

Warmindo seberang hotel tempat kami menginap di Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pas nungguin bus yang akan membawa kami ke hotel, saya rerasan sama Mas Indra dan Mas Donni mo makan (indo)mie rebus yang panas dengan minuman panas. Sebenarnya kami juga diberi nasi box siang itu, tapi saya dengan beberapa jamaah langsung kasih aja ke petugas kebersihan bandara. Perut masih kenyang, tapi (ngidam) masakan warmindo.
Di bandara jelas nggak ada warmindo. Kami juga nggak tahu di sekitar hotel ada atau enggak. Ya nanti dicari. Ealah, syukur alhamdulillah itu warmindo cuman di samping seberang hotel. Mas Donni ngajak makan abiz mandi aja. Lhah kalau usai bebersih badan saya pasti wes milih tidur daripada keluar kamar. Mas Indra ngikut aja. Kami pergi sebelum masuk kamar, setelah memastikan barang-barang aman.
“Mbak Ari tahu tempatnya?” tanya Mas Donni. “Itu lho di seberang.” Cuman karena gelap dan kayaknya mereka berdua nggak yakin, saya memastikan ke satpam dan ditunjukkan di seberang. Pas bus belok ke hotel tadi, saya wes lihat lokasi warmindo 😂 Ya ampun, kalau identifikasi, menandai sesuatu di daerah asing, itu termasuk keahlian saya😀 Kalau solo travelling di manapun, selain maps saya juga menandai tempat dengan beragam hal yang cepat saya ingat; toko, rumah bentuk tertentu, tempat makan, masjid, sekolah, SPBU, pasar dll. yang mudah dikenali. Kadang saya potret juga untuk jaga-jaga kalau hilang arah.

Usai sarapan di lobi hotel, Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya pesan mie rebus dan minuman jeruk panas. Ya ampun, serindu itu saya sama makanan paling enak sedunia 😁🙈 Rekor 12 hari nggak makan mie instan. Eh enggak ding, saya ada sekali makan (pop)mie di Madinah. Lagi lagi Mas Donni nggak mau saya ikut bayar. Mas Indra bilang, “Nggak apa apa, Mbak. Duit dia banyak kok.” 😀😂 Lha iya dokter kepala RS kalau nggak ada duit malah aneh. Maturnuwun Mas Dokter 😁👏 Dan saya yo tetap seperti biasa, taruh uang tersendiri seharga makan minum, besoknya pindah ke tangan OB bandara yang saya anggap memerlukan. Wes kebiasaan begitu.
Pas kami balik ke hotel, Mas Donni bilang kalau wrapping kami sudah dibongkar; karena Bu Nunu/Bu Neli salah ambil packingan. Jadi tas kami berdua ada di kamar Bu Nunu. Saya ke kamar Bu Nunu ambil backpack. Baru deh saya mandi. Bu Yuli bilang ada urusan (entah apa, saya lupa) ke tempat Bu Nunu. Saya bilang nanti telpon aja kalau udah balik, karena kartu hanya satu.
Setelah itu saya sholat, berdoa, dan langsung tidur pules. Wes nggak dengar apa-apa. Terbangun jam dua pagi, saya langsung panik menyadari bed di samping saya kosong. Berusaha mengingat, lah Bu Yuli ke mana? Saya ambil HP nggak ada WA atau rekam panggilan. Hadeuh, ya ampun pasti saya nggak dengar bel pintu. Saya langsung WA Bu Yuli dan memintanya balik. Khawatir kalau dia nggak nyaman berdempetan tidur bertiga di kamar Bu Nunu.


Di bus dari hotel ke bandara Soetta untuk terbang je YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pas sudah balik ke kamar Bu Yuli baru cerita kalau Bu Neli pergi ke Parung. Kakaknya meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Ndherek bela sungkawa, Bu Neli. Jadi dia bisa tidur di bed Bu Neli. Katanya dia sempat ngebel tapi nggak ada sahutan dan memilih tidur di kamar Bu Nunu daripada membangunkan saya. 😀🙏
Malam itu kami juga terima makan lagi berupa nasi box dan air mineral. Sama Ustadz Faqih diminta menerima semua. Nasi saya nggak kemakan, tapi Bu Yuli makan pas malam. Kami masih tidur lagi sampai Shubuh. Beberes dan sarapan di hotel. Usai itu saya thenguk-thenguk di lobi hotel. Ada yang foto foto. Ada yang ngobrol. Ada yang warawiri. Ada yang duduk-duduk. Kami menunggu bus yang akan membawa ke bandara.
Setelah beres kami pun terbang dengan Pelita Air menuju YIA. Di sini saya duduk dengan Bu Sida dan suaminya. Mas Donni dan Mas Indra embuh di mana, mungkin di kursi belakang. Sebentar saja kami sudah sampai YIA. Jogja tercinta 😀 Alhamdulillah. Sambil menunggu bagasi dan air Zam-Zam kami masih menerima lagi nasi box dan air mineral. Sebagian ada yang langsung makan. Sebagian sibuk mencari bagasi dan keluarganya. Sebagian ada yang langsung pulang karena sudah dijemput. Sebagian masih menunggu. Sebagian pelukan dan salam salaman sebelum pulang.

Saya dan Bu Yuli di Soetta sebelum terbang ke YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Ya ampun, kayak bestie aja mereka berdua (Mas Indra, Mas Donni) tahu tahu nongol saat saya dan Bu Yuli mau photo 😀 Ini di Soetta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya, Bu Sida dan suaminya, Mas Indra termasuk yang ikut bus arah kantor Dewangga. Dan saya ternyata datang paling akhir, pun pulang paling akhir. Mail yang ikut jemput saya bilang, “Jalanannya macet, Bude. Mobil-mobil antri panjang banget.” Iya, Jakal sungguh nggak terkendali perkembangannya. Alhamdulillah. Usai makan malam, saya dibantu Mail langsung membagikan oleh-oleh umroh yang sudah disiapkan sebelumnya; untuk tetangga kiri kanan. Biar nggak ada tanggungan pikiran.
Terimakasih ya Allah atas segala berkat karunia-Mu; sepanjang perjalanan umroh berangkat hingga kembali ke Tanah Air dengan sehat, selamat nggak ada kurang apapun. Ya Rasulullah, kami mohon syafaatmu kelak di hari Kiamat.
Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada Dewangga dan kru yang sudah dengan sangat baik dan profesional mengurus perjalanan umroh ini. Sejak urusan administrasi, pembiayaan, keberangkatan dan kepulangan, makan dan snack yang luar biasa banyak, hotel yang dekat masjid dan nyaman, TL dan kru yang semuanya profesional-ramah-helpfull, destinasi yang lumayan padat tapi tetap bisa bernafas, manajemen ibadah yang baik, pengantaran dan penjemputan jamaah dari kantor ke bandara pp, dokumentasi, handling bandara dan imigrasi, dll yang superbaik. Tentu ada kurang begini begitu, karena banyak orang dengan kondisi yang berbeda-beda.

Saya, Bu Sida dan suaminya di Pelita Air menuju YIA. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Sebagian dari kami di YIA sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Toh untuk skoring 0-10, boleh saya memberi nilai 8.5 ya… Jadi untuk Teman-teman yang cari rekomendasi biro travel umroh, monggo tenang saja kalau memilih Dewangga. Saya nggak sedang mengendorse; karena ini umroh bayar mandiri dan hanya menceritakan pengalaman riil. Selain untuk mencatatkan jejak perjalanan dan kenangan, syukur-syukur kalau ada yang baca dan belum umroh, bisa tergerak hatinya untuk segera berangkat. 😀
Terimakasih untuk Ustadz Faqih yang menemani kami dari berangkat sampai pulang dengan baik, sabar, dan sangat membantu. Juga untuk Ustadz Gilang yang menemani kami selama di Madinah dan Mekkah. Terimakasih untuk Teman-teman yang baik selama perjalanan: Bu Yuli kawan sekamar saya di Jakarta, Dubai, dan Turki. Bu Yaya, Bu Prapti, Bu Sida kawan sekamar saya di Madinah dan Mekkah. Kawan-kawan lain yang banyak berinteraksi; Bu Neli, Bu Nunu, Mas Indra, Mas Donni, dkk lainnya yang nggak bisa saya sebutkan satu persatu.
Terimakasih telah mewarnai perjalanan umroh kali ini. Sehat dan happy selalu, banyak rezeki berkah dan panjang umur; hingga bisa umroh lagi di lain kesempatan. Mohon maaf lahir dan batin bila ada ucapan, tindakan atau bahkan salah catatan saya di blog ini 🙏Catatan umroh istimewa saya cukupkan sampai di sini. Sampai jumpa lagi di kisah-kisah perjalanan lainnya. Berikutnya nanti akan saya catat keseruan Soul Conference 10 di Banyuwangi. Terimakasih.
Ari Kinoysan Wulandari
