Oh, TPDA Saya….

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Salah satu konsekuensi kalau jadi dosen itu ya belajar terus, sekolah terus, update ilmu terus. Dan itulah yang harus saya alami begitu saya memutuskan bergabung menetap sebagai dosen UPY. Setiap langkah kemajuan menuntut proses belajar… yang kadang yo njelehi juga.

Masuk jadi dosen di paruh 2021, saya wes diminta ngurus jafung 2023 dan rilis keluar di tahun yang sama. Alhamdulillah. Njur diminta ngurus sertifikasi dosen atau biasa disebut serdos. Yungalaah, makanan jenis apalagi itu.

Syarat dasarnya sertifikat Pekerti, TKBI (sebangsa Toefl, Acept, dll) dan TKDA (sejenis TPA, PaPS, dll). Biyuuu… saya wes langsung bayar daftar pelatihan pekerti, selama 2 minggu online full Senin s/d Jumat jam 07.00 s/d 17.00 WIB nggak boleh blank, ngilang kamera dipanggilin satu per satu. Sabtu Minggu nggo bikin tugas tugas.

Bayare lupa 2 atau 2.5 juta per program. Wes bikin saya klenger bae…. ampun Gusti, ijazah S3 saya serasa nggak ada gunanya kek gitu…. njur saya break karena gaweyan administratif kampus yang ngujubileh banyaknya.

Saya pikir ya wes, alon alon waton kelakon bae. Rada selow, saya daftar TKBI. Saya rada pesimis karena teman-teman yang sudah ikut, banyak yang bolak-balik tes baru lulus. Maklum, bahasa Inggris bukan bahasa kita. Weeh… alhamdulillah saya kok sekali tes njur langsung gol, lolos. 400 an rb saja duit untuk daftarnya.

Sampailah waktunya TPDA. Biyuuu, bikin mumet tenan. Terutama bagian tes gambar-gambar kubus dan dimensi tiga itu. Ambyaar… ya wes gapapa. Saya yo tetap daftar dan ikut tes. Tiap tes lebih kurang bayar 400 an rb. Dan sampai yang ke-4 kali skor saya mung kurang 3 s/d 5. Beuuuh nggemesin tenan. Saya wes hampir nyerah. Karena skor yang bikin kurang itu ya gambar-gambar yang dibolak-balik, diputar-putar gitu.

Akhirnya saya cari mentor. Saya minta dia ngajarin gimana memecahkan masalah saya. Tentu saya wes daftar lagi ujian TPDA yang ke-5. Dapat hari Kamis. Jadi Rabu seharian saya sinau mung bagian gambar-gambar. Karena verbal dan aritmatika itu terhitung cincay, gampang lah versi saya. Mo semua nya bener, kalau tes bagian ketiga figural jebluk, ya rerata nya jadi nggak memenuhi syarat minimal.

Karena wes sinau tenanan, ya wes lebih dari 3x, saya terima pasrah bae, sebisanya. Kamis saya mangkat ujian TPDA. Begitu selesai, saya nggak lihat skor, malah ngurusin tas yang harus diperbaiki dan ATM yang nggak bisa dipakai. Njur tidur. Karepmu. Lulus atau enggaknya saya nggak mikir. Toh kalau belum lulus, yo tetep kudu ujian lagi sampai lulus.

Sesudah bangun tidur, beberes, mandi dll, saya baru inget ngecek skor TPDA (mestinya abiz ujian udah bisa) cuman saya malez kecewa di jalan, jadi nggak saya buka dulu. Saya lihat skor, njur nelpon penyelenggara berapa skor minimal serdos. Pas dijawab, saya ragu, khawatir kalau salah lihat. Saya kirim forward dan tanya lagi wes lulus belum. Dijawab sudah… alhamdulillah 😀😁

Ya, segala sesuatu itu memang ada ilmunya, ada gurunya. Di tangan guru yang tepat, soal sulit pun jadi mudah. Nggak bisa awuran. Alhamdulillah saya kok masih sempat nyadar tentang itu. 5x tes TPDA, 2x saya ngeblank karena sakit pas ujian. Jadi praktis yang tenanan tes 3x, tapi mbayar 5x… Jelas mbayar dhewe ora diijoli kampus (termasuk biaya Pekerti dan TKBI), tapi kalau nggak cepet ngurus serdos diopyaki kampus juga😂

Kalau dari awal saya cepet cari mentor, pasti nggak sampai tes TPDA 5x 😁😂 Ya kadang-kadang, dengar kata belajar bae wes bikin saya malaz duluan. Terus gitu, belajar ki ya butuh waktu dan usaha tersendiri untuk berhasil.

Wes alhamdulillah. Ini satu tahap lagi beres. Tinggal syarat kruncilan lainnya yang masih sekeranjang banyaknya. Ya Gusti… kenapa jadi dosen begitu banyak urusan administratif yang bikin… hiiih… apalagi ini😁😂

Jadi, ya kudune gaji dosen itu sak dos alias banyak, ora malah gajinya sak sen alias cuilik biangeeet😁😂

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kalau Kamu Kirim Naskah ke Penerbit

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Untuk penulis pemula, biasanya setelah menyelesaikan naskahnya, mereka sering merasa kebingungan bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit. Padahal sekarang sudah banyak akses dan jauh lebih mudah mengenali penerbit. Sekurangnya, buka-bukalah web dan sosmednya. Paling enggak, pasti ketemu model-model naskah yang sudah dipublikasikan dan diperjualbelikan.

Berikut ini adalah uraian singkat agar naskah bisa sampai ke tangan penerbit dengan aman dan tidak disalahgunakan.

1. Bila sampeyan sama sekali baru dan hendak mengirimkan naskah ke penerbit, siapkan print out NASKAH yang disertai dengan SINOPSIS, kalau bisa dilengkapi PROPOSAL NASKAH, dan jangan lupa BIODATA singkat dilengkapi alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Ini akan mempermudah pihak penerbit membaca naskah sampeyan, karena mereka nggak perlu ngeprint. Kalau mereka mengizinkan untuk mengirim naskah via email dengan softcopy, ya lakukan saja. Lebih mudah, praktis, nggak banyak biaya.

2. Bila sampeyan mengirimkan naskah lewat pos atau ekspedisi pengiriman, pastikan sampeyan mengisi semua daftar kolom isian untuk pengirim dan penerima. Hal ini untuk melacak bila terjadi sesuatu dengan naskah anda. Misalnya, naskah nggak sampai ke tujuan.

3. Bila sampeyan hendak menyerahkan NASKAH printout langsung pada penerbit, mintalah tanda bukti penyerahan naskah dan tanyakan kepada siapa nantinya mengurus follow up naskah tersebut dan berapa lama akan dapat kabar. Biasanya lebih kurang 3-6 bulan. Makin besar penerbit yang anda tuju, makin lama pula waktu untuk menerima kabar diterima atau ditolak.

Ini bisa lama banget lho. Naskah saya ada yang antrian sampai tujuh atau delapan tahun, sampai saya pun wes lupa. Tapi kalau naskah timeless siy biasanya aman, mo terbit kapan aja tetap “baru”.

4. Bagi yang sudah terbiasa menulis atau bekerja sama dengan penerbit tentu tidak masalah untuk mengirimkan via email karena cepat dan mudah, dan lebih praktis. Kemungkinan untuk disalahgunakan juga kecil karena sudah saling kenal.

5. Kalau sampeyan sudah mengirimkan naskah, selama tiga bulan tidak ada kabar, tanyakan tentang naskah tersebut. Ada penerbit yang kadang-kadang sudah tahu jawaban penolakan, tapi karena banyaknya pengiriman surat penolakan itu biasanya dibarengkan dengan penolakan naskah-naskah lainnya.

6. Apakah etis menyerahkan atau mengirimkan satu naskah ke beberapa penerbit yang berbeda-beda dalam satu waktu? Jawabannya, bisa beragam.

Menurut saya pribadi, tidak etis. Lebih baik mengirimkan naskah ke satu penerbit lebih dulu baru ketika ditolak, anda bisa tawarkan ke penerbit lain.

Lebih ribet juga kalau misalnya anda menyerahkan kedua penerbit sekaligus, beruntung kalau keduanya menolak, anda bisa menawarkan ke penerbit yang lain; bagaimana kalau keduanya berniat menerbitkan? Bagaimana anda akan bicara kepada keduanya? Tidak mudah kan?

7. Apakah benar ada penyalahgunaan naskah yang dikirim dikatakan tidak diterbitkan lalu diolah, diubah sana sini lalu diterbitkan dengan nama lain? Selama ini, kasus seperti itu jarang terjadi. Karena menulis itu sulit, mengubah segala sesuatu juga sulit. Waspada dan hati-hati memang perlu, tapi tidak perlu takut.

8. Ke mana dikirimkan? Ada banyak penerbit di Indonesia, anda bisa mencari sendiri alamat-alamat penerbit dan melihat jenis buku terbitannya di toko-toko buku, untuk melihat apakah jenis tulisan anda cocok untuk anda kirimkan ke penerbit tersebut. Cek di buku JADI PENULIS FIKSI? GAMPANG KOK!

Gampang saja toh ternyata untuk mengirimkan naskah? Percayalah, urusan teknis lebih mudah daripada urusan menyelesaikan naskah 🙂

    Selamat menulis dan mengirimkan naskah.
    Semoga bermanfaat.

    Ari Kinoysan Wulandari

    Please follow and like us:

    Adaptasi Naskah

    Prinsip-Prinsip Penyuntingan Naskah. Pesan buku wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

    Adaptasi adalah hal yang biasa dalam dunia penulisan dan industri kreatif secara umum. Apa saja yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan adaptasi?

    1. Adaptasi dan menuliskan kembali itu boleh. Tetapi, yang mesti dihindari adalah menjiplak. Setiap kali kita menjiplak, maka Allah akan mengurangi satu pikiran kreatif kita. Makin sering menjiplak, makin bodohlah diri kita.

    2. Aturan adaptasi lebih kurang seperti ini:
    a. Ide boleh sama, bisa dimiliki siapa saja.
    b. Seluruh penulisan harus beda.
    c. Karakter harus dimodifikasi.
    d. Dialog juga tidak boleh sama.
    e. Setting harus berbeda.

      Intinya: adaptasi untuk cerita adalah pada batasan ide yang sama, tetapi dalam segala hal dari tata cara, sudut pandang, model, karakter harus beda.

      3. Ada yang memberi usulan adaptasi dengan cerita mirip-mirip boleh, tetapi batasannya 10 persen saja dari total seluruh naskah yang diadaptasi.

      4. Ini berbeda dengan urusan pembelian copyright, lisensi. Banyak pula yang memang kontrak kerja samanya harus dialihkan dengan model (versi) Indonesia saja tanpa boleh mengganti apa pun, termasuk satu kata dialog sekali pun.

      5. Kalau adaptasi saja bebas, boleh dalam batas-batas wajar. Tidak ada yang klaim. Permasalahan klaim mengklaim dan gugat menggugat ini biasanya kalau karya adaptasi BOOMING, maka yang terjadi pastilah heboh sampai seret-seretan ke pengadilan segala karena duitnya memang BANYAK.

      6. Kalau adaptasinya hanya ide yang sama, sumber tak perlu disebutkan. Tetapi kalau banyak, ya disebutkan. Ada etika tak tertulis untuk memberi surat pemberitahuan pada PENULIS, PENERBIT. Tidak dipungut bayaran kok. Hanya untuk sopan santun saja.

      7. Karya adaptasi sering juga sebagai PERSETUJUAN, BANTAHAN, SANGGAHAN, PENYEMPURNAAN suatu karya sebelumnya. Misalnya, Umar Kayam menulis karya legendaris PARA PRIYAYI itu sebetulnya modifikasi dan bantahan untuk karya CLIFFORD GERTZ yang bicara soal Priyayi, Santri Abangan, dan Kalangan Petani. Dan, tidak ada seorang pun yang mengklaim Para Priyayi itu sebagai bantahan untuk karya Gertz.

      8. Menjiplak persis biasanya kalau untuk diri sendiri tidak ada yang klaim. Tetapi kalau sudah urusan komersial, diperdagangkan, disiarkan, diakui sebagai karya penjiplak; baru JADI MASALAH.

      9. Sebenarnya, kalau mau curang sih bisa saja, asal tidak ketahuan. Tetapi kalau ketahuan, — hari serba internet serba canggih begini, apa yang tidak ketahuan? — SIAP-SIAP saja. Itu MEMATIKAN MASA DEPAN sendiri.

      10. Intinya, teman-teman, jangan takut MEMBUAT KARYA ORISINIL. Yang bagus itu tidak harus yang berbau luar negeri kok. Ayolah, kunjungi daerah-daerah Indonesia, berjalanlah. Pasti akan tahu, kita ini lebih kaya dari negeri-negeri jiran di sekitar kita. Mari ciptakan kiblat, bukan berkiblat kepada negeri orang.

        Happy Writing, Be A Good Writer 🙂

        Ari Kinoysan Wulandari
        Griya Kinoysan University

        Please follow and like us:

        Jurnal Predator dan Sedekah Pagi

        Gambar hanya sebagai ilustrasi. Diambil semena-mena dari internet. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

        Tadi malam sebelum tidur, saya sudah ngelist apa yang mau saya kerjakan hari ini. Penulisan. Revisi naskah. Pembayaran. Ketemu orang. Mengirimkan pakaian sangat layak pakai (saya wes gak bisa pakai lagi semata gegara tambah gemoy🤣).

        Pagi-pagi saya wes beberes, berbenah. Menulis beberapa yang harus dibereskan. Lalu beralih ke baju-baju yang mau saya sedekahkan, saya masukkan dus sampai penuh. RT tempat saya tinggal sedang ada acara sambut Ramadan; pengumpulan macam-macam untuk baksos (pakaian dll piranti rumah tangga layak pakai, sembako, uang, dll keperluan) dari awal Januari s/d 7 Februari nanti.

        Saya ya wes ikut serta ngumpulin baju itu 2x sebelumnya, ya lebih kurang 2 dus. Sithik-sithik ben gak capek bongkar lemari. Beneran malah sama bebersih lemari baju yang embuh kok rasanya nggak muat teruz 🤣 Hari ini pun demikian. Wes cukup penuh dusnya, langsung saya kirim ke tempat pengumpulan.

        Nginguk kulkas, inget ada nasi tadi malam. Saya ambil lagi untuk dikasih ke ayam (tetangga). Ayam-ayam di sini yo pinter-pinter. Kalau nasi atau makanan basi yang dikasih, mereka tuh nggak mau makan. Jadi kalau ngasih nasi ya kudu yang sehat, masih layak makan. Saya (kadang) malez bae manasin lagi, lebih memilih masak nasi baru. Dan ayam-ayam itulah penampungnya😂

        Saya sempat inguk-inguk sosmed. Beuuh, iklan piknik dari mana-mana muncul 😆😅 Saya sampai mikir, mungkin enak betul ya kalau duit nggak ada serinya tinggal ambil, transfer, debit, nggak pernah habis bisa untuk piknik bebas sepuasnya ke 200-an negara dengan fasilitas dan kondisi terbaik 😃🤩 Hadeuh, suka banget siy saya mimpi di siang bolong 🙈

        Aiih, lupakan sejenak urusan piknik yang belum ada duitnya😅😂 Saya pun menelepon CS bank untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan pembayaran publikasi artikel di jurnal internasional. Terlebih karena pembayaran pakai USD, beda benua, pasti ada banyak syarat dan ketentuan, termasuk charge pengiriman.

        Ya, setelah menunggu beberapa bulan, tentu saya happy banget dong pas terima surat penerimaan artikel. Termasuk pemberitahuan pembayaran, rekening bank, waktu publikasi. Noted, pada saat submit artikel, saya sudah berusaha memastikan bahwa ini jurnal kredibel, terakreditasi internasional, dll pengecekan standar.

        Mbak CS yang suaranya renyah seperti keripik emping melinjo itu, menginfokan beberapa hal yang perlu saya siapkan untuk transfer uang; baik menggunakan rek IDR atau rek USD. Saya nggak perlu ke bank. Kalau kesulitan nanti bisa telpon atau WA untuk dibantu. Kalau mau lebih jelas, saya bisa ke bank.

        Wah, saya nyicil ayem. Lumayan gampang prosesnya. Saya mikir akan ke bank saja dan membereskan semuanya hari ini. Ben ndang rampung, sisan cetha kalau duit tabungan saya itu berkurang, ojo mung mikirin piknik bae, Riii… Isih banyak yang perlu duit dan kudu bayar-bayar 😁

        Lalu si Mbak CS ini nanya saya lagi, akan mau mengirim ke siapa (apakah institusi atau perseorangan), no rek berapa, berapa USD yang akan ditransfer, dan untuk keperluan apa. Dia akan membantu melakukan pengecekan bahwa si penerima adalah “real”. Mungkin kalau sesama bank bisa melakukan crosscheck ya satu sama lain untuk mendapatkan info yang benar.

        Saya lalu memberikan detail info yang diminta. Si Mbak CS meminta saya menutup telpon dulu dan nanti maksimal 30 menit akan telpon saya. Teng tong… nggak sampai 15 menit, si Mbak wes telpon lagi.

        “Bu Ari, ini nama sama, tapi alamat dan no rek berubah-ubah terindikasi penipuan. Silakan cek link jurnal yang saya kirim via WA, itu yang benar. Link yang ibu kirim untuk cc tembusan alamat pengiriman, itu link palsu yang dibuat sama persis seperti aslinya; hanya beda alamat. Kalau tidak cermat, pasti ketipu. Ibu tidak usah kirim uang karena jurnalnya abal-abal. Jurnal aslinya nama sama, dengan alamat link yang saya kirim, Bu. Itu link yang terintegrasi dengan penerbit dan universitas yang menaunginya.”

        Saya wes langsung lemas, bengong beberapa saat. Ya Allah, betapa baiknya Engkau❤❤Maturnuwun atas pertolonganMu❤❤ Kalau saya nggak nanya-nanya dulu, pasti bablas kirim uang via non bank sesuai permintaan officer jurnal abal-abal ini dan sesudah kirim uangnya, pasti gak bisa ditarik balik. Amblazlah uang itu.

        Jujurly, saya kecewa dan sedih lho sampai beberapa menit. Ya Allah, saya wes hati-hati saja masih nyaris kena jurnal abal-abal gini. Apalagi mereka yang serampangan buru-buru kemrungsung pokok publikasi njur akhirnya menangis darah kehilangan puluhan juta, duit utangan pula 😭Tapi ya sudah, saya pilih mensyukuri saja kebaikannya. Sekurangnya duit hampir 1000 USD itu terselamatkan. Alhamdulillah.❤

        Saya yakin ini bukan karena “kehatian-hatian” saja, tapi jelas lebih karena sedekah pagi-pagi yang saya lakukan. Ikhlas tenan. Dan seperti terngiang-ngiang kata Ustadzah di depan Masjid Nabawi ketika kami berhasil ke Raudah dan selow 30 menitan lebih di areal rumah Nabi Muhammad SAW hingga puas doa, ibadah, nangis-nangis. “Pasti uang yang dipakai berasal dari sumber rezeki yang halal. Kalau uang halal itu mudah untuk ibadah dan biasanya bertahan lama, nggak mudah habis atau hilang.” Wallahua’lam.

        Saya njur mikir, publikasi artikel internasional ke mana lagi ya yang waktunya nggak perlu tetahunan dan biayanya (sekurangnya masih cukup sanggup) saya bayar tanpa beribetan dengan sistem administrasi keuangan kampus? Heish, minta ganti charge publikasi ke kampus, laporannya sebejibun mumet, duitnya cair itu embuh kapan suka-suka mereka bae. Pasti diberikan, tapi waktunya itu yang embuh kapan 😅

        Eh tapi yang begini, saya yakin nggak cuma kampus saya aja kok. Ada banyak yang lebih parah. Jadi saya slow motion tenan, pilih pilih publikasi internasional yang charge ringan dan kalau kampus menggantinya embuh kapan itu, nggak bikin budgeting saya rieweuh sana sini. Hidup kadang memang mung soal petang-petung uang kan 🤣

        Ari Kinoysan Wulandari

        Please follow and like us:

        Jadikan Rumahmu Berkah

        Melati Belanda depan rumah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.


        Pas pemilik rumah datang setelah rumahnya saya beli, beliau bilang, “Rumahnya jadi adem, Mbak Ari.”
        .
        Pikir saya beliau berdua dari luar di siang terik. Walau bermobil AC, tetap beda dengan duduk di rumah dengan pintu jendela terbuka.❤
        .
        Berbanyak kawan datang, pun begitu.
        Adik saya, “Sebelum Mbak Ari tinggal,
        aku takut ke sini. Serem dan bikin emosi. Sekarang adem, aku bisa tidur pules.”❤
        .
        Alhamdulillah. Dulu, dengan keadaan seadanya dan perabotan urgent, saya pindah. Lha wes beli rumah mosok nggak ditinggali. Tanpa pagar depan, gersang pasir, lantai atas pun terbuka. Orang loncat genteng bisa masuk rumah. Mesin sumur rusak, lampu ndak ada, korden ndak ada, kunci-kunci nggak fungsi dan banyak lagi yang kudu diberesi. Itu semua berarti pengeluaran.😃
        .
        Kok saya beli ndak mikir ini. Belum lagi omongan tetangga tentang kisah horor. Rumah sebelah kosong 10 tahun, bikin saya makin jiper 😆 Saya pun bismillah. Minta perlindungan Gusti Allah.❤
        .
        Pas saya mo beli taneman, nanya temen-temen deket yang harga murah. Mereka bilang nggak usah beli dan janji bawain dari rumahnya. Begitulah tanaman dari mereka tumbuh subur. Beberapa saya minta pas ke rumah teman (tanemannya melimpah dan nggak jualan taneman), beberapa saya barter.❤
        .
        Sedikit demi sedikit saya masang pagar, pelindung lantai atas, pengaman tangga, dll. Isi rumah? Ya diisi pas ada rezeki. Tapi ya gitu, ada temen datang njur beliin meja makan. Ada yang nanya mau rak buku besar dan mengirim. Ada klien dateng, lalu transfer dan minta saya beli kursi teras; dll. Rumah ini seperti memberesi dirinya sendiri.❤
        .
        Rumah saya njelik ndeso, tapi menteri, bupati, rektor, guru besar, dll orang penting datang berkaitan dengan gaweyan saya. Rezeki sering datang tidak terduga. Tetangga pun baik. Alhamdulillah ❤
        .
        Adik saya tanya, rumahnya dikasih apa kok berkah. Saya bilang: selalu bersyukur, dipakai sholat, ngaji; kalau ada orang bertamu, mereka kudu pulang dengan tangan berisi.❤
        .
        Bagaimana dengan rumahmu? Jadikan rumahmu berkah dengan bersyukur tiap saat. Biar rezeki mudah datang. Para penghuni rumah pun sehat dan happy ❤

        Ari Kinoysan Wulandari

        Please follow and like us:

        Cara Memilih Klien Penulisan

        Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

        Memilih klien itu versi saya juga “jodoh-jodohan”. Kalau jodoh, semua pekerjaan rasanya lempeng saja dan mudah dibereskan. Diskusinya enak, nulisnya lancar, bayarnya besar. Biasanya klien klien begini “menyadari” nulis nggak mudah dan dari awal dia tahu maunya tulisan seperti apa.

        Jadi kalau kamu penulis yang biasa terima orderan tulisan, cermati betul calon klienmu. Kadang better menolak daripada bekerja remuk redam makan hati dengan honor nggak seberapa, masih ditawar diulur-ulur diincrit-incrit pula bayarnya. Niy biasanya klien yang saya sebut “BPJS” Banyak Permintaan (kalau diminta bayar) Jawab Sesuk-sesuk 🤣 Westalah, dunia penulisan itu kadang nggak selalu indah seperti yang kamu bayangkan 😅

        Yuk kita ulik seputar pilih-pilih klien ini. Kamu boleh tetap bertahan menulis dengan fee kecil, asal yo profesional dan jelas aturan main, job desknya ngapain, revisi berapa kali, kapan bayar. Karena kadang kita sebagai penulis kudu berdamai dengan honor-honor kecil. Pokoknya, kalau saya kliennya jelas harus baik dulu dan kerja nulisnya bikin saya senang. Honor besar itu bagian bonus rezeki.

        1. Jadi ghostwriter atau menulis biografi memang jalan cepat dapat duit banyak dari menulis. Tapi ya ini dapatnya nggak selalu mudah. Cari kliennya sulit sulit gampang.

        2. Tapi kalau sekali dapat, biasanya terus saja. Nah, saya tidak tahu bagaimana cara memilih klien untuk ghostwriter atau biografi, karena setiap kali beda orang beda model pendekatannya.

        3. Yang jelas kalau manajer saya oke, umumnya saya oke saja. Tidak banyak keribetan. Baru kalau manajernya setengah yakin setengah enggak, saya perlu bertemu dan bisa lihat niy orang masalah apa enggak.

        4. Eh yang namanya masalah klien itu nggak cuma urusan sulit atau nggak bayar lho. Klien beribet revisi bongkar bongkir materi itu juga problem. Klien sulit diajak kompromi, itu juga keribetan.

        5. Jadi dalam model kinerja apapun, yang berkaitan dengan ghostwriter dan biografi, pastikan sampeyan senang dulu dengan kliennya, senang pada materinya, dan syukur-syukur asyik duitnya juga. Kalau tidak, jangan memaksakan nanti makan hati; bisa langsing mendadak 😂

        6. Ada model model klien yang tak terduga yang mungkin tidak saya kenali. Tapi kalau sepanjang semua oke oke saja, ya tidak apa-apa. Meskipun mungkin ada banyak karakter orang yang tidak seide dengan pikiran saya.

        7. Yang penting Teman-teman, jangan terima klien karena terpaksa. Sengsara nanti. Karenanya kalau jadi penulis harus bagus mengatur keuangan agar nggak ada alasan terima klien semata mata karena uang.

        8. Menulis itu bukan sekedar tukang ketik. Sampeyan harus pake otak; pikiran, hati, energi waktu dll yang tidak sedikit. Kalau nggak senang nggak ikhlas, percayalah itu hanya akan bikin sampeyan terbebani 2x atau 3x dari energi yang semestinya sudah cukup untuk merampungkan satu buku. Jadi pilih pilih klien itu penting agar oke semuanya.

        Selamat berburu klien penulisan. Kalau proyekmu banyak, berbagi gaweyan dengan saya juga boleh. Jangan lupa contact wa.me/6281380001149😀 Honor? Cincailah, itu bisa diatur 😂

        Ari Kinoysan Wulandari

        Please follow and like us:

        20 Hal Yang Menyebabkan Tulisan Tidak Selesai

        Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

        20 hal yang sering menyebabkan penulisan tidak selesai:

        1. Kurangnya Perencanaan
          Tidak ada outline atau rencana yang jelas dapat membuat penulis bingung tentang arah cerita.
        2. Prokrastinasi
          Menunda-nunda untuk menulis dapat menyebabkan hilangnya momentum dan inspirasi.
        3. Perfeksionisme
          Terlalu fokus pada kesempurnaan tiap kalimat bisa menghambat kemajuan.
        4. Kehabisan Ide
          Terkadang penulis mengalami kebuntuan ide di tengah jalan.
        5. Gangguan Eksternal
          Gangguan dari lingkungan sekitar seperti keluarga, pekerjaan, atau media sosial.
        6. Kritik Diri yang Berlebihan
          Terlalu keras mengkritik tulisan sendiri dapat mengurangi motivasi.
        7. Tidak Konsisten
          Tidak menulis secara rutin atau tidak memiliki jadwal yang tetap.
        8. Ketidakpastian Plot
          Ragu-ragu tentang perkembangan cerita atau akhir cerita.
        9. Masalah Teknis
          Kesulitan dalam hal-hal teknis seperti tata bahasa, struktur kalimat, atau dialog.
          1. Kurangnya Dukungan
            Tidak memiliki dukungan dari teman, keluarga, atau komunitas penulis.
        10. Riset yang Berlebihan
          Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk riset tanpa mulai menulis.
        11. Takut Gagal
          Khawatir bahwa novel/naskah tidak akan diterima dengan baik oleh pembaca atau penerbit.
        12. Tidak Menikmati Proses
          Menulis lebih karena kewajiban daripada kenikmatan dapat mengurangi semangat.
        13. Kesehatan Mental
          Masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan dapat mempengaruhi produktivitas.
        14. Perubahan Prioritas
          Kehidupan yang berubah, seperti pekerjaan baru atau keluarga, dapat mengubah prioritas penulis.
        15. Penulisan Ulang yang Terlalu Sering
          Terus-menerus menulis ulang bagian-bagian yang sudah ditulis tanpa maju ke bagian baru.
        16. Kurangnya Motivasi
          Tidak memiliki motivasi atau tujuan yang jelas untuk menyelesaikan novel.
        17. Tidak Ada Deadline
          Tidak menetapkan batas waktu untuk diri sendiri dapat membuat penulis merasa tidak terdesak untuk menyelesaikan.
        18. Menghindari Kesulitan
          Menghindari menulis bagian yang sulit atau tidak menyenangkan dalam cerita.
        19. Perubahan dalam Cerita/Naskah
          Mengubah alur cerita atau karakter utama terlalu sering dapat menghambat kemajuan. Membongkar naskah juga meribetkan banyak hal.

        Monggo silakan dicermati naskah Anda belum selesai karena apa, termasuk dari 1 s/d 20 di atas kah? Kalau iya, cobalah mencari solusinya 😀

        Ari Kinoysan Wulandari

        Please follow and like us: