Bali Lovina (5): Pantai Pandawa dan Upacara Melasti

Kami di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pada hari berikutnya, tibalah kami di Pantai Pandawa. Ini salah satu pantai yang populer di Bali. Seperti sudah tercermin pada namanya, asal usul pantai ini nggak dapat dilepaskan dari kisah Pandawa dalam cerita Mahabarata.

Dahulu kala, pantai ini sebut dengan Pantai Kutuh, sesuai nama desanya. Pantai indah ini tersembunyi di balik tebing kapur yang menjulang tinggi. Pantai itu begitu sunyi, seakan bersembunyi dari dunia luar, sehingga orang-orang menyebutnya “pantai rahasia”.

Namun, masyarakat Desa Kutuh percaya bahwa pantai itu dijaga oleh roh kesatria agung, yaitu Pandawa Lima dari kisah Mahabharata: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka diyakini hadir untuk melindungi pantai, menjaga kesucian laut, dan memberikan berkah kepada siapa saja yang menghormati alam.

Di gerbang Pantai Pandawa. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Seiring waktu, masyarakat ingin membuka akses ke pantai itu agar keindahannya dapat dinikmati oleh semua orang. Tetapi tebing kapur yang besar menghalangi jalan. Mereka bekerja siang dan malam, menebas tebing batu, seperti halnya Pandawa Lima yang harus berjuang melewati rintangan dan berperang melawan angkara murka dalam hidup mereka.

Konon, saat masyarakat mulai lelah, mereka mendengar bisikan gaib, “Jangan takut. Kami akan selalu bersamamu. Tebaslah tebing ini, bukalah jalan, karena keindahan yang tersembunyi harus dibagikan untuk semua umat manusia.”

Bisikan itu diyakini sebagai suara Pandawa. Semangat masyarakat desa pun kembali berkobar, dan akhirnya jalan menuju pantai berhasil dibuka. Sebagai tanda terima kasih, masyarakat memahat patung raksasa Pandawa Lima di tebing batu, seolah-olah para ksatria itu menjaga pintu masuk menuju pantai.

Salah satu kecantikan Pantai Pandawa: air biru jernih dan pasir putih menghampar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sejak saat itu, pantai tersebut dikenal sebagai Pantai Pandawa, bukan lagi pantai rahasia atau Pantai Kutuh. Kini, siapa pun yang datang ke Pantai Pandawa, nggak hanya disuguhi hamparan pasir putih dan birunya laut, tapi juga diingatkan akan kisah ksatria Pandawa: tentang perjuangan, keberanian, dan kesetiaan, yang diwariskan untuk generasi setelahnya.

Saat tiba di pantai ini, saya foto beberapa kali njur thenguk-thenguk melihat lalu lalang orang yang hilir mudik. Sudah terlalu panas di jam 10-an pagi itu. Lagipula ini pantai sudah berkali-kali saya tengok. Jadi berasa biasa, meskipun tentu (versi saya) tetap lebih bagus dibandingkan dengan pantai-pantai di sekitaran Jogja; terutama birunya air yang sejernih kristal dan putihnya lautan pasir yang begitu bersih.🤩

Iring-iringan warga Hindu Bali untuk upacara Melasti saat baru datang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Wah, pas kami di sini ternyata ketemu rombongan warga Hindu Bali yang menyelenggarakan acara adat Pelasti, Melasti. Saya mendengar cukup banyak uraian tentang Melasti dari warga lokal yang duduk-duduk di sekitar saya.

Yang pertama saya lihat adalah orang-orang Hindu Bali berjalan beriringan menuju pantai atau sumber mata air. Pakaian adat berwarna putih, bau harum dupa, tabuhan gamelan, umbul-umbul warna-warni, serta aroma sesajian yang mengaur lembut tertiup angin menjadi pemandangan yang begitu magis. Itulah penampakan langsung Upacara Melasti, salah satu tradisi sakral umat Hindu di Bali.

Melasti berasal dari kata “lasti” yang berarti menyucikan. Upacara ini dilakukan dengan tujuan utama membersihkan diri lahir dan batin, sekaligus menyucikan berbagai benda sakral milik pura yang disebut pralingga dan pratima. Semua benda itu diarak menuju laut atau danau sebagai simbol kembali ke sumber kehidupan.

Rombongan peserta upacara Melasti ketika lebih dekat pantai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bagi masyarakat Bali, air adalah elemen suci yang menyimbolkan kehidupan. Itu sebabnya, laut, danau, atau mata air dipilih sebagai tempat upacara. Di sana, umat Hindu Bali memohon penyucian diri dari segala kotoran duniawi (mala) agar siap menyongsong sesuatu yang baru dengan hati bersih. Melasti juga mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan; sebuah konsep yang sejalan dengan Tri Hita Karana.

Suasana upacara Melasti sangat meriah sekaligus khidmat. Umat Hindu berjalan beriringan dari pura desa menuju pantai dengan membawa sesajen, payung hias, umbul-umbul, serta barisan penabuh gamelan. Aroma dupa berpadu dengan deburan ombak menambah nuansa spiritual yang begitu kuat. Banyak wisatawan yang ikut terpesona dan mengabadikan momen itu.

Melasti bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga warisan budaya yang layak dihargai. Bagi wisatawan, menyaksikan Melasti menjadi kesempatan langka untuk melihat bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur. Sda baiknya tetap menghormati jalannya upacara: berpakaian sopan, nggak menghalangi prosesi, dan menjaga ketenangan.

Melasti adalah cerminan kearifan lokal Bali yang memadukan spiritualitas, alam, dan kehidupan sosial. Lebih dari sekadar ritual, Melasti mengingatkan kita semua bahwa membersihkan hati sama pentingnya dengan membersihkan tubuh, dan menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga diri.

Saya cuma senyum bae ketika membaca chat di grup WA agar kami segera ke bus, karena kalau nungguin selesainya Melasti bisa sampai sore. Waktunya melanjutkan perjalanan.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (4): Desa Panglipuran, Menyusuri Keindahan Adat dan Tradisi

Kami di gerbang Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai dari Bedugul, kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh Djoger. Soal belanja saya tuliskan nanti saja bersamaan dengan dua tempat wisata belanja lainnya. Selanjutnya kami ke tempat yang paling saya tunggu lainnya: Desa Panglipuran.

Alhamdulillah, dua tempat yang belum pernah saya datangi akhirnya terwujud di hari itu. Pantai Lovina dan Desa Panglipuran. Sementara tinggal satu tempat yang belum saya tengok, Desa Adat Pegringsingan.

Begitu masuk di areal ini, saya wes antri di seberang gerbang itu untuk foto. Walah antriannya suwe tenan; karena ada rombongan dari Surabaya foto di situ satu per satu. Beuh, akhirnya saya mlipir usai foto-foto grup ya jalan.

Saya berempat dengan Mas Adi, Kak Bebe dan Mbak Maria memakai baju adat Bali. Di sini banyak pilihan banyak tempat. Kalau mau pake baju adat sebaiknya dari awal sehingga bisa dipakai dalam waktu yang lama untuk foto. Sewa baju 50 ribu per set, tapi nggak ada sandalnya, untuk perempuan nggak ada hiasan kepalanya. Di tempat itu ada perlengkapannya tapi kudu beli dan tentu nggak worth it untuk dipakai 30 menitan aja 😁 Toh dengan baju adat yang sebenarnya “seadanya” itu foto kami tetap keren-keren kok.

Mendadak Bali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya, nama baju adat untuk perempuan itu kebaya atau kamen dengan kain dan selendang; sementara untuk laki-laki disebut udeng dan kamen (baju dan sarung). Berfoto dengan latar gerbang rumah tradisional atau di jalan utama desa dengan balutan busana adat akan memberikan pengalaman yang nggak terlupakan. Yach sejenak saja “mendadak Bali” seolah benar-benar menyatu dengan suasana Bali tempo dulu. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah atas kesempatan melihat menikmati tempat indah ini.❤️

Bali memang nggak pernah kehabisan cara untuk memikat hati. Desa Panglipuran ini merupakan sebuah desa adat di Kabupaten Bangli yang terkenal dengan keindahan, keteraturan, serta kearifan lokal yang masih terjaga. Saat memasuki desa ini, kita seolah-olah diajak melangkah mundur ke masa lalu, menyaksikan kehidupan Bali yang begitu dekat dengan harmoni dan tradisi leluhur.

Nama Panglipuran diyakini berasal dari kata “pangeling” dan “pura”, yang berarti “tempat untuk mengenang para leluhur.” Warga desa percaya, Panglipuran adalah wujud penghormatan terhadap nenek moyang mereka yang berasal dari daerah Bayung Gede. Hingga kini, masyarakat Panglipuran masih menjaga tata ruang desa berdasarkan filosofi Tri Hita Karana; keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep kosmologi yang mengutamakan keseimbangan dan keselarasan. Kalau orang Jawa bilang “memayu hayuning bawana”.

Foto awal sebelum turun untuk jalan-jalan di lorong Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Konon, ada pula legenda yang menceritakan bahwa keteraturan rumah-rumah di Panglipuran adalah simbol kesatuan warga desa. Nggak ada tembok tinggi yang membatasi antar rumah, melainkan gerbang-gerbang serupa yang sejajar, menandakan kesetaraan dan persaudaraan.

Begitu memasuki area desa, kita akan disambut oleh jalan utama yang rapi dan bersih, diapit rumah-rumah tradisional dengan arsitektur khas Bali. Hampir setiap halaman rumah memiliki taman kecil yang asri. Biasanya kalau pas ada kegiatan atau ritual keagamaan rumah-rumah ini akan dilengkapi dengan penjor-penjor yang cantik (hiasan bambu khas upacara Bali) yang menjulang anggun. Nggak heran, kalau Panglipuran pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu desa terbersih di dunia.

Selain berjalan-jalan menikmati suasana, di sini kita juga bisa mencicipi loloh cemcem, minuman herbal khas Desa Panglipuran yang segar dan menyehatkan. Namun buat mereka yang nggak biasa minum jamu, yo gakusah. Karena akan terasa aneh di lidah. Bahan dasarnya kunyit, temulawak, dan kedondong hutan. Yach mirip dengan kunyit asam tapi ini lebih pekat. Sekitar 2018-an saya pernah minum ini karena ada kawan yang bawain. Khasiatnya untuk kesegaran badan dan menghilangkan pegal-pegal atau capek. Kali ini saya nggak mampir ke warung untuk cari minuman itu, wong versi saya itu asam kedondongnya lebih dominan😁

Foto-foto di jalan utama Desa Panglipuran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selain jalan-jalan di lorong utama desa, sebenarnya kita bisa mengunjungi hutan bambu yang menjadi bagian nggak terpisahkan dari kehidupan warganya. Di sini, versi orang-orang lokal kita bisa menyaksikan atau bahkan ikut serta dalam aktivitas budaya jika kebetulan bertepatan dengan hari upacara adat. Saya pikir, kaki sudah terlalu pegel untuk jalan dari hulu ke hilir Panglipuran. Jalan dari gerbang sampai ujung.

Meskipun berasa capek, mengunjungi Desa Panglipuran bukan hanya soal melihat keindahan visual. Di sini kita diajak belajar menghargai filosofi hidup sederhana, kebersamaan, dan cinta lingkungan. Dari legenda asal usulnya hingga keramahan warganya, Panglipuran seakan memberi pesan bahwa keindahan sejati lahir dari harmoni antara manusia dan alam.

Jadi bukan hal aneh pula kalau kamu berkunjung di sini ketemu anjing dan kucing berkeliaran secara bebas. Tenang, mereka memang liar (nggak ada pemiliknya), tapi semuanya jinak dan nggak ada yang mengganggu wisatawan, kecuali mungkin kalau kamu jail melemparinya dengan batu… Nah, itu saya nggak tahu risikonya😄😅

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (3): Danau Beratan, Panen Yang Nggak Pernah Habis

Salah satu sisi penampakan Pura Ulun Danu dan Danau Beratan di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Destinasi berikutnya adalah Pura Ulun Danu di Bedugul. Salah satu tujuan wisata yang kondang di Bali karena keindahan alam dan udaranya yang sejuk. Tahukah kamu, Bedugul adalah salah satu tempat dengan kualitas oksigen terbaik di dunia; termasuk satu jenis kualitas dengan oksigen di Swiss dan Hawai.

Itu kenapa kalau ada orang sakit dengan beragam keluhan pernapasan, dokter-dokter yang mempelajari ilmu medis tradisional sering menyarankan untuk “tinggal” di sini beberapa waktu sampai sembuh.

Di Indonesia, tempat yang memiliki kualitas oksigen terbaik lainnya adalah kawasan Candi Gedong Songo, Jawa Tengah; dan Pulau Gili, Sumenep, Madura. Silakan cek-cek masyarakat di ketiga daerah tersebut nyaris nggak pernah sakit. 🤩👍

Rombongan kami di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mumpung di Bedugul, saya memasukkan oksigen ke thumbler yang saya bawa dan menutupnya. Pas sampai rumah, lagi capek-capeknya, menghirup udara dari thumbler itu langsung lebih fresh. Boleh dicoba lhoooh kalau ke sana lagi atau ke tempat lain yang oksigennya sangat bagus.

Begitu sampai tempat ini, dan teman-teman sudah foto-foto saya merasa kayaknya baru kemarin deh ke sini. Setelah cek agenda, oh sudah Desember 2023. Sudah dua tahun lalu. Perasaan kita memang “berbahaya” kalau nggak dikontrol, suka ke mana-mana. Makanya sering banget kita dengar, “jangan baperan” 😁 Perasaanmu belum tentu mencerminkan realita sesungguhnya.

Saya senang ke tempat ini lagi. Kali ini bunga di mana-mana dan banyak yang sedang mekar. Beuh, kalau saya nggak malu akan minta foto di setiap sisi bunga-bunganya. Lha iya dong, masa kamu bangga pamer bunga tulipnya Amsterdam tapi nggak bangga dengan bunga-bunga Nusantara, eh bunga Bedugul😁

Berbunga-bunga di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Berbagai sisi tempat ini lebih tertata artistik. Beberapa bangunan saya lihat sudah selesai dibenahi. Penambahan ring penanda penjagaan juga lebih terlihat agar kita para pengunjung nggak pecicilan keluar masuk tempat suci seenaknya. Pokmen keren lah.

Air Danau Beratan juga terlihat indah keperakan diterpa matahari pagi. Cantik banget. Memang benar, kalau Jogja terbuat dari rindu dan angkringan; Bali terbuat dari adat tradisi dan keindahan alam. Semua sudut sisi Bali adalah keindahan kecantikan alamiah dan adat budaya yang sangat eksis.

Ada yang tahu awal mula terjadinya Danau Beratan di Bedugul ini? Konon tempat ini dulunya terkena abu vulkanik letusan gunung api. Masyarakat sudah lama mengungsi menghindari bencana letusan gunung api.

Kisah asal mula Danau Beratan terpampang pada ilustrasi timbul di belakang saya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah letusan gunung mereda, masyarakat yang mengungsi kembali ke daerah ini. Tanahnya ternyata sangat subur. Mereka pun menanam padi dan tanaman pangan lainnya. Hasilnya sangat melimpah. Panen padi dilakukan secara gotong royong, para wanita memanen padi, sementara para pria mengangkutnya ke lumbung.

Namun, terjadi keanehan. Setiap kali mereka selesai memanen di satu area, padi di area lain sudah tumbuh lagi dan siap dipanen. Fenomena ini terjadi berulang-ulang, seolah-olah padi itu nggak pernah habis. Penduduk desa merasa kewalahan karena padi terus tumbuh tanpa henti.

Karena mereka terus-menerus memanen dan nggak ada habisnya, ladang-ladang mereka mulai tergenang oleh air yang meluap dari dalam tanah. Air ini terus bertambah hingga akhirnya menenggelamkan seluruh ladang, mengubahnya menjadi sebuah danau besar.

Bunga-bunga lainnya di Bedugul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Penduduk desa pun terpaksa pindah dan mencari tempat tinggal baru. Danau yang terbentuk dari kejadian ini kemudian dikenal sebagai Danau Beratan.

Beberapa tahun setelah danau terbentuk, seorang raja Bali yang sedang bermeditasi di Gunung Mangu, nggak jauh dari danau, mendapatkan petunjuk. Ia melihat cahaya di tepi danau yang menandakan bahwa tempat itu suci dan harus didirikan sebuah pura. Raja Bali itu memerintahkan rakyatnya untuk membangun pura di tepi Danau Beratan.

Pura tersebut diberi nama Pura Ulun Danu Beratan, yang secara harfiah berarti “kepala danau” atau “penguasa danau”. Pura ini dibangun sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada Dewi Danu, dewi air, sungai, dan danau, yang dipercaya sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran.

Bambu kuning (jelmaan atau perwujudan padi), Dewi Danu, di areal yang dilingkari (dijaga atau di bawah kekuasaan) dua naga. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Hingga kini, Danau Beratan dan Pura Ulun Danu menjadi simbol penting bagi masyarakat Bali, terutama dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Bahkan, rumpun bambu kuning yang tumbuh di sisi selatan pura dipercaya sebagai jelmaan dari tangkai padi yang dahulu ditancapkan saat panen, menjadi saksi bisu dari legenda tersebut.

Menarik kan kisahnya? Yach begitu negeri kita, setiap tempat istimewa pasti ada legenda dan asal usulnya. Bahkan mitos-mitosnya.

Di tempat itu juga ada 2 naga melingkari bambu kuning dan Dewi Danu. Saya kurang mengerti makna simbolis ini dalam versi Hindu Bali dan nggak ada yang ditanyai pula. Mbokde Saori (guide lokal Bali) entah ke mana; beberapa orang lokal yang saya tanyai nggak paham tentang naga itu.

Bunga-bunga lainnya. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Secara umum di Nusantara, kita memiliki legenda naga dengan warna “hijau” dan “biru” yang sebenarnya sama saja: sisi kiri dan kanan; sebagai simbol penguasa Nusantara (maritim, khatulistiwa) yang harus kokoh berdiri tegak kuat menjaga Nusantara, terutama dari ancaman naga merah, naga api (kekaisaran Tiongkok, China).

Hal ini sudah terjadi sejak zaman Kertanegara memotong kuping, rambut, merusak wajah utusan China (Meng Ki) yang meminta Singosari tunduk dan mengirim upeti kepada China. Perlakuan itu bentuk simbolis perlawanan dan penolakan. Hingga sekarang pun sebenarnya kita sedang “perang” dalam bentuk yang lain dengan negeri tirai bambu ini.

Kalau sampeyan sering ke mana-mana, pasti akan menemukan simbol-simbol naga biru, hijau, atau emas di seluruh Nusantara. Simbol penguasa yang berdaulat dan menjaga kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya dengan melingkari seluruh arealnya menggunakan seluruh badan hingga ekornya.

Ini hanya interpretasi saya pribadi. Butuh sumber dan validasi ahli untuk mengetahui secara pasti makna simbolis dua naga yang melingkari bambu kuning dan perwujudan Dewi Danu.

Sisi lain pura yang banyak dipakai orang foto-foto. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di sini kami makan siang di areal restoran. Kenyang, enak. Oh iya, untuk Teman-teman muslim yang ikut trip ini, sampeyan kudu secara mandiri mengatur waktu sholat dan mencari tempat sholat ya. Karena ini trip umum, bukan khusus moslem friendly.

Begitu ada waktu istirahat, makan, di rest area; carilah waktu dan tempat untuk sholat. Jangan nungguin teman lainnya. Urusan sama Allah urusanmu pribadi, bukan urusan travel atau orang lain.

Sepanjang trip, saya menggunakan fasilitas kemudahan sholat sebagai musafir (dijamak, diqashar, sholat di bus, di tempat yang saya anggap bersih, dll) sesuai situasi dan keadaan.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (2): Mereka Datang Berombongan

Saya dengan Uni Noni dari Padang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Setelah pelunasan ke Sering Travel, saya malah galau mendadak. Galau pertama, guru saya, Uni Noni datang dari Andalas Padang dan 3 hari di Jogja. Terus Prof Iin dari Murray State University (USA) mengisi seminar 5 hari di Jogja. Duh, kalau nggak ada acara, malam mereka free saya bisa mengikuti ke mana saja mereka pergi dan pasti banyak ilmu yang saya dapatkan. Terlebih kalau sudah lama nggak jumpa. Galau kedua, ternyata trip berangkat pagi bukan sore atau malam seperti biasanya trip yang pernah saya ikuti. Jam kerja itu berarti nambah sehari gaweyan yang kudu saya bereskan sebelum pergi.

Syukurlah dengan komunikasi yang baik, saya tetap bisa jumpa dua guru saya tersebut. Sebentar saja, tapi lebih dari cukup melepas rindu. Alhamdulillah. Seminggu sebelum trip saya wes ekstra lembur membereskan gaweyan-gaweyan penulisan ataupun urusan kampus. Meskipun sampai di hari H pun sepagian dini hari s/d jam tujuh saya masih ibuut dengan beberapa gaweyan kecil sampai rampung.

Saya dengan Prof Iin. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah berangkat ke mepo wes beres kerjaan, tapi masih dalam keadaan lapar. Sampai SPBU Adisutjipto, ngepos sarapan secangkir cokelat dan donat. Lumayan, mengisi perut. Aman, beberes dan segera ke pinggir jalan. Jumpa Mbak Nita dan suaminya yang juga ikut trip ini. Nggak lama, bus pun datang.

Jumpa si TL Kak Mancay dan Fotografer Kak Bebe. Melihat TL nya saya malah ingat si Patkay di serial Sun Gokhong😁😂 Hadeuh kenapa malah lupa si Tabib Sucinya😜 Kalau si Bebe ini mengingatkan pada figur adik lelaki saya belasan tahun silam saat dia kuliah di ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya. Tinggi jangkung, kurus, putih, berkacamata, gampang tersenyum pelit bicara. Lha beneran, ternyata si Bebe juga masih kuliah😁😂

Bus yang kami pakai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Di bus, saya dapat pin, snack berat dan air mineral. Tempat duduk lega, AC dingin, bagasi kabin lumayan, ada selimut bantal leher, tempat snack dan minum, lengkap dengan sabuk pengaman. Hanya sandaran kaki yang bikin saya seperti “gantung diri”. Lha model begitu cocok untuk mereka yang kaki panjang. Sementara mereka yang kakinya nggak panjang, itu hanya bikin kaki menggantung dengan sempurna. Kalau menaikkan kaki, melipat kaki di kursi ya tetep nggak nyaman, sakit.

Sungguh bikin sengsara sepanjang perjalanan untuk orang imut-imut seperti saya. Mungkin Sering Travel perlu mempertimbangkan bus non sandaran kaki, tapi ruang tempat duduk cukup lega. Biar mo kaki panjang atau enggak panjang, tetep bisa menapakkan kaki di dasar, nggak menggantung.

Begitu saya sudah meletakkan barang, sebentar saja wes tidur. Jadi saya nggak ingat siapa yang naik bus, kecuali terbangun waktu makan siang di Titin Caruban. Makanan enak, kenyang. Dan seperti biasa waktu ishoma, ya makan sholat, ke toilet, bebersih.

Perahu-perahu yang bersandar di Pantai Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Balik bus, saya tidur lagi. Beberapa kali melek karena ada kuis-kuis berhadiah. Njur tidur lagi sampai waktunya makan malam. Di mana ya itu? Lupa. Mungkin di Situbondo. Masuk bus ya, saya tidur lagi. 😁😂

Tahu-tahu dibangunin Mbak Fera karena sudah tiba di pelabuhan. Saya berasa berasa limbung tuh kaki kelamaan “digantung”.
Setelah sejam-an kayaknya naik bus lagi dan sampai ke rest area. Ganti baju dll sebelum ke Pantai Lovina.

Sampai di areal Lovina berhenti agak lama nunggu pagi untuk naik perahu. Nggak banyak yang bisa saya ceritakan soal perjalanan, karena saya duduk di sisi tengah non jendela, jadi nggak tahu pemandangan di luar dan kebanyakan saya pake tidur untuk membayar kurang tidur berhari-hari agar selama trip nggak ditagih gaweyan. Yach, begitulah konsekuensi kalau jadi freelancer. Nggak kerja nggak dapat duit 😁

Saya dan teman teman satu perahu untuk melihat lumba-lumba di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saat mau naik perahu di Lovina, saya terkejut dengan banyaknya pengunjung dan perahu yang bersandar di areal itu. Biyuu… lha kalau nanti semua perahu itu turun ke laut, apa iya lumba-lumba mau keluar? Pikir saya. Karena setahu saya, lumba-lumba ini jenis mamalia penolong sekaligus pemalu. Mereka tuh nggak akan muncul di keramaian atau kebisingan.

Pada waktu di Maluku itu, kami “berburu”nya sampai jauh untuk bisa jumpa lumba-lumba. Itu pun di lautan luas dan nggak banyak kapal lalu lalang. Jadi beneran sepi dan lumba-lumba pun muncul dengan atraksi-atraksinya.

Lha kalau begini ramai, apa si lumba-lumba mau muncul? Saya pun mider bertanya pada beberapa orang lokal dan tukang bawa perahu. Kata mereka, lumba-lumba selalu muncul tapi sebentar saja di berbagai tempat. Jadi sebagian orang sempat lihat, sebagian yang lain enggak. Jarang juga ketemu lumba-lumba yang atraksi (melompat di atas laut). Saya mencicil lega. Oh, sekurangnya mereka muncul. Bisa lihat atau enggak itu tergantung amal perbuatan masing-masing… hihi…

Di Lovina saya sudah bisa tertawa lebar, berarti sudah cukup tidur dan pulih energi untuk jalan panjang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dan begitulah, kami 29 orang dikelompokkan dalam 2 perahu. Semua memakai pelampung sebelum naik perahu. Yach, namanya juga tetap laut. Sesuatu bisa aja terjadi. Meskipun saat itu laut tenang, nggak gelombang, dan warna airnya gelap cokelat seperti air sungai Mahakam.

Biyuuu… pas sudah di laut tampak bahwa areal ini seperti cendol dhawet di gelas. Persis seperti areal Goa Pindul kalau lagi padat pengunjung. Penuh sesak perahu yang hilir mudik. Ada perahu yang isinya 3 orang, 4 orang, 5 orang, 10 orang, bahkan lebih.

Perahu saya isinya berapa orang ya? Mungkin yang 17 orang? (Cmiiw). Diam-diam saya khusyuk berdoa agar semua selamat, perjalanan lancar, dan bisa jumpa lumba-lumba.

Sunrise cantik di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan dengan perahu di Lovina ini lebih kurang 2 jam. 30 menit jalan ke tengah, 30 menit eksplore nungguin lumba-lumba, 30 menit jalan kembali, 30 menit untuk lain-lain (antrian, foto-foto, dokumentasi).

Masuk ke areal pantai ini gratis bagi pejalan kaki. Rasah bayar. Tapi kalau bawa mobil parkir resminya 5 rb perak, nggak resminya ya suka-suka kang parkirnya 😁 Terus yang umum untuk naik perahu sharing per gundul 100 rb buat keliling lihat lumba-lumba.

Kalau sewa perahu dengan durasi 1.5 sd 2 jam kisaran 1.5 sd 2.5 juta; ya tergantung nego. 1 perahu dengan kapasitas maks 1500 kg; jadi muat berapa orang itu tergantung kurus langsingnya😜😂 Kalau untuk honeymoon, pasti amanlah… suami istri plus kang perahu dan fotografer pasti jauhlah itu dari 1500 kg😜 Cuman karena ini trip by biro, ya travel agent lah yang urus. Kita mah tahu beres aja.

Ilustrasi kemunculan lumba-lumba di Lovina. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perahu yang saya tumpangi sudah ke tengah dan mulailah kami bertemu lumba-lumba. “Waaaah…. itu… ituuuu…” teriakan heboh terdengar setiap kali kami melihat lumba-lumba. Mereka datang berombongan.

Namun karena warna air laut keruh cokelat hitam dan lumba-lumbanya juga berwarna cokelat hitam, kehadiran mereka nggak selalu nampak jelas. Itu pun begitu mereka muncul dan langsung ada teriakan heboh, mereka langsung menghilang lagi dalam air dan nggak muncul-muncul lagi di tempat yang sama. Tahu-tahu ada teriakan heboh dari perahu di seberang jauh. Itu artinya lumba-lumba muncul di dekat mereka.

Alhamdulillah. Ternyata begitu model kemunculan lumba-lumba di Lovina. Ada 4 atau 5 kali orang-orang di perahu saya bertemu lumba-lumba. Luar biasa. Semua orang baik dan semoga banyak berlimpahan rezeki kebaikan. Amin YRA.

Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah, akhirnya kesampaian niat saya lihat lumba-lumba di Lovina. Terimakasih atas penjagaan-Mu yang luar biasa sepanjang trip ini.

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bali Lovina (1): Demi Ketemu Lumba-lumba

Saya dengan Bu Sri (owner Bali Media Grup) usai siaran tentang Herbal dan Pengobatan Tradisional Bali untuk radio Bali.

Dari seluruh tempat di Indonesia, Bali paling indah dalam versi saya. Sejak belia saya sudah jatuh cinta dengan Bali. Alamnya yang indah, budayanya yang kuat terjaga, masyarakat pekerja seni yang ramah, dan tentu kemajuan zaman nggak membuatnya “berubah” dari adat tradisinya.

Sejak belia pula sudah nggak terhitung berapa kali saya ke Bali. Adik saya pun ada yang kuliah di Udayana, Bali. Beberapa orang dekat dan sahabat saya juga tinggal menetap di Bali. Kalau biaya hidup di Bali nggak mengikuti standar USD, mungkin saya pilih menetap di sini. Selain itu, karena saya muslim, kalau di Bali jelas butuh usaha lebih untuk ibadah. Gema adzan nggak akan bersahutan merdu seperti di Jogja.

Toh negeri seribu pura ini serasa rumah “kedua” yang paling sering saya tinggali selain Jogja. Terlebih ketika saya menetap kerja sebagai script editor ngurusin sinetron dan film di Multivision Plus Jakarta, Bali adalah tempat “menghilang” dari rutinitas kerja yang melelahkan.

Saya akan terbang Sabtu pagi-pagi ke DPS lalu kembali ke JKT Minggu dengan penerbangan paling malam. Hampir tiap bulan begitu selama 12 tahun. Ngapain saja di Bali? Ya suka-suka. Kadang jalan, piknik, wisata kuliner, belanja, melukis, kadang cuma pindah tidur tanpa gangguan. Bali adalah sisi lain yang saya kenali dengan sangat baik setiap sudut wisatanya.

Meskipun begitu, ada tiga tempat yang hampir setengah abad umur saya belum pernah saya tengok di Bali. Pantai Lovina. Desa Panglipuran. Desa Adat Pegringsingan. Entah ada aja sebab nggak jadi ke tempat itu. Terakhir di 2019, saya dengan sahabat wes ngatur piye caranya bisa ke tempat-tempat tersebut secara mandiri.

Saat itu saya ada gaweyan di KL. Karena sahabat saya selow, dari KL saya terbang ke DPS. Tiba jam 22 WITA, mestinya jam 23 WITA saya sudah keluar bandara. Niatnya segera istirahat (rumah sahabat saya di sekitaran bandara) agar besok jam 03 WITA saya dan sahabat sudah bisa memulai perjalanan menuju Lovina.

Ndilalah kok saya kena random check dan njelehi tenan pemeriksaan macam-macam karena saya membawa pil-pil putih nggak bernama (placebo) untuk penelitian, tapi nggak ada keterangan yang bikin pemeriksaan makin ruwet.

Rasa waspada (sampai mungkin paranoid) petugas bandara DPS dengan mereka yang gamisan dan jilbaban lebar juga bikin pemeriksaan identitas saya sangat lama. Saya sampai mengeluarkan kartu Kagama (alumni UGM) agar mereka bisa ngecek konfirmasi kalau saya bukan orang tanpa identitas dari Malaysia. Jelas nggak termasuk DPO atau jaringan teroris internasional.

Setelah kejadian itu, saya nggak pernah lagi terbang antar negara melewati bandara internasional pake gamis kerudungan lebar, kecuali umroh dengan rombongan yang urusan berangkat-pulang wes diurus biro dan TL-nya.

Keluar dari bandara saat itu wes hampir jam 04 pagi. Yo jelas ambyar semua rencana kami 😜 Saat itu kami memilih menertawakan sistem birokrasi bandara kita yang ruwet bin angelo itu dengan wisata kuliner dan belanja-belinji, tuku-tuku sakarepmu. Nggak bisa ke Lovina ditunda besoknya; karena saya sudah harus kembali ke Jogja hari itu. Gaweyan urgent gakbisa ditinggal. Lha kan itu yang bikin kita dapat duit.😁😂

Namanya juga keinginan, kalau belum kesampaian kayak mengganggu pikiran aja. Makanya begitu lihat flyer Sering Travel berseliweran di timeline FB saya dan ada destinasi Pantai Lovina, nggak pake mikir dua kali saya langsung daftar. Waktu itu bulan Februari 2025 (bisa cek kwitansi saya di admin) untuk keberangkatan bulan Juni 2025. Niat tenan dan versi saya biayanya ringan. Nggo beli tiket pesawat pp JOG DPS bae racukup😁

Kenapa Juni, kok nggak bulan sebelumnya? Beuh, jadwal saya wes penuh. Januari saya ke Bromo. Februari ke Ijen. Maret eksplore Gunung Kidul. April piknik keluarga besar di daerah DIY. Mei di sekitaran Trowulan, Jawa Timur. Juni belum ada jadwal. Nah itu sebabnya pilihan di bulan Juni.

Tapi ndilalahnya Juni saya ada tugas delegasi Dialog Sastra Melayu 3 Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam) di Kalimantan Timur. Biyuh, mundur lagi jadwal saya ke Lovina. Untungnya boleh diganti di bulan September.

Juni saya beneran turun hampir di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Juli saya full di Solo bolak balik Jogja. Agustus nggak ke mana-mana karena full dengan lomba-lomba Agustusan dan acara-acara ritual untuk penerimaan mahasiswa baru.

September ke Lovina. Oktober s/d Desember jadwal saya pun sudah penuh. Jadwal piknik (baca: bepergian) saya nyaris sebanyak jadwal mengisi kelas-kelas atau workshop penulisan di seluruh Indonesia; karena banyak juga piknik saya didanai klien atau sponsor.

Itu sebabnya kalau ada temen yang ngajak pergi dadakan, saya langsung setoran bendera putih. Mengganti jadwal nggak semudah membolakbalik tangan, apalagi kalau program yang melibatkan banyak orang. Dan finally, hore akhirnya saya berangkat betulan ke Lovina setelah (rasanya) berabad-abad tertunda melulu 😀🤩

Kenapa pingin sekali ke Lovina? Lihat lumba-lumba di alam aslinya. Di Maluku (tapi kalau secara de facto kayaknya lautan itu sudah masuk wilayah Australia), saya juga sudah pernah melihat lumba-lumba dan itu super “menyenangkan”. Happy dan takjubnya tuh nggak ilang selama berhari-hari.

Lumba-lumba yang saya lihat di Maluku. Sungguh wow… saya masih ingat betul teriakan heboh waktu melihat dua makhluk ini melompat di atas lautan. Sungguh menyenangkan.

Terus ada mitos di kalangan bangsa pelaut atau mereka yang punya tradisi maritim; siapa saja yang bisa melihat (bertemu) lumba-lumba di alam aslinya (adalah orang baik); dan akan mendapatkan beragam kebaikan, kesehatan, keberuntungan, keberlimpahan rezeki, keselamatan, keberkahan, dl.

Makanya saya juga ingin lihat lumba-lumba yang di Lovina. Secara biaya, ke Lovina jelas lebih terjangkau daripada pecicilan lagi ke Maluku. Pokmen kalau wisata Indonesia Timur, kalau nggak ditopang dana sponsor, beneran bisa bikin kantong jebol.

Ke Eropa 7 negara kamu cuma butuh 35 juta 14 hari sudah all in termasuk uang saku pribadi. Ke Maluku 35 juta cuma di Ambon sekitaran dan 7 hari saja, belum kalau laut lagi nggak bersahabat nggak bisa nyeberang, charge hotelmu bisa nambah terus 😂😁 Ke Eropa kalau dibuat flexing di sosmed sering di-like dan di-love banyak follower karena dianggap keren, glamour, kaya; Kalau ke Maluku capek fisik, ribet naik turun perahu, gonta-ganti pesawat kecil, jalan dan sarpras yang belum memadai, diposting di sosmed pun sering dianggap biasa aja😂😁

Wes pokmen, wisata domestik kita (mayoritas) memang masih mahal di ongkos terutama areal Indonesia Timur. Tapi bagi mereka yang doyan piknik; Indonesia Timur adalah “taman surga” yang mengejawantah di bumi. Semua alamnya cantik luar biasa. Biaya mahal, capeknya jalan di medan naik turun, ribetnya gonta-ganti pesawat atau perahu (kadang harus nunggu berhari-hari demi terpenuhi kuota minimal), dll effort besar itu nggak ada bandingannya dengan saat kita bisa berhadapan langsung dengan keindahan alam mahakarya sang Pencipta di muka bumi. Subhanallah ❤

Karena ini ikut open trip 4D3N saya tahu diri. Gakbawa koper, pakaian ganti secukupnya, gak bawa buku-buku yang biasanya selalu ada di tas kalau bepergian, gakbawa bantal pribadi. Lagipula, ini ke Bali; saya tenang aja. Kalau ada apa-apa, ada banyak orang yang bisa ditelponin untuk bala bantuan.

Bagaimana keseruan piknik saya bersama Sering Travel? Ikuti aja catatan saya berikutnya yes. Dan ingat, saya nggak sedang mengendorse biro wisata yes. Saya ikut trip ini bayar mandiri. Walaupun biaya ringan, tetep saya bayar 3x sesuai aturan mereka. Jadi di ingatan saya tuh, serasanya cuma bayar 300 rb (DPnya) sudah piknik ke Bali. Tentu masih banyak item yang kudu bayar dhewe. Ntar saya spill budget kalau sudah selesai ceritanya. Tapi sabar ya… nulisnya dikit-dikit😂

Ari Kinoysan Wulandari
Bersambung

Please follow and like us:

Bulan Agustus Penuh Warna

Saya ketika di Wahanarata Jogja. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bulan Agustus sudah berlalu beberapa hari. Bulan kemerdekaan ini menghadirkan nuansa istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah kita merayakan kemerdekaan dengan segala makna dan refleksinya.

Bendera merah putih berkibar gagah di setiap sudut jalan, lomba-lomba rakyat penuh keceriaan, hingga doa syukur terlantun di berbagai kesempatan. Semua itu mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah instan, melainkan buah perjuangan panjang yang diperoleh dengan pengorbanan besar.

Menghayati Agustus berarti belajar bersyukur. Bersyukur karena bisa hidup di negeri merdeka yang memberi ruang bagi kita untuk berpendapat, berkarya, dan menggapai mimpi. Bersyukur atas persatuan yang masih terjaga meski perbedaan begitu banyak. Bersyukur karena generasi sekarang bisa menikmati pendidikan, teknologi, dan kebebasan yang dahulu hanya bisa diimpikan para pejuang.

Namun, rasa syukur nggak cukup hanya diucapkan. Syukur sejati harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Kita bisa menunjukkan rasa syukur dengan menjaga lingkungan tetap lestari, menghargai orang lain tanpa memandang perbedaan, serta berkontribusi sesuai kemampuan untuk kemajuan bersama. Agustus menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan peran kita dalam melanjutkan semangat juang, bukan sekadar mengenang sejarah.

Saya pribadi mencatat banyak hal dan peristiwa di bulan Agustus. Dari rutinitas kerja menulis, mengajar, meneliti, juga banyak mengikuti kegiatan lomba-lomba Agustusan di lingkungan, kegiatan sosial, pergi ke beberapa daerah wisata sekitaran tempat tinggal, dll. Bulan Agustus saya lewati dengan banyak syukur dan sukacita.

Sekurangnya di bulan Agustus saya memutuskan untuk lebih produktif berkarya. Lebih banyak belajar hal-hal baru agar hidup lebih bermakna. Bagaimanapun hal yang membuat kita bahagia adalah pembaruan dan perbaikan terhadap hal-hal kecil yang kita lakukan secara terus menerus dan penuh syukur.

Alhamdulillah. Inilah yang membuat saya lebih optimis setiap hari, termasuk menapaki bulan September yang tahu-tahu sudah lewat lima hari. Betapa cepat waktu berlalu. Mari kita isi hidup dengan hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Kenapa Kita (Nggak) Mudah Bersyukur?

Saya dengan salah satu guru saya, Uni Noni. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pernah nggak sih, kamu merasa hidupmu “biasa-biasa saja”? Padahal kalau dilihat oleh orang lain, sebenarnya banyak banget hal yang bisa kita syukuri. Misalnya, kita sehat, punya keluarga, punya rumah, baju banyak, bisa makan tiga kali sehari, bisa tertawa bebas, bisa beribadah dengan mudah, punya pekerjaan dan penghasilan, dlsb. Tapi anehnya, hati tetap saja merasa kurang. Nah, kenapa ya kita sering kali nggak mudah bersyukur?

Manusia cenderung membandingkan. Saat teman liburan ke luar negeri, kita merasa liburan ke kota sebelah jadi “nggak ada apa-apanya”. Padahal, kebahagiaan bukan datang dari seberapa mewah tempatnya, tapi bagaimana kita menikmatinya.

Membandingkan terus-menerus bikin hati gampang merasa kurang, seolah apa yang ada sekarang nggak pernah cukup. Kita selalu menghitung-hitung yang belum kesampaian atau belum ada, sampai lupa menikmati semua yang sudah ada.

Sering kali kita mengukur hidup dari standar sosial media: harus punya barang-barang branded, wajah glowing, rumah estetik, piknik serba luar negeri, karier cemerlang, mobil mentereng, anak-anak sekolah di tempat-tempat elite favorit, dll. Kalau belum sampai titik itu, rasanya hidup kita (masih) gagal.

Padahal, standar kebahagiaan tiap orang berbeda. Kalau terus mengejar standar orang lain, kita akan sulit banget merasa cukup. Ibarat kata ukuran sepatu kita 40, tapi memakai sepatu ukuran 45 ya kegeden nggak pernah nyaman atau bahkan kesandung-sandung.

Saat sesuatu sudah jadi kebiasaan, kita sering lupa nilainya. Bisa makan enak, minum air bersih, bisa naik mobil, bisa pesan makanan online, punya rumah sendiri, punya gaweyan mapan, dll; semua itu sebenarnya kemewahan yang nggak semua orang punya. Tapi karena terbiasa, kita merasa itu “biasa saja”. Dan karena menganggap biasa saja, kita jadi lupa bersyukur. Iya apa iya?

Kadang, kita terlalu sibuk mengejar yang berikutnya sampai lupa berhenti sejenak. Hidup terasa seperti lomba tanpa garis finish. Kalau hati terus sibuk mengejar, kapan sempat berhenti dan berkata, “Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah untuk semua rezeki dan berkah-Mu hingga hari ini.”

Jadi, bagaimana biar lebih gampang bersyukur?

Belajar sadar momen kecil: nikmati secangkir kopi, obrolan hangat, atau sekadar bisa tidur nyenyak.

Kurangi membandingkan: ingat, highlight hidup orang lain di media sosial bukan cerita penuh mereka. Tampilannya mungkin hanya yang glamour, glossy, happy. Eh, coba ulik kehidupan riil mereka, kita nggak pernah tahu seberapa banyak jatuh bangun, keringat, airmata yang mereka curahkan untuk bisa pada titik itu. Jadi, kalau kamu iri sama “kesuksesan” orang lain, coba tengok perjuangan dan jatuh bangunnya juga.

Tulis jurnal syukur: coba tulis tiga hal yang kamu syukuri setiap malam. Lama-lama, otakmu terbiasa melihat sisi positif.

Berbagi: saat kita memberi, kita sadar bahwa ternyata apa yang kita punya sudah lebih dari cukup. Memberi membawa ruang kebahagiaan.

Bersyukur itu bukan berarti berhenti bermimpi atau pasrah. Bersyukur adalah menikmati apa yang ada sambil tetap berusaha lebih baik. Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan datang dari seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa happy kita menikmati dan menghargai segala yang sudah ada.

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us: