Ari Kinoysan Wulandari
Saya seorang penulis, telah lulus dari Linguistik PhD program di Ilmu-Ilmu Humaniora, Universitas Gadjah Mada. Saya bisa menulis dengan baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kesenangan saya travelling untuk menemukan hal-hal baru dalam kehidupan. Kesibukan saya sehari-hari menulis buku dan skenario, mengajar di kampus UGM, memberi pelatihan penulisan baik secara online maupun offline, dan mengelola Griya Kinoysan University ---kampus online berbasis kemampuan dan keterampilan praktis, yang memberikan pelatihan penulisan dan yang berkaitan dengan industrinya; dan tentu saja travelling. Contact saya di +62 81380001149 atau kinoysan@yahoo.com.
= = = = = = = =
I am a writer, have graduated from Linguistics PhD program in the Humanities Sciences, Universitas Gadjah Mada. I can write well in Indonesian and English. My pleasure is traveling to find new things in life. My daily busy are writing books and scenarios, teaching on the UGM campus, giving writing training both online and offline, and managing the Griya Kinoysan University --- an online campus based on practical skills and abilities, which provides writing training and related to the industry; and of course traveling. Contact me at +62 81380001149 or kinoysan@yahoo.com.
Saya di atas pohon besar di atas Sungai Maron. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kamu wes bikin resolusi 2025? Sebagian dari kita pas liburan nataru gini, evaluasi 2024 dan bikin target 2025.
Saya? Lama jadi freelancer bikin saya “kalem”. Target- target ada, tapi lentur dengan situasi. Yo mosok, saya wes bikin target buku untuk penerbit dengan sistem royalti yang embuh kapan terbit dan dapat berapa; tetep harus saya dulukan saat ada gaweyan biografi yang jelas rampung dibayar? Tentu saya harus kompromi😀🙏
Pun tentang jumlah buku terbit, eps script yang ditulis, film yang diurus, judul yang disupervisi, dll. itu bagi saya jadi kurang signifikan. Kenapa harus ribut dengan jumlah karya, kalau 1 biografi yang dikerjakan 6 bulan bisa untuk hidup layak 5 tahun? 😀🙏
Toh saya ini pekerja keras–versi saya lho 😅 Kalau sudah dijadwalkan, ya selesai. Gaweyan dadakan itu saya sebut rezeki tak terduga 💝 Tetap dengan kontrol terbaik; ada manajer, editor, proof reader, sutradara, produser, dll yang memeriksa, mengawasi. Itu bikin saya terbiasa “terbaik”. Kerja beneran. Kalau malas kerja, ya cuti nulis dulu.
2024 alhamdulillah; 3 buku terbit, ratusan artikel pop, 6 artikel ilmiah, ngisi embuh berapa workshop lupa, ngurus script lebih sedikit daripada 2023. Masih punya utang gaweyan 2 buku dari 2 artis ibukota.
Saya sadar betul, pas akhir tahun 2023 kalau pendapatan saya akan terjun bebas. Belum ada buku baru komersial berarti nggak ada sumber uang baru. Jadi saya piknik dekat saja: Nepal van Java, Sungai Maron. Bonus ke Candi Abang. Umroh itu, saya nggak bisa mikirin. Tahu- tahu pergi, berangkat gitu aja. Alhamdulillah, saya sehat, keluarga baik-baik, gaweyan rutin ya lancar, hati dan jiwa saya ya happy ❤
2025? Tentu merampungkan gaweyan yang belum beres. Mengerjakan gaweyan baru. Bermohon saya, keluarga, kerabat, sahabat bisa lebih happy, sehat, damai, dan berkelimpahan di tahun yang baru. Amiin YRA.
Kalau kamu bikin resolusi 2025, bikinlah yang realistis. Biar bisa happy merayakan di tahun baru berikutnya.🤩 Selamat berlibur. Selamat Merayakan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025.
Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Malam harinya pas mau tidur, masalah pun muncul. Bu B bilang kalau dia tidur mendengkur, jadi kalau saya terganggu suaranya boleh setel musik atau video. Lampu mati dan bisa AC.
Saya tidur anteng, tidak mendengkur (saking tenangnya saya tidur, ponakan saya si Mail pernah membangunkan saya keras-keras dan sudah mau telpon bapaknya karena mengira saya sudah meninggal 😅), pakai AC, lampu mati.
Sementara Bu X, mendengkur super keras, nggak boleh lampu mati, nggak bisa pake AC, nggak bisa kebauan minyak urut (kayu putih, zaitun, dll). Beuuuh, saya yang tidur belakangan yang mematikan lampu, menurunkan AC ke sejuk, dan setel video biar nggak keributan dengkuran.
Kayaknya Dewangga perlu bikin form isian ke jamaah yang isinya siapa yang tidur mendengkur atau tidak, lampu mati atau terang, pakai AC atau tidak, bisa kena aroma minyak urut atau tidak; lalu digabungkan per kamar sesuai kondisi mereka. Tenan, ujian betul waktunya tidur saya nggak bisa tidur karena dengkuran dan panas ruangan nggak pake AC.
Pas di Madinah, negeri yang amat tenang, damai, sejuk di tengah panas matahari yang membara, rasa hati saya begitu tenang. Kegiatan saya yo pagi jam 3 ke mesjid, ibadah sampai Shubuh. Lalu balik ke hotel, sarapan.
Terus mandi, sholat Dhuha kalau nggak capek ke mesjid, kalau terlalu capek di hotel. Dhuhur di mesjid. Pulang makan siang, istirahat, mandi, lalu Ashar sampai Isya’ di mesjid. Pulang makan malam. Istirahat tidur. Bangun jam 3 pagi, beberes mandi, terus ke mesjid. Begitu selama di Madinah. Belanja di kiri kanan hotel saja. Ada waktunya city tour dan ke Kebun Kurma.
Saya kok lupa urutan city tour nya. Tapi yang jelas kami mengunjungi Masjid Quba, Jabal Uhud, Kebun Kurma (tempat belanja-belinji). Karena versi saya yang terpenting ibadah, minta pengampunan dosa dan pengabulan doa.
Bu X bagaimana? Ya masih dengan kerempongannya yang selalu bikin ulah, bikin kesal. Saya sudah memaafkan saja. Sakarepmu.
Kelihatannya Bu X itu kalau diajak ibadah, mageran, ada saja alasan. Tapi kalau belanja, tour, semua bisa. Saya ibadah di mesjid lebih banyak dengan Bu B.
Terhadap Bu X, saya sudah nggak ambil pusing. Termasuk ketika ybs ini tiap hari cuci gamis dan pakaian dalamnya. Sebenarnya mengganggu betul. Ya sudahlah. Cuma kok nyucinya itu tiap hari lho.
Rupanya Bu B sempat tanyain itu Bu X. Jawabannya sungguh membagongkan. Dia bawa baju cuma 2 gamis wajib, hitam dan putih, plus 1 seragam Dewangga, 1 daster; termasuk pakaian, kaos kaki, kerudungnya ya cuman 2 ndhil. Astaga…!
Sontak saja saya langsung menyeru dalam hati, “Haah?! Baju yang dibawa cuma dua setel?!” Padahal umroh 10 hari pake transit pula.
Ya ampun, bukannya sudah diterangkan di list bawaan dari Dewangga kalau pakaian yang dibawa sekurangnya 7-8 setel? Haish, beneran truwelu (terlalu) deh. Urusan dia lah. Saya cuman mikir, kopernya isi apaan? Embuh.
Saya bersangka baik. Mungkin Bu X akan belanja baju di Madinah Mekkah dan langsung dipakai. Ada kawan saya yang pernah umroh, cuma bawa baju yang dipakai, terus beli abaya murah meriah dipakai di sana, lalu dibuang. Pas pulang kopernya diisi oleh-oleh yang memang dia mau beli khusus.
Saya nggak merespon cerita Bu B. Wes malas dengar apapun tentang Bu X. Perjalanan masih panjang, drama Bu X pun belum selesai.
Salah satu situasi saat makan di hotel Mirage Al Salam, Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pulang Shubuh dari Masjid Nabawi, kami diizinkan istirahat. Koper Besar Kecil diminta ambil masing-masing di dekat lift lantai 8. Pas pembagian kunci kamar; harusnya saya satu kamar dengan Bu B, Bu C, dan emak rempong Bu X. Bu C menolak sekamar dengan kami, memilih tinggal berlima dengan relasinya.
Saya bilang kalau sekamar berlima, itu empet-empetan nggak nyaman, terus antri mandi juga lebih lama. Tapi dia ngotot nggak mau sekamar dengan kami. Saya seperti ada yang memberitahu dalam hati, kalau si Bu C ini nggak mau ikutan dimaki, diomelin, disalahkan kalau Bu X bikin kasus. Dia juga pasti dengar omelan seluruh jamaah kepada Bu X dan kami yang sekelompok, terutama kami yang sekamar.
Akhirnya, saya bertiga sekamar. Masuk kamar, saya minta izin mandi dulu. Saya bilang cuci sekaligus baju seragam karena pas pulang dipake lagi biar nggak penguk atau bau.
Usai saya mandi, ganti Bu B yang mandi. Karena saya lihat Bu X masih mager, saya nanya akan ikut sarapan atau enggak. Saya bukan pendendam, gampang memaafkan orang, tapi pasti pengingat yang baik dalam banyak hal.
Bu X bilang nggak ikut, mau makan nasi dan snack dari Dewangga saja. Dalam hati saya, apa gak wes basi ya makanan basah dari kemarin dini hari? Tapi ya sutralah, itu urusannya.
Saya dan Bu B, telat sarapan. Saya kira sarapan sampai jam 10, ternyata jam 6-8 pagi. Jadi kalau jam 8 kurang 1 menit ya wajar piranti dan makanan wes dikukuti. Tinggal ada telur rebus dan layanan minum. Saya bikin 2 gelas teh panas dan makan telur.
Oh kalau sampeyan ikut Kosudgama, tidak terjadi hal seperti ini. Karena walaupun di hotel, tapi prasmanan untuk 20 orang disediakan mandiri. Berlimpah turah-turah, buah, minuman kemasan sampai suruh bawa ke kamar. Pagi, siang, sore selalu berbeda. Waktu lebih fleksibel. Kalau ada yang tidak makan, TL nya langsung meminta dipacking dan dikirim ke kamar. Ada harga, ada beda layanan 😀
Kalau di Dewangga ini makan pagi, siang, sore, ikut prasmanan hotel. Jadi kalau telat, ya terlewat saja. Silakan cari makan sendiri. Alhamdulillah makanan di sini enak-enak. Ayam, ikan, daging sapi, daging kambing, telur; menu besarnya ganti-ganti terus. Cuman ya rame, gabung dengan jamaah dari berbagai kota dan biro umroh di tanah air.
Pikir saya pagi itu, amanlah sampai makan siang. Saya masih punya makanan kering bekal dari rumah. Lagipula samping hotel persis ada minimarket macam Indomaret. Lengkaplah kalau sekedar cari pengganjal perut.
Cuma ya harganya rada kurang bersahabat. Jus 500 ml saja 20 riyal setara 80 rb. Di Jogja itu 20 rb bae wes kemahalan. Hihi… begitupun makanan kecil kruncilan macam manisan, popcorn, roti, popmie, indomie, westalah kalau nggak terpaksa atau memang niat njajal, gak usah beli.
Pulang dari sarapan saya kudu bolak-balik ke resepsionis dulu gegara kamar terkunci, tanpa pemberitahuan dari Bu X. Mbokya japri atau info di grup kalau nitipin kunci.
Pas masuk kamar, saya mau mengeringkan seragam dengan hairdryer. Tapi pas buka pintu toilet, ampun dj puesingnya nggak kira-kira. Hampir saja saya muntah-muntah, tapi langsung keluar toilet.
Saya tanya ke Bu B, bau pesing atau tidak. Bu B bilang, tadi kita tinggal toilet nggak bau. Itu kencing kok ya nggak di toilet, nggak disiram pula.
Kami berdua kerja bakti. Mengguyur berulang kali toilet dengan air shower, menaburkan detergen, menggosok dengan alat pel (yang untungnya tersedia), lalu menyemprotkan shampo dan mengguyur ulang toilet sampai wangi.
Pas Bu X datang, Bu B mengingatkan kalau kencing atau be-a-be itu di toilet. Tahu nggak jawaban Bu X? “Aku kencing juga di toilet kok…”
Bu B diam, saya mengomel dalam hati, “Memangnya ada dhemit yang kencing di toilet hotel siang bolong?”
Jian, saya beneran istighfar bolak-balik saat umroh ini. Ujian umroh saya kali ini, sungguh dari teman sekamar. Bukan masalah ibadah, kesehatan, acara, dengan TL atau Muthowib, atau pun dengan makanan.
*Saya menuliskan ini semua, termasuk buruk-buruknya itu untuk jadi cerminan kita. Sungguh ibadah umroh dan haji itu panggilan Allah yang penuh dengan ujian sejak kita berniat, membayar, dalam perjalanan, dalam ibadah, hingga saat kembali ke tanah air.
Akuarium besar yang dijadikan patokan untuk terus keluar dari Bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Begitu turun dari pesawat, wes masuk areal Bandara Jeddah, saya celingak celinguk cari toilet. Izin TL dibolehkan, saya pun bergegas. Wes antri cukup panjang. Tapi mengingat perjalanan lama dengan bus ke Madinah, saya memilih antri.
Beres sudah. Saya balik ke rombongan. Keributan perkara haus, tidak diberi air; gegara nggak minta air di pesawat masih rame. Saya cari di mana keran air minum, “Itu Pak, Bu, air minum. Bisa diminum, bisa disimpan di thumbler.” Bergegasan orang minum air.
Semestinya kami sudah mulai jalan ke imigrasi, tapi gegara menunggu orang ke toilet; yang nggak dari awal datang cepet-cepet antri, jadi lama. Dan itu siapa penyebabnya? Si Bu X yang rempong tadi.
Sudah beres, TL wanti-wanti agar tetap bersama rombongan per kelompok. Mau ke toilet pun harus izin, biar tahu bisa enggaknya atau ditunjukkan toilet yang lebih dekat dengan urutan kegiatan.
Saya termasuk yang jalan di belakang karena mengekori kelompok. Sepertinya semua baik-baik saja. Ketika sebagian naik kereta untuk ke imigrasi inilah, sepertinya rombongan tidak bersama lagi. Karena ruang di kereta dan tempat duduknya terbatas. Jadi harus beda- beda gerbong.
Lalu kami ke imigrasi. Walaupun berusaha berkelompok, tetapi karena antrian tidak sama; petugas mengarahkan kami ke sini situ antrian yang lebih pendek. Ada yang lama, ada yang cepat di imigrasi ini. Verifikasi kan memang beda-beda.
Pas saya keluar dari imigrasi, rombongan yang ada hanya dua orang, sebut saja Pak B dan Bu Bu. Lainnya ke mana? Katanya sudah duluan pergi. Waduh, saya mulai sedikit cemas. Tapi coba membaca petunjuk di sekitaran.
Pas saya tanya TL di WAG, dijawab setelah keluar dari imigrasi, kami harus menuju pintu keluar dan setelah melewati akuarium besar, nanti jumpa Ustad Sule (muthowib) atau Tim Dewangga yang akan mengarahkan ke terminal.
Kelihatannya gampang ya, tapi karena saya juga tidak tahu utara selatan dan kudu membawa Pak B dan Bu B yang nungguin saya keluar imigrasi, agak tidak mudah bagi saya lari-lari. Untungnya Pak B dan Bu B ini tidak panikan, saya lebih tenang cari arah dan informasi.
Di HP saya itu ada aplikasi detect lokasi dan bisa memberikan petunjuk arah yang mau kita tuju saat kita mengisikan tujuan. Alhamdulillah, setelah melewati akuarium besar; mampir ke toilet –karena sudah jalan jauh juga; selamatlah kami bertiga jumpa Tim Dewangga dan diarahkan ke lokasi bus.
Sebagian jamaah sudah ada di bus, kami bertiga termasuk yang belakangan tapi belum telat karena masih ada yang di luar. Saya duduk dengan jamaah perempuan lain. Sementara Pak B dan Bu B duduk sederet.
Jangan tanya capeknya ya. Sudah malem hari, ngantuk-ngantuk, jalan jauh di bandara, cek imigrasi, masih kudu jalan lagi ke terminal bus. Weish… bagi saya yang biasa jalan dan lari bae capek, apalagi yang enggak.
Ketika dirasa semua jamaah sudah ada di bus, berangkatlah kita. Ustad Sule sedang memberi sambutan ketika menerima telepon. Badalhah, seorang jamaah ketinggalan di terminal. Bus yang sudah melaju 20-an menit itu pun balik lagi ke terminal. Siapa yang ketinggalan? Bu X, si emak rempong. Dan saat masuk bus itu, niy orang melenggang saja sungguh tanpa dosa nggak minta maaf sedikit pun pada jamaah lainnya.
Waktu jamaah di sebelah saya nanya itu kelompok 4 apa nggak ngingetin anggotanya? Saya bilang, rombongan sudah diingetin oleh TL jangan misah. Lha saya dengan Bu B dan Pak B saja juga ditinggal di imigrasi. Kalau mereka berdua nggak nungguin saya, entah apa jadinya. Kalau Bu X itu, saya tidak ingat di mana terpisah. Mungkin pas di imigrasi.
Karena ibu jamaah di samping saya ini masih ngomel saja seolah menyalahkan saya yang ternyata sekamar, tapi dianggap nggak peduli, saya langsung tegas.
“Bu, saya ini nggak kenal Bu X. Bukan anaknya, dia bukan keluarga saya. Kalau ada apa-apa sudah diingatkan dari awal, lapor TL. Kalau tertinggal tidak ada siapapun yang dikenal, kan wajibnya info di grup atau telpon TL. Bukan malah jalan sendiri kelamaan. Kalau nggak bisa jalan cepat karena nggak sehat, laporannya juga ke TL. Bukan saya yang harus urusin.” Baru si ibu ini, saya juga nggak tahu namanya mau diam.
Drama belum usai rupanya. Saat bus sudah kembali melaju kira-kira 30-an menit, tiba-tiba Ustad Jordan memberi tahu Ustad Sule kalau tas Bu X yang berisi paspor ketinggalan di bandara.
Ustad Sule yang sedang memberi penjelasan ibadah, langsung berhenti dan memerintahkan bus putar balik. Ya Gusti… ini emak rempong baru datang aja wes bikin masalah.
Kalau nggak inget ibadah, saya akan ribut dengan TL dan muthowibnya. Suruh aja Bu X balik sendiri pake taksi ambil paspornya. Bukan mengorbankan jamaah satu bus gegara kesalahan seorang.
Lama itu Ustad Jordan kembali ke bandara nyariin tas si emak rempong yang nggak tahu diri. Wes, saya bolak balik istighfar agar nggak marah kesal. Begitu Ustad Jordan kembali ke bus, Ustad Sule menarik semua tas paspor kami (yang isinya paspor, vaksin, visa, tiket, dll). Biar nggak ada kejadian setipe lagi.
Praktis 3 jam kami terbuang untuk bolak balik jalan gegara si Bu X. Sampai Madinah yang harusnya jam 2 atau 2.30-an pagi, bisa sholat malam dan Shubuh di Masjid Nabawi pun terlewat. Jam 6 kami baru tiba di Masjid Nabawi. Sholat Shubuh jamaah, tapi nggak ikut imam masjid.
Jujurly, saya wes berdoa agar si Bu X emak rempong itu nggak bikin ulah. Karena sudah cukup merugikan jamaah lainnya. Untungnya Ustad Sule dan Ustad Jordan tidak seekstrem Pak Rusli (TL di Singapore), telat, barang tertinggal, silakan naik taksi, bayar sendiri, urus sendiri. Bus tidak diizinkan balik hanya demi orang yang nggak disiplin.
Sebagian jamaah umroh Dewangga yang berangkat bersama saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Malam sebelum keberangkatan, saya tidur lebih awal. Bangun jam 2 pagi, mandi beberes, makan mie goreng, sholat, doa, ngecek ini itu, tahu-tahu wes hampir jam 4 pagi. Karena diantar adik laki-laki, lebih ringan saya. Ikut serta pula dua bocil anaknya, si Mail dan Fara, Utinya (neneknya atau mertua adik saya). Ipar saya tidak ikut karena dinas pagi.
Dari rumah saya ke Bandara YIA, sejam-lah kalau normal nggak macet. Kami bisa berangkat jam 6 kalau mau tiba jam 7. Adik saya, tetap minta berangkat jam 5. Kami sampai bandara jam 6, sejam lebih awal dari rombongan Dewangga. Masih sempat foto-foto, sarapan, makan jajanan, cerita sampai rombongan berangkat.
Jam 8 rombongan jamaah umroh Dewangga sudah ada di dalam bandara. TL kami, Ustad Jordan sudah membagikan ID card, slayer, tas kantong berisi nasi box dan snack box.
Saat itulah Ustad Jordan meminta mereka yang bawa koper kabin tapi nggak diperlukan saat terbang, bisa disertakan di bagasi bawah. Biar lebih ringan.
Saya lihat ada emak-emak sebut aja Bu X, yang selain bawa tas selempang, koper kabin, plus kresek-kresek (lebih dari 4) entah apa isinya. Diminta untuk taruh bagasi bawah oleh TL, dianya nggak mau. Pikir saya, mungkin tas kreseknya isi makanan, yang mau dimakan di pesawat. Karena ada kan, tipe orang yang mudah lapar dan harus bawa makanan minuman ke mana-mana.
Alhamdulillah, kami terbang. Dari Jogja ke Singapura. Sebentar saja. Prosesnya yang suwe. Si Bu X tetap dengan kerempongannya bawa koper kabin plus tas kresek pating crentel.
Penerbangan kami dengan Scoot, maskapai berbayar ringan dari Singapore Airlines. Baru kali ini saya pakai Scoot. Pesawatnya ya standar lah. Fasilitas memadai. Makan minum standar. Cukup baik dengan biaya yang ringan. Apalagi bagasi bawahnya yo 30 kg, bagasi kabin 7 kg, dan tas tangan. Sangat bisa dipertimbangkan untuk jadi pilihan kelas ekonomi.
Penerbangan berikutnya yang jadi banyak cerita. Kami transit sebentar di Singapura, lanjut ke Jeddah. Begitu naik pesawat, saya cari nomor kursi, lah kok sudah terisi tiga orang. Emoh beribetan karena semuanya yang duduk ngeyel nomornya benar, saya panggil pramugari. Akhirnya satu orang disuruh pindah, satu orang disuruh duduk sesuai nomor, satu orang disuruh geser; baru saya bisa duduk. Ealah, nomor kursi sudah jelas yo kok isih ngeyel. Dikira naik bus dadakan, yang duluan bisa milih tempat duduk.
Setelah taruh bagasi kabin, taruh tas selempang di bawah, duduk, pake sabuk pengaman, nonaktifkan HP, saya hendak tidur. Sebelah saya ngomong. “Bu, ini sampai Medinah 5 jam kan?”
Saya membalas singkat, “Ke Jeddah, Pak. 9 jam.”
“5 jam. Kita kan dari Singapura.”
Saya yang sedang males berdebat hanya membalas, “Oh ya.”
Saya lalu membaca, baru tidur. Kira kira wes 5 jam terbang, sebelah saya nanya lagi. “Ini sudah 5 jam, kenapa belum sampai juga, Bu?”
Lah piye to orang ini? “Masih kurang 4 jam. Itu pun kalau cuaca bagus terus.” Dia ngomong apa, saya nggak merespon.
Saya agak lupa, ini makannya dapat 2x atau 1x makan dan 1x snack. Yang jelas, kalau saya merasa kenyang terus. Minta air atau minuman juga mudah. Pramugari/a sangat cepat membantu.
Cuma ada sebagian jamaah, mungkin karena bahasanya beda, atau segan, atau entah apa; nggak minta air putih atau minum tambahan. Jadi praktis hanya dapat 2x air putih @1/2 gelas pas makan dan snack. Pas turun itu pada beributan soal air karena kehausan. Katanya di pesawat nggak dikasih minum. Laaah, piye to 😁 Padahal air putih atau minuman di pesawat ini gratis asal minta. Kalau kondisi darurat, obat P3K juga tersedia.
Terus si Bu X yang rempong itu, bawaannya yang pating cerentel sudah diletakkan di kabin oleh pramugari, diturunkan lagi. Karena mengganggu jalan untuk lewat, dinaikkan lagi oleh pramugrari. Diturunkan lagi. Begitu bolak balik dan kayaknya dikerasi sama petugas, baru nggak diturunkan. Mungkin takut ilang.
Ada lagi jamaah yang mungkin nggak tahu, biasa hidup sederhana, naik pesawat pun pake sendal jepit. Biyuu, saya wes ketarketir kalau mereka disuruh turun ganti sepatu. Lha kalau sepatunya di bagasi bawah, apa nggak jadi gawe? Biasanya disuruh beli atau nggak bisa terbang. Haish, aturan dasar bae kok ditabrak. Padahal seinget saya pas manasik wes dijelaskan oleh Ustad Pemandunya.
Kasus di toilet belum dikunci lalu beributan saat dibuka orang, ya masih ada. Kasus-kasus yang kalau saya ikut umroh dengan Kosudgama nggak bakalan ada. Rerata jamaah ya keluarga guru besar, dosen-dosen, kerabatnya, dll relasinya yang umumnya wes biasa bepergian jauh dengan pesawat. Inilah serunya kalau perjalanan umroh massal, bukan privat. Macam-macam saja karakter orangnya.
Pas turun pesawat pun tak kalah hebohnya. Saya sudah bilang ke sebelah, agar sabar tunggu sampai pesawat mendarat sempurna. Baru ambil tas bawaan, tapi wes ngeyel bae mendesak saya berdiri dari kursi. Saya pun berdiri, dan dia langsung buka kabin atas, tarik tas-tasnya.
Padahal lho, biasanya kalau pesawat masih bergerak itu ada 20-an menit lagi sampai kita diizinkan turun. Saya yang wes duduk lagi, nggak mau berdiri balik agar dia bisa duduk di kursinya kembali. Sungguh membagongkan. Jarene wes biasa pergi pake pesawat, tapi kelakuannya nggak mencerminkan omongannya.
Dan begitu turun, mendarat di Jeddah, mulailah banyak kisah penuh drama yang harus saya saksikan.
Air Zamzam 5 liter dalam wadah galon yang umum. Ini biasanya kita peroleh saat umroh atau haji. Ada juga yang versi lain bentuk jerigen minyak ukuran 5 liter atau 1 liter. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Umroh nggak lepas dari urusan uang saku, jaringan internet untuk komunikasi, dan oleh-oleh. Sebenarnya kalau biro umroh yang kita pilih profesional yang sudah memasukkan semua komponen dari berangkat sampai pulang wes masuk charge (kita bayar, mereka tanggung), nggak bawa uang saku pun sudah aman.
Dewangga juga sudah menanggung semuanya. Bahkan transport pp bandara pun disediakan dari kantor ke bandara dan sebaliknya. Ini membantu sekali, karena bandara di YIA itu sekarang jauh. Dari rumah saya saja naik grab 250-300 rb. Pp ya wes jelas lumayan. Itu sebabnya alternatif saya kalau tidak diantar, ya naik kereta bandara. Dengan grab sekitar 70 rb saja.
Cuman ya namanya bepergian, tetap lebih bagus kalau bawa uang cukup. Buat jaga-jaga. Kalau tiba-tiba pingin jajanan khas Madinah Mekkah, barang lucu lucu, panggilan roaming, laundry, taksi, oleh-oleh, dll.
Lalu berapa uang saku yang harus disiapkan? Bebas, secukupnya semampu sampeyan masing-masing. Uang riyal Arab Saudi setara 4 rb rupiah dengan pembelian antara 4,2 sd 4,7 rb. Jadi silakan itung sendiri keperluan sampeyan.
Kalau nggak mau tukar, uang 100rb dan 50rb laku untuk transaksi di seluruh Mekkah dan Madinah. Kalau tukar ya bisa di bank syariah atau money changer terdekat. Jangan pas di Arab atau di bandara, nilai beli lebih mahal. Oh iya ambil uang di ATM Arab juga bisa, tapi pastikan ATM sampeyan sudah berlogo mastercard atau visa ya. Ini bisa untuk ambil uang ataupun bayar via debet.
Dan jangan khawatir soal belabeli belanja atau pembayaran, karena kita akan ketemu banyak toko dan pedagang yang fasih bahasa Indonesia, bahkan bisa bahasa Jawa. Jadi kalau hanya soal bayar pakai apa pun, mereka wes paham. Tapi yang paling umum ya tunai, baik pakai riyal atau rupiah.
Terus soal Internet Luar Negeri. Ini penting, ya karena sekarang kita komunikasi mayoritas pake WA, keperluan internet jelas vital. Bagi mereka yang pengguna pasca bayar seperti saya, sebenarnya tinggal mengaktifkan mode roaming; semuanya sudah beres.
Namun karena mode ini bisa bikin tagihan melonjak; saya pilih membeli nomor paket internet luar negeri sesuai waktu kunjungan. Karena umroh 10 hari, saya pilih 12 hari dengan 12 GB. Ada jeda 2 hari untuk jaga-jaga. Murah ini hanya 350 rb an plus harga no perdana. Sekalian minta registrasi dan aktivasi. Wes beres.
Karena 12 GB itu sedikit sekali, saya menggunakan akses Internet bandara atau hotel pas membuka video atau foto-foto. Pas akses pakai kuota, pembuka video dan foto tidak saya aktifkan; karena dua hal ini sangat menyedot kuota.
Sampeyan bisa datang ke gerai layanan resmi provider masing-masing untuk membeli paket internet ini. Lebih dekat hari keberangkatan lebih bagus. Pilih sesuai kebutuhan. Pastikan juga anda catat cara aktivasi biar nggak bingung kalau mengaktifkan saat tiba di Arab.
Berikutnya oleh-oleh. Biyuuu, di kampung ibu saya; kalau orang mau umroh itu, apalagi sekeluarga besar, pasti ada selamatan dulu; makan-makan, minta doa, pamitan. Iki wes biaya lagi. Lalu nanti pas pulang umroh juga ada selamatan syukuran, bagi-bagi oleh-oleh umroh, dan ucapan terimakasih. Biaya lagi.
Jadi umroh itu memang jihad harta tenan; 30-an juta untuk umrohnya (tidak termasuk bikin paspor, meningitis, internet, transport bandara pp, perlengkapan umroh yang harus kita sediakan pribadi), selamatan 2x bisa 10 juta (kalau ini saya enggak, karena di Jogja lingkungan saya nggak ada tradisi ini), oleh-oleh bisa juga 10 juta. Belum uang saku kita, misal 2-5 juta untuk 10 hari.
Westalah, kalau saya mikirin logika nalar pun, nggak bisa ngitung saya piye cukupnya, yang tiap kali dapat duitnya sedikit demi sedikit.😁Pokoknya saya selalu berdoa; ya Allah cukupkan, mudahkan. Wes gitu aja sejak terbersit niat umroh. Alhamdulillah ada saja jalan rezekinya. Jadi teman-teman nggak usah cemas, karena Allah akan cukupkan bagi siapa saja yang dipanggil haji atau umroh.
Berikutnya oleh-oleh. Soal ini ada yang fanatik kudu dibeli di Tanah Suci. Hayaaa, bagasinya bisa kena charge berlipat. Kalau saya wes praktis saja, pesan di toko oleh-oleh haji umroh, bayar, pesanan datang. Nggak ribet, nggak pusing bagasi. Pas pulang umroh tinggal membagikan saja. Tentu ada yang memang khusus dibeli di sana karena nggak tersedia di Indonesia atau permintaan khusus.
Itu yang bikin saya tenang di Tanah Suci. Fokus ibadah. Nggak kemrungsung belanja mikirin oleh-oleh buat orang lain. Pun di keluarga kami semua sudah tahu, nggak minta oleh-oleh pada yang bepergian. Karena kita juga ngerti yang bepergian apalagi umroh itu; belum tentu uangnya turah-turah, kadang yo terbatas. Kecuali ada yang nitip, terus transfer, dan bukan barang yang sulit diperoleh. Itu biasanya bisa kita maklumi.
Petunjuk atau Panduan dari Dewangga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Jujurly, umroh kali ini bagi saya seperti ya wes pergi saja. Nggak bisa saya jelaskan, seolah sudah begitulah adanya. Setelah terima perlengkapan umroh Dewangga (koper besar, koper kabin, tas selempang, tas sepatu atau sendal, mukena lengkap tutup tangan, kerudung, aneka panduan, dll.).
Saya tanya, bagasi besar dapat berapa kg. Jawabnya 30 kg. Saya pertegas lagi; 30 kg sudah include air zamzam atau belum. Jawabnya sudah. Berarti maksimal saya bisa isi koper besar ini 20 kg, 5 kg untuk zamzam, 5 kg kalau beli ini itu kruncilan lucu-lucu yang sering beranak pinak 😁😆
Dewangga sudah rapi sekali memberi petunjuk list isi bagasi bawah apa, bagasi kabin apa, tas selempang atau tangan apa saja. Saya pun nyiapinnya lebih gampang. Karena ini umroh 10 hari transit 2x di Singapura; saya memutuskan untuk membawa 10 stel baju ibadah dan 2 stel baju harian; tentu nggak lupa piyama untuk tidur. Saya mencatatkan di sini agar mudah jadi acuan kalau ada teman-teman yang baru mau umroh. Meskipun sepele, packing dan bawaan ini bisa jadi gawe kalau nggak bener.
Koper Besar (Bagasi Bawah): kalau sebelumnya saya selalu menyiapkan baju baru, umroh kali ini saya hanya menjahitkan baju seragam dari Dewangga. Saya ambil gamis-gamis yang saya pakai umroh sebelumnya (terus disimpan saja). Ada 3 yang bisa saya pakai. Ditambah gamis wajib hitam dan putih (biasanya yang sudah pernah umroh pasti punya), plus seragam wes ada 6. Saya tinggal nyari 4 dari tumpukan gamis baru hadiah sana sini (yang belum terpakai) karena sehari-hari saya nggak pakai gamis 🙏Saya coba ada yang pas dan enak dipakai, saya cuci setrika. Wes beres 10 stel. Tambah baju harian 2 stel untuk jaga-jaga. Tidak lupa 2 piyama dan 2 kaos untuk tidur.
Secara prinsip ini wes beres. Saya tinggal menambah kerudung, ciput (daleman kerudung), kaos kaki, celana panjang, pakaian dalam, pantyliner, peniti bros dll. Saya mengemasnya per pax untuk sehari, lengkap dari ujung rambut ke ujung kaki.
Tiap pax saya tandai Madinah 2, Madinah 3, Madinah 4, dst sampai balik. Jadi pas baju habis dipakai, setelah diangin-anginkan saya masukkan kembali ke wadahnya. Wadah ini bisa dicuci, bisa dipakai lain waktu. Praktis, rapi, ekonomis. Piyama, kaos, manset, handuk dll kain saya packing terpisah.
Jadi ya perlengkapan baju dll untuk umroh nggak harus baru (karena ini butuh duit banyak), tapi pakailah milikmu yang terbaik dan paling nyaman. Umroh kali ini, yang saya beli baru itu 12 set pakaian dalam, 12 pasang kaos kaki. Saya membeli per 3 set sebanyak 4x biar terasa ringan. Saya cuci setrika dulu, sebelum masuk pax masing-masing.
Perlu juga bawa mantel hujan yang praktis, kacamata hitam, topi, gunting, selotip/lakban. Ini sesuaikan dengan keperluan masing-masing.
Obat-obatan: bawa semua obat (termasuk multivitamin yang biasa sampeyan konsumsi). Saya bawa banyak, tapi mayoritas obat warung; paracetamol, bodrex, decolsin, salonpas, pegal linu, komik, CDR, balsem geliga, minyak kayu putih, minyak zaitun, obat merah, penutup luka, dll. Pokoknya komplet saya hitung 3x sehari untuk 10 hari. Sampeyan bisa menyesuaikan.
Peralatan mandi: standar saja. Handuk, sabun, pasta gigi dan sikat gigi, shampo, pembersih wajah. Plus pembalut dan pantyliner untuk jaga-jaga kalau pun tidak sedang haid. Tambahkan detergen ukuran kecil kalau diperlukan darurat.
Tabir surya: pelindung panas matahari, pelembab, handbody, lipcare, botol spray kosong untuk diisi air zamzam untuk semprot muka dan tangan. Sesuaikan keperluan.
Lalu kruncilan lain: buku-buku panduan ibadah; notes dan bolpoin; 2 thumbler kosong 500 ml. Ini biasanya saat pulang saya isi air zamzam; 1 dari Madinah, 1 dari Mekkah. Aman? Oh jelas aman. Dibongkar diributkan di bandara kalau sampeyan bawa lebih dari 5 liter air zamzam secara ilegal. Disuruh buang. Kalau seperti saya aman. Petugas juga tahu kalau sedikit ya untuk diri sendiri, bukan diperjualbelikan. Tahu sendiri harga air zamzam di Indonesia 😁
Tas wadah sendal atau sepatu, gantungan baju atau hanger (bisa bawa 2-4 sesuai kebutuhan), tas lipat, tas plastik untuk barang basah, sandal, tissue basah, handsanitizer, dll. sesuai keperluan.
Koper Kabin: ini saya nggak bawa dari Dewangga. Kopernya bae wes 2 kg. Padahal maks hanya 7 kg. Jadi saya pakai backpack pribadi. Lebih ringan, gendong di punggung dan masuk bagasi kabin. Ini isinya 2 stel baju harian, mukena dan sajadah, payung, obat-obatan (jaga-jaga kalau belum bisa buka bagasi bawah), permen, makanan kering, copy identitas (paspor, visa, buku vaksin, ktp, buku rekening, nomor kontak darurat; dimasukkan kantong plastik, rapi aman dari air), power bank, kaki tiga (adaptor universal), charger HP. Wes ini nggak ada 4 kg. Jadi ringan dan masih ada ruang kalau belabeli kruncilan dadakan.
Tas selempang atau tas tangan: ini saya juga nggak bawa yang dari Dewangga karena kekecilan. Tas ini yang kita bawa ke mana-mana, bahkan sholat di mesjid pun kalau bisa tetap nempel di badan. Isinya HP, dompet uang, tas paspor dll identitas, kantong alat make up, thumbler isi air, makanan ringan, permen, obat ringan, outer atau jaket ringan kalau udara terlalu dingin.
Begitu semua isian tersedia; saya tinggal memasukkan. Sejam beres, kunci (pastikan pakai gembok); karena kalau password dengan lempar-lempar bagasi, sering berubah dan malah bisa sulit dibuka); kasih tanda yang mudah diingat dan nama yang cukup terbaca. Lalu koper besar saya antar ke Dewangga beserta paspor, buku vaksin. Beres sudah, tinggal siap-siap berangkat.
Pastikan bawaan sampeyan cukup 3 (koper besar, koper atau tas kabin, tas tangan atau selempang) itu saja biar gampang mengingat. Pastikan juga tidak overload. Kelebihan bagasi yang kelewat banyak akan dikenai charge —yang nggak murah.
Cek-cek penerbangannya, ukuran bagasi bawah berbeda; ada yang 20, 25, 30, 35 bahkan 42 kg tergantung maskapai. Kalau bagasi kabin rerata sama 7 kg. Tas tangan atau selempang ya secukupnya. Kalau terlalu besar nanti malah dianggap bagasi kabin, ditimbang juga kalau berlebih.
Intinya, sesuaikan kebutuhan dengan aturan biro yang anda pilih. Ukur-ukur diri sampeyan; kalau misalnya bawa semua barang itu sendiri harus terasa ringan dan tidak memberatkan. Ingat kita mau ibadah, bukan gotong-gotong barang berat 😁🙏