Waktu Yang Tepat

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sering kali kita bertanya-tanya, kapan waktu yang tepat untuk memulai sesuatu?

Apakah menunggu momen ideal adalah keputusan yang bijak, atau justru kita harus segera bertindak tanpa ragu?

Jawabannya bergantung pada apa yang ingin kita mulai dan bagaimana kita mempersiapkan diri.

Berikut beberapa pertimbangan penting dalam menentukan waktu yang tepat untuk memulai sesuatu, baik itu proyek, bisnis, kebiasaan baru, atau perubahan hidup lainnya.

  1. Jangan Menunggu Sempurna, Mulailah dengan yang Ada

Banyak orang terjebak dalam “paralysis by analysis”—terlalu banyak berpikir dan menunggu momen sempurna hingga akhirnya nggak pernah mulai.

Kenyataannya, momen sempurna jarang datang. Sebagian besar kesuksesan datang dari mereka yang berani mulai dengan sumber daya yang ada, lalu memperbaiki dan beradaptasi seiring perjalanan.

Contoh: Jika ingin memulai bisnis, sampeyan tidak harus menunggu modal besar atau rencana sempurna. Mulailah dengan langkah kecil, uji ide sampeyan, dan kembangkan perlahan.

  1. Awali dengan Motivasi yang Jelas

Sebelum memulai sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya ingin melakukan ini? Motivasi yang kuat akan membantu sampeyan bertahan di saat menghadapi tantangan. Pastikan alasan sampeyan jelas dan cukup kuat untuk menjadi bahan bakar perjalanan.

Contoh: Jika ingin mulai berolahraga, jangan hanya karena tren, tapi karena sampeyan ingin hidup lebih sehat dan bugar dalam jangka panjang.

  1. Manfaatkan Momentum dan Energi

Ada kalanya kita merasa sangat termotivasi untuk memulai sesuatu. Inilah saat terbaik untuk bertindak! Momentum adalah faktor penting yang bisa mempercepat langkah awal dan membantu kita tetap konsisten.

Jangan menunda ketika semangat sedang tinggi, karena semakin lama menunda, semakin sulit untuk mulai.

Contoh: Jika setelah membaca buku inspiratif sampeyan merasa terdorong untuk menulis, segera ambil kertas atau laptop dan mulailah menulis, meskipun hanya beberapa paragraf.

  1. Perhatikan Kondisi dan Kesempatan

Meskipun nggak perlu menunggu momen sempurna, tetap penting untuk memperhitungkan kondisi eksternal yang dapat memengaruhi keberhasilan sampeyan. Beberapa keputusan memerlukan perencanaan yang matang agar lebih efektif.

Contoh: Jika ingin memulai bisnis musiman seperti jualan baju Lebaran, maka waktu terbaik untuk mulai adalah beberapa bulan sebelum Ramadan, bukan setelahnya.

  1. Gunakan Prinsip “Mulai Sekarang, Sempurnakan Kemudian”

Banyak orang sukses yang memulai sesuatu tanpa perencanaan sempurna, tapi mereka terus belajar dan menyesuaikan diri sepanjang perjalanan.

Jangan takut memulai hanya karena merasa belum siap. Yang penting adalah mengambil langkah pertama dan terus berkembang.

Contoh: Jika ingin belajar bahasa asing, mulailah dengan kosakata dasar dan percakapan sederhana. Jangan menunggu sampai sampeyan merasa siap berbicara dengan lancar.

Waktu terbaik untuk memulai itu ya sekarang
Jika sampeyan masih ragu, ingatlah bahwa semakin lama sampeyan menunda, semakin kecil kemungkinan sampeyan untuk benar-benar memulai. Ambil langkah pertama, atur strategi, dan biarkan proses berjalan.

Nggak pernah ada waktu yang benar-benar sempurna, tapi setiap langkah kecil yang sampeyan ambil hari ini akan membawa sampeyan lebih dekat ke tujuan.

Jadi, apa yang ingin sampeyan mulai hari ini?

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Baitullah: Rindu Tiada Bertepi

Ka’bah yang jadi kiblat ibadah umat Islam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hari ini sejak pagi saya wes menulis. Cukup banyak lembaran berganti. Kalau kemarin masih setengah mageran, banyak nonton, sedikit nulis. Saya maklumi saja. Ada masanya yo malez juga 😆

Eh lha pas break nulis kok ya timeline sosmed saya isinya seliweran foto-foto Baitullah. Wah, rindu saya pun menjadi-jadi. Ya Allah, rasanya pingin nangis aja dan ya nggak sadar saya wes nangis beneran. Rasa rindu yang nggak karuan mendesak-desak untuk segera kembali ke Tanah Suci 😭

Saya, seperti juga jutaan umat Islam di seluruh dunia, Baitullah bukan sekadar sebuah tempat fisik. Ini jadi simbol cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta.

Setiap detik, ratusan bahkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berdoa, bersujud, menangis, dan bermunajat di depan Ka’bah, menyampaikan segala harapan, keluh kesah, dan rasa syukur.

Baitullah menjadi pusat spiritual yang memanggil hati setiap Muslim, mengingatkan mereka pada tujuan hidup sejati: kembali kepada Allah.

Kerinduan kepada Baitullah adalah rindu yang tak terdefinisikan. Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, Baitullah terasa seperti mimpi yang selalu dirajut dalam doa.

Harapan untuk bisa bersujud di sana, merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram, serta menyaksikan keagungan Ka’bah adalah cita-cita yang terpatri dalam hati.

Sementara bagi mereka yang pernah menjadi tamu Allah, kerinduan itu tak pernah pudar, bahkan sering kali semakin membara setelah kepulangan mereka.

Mengapa rindu kepada Baitullah begitu mendalam? Sebagian mungkin berkata bahwa tempat ini adalah pusat dari semua doa, kiblat yang menyatukan seluruh umat Islam di dunia.

Namun lebih dari itu, berada di depan Ka’bah memberikan rasa tenang yang tak tergantikan. Di tengah kesibukan dunia yang sering kali membuat hati gersang, Baitullah hadir sebagai oase yang menyejukkan jiwa.

Beribadah di Tanah Suci juga mengajarkan makna kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa.

Semua mengenakan pakaian yang sama, memusatkan hati hanya kepada Allah. Di hadapan Ka’bah, semua manusia berdiri sejajar, merasakan kebesaran Allah yang Maha Esa.

Kerinduan kepada Baitullah bukan hanya soal ingin berada di sana secara fisik, tetapi juga panggilan hati untuk selalu mendekat kepada Allah.

Bahkan, bagi yang belum memiliki kesempatan untuk datang, doa dan zikir yang diucapkan dengan tulus sudah menjadi jalan untuk merasakan kehadiran-Nya.

Baitullah adalah tempat yang mengajarkan kita untuk melepaskan ego, memohon ampunan, dan menemukan ketenangan sejati.

Rindu ini tak akan pernah bertepi, karena ia bersumber dari cinta kepada Sang Pemilik Ka’bah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya, menjadi tamu-Nya di Tanah Suci, dan merasakan nikmatnya bersujud di depan Baitullah. Amin.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Menulis Paragraf Pertama

Cerita Rakyat Maluku. Pesan buku cetak wa.me/6281380001149. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagian yang paling sulit dari penulisan umumnya menulis paragraf pertama atau memulai. Tips ini mungkin bisa membantu:

1. Carilah sebuah paragraf pertama dari berbagai buku yang anda rasa ingin menuliskannya seperti itu. Kaji dan pelajari betul, lalu terapkan pada objek materi yang sedang anda tulis.

2. Setiap kali memulai naskah baru dan kembali “kesulitan” lakukan lagi cara yang pertama. Kalau bisa kita memiliki “deposito paragraf pertama” yang isinya hanya paragraf-paragraf pembuka, yang bisa kita cek dan pelajari kapan saja.

3. Ketika paragraf pertama selesai anda tulis, biarkan saja. Tidak usah merevisinya dan teruskan menulis.

4. Pada saat selesainya naskah, mungkin anda perlu ekstra waktu untuk merevisi paragraf pertama sebelum jadi “paragraf kesayangan” anda.

5. Berlatih terus akan membuat penulisan paragraf pertama sampai jadi gampang dan akan lebih gampang untuk memulai setiap kali penulisan baru.

    *Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok!
    *Jadi Penulis Skenario? Gampang Kok!
    *Jadi Penulis Nonfiksi? Gampang Kok!
    *Jadi Penulis Produktif? Gampang Kok!
    Pesan buku wa.me/6281380001149.

    Ari Kinoysan Wulandari

    Please follow and like us:

    Long Weekend, Ngapain Aja?

    Flaurent Salon. Tempat langganan saya sejak tahun 2010-an untuk perawatan badan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

    Libur panjang Sabtu s/d Rabu atau lima hari, bagi orang Jogja kayaknya biasa aja. Sedari pagi saya keluar rumah, melihat toko-toko kelontong yo tetep buka. Orang jualan hilir mudik. Yang punya usaha bengkel, service laptop, kerajinan, dll ya tetep buka. Nggak libur. Apalagi mereka yang bisnisnya di dunia pariwisata. Libur panjang waktunya meraup rezeki nomplok.

    Rencananya pas liburan panjang ini, saya mo jagain tukang yang akan beberes beberapa bagian di rumah. Cuman karena tukangnya lagi dipake di rumah mertua adik saya, dengan gaweyan yang lebih urgent, jadi tempat saya pun mundur.

    Berusaha cari tiket pulang kampung yang sesuai kantong saya kok wes amblaz. Iyalah, libur gini kan kudunya pesen tiket dari jauh hari. Dadakan adanya ya harga-harga yang masih terasa eman-eman kalau saya bayar 😂

    Ibu saya justru bilang nggak usah pulang. Ntar sekalian aja pas ruwahan; nyekar, ikut selamatan, mandi adat, persiapan Ramadan. Jadi saya pun segera mengganti acara. Menikmati hidup, menyenangkan diri sendiri.

    Saya reservasi untuk perawatan badan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Massage seluruh badan selama 1 jam, body spa, hair spa dan perawatan rambut, facial dan totok wajah, ratus, plus meni pedi. Komplit dan suwe.

    Hampir seharian saya di Flaurent Salon. Tempat yang wes jadi langganan saya sejak 2010-an saat saya kudu bolak-balik Jogja Jakarta. Terutama untuk massage seluruh badan. Sungguh pas dan cocok di tubuh saya.

    Saya mensyukuri berkat Tuhan pada hidup saya dengan cara merawatnya baik-baik. Makan sehat, hidup sehat, olahraga, check up kesehatan, laku ibadah, piknik, meditasi, dll aktivitas positif yang saya pahami sebagai wujud terima kasih saya atas semua anugerahNya.

    Wajah saya jelas nggak secantik artis-artis ibukota. Tubuh dan postur saya jelas jauh dari kategori ideal, apalagi kelas peragawati. Toh semua yang diberikan Tuhan itu sungguh luar biasa.

    Tubuh dan fisik keseluruhan yang sudah “sempurna” membawa saya menjalani hidup hingga nyaris paroh abad ini. Luar biasa dengan beragam jatuh bangun ekonomi dan masalah kehidupan; tubuh fisik, mental, spiritual saya tetap kokoh kuat, jarang sakit yang beribetan. Ya kalau sakit ringan, capek, drop karena beda cuaca, dll itu jelas wajar. Manusia ini, bukan robot.

    Dan saya yakin, di luar semua penjagaan diri yang saya lakukan; yang terbesar adalah “penerimaan” dan “syukur” saya atas apapun yang terjadi dalam hidup. Pahit getir beratnya masa lalu, kalau sekarang saya ingat, kok ya baik-baik aja.

    Lepas perawatan yang bikin badan saya enteng dan rileks; saya makan sate, gule, tongseng, kronyosan, sekomplitnya. Sampai beberapa orang melongok ke arah saya makan. Mungkin karena banyak macam porsi saya pesan dan nggak ada orang lain.

    Habis? Ya jelas, saya kan bisa mengukur seberapa banyak porsi yang bisa saya habiskan. Lagi pula porsi sate dll olahan kambing di Jogja itu kan mung sithik-sithik. Sate aja seporsi isinya cuman 2 tusuk, tiap tusuk dagingnya mung 3 potong pulaaak. Mana cukup buat pecinta sate kek saya 😂

    Dan syukur alhamdulillah, saya masih boleh bebas makan semua olahan daging dll dengan kandungan kolesterol atau asam urat tinggi tanpa khawatir. Teman-teman sebaya banyak yang iri dengan kondisi saya ini 😅

    Habis itu saya nylingker ke supermarket. Belanja camilan, makanan frozenan, buah-buahan, dan aneka isian kulkas. Nggo bahan bakar saat saya “bertapa” beberapa hari untuk merampungkan tulisan pribadi saya. Novel yang sudah lama belum kelar 😆😅 dan tentu gaweyan kruncilan yang belum beres.

    Untung minggu kemarin saya wes ke Bromo dengan sukacita. Energi kegembiraan itu terasa masih melimpah ruah. Menulis dalam suasana hati gembira itu hasilnya beda. Tenan.

    Setelah itu ngapain? Yo pulanglah. Mosok thenguk-thenguk di tempat belanja? Kek kurang kerjaan bae 🤣 Sampai di rumah, saya memasukkan semua belanjaan ke tempatnya dan bersiap memulai long weekend dengan menulis. Pasti kesela juga nonton serial, entah dracin, drakor, atau film film lepas.

    Jadi kalau kamu long weekend di rumah aja, menghindari keribetan ramenya jalanan karena liburan atau alasan lain, yo santai aja. Cari aktivitas yang positif.

    Misalnya beberes dan bebersih rumah. Main dengan keluarga di sekitaran aja. Bikin acara masak bersama. Nobar di rumah dengan desain ala bioskop. Beresin gaweyan yang ketunda. Baca buku-buku. Dll.

    Intinya, versi saya long weekend ya nggak selalu kita harus ikut arus keluar rumah untuk piknik. Yang penting nikmati hidupmu, syukuri berkatmu, dan sehat-happy selalu ❤️

    Ari Kinoysan Wulandari

    Please follow and like us:

    Menawarkan Jasa Menulis

    Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

    Pingin nawarin jasa menulis untuk orang-orang atau calon klien potensial? Cek-cek yang harus kita perhatikan.

    1. Buku karya kita adalah bukti yang tak terbantahkan. Karenanya mau anda jadi ghostwriter, jadi penulis buku biografi, tetep wajib punya buku yang nangkring di toko buku. Biar bikin promosi atau proposalnya gampang. Selain itu kalau punya buku, kita juga gampang ngasihnya. Terus calon klien juga bisa baca-baca cocok tidaknya dengan gaya tulisan kita.

    2. Blog dan sosmed kita yang ada beragam tulisan, juga bisa jadi acuan seseorang akan menggunakan jasa kita atau tidak. Blog dan sosmed kita nggak harus “aktif” banget, tapi cukuplah kalau diupdate per minggu.

    3. Cara menawarkan jasa kita bisa dengan beragam cara. Mengirimkan surat perkenalan dan proposal via email sering dianggap sebagai cara yang mudah.

    4. Namun kalau pas di pertemuan tertentu jumpa dengan calon klien, bilang dan tawarkan saja. Mereka pasti senang. Oh ya, rata rata orang penting senang jumpa penulis karena mereka sering nggak sempat menulis. Ingat ya, nggak sempat, bukan nggak bisa.

    5. Saya, dengan latar etnis Jawa yang melekat dengan budayanya —yang nggak terbiasa dengan memamerkan diri seluruh kemampuannya, termasuk jarang menghubungi orang untuk menawarkan ini itu jasa yang kami sediakan.

    Bukan karena tidak mau begitu, tapi karena masih banyak pe er gaweyan yang belum selesai. Menambah orang, belum tentu cocok cara nulis dan kerjanya.

    6. Tapi sesekali saya akan menghubungi orang orang yang saya anggap potensial. Kalau sudah ada klien, ya nggak usah serakah mencari terus. Bikin naskah pesanan klien itu cukup melelahkan. Kita nggak bisa sembarangan nulis semaunya kita. Harus nurut mereka maunya gimana. Kalau serakah ntar malah bubrah atau tidak jadi dan bikin kredit point kita buruk di mata klien.

    7. Saya nggak tahu anda model penulis yang mana. Yang jelas menawarkan jasa itu penting. Karena klien dengan naskah pesanannya itulah yang biasanya bikin penulis punya banyak duit. Kita bisa nego harga sebebasnya. Syukur banget kalau dapat klien yang royal, wes manut saja dengan harga kita. Cuman yang begini ini sesekali saja 😅😂

    8. Yang penting sopanlah saat menawarkan jasa. Jangan ngotot. Klien yang memang serius pasti akan cari kita. Apalagi kalau cocok model tulisannya.

    Yeach, tapi ini butuh lebih dari sekedar kemampuan menulis. Butuh pribadi dan karakter yang baik. Butuh sikap mental yang kuat. Karena menghadapi klien berduit itu beda dengan menghadapi penerbit yang nggak secara langsung membayar penulisnya.

      Selamat mencoba 😀🙏

      Ari Kinoysan Wulandari

      Please follow and like us:

      Bromo (10) Terimakasih, Ceria ❤

      Ini TL Ceria yang mengawal pas saya ikut trip ke Magelang, Pacitan, dan Bromo. Saya memanggilnya Mas Brian. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

      Saya ikut open trip (OT) Ceria pertama itu ke Magelang, karena mereka punya destinasi Nepal van Java. Waktu itu ya belum kenal, cuman lihat foto-fotonya bagus (maturnuwun Mas Shidiq dan Mas Gama), terus respon adminnya cepat. Ditanyain apa-apa paham dan kesan positif.

      Ya wes, saya bayar DP nya (ya ampun, di Ceria itu dengan trip yang istimewa, bayarnya ringan masih boleh dicicil pulak); dan saya lunasi pas berangkat. Karena ya belum kenal toh. Dalam hati saya, kalau ada apa-apa sekurangnya daerah Magelang masih kejangkau kalau saya pulang pake mobil online.

      Alhamdulillah, saya happy gembira pas ke Nepal van Java meskipun ya gempor tenan kaki saya 😆😂 Fotonya bagus-bagus. Tripnya seru dan fun. Pas itu grup saya generasi kasepuhan, isinya orang 60-65 tahun yang memang doyan piknik. Jadi saya berasa malu kan, kalau saya nggak sekuat mereka yang jalan sampai ujung atas Nepal van Java.

      Kedua ke Pacitan. Karena wes kenal di sini saya bayar bae langsung lunas, termasuk yang ke Bromo. Versi saya, trip ke Pacitan ini lebih seru karena orangnya lebih banyak. Susur sungai Maron yang eksoktis dan eksplore Goa Gong yang bikin lelah jiwa raga dan berasa ploooong banget begitu keluar dari goa. Seru, lucu lucu juga pose foto-fotonya dan menyenangkan.

      Ketiga ke Bromo. Seru dan fun-fun aja meskipun ada gangguan di bus dan jeep. Kekuatan jalan tiap orang yang nggak sama aja yang bikin sedikit tersendat. Tetap versi saya, trip ke Bromo menyenangkan secara keseluruhan.

      Saya malah sempat rerasan dengan Pak Chin, kalau nggak bisa ngitung gimana OT Ceria mo untung 😅😂 Lha kita naik kereta bisnis aja Jogja Malang PP wes sekira 700 an rb lebih. Naik bus sendiri aja juga sudah berapa. Mumet mikirin untuk ngatur semuanya.

      Kawan yang lain bilang karena baru pertama ikut Ceria, dia milih karena OT Ceria paling murah dan paling banyak destinasi wisata dibandingkan lainnya. Wah, kalau ini jelas newbie tenan. Kita kalau yang wes biasa jalan pake biro, harga murah itu satu point; tapi profesionalisme dan baiknya layanan yang terjamin aman nyaman, itu lebih penting.

      Dan OT Ceria memenuhi kategori layak untuk semua layanannya sedari awal. Waktu saya masih nanya-nanya dulu itu, terasa banget kalau adminnya hanya ingin memberikan info yang jelas. Dia nggak terpikir apakah saya akan join atau enggak. Dia wes profesional, memberikan info yang saya perlukan dengan cepat, praktis, solutif.

      Masalah biaya ringan, isih bisa dicicil dengan layanan prima, itu juga jadi pilihan saya untuk kembali pake OT Ceria. Ke Dieng belum pernah pake, karena saya wes bolak-balik ke daerah ini. Tapi yo mungkin nanti bisa ikut lah kalau waktunya cocok. Hobinya di Ceria ini kan trekking yang bikin kaki kuat, hahaha😂

      Berikutnya, OT Ceria ini menawarkan destinasi yang nggak semua biro ada. Ke Magelang, cek saja nggak semua bawa kita ke Nepal van Java. Medan sulit, biaya besar. Ke Pacitan ada sungai Maron, ini yo eksplore nggak murah terus cukup berisiko.

      Bromo ada destinasi ke Kawah, itu kalau saya pribadi tepat waktu, pasti sampai ke sana juga. Mung wes gempor habis energi saya di Seruni. Juga karena perjalanan panjangnya dari Jogja ke TKP itu saja wes makan energi.

      Lainnya, oh semua kru baik, tanggap, responsif. Dan terutama versi saya yang terpenting; nggak kacang. Tahu kacang? Itu singkatan omongan Jawa untuk kakehan cangkem atau terlalu banyak bicara. Kru Ceria rerata mereka tenang. Sedikit bicara, banyak kerja. Orientasi pada peserta tour sangat besar.

      Foto-foto dan dokumentasi video bagus, tanpa charge tambahan. Wah, itu sungguh menyenangkan sekali 😀 Nggak ada biaya tambahan apa-apa di luar yang tercantum; kecuali wes diterangkan.

      Info apapun seputar trip sangat cepat dan jelas. Orang mudah mengikuti dan bisa menghitung memperkirakan sesuai keperluan masing-masing.

      Hal lain lagi, tepat waktu. Kalau banyak orang selisih 15-30 menit itu sudah pasti masuk toleransi trip. Dan itu biasanya karena kami pesertanya, bukan dari biro atau timnya.

      Tim Ceria juga fleksibel. Saya boleh minta dipick up searah jalan kendaraan, pun turun di tempat yang lebih dekat dengan rumah. Tinggal bilang saja ke TL dan semua beres sudah. Menghemat waktu, menghemat biaya.

      Request tertentu karena kondisi masing-masing peserta berbeda, juga direspon dengan baik. Misalnya saya pilih makan ikan daripada ayam dan atau sebaliknya. Semua diurus dengan baik.

      Komplain atas ketidaknyamanan juga direspon dengan baik, solutif, profesional. Tanpa ada kesan menghakimi peserta. Kadang-kadang, sebaik apapun biro mempersiapkan segala sesuatu untuk trip, ada saja yang terlewat dan selama masih wajar, itu juga harus dimaklumi oleh peserta.

      Beli oleh-oleh? Ada waktu, tempat, dan direkomendasikan apa saja yang khas dengan kualitas terbaik. Sungguh menyenangkan bagi mereka yang mau belanja-belinji.

      Secara pribadi saya berterimakasih atas OT yang dibuka oleh Ceria. Pengalaman yang menyenangkan, fun, seru, meskipun saya pergi sendiri. Harga terjangkau, banyak pilihan trip, jadwal sudah ready, dokumentasi, dll layanan yang semua bagus.

      Ikut saja kalau kamu malas mikirin tripmu. Pilih destinasi, jadwal trip, bayar, bawa badan, berangkat dan have fun😀 Oh iya, kamu juga bisa request ke mereka misalnya komunitasmu, keluargamu, dll konco-koncomu, mo piknik ke mana dengan budget tertentu. Minta saja sama mereka, pasti direspon dengan baik.

      Sekali lagi, Terimakasih Ceria. Semoga terus menjaga kualitas layanan dan pembukaan trip-trip baru yang memanjakan mereka yang doyan piknik dengan harga terjangkau dan aman nyaman. ❤

      Oke, sahabat-sahabat semuanya. Saya cukupkan catatan dolan saya ke Bromo. Maturnuwun, Terimakasih sudah menyimak dan sampai jumpa di catatan dolan saya berikutnya. Happy Travelling ❤

      Ari Kinoysan Wulandari

      Please follow and like us:

      Bromo (9) Kalau Kamu Ikut Open Trip Sendirian

      Ini lokasi saya masih di sekitaran puncak Seruni. Jalannya menurun, lebih “berbahaya” daripada saat naik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

      Sebelum pandemi (awal tahun 2020) saya terbiasa pergi dengan 1 atau 2 sahabat. Zaman itu belum begitu banyak biro yang bikin open trip (OT). Kami lebih sering arrange mau ke mana, kapan, budgeting. Lalu berbagi tugas, siapa yang pesan hotel/pesawat, transport/makan/tiket wisata/fotografer dll. atau memilih biro.

      Kalau berbagi tugas, di awal kami sudah ngumpulin uang “iuran” untuk segala sesuatu yang perlu dibayar awal. Kami memilih 1 bendahara yang pegang duit tunai. Pas tiba di lokasi, dialah yang bayarin tiket wisata, makan di tempat, charge foto dadakan, tips dan bayar guide di lokasi, bayar toilet pun dia yang kasih duit recehnya.

      Kalau uang yang dipegang bendahara mulai menipis, kami iuran lagi. Usai piknik, kami akan membagi uang tersisa atau kasih ke kotak sedekah sesuai kesepakatan.

      Begitu dalam waktu lama, bahkan untuk trip-trip yang jauh di pelosok Sumatera atau Kalimantan. Alhamdulillah, saya happy-happy aja. Sampai kemudian, kami pesan trip lewat biro. Ndilalah embuh piye kok jadwal tugas 2 sahabat saya itu berubah dadakan. PNS atau ASN jelas gakbisa sembarangan izin apalagi bolos kalau nggak mau kena surat cinta 😆😅

      Padahal saya wes bayar full di biro. Mereka juga sudah hampir lunas. Mau nggak mau saya harus berangkat kalau nggak mau duit ilang melayang. Mereka ya pasti rugi kan duit gak bisa ditarik ulang. Bismillah, saya berangkat. Lho ternyata sendirian ikut OT nggak seserem yang saya pikirkan 😅😂 Saya pun mulai “terbiasa” kalau harus pergi sendiri.

      Ikut OT sendirian versi saya, bisa menjadi pengalaman yang seru dan memperluas jaringan pertemanan. Berikut beberapa tips dan trik untuk memastikan sampeyan dapat pengalaman istimewa.

      Pertama, pastikan dulu jiwa ragamu sehat kuat. OT sendiri, berarti sampeyan siap menanggung segala sesuatunya sendiri tanpa ada orang yang sampeyan kenal untuk “membantu”. Pastikan cek kesehatanmu.

      Saya kalau harus sendiri, ekstra ketat terhadap urusan kesehatan. Seperti pas mau ikut OT Pacitan dengan Ceria, begitu dokter bilang kondisi kesehatan kurang oke, saya pilih mundur saja. Risiko uang hilang itu harus dihadapi, tapi syukur alhamdulillah boleh reschedule di Ceria. Terimakasih ya 😀

      Kedua, pilih biro terpercaya. Lakukan cek ricek tentang penyedia OT, baca ulasan dari peserta sebelumnya, dan pastikan mereka memiliki reputasi yang baik. Cek juga itinerary yang sesuai dengan minat dan semua fasilitas yang disediakan.

      Ketiga, ketahui siapa yang bertanggung jawab pada OT yang kita pilih. Admin, TL, fotografer atau kameramen, driver/kru transportasi, guide, helper, dll yang bisa kita contact bila ada sesuatu yang kita perlu. Kenali, catat contact mereka.

      Keempat, siapkan semua fotokopi dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor.
      Bawa barang pribadi yang penting seperti obat-obatan, alat mandi, dan pakaian yang sesuai dengan destinasi.

      Kelima, kenalan dengan peserta lain.
      Bersikap ramah dan terbuka akan membuat kita lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak teman baru yang saya peroleh dari OT.

      Tapi yo nggak usah memaksakan diri. Kalau di OT, mereka yang pergi dengan partner (entah pacar, gebetan, selingkuhan, pasangan, saudara, anak, keluarga, teman, bestie dll) biasanya nggak mau atau nggak sempat kenalan dengan orang lain. Wes sibuk dengan “dunia mereka” sendiri. Feel free aja, dapat kenalan alhamdulillah. Gak dapat ya tetap enjoy dengan tripnya.

      Keenam, bawa uang tunai secukupnya, terutama jika destinasi berada di daerah terpencil yang mungkin tidak memiliki banyak ATM. Hitung berapa budget yang harus disiapkan.

      Cek-cek apa yang nggak ditanggung biro, biaya lain yang mungkin ada, budget oleh-oleh dan souvenir, budget wahana yang optional, dan urusan biaya toilet. Eh ini meskipun receh tapi bisa habis banyak lho biaya toilet ini. Pastikan sediakan uang pas, kalau kamu nggak ingin bayar berlipat.

      Misalnya charge toilet 2 rb tapi uangmu 5 rb, itu suka dan sering banget lho saya dibilangin nggak ada kembaliannya. Jadi terpaksalah mengikhlaskan 5 rb. Sekali oke, bolakbalik ya berlipat. Jadi pergi OT saya juga nyiapin recehan 2 rb dan 1 rb an untuk urusan ini.

      Ketujuh, ikuti dan patuhi aturan yang diberikan oleh penyelenggara trip untuk kenyamanan dan keselamatan semua peserta. Ikuti jadwal yang telah ditentukan agar perjalanan berjalan lancar dan sesuai rencana. Jangan bikin acara sendiri.

      Meninggalkan areal, bahkan meskipun ke toilet pastikan izin TL atau sekurangnya ada orang yang kamu pamiti ke mana kamu pergi. Aktifkan HP agar mudah dihubungi bila ada perubahan jadwal mendadak karena force majeur.

      Kedelapan, bersikap fleksibel. Bersiaplah untuk situasi yang tidak terduga seperti perubahan cuaca atau jadwal. Bersikap fleksibel akan bikin kita lebih happy. Bila
      ada waktu luang selama perjalanan, gunakan untuk refleksi pribadi atau menjelajahi tempat sekitar secara mandiri jika memungkinkan.

      Kesembilan, jaga komunikasi. Jangan takut bertanya kalau ada yang nggak jelas atau belum paham. Jaga pembicaraan dengan sesama anggota tour. Kalau memerlukan sesuatu, jangan ragu juga bertanya atau meminta pada penanggung jawab OT.

      Kesepuluh, jaga barang berharga dan selalu waspada terhadap lingkungan sekitar untuk menghindari kehilangan atau hal yang nggak diinginkan. Bawa selalu tas berisi barang penting bersama sampeyan. Jangan menaruh di kursi kendaraan atau menitipkan pada orang yang sampeyan pun nggak tahu namanya.

      Intinya, kalau harus pergi sendiri OT karena beragam sebab; tetap enjoy aja. Ingat untuk bersenang-senang dan menikmati setiap momen dalam perjalanan. Versi saya berada di OT sendirian, itu kesempatan untuk mengeksplorasi dunia dengan cara baru.
      Dengan mengikuti tips ini, semoga sampeyan dapat ikut OT sendirian dengan lebih percaya diri dan fun.

      Happy Piknik ❤

      Ari Kinoysan Wulandari

      Please follow and like us: