
Di pelataran masjid Bir Ali. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah beberapa hari di Madinah, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk umroh. Sebelum ke Mekkah kami akan mengambil miqat di masjid Bir Ali. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Dzul Hulaifah adalah salah satu tempat yang paling dikenang oleh jamaah haji dan umrah.
Di sinilah para jamaah yang berangkat dari Madinah mengambil miqat dan mulai berniat ihram. Suasananya khas: tenang, luas, dengan arsitektur modern yang sederhana tetapi kokoh. Jaraknya sekitar 11 km dari Masjid Nabawi, sehingga biasanya menjadi pemberhentian pertama sebelum rombongan menuju Makkah.

Ustadz Faqih yang selalu banyak senyum dan siap membantu. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Begitu tiba, kita akan melihat hamparan pohon-pohon kurma dan dataran luas Madinah yang gersang tapi menenangkan. Di dalam masjid, area shalat sangat luas dan teratur. Fasilitas wudhunya banyak dan bersih, sementara area luar masjid selalu ramai oleh jamaah yang memakai pakaian ihram putih-putih.
Ada perasaan haru tersendiri ketika berada di Bir Ali: seolah pintu menuju perjalanan spiritual terbuka, dan setiap langkah setelah itu adalah bagian dari ritual suci yang telah dijalani jutaan orang sepanjang sejarah.

Di areal dalam masjid Bir Ali setelah sholat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah urysan miqat selesai, kami meneruskan perjalanan dengan bus terlebih dahulu untuk menuju stasiun kereta api cepat. Di sinilah yang terbengong dengan “ketidakefektifan” pengaturan transportasi Dewangga versi saya.
Lha kita membayar 1 juta untuk kereta api cepat, sementara bus tetap berjalan melaju mengikuti rombongan (yang naik kereta api cepat) karena membawa koper-koper bagasi. Lha mbok sudah seluruh jamaah naik bus aja seluruhnya. Biaya 1 juta versi saya malah terasa “sia-sia” “sayang” untuk sekedar naik kereta api cepat. Ini sekedar ngudarasa, karena bisa jadi pertimbangan Dewangga untuk jamaah adalah “pengalaman baru” naik kereta api cepat.

Di bus yang membawa kami dari hotel di Madinah hingga ke stasiun kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sesampai di stasiun kereta api cepat, semua wes dengan urusan masing-masing. Ada yang ke toilet. Ada yang duduk duduk karena capek. Ada yang foto-foto. Ada yang wira wiri. Ada yang ngobrol dan sibuk dengan HP-nya. Saya melipir berkeliling areal stasiun. Tempat ini cukup luas. Ada banyak sisi bagus dan wah…. ada toko buku.
Toko Buku Dar Alzaman di Madinah menjadi persinggahan favorit bagi siapa pun yang mencintai buku islami, manuskrip, kitab-kitab klasik, dan terjemahan kontemporer. Berbeda dari toko suvenir biasa, Dar Alzaman memiliki suasana “ilmiah”, seperti rak-rak tinggi penuh kitab bersampul tebal, aroma kertas baru yang kuat, serta pengunjung yang terlihat asyik membuka halaman-halaman kitab seperti menemukan harta karun.

Di salah satu sisi stasiun kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di toko buku ini ternyata bisa menemukan:
- Kitab-kitab turats (klasik) versi terbaik
- Mushaf dalam berbagai ukuran dan edisi
- Buku-buku sejarah Islam
- Ensiklopedia, tafsir, dan hadits
- Buku anak-anak edukatif
- Souvenir ilmiah khas Madinah dan Mekkah
Pantas saja toko ini sering direkomendasikan oleh mahasiswa Universitas Islam Madinah maupun jamaah haji yang ingin membawa pulang oleh-oleh penuh manfaat. Harganya cenderung lebih terjangkau dibanding toko-toko besar di area Masjid Nabawi. Berjalan di antara rak-raknya memberi sensasi seperti memasuki perpustakaan kuno yang hidup kembali di tengah kota suci.



Beberapa sisi bagian Toko Buku Dar Alzaman. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Seterusnya setelah tiba waktunya, kami naik kereta api cepat. Perjalanan dari Madinah ke Jeddah ini bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagi yang belum pernah; karena lebih cepat. Haramain High-Speed Railway, kereta cepat modern yang menghubungkan Madinah–KAEC (King Abdullah Economic City)–Jeddah–Makkah.
Kereta ini benar-benar memberikan pengalaman baru untuk jamaah umrah dan pelancong:
- Kecepatan hingga 300 km/jam
- Gerbongnya bersih, nyaman, dan tenang
- Kursinya empuk dengan ruang kaki lega
- Ada meja lipat, colokan listrik, dan ruang bagasi luas
- Layanan yang tertib dan tepat waktu

Saya di dalam kereta api cepat. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Perjalanan yang dulunya bisa memakan waktu 5–6 jam dengan bus, kini hanya 1 jam 45 menit menggunakan kereta cepat. Pemandangannya dramatis: hamparan gurun cokelat keemasan yang seperti tidak berujung, garis langit yang bersih, serta deretan bukit batu khas Hijaz yang mengiringi perjalanan.
Stasiun-stasiunnya pun megah dan modern—terutama Stasiun Madinah yang sangat luas, didominasi warna putih dan desain futuristik. Kita diajak merasakan perpaduan unik antara kesucian perjalanan ibadah dan kemudahan teknologi modern.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
