa uang adalah bagian penting untuk memenuhi kebutuhan. Namun, ada kalanya muncul perasaan malu atau gengsi untuk berkata jujur, “Saya perlu uang.”
Padahal, mengakui kebutuhan finansial bukanlah sebuah aib. Versi saya ini adalah hal yang lumrah. Perlu uang sebagai tanda bahwa kita manusia biasa yang punya kebutuhan, tanggung jawab, dan keterbatasan.
Banyak orang merasa gengsi karena takut dinilai lemah, nggak sukses, atau kurang mandiri. Ada juga yang khawatir akan dianggap hanya mengejar materi. Budaya “harus terlihat cukup”, seringkali membuat orang menutupi kenyataan finansialnya, meskipun sebenarnya sedang kesulitan.
Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Dari makan sehari-hari, pendidikan anak, hingga biaya kesehatan, semuanya berkaitan dengan finansial. Mengakui bahwa kita butuh uang bukan berarti mata duitan, melainkan menyadari realitas hidup.
Kesadaran diri itu membuat saya mudah kompromi dengan industri. Dalam menulis pun, saya sadar betul; menulis bagus dan berkualitas itu kewajiban, tapi bahwa buku-buku dan atau karya lainnya (sinetron, series, film, dokumenter, lagu, puisi, dll bentuk dari karya tulisan) itu harus bisa dijual syukur-syukur bestseller, hits, ranting, box office; itu adalah kesadaran penuh: bahwa hanya dengan menulis karya yang laku, saya bisa survive hidup sebagai penulis.
Jujur tentang kebutuhan finansial bisa menjadi langkah awal menuju solusi. Dan itu sudah menjadi kebiasaan saya bertahun-tahun sebagai penulis profesional. Begitu ketemu calon klien, maka standar kita kenalan (kalau belum kenal). Lalu membicarakan konsep dan pekerjaannya, termasuk kruncilan yang sering dianggap sepele (riset, ke lapangan, terjemahan, izin-izin, dll) yang versi banyak orang itu nggak perlu dibiayai–padahal realitanya itu bisa menyedot maksimal dari budget anggaran pengadaan buku.
Setelah sepakat semuanya, saya akan langsung bicara tentang uang. Berapa saya dibayar, sistemnya bagaimana, siapa penanggung jawab atau orang yang harus saya tagih, dll force majeur yang berkaitan dengan tugas tanggung jawab dan hak pembayaran yang harus saya terima.
Alhamdulillah, saya sering takjub ketemu klien yang wes nggak banyak ribet, transfer aja dan kita pun bekerja. Saya termasuk yang percaya, kalau petungnya mudah, hasilnya juga lempeng bagus. Tapi kalau dari awal wes ruwet (misal nggak tepat waktu, gonta-ganti tempat meeting, jam, mangkir ini itu), cenderungnya gaweyannya dan pembayarannya yo ribet.
Jadi kalau sudah ada tanda 1,2 kayak gitu, biasanya saya langsung pilih “nggak menerima”. Kalau nggak enak nolaknya, suruh manajer aja yang menolak. Kalau uang DP sudah dibayar, kembalikan saja biar nggak nyicrit ribut di sosmed. Duit bagi saya memang sangat penting, tapi kalau proses kerjanya nggak bikin happy, weslah cari kerjaan atau klien lainnya saja. Kesehatan jiwa raga fisik mental itu penting.
Dalam keluarga, terbuka soal kondisi keuangan dapat mencegah konflik. Dalam pekerjaan, berani menyebut kebutuhan gaji atau honor yang sesuai justru menunjukkan profesionalisme. Dalam pertemanan, jujur menolak ajakan nongkrong karena alasan finansial lebih baik daripada memaksakan diri.
Kita perlu mengubah perspektif: mengatakan “saya perlu uang” bukanlah kelemahan, tapi sebuah kejujuran. Sama halnya ketika kita mengatakan “saya lapar” atau “saya butuh istirahat.” Dengan mengakui kebutuhan, kita belajar merencanakan, mencari solusi, bahkan membuka peluang baru.
Nggak ada yang salah dengan kebutuhan finansial. Yang keliru adalah berpura-pura mampu saat kenyataannya nggak begitu. Jadi, jangan malu berkata: “Saya perlu uang.” Karena dari kejujuran itu, kita bisa belajar mengatur diri, mencari jalan keluar, dan tetap menjaga martabat tanpa harus terjebak dalam gengsi.
Sederhana saja, kalau nggak perlu uang, ngapain kita tiap hari capek-capek kerja dengan segala problematikanya yang kadang bikin emosi jiwa juga? Jawaban jujur sudah pasti sampeyan temukan di hati masing-masing. 😀
Saya di salah satu sisi areal Tanah Lot, Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Rencana awal saya, selepas ikut trip dengan Sering Travel (catatan trip bisa Teman-teman baca di Bali Lovina (1) sd (10) di blog saya ini); memisahkan diri dari rombongan dan menginap di sekitar bandara. Tujuannya untuk melanjutkan trip mandiri ke Desa Adat Pegringsingan, melihat tenun khas daerah tersebut dan mengamati dari dekat kehidupan masyarakatnya.
Saya pikir itu rencana yang mudah. Karena ke desa ini nggak perlu nyebrang laut atau pergi ke pulau lain. Jarak dari bandara juga hanya sekitar 75 km saja. Artinya dengan menyewa mobil seharian sudah memadai.
Saya bisa pergi pagi-pagi, perjalanan sekitar 2 jam, lalu selama 3-4 jam di lokasi, dan kembali lagi sekira 2 jam. Selanjutnya saya bisa langsung njujug bandara untuk balik Jogja. Saya memikirkan rencana sempurna itu karena sudah di Bali; menghemat waktu dan biaya kedatangan. Sekaligus saya bisa “menutup” catatan bahwa semua tempat wisata di Bali wes saya tengok.
Dan begitu merasa ini adalah gaweyan sendirian, saya langsung menghitung dengan Soul Meter (SM). Kalau sendirian saya harus bertanggung jawab penuh pada keselamatan dan keamanan pribadi. Nggak ada orang lain. Segala sesuatunya menjadi urusan saya.
Saya itung-itung, tentang tinggal atau balik; pada posisi balik angkanya besar –yang berarti menyuruh balik. Pada posisi tinggal, angkanya kecil berarti “sebaiknya” nggak tinggal. Saya ukur-ukur untuk pergi ke Desa Pegringsingan di tanggal 9 September hasilnya angka kecil.
Trip Sering Travel berakhir tanggal 6 September malam, kalau saya tinggal, dengan fisik lelah begitu butuh istirahat; berarti 7 September mageran aja, 8 September karena ada kelas-kelas online saya wajib mengisi; dan baru bisa aktivitas 9 September untuk rencana jalan panjang.
Hasilnya nggak terduga sama sekali, angka kecil bahkan nyaris mendekati 0. Hitung hitung lagi di tanggal yang berbeda sampai beberapa hari kemudian, hasilnya tetap kecil. Jujurly, saya sempat berpikir connecting saya nggak bener. Mungkin karena saya capek, kurang fokus, atau kemrungsung. Saya ulang beberapa kali, dan hasilnya tetep aja segitu gitu rendah aja nilainya.
Saya njur menyerah. Mengikuti saja hasil SM, karena yakin connecting, pertanyaan, hitung radiasi, dll yang saya lakukan wes benar. Jadi, dari pengalaman pribadi saya menggunakan SM bertahun-tahun, hasil itu sudah pasti valid. Meskipun ada tanda tanya besar di hati saya, kenapa kok nggak bisa ya? Kelihatannya semua kan baik-baik saja?
Saya juga sehat, waktu ada, duit untuk biaya alhamdulillah ada, jadi apa masalahnya? Saya nggak ada pikiran atau dugaan apapun, kenapa hasilnya tetap rendah atau nggak mengizinkan saya tinggal. Belum bisa ke Desa Adat Pegringsingan.
Akhirnya, sesuai hasil SM saya tetap balik ikut rombongan bus Sering Travel. Perjalanan panjang lewat darat yang lebih banyak saya isi dengan tidur. Sampai tiba di Jogja, standar bebersih, membagi oleh-oleh, njur tidur lagi. Dan kemudian sesuai jadwal aktivitas, saya wes mulai bekerja lagi.
Tahu-tahu ibu saya menelepon di tanggal 9 September, menanyakan posisi saya di mana, sudah balik dari Bali atau belum. Saudara saya juga memastikan saya sudah di Jogja atau belum. Innalillahi, ternyata Bali banjir besar di beberapa titik.
Saat itulah, secara sederhana saya pahami, bahwa beberapa titik itu pasti akan saya lewati kalau pergi ke Desa Adat Pegringsingan. Lha kalau banjir begitu, ya wes jelas gakbisa lewat. Subhanallah, ternyata ini jawabannya kenapa angka-angka hitung SM begitu rendah dan nyaris 0 untuk rencana saya itu.
Alhamdulillah, maturnuwun ya Allah menyelamatkan saya via hitung SM. Terimakasih Bunda Arsaningsih yang telah mengajarkan “berkat” luar biasa ini kepada banyak orang. Sungguh, semoga jadi amal kebaikan beliau yang nggak pernah putus sepanjang masa.
Teriring doa untuk Bali agar segera pulih dan normal kembali aktivitas harian dan pariwisatanya. Juga berharap pemerintah Bali dan (pemerintah) daerah-daerah lain di seluruh Indonesia untuk sungguh-sungguh mengurus sampah dan tata kelola kotanya. Karena begitu hal ini “abai” atau “lalai” bencana banjir siap datang mengancam nyawa dan kehidupan kapan saja.
Tersenyumlah yang lebar agar rezekimu melimpah ruah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ikut OT dengan Sering Travel versi saya menyenangkan secara umum. Budget untuk 4D3N Bali Lovina (hanya) 1,250 juta plus 50 rb untuk upgrade bus. Total 1,3 jt wes hampir semua tercover untuk mereka yang baru pertama kali ke Bali. Rasah keluar duit lagi kecuali untuk keperluan pribadi.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau ikut OT berarti saya nyiapin 100-150% dana dari sejumlah biaya bayar tripnya. Ini demi “rasa aman” saya pribadi. Kalau biaya OT 1,3 jt; berarti saya nyiapin (lagi) lebih kurang 2 jt; dalam bentuk cash dan uang digital. Untuk apa saja dana itu? Silakan cek-cek. Ingat ya, tiap orang bisa berbeda-beda anggaran dana dan penggunaannya. Tinggal menyesuaikan saja dengan keperluan masing-masing.
Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Biaya transport dari rumah ke mepo PP @60 rb = 120 rb
Biaya sarapan hari pertama 60 rb (optional sesuai keperluan masing-masing; saya perlu sarapan di luar karena lembur gaweyan dan baru beres saat mau berangkat)
Bayar makan yang nggak ditanggung biro 2x atau 3x makan (sesuai keperluan) @50-60 rb an = 180 rb (terbesar kepake di resto seafood)
Biaya sewa pakaian adat @50 rb = 50 rb
Biaya tiket tari kecak @100 rb = 100 rb
Biaya beli minuman permen 4 hari @30-50 rb per hari = 200 rb (di bus Sering Travel ada dispenser, bisa dimanfaatkan bagi yang mau hemat atau skip anggaran beli minum kemasan)
Biaya ke toilet (sesuaikan keperluan masing-masing) @2-10 rb × 4-5 kali × 4 hari = 80 rb s/d 100 rb. Beberapa toilet gratis, beberapa bayar 10 rb.😜 Khusus bagian ini siapin uang receh 2 rb, 5 rb dan 10 rb. Daripada dibilang nggak ada kembalian dan 10 rb mu melayang, padahal kudunya cuman bayar 2 rb 😁
Beli oleh-oleh (optional, sesuaikan keperluan). Kali ini saya beli cukup banyak. Tetangga kiri kanan sudah serasa keluarga dan juga untuk teman-teman kantor. Versi saya, lebih gampang memberikan makanan habis pergi –ada alasan berbagi). Cek-cek nota pembelian ada 750 rb an (ini ukuran saya cukup besar, di Jogja bisa untuk biaya makan 1 keluarga 15 hari 😄). Tentu banyak juga oleh-oleh untuk diri sendiri. Untuk berbagi ini, kalau saya sedang banyak keperluan dan budget tipis, saya skip. Hanya beli oleh-oleh yang betul-betul saya kepingin dan hanya ada di tempat itu. Nggak bawa oleh-oleh bukan hal yang tabu bagi saya setelah bepergian. Lha memangnya situ mau gantiin uangnya? 😜 Syukur alhamdulillah, di sekitar saya juga bukan tipikal orang-orang usilan minta oleh-oleh. Semua sadar, bepergian, piknik bukan berarti duit kita (selalu) berlebihan.
Dana darurat @50 rb per hari = 200 rb (nggak terpakai).
Tanjung Benoa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Total 1.810.000 (nggak terpakai 200 rb; pengeluaran 1.610.000). Duit yang saya siapin 2 juta; jadi masih tersisa 390 rb an. Ya masih aman to? Bisa ditabung lagi untuk OT berikutnya. Saya happy, nggak ngirit-ngirit banget, juga nggak boros dan wes memenuhi semua prioritas keinginan saya pas ikut OT ini. Alhamdulillah. Wes kesampaian ke Pantai Lovina liat lumba-lumba dan ke Desa Panglipuran. Kalau trip pribadi dan ngurus sendiri? Beuh bisa berlipat pengeluarannya; transportnya aja pasti pesawat atau kalau bus ya sleeper yang nyaman 😆
Secara pribadi dari angka 0 sd 5 saya memberi nilai 4,5 untuk Sering Travel. Nyaris sempurna ya, nggak ada banyak kekurangan. Layanan bagus, armada bus adem nyaman, makanan enak terjamin cukup, waktu ishoma cukup, hotel nyaman dan pelayanan ramah, tertib mengatur waktu; TL, local guide, photographer, driver, bus helper: have done their work profesionally. Luar biasa. Terimakasih.
Kekurangan yang sempat saya rasakan, bisa jadi nggak dialami orang lain. Pertama masalah sandaran kaki, mungkin bisa dipertimbangkan untuk versi ruang lega non sandaran.
Senja di Tanah Lot. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kedua, masalah nggak ada penyebutan secara eksplisit bagian exclude pembayaran ini bisa bikin salah persepsi. Random saya bertanya, nggak ada yang bayar tips karena disebut sukarela. Ada baiknya biro eksplisit saja, biar gampang misal tips 5-10% dari total trip atau kalau di trip ini 65rb-130 rb diberikan cash setelah trip atau yo include saja saat bayar. Gampang mikirnya.
Waktu saya nanya Kak Bebe pas bayar charge tambahan 50 rb, ada biaya apalagi; dijawab nggak ada. Saya njur nggak pikiran. Saya pikir its ok aja kok biro menarik tips, mayoritas biro juga begitu. Apalagi biro-biro piknik luar negeri dan durasi lebih dari 10 hari. Malah kepenak. Sekarang tuh layanan jasa wes gak zamannya lagi makin murah makin laris. Jadi bisa dipertimbangkan agar konsumen ya wes mikir biayanya; biro dan kru juga nggak dirugikan karena njur nggak pada bayar dengan alasan sukarela. Nggak rela berarti nggak bayar dong😁😜
Masalah nggak tercantum harga seperti sewa baju, tiket wahana water sport, tiket tari kecak, itu juga jadi kekurangan point bagi Sering Travel. Saya yakin banyak peserta yang pingin ikut, tapi karena nggak mengira sebanyak itu –jadi milih nggak ikut. Eksplisit bikin semua terang dan mudah kalau urusan perduitan gini.
Karang Bolong? (Saya lupa nama tempat ini, tapi masih di sekitaran Tanah Lot). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Masalah ketiga, ada sesi makan malam di salah satu resto seafood. Lha wong di Jogja bae wes muni regane apalagi di Denpasar. Waktu itu saya banyak sekali mendengar gerundelan terutama ibu-ibu karena harganya “bunyi”. Saya pribadi sempat berhitung kenapa charge makan dan minum saya jadi over, beda dari perkiraan harga yang harus saya bayar? Oalah ada tambahan PPN 10%, layanan 5%, biaya packing karena saya tenteng bungkus kelebihannya. Wes gitu antrinya 1 jam lebih sampai saya kelaparan. Padahal mung pesen nasi goreng seafood dan secangkir lemon tea. 😁
Ada baiknya seluruh makan dari berangkat di mepo balik pulang ke mepo itu wes include diurus biro yang lebih praktis murah (tentu dengan charge). Intinya siy, ada baiknya makan wes dijamin. Biar nggak rieuweuh dan biaya makan jadi bengkak. Ingat ya di Jogja UMR rerata 1,7 sd 2,2 jt. Jadi makan dan minum simpel seporsi hampir 100 rb, di benak ibu-ibu itu serasa ngabisin biaya jatah makan 1 keluarga untuk 2 hari 😁😅
Keempat, masalahnya bukan di saya. Tapi seseorang menegur Kak Bebe karena kalau memotret nggak mengarahkan. “Bilang to Mas, saya tuh harus gimana, gaya apa,” lebih kurang begitu. Saya mung senyum-senyum mendengarnya.
Desa Panglipuran. Kalau ikut OT dan pas liburan, jarang bisa foto tanpa background orang-orang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya tahu kalau Kak Bebe ini bukan fotografer dan mungkin yo wes capek bin lelah bin bosen juga (kalau sudah bolak-balik ngawal trip ke Bali), jadinya milih aman bin selamet; segaya-gayanya peserta pokokmen difoto. Hasilnya ya tergantung keberuntungan untuk bagus buruknya 😁😜 Kak Mancay? Saya jarang melihatnya. Karena begitu lepas dari Pantai Lovina dan trip dikendalikan Mbokde Saori, entah di mana dia berada😁😅
Yach itu aja siy komenan untuk Sering Travel. Terimakasih untuk semua layanan primanya. Terimakasih banyak untuk seluruh teman-teman yang telah bersama-sama menjaga satu sama lain. Sampai jumpa lagi di trip-trip berikutnya. Saya cukupkan catatan Bali Lovina di bagian 10 ini.
Topeng-topeng unik dan berkarakter khas Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Selepas pandemi, saya lebih sering ikut open trip (OT) daripada mengatur trip pribadi. Mengikuti OT lebih praktis dan seru; biaya sangat terjangkau, destinasi sudah jelas, jadwal sudah diatur rapi, teman perjalanan bertambah, nggak ribet dengan birokrasi perizinan. Tapi, sebagai orang yang doyan dolan sejak belia, saya tahu persis bahwa budget yang dianggarkan oleh biro travel sering kali hanya pengeluaran di permukaan. Banyak komponen yang belum ditanggung.
Biasanya saya menyediakan dana 100-150% dari besaran biaya yang saya bayarkan untuk OT; untuk oleh-oleh dan berbagai hal. Wes itu, hitungan paling gampang dan bikin saya merasa nyaman aja ikut OT. Nanti akan saya spill anggaran dan penggunaannya. Dan tiap orang bisa saja sangat berbeda ya keperluan dananya, tergantung tujuan dan penggunaannya.
Contoh oleh-oleh dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di luar program yang sudah ditentukan biro, ada banyak hal kecil yang bisa bikin perjalanan OT makin berkesan. Biar tetap hemat dan sesuai kantong, penting untuk menyiapkan budget tambahan dan tahu prioritasmu. Ingat ya, list prioritasmu dan sesuaikan dengan budgetmu. Bukan ikut-ikutan orang lain. Berikut ini beberapa hal yang bisa kamu lakukan di luar agenda OT, untuk memberi acuan dalam mengatur budget.
Pertama, cicipi kuliner lokal. OT biasanya menyediakan makanan standar, tapi jangan lewatkan kesempatan mencicipi hidangan khas daerah. Bagi yang pertama kali ke Bali, sisihkan budget khusus untuk kuliner (misalnya Rp100.000 sd 200.000 per hari). Cari rekomendasi warung lokal atau street food. Utamakan makanan khas yang sulit ditemui di kotamu.
Contoh souvenir dari Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kalau sudah bolak-balik ke Bali ya nggak usah. Atau kalau kamu nggak sreg dengan makanannya, yo nggak usah sok familiar bisa makan apa saja. Perutmu sakit nggak ditanggung biro! Atau kalau makanannya kayak enak, tapi harganya nggak sesuai budgetmu, coba cari rekomendasi yang lebih sesuai dengan kantong.
Kedua, belanja oleh-oleh seperlunya. Oleh-oleh memang menyenangkan, tapi jangan sampai jadi beban. Tentukan anggaran khusus (misalnya maksimal 30-50% dari total budget). Pilih oleh-oleh praktis: makanan kering, kopi, kerajinan kecil. Batasi belanja hanya untuk keluarga inti atau teman dekat.
Sisi depan pusat oleh-oleh Joger. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ikut OT dengan Sering Travel ini kita diajak ke pusat oleh-oleh Djoger, Krisna, dan Dewata Agung (pusat produksi pie susu). Tentu di sini macem-macem jenis oleh-olehnya. Kalau sampeyan memang perlu dan budgetnya ada atau sesuai, ya belilah. Tapi kalau nggak beli, tenang aja, kamu nggak perlu berkecil hati dengan mereka yang belanja-belinji. Kamu nggak minta uang mereka dan bisa jadi tujuan piknikmu memang beda dengan mereka yang belanja banyak oleh-oleh.
Aturan ini sudah saya pake secara ketat untuk diri sendiri. Jadinya saya nggak pernah nanyain teman sebangku, sekamar, seperjalanan dalam OT belanja apa saja, makan apa saja. Itu urusan mereka, bukan urusan saya. Dan saya disiplin sekali pada diri sendiri agar nggak kepoan, julidan, nyinyiran pada orang lain. Karena saya juga nggak demen orang lain berlaku begitu pada saya.
Prinsip hidup di areal Joger. Jahid, jakup, jamul, jamat, japer, jagim. Intinya agar hidup selamat setiap orang harus jaga hidung, jaga kuping, jaga mulut, jaga mata, jaga perasaan, dan jaga iman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Itu prinsip sederhana yang aman untuk semua perjalanan dengan beragam orang dari berbagai latar belakang dan tingkatan sosial ekonomi yang berbeda. Kecuali, mereka nanya minta bantuan sebaiknya beli oleh-oleh apa, di mana, dll. Kalau saya tahu, saya jawab. Kalau nggak, nanya TL atau guidenya.
Ketiga, eksplorasi waktu luang. Gunakan jeda waktu kosong untuk melihat sisi lain destinasi. Pada saat kami sudah check in hotel, saya tahu banyak yang masih keluar lagi berkeliaran untuk tujuan masing-masing. Ada yang cari makanan, oleh-oleh, pergi ke tempat wisata lain, dlsb.
Kadang mereka yang begini juga cari spot sekitar penginapan untuk jalan santai, berinteraksi dengan warga lokal (bisa dapat cerita unik), hunting foto atau video tanpa harus keluar uang. Ini memang bagus dan menyenangkan.
Bagi penggila cokelat, Bali sudah punya banyak signature-nya. Pilih-pilihlah yang sesuai. Rerata nggak pahit meskipun porsi cokelatnya 65%. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Tapi kalau dirimu nggak sekuat mereka, sudah lelah, dan hanya ingin segera tidur istirahat, ya tidur saja. Nggak usah sok-sokan tenggang rasa sama mereka yang masih cukup energi (dan uang) untuk ubyang-ubyung. Ingat, kalau kamu sakit mendadak atau anggaranmu jebol, mereka nggak ikut menanggung.
Keempat, ikut aktivitas opsional. Banyak OT menawarkan tambahan kegiatan. Seperti OT ini saat di Panglipuran ada sewa baju adat Bali, di Tanjung Benoa ada macem-macem wahana water sport, di Tanah Lot ada nonton Tari Kecak. Helooo… kalau ada rupa-rupa begini, pastikan tanya harga aktivitas opsional sebelum ikut. Pilih yang sesuai minat (jangan ikut hanya karena teman ikut). Pastikan budget nggak mengganggu kebutuhan utama. Pokoknya urus prioritasmu, cek-cek budgetmu.
Kelima, nikmati hiburan sederhana. Nggak semua kesenangan butuh biaya mahal. Coba nikmati sunset atau sunrise gratis di spot terbuka. Dengarkan musik jalanan atau tontonan lokal. Nikmati ngobrol santai dengan teman-teman baru.
Tempat pembelian oleh-oleh paling hits di Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Keenam, dokumentasikan perjalanan. Kenangan perjalanan bisa abadi lewat foto dan video. Meskipun dari biro sudah ada dokumentasi, tetap gunakan kamera ponsel untuk dokumentasi sederhana. Simpan file di cloud/drive agar nggak hilang. Jika ada budget lebih, pertimbangkan sewa fotografer lokal untuk foto-foto dan dokumentasi yang lebih baik.
Intinya, ikut OT nggak akan mengcover seluruh keinginan piknikmu. Siapkan dana tambahan sekurangnya 30-60% dari biaya OT untuk hal-hal di luar program. Pastikan kamu tahu prioritas dan fleksibel. Pilih aktivitas dan pembelian sesuai dengan keinginan dan kemampuanmu, bukan sekadar ikut-ikutan.