Soul Conference 10 (SC10) [10] Tamat: Alhamdulillah. Terimakasih, Teman-teman Joglosemar

Display jajanan di toko oleh-oleh Banyuwangi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Setelah menengok Mas Adin di RS, kami melanjutkan perjalanan ke toko oleh-oleh. Pas hari ke-2 saya sempat menanyakan ini ke Mas Robert. Lalu dia mengatakan bisa dikondisikan. Mbak Tika malah nanya ke saya (tempat) oleh-oleh mana. Saya menyebut 2 nama dan dipilihlah 1 sesuai SM.

Turun dari bus, saya wes tahu harus beli apa. Hitung jumlah tetangga kiri kanan, keluarga, dan orang-orang dekat. Wes begitu saja, masuk-masukin keranjang, didus, bayar. Di sini layanannya lumayan cepet, barang-barang terdisplay dengan baik; meskipun harganya yo lumayan 😂 Lha dus packingan standar untuk oleh-oleh tuh di Jogja, di mana saja mung 3 rb, lha di sini 8 rb 😁

Hihi, namanya juga perempuan. Mo punya duit pun tetep itungan. Lha selisih barang belanjaan 500 perak bae kita milih ke toko seberang kok. Padahal ke seberang itu butuh effort, bensin, waktu, dll. Tapi ya itulah istimewanya perempuan. No debat😁😂

Pas mau ke bus saya baru ingat, minuman manis habis. Jadi saya balik ke toko untuk ambil minuman. Harganya 5 rb an, waduh gakbisa QRIS ini. Harus pakai cash. Bu Rai malah meneriaki, “Sudah Mbak, saya bayarin saja (minumnya). Sini.”

“Wah, terima kasih banyak ya, Bu.” Nggak repot ambil cash di bus saya 🙈🙏

Di Ardial toko oleh-oleh ini lumayan komplit isi jajanannya. Tapi souvenir macam kaos, topi, ganci, batik, dll ora ono. Mung jajanan. Dan syukur alhamdulillah nya ada kopi-kopi asli Banyuwangi. Cobain deh kopinya. Enak lho. Nggak kalah sama kopi-kopi daerah lain di Nusantara 😁

Usai beres beli oleh-oleh, kami ke tempat makan malam. Saat itu diinfo oleh Mas Robert kalau perjalanan berubah arah, nggak lewat tol; tapi via Jember Lumajang. Saya langsung bilang alhamdulillah.

Beberapa teman saat makan malam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Pertama, jelas dengan lewat jalan standar, tiba di Jogja wes padang njingglang, saya tenang aja mo turun di mana. Kalau lewat tol, mungkin masih dini hari jam 2 lewat sudah sampai Jogja; saya rada mikir kalau turun sendirian di jalan. Mungkin ya perlu thenguk-thenguk dulu di center. Kedua, menghemat biaya. Jelas non bayar tol duit masih ada sisa; dan beneran makan malam itu teman-teman nggak perlu bayar (lagi) sesuai tanggungan masing-masing.

Saya lupa nama warung makannya. Saya ikut turun tapi nggak makan. Selain karena masih kenyang bakso, SM saya kok kecil banget. Lhah ya, masakan pedas, porsi besar, dan model olahannya untuk seafood nggak bisa saya makan. Jadi saya mung thenguk-thenguk nemenin orang makan sambil lihat jalanan yang cukup ramai.

Setelah itu, kami balik ke bus dan lanjut perjalanan. Wes saya nggak inget lewat mana saja. Tidur. Tahu-tahu ki wes di Madiun. Subhanallah, nyenyak tenan saya tidur. Nggak terganggu situasi dll yang kurang bersahabat saat di jalan. Berasa laper. Turun cari makan minum sama Zaka, malah warung banyak yang tutup. Untung ada yang buka.

Standar kalau masuk warung makan di areal wisata atau manapun nggak ada daftar harga, nanya dulu daripada berantem di belakang. Coffeemix 10 rb. Soto 30 rb. Kerupuk 10 rb. Biyuuu, semua kok 2-3x lipat dari Jogja gitu😁 Saya mung senyum bae. Laper Ri, kamu nggak makan bisa ribet nanti. Jadi saya memesan semuanya. Alhamdulillah enak dan daging sotonya lumayan banyak.😀

Habis itu nyambung perjalanan ke Jogja. Kami berhenti di Sukoharjo saat Mbak Tika turun. Ngepos minum kopi lagi. Wes terang benderang di sini. Saya yo wes lumayan bugar sehat karena tidur nyenyak. Oh haha… pernah ada yang nanyain saya, bagaimana cara biar di acara setelah perjalanan jauh tetap sehat dan fokus.

Tidurlah saat di kendaraan . Kalau pas waktunya tidur, ya tidur. Jangan dipakai aktivitas lain. Ngobrol seperlunya, lalu tidur. Kecuali sampeyan bertugas penjagaan, dll ya beda urusan. Tidur di malam hari versi saya adalah istirahat yang nggak bisa diganti dengan apapun, termasuk dengan tidur siang. Kualitasnya beda.

Alhamdulillah, saya turun di imigrasi bandara Adisutjipto. Teman-teman lanjut ke Soul Center. Nggak lama saya sudah dapat mobil online dan pulang ke rumah. Seluruh acara SC10 wes rampung dengan membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi saya.

Sarapan dini hari (karena nggak puasa). Kerupuknya lupa dipotret. Di rest area Madiun. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Perjalanan SC10 di Banyuwangi bukan sekadar agenda, bukan pula sekadar perpindahan raga dari satu kota ke kota lain. Ini adalah perjalanan pulang kepada diri sendiri, kepada makna, dan kepada rasa syukur yang sering kita simpan terlalu dalam.

Bersama teman-teman Joglosemar, setiap langkah dari sejak berangkat terasa ringan; meski ditempuh dengan jarak dan waktu yang tidak singkat. Kami berasal dari latar yang berbeda, membawa cerita hidup masing-masing. Namun di Banyuwangi semua melebur menjadi satu irama: irama belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan.

Di tanah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal itu, kami belajar bahwa spiritualitas nggak selalu hadir dalam keheningan yang sunyi. Ia justru muncul dalam rona tawa dan kegembiraan di sela perjalanan, dalam obrolan sederhana, dalam saling menunggu, dan saling memahami.

Setiap sesi SC10 membuka ruang batin yang membuat kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa kita lelah, sekaligus menyalakan kembali semangat dan cahaya yang sempat redup.

Banyuwangi mengajarkan kita tentang kesederhanaan yang bermakna. Tentang bagaimana alam, budaya, dan manusia bisa selaras ketika hati mau mendengar. Dan teman-teman Joglosemar menjadi saksi bahwa perjalanan spiritual nggak harus dijalani sendiri. Justru, kebersamaanlah yang membuat setiap pelajaran terasa lebih dalam dan membekas.

Terima kasih untuk setiap senyum, sapaan, pelukan, bantuan, dan doa yang diam-diam dipanjatkan. Terima kasih untuk ruang aman yang tercipta, tempat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng. Terima kasih telah berjalan bersama, bukan untuk menjadi sama, tapi untuk saling menemani dalam proses pulang.

Semoga energi SC10 di Banyuwangi nggak berhenti di sana. Semoga semangatnya terus hidup dalam langkah kita setelah ini; dalam setiap keputusan yang lebih sadar, hati yang lebih lapang, dan jiwa yang semakin berani bertumbuh.

Terimakasih untuk Teman-teman Soul Joglosemar. Terimakasih Mas Robert, Mbak Tika, Mbak Fefty, Mas Sodam, Mbak Rischa, Mbak Zaka, Bu Rai, Dik Hana, Mbak Ririn, Bu Nyoman, dan semua teman seperjakanan Jogja Banyuwangi Pp. Terimakasih untuk Bunda Arsaningsih (spesial guru saya). Terimakasih untuk guru-guru yang lain; Pak Gede, Bu Iin, dr. Rastho, Bu Adek, Pak Agung, Bu Mariam, dr. Tya, Bu Gung, Mbak Rina, dll kru Soul panitia penyelenggara SC10. Terimakasih untuk seluruh teman Soul Community di manapun berada. Love you all. Mari terus bertumbuh menyeluruh.❤️ Teriring mohon maaf lahir batin kalau ada salah kata, salah tindak perbuatan atau salah tulis dalam catatan ini. 🙏 Sampai jumpa di Soul Conference berikutnya. 🤩💪🙏

Tamat
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *