
Antrian check in di bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya nggak terlalu perhatian pada rute perjalanan pulang. Saya kira dari Jeddah (King Abdul Aziz Int Airport) langsung ke Jakarta (Soekarno Hatta Int Airport). Lho ternyata rutenya nggak begitu. Berangkat pake Emirates ya baliknya pun pakai maskapai yang sama. Dari Jeddah ke Dubai dulu. Baru nanti transit beberapa jam njur terbang ke Jakarta.
Oalah, baru mudeng saya. Lha kok ya buang-buang waktu. Eits tapi pp dengan maskapai yang sama biasanya memang cukup ngirit banyak dibandingkan beda maskapai. Yo weslah wong tinggal pulang bae. Yang penting sehat, selamat, aman nyaman sampai tujuan.
Kami meninggalkan Garuda Resto di Mekkah yang menjadi persinggahan rasa rindu pada masakan Nusantara. Rombongan bergerak menuju bus yang telah menunggu. Kota Mekkah masih terasa hangat, baik oleh cuaca maupun oleh perasaan. Semacam campuran antara lelah, haru, dan syukur setelah rangkaian ibadah yang panjang.
Bus melaju meninggalkan Mekkah menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Jalanan membentang lurus, diapit gurun yang sunyi. Di dalam bus, suasana lebih tenang dari biasanya. Sebagian tertidur, sebagian lagi memandangi jalan sambil menyimpan kenangan, mungkin juga doa-doa yang telah dipanjatkan di Tanah Suci. Perjalanan darat itu menjadi semacam jeda: peralihan dari ruang spiritual menuju rutinitas perjalanan panjang.

Ya ampun, nggak sengaja di seberang sana itu kok ya McD 😀 Ini di bandara Jeddah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setibanya di Bandara Jeddah, proses check-in dan imigrasi dilalui dengan tertib. Lama proses di sini. Saya yang biasanya membawa sendiri backpack dan tas selempang, memilih memasukkan backpack ke bagasi. Lebih enteng karena transit-transit itu. Meskipun kalau terpaksa membawa sendiri ya tetap ringan.
Antrian panjang di saat ngurusin check-in. Masing-masing orang harus bawa sendiri koper, tiket, paspor dll nya. Setiap urutan sekurangnya berisi tiga orang. Karena sejak awal saya mengekori Mas Indra dan Mas Donni, jadi check-in saya ikut mereka berdua. Ealah, meskipun sudah begitu nomor saya malah nyempal di kursi yang berbeda.
Waktu saya bilang Ustadz Faqih minta tukar yang sekursi dengan mereka berdua, masih disemayani. “Tunggu ya Bu Ari, nanti kita lihat tukarnya itu sama siapa. Orangnya mau atau enggak.” Saya mengangguk saja. Nggak tukar juga nggak apa-apa. Kayaknya saya sudah lumayan sehat, mungkin wes nggak perlu dokter. Tapi kalau darurat kesehatan, sekurangnya saya tahu di mana duduknya Mas Dokter.
Lama menunggu penerbangan, tim Dewangga masih ngurusi bagasi plus air Zam-Zam oleh-oleh. Nah di situlah saya dikasih tahu Ustadz Faqih kalau backpack saya dan juga punya Mas Donni nggak bisa masuk bagasi, terlalu ringan. Suruh nambahin batu katanya 😂😅 Lhah kalau punya saya masih ringan saja dibawa. Kalau punya Mas Donni, biyuu… isinya oleh-oleh (meskipun ringan ukuran bagasi), tetap berat itu kalau kudu digotong-gotong bawa sendiri.
Tapi ya dokter otaknya encer. “Kalau tas saya diwrapping jadi satu satu dengan tas Bu Ari, bisa?” Tanyanya ke Ustadz Faqih. “Oh ya bisa. Wrapping di sana,” Ustadz Faqih menunjukkan lokasi wrapping. Kami bertiga bergerak ke tempat wrapping.

Kami seperti kawan lama saja😀 Ini pas penerbangan ke mana ya? Pokoknya kalau nggak ke Dubai ya ke Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya lupa bayar wrappingnya berapa riyal karena dibayarin Mas Donni. Saya sodorin uang juga nggak mau. “Sudah ini saja, sekalian buang-buangin riyalnya.”
Maturnuwun yo, Mas Donni.😀 Pokoknya waktu itu langsung saya sisihkan sendiri uang yang seharusnya saya bayarkan. Lupa saya, uang itu pindah tangan ke OB pas di Jeddah atau di mana.
Saya penganut “nggak ada makan siang gratis”. Jadi kalau menerima kebaikan orang dalam bentuk apapun, termasuk non uang (biasanya saya konversikan atau kira-kira sendiri) lalu saya berikan ke orang-orang yang lebih memerlukan. Meneruskan kebaikan. Dan itu cara agar rezeki bagian saya nggak diambil sewaktu-waktu dalam jumlah besar; karena saya menerima hal-hal baik kecil-kecil tanpa mau mengeluarkan atau meneruskan kembali.
Setelah itu kami menyerahkan wrapping itu ke petugas Dewangga yang ngurusi bagasi. Lalu pergi duduk-duduk karena keberangkatan masih lama. Ya ampun, sungguh banyak tenan waktu terbuang. Tapi saya sungguh memakluminya. Pergi rombongan nggak bisa semua orang diajak cepat-cepat, jadi kudu ngikutin garis tengah, rerata kemampuan
Oh di bandara ini sempat saya terbengong dengan ulah Mas Indra. Dia ngasihin satu box Albaik-nya ke orang asing, lalu makan satu box-nya berdua dengan Mas Donni. Lah piye to, tadi katanya mo ikut ngabisin ayam punya saya? Malah mereka cuman makan ayam mereka sendiri. Jadilah tetap ayam saya itu utuh sampai Jogja, bagian si Mail beneran😆 Kalau kentang dan burgernya wes saya makan duluan.
Di bandara ini kami menunggu memang cukup lama. Saya sempat mengekori Mas Indra untuk ngisi air minum dari tempat yang jauh. Sambil ngobrolin a-z sana sini nggak nyambung tapi seru aja. Balik ke kursi tunggu, saya sempat ngelihat keriweuhan Mas Donni laporan gegara Credit Card-nya dibobol orang. Biyuuu…. sungguh nggak menyenangkan kudu laporan di tengah malam. Syukurlah itu bisa segera dibereskan. Tapi kan yo itu bukti bank seolah-olah “nggak memberi proteksi” super untuk membernya.
Mengingatkan saya pada kasus temen lainnya dari bank yang sama. Dulu itu ngurusnya agak ribet karena jumlahnya besar. Yach, keamanan data pribadi di negara kita ini memang sungguh nggak terlindungi. Jadi memang kita sendiri yang kudu ati-ati, waspada, terutama hal-hal yang berurusan dengan duit.
Aula bandara yang luas terasa penuh oleh manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan tujuan. Akhirnya tiba juga saat kami terbang. Dari Jeddah, pesawat lepas landas menuju Dubai. Saya duduk dengan Mas Donni dan Mas Indra. Ternyata kursi saya itu tempat suaminya Bu Sida, jadi bisalah tukar. Kan dia bisa dengan istrinya.
Dari balik jendela, hamparan gurun perlahan menghilang, digantikan oleh langit malam yang luas dan sunyi. Penerbangan ini relatif singkat, cukup untuk memejamkan mata sejenak atau sekadar merenung tentang perjalanan yang hampir usai.

Ini sudah di Soekarno Hatta, nungguin bus yang akan bawa kami ke hotel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Transit di Bandara Internasional Dubai menjadi pengalaman kedua saya, setelah kedatangan kemarin dulu itu. Bandara ini terang, modern, dan selalu hidup, bahkan di tengah malam. Berasa penuh sesak kayak Bandara Adisutjipto pas liburan panjang gitu. Langkah kaki bergema di lorong-lorong panjang, di antara toko bebas bea, papan petunjuk digital, dan penumpang dari seluruh dunia.
Waktu transit ini saya manfaatkan untuk tidur. Saya lupa saat itu saya duduk dengan Bu Yuli atau Bu Sida ya. Pokoknya begitu dapat kursi di ruang tunggu, saya langsung merem, tidur pulas. Nggak memperhatikan denyut bandara internasional yang nggak pernah benar-benar tidur.
Penerbangan berikutnya membawa rombongan dari Dubai menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Inilah penerbangan terpanjang; jam-jam yang diisi dengan tidur terputus, sajian makanan pesawat, dan sesekali menatap layar penunjuk rute yang perlahan mendekat ke Asia Tenggara. Saat pengumuman bahwa pesawat akan mendarat terdengar, ada perasaan lega sekaligus haru: perjalanan jauh ini akhirnya hampir selesai.
Pesawat mendarat di Jakarta, disambut udara tropis yang akrab. Alhamdulillah, Tanah Air tercinta. Proses imigrasi, pengambilan bagasi, dan langkah pertama keluar dari bandara menandai kepulangan yang sesungguhnya.
Dari Garuda Resto di Mekkah, melewati Jeddah dan Dubai, hingga kembali ke Jakarta, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat; melainkan rangkaian kisah, kenangan, dan perasaan yang akan tinggal lama dalam ingatan.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
