
Gambar hanya sebagai ilustrasi, biar banyak uang banyak rezeki berkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Menjelang Ramadan tahun ini, jujur saja saya sempat ragu. Kondisi tubuh sedang tidak benar-benar sehat. Dalam hati saya bertanya-tanya: bisa enggak ya menjalani puasa penuh seperti biasanya? Tapi Ramadan selalu punya daya panggil yang kuat. Rasanya sayang kalau tidak mencoba. Jadi saya mulai saja dulu. Niat, bismillah, dan berharap Allah memberi kekuatan.
Tiga hari pertama puasa terasa sangat berat. Lapar sekali rasanya. Tubuh seperti terus mengingatkan bahwa kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali muncul pikiran untuk membatalkan saja. Rasanya sangat manusiawi. Setiap kali keinginan itu muncul, hati saya juga berbisik, sayang sekali kalau batal.
Akhirnya saya bertahan. Hari demi hari lewat. Alhamdulillah, saya masih bisa melanjutkan puasa. Namun, tubuh punya batasnya sendiri. Di puasa ke-20, saya benar-benar drop. Kali ini tidak bisa dipaksakan lagi. Demi kesehatan, saya akhirnya menurut nasihat dokter: berhenti puasa sampai kondisi sehat kembali. Ada rasa sedih tentu saja, tapi saya juga percaya bahwa Allah Maha Baik. Dalam ibadah pun, Allah tidak pernah menghendaki hamba-Nya memaksakan diri.
Karena alasan kesehatan itu juga, Ramadan tahun ini saya banyak mengurangi aktivitas. Saya tidak menghadiri banyak undangan buka bersama, bahkan undangan dari adik dan ipar sendiri pun harus saya lewatkan. Mohon maaf untuk semua yang sudah mengundang. Praktis, saya hanya menghadiri bukber yang benar-benar dekat dan ketika kondisi tubuh sedang cukup sehat.
Hal lain yang berbeda tahun ini adalah soal parsel Lebaran. Biasanya saya cukup repot menyiapkan sembako atau parsel untuk dibagikan ke banyak orang (sesuai kemampuan keuangan saya), termasuk kerabat sahabat nun jauh-jauh di luar Jogja. Tahun ini rasanya energi dan tenaga tidak memungkinkan.
Jadi saya memilih cara yang lebih sederhana: angpao saja. Masukkan uang ke amplop, antar, selesai. Bahkan banyak yang saya transfer untuk lebih memudahkan karena tidak perlu mengantarkan ke ybs. Urusan jadi lebih cepat, lebih sunyi, dan tidak melelahkan. Tidak perlu belanja, packing, dan gotong-gotong yang biasanya cukup menguras tenaga dan waktu. Dan ternyata, cara ini juga terasa lebih praktis bagi yang menerima. Mereka bisa menyesuaikan sendiri dengan kebutuhan masing-masing.
Karena itu, saya sempat berpikir, mungkin tahun ini saya juga akan absen menerima parsel Lebaran. Lha saya nggak berbagi ke yang jauh-jauh. Lho ternyata tidak.🙈Syukurlah, masih ada kiriman parsel-parsel yang sampai ke rumah saya. Rasanya adem sekali di hati. Karena itu seperti tanda bahwa saya masih diingat sebagai penulis, sebagai relasi. Ada kiriman dari beberapa penerbit, dari dua PH, dan dari beberapa mantan klien.
Alhamdulillah, yang datang bukan makanan; malah hampir tidak ada makanan. Orang-orang mungkin sudah mulai berpikir memberi parsel yang praktis dan lebih bermanfaat. Jujurly, kalau makanan –apalagi makanan basah, sudah pasti harus saya bagikan lagi, terutama kalau jumlahnya cukup banyak. Karena nggak mungkin saya makan semuanya dan nggak mungkin disimpan terlalu lama; biasanya 3-7 hari wes nggak enak lagi atau berbeda rasa, aromanya (kalaupun disimpan di dalam kulkas).
Isi parsel yang saya terima kali ini justru beragam; berupa barang-barang yang bisa dipakai lama. Ada yang benar-benar bikin saya surprise: laptop. Wah, sangat bermanfaat ini. Selain itu ada tas tangan, kerudung, mukena dan sajadah, kipas angin duduk, minyak kelapa dan madu, minyak pijat ukuran besar, satu set mangkuk mie lengkap dengan sumpitnya, dan sepasang cangkir.
Dan yang paling bikin saya penasaran pas mau buka itu mini karpet ukuran 1 x 1,5 meter. Saya sempat mikir, ini isinya apa ya?Tertawalah saya saat tahu isinya 😀 Selain parsel dari PH, saya juga menerima dua angpao Lebaran dari dua produser. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.😇
Di tengah Ramadan yang nggak sepenuhnya bisa saya jalani dengan maksimal, semua itu terasa seperti pengingat diri bahwa Allah benar-benar Maha Baik. Selalu ada cara-Nya menghadirkan rasa hangat, rasa syukur, dan rasa disayangi ❤️ Terima kasih untuk semuanya. Semoga Allah menggantinya dengan kebaikan berlipat berkah. Amin YRA.
Selamat menyelesaikan ibadah Ramadan.
Sebisa mungkin mari kita pol-polan ibadahnya di hari-hari terakhir Ramadan ini. Selamat mudik. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin.🙏
Ari Kinoysan Wulandari
