
Kelihatan ya betapa happynya kami 😍 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Disclaimer:
Catatan ini mungkin nggak “nyambung” untuk Teman-teman non Soul Community (Soul Com), non warga Soulmates. Saya berasal dari Soul Com Joglosemar, Jogja 🙏
Setelah saya ingat-ingat, sepertinya usai Pak Wabup Banyuwangi dan Pak GP undur dari forum dengan diantar Pak Agung dan beberapa orang lainnya, itu panggung diurusi Dokter Rastho yang meminta Bunda Arsaningsih kembali naik ke panggung (cmiiw). Itu kita meditasi ya kayaknya? Bebersih Banyuwangi secara umum. Cmiiw.
Setelah itu, saya keluar mo ke toilet. Ya, betul. Dan karena toiletnya antri, rada lama saya di luar. Setelah dari toilet itulah, saya jumpa Pak Agung yang nanyain soal foto dengan Pak GP itu. Maafkan saya belum sempat foto dengan Pak GP ya, Pak Agung 🙏 Jadi nggak enak karena berasanya Pak Agung berharap saya bisa foto dengan Pak GP; biar sempat ngobrol. Tenang, insyaallah masih banyak kesempatan lain, Pak Agung🙏
Lepas itu sebenarnya saya mo langsung masuk ruang konferensi lagi; tapi kok ya haus dan agak segan saya keluar masuk ruangan kalau pas ada yang bicara di depan. Saya njur ngepos, ngeteh dulu di restoran. Saya pikir acaranya masih selow santai, kan bagi-bagi doorprize dan nyanyi-nyanyi. Besok baru acara inti. Usai ngeteh, saya lihat ada beberapa panitia SC10 nganggur, jadi saya minta difotoin di photo booth itu. Hehe, lumayanlah ada foto sendiri dan nggak ada figuran lalu lalang kek biasanya 😁
Pas saya mau masuk ruang konferensi lagi, kok wes sepi ya? Kayaknya nggak ada suara pembicara di panggung. Waduh, bahaya ini! Lha Bunda Arsaningsih di mana? Jangan-jangan beliau sudah balik istirahat. Kan saya belum jumpa… Haiizh, saya pun bergegas. Masuk ruangan, nggak ngelihat Bunda Arsaningsih di depan, tapi di sebelah kiri ruangan ada banyak orang bergerombol. Mungkin di sana beliau.
“Buuun…., ” begitu usik saya. Dan hei, kami jadi seperti heboh sendiri. Ngobrol, berpelukan, cipika-cipiki, menepuk-nepuk punggung dan tangan; tanda rindu yang mendalam. Love you, Bunda ❤️❤️ Terimakasih untuk siapapun yang mengambilkan foto kami 🙏
Kalau diteruskan bisa lama itu kami ngobrolnya dan saya cukup tahu diri; karena masih banyak teman lain yang antri foto dan mau jumpa Bunda Arsaningsih atau nanyain ngobrolin sesuatu yang penting. Saat itulah saya mendengar Bunda Arsaningsih memberikan semangat ke Mas Adin (kawan kami dari Jogja) agar sehat dan sembuh.
Teman-teman pasti tahu ya, kalau aura energi Bunda Arsaningsih itu adem, halus, lembut, dan bikin hati tenang banget. Kayaknya tuh kita datang dengan banyak masalah pun, belum cerita apa-apa, jumpa Bunda tuh masalah sudah ilang dengan sendirinya 😁
Saya pun rasanya begitu. Jumpa Bunda, langsung berasa lebih enteng hidup saya😅 Padahal lho, saya berangkat nggak ada beban apapun. Biasalah kalau ada ini itu intrik atau polemik gaweyan. Bukan hal besar. Makanan sehari-hari orang kerja. Makin banyak pencapaian biasanya memang makin banyak yang merusuh😁😆
Dulu pertama kali jumpa beliau di Belitung, sebagai orang yang sangat peka energi; saya langsung tahu. Wah beliau power energinya besar. Kalau sudah begitu, saya nggak bisa “melihat” kedalaman jiwanya. Nggak bisa menembus warna auranya. Kalah awu, kalah power.
Kalau mereka yang energinya kecil-kecil atau lebih kecil, biasanya saya wes langsung bisa “mengukur”, “mengulik” karakter dan tahu siapa dia secara cepat. Beruntunglah energi besar Bunda Arsaningsih itu energi kebaikan dan positif, jadi energi saya juga nggak berulah. Karena pernah saya jumpa orang dengan power besar tapi negatif, langsung kek serasa perang itu lho. Biarpun energi saya lebih kecil, tapi nggak terima kalau ada yang sebar-sebar keburukan. Ribut rame, perang nggak tampak. Beneran bikin saya geram, marah, sakit, lemes, tepar, teler klenger juga. Syukurlah akhirnya dia pergi sendiri; karena orang-orang di sekitaran saya mayoritas energinya baik.
Waktu itu Bunda Arsaningsih sempat cerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya. Jatuh bangun mengenali dirinya yang dianggap aneh sejak kecil, proses belajar dan bertumbuh, ngurusin orang-orang sebagai healer, masalah keluarga dan sekitaran orang-orang dekat, sampai saat terkena stroke 2x hingga sembuh kembali. Wes, saya merinding mendengarkan semuanya, termasuk urusan kena strokenya itu.
Saya yang besar di lingkungan medis tradisional Jawa, turun temurun dari 6 generasi di atas saya itu, punya keahlian pengobatan bawaan. Saya misalnya, nggak belajar medis tradisional pun, seperti sudah tahu obat dari penyakit X; harus ramuan ini itu, lelakunya begini begitu biar sembuh, ritualnya perlu ini itu, dll. Entah apa namanya, pokoknya begitulah.
Cuman saya nggak menekuni medis tradisional itu karena almarhum bapak saya melarang. Saya takut juga kalau njur merasa “seolah-olah” jadi Tuhan karena bisa mengatur hidup dan mati orang gegara penyakit. Serem… apalagi yang berkaitan dengan penyakit non medis, macam teluh, santet, dll itu. Cuman dalam kondisi darurat, nggak ada orang lain yang bisa nyelametin pasien yang mengalami kegawatdaruratan, saya tetap kudu bertindak. Kalau nggak gitu yo wes, woles saja 😆

Teman-teman Joglosemar yang berpakaian adat itu yang akan pentas tampil di acara persembahan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Kembali ke cerita tentang stroke Bunda Arsaningsih tadi. Saya tahu persis ada 3 penyakit yang versi pengobatan tradisional Jawa nggak bisa disembuhkan (kecuali atas anugerah dan berkat Tuhan): owah pikir (edan, gemblung, gendheng, enyengen, dhonggleng, dll sebutan Jawa; modern: gila), rajasinga (sifilis, HIV, penyakit kelamin, gonorhoe, dll sebutan modern), dan owah raga (perot, cangkem mlese, dll sebutan Jawa atau stroke dalam sebutan modern).
Jadi kalau Bunda Arsaningsih stroke sampai 2x dan sembuh total seperti nggak pernah stroke, itu pasti ada lelaku luar biasa yang dilakukannya. Ya, berserah dan pasrah sepenuhnya pada Tuhan. Itu pasti tirakat laku batinnya beneran menembus langit. Dan itu jelas hanya bisa dilakukan oleh orang-orang istimewa atau pilihan. Orang biasa wes jelas nggak bisa.
Saat itu Bunda juga cerita bagaimana fokus switch mode (beralih mode) dari jadi healer (menyembuhkan orang dengan energi dirinya) berganti jadi teacher (guru yang mengajarkan proses atau caranya agar siapapun yang belajar bisa menyembuhkan dirinya sendiri atau membereskan masalah-masalahnya). Saat jumpa itu (2018) beliau nggak ada sebut-sebut tentang Soul, meskipun Soul itu sendiri sudah ada dari 2012 (cmiiw).
Saat itu karena kami ngobrol dekat dan nggak ada boundaries (sekat, jarak, pembatas) saya bisa melihat kedalaman pemikiran dan visionernya Bunda Arsaningsih. Pemikiran-pemikiran beliau seperti masuk ke hati saya. Karena energi itu menularnya cepat sekali, secepat kita berpikir. Saya seolah melihat “cahaya” yang mengitarinya, pelan-pelan turut menghangatkan hati dan jiwa saya.
Jadi kalau dengan Bunda Arsaningsih aja saya bisa begini rupa rasa tenangnya, teman-teman bisa bayangin betapa haru birunya hati saya ketika di Raudhah, Masjid Nabawi, Madinah. Duduk bersimpuh berada di sekitaran Makam Rasulullah Muhammad SAW. Sosok manusia paling mulia sepanjang masa. Itu nggak bisa dikatakan rasanya. Adem tenang banget dengan aliran udara sejuk seperti di luar “dunia fana”. Saat berada di situ, hidup saya seperti terhenti dengan indah. Jiwa saya seolah terduduk di hamparan oase yang menyejukkan.
Kalau tempat itu disebut Taman Surga, mungkin ya begitulah suasana surga kelak. Wallahu’alam. Jadi kalau ada teman yang nyinyirin, kenapa saya rela (dan mati-matian mengusahakan) untuk bolak-balik umroh, ya karena pengalaman spiritual pribadi saya yang nggak mungkin sama dengan pengalaman orang lain. Apalagi bagi mereka yang belum pernah ke sana. Setipe dengan betapa sulitnya kita orang-orang Soul Com untuk menjelaskan SM ke orang yang belum pernah ikut WSM. Nonsense, nggak masuk akal, bagaimana merasakan energi, dll.
Teman-teman kalau memperhatikan lingkungan sekitar, coba cek. Itu lho pastur, pendeta, psikiater, psikolog, bahkan dokter-dokter spesialis untuk penyakit-penyakit berat; kalau sedang menerima pasien (untuk urusan pertobatan, pengakuan dosa, cerita masalah, cerita penyakit, dll) di antara dirinya dan pasien pasti ada kain, sekat pembatas, atau sekurangnya baju tertutup dengan hanya kelihatan mata; itu bukan untuk gegayaan model fashion. Ada maksudnya. Biar energi mereka tetap terjaga baik, nggak terkontaminasi energi negatif dari pasien-pasien yang datang.
Begitu orang berinteraksi lewat suara tanpa sekat, langsung berbaur tuh energinya. Dalam kasus-kasus penipuan online via suara HP, itu ada kiriman energi; sehingga si korban nurut-nurut saja ketika disuruh transfer uang seolah tanpa sadar. Ya, si korban wes jelas dihipnotis dengan memasukkan energi suara si penipu agar korbannya patuh. Makanya hati-hati dengan lingkungan sekitar kita. Pilih-pilihlah orang-orang dan lingkungan yang energinya baik. Karena akan sangat mempengaruhi hidup dan masa depan kita.
Saat itu saya bisa memahami pemikiran Bunda Arsaningsih. Ya, kalau jadi healer hanya beliau yang capek dan energinya pun tergerus. Kalau jadi teacher, jelas tetap capek tapi nggak merusak energi dirinya. Terserah muridnya mau pake ilmunya atau enggak, mau sembuh atau enggak, mau beresin masalahnya atau enggak, itu terlepas dari gurunya. Tentu sebagai guru, beliau akan terus mendorong kebaikan tanpa perlu dirinya ikut terlibat.
Intinya beliau nggak ingin jadi lilin yang menerangi terus hancur, tapi mau bertransformasi jadi bola lampu listrik yang menerangi dan tetap kokoh kuat. Kita pun juga harus begitu. Menolong orang, menguatkan orang, kita juga tetap harus kokoh kuat.
Kami break untuk makan malam. Setelah itu ada wejangan singkat Bunda Arsaningsih tentang bertumbuh menyeluruh. Terus bagi-bagi doorprize lagi. Pokoknya banyak benerlah doorprize acara SC10 kali ini. Saya nggak dapet pun turut gembira melihat mereka yang beruntung mendapatkan.
Mungkin tahun depan, pada SC11 perlu ada satu sesi berbagi kado silang untuk seluruh peserta. Misalnya ditetapkan harga kado antara 70-100 rb isi bebas, dibungkus koran, dan dibagi tukar pas hari pertama atau terakhir. Tentu lebih menyenangkan.
Selesai acara malam itu, banyak teman yang bergerombol di sekitar panggung untuk gladi bersih. Mereka besok malam akan tampil pentas budaya sebagai persembahan masing-masing Soul Com daerah.
Kami yang dari Jogja pun menunggu kawan-kawan yang gladi bersih, ngecek blocking panggung, dan baru pulang ke villa. Alhamdulillah hari pertama SC10 selesai. Alhamdulillah, lega tenan jumpa Bunda Arsaningsih ❤️
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
