
Jajanan pasar saat sarapan pagi hari ke-3 di villa kami menginap. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Soul Conference 10 (SC10) [7]: Jangan Memaksakan Diri
Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja🙏
Pada saat hari ke-2 SC10 karena full pembelajaran, mungkin saking saya fokus belajar dan konsentrasi, atau pas saya ke toilet; saya beneran nggak tahu kalau Mas Adin (teman kami dari rombongan Jogja) hari itu jatuh dan dibawa ke RS; ditungguin oleh Bu Rai. Itu kenapa saya bingung saat malam usai pentas seni; Mbak Tika, Mas Robert, Mbak Fefty, dan Mas Sodam masih berembug tentang menengok dan mengurus Mas Adin. Namun katanya sudah ada juga orang dari Tim Soul yang datang.
Saya menyimak saja, karena nggak tahu kejelasannya. Saya hanya tahu sejak berangkat kondisi Mas Adin nggak fit. Karena duduknya cukup dekat dengan saya, sedari awal saya juga wes krubut-krubut baju maskeran agar nggak ketarik energi sakitnya. Apalagi Bu Ririn yang di samping saya, pas awal-awal juga sempat kurang sehat. Wees… kudu pasang “jarak” secara energi. Alhamdulillah saya sehat dan happy terus sepanjang SC10🙏

Kami di dekat areal parkir De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah mereka berempat yang menggawangi rombongan Jogja beres rembugan, barulah kami balik ke villa. Beberapa teman berniat untuk ikut serta ke RS menengok Mas Adin. Saya nggak tahu siapa saja yang ikut malam itu.
Bus sampai di parkiran villa. Saya meminta bantuan Zaka untuk menemani cari (Pop)mie dan minuman instan; karena saya kok wes merasa lapar. Sementara kiri kanan villa yang jualan makanan masak sudah tutup. Kami jalan dari parkiran sampai ketemu toko kelontong. Lumayan juga jaraknya euy. Gobyooos berkeringat karena jalanan cukup menanjak😁 Terimakasih ya, Zaka 😀🙏
Saat sampai di villa, Mbak Tika dan Mas Robert masih duduk-duduk nungguin Teman-teman lain yang mau ikut ke RS. Beberapa teman lainnya justru berenang di kolam renang villa. Saya dan Zaka pun pamitan masuk ke kamar masing-masing.

Baru sadar saya kalau kami satu angkatan waktu WSM. Tapi ketiganya sudah jalan cepat ke pembelajaran-pembelajaran Soul yang lebih tinggi. Saya jalannya paling lamban. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sampai di kamar, ternyata Hana sudah bersiap-siap mau renang. Saya? Merebus air untuk bikin (pop)mie dan minuman panas. Usai makan, barulah saya beberes mandi, sholat, njur tidur. Urusan jaga diri begini saya cukup tertib saat di perjalanan. Apalagi kalau ada banyak kegiatan. Sadar diri, kurang tidur bisa bikin nggak konsens, badan lemes, dll.
Pagi itu sarapan kami berbeda. Ada setampah besar jajanan tradisional untuk kami yang disediakan pengelola villa secara free. Wah, alhamdulillah. Dan pagi itu kami sekalian check out dari villa menuju De Djawatan. Selanjutnya nanti dari De Djawatan kami akan terus kembali ke Jogja.
Kami nggak mampir lagi ke hotel tempat SC10. Mas Adin tentu nggak ikut bersama kami. Bu Rai sudah bergabung dengan kami. Ceritanya banyak tentang Mas Adin. Saya menyimak saja dengan diam. Mengurus atau menunggu orang sakit nggak mudah. Apalagi kalau nggak tahu latar belakang penyakitnya. Saya bisa memaklumi kekhawatiran Bu Rai saat petugas RS minta keterangan dan tanda tangan. Terlebih kalau kita bukan orang dekat, yang juga nggak tahu riwayat keluarganya. Namun sungguh luar biasa kebesaran hati Bu Rai, bersedia meninggalkan jam kelas untuk menunggui Mas Adin. Berbalaslah dengan banyak kebaikan, Bu Rai 🥰

Usai mider-mider beberapa lokasi di De Djawatan, depan panggung. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Versi saya, kita ini memang jangan main-main dengan energi. Karena seberapapun kuatnya niat, tekad untuk mengikuti SC10 atau kegiatan Soul lainnya; kalau kelayakan energi via hitung SM belum cukup, sebaiknya legowo. Ikhlaskan saja. Nggak usah memaksakan diri.
Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan Bunda Arsaningsih. Tentang kawan-kawan yang jalan cepat serasa lewat tol mengikuti semua kegiatan pembelajaran di Soul. Seolah nggak ada masalah apapun dari urusan waktu, jarak, biaya, dll. Sementara saya tiap kali ada sesi pemurnian, itu pake ngedropnya bisa seminggu nggak bisa kerja aktivitas seperti biasa. Usai WSM dan update saja, saya kudu rela prei nggak kerja gegara dampaknya ke fisik. Saya harus bolak-balik ke toilet untuk buang air besar berulang kali dalam sehari.
Bunda Arsaningsih menjelaskan dengan singkat; di Soul itu pembelajarannya seperti perjalanan ke suatu tujuan. Semua orang memiliki tujuan yang sama, misalnya di Titik A. Nah untuk mencapai titik tersebut, setiap orang caranya berbeda-beda. Ada yang jalan kaki. Ada yang berlari. Ada yang naik sepeda, motor, mobil, perahu, kapal laut, pesawat, dll. Tentu tiba di tujuannya juga tidak sama. Tidak apa-apa perjalanannya lambat, asal tidak berhenti. Terus bergerak semampunya.

Sebagian Teman-teman Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Legalah hati saya. Jadi saya ukur-ukur diri sendiri. Kalau waktunya, energinya, biayanya, dll saya sanggup; nggak usah disuruh saya pasti berangkat. Kalau pun diajak tapi saya nggak siap; duitnya kurang, waktunya nggak pas, kesehatan juga ndatndutan (nggak fit), dll masih kurang, saya pilih nggak berangkat.
Terus karena ilmu di Soul itu sifatnya konversi energi; kalau duitmu masih kurang untuk biaya-biaya kegiatan atau program tertentu, weslah ngikut periode berikutnya saja. Nggak ada yang memaksa kita harus ikut sekarang atau periode berikutnya. Kalau memaksa dengan utang-utang atau minta diskonan, ntar kalau “ditagih” dengan konversi energi lainnya, bisa lebih horor akibatnya. Bisa saja boleh diskon atau bayar kurang, tapi njur kesehatan drop, atau hubungan keluarga jadi ribut, dll.
Jadi Teman-teman Soul Com yang saya sayangi di manapun berada, kalau mau ikut kegiatan Soul; tapi hitung energinya SM begini begitu di angka kecil; weslah nggak usah memaksakan diri. Sebaliknya juga jangan cuek nggak usaha. Misalnya sudah tahu mau ikut SC11 berikutnya dan biayanya besar, malah berborosria. Nabung dong. Itung-itungan sendiri berapa keperluannya.

Sebagian Teman-teman Joglosemar di sisi lain De Djawatan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya diberitahu Hana kalau ada Soul Finance yang bisa membantu mengelola tabungan untuk kegiatan di Soul. Silakan cek-cek ke admin atau petugas internal Soul yang berkaitan. Atau ya nabung sendiri seperti saya. Cuman kalau begini, kudu ketat disiplinnya. Duit itu cair, bisa diambil sana-sini, tahu-tahu habis. Di rumah aja tuh, sekarang kita bisa habis duit lho. Lha itu marketplace yang obral diskon; tahu-tahu kita check out ini itu, padahal nggak butuh-butuh amat.
Pokoknya carilah cara yang paling mudah dan gampang untuk diri sendiri. Ada juga kok yang ambil dari pinjaman dengan bunga 0 persen, lalu dia nyicilin tiap bulan dengan ringan. 12 juta terasa berat, tapi 1 juta per bulan ya terasa jauh lebih ringan. Kalau yang wes sugih yo gakusah diceritakan. Cincailah mereka mo duit berapa aja😁


Ini lumayan komplit personil Soul Com Joglosemar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dari cerita-cerita sana sini, sampailah kami di De Djawatan. Saya sudah beberapa kali ke sini. Karma saya cukup banyak di sini. Berulang saya bersihkan dan kali ini saya datang lagi, berarti masih ada urusan karma yang belum rampung.
Saat kami datang sudah banyak teman Soul Com daerah lain yang ada di De Djawatan. Jelas wes sibuk berfoto ria sana sini. Tempat ini memang luar biasa cantik. Pohon-pohon ratusan tahun tumbuh besar dengan gagahnya. Semua terasa adem. Hati-hati saja, ada banyak energi makhluk berkeliaran di sembarang tempat dengan penguasanya. Dan nggak semuanya baik atau positif. Lha ya tempatnya sekitar 10-an hektar berwujud hutan belantara sejak ratusan tahun lalu. Kebayang betapa banyak “penghuninya”.
Terus gitu kalau di sini juga perlu hati-hati dengan gerumbulan daun-daun atau semak-semak, terutama di lokasi yang sepi dan jauh dari jangkauan manusia. Takutnya ntar malah kita mengganggu atau memijak sarang ular. Bisa ribetlah. Intinya hati hati saja kalau di sini atau areal hutan seperti ini. Dan seperti kata Bunda, kalau tiba di tempat baru, ya jangan cuma piknik atau wisata. Tapi juga bersih-bersih karma, meradiasikan cinta untuk seluruh makhluk bumi di tempat itu, dan menebarkan semangat merawat bumi seisinya via energi.

...dengan Bu Adek. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Begitu selesai foto-foto dengan teman-teman, saya wes mider mencari beberapa sisi lokasi untuk bebersih karma. Setelah itu saya duduk saja njegrek di depan panggung dengan Zaka. Dua MC di depan entah ngomong apa, saya nggak terlalu perhatiin. Sementara Teman-teman Joglosemar banyak yang ikut nyanyi dan joged di sisi belakang kami. Eeh, beneran saya cukup lelah juga wirawiri tadi😁😅
Nggak lama saya bilang mau keliling dulu ke Zaka. Dia pun terus ketemu teman-temannya dari Kalimantan. Saat itu saya merasa ada energi kuat yang menarik saya ke beberapa sisi tempat. Yach, weslah saya turuti. Dan ya cukup melegakan hati saya ketika jiwa-jiwa sudah saling memaafkan dan minta maaf. Untuk urusan ini pun saya nggak berani memaksakan diri. Ada beberapa sisi tempat yang terasa energinya terlalu kuat. Jadi nanti saja, tunggu saat ada Bunda Arsaningsih. 🙏
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
