Surga di Wakatobi (16): Kapal ke Kendari

Penginepan tempat saya tinggal beberapa hari di Wakatobi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas mau keluar dari penginepan itu, baru saya sadar wes beberapa hari saya di pulau ini, meskipun rasanya kok baru dateng aja. Iya mungkin karena perginya pagi malem, pagi malem terus. Masuk penginapan ibarat hanya untuk tidur.

Pulau Wangi-wangi cantik banget, indah alami, dan alhamdulillah saya baik-baik aja. Nggak beribetan dengan sakit, ngedrop fisik, dll. Udara laut oksigen bersih, jadi bikin orang lebih sehat. Lidah dan perut saya juga cukup beradaptasi dengan makanan dan kulinernya.

Seperti kebiasaan kalau saya ke tempat baru manapun, pas balik selalu bilang sambil menjejak kaki ke tanah; bawa saya ke sini lagi. Sampai jumpa lagi dalam keadaan terbaik ya. Ada beberapa tempat yang nggak pernah kembali, tapi rerata bisa balik lagi dalam berbagai urusan yang berbeda 😁

Suasana pelabuhan Wakatobi pagi itu nggak terlalu ramai. Banyak orang lalu lalang, tapi masih banyak ruang yang selow. Di kapal kali ini versi saya lebih nyaman. Di atas nggak beribetan dengan lalu lalang orang dengan kaki-kakinya. Beberapa tempat juga terlihat kosong. Beberapa penuh berderet. Ada yang ribet sarapan. Ada yang ngobrol sana sini. Ada yang wes tidur (atau belum bangun?).

Di sisi lain, ada yang bekerja dengan laptopnya. Ada yang sibuk dengan HP-nya. Anak-anak lelarian. Pedagang sana-sini keluar masuk menawarkan aneka dagangannya. Beberapa petugas berseragam hilir mudik, tapi tanpa aktivitas. Kesibukan khas di atas kapal sebelum berangkat.

Di kapal saya ngapain? Bersiap tidurlah 😁 Saya mungkin jenis orang yang nggak bisa “kerja” di tengah moda transportasi. Nonton, baca, bisa, tapi kalau suruh nulis dll yang lebih banyak mikir, sepertinya wes malez duluan. Pokoknya kalau jalan kerjaan saya baca, ngobrol atau tidur. Kerjaan, ya nanti saja😁🙏

Pak Ode masih ambil barang-barang. Pas datang di kapal, dia bawa jajanan macem-macem. Ntar biasanya saya yang makan dan menghabiskan 😄😆 Setelah meletakkan barang-barang dan tasnya, kayaknya Pak Ode keliling kapal. Kawannya banyak.

Di kapal, tempat di bagian atas lebih nyaman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya wes mager bae nggak mau naik turun. Perjalanan pagi hari itu sampai sore. Tenang banget, nggak ada ombak, nggak ada angin. Lebih tenang, nggak berisikan suara mesin kapal. Tidur senyenyaknya tanpa mendengar gedebukan langkah-langkah kaki.

Di sini dapat makan minum, tapi pas masih banyak pedagang saya jajan. Sekurangnya mata saya melek karena hari terang, wes sempat tidur, nggak capek. Kapal juga nggak terlalu penuh orang. Nggak seperti pas berangkat ke Wakatobi. Ya ampun. Situasi kapal gelap (remang-remang). Kondisi saya lelah, bingung, kaget dengan segala situasi di kapal yang belum pernah saya alami.

Orang-orang tidur bergelimpangan laki-laki dan perempuan tanpa sekat. Barang-barang entah besar kecil bagus lusuh bergelatakan di semua sisi, tanpa nomor, tanpa identitas penanda. Anak kecil yang sempat terdengar tangisannya.

Beragam kumpulan orang yang ngobrol keras-keras dengan bahasa yang nggak saya pahami. Pedagang yang seru-seruan nawarin barang dagangan. Toilet dan mushola yang jauh dari tempat saya tidur. Panas gerahnya udara terasa banget.

Kalau perut saya nggak kenyang saat itu, saya pasti sudah uring-uringan dan (mungkin) memilih turun, nggak jadi berangkat. Stres duluan saya dengan keribetan dan kerieweuhan yang nggak pernah saya pikirin.

Untung wes biasa jalan, saya coba berdamai dengan semuanya. Wes sejauh ini, kudu sampai rampung. Meskipun agak lama menyesuaikan diri, akhirnya saya bisa tidur nyenyak sampai pagi. Kalau inget-inget itu, terima kasih tubuh fisikku yang “kuat” dan “cepat” beradaptasi.

Sekarang wes ada penerbangan langsung, tentu saya lebih memilih pesawat bae. Biayanya lebih mahal, tapi jelas nggak bikin saya stres dengan suasana kapal. Toh itu juga pengalaman seru bagi saya.

Karena masih terang, pulau-pulau yang dilewati dari Wakatobi ke Kendari masih terlihat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas balik ke Kendari ini lumayan ringan versi saya. Kapal sempat singgah sandar sebentar terus lanjut lagi ke Kendari. Laut tenang. Gugusan pulau-pulau terlihat jelas. Jelang sore Pak Ode mendesak saya turun melihat luar kapal. Seharian saya mung mager dan tidur.

Pas turun, situasi laut tenang. Beberapa kali saya melihat ikan terbang, burung-burung laut terbang rendah. Saya nggak sempat motret karena lihat laut tenang itu justru pikiran saya ingat isinya yang luar biasa. Angin bertiup lembut. Gelombang mengalun pelan. Kelip-kelip lampu di kejauhan mulai terlihat. Pulau-pulau nggak bernama banyak terlewati.

Saat itu ada Mirna, mahasiswa di Kendari yang kuliah teknologi pengolahan ikan; cerita banyak hal pada saya tentang kehidupan laut yang dijalaninya. Menyelam, menangkap ikan, bolak-balik nyeberang laut.

Tentang cita-citanya sekolah maju di Jawa, dll. Saya ki kalau ada yang ngomong sekolah di Jawa (sebagai cita-cita) sering bengong sesaat, tapi baru sadar bahwa itu nggak mudah karena jauhnya lokasi dengan yang disebut Jawa. Dan itu berarti biaya-biaya yang nggak ringan.

Lalu dia pergi karena menurutnya dingin. Angin sudah mulai berat, pun gerimis membawa dingin. Saya masih di situ saja, nggak terusik. Memikirkan betapa beragamnya jenis kehidupan.

Di kapal saya juga ngobrol dengan dua bocah yang kelihatan tenang, tapi matanya berkabut. Pas saya tanya pergi dengan siapa, jawabnya pergi dengan ibunya. Bapaknya tidak ikut harus melaut biar dapat uang. Mereka bertiga harus ke Kendari karena neneknya (dari pihak ibu) meninggal mendadak tanpa sakit.

Apa yang tertangkap dari cerita itu? Nenek meninggal mendadak, dan pasti mereka (ibu bapak anak-anak ini) nggak punya uang darurat. Biaya naik kapal bertiga, mungkin dipinjam dadakan dari keluarga lain atau tetangga. Belum barang dan uang takziah yang harus dibawa.

Jadi bapaknya (yang meskipun turut berduka karena mertuanya meninggal, tetap kudu melaut agar punya duit untuk cepat bayar utangan). Ini persepsi saya pribadi, tapi jelas kasus setipe banyak terjadi di kalangan menengah ke bawah. Jangankan dana darurat, lha hidup sehari-hari tanpa hutang saja, wes alhamdulillah banget.

Nggak lama, dua bocah itu pamit balik ke kapal. Mirna datang lagi. Katanya dia melihat kawanan lumba-lumba dari sisi kapal tempat bawaan motor motor. Wah, sayang juga saya nggak mengekori dia pas pergi tadi. Ah saya memang nggak ada niat lihat lumba-lumba di sini.

Dan kehadiran dua bocah tadi, seperti menyentil lagi sisi nurani saya lainnya. Banyak orang di negeri kita yang hidupnya masih berada dalam belenggu kemiskinan. Siapa yang bisa memangkas rantainya? Ya diri kita sendiri.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (15): Mau Ikan Apa?

Di pantai Wisata Kolo, Pulau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penampakan pantai Wisata Kolo di siang terik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami di sisi lain pantai Wisata Kolo, menghindari panas. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keindahan pantai di Kapota nggak usah saya ceritakan ya. Kedua pantai yang saya kunjungi (Pantai Wisata Kolo dan Kapota Beach, Pantai Kapota) juga setipe dengan pantai-pantai lain di Wakatobi. Keduanya memiliki pasir putih bersih dan air laut yang sangat jernih, dasar laut dangkalnya terlihat jelas dari tepian.

Suasana di pantai ini masih tenang dan alami, suara ombak kecil dan desir angin laut yang lembut. Di sepanjang garis pantai, tampak pohon kelapa dan semak hijau yang memberi kesan teduh. Cuman karena pas kami datang itu lagi panas-panasnya, yo nggak ada sejuk-sejuknya.

Penduduk sekitar beraktivitas di sini, seperti memancing, menjemur ikan, atau membawa perahu kecil ke laut. Pokoknya pemandangan lautnya cantik-cantik. Percaya deh sama saya. Kalau nggak percaya, yo dateng aja langsung ke Kapota.

Minimal harus dua orang, syukur-syukur ada orang lokal. Di sini belum ada penginapan, tapi sewa motor, perahu untuk keliling laut bisa. Rumah makan besar belum ada, tapi warung supermarket lokal cukup banyak. Toilet umum juga belum tersedia. 😀

Identitas Kapota Beach. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jalanan di sepanjang Kapota Beach. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Waktu kami balik ke Wangi-Wangi, masih dengan perahu motor yang sama saat kami berangkat. Kali ini isi perahu longgar banget, penumpangnya hanya 10 orang dan nggak bawa belanjaan mbriyut aneka rupa seperti saat berangkat tadi. Perahu sempat berputar-putar karena gangguan akibat plastik atau sampah.

Saya mung ngikik ketika Pak Ode diteriakin tukang perahu, karena belum bayar ongkos. Lho itu tukang perahunya pas kami turun juga membantu, kok ya nggak minta ongkos. “Aku lupa, Ri. Kan tadi pagi bayarnya duluan pas naik.” Apa iya, kayaknya ongkos berangkat dibayar pas sudah nyampe Kapota deh, Pak Ode😁. Tapi itu jelas lupa, bukan kesengajaan; lha bayarnya ceban saja kok.

Saya nggak ingat Pak Ode pergi ke mana setelah itu. Saya beberapa waktu mung thenguk-thenguk ngelihatin anak-anak main bola di tengah lorong pasar yang sepi. Mereka gembira betul; nggak terpengaruh kondisi “miris” lingkungannya yang sunyi.

“Ri, kamu mau ikan apa?” Itu pertanyaan Pak Ode setelah kami tiba di tempat orang jual ikan kering. Duuh, saya ditanyain ikan, yo jelas ra mudeng. Dalam konsep saya yang tinggal di Jawa, makan dengan ikan apa saja boleh; asal nggak ayam. Orang-orang dekat dan kantor atau di gaweyan pun wes tahu, kalau Bu Ari jangan kasih ayam; kalau nggak terpaksa (laper) pasti ditaruh saja. Kecuali ayam ingkung dari Imogiri (lupa saya nama warungnya) dan ayam lodo Tulungagung. Versi saya itu masakan ayam yang superenak.

Anak-anak bermain bola di lorong pasar yang sepi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dagangan ikan asin di sini macam-macam. Dari yang kecil-kecilan sampai besar-besaran. Jangan nanya nama ikannya sama saya. Lupa semua. Pokmen dikasih tahu, ingat sebentar, njur lali 😁😂 Kebayang to, baru beberapa hari aja sudah begitu banyak hal detail yang saya lupa dari Wakatobi; apalagi tetahunan.

Dan menuliskan begini, sebenarnya bagian usaha pribadi saya untuk “melawan lupa”. Selain itu biar saya terus ingat ternyata begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada saya lewat perjalanan. Biar nggak lupa bersyukur. Menyadari berkat Tuhan pada saya nggak selalu sama atau setipe dengan orang lain.

Biyuu, ngelihatin ikan-ikan besar itu, saya nyaris tergoda beli ini itu dan menghitung orang kiri kanan terdekat. Itu karena saya ngerasa duit tunai masih banyak, masih aman untuk beli-beli 😁🙈 Toh mikirin bawanya itu saya njur berasa malez. Gonta-ganti moda transportasi, belum bagasinya nanti.

Saya pun membeli secukupnya sekira ringan dibawa. Toh ya nggak ringan juga. Bagasinya yang pas berangkat nggak dipake, balik berubah dobel; dari 10 kg jadi 20.9 kg. Ngekek saya, mengambil semua jatah bagasi Pak Ode. Untung penerbangan domestik; overload nyaris 1 kg nya nggak didenda atau suruh bayar. Koper beranak sungguh biasa dalam piknik 😀👏

Aneka dagangan ikan kering. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di sepanjang jalan ini banyak penjual ikan kering, dengan beragam jenis dan ukuran. Pedagang yo ramah-ramah. Ditanyain seputar ikan, dijawab dengan baik. Rerata harganya yo sama saja. Menawar? Boleh. Diberikan? Kayaknya enggak. Mungkin mereka sudah punya kesepakatan harga satu sama lain antar pedagang.

Untung ada Pak Ode. Kalau enggak, pasti saya juga nggak akan beli ikan kering. Lha itu ikan dijual lepasan tanpa kemasan. Ikannya kan harus dikemas box, dipacking rapi, baru bisa dibawa pergi. Kalau enggak, ya ampun baunya itu pasti bikin barang ditolak masuk bagasi. Terimakasih, Pak Ode.😀🙏

Setelah makan malam, kami beli oleh-oleh. Melihat aneka rupa jajanan tradisional (yang versi saya murah meriah), sudah langsung saya nunjuk ini itu. “Ari itu nggak kebanyakan?” usik Pak Ode. Oh iya, lagi-lagi masalah pindah-pindah moda transportasi dan bagasi, bikin saya hanya membeli secukupnya. Kadang muncul sifat impulsif kalau ketemu produk yang nggak ada di Jogja😁 Beneran itu kalau nggak dikurangi, saya juga repot dengan bawaan berat gitu.🙈

Pas sudah sampai hotel, entah gimana itu orang-orang yang nginep pada rame beribetan nyari tiket. Katanya tiket kapal dari Wakatobi ke Kendari untuk besok sudah habis terjual. Oh, tentu ikut paniklah saya. Lha kan di Kendari sudah ada banyak acara, kalau nggak ada tiket terus mundur, wah bisa beribet pula urusannya.

Dagangan lainnya yang juga tersedia. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mungkin ini karena saya bukan orang lokal, nggak tahu persis situasinya. Saya lihat Pak Ode kayaknya biasa aja, nggak ada panik-paniknya sama sekali. Pak Ode juga baik banget; demi menenangkan saya, kami pun pergi ke pelabuhan. Cari tiket. Pas sudah sampai di sana, jumpa petugas kapal, ternyata tiket masih tersedia aman. Besok pagi bisa langsung beli di loket sebelum jam keberangkatan. Tiket masih tersedia sangat memadai, yang habis itu hanya tiket yang dijual secara online.

Oalah, jadi begitu ceritanya. Hiizh, itu orang-orang di hotel bikin saya ikutan panik bae. Saya bilang kalau bisa nggak di bawah yang penuh lalu lalang kaki-kaki orang. Karena masih banyak tiket, jadi bisa meminta tempat di atas yang lebih nyaman.

“Ri, seingatku naik kapal waktu lebaran pun tiket nggak pernah habis. Masa ini acara Wakatobi WAVE saja kehabisan tiket. Lebaran aku juga nggak pernah pesan tiket. Naik ya naik aja, nanti bayar tiketnya di kapal.”

Itu kayaknya penegasan mestinya tadi saya nggak usah ikutan panik. Hihi… Ya itu kan Pak Ode yang sudah biasa dengan perjalanan lautnya ke sana kemari, bukan saya😁 Dalam situasi ekstrem pun saya bukan penganut pembelian tiket go show, tiket bantingan, tiket cadangan, tiket calo, dll sebutan tiket non resmi atau standar.

Senyum ramah si penjual ikan kering. Ada ikan teri juga di sini, tapi rasanya justru manis pas digoreng. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kalau sudah niat pergi, pasti semua sudah “terkondisikan aman” jauh hari sebelumnya. Pergi dadakan ke LN pun, begitu jadwal dll fix, semua tiket dan akomodasi langsung diurus (tidak peduli kalau harga jadi tinggi karena dadakan). Yo gpp itu konsekuensi pergi dadakan karena pekerjaan, kan wes ditanggung perusahaan.

Bagian kecil putusan yang menjadi prinsip hidup saya. Saya nggak akan melakukan penghematan besar-besaran atau pembelian nggak masuk akal (murahnya), yang bisa jadi akan membahayakan keselamatan atau justru akan saya sesali nantinya. Percayalah, saya berhitung, dengan manajemen uang ketat; tapi jelas saya orang yang royal, terutama pada diri sendiri. Saya hidup sederhana sewajarnya yang membawa damai dan happy.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (14): Kampung Bajau dan Tantangan Air Bersih

Sisi dekat laut kampung baru Orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami tiba di kampung baru orang Bajau di Pulau Kapota ini saat matahari bersinar sangat terik. Panasnya luar biasa. Air mineral yang saya minum rasanya cepat betul menguap diterpa keganasan sang surya.

Toh saya berkeliling juga di perkampungan Bajau ini. Rumah-rumah baru hibah dari pemerintah Wakatobi ini merupakan salah satu permukiman khas yang dihuni oleh orang Bajau. Secara umum, orang Bajau merupakan kelompok masyarakat maritim yang dikenal dengan kehidupan mereka yang sangat dekat dengan laut.

Kampung baru orang Bajau ini berada di pesisir yang tenang dengan pemandangan laut biru membentang luas. Rumah-rumah warga berdiri di atas tanah dengan tiang-tiang kayu yang kokoh. Rumah-rumah ini berada di tepi laut, yang cukup dekat untuk aktivitas orang-orang Bajau sebagai nelayan dan penyelam tradisional.

Rumah-rumah orang Bajau di Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Konsep rumah di kampung baru orang Bajau ini agak berbeda dengan rumah-rumah tradisional orang Bajau yang berdiri kokoh di atas air laut dan dihubungkan oleh jembatan papan sederhana; sehingga kalau dilihat dari kejauhan, permukiman orang Bajau tradisional tampak seperti terapung di atas laut. Gambaran sebuah panorama indah yang mencerminkan keakraban orang Bajau dengan alam bahari.

Di pemukiman ini telah berdiri lebih kurang 44 rumah (cmiiw) dan seperti kebanyakan lazimnya kehidupan orang Bajau, dalam setiap rumah biasanya ada 3-4 keluarga (cmiiw), maka dapat dihitung kira-kira bahwa warga Bajau di kampung itu cukup banyak.

Seperti kebiasaan etnis Bajau, warga di kampung baru itu pun bekerja sebagai nelayan dan penyelam tradisional. Aktivitas sehari-hari mereka selalu bersinggungan dengan laut, mulai dari menangkap ikan, mencari hasil laut, hingga memperbaiki perahu. Laut bukan sekadar sumber mata pencaharian, tapi sudah jadi bagian dari jati diri dan budaya mereka yang diwariskan secara turun-temurun.

Wadah-wadah penampungan air tawar (yang nggak bersih) di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kampung baru orang Bajau terlihat seperti “replika indah” kehidupan orang Bajau dalam versi riil dan tertata. Namun di balik pesonanya, orang-orang Bajau di sini menghadapi tantangan besar dalam memperoleh air bersih. Letak kampung yang sebagian berdiri di atas tanah kapur Pulau Kapota, menyebabkan penggalian sumur jadi tidak mudah. Kalau pun bisa menggali sumur, air tanah yang ditemukan umumnya asin atau payau karena bercampur dengan air laut.

Mayoritas warga Bajau di sini mengandalkan air hujan yang ditampung dalam galon-galon atau wadah-wadah besar sebagai sumber utama untuk kebutuhan harian seperti memasak dan mencuci. Saat musim hujan, mereka merasa bersyukur karena dapat mengumpulkan banyak air.

Sebaliknya saat musim kemarau, situasi menjadi lebih sulit. Persediaan air cepat menipis. Sebagian warga harus membeli air bersih dari kampung lain di daratan Pulau Kapota dengan harga yang nggak murah. Kondisi ini menuntut mereka untuk hidup hemat air dan saling berbagi dengan tetangga.

Salah satu sumur galian yang belum selesai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada saat kami datang, saya melihat teriakan dengan ekspresi gembira anak-anak dan juga orang-orang dewasa dari sisi yang agak jauh dari rumah-rumah tersebut. Mereka menemukan sumber air tawar, meskipun belum terlalu jernih. Sekurangnya hari itu ada tiga sumur (cmiiw) yang digali secara mandiri dan bergotong royong antar warga Bajau; yang semuanya menghasilkan air tawar.

Saat saya melongok ke salah satu galian sumur yang belum selesai, (versi saya) masih tercium aroma asin yang pekat dengan air yang masih sangat keruh. Mungkin kalau digali lebih dalam dan lebih lebar akan segera ketahuan itu air tawar atau air asin/payau.

Saya pikir, masyarakat Bajau di sini bisa mengatasi masalah air tawar/air bersih bersama pemerintah desa dan pihak terkait. Beberapa solusi terpikir oleh saya saat melihat situasi kesulitan air tersebut. Pertama, membangun tandon air hujan berukuran besar di beberapa titik kampung.

Anak-anak kampung Bajau yang gembira mengambil air bersih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kedua, menyalurkan bantuan air galon isi ulang bagi keluarga yang membutuhkan (dalam kondisi darurat). Ketiga, mencari sumber-sumber air tawar dengan menggali sumur-sumur menggunakan alat-alat modern, bukan sekedar tenaga manusia; sehingga bisa dilakukan dengan lebih cepat dan identifikasi air tawar lebih mudah.

Keempat, pemerintah dan atau lembaga sosial bisa membantu menyediakan filter air sederhana agar air payau bisa diolah menjadi “air tawar” yang lebih layak digunakan. Biasanya mahasiswa-mahasiswa KKN dari program-program lingkungan, bisa membantu menyediakan fasilitas ini. Kalau enggak, alat-alat ini sudah banyak dijual di marketplace dengan harga beragam mulai ratusan ribu hingga jutaan.

Kelima, desalinasi. Secara sederhana desalinasi adalah proses untuk menghilangkan garam dan mineral dari air laut agar bisa digunakan untuk minum, memasak, atau kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan cara ini pasti akan mencukupi kebutuhan air tawar untuk warga Bajau sepanjang masa, karena air laut yang sangat melimpah. Biaya produksi desalinasi saat ini masih cukup tinggi; 2,5-4 USD per meter kubik; artinya tiap meter kubik perlu 40-70 K.

Kami di kampung Bajau. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebenarnya dengan berbagai alternatif solusi itu, tanpa keterlibatan pemerintah pun, warga Bajau bisa mengatasi masalah dan tantangan air bersih ini secara swadaya mandiri. Mereka bisa memilih cara yang paling cocok dan sesuai dengan kemampuan finansial komunitas. Tentu akan lebih mudah kalau ada program pendampingan untuk masyarakat di sini.

Toh meskipun hidup dengan segala keterbatasan, masyarakat Bajau di kampung baru tetap menunjukkan semangat gotong royong dan kearifan lokal yang kuat. Mereka menjaga kebersihan lingkungan, saling membantu, dan terus beradaptasi dengan alam laut yang telah menjadi rumah mereka sejak lama.

Kampung baru orang Bajau bukan hanya permukiman nelayan, tetapi juga potret ketangguhan dan kebijaksanaan masyarakat pesisir yang hidup harmonis di tengah tantangan kondisi geografis wilayahnya.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (13): Danau Kapota dan Legendanya

Pak Ode dengan kawan barunya di sekitaran Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wisata yang paling kondang di Pulau Kapota adalah danau besar. Keindahan alam danau ini masih belum banyak dikenal wisatawan. Danau ini terletak di tengah Pulau Kapota, beberapa kilometer dari pesisir. Danau ini menjadi bagian penting dari ekosistem pulau yang masih alami.

Akses ke danau cukup mudah. Dari parkiran depan, kita akan melihat masjid cukup luas dan terawat di sebelah kiri. Tapi piranti sholat (mukena dan sajadah-sajadah) seperti sudah lama nggak dicuci. Toilet dan tempat wudu ada, tapi saat itu dikunci dan nggak ada akses air.

Karena sudah waktunya Dhuhur, saya yo sholat di situ; sambung jamak Dhuhur Ashar dengan tayamum. Berdoa secukupnya dan melanjutkan aktivitas. Dari masjid untuk menuju danau, kita akan melewati gazebo-gazebo yang cukup banyak untuk kafe dan resto. Lalu menurun melingkar melewati jalan berpagar dan sampailah ke areal gazebo besar yang langsung menghadap danau.

Map Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Permukaan danau tampak tenang dengan air yang jernih berwarna biru kehijauan, memantulkan langit dan pepohonan di sekitarnya. Di sekeliling danau tumbuh pepohonan hijau yang rimbun, termasuk mangrove dan vegetasi pantai lain yang memberikan suasana sejuk dan asri. Ketika angin bertiup pelan, permukaan air bergelombang lembut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.

Danau ini menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan air payau serta burung-burung yang sering hinggap di ranting pohon sekitar. Airnya berasal dari campuran sumber air tawar dan rembesan air laut, menjadikannya danau payau yang unik. Pada pagi hari dengan kondisi alamnya, (mestinya ada) kabut yang menyelimuti permukaan danau ini.

Bagi penduduk setempat, danau di Kapota bukan hanya keindahan alam, tetapi juga sumber kehidupan. Airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan di sekitarnya sering dijadikan tempat beristirahat atau bersantai. Meskipun belum banyak fasilitas wisata (tambahan), keaslian dan ketenangan danau ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang mencari suasana alami dan damai.

Masjid di areal depan Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami berempat (saya, Pak Ode, Bu Muna, dan Pak Basri) datang ke danau saat matahari sudah sangat tinggi. Usai makan siang –bawa makan minum sendiri, yang kami beli pesan di bawah; karena di areal danau nggak ada orang jualan, saya wes berasa liyer-liyernya. Ngantuk banget dan sebentar saja wes tertidur pules. Alam Danau Kapota beneran bikin orang serasa hidup damai tanpa gangguan.

Dua adik lelaki saya pernah ngomeli saya gegara kebiasaan saya tidur di sembarang tempat begini. Pas kami makan malam (sudah larut) di kafe, usai makan mereka masih ngobrol seru, saya wes ngantuk dan tertidur dengan kepala di meja. Mereka terpaksa harus cepat pulang dan memapah saya ke mobil. Besoknya saya kena omel panjang lebar. Mereka menanyakan apa saya nggak khawatir (kalau pergi sendiri) ada orang jahat, begini begitu. Saya cuma tertawa pelan, orang jahat itu (biasanya justru) orang-orang dekat. Kalau nggak kenal seringnya malah dilewatkan begitu saja.

Kembali ke Danau Kapota, saat saya terbangun; sudah sedikit ramai karena ada rombongan keluarga yang datang. Saya sempat ngobrol random dengan mereka tentang danau tersebut. Tapi nggak ada sedikitpun informasi tentang asal usul Danau Kapota.

Jalan berpagar menuju Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di waktu yang lain setelah balik ke Jogja, saya berusaha mencari data-data tentang Danau Kapota ini. Berbagai danau yang saya kenali, antara lain Kastoba, Toba, Singkarak, Maninjau, Ranau, Kelimutu, Sentani, Poso,Tempe, Matano, Ranu Kumbolo, Labuan Cermin, Bedugul, dll. rasanya semuanya ada kisah legenda atau asal usulnya yang tersebar luas secara lisan. Lha masa Danau Kapota “yang ajaib” ini nggak ada kisah rakyatnya? Pas saya nanya Bu Muna sebagai orang lokal, nggak ada jawaban memuaskan.

Saya merangkum kisah danau ini dari googling berbagai sumber. Jadi untuk tahu kebenarannya masih memerlukan banyak riset dan data yang valid. Konon, dahulu kala danau itu bukanlah danau. Tempat ini berwujud lembah luas yang dihuni oleh sekelompok keluarga nelayan.

Di lembah itu tinggal seorang gadis bernama Wa Ndolu, yang terkenal karena kebaikan hati dan kecantikannya. Ia rajin membantu siapa pun yang membutuhkan, terutama para nelayan yang pulang melaut.

Sejauh mata memandang, air biru kehijauan di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Namun, suatu hari datanglah seorang pemuda “asing” atau non lokal yang jatuh cinta padanya. Pemuda itu nggak diketahui asal-usulnya, dan masyarakat setempat curiga bahwa ia bukan manusia biasa.

Wa Ndolu menolak lamaran pemuda itu dengan halus karena merasa ada sesuatu yang aneh atau nggak wajar padanya. Akibat penolakan tersebut, si pemuda ini tersinggung. Dia pun mengungkap jati dirinya sebagai jelmaan pemimpin kerajaan “makhluk bawah laut” dan mengutuk lembah tempat tinggal Wa Ndolu agar tenggelam.

Dalam sekejap, air keluar dari bawah tanah dan dari arah laut, menenggelamkan seluruh lembah. Hanya puncak-puncak bukit kecil di sekitarnya yang tersisa, sementara di tengahnya terbentuklah danau besar yang sekarang dikenal sebagai Danau Kapota.

Kami berempat di Danau Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penduduk setempat percaya bahwa pada malam-malam tertentu, terutama saat bulan purnama, kadang terdengar suara perempuan bernyanyi lembut dari tengah danau. Masyarakat sekitaran di masa lampau percaya bahwa suara itu adalah suara Wa Ndolu, roh penjaga danau yang tetap setia melindungi keindahan Kapota.

Oleh karena kepercayaan itu, masyarakat setempat terus menjaga kelestarian danau. Mereka juga nggak sembarangan mengambil ikan atau merusak lingkungan di sekitarnya.

Bukankah kisah Danau Kapota tersebut agak mirip-mirip dengan legenda atau asal usul danau-danau lain di Indonesia, yang sudah saya sebutkan sebelumnya? Masalah kebenarannya, ya wallahua’lam saja.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (12): Bu Muna dan Kapota

Ini cappucino di kafe dekat Marina Togo. Saya merasakan aneka “rempah” tapi nggak bisa mengidentifikasi satu per satu; superenak, beda dengan cappucino yang biasa saya minum. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai dari menara mercusuar, saya menolak makan malam karena masih terlalu kenyang. Kami mampir kafe untuk ngopi. Wah, ternyata kopi racikan cappucino di sini enak banget. Ini namanya kafe apa ya? Lupa. Tempatnya nggak jauh dari Marina Togo. Kentang gorengnya juga super enak, entah apa bumbunya. Kenyang-kenyang pun saya masih bisa habis makan kentang goreng dua porsi. Kalau nggak cocok di lidah saya, pasti satu porsi pun nggak habis😁😂

Malamnya saya tidur nyenyak. Selama di Wakatobi saya tidur nyenyak tiap malam, bahkan siang pun kadang sempat tidur. Makan kenyang, tidur nyenyak, slow living banget. Hidup damai nggak mikirin gaweyan, nggak diribetin urusan ngajar, bimbingan, rapat-rapat yang membagongkan, teriakan koreksi atau revisi dari klien penulisan, cecaran deadline dari manajer, telpon produser, dll yang kadang bikin mata melotot dan kelapa pusing mendadak🤣

Pak Ode mengomentari, saya bisa begitu karena duitnya ada atau sudah nggak mikir duit 😁🙏 Haha… mana ada orang yang nggak mikirin duit. Saya yo mikir, tapi pas di sana memang nggak mikirin, karena anggarannya wes disiapin. Saya sempat bengong itu pas sampe Jogja, kenapa uang tunai masih cukup banyak 🤣 Biasanya kalau habis bepergian panjang dan jauh, uang tunai memang (selalu) sisa, tapi pasti nggak sebanyak itu 😁 Lihat sisa uang, bukannya segera ditabung, saya wes mikir mo pergi ke mana lagi ya 🤣

Dermaga di Wangi-wangi tempat sandar perahu yang bolak-balik ke Kapota. Di sisi lainnya banyak bersandar kapal-kapal besar untuk jarak jauh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah jalan untuk ke Kapota. Saya mung iya saja, nggak tahu apa itu Kapota dan nggak kepikiran untuk Googling nyari info. Pokmen Wakatobi cocok banget untuk mereka yang mo berlibur dengan menikmati kehidupan yang santai-santai. Alam laut yang indah, warga (cenderung) ramah, makanan/minuman dan jajanan beraneka macam, jalanan serasa milik pribadi. Siapin aja anggaranmu sebanyak waktu yang ingin kamu habiskan di negeri para pelaut ini.

Saya nggak ingat pasti sebelum ke dermaga yang menuju Kapota itu, Pak Ode ke mana saja. Orang satu ini embuh, energinya kayak nggak pernah habis. Pokoknya kelihatan banget dia niat tenan menunjukkan berbagai tempat agar saya tahu detail semua wisata di daerahnya. Itu pun kami masih di Wangi-Wangi doang. Belum pulau-pulau lain di Wakatobi.

Pas ketemu saya lagi, Pak Ode bilang harus nunggu temannya yang dari Kapota. Dia masih belanja. Saya mengangguk saja, mengamati lalu lalang orang yang berdatangan dengan belanjaan mbriyut (banyak banget). Anak kecil, remaja, dewasa semua ada. Kapal-kapal di kejauhan banyak yang bersandar.

Pak Ode, Bu Muna, saya di dermaga Wangi-Wangi sebelum ke Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Nggak beberapa lama, Bu Muna (kawan Pak Ode) datang dengan belanjaannya (eh ini masih dibawa atau sudah diletakkan di kapal ya, saya nggak terlalu ingat). Beberapa waktu mereka berdua ngobrol akrab dengan bahasa lokal. Tentu saja saya nggak paham. Baru ketika mereka ngomong bahasa Indonesia, saya ngerti yang dibicarakan. Bu Muna akan telpon kawan lainnya karena ada kami berdua, biar bisa motoran keliling Kapota. Intinya begitulah.

Pas waktunya tiba, kami pun berangkat ke Kapota dengan perahu bermotor. Bercampur dengan orang-orang lokal dan semua barang belanjaan mereka. Perjalanan memerlukan waktu 15-20 menit untuk sampai di Kapota. Pulau ini salah satu pulau indah yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Pulau yang letaknya di sebelah barat daya Pulau Wangi-Wangi ini, menjadi bagian dari Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Meski ukurannya nggak terlalu besar; tapi kalau jalan mengelilingi pulau ini, ya butuh waktu seharian 😁

Kapota menawarkan pesona alam yang memikat dan suasana khas pulau tropis. Pulau ini dikelilingi oleh laut biru jernih dengan gradasi warna yang memukau; mulai dari biru muda di tepi pantai hingga biru tua di bagian laut dalam. Pasir putihnya halus dan bersih, cocok untuk bersantai atau bermain air. Di sekitarnya tumbuh pepohonan kelapa yang memberikan nuansa alami dan teduh. Dari tepi pantai, pengunjung bisa melihat dengan jelas Pulau Wangi-Wangi di kejauhan.

Saya dan Bu Muna di perahu motor dengan penumpang lain dan barang belanjaannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seperti wilayah lain di Wakatobi, Pulau Kapota memiliki kekayaan terumbu karang dan biota laut yang luar biasa. Airnya yang jernih membuat snorkeling dan diving di sekitar pulau ini sangat menyenangkan. Ikan-ikan berwarna-warni, bintang laut, dan aneka karang keras maupun lunak menghiasi dasar lautnya.

Saya tahu cerita itu dari Bu Muna. Dan sebagian saya lihat langsung, termasuk ular laut; yang entah gimana, saya beruntung aja bisa melihatnya. Dalam versi cerita Mirna (kawan ngobrol di kapal pas saya balik ke Kendari, kalau sudah jumpa ular laut habis sudah takdir hidup). Ular ini bisanya jauh lebih ekstrem daripada ular kobra di daratan. Sekali gigit, habis sudah hidup.

Jadi para nelayan, penyelam lokal pun sudah tahu; kalau melihat ular laut di sekitaran mereka harus diam “seperti patung” sampai ular laut pergi dengan sendirinya. Kalau ada gerak dikit, ular akan terganggu dan langsung menyerang. Ya ampun, ngebayangin aja saya sudah merasa horor; diam di daratan mudah, diam di kedalaman lautan dengan mengatur nafas oksigen, biyuuu… wes mboten mawon. Jangan sampai deh jumpa ular laut di kedalaman lautan 😄😆

Salah satu sisi dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Versi saya, Bu Muna ini salah satu perempuan tangguh dari Kapota. Masa remajanya ketika sekolah SMA ya nyeberang laut tiap hari dari Kapota ke Wangi-Wangi, PP. Kalau sore sudah nggak kebagian perahu, dia akan minta teman-teman yang orang tuanya punya perahu untuk menyeberangkan. Lalu turun dari perahu masih harus jalan kaki sekira 3-4 km untuk sampai rumah. Besok paginya diulang lagi dari awal sampai lulus.

Biyu, hebat tenan. Saya di Jawa suruh sekolah jalan kaki 1 km saja (waktu SD) sudah teriak teriak minta sepeda. Lha ini, waah… sungguh besar tekadnya untuk sekolah. Sementara teman-teman sebayanya, lulus SMP lebih banyak yang memilih atau “dipaksa harus” menikah.

Sekarang sehari-hari Bu Muna membuka warung/toko pracangan (jual kebutuhan sehari-hari) di Kapota. Suaminya kerja di luar pulau. Tiga anaknya juga merantau di luar pulau. Praktis dia tinggal dengan satu anaknya yang berkebutuhan khusus; juga mertua dan orang tua (yang tinggal di sekitaran, tapi nggak satu rumah).

Pintu gerbang kawasan wisata Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya menangkap semangat untuk maju yang luar bisa dari sosok perempuan ini. Kalau di masa mudanya diberkahi kecukupan modal ekonomi untuk sekolah, saya yakin dia sudah terbang jauh melintasi batas untuk sekolah tinggi dan pasti jadi perempuan yang luar biasa. Sekarang pun dia seorang ibu yang hebat.

Sungguh dengan jujur ringan hati menerima keberadaan anaknya yang istimewa. Saya menangkap rasa keharuannya saat menunjukkenalkan anaknya ini pada saya. Hadeuh, tanpa sadar saya mengusap air mata yang bercampur keringat. Hanya ibu hebat yang bisa begini, sementara banyak orang tua yang “sengaja” menyembunyikan anak-anak begini karena dianggap bawa malu keluarga.

Doktrin budaya, adat, tradisi, dan orang tua yang masih menganggap anak perempuan nggak perlu sekolah tinggi, karena toh nanti yo menikah, ngurus anak dan suami di rumah; sungguh mengekang langkah perempuan. Di masa sekarang pun masih banyak modelan begitu yang membelenggu kaum perempuan.

Laut Kapota. Kalau kita melongok ke dalam air, akan terlihat gerombolan ikan-ikan kecil di tepiannya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya senang bertemu dengannya, karena sepanjang pagi sesiangan menuju sore; Bu Muna menceritakan banyak hal pengalaman hidupnya. Hingga membuat saya bersyukur berulang kali. Alhamdulillah. Masyaallah hidup yang versi saya wes jatuh bangun jumpalitan itu keknya nggak ada apa-apanya dengan “kekerasan hidup” yang dialami perempuan asli Kapota ini.

Itu kenapa dalam banyak tulisan, saya sering berpihak pada perempuan (selain karena saya perempuan, juga karena saya masih sering menyaksikan banyaknya ketidakadilan pada perempuan di seluruh Nusantara atas nama gender); meskipun saya nggak sepakat sepenuhnya dengan aliran feminisme, tapi saya tahu masih banyak hak-hak dan kesetaraan perempuan vs laki-laki yang harus diperjuangkan.

Penduduk Pulau Kapota cenderung ramah dan hidup dalam komunitas kecil yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya lokal, termasuk bahasa daerah dan kearifan dalam mengelola sumber daya laut. Beberapa warga juga terlibat dalam kegiatan pariwisata berbasis masyarakat, seperti menyediakan perahu kecil untuk wisatawan.

Sisi lain dermaga Kapota. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain menikmati keindahan pantainya, wisatawan bisa berjalan-jalan keliling desa, berinteraksi dengan warga, atau sekedar jalan-jalan di tepi laut. Kapota bisa dibilang sebagai permata tersembunyi yang belum terlalu ramai. Ya itulah daya tariknya: keindahan alami, kehidupan masyarakat yang bersahaja, dan laut yang masih terjaga.

Sebenarnya niat kami ke pulau ini hanya untuk melihat danau besar. Bu Muna justru membawa kami ke pantai Wisata Kolo, pemukiman baru etnis Bajo, dan Kapota Beach. “Bu Ari belum tentu ke sini lagi. Mumpung di sini, lihat-lihat yang bagus.” Begitu katanya saat saya bilang tujuan awalnya hanya ke danau.

Nanti akan saya ceritakan tempat wisata yang disebut di Kapota itu secara bergantian. Terimakasih banyak Bu Muna; yang sudah sharing cerita pengalaman hidupnya dan memboncengkan saya dari dermaga untuk keliling (hampir) seluruh Pulau Kapota.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (11): Sumber Mata Air Jodoh

Pintu masuk mata air seratus (moli’i sahatu). Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas kami masih ngobrol, Bu Tuti nanyain saya sudah ke sumber mata air di seberang itu apa belum. Saya jawab belum. Lalu dia ngajak ke sana. Katanya itu disebut sumber mata air seratus (karena banyak) dan sering juga disebut sumber mata air jodoh. Konon yang mandi di situ bisa awet muda dan lekas dapat jodoh.

Saya ngikik sekilas, “Wah repot dong Bu, kalau jodohnya jauh di sini.”

“Ya ketemu jodohnya dari tempat lain, bukan di sini.”

Saya hanya bilang iya. Meskipun kalau soal mitos yang berkaitan dengan jodoh itu, tetahunan silam kayaknya sudah saya terima. Misal kalau di acara pengantin kita dapat buket bunga pengantin, nggak lama lagi kita akan menikah. Wes embuh berapa kali saya dapat, kok ya lewat saja.

Sumber mata air yang paling besar. Di belakang saya itu pantai dan air laut. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Terus katanya suruh ambil curi melati si pengantin perempuan, biar cepet menikah; kok ya lewat begitu saja. Belum lagi beberapa mitos Jawa, yang berkaitan dengan jodoh, kayaknya pernah juga kena di saya. Toh semuanya nggak mempan. Lalu saya pun wes nggak ambil pusing dengan segala mitos itu.

Terlebih setelah saya pikir-pikir, bisa jadi rezeki jodoh, pernikahan, rumah tangga itu nggak setiap orang boleh dapat seperti bentuk-bentuk rezeki lainnya. Dan kayaknya saya yo nggak apa-apa, baik-baik saja meskipun belum berjodoh, belum menikah. Saya juga nggak berpikir menjalani hidup bahagia kudu ikut patokan aturan umum, menikah, berkeluarga, punya anak-anak.

Sudah lebih dari 10 tahun pula, saya wes melepaskan diri dari keinginan mencari jodoh dan pernikahan. Toh saya hidup baik-baik saja. Kadang-kadang masalah “lajang”, “sendiri” itu hanya terasa kalau saya kudu hadir kondangan. Awal-awal dulu itu sempat saya merasa nggak enak hati, nggak nyaman dengan pertanyaan, “Datang sama siapa?”

Saya dengan Bu Tuti di bebatuan pantai areal sumber mata air seratus. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Toh lama-lama yo biasa saja. Setelah itu saya menormalisasi pergi sendiri; karena kewajiban seseorang itu kalau diundang ya datang, kecuali ada udzur yang kuat. Apalagi kalau yang mengundang kita kenal baik.

Waktu itu Bu Tuti dan suaminya balik ke rumahnya dulu. Lalu menjemput kami lagi untuk bersama-sama ke mata air seratus ini. Yach, mata air ini juga salah satu keajaiban yang ada di Wakatobi. Sumber air tawar yang jernih ini berada di garis pantai, di tepi laut. Segaris dengan air laut, tapi tetap tawar, nggak bercampur air laut. Letaknya di tepi jalan, tapi untuk mencapai lokasinya, kita harus menuruni batu-batu terjal yang cukup butuh perjuangan.

Pak Ode, saya, Bu Tuti dan suaminya (Pak Damrin) di sekitaran resor pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat melewati bebatuan ini, saya ingat saat pergi ke Pegunungan Bintang (Papua), ya ampuuun menuruni bebatuan lancip-lancip tajam dengan kemiringan hampir 60 derajat dengan jarak yang lumayan bikin kaki saya gemeteran. Memang benar, di Indonesia semua tempat wisata bagus, sering butuh effort yang nggak kira kira secara fisik dan mental. Untunglah menuruni batu-batu di sini nggak sepanjang ke Pegunungan Bintang itu.

Ada banyak sumber air di sini, makanya disebut mata air seratus. Salah satu yang sangat besar, biasa digunakan orang lokal untuk mandi-mandi dan aktivitas harian seperti mencuci. Percayalah airnya jernih, segar, dan kalau diminum seperti air mineral kemasan itu. Menghilangkan dahaga. Tentu saya mandi-mandi di situ. Bukan gegara mitos soal jodoh, tapi ya memang airnya sungguh menyegarkan. Tentu menyenangkan pula kalau saya awet muda 😁😂 Soal dapat jodoh gegara mandi air tawar di situ, kayaknya lebih ringan kalau saya bilang “nggak percaya” 😁

Kami berjalan dari satu sumber mata air ke sumber mata air lainnya. Sesukanya saya berhenti, ya berhenti. Mo jalan ya jalan lagi. Sore itu hanya ada kami berempat. Westalah berasa milik pribadi tenan. Nggak ada orang lalu lalang. Boleh sepuasnya menikmati seluruh pemandangan di pantai itu. Nggak ada yang mengganggu.

Pasir pantai di sini berwarna putih di sepanjang garis tepinya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kami terus berjalan sampai dekat areal resor. Di sini pasir putih terlihat lebih luas. Namun karena khawatir mengganggu tamu-tamu resor, kami nggak pergi lebih jauh. Bu Tuti menerangkan kalau seluas jarak laut di belakang resor itu sudah jadi “milik” resor karena memang begitulah aturan di situ.

Orang membeli tanah, maka bagian laut di belakang tanah itu (secara otomatis) menjadi miliknya. Wah, saya agak bengong dengar aturan ini. Apa memang begitu? Lha kalau di belakangnya itu laut dengan pulau-pulau, apakah otomatis juga jadi milik si pembeli tanah? Entahlah. Ntar kalau ada yang ngerti soal hukum ini, saya mo nanya banyak.

Usai dari sana, kami balik lagi ke jalan masuk tadi. Kami melewati lagi areal sumber-sumber mata air. Kalau nggak inget sudah sore, mungkin saya masih betah di tempat ini. Pas keluar dari tempat ini, kami harus jalan naik melewati batu-batu yang sebelumnya arah menurun.

Menara mercusuar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ya ampun, karena wes capek, berasa beut rada menggos-menggos saya jalan naik. Ampun, semangat boleh sama, menurunnya kekuatan fisik dengan bertambahnya umur, jelas nggak bisa dilawan. Jadinya saya butuh waktu lebih lama sampai ke parkiran.

Setelah itu mampir ke rumah Bu Tuti karena saya minta cangkang-cangkang keong (yang cantik). Masih dibawain oleh-oleh (lupa sebutannya), tapi makanan pengganti nasi itu bisa tahan 2 bulan. Mantap betul. Makanannya itu sampai sekarang masih tersimpan di kulkas rumah saya. Belum sempat memakannya 😀

Setelah makan minum (ringan), kami pamit. Itupun masih ditawari mandi dan makan dulu (lagi). Saya menggeleng karena nggak bawa baju ganti. Dan baju saya berasa wes kering sebelum sampai hotel. Itu gegara Pak Ode ngajak ke menara mercusuar dulu sebelum mengantar saya balik ke hotel.

Ya ampun jalanannya ke mercusuar itu… naik turun belak-belok… heizh, kadang saya heran ke mana perginya semangat petualangan saya tetahunan silam. Sekarang tuh, kalau jalan pakai “ribet” dan “capek” dikit, kalau nggak penting-penting amat, saya kok wes pilih enggak. Hemat energi biar panjang umur.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Surga di Wakatobi (10): Makan Besar, Kita…

Bersama Bu Tuti dan Pak Damrin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pas hari pertama datang di Wakatobi itu, saya wes jumpa Bu Tuti dan suaminya (Pak Damrin). Kawannya Pak Ode jugalah. Kayaknya mayoritas orang di pulau itu kalau nggak saudara, keluarga, ya teman-temannya Pak Ode.

Saya ngikik aja pas kami nyampe rumah Pak Damrin dan Pak Ode bilang, kalau mobilnya di rumah, orangnya pasti ada di rumah. Pemikiran yang jelas nggak relevan di tempat saya tinggal. Kami biasa dan sering juga pergi, tapi mobil tinggal di rumah.

Lha ternyata beneran Pak Damrin dan istrinya ada di rumah. Pasangan suami istri yang ramah dan baik. Kalau diteruskan pas pertama datang itu ngobrol, bisa lama banget. Karena waktu itu mau ke pantai, kami nggak lama di situ.

Menu makan kami di rumah Bu Tuti. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Baru beberapa hari berikutnya kami datang lagi untuk makan 😁😂 Ya ampun, sungguh tamu nggak tahu diri 🙈🙏 Datang-datang kok pas makan.😁 Rumah Bu Tuti ada di pinggir jalan. Tiga lantai yang nggak terlalu terlihat kalau nggak detail memperhatikan. Nah tempat untuk kami makan itu di lantai 3. Ya ampun saya ngelihat tanaman hidroponik di lantai 3, langsung keinget lantai atas rumah saya yang nggak terurus 😁😂

Dulu pas awal-awal tinggal sudah sempat saya tanamin cabe dan tomat. Dengan media tanam tanah di pot-pot. Wes panen juga dan semua tetangga kebagian. Njur karena saya terlalu sering pergi-pergi, adik saya lalai merawat, mati-matilah semuanya. Termasuk ikan lele di kolam plastik bekas tandon penampungan air.

Setelah itu wes gakpernah nanem ataupun pingin piara ikan lagi. Capek. Beli bae praktis, meskipun ya jelas beda lah rasa senengnya. Lihat hidroponik di tempat Bu Tuti langsung kepikiran untuk nanem lagi, tapi sampai sekarang yo masih belum saya kerjakan 😜🙈

Sayur “keong” sebutan saya sendiri, lupa nama lokalnya; salah satu yang bikin saya kekenyangan karena daging keongnya😀🫢 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Makanan pengganti nasi, yang kelihatannya saja kecil; tapi bikin saya susah payah menghabiskan karena ternyata padat dan jadi banyak sekali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di tempat Bu Tuti ada tomat, cabe, kangkung, terong, dll sayuran yang tumbuh subur. Padahal itu langsung kena panas matahari. Pasti nyiraminnya kudu ekstra. Pas saya nanya, bikin dan ngurusnya sampai berbuah sekitar 2 bulan. Itu kerjaan Pak Damrin waktu libur kerja. Ya pantes, pikir saya. Jadi kalau mau beresin lantai atas rumah saya untuk bikin tanaman gitu, ya cuti saja 2 bulan 😂😜 Wahaha…. Bisa bisa saya diomelin dari kaprodi s/d rektor itu mah🤣

Yang bikin saya senang itu lantai 3 langsung menghadap laut. Kita bisa lihat laut dengan debur ombaknya dari tempat itu. Keiinget dulu sempat beribet sama adik laki-laki saya, karena mo beli rumah di Gunung Kidul yang langsung menghadap laut. Kalau jenuh, mager, writer’s block dari nulis, kan saya bisa langsung turun ke laut: ciblon, mandi-mandi air laut. Pasti langsung fresh lagi karena terbebas dari energi negatif.

Air garam (air laut) adalah pembersih energi negatif paling ampuh. Makanya mereka yang mengenal medis tradisional, sering menyarankan orang-orang yang “penyakitan” untuk sering mandi-mandi di laut biar bersih dari energi negatif dan tubuh lebih sehat.

Tanaman hidroponik di rumah Bu Tuti. Di seberang sana terlihat laut biru. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Adik saya cuman bilang, “Kalau Mbak Ari rumahnya Gunung Kidul beneran, nggak akan saya tengok-tengokin.” Waduuuh, saya yo jadi mikir juga kalau beneran gitu. Lha dua bocilnya itu kan sudah kayak anak saya sendiri, kalau nggak datang-datang, rindu dong saya 😁😂 Akhirnya nggak jadi beli rumah di Gunung Kidul.

Wah, pas sudah disajikan menu makanannya, biyuuu makan besar kita. Macam-macam masakannya. Dari aneka ikan sampai sayuran. Ada nasi sampai olahan pengganti nasi. Kemaruk saya, sok-sokan ngambil pengganti nasi satu bungkus. Saya kira sedikit, lah kok banyak beut.

Tenan, kalau nggak inget suara-suara bapak saya almarhum, wes saya taruh itu makanan nggak kuat ngabisinya. “Ambil ambil makan sendiri kok nggak dihabiskan, itu kan keterlaluan.” 😁😜 Beuh, jadi saya paling lambat selesai makan. Itu aja sama Bu Tuti masih mau ditambahkan ini itu. Wes nggak lah, klenger kekenyangan saya.

Tanaman hidroponik lainnya di rumah Bu Tuti. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sempat saya paranoid kalau njur bolak-balik kamar mandi karena kekenyangan. Di mobil pas kami mau ke tempat teman Pak Ode lainnya, saya tepuk tepuk perut saya, “perutku baik-baik ya kamu. Kalau mo be-a-be ntar aja kalau wes di hotel, biar nggak ribet.”

Syukurlah perut saya nggak berulah dan sepertinya cocok-cocok saja dengan semua jenis makanan dan masakan baru hari itu. Alhamdulillah. Maturnuwun, Terimakasih ya Bu Tuti, Pak Damrin sudah menjamu kami makan besar 😍🥰

Usai makan itu, kami pergi ke rumah teman Pak Ode lainnya. Rumahnya langsung tepi pantai. Nyebur ke laut bisa dari halaman rumahnya. Luas betul rumahnya. Mungkin didesain untuk guest house dan penginapan. Seperti kebanyakan rumah-rumah penduduk Wakatobi lainnya, di situ juga ada gazebo luas untuk kami ngobrol.

Kawan Pak Ode. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya berbincang A-Z dengan Bu Tuti. Ngalor ngidul mulai dari gaweyan, anak-anak sekolah, orang tua, saudara keluarga, lingkungan masyarakat, dan banyak hal lainnya sampai jelang sore. Sungguh menyenangkan kalau kita ketemu orang yang bisa diajak bicara, berbagi tanpa menghakimi.

Kalau saat itu saya nggak senang hati, pasti saya wes tertidur. Lha gimana, makan sampe kekenyangan, duduk-duduk di gazebo dengan angin semilir sejuk menghadap laut, sesekali terdengar riuh gelombang. Ya ampun, model model rumah idaman saya banget untuk memanjakan sifat mager dan rebahan 😁

Makanya itu, meskipun wes tinggal menetap di rumah saya sekarang, tetep saya mau nabung untuk beli rumah yang ngadep laut. Nggak harus di Gunung Kidul, sekitaran Bantul juga gpp. Kelakonnya kapan, ya nggak tahu. Kan yang penting sudah ada niat; keinginan itu kadang-kadang terwujud begitu aja pas kita sudah lupa 😁😜

Pokmen terimakasih banyak untuk Pak Ode dan teman-temannya hari itu. Hadeuh, saya kepikiran akan ketemu jumpa mereka aja nggak pernah. Kepikiran ke Wakatobi aja wes sempat ilang dari agenda jalan saya. Tapi kayaknya Allah memang nggak pernah lupa sama doa-doa dan keinginan kita, meskipun sudah sangat lamaaa. Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah 😇❤

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: