Soul Conference 10 (SC10) [8]: Pembelajaran di Alam, Belajar Rendah Hati

Bunda Arsaningsih dengan Ilham di De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏

Saya nggak tahu kapan Bunda datang di De Djawatan. Ya mungkin pas saya mider keliling. Nah, pas saya balik ke lokasi areal panggung, Bunda Arsaningsih sudah ada di atas panggung dengan bocil pakai baju seniman rakyat. Saya njur menyimak percakapan mereka berdua sekaligus heran kenapa orang-orang hilir mudik ke depan panggung ngisi kotak. Oalah ngisi kotak saweran untuk Ilham. Dia ini anak SD yang kerjaannya ngamen untuk biaya sekolah dan ngurusi neneknya.

Ya ampun, hidupnya lebih “horor” dari yang saya alami soal ekonomi. Mestinya itu kan Dinsos yo tanggap to ngurusi kek gini. Tapi embuhlah, kadang saya emeng juga sama orang orang pemerintah ini. Banyak betul bantuan-bantuan yang salah sasaran.

Saat Bunda Arsaningsih mulai memberikan pembelajaran. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bunda menceritakan saat berada di KFC bocah ini nanya apakah nasinya boleh dibawa pulang; katanya untuk neneknya. Hadeuh, bocah sekecil ini… Jadi karena dibawa Bunda ke lokasi Pembelajaran di Alam, Ilham bisa dapat bantuan saweran dari warga Soul Com hari itu cukup banyak. Nggak tahu jumlahnya.

Kata Ilham mau untuk beli sepatu. Sama Bunda diminta untuk biaya sekolah. Betapa kita masih lebih beruntung daripada si kecil ini yang belia sudah harus berjuang mencari nafkah, bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk neneknya. Mudah-mudahan ada orang baik yang bisa membiayai sekolahnya.

Lalu ada banyak lagi doorprize yang dibagi-bagikan. SC10 ini memang banyak sekali doorprizenya. Semoga bermanfaat untuk yang menerima dan berkah untuk yang memberikan ❤️

Sebagian dari mereka yang menerima doorprize berfoto dengan Bunda Arsaningsih. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Oh iya di sini kami dapat snack berat rebusan, makan KFC, dan minuman komplit. Wes lebih dari kenyang untuk saya. Menyimak pembelajaran dari Bunda dengan lebih ringan hati.

Selanjutnya materi pembelajaran dari Bunda Arsaningsih. Biyuuu, waktu ada diminta peserta naik ke panggung; itu ada seseembak yang larinya kencang dan langsung lompat ke panggung. Ya ampun, setinggi itu dengan enteng saja, sampai nggak inget pakai sepatu; saking pinginnya jumpa Bunda 😀 Luar biasa.

Seperti apa situasi pembelajaran di alam kali ini? Yach, De Djawatan bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan ruang belajar yang sunyi dan penuh makna. Deretan pohon trembesi raksasa yang menjulang tinggi seolah menjadi saksi perjalanan waktu, mengingatkan manusia betapa kecilnya diri kita di hadapan alam.

Dua MC yang bertugas nonstop dari hari ke-1 sd ke-3 siang malam. Di SC10. Terimakasih Mas-mas MC yang sering kocak. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Dalam pembelajaran di alam De Djawatan ini, Bunda Arsaningsih mengajak kami berjalan menyusuri hutan secara energi sebagai bagian dari proses pembentukan kesadaran untuk belajar rendah hati. Manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Bisa jadi saat kita memasuki De Djawatan ada perasaan kagum sekaligus bangga; merasa sebagai pengunjung yang bebas menikmati keindahan.

Namun, langkah demi langkah di bawah kanopi pohon tua perlahan pasti mengubah cara pandang kita. Akar-akar besar yang mencuat di tanah memaksa kita berjalan pelan, menundukkan kepala, dan lebih berhati-hati. Di sinilah alam mulai “mengajarkan” sikap rendah hati: manusia nggak bisa berkuasa atas segalanya, melainkan hanya bagian kecil dari ekosistem semesta yang lebih besar.

Keheningan De Djawatan juga memainkan peran penting. Nggak ada suara mesin atau hiruk pikuk kota, hanya desir angin dan kicau burung. Dalam sunyi itu, kita belajar mendengarkan; bukan hanya suara alam, tetapi juga suara hati kita sendiri.

Situasi sebelum pembelajaran bersama. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Rendah hati hadir ketika kita menyadari bahwa selama ini terlalu sering merasa tahu, merasa benar, dan jarang memberi ruang untuk diam dan belajar. Pohon-pohon trembesi yang telah hidup ratusan tahun menjadi simbol keteguhan tanpa kesombongan.

Mereka tumbuh besar tanpa meminta perhatian, memberi keteduhan tanpa memilih siapa yang berlindung di bawahnya. Dari sini, kita bisa menyadari bahwa kerendahan hati tidak selalu hadir dalam hal-hal kecil atau sederhana, tapi justru tumbuh dari kekuatan besar yang tenang dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Pada sesi sebelum meditasi bersama untuk pembersihan karma di De Djawatan, Bunda Arsaningsih sengaja menghadirkan tokoh penguasa hutan tersebut. Bagi mereka yang peka energi, mata batin terbuka, dan ilmu pembelajaran Soulnya sudah lanjut pasti bisa merasakan dan melihat kehadirannya di sisi Bunda dan pembicaraan mereka; hingga akhirnya sang penguasa kembali ke tempatnya.

Plooong… Lega sekali hati saya setelah pembelajaran di De Djawatan ini. Alhamdulillah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beruntung saya sudah menandai tempat-tempat saya berkarma dan energi cukup tinggi; sehingga pas meditasi itu bisa sekaligus menyertakan untuk beberes karma. Karena energi Tuhan yang diterima Bunda sangat besar, jadi bisa ikut mengcover tempat yang sangat luas, termasuk tempat-tempat yang saya tandai. Ploong… lega rasanya hati saya. Besok-besok kalau ada kesempatan ke sini lagi; pasti lebih plong tanpa beban karma lagi. Alhamdulillah.

Pembelajaran di alam De Djawatan dengan Bunda Arsaningsih; bukan sekedar menaklukkan hutan atau berfoto-foto ria, melainkan tentang menata ulang sikap batin kita. Alam mengajak manusia untuk berjalan lebih pelan, berbicara lebih sedikit, dan merasa cukup dengan keberadaannya. Dari De Djawatan, kita diajak pulang dengan satu pelajaran penting: semakin dekat dengan alam, semakin manusia belajar untuk rendah hati.

Catatan: Pembelajaran dari Bunda Arsaningsih di De Djawatan sepertinya tidak menyebut “rendah hati” secara eksplisit, tapi itu adalah penafsiran saya pribadi secara keseluruhan selama mengikuti pembelajaran dan meditasi bersama. Cmiiw 🙏

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *