Umroh Istimewa (18): Masih Enak Olive

Saya dan Bu Sida sebelum check out hotel di Mekkah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Kepulangan ke Tanah Air kali ini bikin mata saya mengembun beberapa kali. Ya Allah, panggil saya lagi ke Baitullah dengan kondisi dan fasilitas terbaik. Amin YRA. Rasanya masih nggak mau pulang, tapi ya harus kembali. Sudah hampir habis jadwal perjalanan umroh kami.

Pas balik ini kami harus jalan lumayan jauh dari hotel ke bus; karena bus nggak bisa berhenti, menunggu lama-lama di jalan. Ya karena semua pelataran hotel di ring 1 Masjidil Haram itu langsung jalanan untuk lalu lalang kendaraan. Tempat jualan pedagang kaki lima dari berbagai negara. Kalau jelang waktu sholat, langsung berubah jadi tempat sholat dadakan di semua sisi. Campur baur, nggak laki-laki nggak perempuan dari berbagai ras berbagai negeri, pokmen gelar sajadah, sholat menghadap Ka’bah, arah Masjidil Haram.

Usai balikin kunci hotel. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Beberapa kali karena nggak sanggup jalan ke mesjid, saya yo mung duduk ibadah di sekitaran orang-orang sholat di jalan itu. Kebayang betapa ngedropnya kesehatan saya, padahal jarak hotel ke mesjid itu hanya 300 meteran. Nambahnya banyak meteran kalau kita mau sholat yang langsung hadap Ka’bah. Perluasan Masjidil Haram memang bikin semua jamaah umroh kudu effort lebih banyak untuk bisa sholat di barisan terdepan.

Dalam rangkaian perjalanan pulang ini, kami ke museum dulu setelah meninggalkan hotel. Ngapain? Ya tengok-tengokin masa lalu lah. Sejarah Arab yang cukup panjang, tapi baru diterjemahkan dengan barang-barang kuno yang belum banyak. Kayaknya orang-orang Indonesia bae yang rajin ke museum ini. Petugasnya banyak. Ramah-ramah dan suka memotretkan.

Usai dari museum, kami pergi ke toko-toko oleh-oleh. Haiiizh, belanja lagi. Ya ampun, lupa saya ada berapa kali ya kegiatan belanja dalam perjalanan umroh kali ini? Pokoknya ada beberapa kali, belum mereka yang belanja secara mandiri non program biro. Dan kali ini waktu belanjanya cukup lama. Saya yang wes nggak lagi banyak pegang duit, wes jelas nggak belanja. Ada kerajinan unta dari perak dibingkai kaca yang versi saya cukup bagus, tapi harganya juga bunyi. Nggak saya beli.

Di Museum Alamoudi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Eh dapat info dari Mas Indra dan Mas Dokter kalau kerajinan perak Kotagede deket rumah Mas Indra bisa pesan aneka kerajinan dengan mumer, murah meriah karena langsung pengrajin nggak ada biaya distribusi, showroom dan pajak-pajak. Lah tapi sampai sekarang saya yo gak ke sana 🙈 Lha nggo apa pesan kerajinan unta dari perak? Memang godaan terbesar saat belanja tuh ya “laper mata”. Apalagi kalau ngerasa uangku masih banyak… haha😄😁 Meskipun nggak belanja, tapi beli cokelat dan makan es krim, tetap saya lakukan 😂😅

Ah iya, es krim di negeri Timur Tengah (termasuk Arab Saudi) itu beda rasanya dengan es krim di Indonesia. Kalau di Indonesia umumnya es krim tuh maniiz dan bikin eneg, kalau di sini tuh gurih, kering, dan krenyez-krenyez. Prosentase keju dan susunya lebih banyak. Jadi mo saya sedang batpil pun, makan es krim di sini ya nggak bikin parah. Santai aja.

Terus gitu harganya siy terjangkau versi saya. Ada yang 2, 5, 7, 10, 15, 20, 25, 30 dan 50 riyal. Dari es krim yang kelas kaki lima sampai bintang lima, saya wes pernah makan 😆😅 Beuuh, sampai hafal saya saking seringnya beli es krim 😂😅 Yang 25, 30, atau 50 riyal itu versi besar kek gelato gitu, jadi puaslah menikmatinya. Makin mahal makin nggak terlupakan rasanya 😂 Pokoknya kalau mo cari es krim di Arab Saudi, ajak saya yes. Lumayan tahulah nyari tempat-tempat orang jualan es krim 😂😅

Beuh Mas Dokter paling glowing. Tukar kulitnya dong Mas, biar saya lebih putih… hihihi😆😅 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Usai itu kami ngapain ya? Oh makan siang. Kami makan siang di rumah makan Garuda Resto, masih satu areal dengan tempat belanja-belinji oleh-oleh. Isian kulinernya ya masakan Nusantara juga. Cukup lama di sini karena sekalian ishoma, nunggu waktunya ke bandara. Rumah makan ini bersih, makan enak, tapi sarpras toilet dan tempat sholat masih perlu diperbaiki biar lebih nyaman untuk jamaah umroh dari Indonesia.

Di sini saya mung thenguk-thenguk. Do nothing. Nungguin waktunya berangkat ke bandara Jeddah. Usai makan-makan itu, TL kami membagikan ayam Albaik berukuran besar. Setiap orang dapat 1 box. Sebelumnya saya lihat banyak juga jamaah umroh yang berbelanja ayam ini untuk oleh-oleh. Sebagian ada yang beli untuk dimakan karena penasaran.

Isian box ayam Albaik. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Karena bukan pecinta olahan ayam, saya nggak pernah beli ayam ini. Kalau dapat dari biro saya bawa pulang untuk si Mail (ponakan saya yang doyan ayam). Ayam ini kurang cocok dengan lidah saya. Masih lebih enak ayam McD (ini versi saya sungguh ayam mewah. Waktu kuliah S-1 saya kudu nabung dulu untuk beli sepaket komplit nasi, ayam, kentang, minum, dan es krimnya 😆😅). Paling enggak menurut saya harga Albaik ya sebelas dua belas dengan McD. Ealah dengan semena-menanya lho Bu Yuli malah bilang masih lebih enak ayam Olive…. astagaaa…. jatuhlah harga dirimu ayam Albaik 😂🤣

Oh soal Albaik ini saya ingat Ustazd Faqih bilang ada udang Albaik, tapi harganya mahal dan adanya di mana gitu, lupa. Ntarlah kalau ke Mekkah lagi cari tuh udang Albaiknya….. Nah kalau udang, doyanlah. Saya bisa makan banyak.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *