
Launching buku saat DSBK XVI 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sebelum tidur saya berpesan pada resepsionis kalau kawan sekamar saya datang; memberitahu saya lewat telepon kamar. Takutnya nggak dengar kalau hanya telepon HP.
Sebentar saja saya sudah terlelap. Capek lah beraktivitas dari jam tiga pagi sudah hampir pagi lagi. AC yang lumayan dingin, badan segar usai mandi, kamar nyaman. Jam dua dini hari saya terbangun; nggak ada kabar tentang kawan saya. Cek ke resepsionis, memang nggak ada yang datang. Saya tidur lagi sampai pagi.
Acara sarapan, selalu paling heboh. Kebayang kan 200-an orang ngumpul ngobrol, foto-foto, becanda. Weiz…. saya masih beradaptasi dengan Samarinda yang panas. Jogja wes panas, ini terasa lebih panas.

Sebagian peserta DSBK XVI 2025 di lobi Hotel Hariss Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Lalu mulailah acara kunci. Seminar marathon, dengan 11 pembentang materi (jadi 9 karena 2 berhalangan) dari 3 negara, Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam. Pas usai nulis naskah untuk DSBK XVI ini, saya sempat kepikiran untuk mengajukan diri sebagai pembentang materi.
Namun mengingat kasus di Sulawesi, saya tahu diri. Saya bukan etnis Melayu, bukan sastrawan Melayu, dan nggak membahas urusan kesastraan Melayu. Saya hendak cari ilmu dan insight baru, bukan cari musuh atau gegeran beda pendapat. Jadi saya wes ikhlas, sukarela datang sebagai peserta.
Presentasi dan diskusi sastra berlangsung meriah, semangat, dan terbuka. Kalau nggak dibatasi waktu, bisa bablas itu yang bertanya. Sastra di Indonesia secara umum kan memang problematis. Lebih banyak masalah dibandingkan dengan sisi manfaat yang diterima oleh mereka yang bergerak di luar sastra.

Peserta DSBK XVI 2025 di halaman Museum Mulawarman, Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kita masih sering banget dengar: “Kalau kamu menekuni sastra, mau hidup dari mana?”; “Sastra? Mau makan apa?”, “Kerja tuh yang bener, jangan ngelamun (bersastra) aja!”; “Pilih bidang yang ada duitnya! Sastra mengajak miskin!”; dll. statemen setipe yang mencerminkan betapa masih tidak bijaknya anggapan masyarakat luas terhadap bidang sastra dan penulisan kreatif secara umum.
Itu sebabnya ketika saya tahu, bahwa saya suka menulis sedari belia –dan untungnya juga sudah menghasilkan uang sejak kecil (saya biasa menerima honor dari nulis cerpen di media nasional sejak SMP); saya bertekad kalaupun saya berada di jalur penulisan kreatif, saya akan hidup baik dan layak seperti mereka yang bekerja dari jalur-jalur yang dianggap menjanjikan.
Begitulah. Kesadaran itu yang membuat saya bekerja dengan sangat keras. Menulis sangat banyak. Belajar dengan frekuensi sangat tinggi dan nggak pernah berhenti. Menimba ilmu dari beragam cara —yang kadang-kadang nggak murah; demi agar saya survive sebagai penulis. Penulis juga hidup dengan layak seperti mereka dari bidang kerja lainnya.
Alhamdulillah. Karena saya survive itu, sekurangnya di keluarga besar nggak ada yang mencela pekerjaan saya sebagai penulis. Dan itu yang membuat saya yakin, kalau sampeyan memilih bidang tulis, sastra, dll yang berkaitan dengan penulisan kreatif; survivelah. Sastrawan harus berdaya. Penulis harus survive. Jadikan dirimu berdaya, sehingga nggak ada orang-orang yang memandang sebelah mata: “menulis hanya pekerjaan orang malas yang suka melamun dan nggak menghasilkan uang”.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari









