Cara Memilih Klien Penulisan

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Memilih klien itu versi saya juga “jodoh-jodohan”. Kalau jodoh, semua pekerjaan rasanya lempeng saja dan mudah dibereskan. Diskusinya enak, nulisnya lancar, bayarnya besar. Biasanya klien klien begini “menyadari” nulis nggak mudah dan dari awal dia tahu maunya tulisan seperti apa.

Jadi kalau kamu penulis yang biasa terima orderan tulisan, cermati betul calon klienmu. Kadang better menolak daripada bekerja remuk redam makan hati dengan honor nggak seberapa, masih ditawar diulur-ulur diincrit-incrit pula bayarnya. Niy biasanya klien yang saya sebut “BPJS” Banyak Permintaan (kalau diminta bayar) Jawab Sesuk-sesuk 🤣 Westalah, dunia penulisan itu kadang nggak selalu indah seperti yang kamu bayangkan 😅

Yuk kita ulik seputar pilih-pilih klien ini. Kamu boleh tetap bertahan menulis dengan fee kecil, asal yo profesional dan jelas aturan main, job desknya ngapain, revisi berapa kali, kapan bayar. Karena kadang kita sebagai penulis kudu berdamai dengan honor-honor kecil. Pokoknya, kalau saya kliennya jelas harus baik dulu dan kerja nulisnya bikin saya senang. Honor besar itu bagian bonus rezeki.

1. Jadi ghostwriter atau menulis biografi memang jalan cepat dapat duit banyak dari menulis. Tapi ya ini dapatnya nggak selalu mudah. Cari kliennya sulit sulit gampang.

2. Tapi kalau sekali dapat, biasanya terus saja. Nah, saya tidak tahu bagaimana cara memilih klien untuk ghostwriter atau biografi, karena setiap kali beda orang beda model pendekatannya.

3. Yang jelas kalau manajer saya oke, umumnya saya oke saja. Tidak banyak keribetan. Baru kalau manajernya setengah yakin setengah enggak, saya perlu bertemu dan bisa lihat niy orang masalah apa enggak.

4. Eh yang namanya masalah klien itu nggak cuma urusan sulit atau nggak bayar lho. Klien beribet revisi bongkar bongkir materi itu juga problem. Klien sulit diajak kompromi, itu juga keribetan.

5. Jadi dalam model kinerja apapun, yang berkaitan dengan ghostwriter dan biografi, pastikan sampeyan senang dulu dengan kliennya, senang pada materinya, dan syukur-syukur asyik duitnya juga. Kalau tidak, jangan memaksakan nanti makan hati; bisa langsing mendadak 😂

6. Ada model model klien yang tak terduga yang mungkin tidak saya kenali. Tapi kalau sepanjang semua oke oke saja, ya tidak apa-apa. Meskipun mungkin ada banyak karakter orang yang tidak seide dengan pikiran saya.

7. Yang penting Teman-teman, jangan terima klien karena terpaksa. Sengsara nanti. Karenanya kalau jadi penulis harus bagus mengatur keuangan agar nggak ada alasan terima klien semata mata karena uang.

8. Menulis itu bukan sekedar tukang ketik. Sampeyan harus pake otak; pikiran, hati, energi waktu dll yang tidak sedikit. Kalau nggak senang nggak ikhlas, percayalah itu hanya akan bikin sampeyan terbebani 2x atau 3x dari energi yang semestinya sudah cukup untuk merampungkan satu buku. Jadi pilih pilih klien itu penting agar oke semuanya.

Selamat berburu klien penulisan. Kalau proyekmu banyak, berbagi gaweyan dengan saya juga boleh. Jangan lupa contact wa.me/6281380001149😀 Honor? Cincailah, itu bisa diatur 😂

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

20 Hal Yang Menyebabkan Tulisan Tidak Selesai

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

20 hal yang sering menyebabkan penulisan tidak selesai:

  1. Kurangnya Perencanaan
    Tidak ada outline atau rencana yang jelas dapat membuat penulis bingung tentang arah cerita.
  2. Prokrastinasi
    Menunda-nunda untuk menulis dapat menyebabkan hilangnya momentum dan inspirasi.
  3. Perfeksionisme
    Terlalu fokus pada kesempurnaan tiap kalimat bisa menghambat kemajuan.
  4. Kehabisan Ide
    Terkadang penulis mengalami kebuntuan ide di tengah jalan.
  5. Gangguan Eksternal
    Gangguan dari lingkungan sekitar seperti keluarga, pekerjaan, atau media sosial.
  6. Kritik Diri yang Berlebihan
    Terlalu keras mengkritik tulisan sendiri dapat mengurangi motivasi.
  7. Tidak Konsisten
    Tidak menulis secara rutin atau tidak memiliki jadwal yang tetap.
  8. Ketidakpastian Plot
    Ragu-ragu tentang perkembangan cerita atau akhir cerita.
  9. Masalah Teknis
    Kesulitan dalam hal-hal teknis seperti tata bahasa, struktur kalimat, atau dialog.
    1. Kurangnya Dukungan
      Tidak memiliki dukungan dari teman, keluarga, atau komunitas penulis.
  10. Riset yang Berlebihan
    Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk riset tanpa mulai menulis.
  11. Takut Gagal
    Khawatir bahwa novel/naskah tidak akan diterima dengan baik oleh pembaca atau penerbit.
  12. Tidak Menikmati Proses
    Menulis lebih karena kewajiban daripada kenikmatan dapat mengurangi semangat.
  13. Kesehatan Mental
    Masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan dapat mempengaruhi produktivitas.
  14. Perubahan Prioritas
    Kehidupan yang berubah, seperti pekerjaan baru atau keluarga, dapat mengubah prioritas penulis.
  15. Penulisan Ulang yang Terlalu Sering
    Terus-menerus menulis ulang bagian-bagian yang sudah ditulis tanpa maju ke bagian baru.
  16. Kurangnya Motivasi
    Tidak memiliki motivasi atau tujuan yang jelas untuk menyelesaikan novel.
  17. Tidak Ada Deadline
    Tidak menetapkan batas waktu untuk diri sendiri dapat membuat penulis merasa tidak terdesak untuk menyelesaikan.
  18. Menghindari Kesulitan
    Menghindari menulis bagian yang sulit atau tidak menyenangkan dalam cerita.
  19. Perubahan dalam Cerita/Naskah
    Mengubah alur cerita atau karakter utama terlalu sering dapat menghambat kemajuan. Membongkar naskah juga meribetkan banyak hal.

Monggo silakan dicermati naskah Anda belum selesai karena apa, termasuk dari 1 s/d 20 di atas kah? Kalau iya, cobalah mencari solusinya 😀

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Waktu Yang Tepat

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sering kali kita bertanya-tanya, kapan waktu yang tepat untuk memulai sesuatu?

Apakah menunggu momen ideal adalah keputusan yang bijak, atau justru kita harus segera bertindak tanpa ragu?

Jawabannya bergantung pada apa yang ingin kita mulai dan bagaimana kita mempersiapkan diri.

Berikut beberapa pertimbangan penting dalam menentukan waktu yang tepat untuk memulai sesuatu, baik itu proyek, bisnis, kebiasaan baru, atau perubahan hidup lainnya.

  1. Jangan Menunggu Sempurna, Mulailah dengan yang Ada

Banyak orang terjebak dalam “paralysis by analysis”—terlalu banyak berpikir dan menunggu momen sempurna hingga akhirnya nggak pernah mulai.

Kenyataannya, momen sempurna jarang datang. Sebagian besar kesuksesan datang dari mereka yang berani mulai dengan sumber daya yang ada, lalu memperbaiki dan beradaptasi seiring perjalanan.

Contoh: Jika ingin memulai bisnis, sampeyan tidak harus menunggu modal besar atau rencana sempurna. Mulailah dengan langkah kecil, uji ide sampeyan, dan kembangkan perlahan.

  1. Awali dengan Motivasi yang Jelas

Sebelum memulai sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya ingin melakukan ini? Motivasi yang kuat akan membantu sampeyan bertahan di saat menghadapi tantangan. Pastikan alasan sampeyan jelas dan cukup kuat untuk menjadi bahan bakar perjalanan.

Contoh: Jika ingin mulai berolahraga, jangan hanya karena tren, tapi karena sampeyan ingin hidup lebih sehat dan bugar dalam jangka panjang.

  1. Manfaatkan Momentum dan Energi

Ada kalanya kita merasa sangat termotivasi untuk memulai sesuatu. Inilah saat terbaik untuk bertindak! Momentum adalah faktor penting yang bisa mempercepat langkah awal dan membantu kita tetap konsisten.

Jangan menunda ketika semangat sedang tinggi, karena semakin lama menunda, semakin sulit untuk mulai.

Contoh: Jika setelah membaca buku inspiratif sampeyan merasa terdorong untuk menulis, segera ambil kertas atau laptop dan mulailah menulis, meskipun hanya beberapa paragraf.

  1. Perhatikan Kondisi dan Kesempatan

Meskipun nggak perlu menunggu momen sempurna, tetap penting untuk memperhitungkan kondisi eksternal yang dapat memengaruhi keberhasilan sampeyan. Beberapa keputusan memerlukan perencanaan yang matang agar lebih efektif.

Contoh: Jika ingin memulai bisnis musiman seperti jualan baju Lebaran, maka waktu terbaik untuk mulai adalah beberapa bulan sebelum Ramadan, bukan setelahnya.

  1. Gunakan Prinsip “Mulai Sekarang, Sempurnakan Kemudian”

Banyak orang sukses yang memulai sesuatu tanpa perencanaan sempurna, tapi mereka terus belajar dan menyesuaikan diri sepanjang perjalanan.

Jangan takut memulai hanya karena merasa belum siap. Yang penting adalah mengambil langkah pertama dan terus berkembang.

Contoh: Jika ingin belajar bahasa asing, mulailah dengan kosakata dasar dan percakapan sederhana. Jangan menunggu sampai sampeyan merasa siap berbicara dengan lancar.

Waktu terbaik untuk memulai itu ya sekarang
Jika sampeyan masih ragu, ingatlah bahwa semakin lama sampeyan menunda, semakin kecil kemungkinan sampeyan untuk benar-benar memulai. Ambil langkah pertama, atur strategi, dan biarkan proses berjalan.

Nggak pernah ada waktu yang benar-benar sempurna, tapi setiap langkah kecil yang sampeyan ambil hari ini akan membawa sampeyan lebih dekat ke tujuan.

Jadi, apa yang ingin sampeyan mulai hari ini?

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Baitullah: Rindu Tiada Bertepi

Ka’bah yang jadi kiblat ibadah umat Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hari ini sejak pagi saya wes menulis. Cukup banyak lembaran berganti. Kalau kemarin masih setengah mageran, banyak nonton, sedikit nulis. Saya maklumi saja. Ada masanya yo malez juga 😆

Eh lha pas break nulis kok ya timeline sosmed saya isinya seliweran foto-foto Baitullah. Wah, rindu saya pun menjadi-jadi. Ya Allah, rasanya pingin nangis aja dan ya nggak sadar saya wes nangis beneran. Rasa rindu yang nggak karuan mendesak-desak untuk segera kembali ke Tanah Suci 😭

Saya, seperti juga jutaan umat Islam di seluruh dunia, Baitullah bukan sekadar sebuah tempat fisik. Ini jadi simbol cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta.

Setiap detik, ratusan bahkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berdoa, bersujud, menangis, dan bermunajat di depan Ka’bah, menyampaikan segala harapan, keluh kesah, dan rasa syukur.

Baitullah menjadi pusat spiritual yang memanggil hati setiap Muslim, mengingatkan mereka pada tujuan hidup sejati: kembali kepada Allah.

Kerinduan kepada Baitullah adalah rindu yang tak terdefinisikan. Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, Baitullah terasa seperti mimpi yang selalu dirajut dalam doa.

Harapan untuk bisa bersujud di sana, merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram, serta menyaksikan keagungan Ka’bah adalah cita-cita yang terpatri dalam hati.

Sementara bagi mereka yang pernah menjadi tamu Allah, kerinduan itu tak pernah pudar, bahkan sering kali semakin membara setelah kepulangan mereka.

Mengapa rindu kepada Baitullah begitu mendalam? Sebagian mungkin berkata bahwa tempat ini adalah pusat dari semua doa, kiblat yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia.

Namun lebih dari itu, berada di depan Ka’bah memberikan rasa tenang yang tak tergantikan. Di tengah kesibukan dunia yang sering kali membuat hati gersang, Baitullah hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.

Beribadah di Tanah Suci juga mengajarkan makna kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa.

Semua mengenakan pakaian yang sama, memusatkan hati hanya kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, semua manusia berdiri sejajar, merasakan kebesaran Allah yang Maha Esa.

Kerinduan kepada Baitullah bukan hanya soal ingin berada di sana secara fisik, tetapi juga panggilan hati untuk selalu mendekat kepada Allah.

Bahkan, bagi yang belum memiliki kesempatan untuk datang, doa dan zikir yang diucapkan dengan tulus sudah menjadi jalan untuk merasakan kehadiran-Nya.

Baitullah adalah tempat yang mengajarkan kita untuk melepaskan ego, memohon ampunan, dan menemukan ketenangan sejati.

Rindu ini tak akan pernah bertepi, karena ia bersumber dari cinta kepada Sang Pemilik Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya, menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, dan merasakan nikmatnya bersujud di depan Baitullah. Amin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis Paragraf Pertama

Cerita Rakyat Maluku. Pesan buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagian yang paling sulit dari penulisan umumnya menulis paragraf pertama atau memulai. Tips ini mungkin bisa membantu:

1. Carilah sebuah paragraf pertama dari berbagai buku yang anda rasa ingin menuliskannya seperti itu. Kaji dan pelajari betul, lalu terapkan pada objek materi yang sedang anda tulis.

2. Setiap kali memulai naskah baru dan kembali “kesulitan” lakukan lagi cara yang pertama. Kalau bisa kita memiliki “deposito paragraf pertama” yang isinya hanya paragraf-paragraf pembuka, yang bisa kita cek dan pelajari kapan saja.

3. Ketika paragraf pertama selesai anda tulis, biarkan saja. Tidak usah merevisinya dan teruskan menulis.

4. Pada saat selesainya naskah, mungkin anda perlu ekstra waktu untuk merevisi paragraf pertama sebelum jadi “paragraf kesayangan” anda.

5. Berlatih terus akan membuat penulisan paragraf pertama sampai jadi gampang dan akan lebih gampang untuk memulai setiap kali penulisan baru.

    *Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
    *Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!
    *Jadi Penulis Nonfiksi? Gampang Kok!
    *Jadi Penulis Produktif? Gampang Kok!
    Pesan buku wa.me/6281380001149.

    Ari Kinoysan Wulandari

    Please follow and like us:

    Long Weekend, Ngapain Aja?

    Flaurent Salon. Tempat langganan saya sejak tahun 2010-an untuk perawatan badan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

    Libur panjang Sabtu s/d Rabu atau lima hari, bagi orang Jogja kayaknya biasa aja. Sedari pagi saya keluar rumah, melihat toko-toko kelontong yo tetep buka. Orang jualan hilir mudik. Yang punya usaha bengkel, service laptop, kerajinan, dll ya tetep buka. Nggak libur. Apalagi mereka yang bisnisnya di dunia pariwisata. Libur panjang waktunya meraup rezeki nomplok.

    Rencananya pas liburan panjang ini, saya mo jagain tukang yang akan beberes beberapa bagian di rumah. Cuman karena tukangnya lagi dipake di rumah mertua adik saya, dengan gaweyan yang lebih urgent, jadi tempat saya pun mundur.

    Berusaha cari tiket pulang kampung yang sesuai kantong saya kok wes amblaz. Iyalah, libur gini kan kudunya pesen tiket dari jauh hari. Dadakan adanya ya harga-harga yang masih terasa eman-eman kalau saya bayar 😂

    Ibu saya justru bilang nggak usah pulang. Ntar sekalian aja pas ruwahan; nyekar, ikut selamatan, mandi adat, persiapan Ramadan. Jadi saya pun segera mengganti acara. Menikmati hidup, menyenangkan diri sendiri.

    Saya reservasi untuk perawatan badan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Massage seluruh badan selama 1 jam, body spa, hair spa dan perawatan rambut, facial dan totok wajah, ratus, plus meni pedi. Komplit dan suwe.

    Hampir seharian saya di Flaurent Salon. Tempat yang wes jadi langganan saya sejak 2010-an saat saya kudu bolak-balik Jogja Jakarta. Terutama untuk massage seluruh badan. Sungguh pas dan cocok di tubuh saya.

    Saya mensyukuri berkat Tuhan pada hidup saya dengan cara merawatnya baik-baik. Makan sehat, hidup sehat, olahraga, check up kesehatan, laku ibadah, piknik, meditasi, dll aktivitas positif yang saya pahami sebagai wujud terima kasih saya atas semua anugerahNya.

    Wajah saya jelas nggak secantik artis-artis ibukota. Tubuh dan postur saya jelas jauh dari kategori ideal, apalagi kelas peragawati. Toh semua yang diberikan Tuhan itu sungguh luar biasa.

    Tubuh dan fisik keseluruhan yang sudah “sempurna” membawa saya menjalani hidup hingga nyaris paroh abad ini. Luar biasa dengan beragam jatuh bangun ekonomi dan masalah kehidupan; tubuh fisik, mental, spiritual saya tetap kokoh kuat, jarang sakit yang beribetan. Ya kalau sakit ringan, capek, drop karena beda cuaca, dll itu jelas wajar. Manusia ini, bukan robot.

    Dan saya yakin, di luar semua penjagaan diri yang saya lakukan; yang terbesar adalah “penerimaan” dan “syukur” saya atas apapun yang terjadi dalam hidup. Pahit getir beratnya masa lalu, kalau sekarang saya ingat, kok ya baik-baik aja.

    Lepas perawatan yang bikin badan saya enteng dan rileks; saya makan sate, gule, tongseng, kronyosan, sekomplitnya. Sampai beberapa orang melongok ke arah saya makan. Mungkin karena banyak macam porsi saya pesan dan nggak ada orang lain.

    Habis? Ya jelas, saya kan bisa mengukur seberapa banyak porsi yang bisa saya habiskan. Lagi pula porsi sate dll olahan kambing di Jogja itu kan mung sithik-sithik. Sate aja seporsi isinya cuman 2 tusuk, tiap tusuk dagingnya mung 3 potong pulaaak. Mana cukup buat pecinta sate kek saya 😂

    Dan syukur alhamdulillah, saya masih boleh bebas makan semua olahan daging dll dengan kandungan kolesterol atau asam urat tinggi tanpa khawatir. Teman-teman sebaya banyak yang iri dengan kondisi saya ini 😅

    Habis itu saya nylingker ke supermarket. Belanja camilan, makanan frozenan, buah-buahan, dan aneka isian kulkas. Nggo bahan bakar saat saya “bertapa” beberapa hari untuk merampungkan tulisan pribadi saya. Novel yang sudah lama belum kelar 😆😅 dan tentu gaweyan kruncilan yang belum beres.

    Untung minggu kemarin saya wes ke Bromo dengan sukacita. Energi kegembiraan itu terasa masih melimpah ruah. Menulis dalam suasana hati gembira itu hasilnya beda. Tenan.

    Setelah itu ngapain? Yo pulanglah. Mosok thenguk-thenguk di tempat belanja? Kek kurang kerjaan bae 🤣 Sampai di rumah, saya memasukkan semua belanjaan ke tempatnya dan bersiap memulai long weekend dengan menulis. Pasti kesela juga nonton serial, entah dracin, drakor, atau film film lepas.

    Jadi kalau kamu long weekend di rumah aja, menghindari keribetan ramenya jalanan karena liburan atau alasan lain, yo santai aja. Cari aktivitas yang positif.

    Misalnya beberes dan bebersih rumah. Main dengan keluarga di sekitaran aja. Bikin acara masak bersama. Nobar di rumah dengan desain ala bioskop. Beresin gaweyan yang ketunda. Baca buku-buku. Dll.

    Intinya, versi saya long weekend ya nggak selalu kita harus ikut arus keluar rumah untuk piknik. Yang penting nikmati hidupmu, syukuri berkatmu, dan sehat-happy selalu ❤️

    Ari Kinoysan Wulandari

    Please follow and like us:

    Menawarkan Jasa Menulis

    Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

    Pingin nawarin jasa menulis untuk orang-orang atau calon klien potensial? Cek-cek yang harus kita perhatikan.

    1. Buku karya kita adalah bukti yang tak terbantahkan. Karenanya mau anda jadi ghostwriter, jadi penulis buku biografi, tetep wajib punya buku yang nangkring di toko buku. Biar bikin promosi atau proposalnya gampang. Selain itu kalau punya buku, kita juga gampang ngasihnya. Terus calon klien juga bisa baca-baca cocok tidaknya dengan gaya tulisan kita.

    2. Blog dan sosmed kita yang ada beragam tulisan, juga bisa jadi acuan seseorang akan menggunakan jasa kita atau tidak. Blog dan sosmed kita nggak harus “aktif” banget, tapi cukuplah kalau diupdate per minggu.

    3. Cara menawarkan jasa kita bisa dengan beragam cara. Mengirimkan surat perkenalan dan proposal via email sering dianggap sebagai cara yang mudah.

    4. Namun kalau pas di pertemuan tertentu jumpa dengan calon klien, bilang dan tawarkan saja. Mereka pasti senang. Oh ya, rata rata orang penting senang jumpa penulis karena mereka sering nggak sempat menulis. Ingat ya, nggak sempat, bukan nggak bisa.

    5. Saya, dengan latar etnis Jawa yang melekat dengan budayanya —yang nggak terbiasa dengan memamerkan diri seluruh kemampuannya, termasuk jarang menghubungi orang untuk menawarkan ini itu jasa yang kami sediakan.

    Bukan karena tidak mau begitu, tapi karena masih banyak pe er gaweyan yang belum selesai. Menambah orang, belum tentu cocok cara nulis dan kerjanya.

    6. Tapi sesekali saya akan menghubungi orang orang yang saya anggap potensial. Kalau sudah ada klien, ya nggak usah serakah mencari terus. Bikin naskah pesanan klien itu cukup melelahkan. Kita nggak bisa sembarangan nulis semaunya kita. Harus nurut mereka maunya gimana. Kalau serakah ntar malah bubrah atau tidak jadi dan bikin kredit point kita buruk di mata klien.

    7. Saya nggak tahu anda model penulis yang mana. Yang jelas menawarkan jasa itu penting. Karena klien dengan naskah pesanannya itulah yang biasanya bikin penulis punya banyak duit. Kita bisa nego harga sebebasnya. Syukur banget kalau dapat klien yang royal, wes manut saja dengan harga kita. Cuman yang begini ini sesekali saja 😅😂

    8. Yang penting sopanlah saat menawarkan jasa. Jangan ngotot. Klien yang memang serius pasti akan cari kita. Apalagi kalau cocok model tulisannya.

    Yeach, tapi ini butuh lebih dari sekedar kemampuan menulis. Butuh pribadi dan karakter yang baik. Butuh sikap mental yang kuat. Karena menghadapi klien berduit itu beda dengan menghadapi penerbit yang nggak secara langsung membayar penulisnya.

      Selamat mencoba 😀🙏

      Ari Kinoysan Wulandari

      Please follow and like us: