
Kami di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pada hari berikutnya, tibalah kami di Pantai Pandawa. Ini salah satu pantai yang populer di Bali. Seperti sudah tercermin pada namanya, asal usul pantai ini nggak dapat dilepaskan dari kisah Pandawa dalam cerita Mahabarata.
Dahulu kala, pantai ini sebut dengan Pantai Kutuh, sesuai nama desanya. Pantai indah ini tersembunyi di balik tebing kapur yang menjulang tinggi. Pantai itu begitu sunyi, seakan bersembunyi dari dunia luar, sehingga orang-orang menyebutnya “pantai rahasia”.
Namun, masyarakat Desa Kutuh percaya bahwa pantai itu dijaga oleh roh kesatria agung, yaitu Pandawa Lima dari kisah Mahabharata: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka diyakini hadir untuk melindungi pantai, menjaga kesucian laut, dan memberikan berkah kepada siapa saja yang menghormati alam.

Di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Seiring waktu, masyarakat ingin membuka akses ke pantai itu agar keindahannya dapat dinikmati oleh semua orang. Tetapi tebing kapur yang besar menghalangi jalan. Mereka bekerja siang dan malam, menebas tebing batu, seperti halnya Pandawa Lima yang harus berjuang melewati rintangan dan berperang melawan angkara murka dalam hidup mereka.
Konon, saat masyarakat mulai lelah, mereka mendengar bisikan gaib, “Jangan takut. Kami akan selalu bersamamu. Tebaslah tebing ini, bukalah jalan, karena keindahan yang tersembunyi harus dibagikan untuk semua umat manusia.”
Bisikan itu diyakini sebagai suara Pandawa. Semangat masyarakat desa pun kembali berkobar, dan akhirnya jalan menuju pantai berhasil dibuka. Sebagai tanda terima kasih, masyarakat memahat patung raksasa Pandawa Lima di tebing batu, seolah-olah para ksatria itu menjaga pintu masuk menuju pantai.

Salah satu kecantikan Pantai Pandawa: air biru jernih dan pasir putih menghampar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sejak saat itu, pantai tersebut dikenal sebagai Pantai Pandawa, bukan lagi pantai rahasia atau Pantai Kutuh. Kini, siapa pun yang datang ke Pantai Pandawa, nggak hanya disuguhi hamparan pasir putih dan birunya laut, tapi juga diingatkan akan kisah ksatria Pandawa: tentang perjuangan, keberanian, dan kesetiaan, yang diwariskan untuk generasi setelahnya.
Saat tiba di pantai ini, saya foto beberapa kali njur thenguk-thenguk melihat lalu lalang orang yang hilir mudik. Sudah terlalu panas di jam 10-an pagi itu. Lagipula ini pantai sudah berkali-kali saya tengok. Jadi berasa biasa, meskipun tentu (versi saya) tetap lebih bagus dibandingkan dengan pantai-pantai di sekitaran Jogja; terutama birunya air yang sejernih kristal dan putihnya lautan pasir yang begitu bersih.🤩

Iring-iringan warga Hindu Bali untuk upacara Melasti saat baru datang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Wah, pas kami di sini ternyata ketemu rombongan warga Hindu Bali yang menyelenggarakan acara adat Pelasti, Melasti. Saya mendengar cukup banyak uraian tentang Melasti dari warga lokal yang duduk-duduk di sekitar saya.
Yang pertama saya lihat adalah orang-orang Hindu Bali berjalan beriringan menuju pantai atau sumber mata air. Pakaian adat berwarna putih, bau harum dupa, tabuhan gamelan, umbul-umbul warna-warni, serta aroma sesajian yang mengaur lembut tertiup angin menjadi pemandangan yang begitu magis. Itulah penampakan langsung Upacara Melasti, salah satu tradisi sakral umat Hindu di Bali.
Melasti berasal dari kata “lasti” yang berarti menyucikan. Upacara ini dilakukan dengan tujuan utama membersihkan diri lahir dan batin, sekaligus menyucikan berbagai benda sakral milik pura yang disebut pralingga dan pratima. Semua benda itu diarak menuju laut atau danau sebagai simbol kembali ke sumber kehidupan.

Rombongan peserta upacara Melasti ketika lebih dekat pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Bagi masyarakat Bali, air adalah elemen suci yang menyimbolkan kehidupan. Itu sebabnya, laut, danau, atau mata air dipilih sebagai tempat upacara. Di sana, umat Hindu Bali memohon penyucian diri dari segala kotoran duniawi (mala) agar siap menyongsong sesuatu yang baru dengan hati bersih. Melasti juga mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan; sebuah konsep yang sejalan dengan Tri Hita Karana.
Suasana upacara Melasti sangat meriah sekaligus khidmat. Umat Hindu berjalan beriringan dari pura desa menuju pantai dengan membawa sesajen, payung hias, umbul-umbul, serta barisan penabuh gamelan. Aroma dupa berpadu dengan deburan ombak menambah nuansa spiritual yang begitu kuat. Banyak wisatawan yang ikut terpesona dan mengabadikan momen itu.
Melasti bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga warisan budaya yang layak dihargai. Bagi wisatawan, menyaksikan Melasti menjadi kesempatan langka untuk melihat bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur. Sda baiknya tetap menghormati jalannya upacara: berpakaian sopan, nggak menghalangi prosesi, dan menjaga ketenangan.
Melasti adalah cerminan kearifan lokal Bali yang memadukan spiritualitas, alam, dan kehidupan sosial. Lebih dari sekadar ritual, Melasti mengingatkan kita semua bahwa membersihkan hati sama pentingnya dengan membersihkan tubuh, dan menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga diri.
Saya cuma senyum bae ketika membaca chat di grup WA agar kami segera ke bus, karena kalau nungguin selesainya Melasti bisa sampai sore. Waktunya melanjutkan perjalanan.
Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

























