Umroh Istimewa (16): Kalau Saya Kuat….

Di depan areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jujurly, saat nulis bagian ini; saya wes rindu banget dengan Tanah Suci. Padahal baru beberapa hari rasanya balik Jogja. Memang secandu itu ya Baitullah. Tenan, tempat yang mo disuruh bolak-balik beberapa kali setahun pun kayaknya saya akan iya iya aja 🤩 Ya Allah, panggil saya lagi ke rumahMu segera dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amin YRA.

Usai umroh kedua, jamaah diminta istirahat lagi sehari. Sebagian ibadah lebih banyak di Masjidil Haram. Sebagian berbelanja. Sebagian umroh lagi. Sebagian Thawaf dan Sai sunnah. Sebagian beberes packingan. Macem-macem kegiatan karena esok harinya kami akan mulai perjalanan panjang balik ke Tanah Air.

Bu Yaya dan Bu Prapti sungguh luar biasa hebat semangatnya. Yang saya ingat mereka beberes barang banyak banget; karena termasuk mengurus packingan bagasi suami mereka. Terlebih sudah diwarning oleh TL kalau bagasi di Tanah Air hanya 25 kg, sementara internasional 30 kg. Jadi kalau nggak mau boncos bayar bagasi ya kudu ditata ulang.

Kami di pelataran Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya nggak banyak beberes. Begitu mandi ganti baju; biasanya baju yang kotor saya angin-anginkan seharian atau semalaman. Setelah itu lipat ringkas rapi masuk kantong pakaian kotor dan dimasukkan lagi ke koper bagasi. Jadi ya nyaris nggak banyak ribet. Biasanya orang-orang masih beberes, saya wes tidur duluan.

Bu Sida, entah ke mana. Ibu muda ini paling rajin ke sana kemari. Macam-macam barang yang dibelinya untuk banyak orang di lingkungan keluarganya. Beuh, saya salut betul dengan semangat luar biasa mereka bertiga.

Pada titik tertentu saya merasa pasti sudah akan “melambaikan tangan” give up untuk mengikuti semua aktivitas fisik mereka. Bahkan saat di Madinah, saat mereka mau belanja via pintu 338 Masjid Nabawi, saya memilih balik hotel. Bukan nggak pingin belanja, tapi kalau saya paksakan jalan belanja, bisa ambyar urusan ibadah saya.

Kami di dalam areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai sarapan, Bu Yaya dan Bu Prapti bilang kalau usai beberes akan ke masjid sampai usai Dhuhur waktunya makan siang. Saya yang saat itu merasa sehat kuat juga ikut berangkat ke masjid. Saya bilang akan mengajak mereka berdua untuk thawaf sunnah, dengan catatan kalau saya kuat….

Kondisi tubuh yang sedang nggak fit, apalagi saat sedang berada di Tanah Suci, memang membawa beban emosional yang berat. Ada rasa rindu yang membuncah untuk menyentuh Baitullah, tapi raga seolah nggak sinkron dengan semangat jiwa. Untunglah saya wes mengikhlaskan saja. Sesuk baleni maneh, besok kembali lagi 🤩💪

Bu Yaya dan Bu Prapti, dua jempol untuk mereka. Semangat tenan. Luar biasa. Sehat-sehat terus ya, Bu-Ibu ❤️ Dan mereka bilang ada satu kakaknya, yang belum bisa ikut umroh. Kalau saja mereka ada uang lebih banyak, pasti kakaknya itu diajaknya serta. Sampai di sini saya merasa seperti Allah sedang mengajak saya berbicara, “Itu lho Ari, ada banyak yang pingin ke sini, tapi belum bisa datang. Jadi kamu kudu semangat, nggak boleh menyerah sama lelahmu.”

Di dalam areal Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan ya, memang saya jadi lebih semangat; meskipun setiap langkah menuju Masjidil Haram terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Ada rasa sesak di dada melihat ribuan jamaah lain berduyun-duyun menuju Ka’bah, sementara saya hanya bisa sholat, beribadah di dalam masjid. Itupun tetap saya syukuri sepenuhnya.

Bagi mereka yang nggak fit, memandang Ka’bah dari lantai atas atau melalui jendela seringkali menjadi obat sementara. Ada getaran hebat saat melihat arus manusia yang berputar tanpa henti seperti pusaran air yang tenang. Di saat itulah muncul doa yang paling tulus: “Labbaik Allahumma Labbaik. Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, meski langkahku tertatih, meski ibadah terjeda. Mohon beri ampunan yang luas dan pahala yang sempurna.”

Niat baik itu penting, tapi nggak setiap niat baik bisa terwujud. Usai sholat bermacam dan doa panjang di Masjidil Haram, saya mulai merasa ngedrop kembali. Keringat dingin sudah mulai terasa di punggung dan pelipis saya. Jangankan untuk thawaf, saat itu saya wes mikir bagaimana kalau nggak sanggup jalan pulang ke hotel.

Bagian langit-langit Masjidil Haram yang tinggi, bikin adem. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Begitu saja saya memohon agar rasa sakit dan lelah diangkat sementara waktu; demi bisa menyelesaikan sholat jamaah Dhuhur dengan sempurna menyambung sholat bakdiyah dan sholat jenazah, hingga kembali ke hotel dengan baik.

Saya meyakini bahwa Allah Maha Tahu isi hati. Jika pun fisik benar-benar nggak mampu, pahala niat sudah dicatat dengan sempurna. Saya menyadari bahwa bersabar dalam sakit saat di Tanah Suci juga merupakan bentuk ketaatan yang bernilai pahala besar. Jika kondisi memang nggak memungkinkan untuk jalan kaki, saya wes mikir untuk minta bantuan kursi roda sampai hotel.

Syukurlah itu nggak terjadi. Meskipun lamban dan tertatih-tatih melawan lemas, saya kembali ke hotel jalan kaki bersama Bu Yaya dan Bu Prapti. Alhamdulillah. Usai makan siang, saya wes langsung terkapar. Minum obat dan tidur.

Semoga jika sampeyan sedang dalam kondisi seperti ini di Tanah Suci, tetep rileks, terus ikhlaskan saja. Mohon Allah segera angkat penyakitnya, berikan kesembuhan yang paripurna, dan mudahkan langkah untuk mendekap Ka’bah dalam thawaf yang khusyuk. Karena nggak menerima kondisi, hanya bikin kita mau protes saja sama Allah. Padahal pasti ada hikmah di balik sesuatu yang kelihatannya nggak baik.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (15): City Tour Mekkah

Sudah banyak areal hijau seperti ini di Mekkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ketika umroh pertama sudah selesai, jamaah diminta istirahat sehari dan konsen beribadah di Masjidil Haram. Setelah itu ada umroh kedua, city tour Mekkah dan kepulangan. Saya yang sudah nglegawa ikhlas menyadari kondisi fisik, nggak memaksakan diri mengikuti semua kegiatan.

Saat badan terasa mampu, saya ikut. Kalau tidak, saya duduk-duduk di bus atau di areal wisata dan nggak ikut ke sana kemari. Rugi? Secara kasat mata mungkin iya. Tapi saya yakin Allah sudah mengatur sebaik-baiknya dan lebih tahu yang saya perlukan dan inginkan daripada siapapun.

Menyenangkan sekali ketemu Bu Neli dan Bu Nunu. Di Jabal Tsur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan city tour Mekkah merupakan wisata spiritual yang sangat kaya dan sarat makna, meliputi beberapa situs paling suci di sekitar Mekah, dan diakhiri mengambil miqat (niat berihram) untuk umroh yang kedua. Perjalanan ini umumnya dilakukan sebagai bagian dari ziarah (kunjungan) di sekitar Mekah, atau sebagai rangkaian pelaksanaan ibadah umroh.

Pertama, kami ke Jabal Tsur (Gunung Tsur). Gunung ini trletak sekitar 4-7 km di selatan Masjidil Haram. Ini adalah tempat bersejarah di mana Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar As-Shiddiq, bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy selama tiga hari tiga malam saat hijrah (migrasi) ke Madinah.

Aslinya hanya mau duduk ben gak capek. Di Jabal Tsur. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan mendaki ke puncak untuk melihat Gua Tsur adalah pendakian yang cukup menantang (biasanya memakan waktu 1-2 jam). Jamaah umroh kami nggak ada yang naik dan memang nggak disarpraskan untuk ini. Pemandangan dari sekitar gunung juga indah, tetapi fokus utamanya adalah merenungkan perlindungan Ilahi dan keberanian Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar.

Selanjutnya kami melihat Padang Arafah. Terletak sekitar 20-25 km di timur Mekah. Ini adalah lembah luas yang menjadi puncak dari ibadah haji. Wukuf (berdiam diri) di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah rukun haji yang menentukan sah atau tidaknya haji.

Jabal Rahmah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di luar musim haji, Arafah adalah area yang tenang, tetapi pengunjung bisa merasakan keagungan tempat ini, membayangkan jutaan jemaah yang bersimpuh memohon ampunan. Di sini juga terdapat Masjid Namirah.

Perjalanan berikutnya, kami ke Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang). Ini merupakan bukit kecil yang berada di tengah Padang Arafah. Menurut riwayat, di sinilah Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu kembali setelah berpisah ratusan tahun pasca diturunkan ke bumi, dan diyakini Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah terakhirnya (Khutbah Wada’) di dekat bukit ini.

Di areal Muzhdalifa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Banyak jemaah dari rombongan lain yang memilih untuk naik ke puncaknya; ditandai dengan sebuah tugu. Tempat ini populer untuk berdoa dan bermunajat, memohon kasih sayang dan pengampunan Allah. Tapi jamaah umroh kami mayoritas nggak ke atas. Saya sudah pernah naik ke puncaknya pas umroh ke-1 dan 2, cukup perlu energi ekstra dan kaki-kaki yang kokoh.

Setelah itu, kami pergi ke Muzdalifah. Sebuah lembah terbuka yang berada di antara Arafah dan Mina. Jemaah haji akan bermalam (mabit) di sini setelah wukuf di Arafah, mengumpulkan kerikil untuk melempar jumroh. Saat dikunjungi di luar musim haji, kita akan melihat area yang sangat luas dengan fasilitas tenda, dan dapat merenungkan pentingnya persinggahan dan persiapan spiritual sebelum tahap berikutnya dari haji.

Makan siang sebelum umroh kedua. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah itu kami melintasi Mina. Dikenal sebagai “Kota Tenda,” Mina adalah lembah yang berada sekitar 5-8 km di timur laut Masjidil Haram. Jemaah haji bermalam (mabit) di sini dan melakukan ritual lempar jumrah (melontar batu). Di sini kita dapat melihat lokasi Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah (tempat lempar jumrah). Berkunjung ke sini membantu memvisualisasikan bagaimana Nabi Ibrahim AS menghadapi godaan setan.

Perjalanan pun diteruskan ke Ji’ronah. Tempat untuk mengambil miqat kedua. Miqat adalah batas tempat seseorang harus berniat ihram (memulai umroh) dan mengenakan pakaian ihram. Ji’ranah adalah sebuah desa yang terletak sekitar 25 km di timur laut Mekah. Ini adalah salah satu tempat miqat yang direkomendasikan untuk penduduk Mekah atau bagi siapa pun yang ingin melakukan umrah sunnah (umrah kedua) setelah menyelesaikan umroh wajib. Di sana terdapat sebuah masjid kecil (Masjid Miqat Ji’ranah) tempat jemaah melakukan mandi sunnah, berwudu, mengenakan pakaian ihram, dan berniat ihram (talbiyah) untuk umroh sebelum kembali ke Mekah untuk melaksanakan Thawaf dan Sa’i.

Perjalanan yang menggabungkan lokasi-lokasi sejarah kenabian (Jabal Tsur), rukun haji (Arafah, Muzdalifah, Mina), dan praktik umroh (Ji’ranah) ini, memberikan pemahaman tentang sejarah dan ritual Islam.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (14): Umroh Pribadi

Saat mau berangkat umroh di seberang lokasi WC 3, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jujurly, emosi saya wes nggak stabil saat mulai masuk kereta api cepat. Saya dapat copy print tiket dengan nama, no kursi, perhentian, durasi, dll nya. Begitu masuk, tentu dong nyari nomor. Ternyata paling ujung belakang. Lhah wes ditempati. Saya bilang kalau itu kursi saya. Tapi niy lelaki menolak pindah, mungkin dia lebih senang di sisi jendela. Piye toh? Saya tunjukkan tiket, baru mau pindah. Oke, saya kira masalah sudah selesai. Tapi njur ada reribetan di kursi deretan sebelah, seorang perempuan yang duduk di sisi jendela, tidak mau diminta pindah oleh lelaki yang baru datang. Beribetan entah apa dalam bahasa Arab, pokoknya si perempuan akhirnya pindah posisi. Lalu beribetan dengan lelaki di sebelah saya dan akhirnya pindahlah dia di sisi saya.

Saya sebenarnya merasa lega karena sesama perempuan. Tapi di situlah masalahnya. Niy si makhluk betina ya ampun, berisik ngobrol di telepon dengan suara cukup keras. Saya menegurnya agar lebih pelan. Tapi nggak mempan. Hampir dua jam saya di kereta nggak bisa tidur karena omongannya yang ribut berisik melulu di sepanjang perjalanan. Ya Gusti, yang nggak tahu adab dan etika telepon di kendaraan umum nih ternyata nggak cuma di Jakarta (paling sering), tapi juga di Madinah. Dongkol dan jengkelnya saya wes saya redam, istighfar bolak-balik; tapi ya tetep kesal karena saya sensitif dengan suara. Terganggu sangat dengan kelakuannya. Eh dia masih meribeti saya pula dengan menanyakan stasiun-stasiun perhentian kereta. Membagongkan tenan.

Emosi negatif itu berdampak buruk pada kesehatan saya yang (pancen wes nggak prima) sejak sebelum berangkat. Tiba di hotel Mekkah yang mestinya saya gembira karena akan umroh pertama, langsung berubah sedih karena bocor. Sepanjang hidup saya, tanda hitung kalender jadwal haid selalu tepat waktu. Pernah ada satu atau dua kali bergeser mundur sehari.

Sisi lain halaman Masjidil Haram, sebelum umroh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi saat bepergian ke mana-mana (nggak cuma umroh), saya wes menandai ini dan tahun-tahun berlalu, semuanya oke. Makanya bocor maju 5 hari dari jadwal itu sungguh bikin saya syok. Bingung. Panik. Kesal. Sedih. Campur aduk jadi satu. Saya langsung memberitahu Ustadz Faqih dan tidak bisa ikut umroh malam itu, diminta minum obat dan diterangkan beberapa hal rinci tentang kondisi darurat; yang sebelumnya saya tidak tahu.

Bagian ini, meskipun bersifat pribadi dan sangat perempuan, saya tulis share di sini agar kalau ada jamaah putri yang mengalami kondisi nggak terduga seperti saya, tetap tenang, cari solusinya, dan lanjutkan selesaikan kewajiban sampai rampung. 🙏Saat Bu Sida, Bu Yaya, Bu Prapti sudah meninggalkan kamar untuk umroh; tangis saya meledak.

Ya Allah, sudah sampai Mekkah, nggak jadi umroh? Apa yang salah dengan saya? Uang untuk bayar nggak beres? Saya yakin dan bisa memastikan bahwa uang itu berasal dari hasil kerja halal dan nggak ada tambahan pihak lain. Belum maaf-maafan ibu dan keluarga? Jelas sudah. Dan saya yakin nggak ada yang beribetan saya umroh, karena mereka yo wes umroh nggak cuma sekali dua kali. Jadi itu masalah pun sudah terlewatkan. Hati saya nggak bersih? Ya Robbi, sedari awal mendaftar jelas banget niat saya ibadah, bukan lainnya. Lalu apa?

Situasi pelataran Kabah saat saya umroh, cukup padat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari

Ujian-ujian. Saya langsung nangis lagi begitu ingat ini. Iya, pahala umroh nggak hanya dari berulangnya (banyaknya, berapa kali) thawaf dan sai, tapi juga sempurnanya hati ikhlas menerima semua ujian-ujian yang ada sejak berangkat sampai pulang ke Tanah Air. Setelah menemukan jawabannya ini, hati saya lebih tenang. Lalu memahami kembali pesan Ustadz Faqih. Mengingat saya nggak pernah sekalipun minum obat penunda/penahan haid, jadi pasti nggak ada obat itu di kantong obat saya.

Ini bukan semata-mata urusan darah nggak menetes, tapi kalau kondisi prei sholat begitu, kekuatan saya tuh kayak “hilang” lebih dari 50 persen. Jadi mending wes gak aktivitas berat. Apalagi dibebani menahan “darah kotor” selama beberapa hari karena minum obat, saya wes kebayang betapa “nggak keruannya” rasa tubuh saya.

Sebenarnya ikhlas-ikhlasan nggak umroh pun versi saya yo tetep oke. Akan saya ikhlaskan daripada saya tumbang, pingsan, drop yang merepotkan diri sendiri dan rombongan. Nanti minta lagi, berdoa sungguh-sungguh, segera dipanggil lagi ke sini. Masalahnya tuh saya wes ambil miqat niat umroh yang harus dibereskan, atau langsung rampung dengan bayar kambing. Bukan sekedar bisa bayar kambingnya, tapi saya ingin dan sudah rindu ke Kabah dan Masjidil Haram. Jadi saya kudu, mau nggak mau minum obat untuk merampungkan urusan umroh itu.

Alhamdulillah, usai thawaf. Pelataran Kabah, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain itu, jadwal maju 5 hari, persediaan pembalut juga nggak memenuhi kebutuhan. Oke, Mekkah memang jauh, tapi ini bukan kota asing untuk orang Indonesia. Jadi saya memutuskan untuk segera keluar, mencari dua keperluan saya itu.

Karena mau ke apotek dan supermarket, saya ngecek sekalian obat darurat apa yang wes habis dan perlu beli. Lhah, ternyata di kantong obat ada obat penahan haid. 5 saja dan saya baru ingat kalau ipar saya sempat bilang ada obat tersisa, saya bawa saja untuk jaga-jaga. Mungkin langsung dimasukkan kantong obat tanpa memberitahu saya lagi. Alhamdulillah, saya pikir itu cukup untuk merampungkan urusan satu kali umroh.

Lalu pembalut? 2 biji jelas nggak cukup. Pantyliner pasti jebol untuk kondisi begini. Pikir saya wes tinggal beli pembalut. Setelah beres umroh yang terlanjur niat itu, saya nggak ada niatan lagi untuk memaksakan diri ikut aktivitas fisik berat karena urusan kesehatan. Jadi nggak niat beli obat penahan haid.

Ini usai sholat sunnah thawaf di pelataran Kabah, Masjidil Haram. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dengan kondisi begitu, saya tetap bersyukur Allah Maha Baik. Pas saya mau ambil uang Riyal untuk beli keperluan itu, kok tangan saya nyentuh plastik di backpack bagian dalam. Lhah pembalut satu plastik isi 12 biji, bahkan saya nggak inget kapan beli atau masukin ke situ. Wah berasa nemu harta karun. Yach, meskipun di Mekkah ada toko obat dan pembalut, harganya tentu nggak semurih di Jogja. Alhamdulillah; kayak blessing in disguise. Cukuplah sampai pulang.

Saya pun berdoa mohon agar diberi pahala sama baiknya dengan kawan-kawan saya yang malam itu umroh dengan sempurna. Berdoa banyak hal, agak lama. Njur saya pergi ke luar hotel. Ngapain? Beli es krim, cokelat, dan jajanan 😂🙈 Saya makan di lobi hotel, nggak ambil pusing dengan lalu lalang orang. Es krim dan cokelat untuk mengembalikan mood saya. Dan begitu wes berasa baik, saya kembali ke kamar. Minum obat, njur tidur pules, sepuasnya tenan. Saya nggak tahu kapan Bu Sida dkk kembali ke kamar. 🙈

Besoknya pagi-pagi saya bekabar Ustadz Faqih tentang kondisi saya. Wes mampet. Njur saya bebersih sesuai aturan, sarapan, dan berangkat umroh pribadi dikawal penuh oleh Ustadz Faqih. Pas awal berangkat, Bu Sida dan suaminya ikut untuk thawaf sunnah, tapi saya nggak ingat kapan kami terpisah.

Situasi saat saya sai, cukup padat tapi masih ada ruang kosong. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dari hotel ke Masjidil Haram, Ustadz Faqih sempat menanyakan apakah kondisi saya cukup sehat, saya jawab sehat. Mungkin karena sudah tidur lebih banyak malam sebelumnya dan nggak wira wiri ke mesjid. TL kami ini juga mengingatkan saya tentang larangan-larangan selama Ihram dan membaca doa talbiyah dalam perjalanan menuju Masjidil Haram.

Setelah tiba di Masjidil Haram, Ustadz Faqih akan mengarahkan saya ke area Thawaf dengan tenang. Wah, dia ini sabar tenan. Mengantar saya sepenuhnya, meskipun sebelumnya baru pulang umroh bersama rombongan. Kebayang capeknya, lha jamaah saja diminta istirahat sehari kecuali ibadah di mesjid. Kayaknya Ustadz Faqih juga mengukur kemampuan saya yang nggak prima, dengan jalan pelan banget.

Kegiatan umroh saya seperti umroh lainnya. Memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan doa masuk masjid. Lalu memulai thawaf dari Hajar Aswad dengan melakukan Istilam (memberi isyarat pada Hajar Aswad) sambil mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar” dan memulai putaran pertama. Ustadz Faqih terus mendampingi saya, memastikan setiap putaran saya lakukan dengan benar dan khusyuk.

Saya dan Ustadz Faqih di areal sai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada setiap putaran, dia mengajarkan dan mengingatkan doa-doa yang disunnahkan, terutama antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani; yang disunnahkan membaca doa sapu jagad: Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar.

Ustadz Faqih juga bertindak sebagai “tameng” saat saya nyaris terdesak-desak oleh orang-orang “besar” yang ikut thawaf. Dia mengingatkan agar saya tetap fokus pada ibadah meskipun dalam keramaian. Saya di putaran ke-4 wes mulai merasa klenger, keringat dingin mulai menetes-netes di punggung saya. Padahal Ustadz Faqih jalannya wes superlambat demi saya bisa terus kuat. “Ya Allah kuatkan, sekurangnya sampai saya merampungkan umroh ini dengan sempurna. Amin YRA.”

Alhamdulillah, setelah menyelesaikan 7 putaran thawaf, Ustadz Faqih mengantar saya ke tempat yang memungkinkan untuk sholat. Disunnahkan sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan, atau di mana saja di area Masjidil Haram. Ini saya sholat penuh tangis; penuh haru; karena ya Allah, maturnuwun Gusti, saya masih diberi kesempatan ini. Doa saya banyak. Doa untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, kerabat dan semua titipan doa. Semoga Allah kabulkan. Amin YRA.

Di areal sai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, dua rakaat sholat sunnah thawaf, biasanya dengan membaca Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kalau mau surat lain ya bebas saja, tapi kalau ikut rombongan kan waktu kita terbatas. Detelah sholat, Ustadz Faqih mengantar saya untuk minum air Zam-Zam sambil memanjatkan doa-doa kebaikan.

Selanjutnya sai (berlari kecil antara Safa dan Marwah). Prosesi ini adalah lari kecil atau berjalan cepat antara bukit Safa dan Marwah, sebanyak 7 kali perjalanan. Permulaannya ke areal bukit Safa, menghadap Ka’bah, dan mengucapkan zikir dan takbir. Hingga berlangsung 7x. Di sini beneran berasa energi saya drop. Langkah saya beneran lambat. Waktu untuk sai mungkin lebih lama dari semestinya.

Alhamdulillah akhirnya rampung. Tahallul (mengakhiri ihram), memotong rambut saya lakukan secara mandiri. Alhamdulillah, haru dan lega plong beneran hati saya. Ya Robb mohon sebaik-baiknya pahala yang sempurna dan undang lagi saya ke sini dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amiiin YRA.

Usai umroh dalam perjalanan balik ke hotel. Masyaallah saya kaget pas lihat foto dan menemukan angka 11 di belakang saya. Selain tanggal kelahiran saya, angka kembar dalam energi sering menjadi tanda terwujudnya doa, terkabulnya harapan, hidup yang lebih baik, dll. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Secara pribadi saya mengucapkan terimakasih sebesar besarnya pada Ustadz Faqih yang mengawal penuh umroh saya dengan sabar, tenang, menyempurnakan semua urusan syariat tanpa kecuali, dan menjaga keselamatan saya dari awal sampai akhir. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat kebaikan. Amin YRA. Terima kasih juga kepada Dewangga yang telah memilih TL berkualitas dan profesional untuk mengurus kami dengan sebaik-baiknya 😊🙏

Ustadz Faqih meminta agar saya makan dulu sebelum istirahat; saat kami sudah kembali ke hotel. Percayalah, saya bae agak “takut” ngeliat wajah saya saat itu. Pucat pasi seperti wajah orang mati, nggak ada aliran darah. Ya, dan badan saya wes lemes pool, seperti hilang tulang belulang untuk menopang badan agar kuat berdiri.

Usai makan, saya balik kamar dan nggak butuh waktu lama, saya tertidur pules. Alhamdulillah, sekurangnya umroh kali ini wes saya selesaikan semaksimal, sebaik yang bisa saya lakukan. Sungguh Allah saja yang tahu, betapa inginnya saya bolak-balik umroh saat ada di Mekkah ini.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (13): Masjid Bir Ali, Toko Buku Dar Alzaman, dan Kereta Api Cepat

Di pelataran masjid Bir Ali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah beberapa hari di Madinah, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk umroh. Sebelum ke Mekkah kami akan mengambil miqat di masjid Bir Ali. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Dzul Hulaifah adalah salah satu tempat yang paling dikenang oleh jamaah haji dan umrah.

Di sinilah para jamaah yang berangkat dari Madinah mengambil miqat dan mulai berniat ihram. Suasananya khas: tenang, luas, dengan arsitektur modern yang sederhana tetapi kokoh. Jaraknya sekitar 11 km dari Masjid Nabawi, sehingga biasanya menjadi pemberhentian pertama sebelum rombongan menuju Makkah.

Ustadz Faqih yang selalu banyak senyum dan siap membantu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Begitu tiba, kita akan melihat hamparan pohon-pohon kurma dan dataran luas Madinah yang gersang tapi menenangkan. Di dalam masjid, area shalat sangat luas dan teratur. Fasilitas wudhunya banyak dan bersih, sementara area luar masjid selalu ramai oleh jamaah yang memakai pakaian ihram putih-putih.

Ada perasaan haru tersendiri ketika berada di Bir Ali: seolah pintu menuju perjalanan spiritual terbuka, dan setiap langkah setelah itu adalah bagian dari ritual suci yang telah dijalani jutaan orang sepanjang sejarah.

Di areal dalam masjid Bir Ali setelah sholat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah urysan miqat selesai, kami meneruskan perjalanan dengan bus terlebih dahulu untuk menuju stasiun kereta api cepat. Di sinilah yang terbengong dengan “ketidakefektifan” pengaturan transportasi Dewangga versi saya.

Lha kita membayar 1 juta untuk kereta api cepat, sementara bus tetap berjalan melaju mengikuti rombongan (yang naik kereta api cepat) karena membawa koper-koper bagasi. Lha mbok sudah seluruh jamaah naik bus aja seluruhnya. Biaya 1 juta versi saya malah terasa “sia-sia” “sayang” untuk sekedar naik kereta api cepat. Ini sekedar ngudarasa, karena bisa jadi pertimbangan Dewangga untuk jamaah adalah “pengalaman baru” naik kereta api cepat.

Di bus yang membawa kami dari hotel di Madinah hingga ke stasiun kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sesampai di stasiun kereta api cepat, semua wes dengan urusan masing-masing. Ada yang ke toilet. Ada yang duduk duduk karena capek. Ada yang foto-foto. Ada yang wira wiri. Ada yang ngobrol dan sibuk dengan HP-nya. Saya melipir berkeliling areal stasiun. Tempat ini cukup luas. Ada banyak sisi bagus dan wah…. ada toko buku.

Toko Buku Dar Alzaman di Madinah menjadi persinggahan favorit bagi siapa pun yang mencintai buku islami, manuskrip, kitab-kitab klasik, dan terjemahan kontemporer. Berbeda dari toko suvenir biasa, Dar Alzaman memiliki suasana “ilmiah”, seperti rak-rak tinggi penuh kitab bersampul tebal, aroma kertas baru yang kuat, serta pengunjung yang terlihat asyik membuka halaman-halaman kitab seperti menemukan harta karun.

Di salah satu sisi stasiun kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di toko buku ini ternyata bisa menemukan:

  • Kitab-kitab turats (klasik) versi terbaik
  • Mushaf dalam berbagai ukuran dan edisi
  • Buku-buku sejarah Islam
  • Ensiklopedia, tafsir, dan hadits
  • Buku anak-anak edukatif
  • Souvenir ilmiah khas Madinah dan Mekkah

Pantas saja toko ini sering direkomendasikan oleh mahasiswa Universitas Islam Madinah maupun jamaah haji yang ingin membawa pulang oleh-oleh penuh manfaat. Harganya cenderung lebih terjangkau dibanding toko-toko besar di area Masjid Nabawi. Berjalan di antara rak-raknya memberi sensasi seperti memasuki perpustakaan kuno yang hidup kembali di tengah kota suci.

Beberapa sisi bagian Toko Buku Dar Alzaman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seterusnya setelah tiba waktunya, kami naik kereta api cepat. Perjalanan dari Madinah ke Jeddah ini bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagi yang belum pernah; karena lebih cepat. Haramain High-Speed Railway, kereta cepat modern yang menghubungkan Madinah–KAEC (King Abdullah Economic City)–Jeddah–Makkah.

Kereta ini benar-benar memberikan pengalaman baru untuk jamaah umrah dan pelancong:

  • Kecepatan hingga 300 km/jam
  • Gerbongnya bersih, nyaman, dan tenang
  • Kursinya empuk dengan ruang kaki lega
  • Ada meja lipat, colokan listrik, dan ruang bagasi luas
  • Layanan yang tertib dan tepat waktu

Saya di dalam kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan yang dulunya bisa memakan waktu 5–6 jam dengan bus, kini hanya 1 jam 45 menit menggunakan kereta cepat. Pemandangannya dramatis: hamparan gurun cokelat keemasan yang seperti tidak berujung, garis langit yang bersih, serta deretan bukit batu khas Hijaz yang mengiringi perjalanan.

Stasiun-stasiunnya pun megah dan modern—terutama Stasiun Madinah yang sangat luas, didominasi warna putih dan desain futuristik. Kita diajak merasakan perpaduan unik antara kesucian perjalanan ibadah dan kemudahan teknologi modern.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (12): Raudhah Selalu Punya Cerita

Di pelataran Masjid Nabawi, sekitar Kubah Hijau untuk antri ke Raudhah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Raudhah atau Raudhah Syarifah (Taman Mulia) adalah area di dalam Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Area ini memiliki keutamaan yang sangat besar, karena Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Apa yang ada di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman (Riyadh) dari taman-taman surga.”

Kalau ada tempat duduk yang selow, ya pakai saja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mayoritas orang yang datang ke Masjid Nabawi pasti sangat ingin masuk ke Raudhah, salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Seingat saya, dulu masuk tempat ini bebas saja keluar masuk asal selow dan ya bisa masuk. Secara umum, semua umat Muslim yang berada di Masjid Nabawi berhak untuk masuk dan beribadah di Raudhah, baik laki-laki maupun perempuan, selama mereka mematuhi aturan dan jadwal yang berlaku.

Namun, karena Raudhah adalah area yang sangat kecil dan menjadi rebutan jutaan jemaah dari seluruh dunia, Pemerintah Arab Saudi dan pengelola Masjid Nabawi dari tahun ke tahun menerapkan sistem yang ketat untuk mengaturnya, terutama terkait: kuota dan jadwal khusus. Saat ini, masuk ke Raudhah (khususnya untuk shalat dan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW) diatur menggunakan sistem janji temu (reservasi) melalui aplikasi resmi pemerintah Saudi.

Antrian kami menuju Raudhah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagi jamaah umroh Indonesia yang mengikuti biro resmi, sudah ada tasreh dan biasanya satu kali kedatangan untuk umroh, jamaah juga didaftarkan satu kali untuk bisa datang beribadah di Raudhah ini. Jadwal kunjungan antara jemaah pria dan wanita dibedakan, tidak di waktu yang sama. Begitupun dengan akses pintu masuknya juga dibedakan untuk mempermudah proses dan pengawasan.

Dari tahun ke tahun syukur alhamdulillah, masuk tempat ini versi saya termasuk mudah. Apalagi pas umroh tahun ini. Sungguh, lempeng banget masuk Raudhah. Kami di antrian itu bagian belakangan, tapi entah bagaimana tahu-tahu kami bisa di barisan depan dan diberi kesempatan cukup luang waktu untuk sholat dan berdoa. Padahal biasanya setiap orang/rombongan diberi waktu terbatas (15 menit) di dalam Raudhah agar jemaah lain juga mendapatkan kesempatan.

Di dalam Raudhah usai sholat, berdoa, dan bertangisan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan entah ya, meskipun sebelum ke Raudhah itu saya sudah berniat nanti mau berdoa ini itu, mendoakan sini situ, pas di Raudhah itu bisa lho tiba-tiba ambyar semua karena keburu menangis meledak, saking harunya. Masyaallah, rasanya nggak terkira bahagianya seolah-olah berhadapan dengan Rasulullah SAW.

Jadi biasanya, sebelum tangis saya makin menjadi-jadi; saya tetap mengingat doa sapu jagad, doa keselamatan dunia akhirat, doa mati yang husnul khotimah, dan doa “Ya Allah, kabulkan semua doa orang-orang yang menitipkan doanya padaku sesuai dengan kelayakan masing-masing. Amin YRA.”

Rombongan kami setelah keluar dari Raudhah. Doa saya, kembali lagi tahun depan ke tempat ini. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dengan begitu saya tetap berdoa menyeluruh dan telah mengirimkan doa yang dititipkan orang dengan sempurna. Karena jangankan membaca satu per satu, mengingat bahwa ini masih dunia aja; kadang terabaikan. Raudhah itu energinya halus, lembut, dan damai sekali. Saya pribadi bisa merasakan ini seperti oase sejuk yang menenangkan. Damai banget dan seolah-olah membuat hati tuh langsung bahagia. Nggak ada perlu apa-apa lagi. Sampeyan harus datang sendiri ke tempat ini, untuk bisa merasakan apa yang saya ceritakan.

Salah satu hal yang bikin saya (rela berjuang) ngumpulin uang untuk ke sini (umroh dan umroh lagi) mungkin adalah perasaan happy yang sulit digambarkan. Weslah, mungkin karena Raudhah bagian dari surga, jadi (saya pikir) di surga pun kelak akan begitu. Tenang, damai, sejuk, bahagia, dan nggak perlu apa-apa lagi. Sungguh menyenangkan dan menenangkan jiwa. Wallahu’alam.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (11): Tentang Masjid Quba dan Kebun Kurma

Saya di pelataran Masjid Quba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, rombongan umroh kami juga ada city tour Madinah; ke Masjid Quba, Kebun Kurma, dan Jabal Uhud. Namun karena keterbatasan waktu dan keterlambatan jamaah berkumpul sebelum pergi, pikniknya hanya ke Masjid Quba dan Kebun Kurma, tempat membeli oleh-oleh.

Masjid Quba memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah Islam; karena ini masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Pembangunannya dimulai pada tahun 1 Hijriah (622 Masehi). Kedua, dalam Al-Qur’an, Masjid Quba disebut sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama, sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 108.

Saya dengan Bu Sida, Bu Prapti dan Bu Yaya di pelataran Masjid Quba. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Salah satu keistimewaan besar Masjid Quba adalah pahala sholat di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bersuci (berwudu) di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Quba dan sholat di dalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah SAW biasa mengunjungi Masjid Quba dan melaksanakan sholat di sana, terutama setiap hari Sabtu, baik dengan berkendara maupun berjalan kaki. Masjid ini terletak di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara Kota Madinah (atau sekitar 4-5 km dari Masjid Nabawi).

Rombongan kami di Kebun Kurma. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada awalnya, masjid ini dibangun di atas kebun kurma dan proses pembangunannya melibatkan Rasulullah SAW dan para sahabat secara gotong royong. Bangunan awalnya menggunakan tiang dari pohon kurma dan atap dari pelepah daun kurma bercampur tanah liat. Saat ini, masjid ini telah direnovasi dan diperluas menjadi sangat megah, mampu menampung hingga 20 ribu jemaah.

Kebun kurma adalah salah satu destinasi yang tidak terpisahkan dari kunjungan ke Madinah, terutama karena lokasinya yang dekat dengan Masjid Quba. Tempat ini sekarang jadi tempat belanja oleh-oleh yang paling terkenal di antara janaah umroh dan haji dari Indonesia.

Hanin si bocil termuda dalam rombongan kami beserta keluarganya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perkebunan kurma diyakini telah ada sejak masa sebelum hijrahnya Nabi ke Madinah. Kota Madinah sendiri dikenal sebagai tempat yang ideal untuk budi daya kurma karena kondisi tanah dan udaranya yang sejuk.

Kebun Kurma yang sering dikunjungi jemaah haji dan umrah umumnya berlokasi sekitar 15 menit perjalanan dari Masjid Quba. Tempat ini tidak hanya menawarkan pemandangan pohon kurma, tetapi juga menjadi pusat bagi para jemaah untuk berbelanja berbagai jenis kurma Madinah yang terkenal.

Saya, Mas Donni, Bu Neli, Bu Nunu, dan Bu Yuli menikmati bakso (bukan unta 😅) di Kebun Kurma. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa jenis kurma yang populer di Madinah antara lain: kurma Ajwa dikenal sebagai “Kurma Nabi” karena merupakan salah satu makanan kesukaan Rasulullah SAW dan diyakini memiliki keutamaan sebagai obat dari racun dan sihir. Ada juga kurma Sukkarri, kurma yang sangat terkenal karena teksturnya yang juicy dan rasanya yang sangat manis, sering berwarna cokelat keemasan. Ada juga kurma Safawi, Ambar, dan Khalas yang merupakan jenis-jenis kurma berkualitas tinggi dengan cita rasa khas masing-masing.

Karena sudah beberapa kali ke tempat ini, saya lebih memilih menikmati bakso di sini daripada berbelanja. Saya hanya membeli beberapa jenis manisan buah yang sesuai lidah saya. Oh ya, kelebihan tempat ini selain jenis dagangan beragam, di sini orang boleh ngicipin semua makanan dengan gratis. Sepuasnya, asal nggak dikantongin. Pokoknya kalau cuman ndableg makan apa saja bisa sepiasnya dan nggak ada yang melarang atau menegur. Yach, meskipun harga belanjaan di sini juga sedikit bunyi (lebih mahal) dibandingkan tempat-tempat lainnya.

Ustadz Faqih yang baik hati, bawain belanjaan jamaah 😅 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagi saya pribadi, kunjungan ke Masjid Quba dan Kebun Kurma memberikan pengalaman spiritual dan wisata sejarah yang mendalam. Kedua tempat ini mengingatkan pada perjuangan awal Islam dan kekayaan alam Kota Nabi.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Umroh Istimewa (10): Suatu Pagi di Madinah

Kami setelah makan malam sebelum terbang ke Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai kami dari komplek Istana Sultan Mehmed, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Sore itu kami makan di Nusantara, sebelum pergi ke bandara. Makanan di resto ini isinya makanan Nusantara; ada soto, gorengan, mie goreng, kerupuk, ikan goreng, ayam goreng, dll yang jelas-jelas makanan Indonesia.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan bus ke bandara Turki untuk melanjutkan ke Madinah. Kami menggunakan maskapai Ajet Air. Saya lupa saat di Ajet Air ini duduk dengan siapa. Karena sebentar saja penerbangan dari Istanbul ke Madinah. Ya, dan betul sebentar saja kami sudah sampai bandara Madinah. Nggak terlalu lama di bus, kami sudah sampai di hotel kami di Madinah.

Saya dan Mbak Yuli di bandara Turki sebelum terbang ke Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ustadz Faqih di sini sudah mulai dibantu Ustadz Gilang yang jadi muthhowwib kami, selama di Madinah dan Mekkah. Di dalam bus, kami diberitahu kalau akan sampai duluan dibandingkan koper bagasi. Jadi kami bisa masuk kamar dulu, tapi semua piranti ganti baju masih di koper.

Saya satu kamar berempat dengan Bu Sida, Bu Yaya, dan Bu Prapti. Mereka sungguh ibu-ibu yang luar biasa. Semangat ibadahnya sungguh patut diacungi jempol. Pas sudah masuk kamar, sebenarnya kami masih mau nunggu koper. Tapi karena koper belum datang juga, saya menanyakan apakah kami mau sholat Shubuh di Mesjid Nabawi atau di kamar saja. Mereka memilih ke mesjid. Yo wes saya pun ikut dengan mereka.

Identitas di pintu depan hotel kami di Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bersiap dengan alat sholat, kami melangkah dengan semangat ke Mesjid Nabawi. Setelah tiba di mesjid, kami segera menunaikan sholat. Dan…. jangankan Bu Sida, Bu Prapti, atau Bu Yaya yang baru kali ini datang ke mesjid Nabawi, saya bae usai sholat ya menangis (meledak). Haru nya nggak bisa saya katakan.

Seolah-olah melihat Nabi Muhammad SAW di hadapan, diterima disambut saat datang, itu beneran bikin hati sesak oleh tangis haru. Ya Rasulullah SAW kami nantikan syafaatmu di hari Kiamat kelak. Mohon undang kami lagi ke mesjid dan tanah negerimu yang Mulia ini. Amin YRA.

Saya bersama teman sekamar, Bu Yaya, Bu Prapti, Bu Sida pagi hari saat menuju Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sampeyan mungkin pernah mendengar ungkapan, “Raga bisa kembali, tapi hati akan menetap.” Setelah menyelesaikan ibadah umroh beberapa waktu lalu, ungkapan itu terasa begitu nyata menghujam kalbu saya. Jika ditanya di mana bagian terpenting dari diri saya berada saat ini, jawabannya hanya satu: tertinggal di Madinah. Selalu begitu setiap kali usai umroh. Dan Madinah adalah kota yang versi saya, sungguh nggak bisa dilupakan dan selalu bikin rindu tiada akhir.

Sebelum tiba di sana untuk pertama kalinya, bagi saya Madinah hanyalah sebuah nama kota suci. Dan saya tidak percaya bahwa sekali kita umroh, datang ke Madinah dan Mekkah, seterusnya kita akan rindu yang nggak pernah berakhir. Mosok iyo, pikir saya. Ada berbagai tempat yang saya kunjungi, seindah apapun; nggak ada keinginan untuk datang lagi ke tempat yang sama, kecuali ada kepentingan di tempat itu.

Situasi di dalam Mesjid Nabawi saat pagi kami datang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Namun, begitu melangkah keluar dari pesawat dan menghirup udara Madinah saat pertama kali datang, saya tahu ini adalah tempat yang berbeda. Madinah adalah kota yang tenang, damai, dan auranya terasa begitu lembut, seperti pelukan dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Energi Nabi Muhammad SAW sungguh energi lembut damai yang menenangkan. Sepanas apapun kota ini di siang bolong, bisa 52 derajat Celcius, tapi rasanya tetap adem ayem karena seolah-olah ada kabut tipis yang membayangi sinar matahari ke bumi. Bagi mereka yang memiliki sensitivitas energi, biasanya bisa merasakan hal ini.

Jadi, bukan hanya karena kota ini adalah tempat suci yang menjadi tempat tinggal Nabi Muhammad SAW sewaktu hidup dan jadi makam Nabi Muhammad SAW setelah wafat, tapi versi saya ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin itu adalah kedamaian yang menenangkan, atau mungkin kerinduan mendalam yang tersembunyi di setiap sudut kota.

Kami berempat usai Shubuh di Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Momen yang paling magis, dan yang paling mengunci hati saya di Madinah khususnyaMesjid Nabawi, tentu saja adalah ketika saya berkesempatan memasuki Raudhah Syarifah. Area ini dikenal sebagai salah satu taman surga. Berada di dalamnya adalah sebuah anugerah, tempat di mana doa-doa terasa begitu dekat untuk diijabah.

Setiap langkah menuju Raudhah terasa seperti berjalan menuju pertemuan yang telah lama dinantikan. Ketika akhirnya saya bisa berdiri dan bersujud di karpet hijaunya, tangis sungguh nggak tertahankan lagi. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru dan rasa syukur yang meluap-luap. Di sanalah, saya merasa hati saya “dilepaskan” dari segala beban dunia, dan memilih untuk berdiam di taman surga itu.

Selain Raudhah, setiap momen di Madinah jadi pengikat rindu abadi untuk saya. Saat kita bisa menatap Kubah Hijau yang ikonik dari Masjid Nabawi itu serasa terapi jiwa. Warnanya yang sejuk seperti menenangkan segala kegelisahan.

Saya di halaman Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya sangat bersyukur saat di Madinah ini nyaris bisa full beribadah wajib. Sekali saja saya absen saat sholat Ashar, itu rasanya sudah bikin saya nyesel banget. Ya karena di tanah ini, rasanya hidup saya terhenti hanya untuk beribadah, menunggu dari satu waktu sholat ke sholat berikutnya.

Dan benar saat meninggalkan tempat ini, beneran bikin saya berbisik dalam hati, “Saya akan kembali lagi.” Saat ini, di tengah rutinitas harian di tanah air, saya sering mendapati diri saya mengingat kembali tentang kota Nabi Muhammad SAW ini. Hati saya yang tertinggal di Madinah kini menjadi kompas. Madinah selalu menunjuk pada satu arah: kebaikan, ketenangan, dan ketaatan.

Kerinduan ini menjadi sebuah motivasi. Motivasi untuk menjaga ibadah, memperbaiki diri, dan bekerja keras agar Allah SWT kembali mengundang raga ini untuk menyusul hati yang telah menetap di kota penuh berkah itu. Amin YRA.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: