Baca Buku dengan Ringan dan Murah

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Gambar diambil dari internet. Bisa DM untuk kredit foto.

Penulis harus baca banyak buku. Iya, betul. Wajib malah. Eeh, tapi apa untuk baca buku harus beli? Tentu tidak. Baca buku dan beli buku adalah dua hal yang berbeda. Umumnya, penulis memang memiliki banyak koleksi buku. Toh koleksi itu akan sia-sia kalau buku-buku tersebut tidak pernah dibaca.

Jadi, bagaimana solusinya?

Mudah saja. Di manapun anda tinggal, pastikan anda tergabung di perpustakaan atau taman bacaan terdekat. Kalau koleksi di perpustakaan tersebut kurang lengkap, anda bisa bergabung dengan perpustakaan lainnya.

Selain itu, karena sekarang zaman digital dan banyak buku digital yang bisa diakses dengan gratis, anda harus memanfaatkannya. Ada jutaan judul buku digital yang bisa kita dapatkan dengan gratis, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Kalau masih dirasa kurang dan pengin memiliki buku tertentu, anda bisa menabung dan membeli buku saat uangnya sudah memadai. Terlebih sekarang membeli buku digital bisa per bagian, tidak sekaligus. Jadi terasa lebih ringan dengan membeli bab demi bab yang anda butuhkan.

Pengin dapat support buku dari penerbit? Jadilah tim resensi mereka. Anda bisa dapat buku terbitan terbaru dengan gratis. Biasanya penerbit mayor menyediakan fasilitas ini.

Cara lainnya, anda bisa bergabung dengan beberapa teman membentuk arisan buku sesuai dengan kesepakatan. Bisa memutuskan untuk membeli buku secara bersama-sama lalu dibaca bergantian.

Yach, intinya ada seribu satu jalan untuk membaca. Yang sering terjadi adalah masalah waktu membaca; meskipun sudah punya banyak koleksi, akan sia-sia kalau tak pernah anda baca. Koleksi buku saja tidak akan memberi manfaat bagi tulisan anda.

Tambahlah waktu membaca. Kalau perlu catat dan buat ringkasan atas tiap bacaan yang telah anda selesaikan. Pasti, suatu saat akan banyak manfaatnya.

Intinya, kalau niat membaca; maka baca buku pun bisa jadi ringan dan murah. Kita juga bisa mendapatkan banyak pengetahuan, manfaat, kawan, dan tentu saja pengalaman batin yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak membaca buku.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Dialog dalam Fiksi

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dialog dalam Fiksi bisa menjadi kekuatan cerita. Dialog dalam naskah bisa memajukan cerita dengan cepat. Dialog dalam naskah dapat mewakili karakter-karakter dalam cerita. Dialog dapat menggantikan setting tempat, suasana, budaya, dll dengan praktis. Dialog yang baik dan natural adalah kekuatan utama dalam tayangan audio visual. Monggo silahkan dicek satu per satu yang berkaitan dengan dialog berikut ini, biar kita punya gambaran yang lebih banyak tentang dialog.

  1. Dialog adalah percakapan antar tokoh dalam cerita. Omong-omong karakter dalam cerita fiksi.
  2. Dialog merupakan salah satu kekuatan cerita. Bahkan dalam produksi audio visual (sinetron, ftv, film) dialog merupakan kekuatan inti yang bisa memajukan cerita dengan cepat.
  3. Sehari-hari kita selalu mendengar orang bicara dalam berbagai versi. Pernahkah memperhatikan masing-masing? Semestinya seperti itu pula dialog kita dalam cerita. Natural dan apa adanya.
  4. Apakah dialog cerita kita sudah natural dan apa adanya? Bagus kalau begitu. Tetapi, bagaimana kalau tidak dan rasanya semua sama saja? Mungkin anda harus mengecek ulang perhatian anda pada orang-orang di sekitar.
  5. Dialog bagus haruslah sederhana, mudah, praktis, tidak bertele-tele, dan memajukan cerita.
  6. Dialog yang panjang dan bertele-tele akan sangat membosankan, melelahkan dan tidak apa adanya. Biasanya orang berbicara pendek-pendek, meskipun dalam waktu lama. Apalagi kalau karakternya “pendiam” dialog akan semakin irit.
  7. Dialog orang satu dengan orang lain sangat berbeda, kita harus memperhatikan usia, latar belakang, tingkat pendidikan, jenis kelamin, asal geografis (orang Medan dan orang Papua, tentu beda logat bicaranya), gaya bicara, dan karakter personal (ceriwis, pendiam, dsb).
  8. Antar karakter utama, berikan porsi dialog yang berimbang. Saya pribadi cenderung menguatkan novel dengan dialog. Dialog lebih praktis untuk menyelesaikan novel dengan cepat.
  9. Semakin irit kosakata dalam dialog, sering kali lebih baik. Kadang-kadang “diam” lebih powerful daripada “tanggapan”. Jika satu karakter mengatakan “Aku cinta padamu,” dan orang lain tidak mengatakan apa-apa, sering lebih kuat daripada respon seperti “Aku juga” atau “Oke.” Atau kalau harus memberi respon berilah dialog yang istimewa, misalnya, “Aku tahu sejak lama.”
  10. Bagaimana cara berlatih membuat dialog yang bagus? Rekamlah pembicaraan orang sehari-hari dan tuliskan. Baca novel keren lebih banyak, tonton film bagus lebih sering; lalu contohlah dialognya. Berlatihlah sesering mungkin, nanti akan terbiasa.

Selamat mengutak-atik dialog naskah fiksi anda 🙂

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bereskan Soal Ejaan

Panduan penulisan. Pesan buku cetak bisa langsung wa.me/6281380001149.

Ejaan kelihatannya sepele, tapi kalau sering salah jadi fatal untuk seorang penulis. Sebaiknya sebelum naskah sampai ke tangan pihak lain, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) sudah beres. Kalau nggak tahu apa itu EYD googling aja…. Berikut ini hal-hal yang harus kita perhatikan dalam penulisan EYD.

  1. Kata-kata baku. Cek di KBBI. Jangan malas buka kamus.
  2. Jangan terpengaruh bahasa lisan, kecuali anda ingin membuat gaya penulisan anda seperti bahasa lisan. Tapi konsekuensinya, tidak semua penerbit suka gaya seperti ini.
  3. Perhatikan penulisan gabungan kata, mana yang disambung, mana yang dipisah.
  4. Perhatikan tanda baca…. jangan berlebihan.
  5. Perhatikan pula penulisan huruf-huruf kapital.
  6. Perhatikan penulisan kata-kata serapan yang dicetak miring. Ingat, terlalu banyak cetak miring akan bikin mata pembaca sakit.
  7. Penggunaan kata depan harus tepat dan sesuai.
  8. Perhatikan juga penulisan dialog, kutipan, dll yang menggunakan tanda petikan langsung.
  9. Jangan salah ketik. Kalau sudah jadi penulis, wajib tepat menulis. Kurang satu huruf bisa bermakna jauh berbeda dari yang dimaksud.
  10. EYD tidak untuk membatasi gaya dan karakter tulisan anda. EYD justru membantu anda untuk menulis dengan baik dan maksudnya dapat diterima pembaca sesuai dengan keinginan anda.

Dalam dunia industri kreatif, memang selalu ada editor. Tapi ingat, editor juga sebel kalau penulis melakukan kesalahan berulang dan sama. Jadi, daripada membebani orang lain kenapa kita tidak memulai menulis yang rapi dan tertib? Eeh, tulisan yang baik dan benar itu sungguh memudahkan pembaca lho….

Happy Writing, Be A Good Writer ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Pilihlah Sebahagiamu

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagaimana cara menyiapkan tabungan untuk hidup dua tahun? Bukankah itu jumlah yang besar dan sulit bagi PNS atau pekerja kantoran standar?

Saya tertawa. Ya kalau PNS atau pekerja kantoran standar, kayaknya nggak perlu-perlu amat begitu. Kan wes gajian rutin tiap bulan. Setahu saya, tidak pernah ada kasus PHK untuk PNS kecuali pemecatan karena tindakan melawan hukum yang sudah diputus sah dengan ketetapan pengadilan/hukum. Kalau pekerja kantoran swasta siy masih mungkin ada PHK massal. Jadi memang lebih baik bersiap-siap dengan dana darurat super urgent itu.

Mungkin bagi mereka yang sudah hidup aman dengan gajian tiap bulan; cukup atur saja persiapan dana darurat untuk hal tidak terduga. Terus besarannya berapa? Ya tergantung masing-masing. Sekurangnya aturan standar itu 3x biaya hidup bulanan. Jadi cek saja biaya hidup sebulan berapa, cukup kalikan tiga. Lebih besar lebih baik. Kalau sudah, kunci saja. Tabung di rekening non ATM atau non ibanking, m-banking dll itu biar nggak dicomot-comot. Tapi pastikan cek cek biaya bulanannya yes. Karena kalau tidak ditambah ntar menyusut dengan besarnya biaya admin dll dari bank.

Kalau freelancer, itu berbeda aturan mainnya. Situasinya tidak pasti, tidak tetap. Pekerjaan dan rezekinya pun tidak menentu. Saya pribadi mempersiapkan dana hidup non operasional juga tidak ujug-ujug banyak. Semula ya 1/2 bulan, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dst sampai terkunci sesuai tujuan saya. Misal 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, dst. Dan tentu akan saya perpanjang terus, sesuai kemampuan. Lha kalau nggak begitu, siapa yang menjamin masa pensiun saat saya sudah tidak produktif bekerja?

Keberadaan dana seperti ini, tidak selalu mudah disediakan atau diusahakan. Karena kebanyakan kita, prinsipnya itu belanja dulu baru nabung. Kalau kurang malah bisa pake kartu kredit, paylater, kredit berjangka, cicilan, dll yang sebenarnya perpanjangan dari utang berbunga, sesuatu yang sering kita abaikan karena terlihat cicilannya kecil saja untuk setiap bulan. Padahal mestinya ya kita itu nabung dulu baru belanja. Yo weslah, bebas ini. Urusan masing-masing 😀🙏

Atur atur ajalah biar duit anggaranmu bisa sesuai dengan pilihan yang bikin kamu happy. Boleh nabung dikit dikit, boleh auto debet, boleh beli emas, boleh arisan, bisa reksadana, saham, coin, tanah, rumah, dll. Kalau nggak bisa nabung banyak, ya nggak usah maksa. Apalagi buat mereka yang wes dapat jaminan masa pensiun, kalem kalem bae.

Kalau bagi saya pribadi, bagian ini sangat penting. Sekurangnya ada bagian ini yang bikin saya pribadi jadi tenang, anteng, tidak menerima pekerjaan yang nggak masuk akal (baik deadline maupun fee-nya), tidak disetir orang karena tidak ada urusan utang. Mandiri secara finansial akan membuat seseorang merdeka dalam berpikir, bertindak, bekerja, dan bisa hidup dengan happy damai. Pokmen ora kemrungsung 😍

Saya sering menganggap bagian itu “tidak dingat-ingat”. Hanya untuk digunakan saat situasi beneran tidak terprediksi, seperti kasuistik pas pandemi kemarin. Kalau situasi normal ya tidak diutakatik. Juga bukan untuk dipinjam-pinjamkan😀🙏 Tenan, mbok suka berbagi gitu, saya cenderung menolak utang utang pribadi. Jadi nggak usah ngutang ke saya 😁

Nah, bagaimana dengan kamu? Setiap orang dan keluarga punya manajemen duit berbeda. Carilah model manajemen keuangan yang bikin kamu bahagia, bikin kamu nyaman. Ada banyak pilihan tabungan dan investasi. Ada banyak cara mempersiapkan diri untuk situasi darurat. Pilih-pilih yang sesuai. 🙏

Alhamdulillah, saya hidup dengan baik karena kemandirian finansial dan tidak diribeti urusan utang. Kerja pun tetap tenang. Bisa do the best atau just let it go. Karena versi saya, hidup itu untuk bahagia; bermanfaat bagi sesama dan semesta dengan cara sebaik-baiknya ❤

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tips Menulis Anti Galau

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Menulis memang nggak selalu gampang. Bahkan saat naskah sudah selesai pun, ada saja hal yang bikin penulis galau. Ini nggak cuman di kalangan pemula aja siy, kadang penulis profesional atau yang sudah banyak menulis pun mengalaminya.

Kegalauan itu biasanya muncul dari pertanyaan pertanyaan seperti di bawah ini.

  1. Tulisanku sudah bagus atau belum?
  2. Teori yang kugunakan sudah benar atau masih salah?
  3. Kalau menerbitkan buku ini pakai uang atau tidak?
  4. Kalau ke penerbit/PH, aku mesti ketemu siapa?
  5. Kirim naskahku ke mana ya? Cocok nggak ya mereka?
  6. Naskahku kok mirip-mirip dengan yang sudah ada di pasaran? Gimana dong?
  7. Kayaknya aku mesti berguru niy biar pede… tapi biaya nya berapa ya?
  8. Duuh, kok aku nggak bisa bikin gaya bahasa seperti penulis si A… gaya tulisanku kok buruk gini?
  9. Kenapa tulisanku nggak selesai-selesai ya? Duh sayang kelewat lomba kemarin…
  10. Kok tulisanku jadi ke mana-mana siy? Padahal aku sudah pake sinopsis lho….

Terasa relate banget dengan keseharian kita saat menulis kan? Nah, berikut ini tips anti galaunya 😀🙏

  1. Minta tolong baca teman baik atau ikutkan kelas bedah karya, biar TAHU PENDAPAT ORANG atas tulisanmu.
  2. Dalam menulis, semua teori BENAR asal tulisan BAGUS dan MENARIK.
  3. Tidak pakai uang kecuali kamu menerbitkan secara INDIE, MANDIRI, SELF PUBLISHING.
  4. Editor atau script editor inilah yang berurusan dengan lalu lintas naskah di Penerbit atau PH.
  5. Ke mana saja Penerbit atau PH yang kamu rasa cocok, alamatnya searching di google atau di buku JADI PENULIS FIKSI? GAMPANG KOK! dan JADI PENULIS SKENARIO? GAMPANG KOK! ada komplit. Sekarang jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang tercantum di dua buku tersebut.
  6. Banyak buku yang mirip, asal punya kamu LEBIH BAGUS orang akan tetep beli. PEDE sajalah…. kamu sudah do the best untuk tulisanmu.
  7. Pede itu dari diri sendiri, nggak mesti berguru. Tapi dengan berguru pada ahlinya, kita mencegah jatuh pada lubang yang sama. Biar orang lain saja yang pengalaman jatuh, kamu bisa memilih jalan yang lempeng.
  8. Ya jelas nggak bisa, karena kamu bukan si A. Jadilah dirimu sendiri. Cari ciri khas sendiri. Setiap penulis itu unik dan istimewa dengan gaya tulisan masing-masing.
  9. Karena kamu suka ngedit saat menulis. Jangan mengedit saat menulis. Ikuti saja program yang sudah kamu buat.
  10. Karena kamu nggak pakai sinopsis untuk menulis 😀🙏 Kalau pun sudah ada sinopsis, tapi pikiranmu nggak fokus ke sinopsis pada waktu menulis. Artinya menambah ini itu, sehingga melenceng jauh dari sinopsis awal.

Oke, semoga tips ini membantu. Happy weekend, happy writing. Tulisan yang paling baik adalah tulisan yang diselesaikan dengan jujur. ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

… yang Terpenting Niatmu Menulis….

Mo dolan saja kalau nggak niat ya nggak jadi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


Pas saya ikut kelas etnofotografi dan foto kuliner, saya menemukan kesamaan pandangan: yang terpenting niatmu 😀 Masalah alat, keahlian, itu menyusul. Jadi kalau kamu memotret sesuatu mung nggo update status sosmed, yo hapemu itu
wes cukup.

Kecuali potret-potret untuk tujuan komersial, iklan produk, dll. Nah kuwi alatnya kudu memadai dan syukur-syukur ter-update. Printilan beragam alat pendukung untuk membuat fotonya layak, bagus, menarik tur memikat itu juga kudu disiapin. Tukang motretnya yo kudu paham prinsip-prinsip fotografi dan operasional penggunaan alat-alat beserta pendukungnya. Pokoke kudu tenanan yes. 😃🤗

Sama juga kan prinsipnya dengan menulis 🤔 Kalau kamu menulis untuk sekedar hobi, yo ndak usah ngeyel mo produktif seperti penulis profesional. Itu jian cita-cita yang nggarahi mumet tur ngelu 😂 Santai-santai ajalah, kalem bae. Bikin satu buku satu tahun wes cukup. Kamu masih bisa bekerja di bidangmu
dengan tenang, tur yo iso pamer duwe buku baru 😆 Wes bisa disebut penulis juga kan? Dan mereka yang begini ini, ya ampun bangga dan hebohnya bisa memenuhi jagat sosmed berhari-hari. Wes gakpapa, bagi saya pokmen menambah luas dunia literasi, itu oke saja.

Nah sekarang kamu sendirilah yang bisa milih dan nentuin masalah target penulisanmu. Bagi saya, apapun tujuanmu menulis; yang penting tetap semangat menulis sampai merampungkannya. Biar bisa terbit, bisa pamer, bisa narsis, bisa eksis 🙏💪 Sekurangnya mulailah dengan menulis yang baik untuk update status di sosmedmu. Lha ya kan mumpung-mumpung sosmed di Indonesia ora bayar 😂😆

Happy weekend dan happy writing ❤️

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kebiasaan-Kebiasaan Baik dalam Penulisan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya, kalau menulis menjadi kebiasaan kita sehari-hari seperti kita bicara, kemampuan kita menulis juga akan terlatih dan terasah dengan sendirinya. Hanya, tidak banyak orang yang percaya bahwa menulis adalah KEBIASAAN.

Tips ini mungkin membantu meningkatkan kualitas penulisan kita.

1. Ikut kompetisi menulis yang sesuai.
Ada banyak lomba menulis dari yang kecil sampai besar, ikuti saja mulai dari yang kecil dan ringan. Kebiasaan ini bagus untuk mengukur kualitas tulisan kita.

2. Tidak mengedit.
Mungkin sudah sering kali saya menyampaikan, menulis saja. Tidak usah mengedit saat menulis agar naskah cepat selesai.

3. Membiasakan 10-30 menit menulis setiap hari.
Kalau anda merasa tak cukup punya waktu 10-30 menit untuk menulis setiap harinya, lupakan saja keinginan untuk memiliki buku.

4. Pelajari teori penulisan.
Baca buku panduan, ikuti kelas, sekolah, workshop, dll. mana saja yang anda sukai. Kalau tidak mau bayar, ikut saja kelas-kelas gratis juga banyak, download ebook-ebook internasional juga ada di mana-mana.

5. Menulis 5-10 halaman naskah dari buku penulis favorit anda.
Ini kebiasaan buruk saya di masa lalu, karena tidak bisa mengarang, saya mencontek saja tulisan-tulisan penulis di buku script saya. Dan akhirnya kebiasaan, saya mulai bisa memilih kata yang terbaik dan menulis sendiri.

6. Menerima kritik.
Jadi penulis, pengkritiknya banyak, pun pengganggunya beragam, godaannya macam-macam. Ya sudah, terima saja dengan legawa. Mereka hanya ingin tahu apa kita cukup bertahan atau sekedar ingin jadi penulis. Banyak penulis yang sekali naskahnya “dibantai” menghilang dari peredaran. Sebagai pembedah karya yang blak-blakan mengatakan “buruk” pada naskah, sudah sering pula saya menemukan penulis yang tak cukup mental untuk masuk industri kreatif.

7. Jadi pembaca yang baik.
Syarat mutlak penulis yang baik, tentu pembaca yang baik. Cermati, ikuti, kisahkan kembali, dan mengertilah gaya penulisannya.

8. Gunakan kata-kata baru, pakai kamus.
Kata-kata baru memperkaya tulisan kita. Hindari pengulangan karena akan membosankan, kecuali untuk memperoleh rima yang sesuai dan mendapatkan efek puitis.

9. Fokus.
Setiap orang kaya ide, terlebih yang mau jadi penulis. Tanya saja, idenya berlimpah. Tapi mereka tidak fokus. Menulis satu, belum selesai, loncat ke lainnya. Belum selesai lagi, loncat lagi, dst. akhirnya tak ada yang selesai dan tidak ada yang bisa dipublish. Niat, fokus, konsistensi, komitmen itulah yang bisa menyelesaikan naskah anda.

10. Cari Dukungan.
Hindari orang-orang yang tidak support. Untuk hal ini saya termasuk “kejam” dan “tegas” menolak orang-orang yang tidak support. Kita boleh berteman dengan siapa saja, tapi hati-hati dengan sejenis orang yang meracuni pikiran dan mengatakan kita tidak mampu. Itu membuat kita tidak mencapai apa-apa. Bergaul dengan orang positif dan semangat agar dapat spirit dan supportnya. Bergabung dengan komunitas yang sesuai.

Happy Writing, be a Good Writer ❤️
*Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!
*Jadi Penulis Produktif? Gampang Koq!
*Jadi Penulis Nonfiksi? Gampang Kok!

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: