Soul Conference 10 (SC10) [9]: Di Mana Ada Niat, Di Situ Ada Jalan

Saya dan Zaka sebelum meninggalkan De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Usai acara pembelajaran di De Djawatan, kami masih foto-foto, salaman, peluk cium, pamitan dengan kawan-kawan lainnya. Sebagian masih mengobrol. Sebagian ke toilet. Sebagian jajan. Saya dan Zaka bergegas mencari Bunda Arsaningsih karena mau foto bersama. Rupanya beliau sudah meninggalkan tempat. Kami pun ke toilet sebelum bergabung dengan teman-teman di bus yang akan membawa kami kembali ke Jogja.

Acara perjalanan hari itu sekurangnya, menengok Mas Adin di RS, pergi ke tempat oleh-oleh dan makan malam. Perjalanan dari De Djawatan ke RS cukup makan waktu. Ada beberapa teman yang memutuskan ikut bergabung menengok ke RS. Saya tanya Zaka apa ikut turun (menengok), dia bilang enggak karena SM nya kecil.

Dalam hati saya juga nggak ada niat menengok. Ingat kata dokter jangan pecicilan (terlalu capek, memporsir energi) dan jangan berada di sekitaran orang sakit (termasuk berada di RS, menengok orang yang sakit parah). Baiklah saya SM dulu, kayaknya saya wes sehat. Karena hasil kecil, saya mengekori Zaka memutuskan nanti nggak turun dari bus.

Dari 3 hari acara SC10 baru kali ini saya duduk sebelahan dengan Zaka di bus dan bisa ngobrol cukup panjang. Karena sebelumnya mung selintas-selintas dan nggak fokus. “Saya pikir ada di list peserta kok nggak kelihatan pas saya ikut bus rombongan dari Jogja.”

“Itu Mbak, sampai jelang akhir tuh aku belum punya duit, tapi dari SM ini kok besar. Makanya aku berani daftar. Ternyata belakangan aku dapat rezeki. Pekerjaan-pekerjaan yang kukira nggak dibayar, ternyata ada bayarnya dan lumayan besar. Terus ada juga beberapa dana yang tahu-tahu cair. Baru setelah itu aku bisa bayar-bayar, urus tiket, dll.” Begitu lebih kurang kata Zaka.

Ya, meskipun dia sebagai dosen PNS di kampus negeri yang total pendapatan bulanannya pasti lebih besar daripada bulanan yang saya terima dari kampus tempat saya mengajar; tapi mengandalkan gaji dosen saja jelas nggak mungkin dalam waktu singkat menyediakan begitu banyak pendanaan untuk SC10; kecuali mungkin sudah guru besar ditambah full tunjangan-tunjangan.

Saya pribadi mengacungi jempol ke kawan lama saya ini karena jalan cepatnya mengikuti program-program di Soul. “Karena tiap kali ikut program itu, Mbak, ada masalahku yang (baru) kebuka lagi dan bisa diselesaikan.”

Ya betul, tiap tingkat kelayakan ilmu di bidang apapun itu biasanya untuk menyelesaikan masalah tertentu; baik itu kita sadari atau tidak. Saya lupa pernah mencatatkan di bagian sharing tentang Soul yang mana; tapi pas awal mengikuti Soul itu, saya beneran nggak ada atau nggak merasa ada problem tertentu dalam diri saya.

Betul, ada masalah ekonomi yang cukup ruwet saat saya ditinggal bapak (meninggal) dengan ibu yang nggak bekerja dan 5 saudara yang masih kemruwet biaya sekolah/kuliah, ditambah tanggungan banyak hutang dari almarhum bapak. Itu pun satu-satunya rumah ibu statusnya diagunkan ke bank. Beneran nyesek untuk saya sebagai anak sulung. Apalagi saat itu saya sudah sarjana. Ngebayangin adik-adik saya nggak sekolah aja, wes berontak hati. Sekurangnya mereka harus sama sarjananya dengan saya agar bisa mengakses pekerjaan yang lebih layak secara finansial.

Toh ya, itu sudah saya selesaikan bersama-sama dengan saudara-saudara bergandengan tangan, bahu membahu lebih kurang 15 tahun. Adik saya semua sarjana dari kampus negeri, bekerja baik dan mapan, hutang bapak sudah terbayar lunas, rumah ibu juga terselamatkan dari sitaan bank, dan mereka semua juga sudah menikah dengan situasi keluarga baik-baik saja. Alhamdulillah.

Setelah itu, saya wes hidup untuk diri saya sendiri. Saya bisa sekolah S2 dan S3 non beasiswa. Alhamdulilah, bisa beli rumah dll kategori biaya besar dengan cash. Bisa piknik ke berbagai negara dengan gembira tanpa perlu mikir saat bayar. Mungkin bagi mereka yang ekonomi mapan, itu bukan prestasi atau hal-hal yang perlu diceritakan. Tapi bagi saya yang pernah begitu gelap berada di kungkungan masalah ekonomi; bahkan ketika gaji saya puluhan juta pun, menyisihkan 200 rb saja begitu sulit; itu semua adalah hal luar biasa yang nggak pernah saya pikirkan. Tugas menanggung biaya hidup ibu setiap bulan setelah itu; bukan dari saya saja, tapi seluruh saudara. Versi saya mudahlah itu, dibandingkan saat saya harus berjibaku melawan lelah, stres, depresi karena tuntutan deadline, dll. agar semua urusan keuangan keluarga tercukupi.

Teman-teman Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi hidup saya saat jumpa Bunda dan Soul itu sudah relatif aman, damai, sejahtera, sehat fisik mental. Saat ukur SM pertama oleh Bunda, kemarahan saya itu 0 😀🙏 Hebat tenan 🙈 Bayangkan, saya dengan tetahunan jatuh bangun begitu rupa gegara banyak anggota keluarga, nggak ada simpan kemarahan sama sekali. Sementara ada banyak yang bareng saya saat itu (SR –Soul Reflection, dulu workshopnya terpisah; SR dulu baru SM) kemarahannya sampai 10 lebih (saking besarnya).

Saya lupa apa saja yang diukur dari emosi negatif, tapi saya ingat tentang kemarahan ya karena 0 bulet itu. Terus bahagia saya saat itu 8,5. Berarti pada dasarnya saya yo wes happy-happy saja menjalani hidup. Kesehatan, kemakmuran, spiritual semua diukur. Saya lupa persisnya, tapi rerata di atas 7 dan saat uji konsentrasi; hanya butuh beberapa detik otak saya wes rileks, fokus, tenang. Sementara ada banyak orang sampai 2 menit masih ke sana sini gelombang otaknya alias nggak fokus.

Secara umum, hidup saya baik-baik saja. Pas ada pemurnian yang cukup dalam, baru saya tahu di lapisan-lapisan jiwa yang lebih dalam; ada kemarahan kepada orang tua, saudara, ipar, keluarga; luka batin yang berkaitan dengan uang (kemakmuran), sakit berulang (kesehatan), cinta (hubungan), bahkan Tuhan (spiritual).

Dengan hati yang sudah lebih bersih, saya bisa melihat betapa banyak “masalah” yang tinggal di kedalaman jiwa saya. Dan itulah yang membuat saya bersyukur bertemu Soul. Termasuk dengan Soul pula pertanyaan lama saya terjawab. Kenapa dengan si A, si B, niy baru jumpa pertama bawaan saya emosi jiwa aja. Sementara pada si X si Y, baru jumpa malah cocok kek sudah puluhan tahun mengenal. Ya karena ada karma saya dengan mereka. Termasuk dengan tempat, kejadian, benda-benda, dll. Itu semua masalah yang berusaha saya bereskan dengan Soul. Meskipun jalan lamban, tapi saya tahu bahwa hidup dan jiwa saya jauh lebih baik dibandingkan sebelum mengenal Soul.

Dari cerita Zaka tadi saya menangkap bahwa kalau kita sudah ada niat, ndilalah biasanya juga ada jalan. Tahu-tahu terselesaikan sendiri. Tentu, ingat lagi, jangan memaksakan diri; terutama kalau hasil SM-mu rendah. Wes jangan dilawan itu, karena energi menghitung radiasi lebih pasti daripada logikamu yang kadang penuh ambisi.

Saat kami sampai di RS, beberapa teman turun untuk menengok Mas Adin. Sebagian jajan. Sebagian ke toilet. Sebagian turun ngobrol di halaman RS. Saya masih ngobrol dengan Zaka di bus.

Ternyata yang di RS dll yang di luar bus, cukup lama kembalinya. Saya sudah mulai lapar. Kami pun keluar bus dengan Bu Nyoman dan Hana. Niatnya mau ke toilet numpang di gereja, karena Bu Nyoman nggak bisa pake toilet RS. Di seberang, saya baru ingat kalau toilet gereja (kadang) nggak diizinkan untuk orang non jamaah.

Saya sempat mau pinjam toilet di Dinkes, tapi disarankan ke masjid sebelah RS. Akhirnya kami berpisah. Bu Nyoman dan Hana ke Indomaret, saya dan Zaka ke mesjid. Wah tahu toilet mesjidnya boleh untuk mandi, mestinya tadi saya bawa baju ganti sekalian. Tapi lumayanlah saya bisa sibinan nggebyur badan, meskipun nggak ganti baju 😅🙈

Karena lapar saya memesan bakso dan dibungkus saja. Takutnya ntar kelamaan ditungguin teman-teman di bus. Lha beneran sudah cukup banyak yang di bus. Tinggal menunggu Bu Nyoman dan Hana yang dari supermarket. Oalah ada drama antri toilet soalnya, makanya jadi lama. Namanya juga bukan toilet pribadi 😅😁 Setelah itu barulah bus melanjutkan perjalanan.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *