DSBK XVI 2025 (5): Sastrawan Harus Berdaya

Launching buku saat DSBK XVI 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebelum tidur saya berpesan pada resepsionis kalau kawan sekamar saya datang; memberitahu saya lewat telepon kamar. Takutnya nggak dengar kalau hanya telepon HP.

Sebentar saja saya sudah terlelap. Capek lah beraktivitas dari jam tiga pagi sudah hampir pagi lagi. AC yang lumayan dingin, badan segar usai mandi, kamar nyaman. Jam dua dini hari saya terbangun; nggak ada kabar tentang kawan saya. Cek ke resepsionis, memang nggak ada yang datang. Saya tidur lagi sampai pagi.

Acara sarapan, selalu paling heboh. Kebayang kan 200-an orang ngumpul ngobrol, foto-foto, becanda. Weiz…. saya masih beradaptasi dengan Samarinda yang panas. Jogja wes panas, ini terasa lebih panas.

Sebagian peserta DSBK XVI 2025 di lobi Hotel Hariss Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lalu mulailah acara kunci. Seminar marathon, dengan 11 pembentang materi (jadi 9 karena 2 berhalangan) dari 3 negara, Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam. Pas usai nulis naskah untuk DSBK XVI ini, saya sempat kepikiran untuk mengajukan diri sebagai pembentang materi.

Namun mengingat kasus di Sulawesi, saya tahu diri. Saya bukan etnis Melayu, bukan sastrawan Melayu, dan nggak membahas urusan kesastraan Melayu. Saya hendak cari ilmu dan insight baru, bukan cari musuh atau gegeran beda pendapat. Jadi saya wes ikhlas, sukarela datang sebagai peserta.

Presentasi dan diskusi sastra berlangsung meriah, semangat, dan terbuka. Kalau nggak dibatasi waktu, bisa bablas itu yang bertanya. Sastra di Indonesia secara umum kan memang problematis. Lebih banyak masalah dibandingkan dengan sisi manfaat yang diterima oleh mereka yang bergerak di luar sastra.

Peserta DSBK XVI 2025 di halaman Museum Mulawarman, Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kita masih sering banget dengar: “Kalau kamu menekuni sastra, mau hidup dari mana?”; “Sastra? Mau makan apa?”, “Kerja tuh yang bener, jangan ngelamun (bersastra) aja!”; “Pilih bidang yang ada duitnya! Sastra mengajak miskin!”; dll. statemen setipe yang mencerminkan betapa masih tidak bijaknya anggapan masyarakat luas terhadap bidang sastra dan penulisan kreatif secara umum.

Itu sebabnya ketika saya tahu, bahwa saya suka menulis sedari belia –dan untungnya juga sudah menghasilkan uang sejak kecil (saya biasa menerima honor dari nulis cerpen di media nasional sejak SMP); saya bertekad kalaupun saya berada di jalur penulisan kreatif, saya akan hidup baik dan layak seperti mereka yang bekerja dari jalur-jalur yang dianggap menjanjikan.

Begitulah. Kesadaran itu yang membuat saya bekerja dengan sangat keras. Menulis sangat banyak. Belajar dengan frekuensi sangat tinggi dan nggak pernah berhenti. Menimba ilmu dari beragam cara —yang kadang-kadang nggak murah; demi agar saya survive sebagai penulis. Penulis juga hidup dengan layak seperti mereka dari bidang kerja lainnya.

Alhamdulillah. Karena saya survive itu, sekurangnya di keluarga besar nggak ada yang mencela pekerjaan saya sebagai penulis. Dan itu yang membuat saya yakin, kalau sampeyan memilih bidang tulis, sastra, dll yang berkaitan dengan penulisan kreatif; survivelah. Sastrawan harus berdaya. Penulis harus survive. Jadikan dirimu berdaya, sehingga nggak ada orang-orang yang memandang sebelah mata: “menulis hanya pekerjaan orang malas yang suka melamun dan nggak menghasilkan uang”.
Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (4): Pembukaan, Pesta yang Keren dan Meriah

Saat pembukaan DSBK XVI di ballroom Hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, pas mau makan malam saya takjub. Sudah lewat jam makan, tapi makanan masih melimpah ruah. Ruang acara di ballroom sudah full orang, banyak yang masih lalu lalang. Rerata mereka berpakaian keren dan meriah khas Melayu. Karena nggak wajib memakai pakaian adat, saya standar saja pakai batik. Ogah ribet jaritan kebaya😂

Pas selesai saya makan, barulah acara dimulai. Bleeer…. berasa masuk ruang pesta. Meriah, semarak, gembira, dan bersuka cita. Parade pantun, tari-tarian, gerak lagu, puisi lirik, sholawatan, dll seni yang khas Melayu disajikan bergantian dengan sangat apik.

Saya dengan anggota DPR RI Komisi Pendidikan dapil Kaltim. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sampailah pada sambutan-sambutan dan penyerahan sertifikat oleh Wakil Gubernur Kaltim. Oh, orang-orang pentingnya semua “ditodong” baca puisi dan berkenan… Ya kan, nggak setiap orang bisa baca puisi. Toh kalau jadi pejabat tuh ya pokmen harusnya bisa. Menyanyi, berjoget, termasuk keterampilan yang kudu bisa kalau mau jadi pejabat di Indonesia. Nggak terkecuali di Kaltim.

Saya perhatikan desain visual lighting dll penataan ruangnya keren banget. Acara demi acara berlangsung cepat, plek plek, dan nggak banyak jeda. MC di depan menguasai betul apa yang harus mereka kendalikan.

Saya, anggota DPR RI, dan Bu Guru Muhammadiyah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Cuman versi saya yang agak mengganggu itu teman teman dari media (cmiiw) yang wes tahu acara sebesar itu, lha kok bajunya (maaf) kalau saya sebut seadanya. Banyak yang kaosan oblong, sendalan, terlihat sekenanya, rambut acak-acakan. Bahkan ada juga orang media, perempuan yang nyisir rambut panjangnya di samping saya tanpa etika bilang maaf. Dandan gitu mbokya minggir ke tepi yang nggak ada orang atau ke toilet.

Panitia mestinya juga perlu reminder agar awak media yang meliput juga wajib berpakaian rapi standar. Berbatik, bersepatu, rambut panjang diikat rapi. Itu hal kecil yang tertangkap mata saya karena riwi riwi depan sekitaran saya. Terasa njomplang dengan mereka yang dandan super menunjukkan kebesaran dan marwah Melayu Nusantara.

Meskipun lelah, kena musik saya yo ikut goyang goyang kaki. Sampai akhirnya acara selesai. Foto foto berbagai kelompok di depan panggung utama tuh berasa nggak selesai-selesai. Saya wes nggak mikir duwe foto. Males selfi juga. Untung ada seseibu dari sekolah Muhammadiyah yang mau motoin, ya tapi jangan harap fotonya secanggih fotografer yes😂

Apapun itu, pokmen keren untuk seluruh panitia, peserta, pendukung, dan semua yang terlibat acara malam itu. Keren, Meriah, sukacita, dan happy. Usai dapat foto, wes saya menyalami orang-orang sekitaran dan bergegas ke kamar. Ngantuuuk pol. Terus besok mulai acara inti. Marathon cuy….
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (3): Kunci Kamar Saya Mana?

Saya dengan Prof Chairil di lobi hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sampai hotel Hariss, saya diminta langsung ke Lt 5. Di sini kening saya berkerut. Kok aneh. Kenapa nggak ada satu pun panitia di lobi? Tapi saya mengekori petugas karena lift nggak jalan tanpa kartu.

Sebentar saya registrasi wes beres. Panitia sigap. Maturnuwun. Baru ketika saya minta kunci kamar, kami bersitegang. Panitia bilang kunci kamar ada di lobi dan harus registrasi di sana. Padahal tadi saya di lobi nggak ada siapa pun, kecuali resepsionis hotel. Tapi saya pikir, mungkin petugas atau panitia sekarang sudah ada.

Panitia berbaik hati mengantar saya turun ke lobi dan mengizinkan koper saya taruh di lantai 5. Pas sampai lobi, nah baru dia tahu kalau nggak ada satu orang pun. Mo ngekek, tapi saya tahan. Dia sibuk telpon sana sini. Saya info ke Mas Amien, tapi beliau bilang mau cek dulu; karena sedang sibuk beut untuk persiapan pembukaan dan nggak bisa ditemui.

Saya yang sedari dini hari wes aktivitas, berasa lelahnya saat itu. Gerah, panas, nggak nyaman. Pingin langsung mandi dan istirahat. Terpaksa tertunda. Di sini saya jumpa Prof Chairil dari Pontianak. Setipe dengan saya, beliau juga belum bisa mendapatkan kamar. Kami sempat ngobrol tentang asal usul daerah masing-masing. Lho saya jumpa juga dengan alumni Sasindo UGM. Alhamdulillah. Sehat-sehat dan terus kreatif berkarya, Prof. Chairil 🙏

Beberapa saat kemudian, panitia menyarankan saya makan dulu. Beuh, dengan lelah keringetan gitu… makan jelas nggak mood. Pilihan lain saya gabung mandi bebersih di kamar orang, nanti pindah. Malah ribet ntar saya kudu gotong-gotong bongkaran koper. Saya emoh.

Tanya sana sini, itu bagian urusan perkuncian buka selesai maghrib (padahal saat itu wes hampir jam 19 atau 7 malam, maghrib ya sudah selesai to) atau lepas pembukaan ntar malam. Weh, iki bagian kunci kudu ditatar dulu. Apalagi masih banyak peserta yang baru datang dan kondisi lelah, tapi nggak bisa langsung dapat kunci kamar.

Mas Amien ngasih solusi agar saya join dengan temennya yang partner tidurnya belum datang. Nanti tinggal tukar aja. Saya setuju asal nggak disuruh pindah lagi. Oke.

Baru saat itulah, si pengurus kunci datang dan mengurusi saya. Dia ini pake beribetan juga dengan panitia. Entah salah paham apa. Akhirnya saya dapat nomor kamar dan kuncinya. Wes bilang Mas Amien soal itu dan temennya nggak jadi sekamar dengan saya. Maaf ya, Mbak Jannah 🙏

Begitu dapat kunci kamar, saya bergegas. Kami menginap di Hotel Hariss Samarinda. Begitu masuk, sesuai kebiasaan saya cek cek kondisi. Lampu, AC, kamar mandi, air panas, cermin, hidden camera, dll. Semua oke. Standar sesuai aturan hotel bintang 4 lebih, tapi belum 5.

Saya mandi beberes, sholat, dll. Saat itu, benernya mata saya sudah liyer. Ngantuk banget. Masyaallah kalau nggak inget saya ke sini dengan niat mencari ilmu, wes pasti memilih tidur. Baru setelah minum multivitamin, mata saya rada melek.

Jam 20 an saya baru turun. Wes mikir kalau makan malam terlewat yo nanti pesan makan di luar. Ini Nusantara, duitnya isih IDR, bahasanya Indonesia. Samarinda bukan tempat yang benar-benar asing untuk saya. Gampang lah.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (2): Yuhuuu, ke Samarinda Lagi…

Saya di Bandara Aji Pranoto, Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kali ini ke Samarinda saya juga pikir begitu, wes terserah panitia. Boleh ya mangkat, nggak lolos ya mungkin cari acara seminar lain di sekitaran Samarinda.

Saya masih mengisi workshop penulisan di luar kota, jelang akhir Mei, ketika mendapat pengumuman list nama peserta DSBK XVI. Oh ada nama saya. Yuhuuu, ke Samarinda lagi…! Dan kabar baiknya, peserta hanya perlu menanggung transport berangkat pulang ke lokasi secara mandiri.

Sementara hotel, akomodasi, operasional acara, dll. selama berlangsung kegiatan ditanggung panitia seluruhnya. Plus tiap peserta dapat uang saku harian! Yuhuuu… 🥰 Bling-bling saya gembira betul. Alhamdulillah.

Dari komunikasi dengan Mas Amien (panitia kunci DSBK XVI dan juga alumni Sasindo UGM) saya sempat menanyakan tentang tulisan, apa bisa nyusul. Diperbolehkan dan 2 harian saya serius tenan mempersiapkan materinya. Alhamdulillah ikut dipublikasikan di buku “Perbincangan Sastra Melayu: Estetika, Didaktika” yang ikut jadi isian materi goodie bag acara internasional itu.

Begitu mendapatkan undangan resmi, saya segera mengurus surat tugas (meskipun ya sekedar surat, kampus nggak mbayari biaya saya pergi ke Kalimantan). Saya siy nggak ambil pusing. Lha dulu saja nggak jadi dosen, saya biasa ikut serta berbagai seminar internasional jauh-jauh dari Jogja, kok sekarang nggak mau hanya gegara kampus nggak kasih duit. Kan kemunduran kalau begitu.

Begitu surat resmi sudah aman dan jelas, saya langsung pesen tiket pesawat ke Samarinda, memesan mobil jemputan ke bandara, mengkomunikasikan dengan beberapa pihak di Samarinda, memesan oleh-oleh, menyiapkan sejumlah pakaian untuk kegiatan agar nanti tinggal memasukkan ke koper.

Hari keberangkatan, jam 3 dini hari saya wes bangun, packing, bersiap-siap sampai jam 5 Shubuh. Sarapan dll sampai jam 7 pagi. Lalu berangkat ke Bandara YIA Jogja. Dari rumah saya sekira 2 sd 3 jam kalau macet. Kalau normal siy ya 1 jam lewat. Kali itu saya perlu 2 jam lewat untuk tiba di bandara.

Pesawatnya delay 30 an menit. Jadilah sampai bandara Aji Pranoto Samarinda juga mundur setengah jam. Antri bagasi, praktis jam 15 WITA saya baru keluar bandara. Kawan saya saat studi S3, Pak Arifin yang sudah 30 tahun jadi dosen Unmul dan menetap sebagai warga Samarinda, sudah ada di sana menjemput saya. Untung beliau belum tugas ke desa-desa. Jadi masih bisa menjemput dan mengantar saya. Maturnuwun, Pak Arifin 🤩🙏

Usai makan, kami mampir ke kampus Mulawarman. Wah, model jalanannya seperti di Unsrat Manado, naik turun, dataran tinggi. Intinya, kalau jalan atau ngepit manual, jelas menggos-menggos 😂🤣

Saya dengan Abah dan Mamahnya Uda beserta salah satu cucunya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai itu, sebenarnya saya bisa langsung ke hotel. Kalau begitu, pasti nanti saya males untuk ke rumah Abah Mamah. Ini orang tua Uda, lulusan ISI Jogja; tempat saya pernah nginap beberapa tahun sebelumnya saat dolan di areal Kaltim. Sudah seperti keluarga.

Jadi Pak Arifin bilang bagus ke sana dulu, baru ngedrop saya ke hotel. Biyuu, kesasar tiga kali kami meskipun pake Google Maps🤣 Beuh Samarinda wes progresif cepat dari 7 tahun sebelumnya.

Senangnya jumpa Abah Mamah sehat. Uda masih tengok temen yang sakit. Duh, lama nggak jumpa orang tua itu bagi saya kok serasa anak durhaka yang nggak pernah pulang 😂 Tentu bukan begitu ya. YK ke SMD nggak bisa jalan kaki cuy, butuh cuan untuk terbang. Nah ituuuu….

Sejam lah kami ngobrol, belum cukup lepas kangen, tapi saya harus beranjak karena acara pembukaan DSBK mulai jam 19 sd 23 nanti.
Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

DSBK XVI 2025 (1): Obrolan di Stasiun

Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat itu awal tahun 2025, saya sedang menunggu KRL untuk ke Solo di Stasiun Tugu. Sementara perempuan ini (yang saya pun nggak tahu namanya hingga sekarang) sedang menunggu kereta ke arah barat. Begitu saja kami berbincang. Dia berasal dari Pontianak. Senang membaca, senang menulis. Kami pun nyambung.

Sambil lalu, kalau nggak salah perempuan ini menyebutkan ada acara sastra besar di Samarinda, Kalimantan Timur sekitar bulan Juni atau Juli. Ada tiga negara. Begitu lebih kurang yang saya ingat. KRL datang, kami pun berpisah. Kami nggak berbagi contact. Nama pun nggak saling sebut.

Cuman karena disebut Samarinda, saya tiba-tiba saja berkeinginan untuk ikut. Itu pasti akan membahas Sastra Melayu, nggak mungkin membahas Sastra Jawa seperti kalau kegiatan seminar sastra di Jawa. Yach, itung-itung lihat perkembangan dan kemajuan sastra Melayu. Begitu pikir saya.

Di KRL, saya mulai menghitung budget yang harus saya siapkan untuk ikut acara tersebut. Kalau misal acara besar biasanya ya 5 hari kerja atau hitung seminggu. Berarti saya butuh anggaran selama 7 hari (2 hari untuk perjalanan, 5 hari kegiatan Senin sd Jumat). Biasanya kalau acara besar lebih kurang begitu berdasarkan pengalaman ikut acara-acara sebelumnya.

Saya langsung cek-cek harga; menghitung komponen tiket pesawat pp, transfer rumah bandara asal pp; bandara tujuan-lokasi pp, hotel 7 malam, makan 2 × 7 (hari) dengan sarapan include hotel, uang saku 7 hari, dana darurat, dana oleh-oleh beberapa pihak di Samarinda dan oleh-oleh pas balik Jogja; juga oleh-oleh untuk pribadi, biaya registrasi (bila ada), biaya publikasi tulisan (bila diperlukan), keperluan pribadi, dll. Hitung-hitung dengan rerata, ketemulah sejumlah anggaran biaya yang lumayan besar.

Saya sempat menghitung pula budget ke Derawan dari Samarinda. Tapi nanya sini situ lah… kok masih besar biayanya. Jadi besar kemungkinan, tujuan Derawan akan saya skip dulu. Ya sudah, bismillah. Ntar pas waktunya pasti ada jalan.

Waktu berlalu, saya sibuk mengajar, menulis, mengisi workshop penulisan, dll gaweyan seputar industri kreatif. Dan alhamdulillah, anggaran untuk program ke Samarinda wes ada di tangan. Tapi programnya pun belum saya dengar, belum ada kabar apapun dari Kalimantan.

Tiba-tiba di grup alumni Sasindo UGM, keluar flyer dll detail tentang kegiatan DSBK (Dialog Serantau Borneo Kalimantan) XVI 2025 bagian seleksi. Wah ini dia… yang saya tunggu-tunggu akhirnya muncul programnya. Wes, saya langsung ngisi-ngisi form dan melupakan. Saya feel free saja. Terserah panitia. Kalau warga non Kalimantan, non Melayu dianggap nggak bisa hadir, ya nggak apa-apa.

Saya pernah merasa salah ruang seminar ketika ada pertemuan internasional membahas kuliner “Nusantara” terkhusus “Sulawesi”, tapi saya menyajikan materi kuliner Jawa. Karena persepsi saya Jawa termasuk Nusantara, tapi nggak khusus Sulawesi. Toh itu sudah lewat seleksi dan kebijakan panitia.

Jadi ketika saya diserang peserta lokal Sulawesi yang nggak lolos seleksi penyaji makalah dan menganggap tulisan saya “salah program”, perwakilan panitia penyelenggara yang maju untuk menjelaskan dan bertanggung jawab.

Haish, kadang saya terlalu rajin datang dan ikut seminar begini, ya karena mencari ilmu dan melihat relasi yang lebih luas. Biar saat nulis tuh saya nggak mandeg dan membahas hal yang sama. Nyawa saya itu di penulisan kreatif. Jadi upgrade update ilmu penulisan kreatif itu wes jadi keharusan.
Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Bentuk Tubuh Kita Memang (Nggak) Sempurna, Terimalah dengan Syukur

Ketidaksempurnaan adalah tanda bahwa kita manusia. Berbahagialah selalu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setiap kita pasti pernah bercermin, melihat figur yang “serupa” dengan diri kita. Sama persis. Lalu apa yang keluar dari hati, pikiran, batin, mulut kita? Pasti beragam.

Umumnya, kecenderungannya, kita langsung “mencela” kurang ini, kebanyakan itu, kok ya kebesaran ini, kelebihan itu, dll yang intinya “protes” klaim atas semua yang ada di tubuh kita. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sampeyan masih begitu?

Dulu, saya juga seperti itu. Tapi seiring kesadaran dan melihat dunia secara lebih luas, bertemu dengan lebih banyak orang; saya mengubah persepsi saya. Saya baik-baik saja dengan bentuk tubuh fisik yang nggak sempurna itu. Sekarang kalau bercermin, spontan saja berucap: Alhamdulillah, tubuhku sehat, jiwaku kuat, anggota badanku lengkap sempurna, wajahku sebaik-baik pemberian Allah.

Saya wes nggak pernah protes lagi dengan kondisi fisik. Menerima dengan sukacita semuanya. Dulu bahkan saya kesal dengan ukuran tubuh saya yang nggak tinggi; karena nggak bisa ikut paskibraka sebagai (versi saya) jalur cepat masuk istana negara. Oh, tapi dengan kemampuan yang lain, Allah membawa saya keluar masuk istana dengan mudah; tentu saja dengan peran dan tugas yang lebih penting.

Saya pernah nggak senang dengan suara saya yang alto besar, bukan suara khas perempuan. Suara yang sering jadi bahan ledekan dan becandaan teman-teman saya dari SD hingga perguruan tinggi. Lho, tapi dengan suara yang khas itu, teman-teman yang lama nggak jumpa langsung bisa mengidentifikasi keberadaan saya hanya dari mendengar suara saya di balik tembok yang tinggi. Amazing banget.

Pun itu suara yang sangat diperlukan untuk mereka yang harus banyak berbicara. Saya nggak perlu “mengeluarkan banyak energi” untuk bersuara besar saat harus membagikan materi pelatihan penulisan dengan audiens dalam jumlah besar. Hemat energi nggak sampai kehabisan suara.

Pun, saya pernah nggak suka banget sama gigi saya yang berwarna kuning akibat obat kejang waktu kecil. Sementara gigi orang putih-putih cemerlang. Makanya saya rajin betul sikat gigi, bisa 3x sd 4x sehari agar bersih terus. Lho tapi itu gigi yang dipuji banyak orang karena rapi, berderet mungil tanpa perlu ditata (aslinya yo begitu), tanpa pernah sakit beribetan (kecuali 4x operasi gigi belakang yang nggak kebagian tempat) dan alhamdulillah sehat kuat. Saya bisa tersenyum dan tertawa lebar tanpa khawatir dengan bentuk gigi saya. Gigi-gigiku sayang, teruslah sehat sampai akhir hayat.

Jadi dari situ pun saya belajar. Mungkin “nggak sempurna” itu kadang hanya persepsi kita. Kurangnya syukur kita. Setelah kita menerima dengan syukur, rasanya semua kok baik-baik saja. Seperti yang saya alami. Tapi untuk sadar dan menerima, ya perlu proses nggak ujug-ujug.

Terlebih di zaman sekarang, media sosial dipenuhi dengan wajah dan tubuh yang terlihat “sempurna”, seperti perut rata, kulit mulus, tubuh tinggi langsing, dan senyum yang selalu terlihat bahagia. Standar-standar kecantikan ini bisa dengan mudah membuat kita merasa bahwa tubuh kita “kurang” atau “nggak ideal”. Padahal kenyataannya, nggak ada satu pun tubuh manusia yang benar-benar sempurna. Dan ya, kita itu nggak harus sempurna kok untuk bisa bahagia.

Setiap lekuk tubuh, bekas luka, stretch mark, warna kulit, atau bentuk wajah yang kita miliki adalah bagian dari perjalanan hidup. Mungkin perut kita lebih buncit, habis melahirkan. Coba ingat, ada jutaan perempuan yang ingin melahirkan anak, tapi belum kesampaian.

Mungkin tangan kita berotot karena sering menggendong anak atau banyak membantu pekerjaan berat di rumah. Coba ingat mereka yang nggak punya anak, yang nggak ada rumah. Mungkin kita punya pipi tembem yang selalu jadi bahan candaan keluarga, tapi justru itu yang bikin kita terlihat awet muda.

Bentuk badan kita bukanlah sebuah kekurangan. Itu cerminan dari siapa kita sebenarnya. Bukankah jauh lebih indah menghargai tubuh yang bisa bikin kita bergerak bebas, bernapas lega, bekerja total, mencintai dan dicintai, merasakan dan menjalani hidup ini dengan totalitas?

Bersyukur atas tubuh yang kita miliki bukan berarti berhenti merawat diri. Tapi ini tentang menerima kenyataan bahwa tubuh kita punya kekuatan, punya cerita, dan layak dihargai apa adanya. Rasa syukur membuat kita berhenti menyiksa diri dengan perbandingan yang melelahkan. Rasa syukur menjadikan kita lebih ramah, lebih cinta pada diri sendiri, dan lebih ringan dalam menjalani hidup.

Kita bisa merawat diri, makan sehat, olahraga, dan tampil bersih, rapi dan cantik; bukan untuk memenuhi standar orang lain, tapi karena kita mencintai diri sendiri. Dan cinta sejati itu nggak butuh syarat harus langsing dulu, putih dulu, atau mulus dulu, dll.

Percayalah, hampir semua orang pernah merasa minder dengan tubuhnya. Tapi banyak juga orang yang akhirnya menemukan kedamaian saat mereka berhenti berusaha menjadi “sempurna” dan mulai mencintai diri mereka yang sebenarnya.

Jadi, yuk mulai hari ini, lihat cermin dan katakan: “Inilah diriku. Dengan segala kekurangan dan kelebihanku, aku bersyukur. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.” Karena tubuh kita bukan untuk dibandingkan, tapi untuk dijaga, dirawat, dihargai, dan disyukuri sepenuhnya.

Bisa jadi bentuk tubuh kita memang nggak sempurna. Tapi hidup jadi jauh lebih ringan dan indah kalau kita bisa menerimanya dengan syukur.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Merawat Rezeki Recehan: Uang Kecil yang Diterima dengan Besar Hati

Sapi kurban saya tahun ini; uang untuk membelinya juga saya kumpulkan dari rezeki-rezeki “recehan”. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Survive sebagai penulis lepas (freelance writer) di tengah gempuran kemajuan teknologi dan membludaknya teknologi AI, sungguh nggak mudah. Banyak sekali pekerjaan kreatif penulisan (dan kerja kreatif lainnya) yang diambil alih dengan semena-mena oleh AI.

Saya sebagai penulis, perlu sekurangnya 30-60 menit untuk menulis artikel 2-3 hlm standar. Itupun masih perlu editing cek ricek sekitar 30-60 menitan. Yach anggaplah 2 jam kerja. Dengan fee beragam antara 250 rb sd 5 juta per artikel tergantung klien yang bayar.

Tapi dengan teknologi AI, orang bisa minta artikel hanya dalam hitungan menit dan cliiing… jadilah sudah. Meskipun hasil artikel dari AI sering diklaim bahasanya mesin, nggak ada perasaan, toh itu artikel sudah jadi. Gratis pula. Tentu orang awam akan memilih ini daripada “mahal-mahal” bayar penulis.

Hadirnya AI sempat juga bikin saya waswas. Biyuuu, njur bagaimana nasib saya sebagai penulis? Di situlah kemudian saya belajar, bahwa AI tetaplah mesin, piranti, alat, wujud kemajuan teknologi yang harus diterima sebagai kemajuan zaman. Dan setelah tahu bahwa AI tetap nggak bisa mengalahkan pola pikir, nilai rasa, pilihan kata, penggunaan metafora, gaya bahasa seorang penulis manusia; saya menerima AI sebagai bentuk alat yang bisa mempermudah kinerja penulisan.

Dan memang, ada cukup banyak pekerjaan yang dulunya bertahun-tahun saya kerjakan, sekarang klien sudah nggak memperpanjang kontrak lagi. Ya mereka menggunakan AI dan memperbaikinya, tanpa perlu membayar saya lagi. Ya wes nggak apa-apa. Rezeki saya lewat mereka sudah berakhir, selesai. Harus cari lahan baru untuk rezeki baru.

Untunglah, sepanjang karir saya sejak belia sebagai penulis, saya tetap menghargai rezeki recehan. Nggak pernah sekalipun saya meremehkan recehan. Kayaknya siy biasa saja kalau koin 5 ratus, 1 ribu atau bahkan uang kertas 2 ribu dianggap “nggak seberapa”. Jadinya uang-uang itu ditaruh sembarangan, tercecer di berbagai tempat, atau malah numpuk di laci sebagai sesuatu yang dipandang “nggak bernilai”.

Padahal, siapa sangka, rezeki besar sering dimulai dari rezeki kecil. Dari recehan yang dianggap sepele, bisa terkumpul jadi sesuatu yang luar biasa. Bukan cuma buat nabung, tapi juga jadi pengingat: rezeki itu bukan soal jumlah, tapi berkaitan dengan rasa syukur dan cara merawatnya.

Dengan situasi yang nggak menentu seperti sekarang ini, rezeki-rezeki “recehan” itulah yang justru sering jadi penyelamat hidup sehari-hari saya. Gaweyan tulisan kecil-kecil yang bernilai beberapa ratus ribu saja per item, tapi terus-menerus dan berulang, akhirnya ya bukit juga, lumayan banyak. Terasa kecilnya kalau menghitung per item, kalau berkumpul ya tetap banyak.

Sama seperti royalti buku, kalau terjual 1 buku mungkin uangnya hanya 2 ribu saja, tapi kalau buku terjual 100 rb eksemplar, tentu ya nggak sedikit lagi jumlahnya. Karena itu saya tetap menghargai rezeki recehan-recehan yang akan menjadi rezeki besar saat berkumpul rame-rame.

Coba ingat-ingat, pernah nggak kamu iseng masukin uang receh ke celengan tiap hari? Hari ini 1 ribu, besok 2 ribu, dst. Tanpa terasa, sebulan bisa jadi puluhan ribu. Setahun? Bisa ratusan ribu atau bahkan sejuta lebih. Kalau sudah terkumpul ya lumayan. Bisa buat traktir orang tua makan di luar, beliin hadiah kecil untuk pasangan, atau bantu temen yang lagi susah.

Merawat rezeki recehan ini bukan soal besarannya, tapi tentang kesadaran bahwa uang kecil juga punya potensi besar kalau dikumpulin dengan konsisten. Sering kita ngeluh rezeki seret, tapi kerjaan receh ditolak serampangan. Di sini letak pentingnya mindset: kalau kita bisa menghargai uang 1 ribu, kita akan lebih siap menerima rezeki yang lebih besar.

Karena Allah pun suka kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur dan bisa dipercaya menjaga rezeki kecil sebelum diberi rezeki besar. Gimana mau dikasih rezeki 10 juta kalau yang 1 ribu diabaikan?

Rezeki recehan bisa bermakna besar kalau kita menghargainya. Ada kisah tukang parkir yang bisa naik haji dari uang receh. Ada juga warung kecil yang terus hidup karena sabar nyimpen kembalian 5 ratusan. Bahkan banyak bisnis gede yang lahir dari modal kecil, serba ngirit, telaten ngatur duit, dan mulainya ya dari merawat “recehan”.

Kuncinya bukan jumlah uangnya, tapi lebih pada konsistensi dan niat baiknya. Mulai dari sekarang, kita bisa kok menghargai dan memanfaatkan uang receh. Coba simpan semua koin dan uang kecil di satu tempat khusus. Niatkan misalnya, ini buat sedekah, buat orang tua, atau buat mimpi tertentu.

Jangan malu bawa recehan. Eh, kasir supermarket pun pasti terbantu waktu kita bayar pas. Setiap kali dapat rezeki recehan dari gaweyan kecil-kecil, ucapkan syukur: “Alhamdulillah, dapat rezeki.”

Merawat rezeki recehan bukan cuma soal uang, tapi latihan menjaga hati dan tawakal kita. Supaya kita jadi pribadi yang menghargai rezeki kita, besar ataupun kecil. Bisa jadi, saat kita mulai bersyukur atas rezeki kecil, hidup kita diam-diam sedang disiapkan untuk rezeki yang lebih besar.

Rezeki receh itu memang kecil, tapi nilainya besar… kalau kita tahu cara merawatnya. Jangan pernah menyepelekan gaweyan dengan rezeki receh, karena sering kali rezeki kakap muncul di balik recehan itu.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: