
Kami setelah makan malam sebelum terbang ke Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai kami dari komplek Istana Sultan Mehmed, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Sore itu kami makan di Nusantara, sebelum pergi ke bandara. Makanan di resto ini isinya makanan Nusantara; ada soto, gorengan, mie goreng, kerupuk, ikan goreng, ayam goreng, dll yang jelas-jelas makanan Indonesia.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan bus ke bandara Turki untuk melanjutkan ke Madinah. Kami menggunakan maskapai Ajet Air. Saya lupa saat di Ajet Air ini duduk dengan siapa. Karena sebentar saja penerbangan dari Istanbul ke Madinah. Ya, dan betul sebentar saja kami sudah sampai bandara Madinah. Nggak terlalu lama di bus, kami sudah sampai di hotel kami di Madinah.

Saya dan Mbak Yuli di bandara Turki sebelum terbang ke Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Ustadz Faqih di sini sudah mulai dibantu Ustadz Gilang yang jadi muthhowwib kami, selama di Madinah dan Mekkah. Di dalam bus, kami diberitahu kalau akan sampai duluan dibandingkan koper bagasi. Jadi kami bisa masuk kamar dulu, tapi semua piranti ganti baju masih di koper.
Saya satu kamar berempat dengan Bu Sida, Bu Yaya, dan Bu Prapti. Mereka sungguh ibu-ibu yang luar biasa. Semangat ibadahnya sungguh patut diacungi jempol. Pas sudah masuk kamar, sebenarnya kami masih mau nunggu koper. Tapi karena koper belum datang juga, saya menanyakan apakah kami mau sholat Shubuh di Mesjid Nabawi atau di kamar saja. Mereka memilih ke mesjid. Yo wes saya pun ikut dengan mereka.

Identitas di pintu depan hotel kami di Madinah. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Bersiap dengan alat sholat, kami melangkah dengan semangat ke Mesjid Nabawi. Setelah tiba di mesjid, kami segera menunaikan sholat. Dan…. jangankan Bu Sida, Bu Prapti, atau Bu Yaya yang baru kali ini datang ke mesjid Nabawi, saya bae usai sholat ya menangis (meledak). Haru nya nggak bisa saya katakan.
Seolah-olah melihat Nabi Muhammad SAW di hadapan, diterima disambut saat datang, itu beneran bikin hati sesak oleh tangis haru. Ya Rasulullah SAW kami nantikan syafaatmu di hari Kiamat kelak. Mohon undang kami lagi ke mesjid dan tanah negerimu yang Mulia ini. Amin YRA.

Saya bersama teman sekamar, Bu Yaya, Bu Prapti, Bu Sida pagi hari saat menuju Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sampeyan mungkin pernah mendengar ungkapan, “Raga bisa kembali, tapi hati akan menetap.” Setelah menyelesaikan ibadah umroh beberapa waktu lalu, ungkapan itu terasa begitu nyata menghujam kalbu saya. Jika ditanya di mana bagian terpenting dari diri saya berada saat ini, jawabannya hanya satu: tertinggal di Madinah. Selalu begitu setiap kali usai umroh. Dan Madinah adalah kota yang versi saya, sungguh nggak bisa dilupakan dan selalu bikin rindu tiada akhir.
Sebelum tiba di sana untuk pertama kalinya, bagi saya Madinah hanyalah sebuah nama kota suci. Dan saya tidak percaya bahwa sekali kita umroh, datang ke Madinah dan Mekkah, seterusnya kita akan rindu yang nggak pernah berakhir. Mosok iyo, pikir saya. Ada berbagai tempat yang saya kunjungi, seindah apapun; nggak ada keinginan untuk datang lagi ke tempat yang sama, kecuali ada kepentingan di tempat itu.

Situasi di dalam Mesjid Nabawi saat pagi kami datang. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Namun, begitu melangkah keluar dari pesawat dan menghirup udara Madinah saat pertama kali datang, saya tahu ini adalah tempat yang berbeda. Madinah adalah kota yang tenang, damai, dan auranya terasa begitu lembut, seperti pelukan dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Energi Nabi Muhammad SAW sungguh energi lembut damai yang menenangkan. Sepanas apapun kota ini di siang bolong, bisa 52 derajat Celcius, tapi rasanya tetap adem ayem karena seolah-olah ada kabut tipis yang membayangi sinar matahari ke bumi. Bagi mereka yang memiliki sensitivitas energi, biasanya bisa merasakan hal ini.
Jadi, bukan hanya karena kota ini adalah tempat suci yang menjadi tempat tinggal Nabi Muhammad SAW sewaktu hidup dan jadi makam Nabi Muhammad SAW setelah wafat, tapi versi saya ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin itu adalah kedamaian yang menenangkan, atau mungkin kerinduan mendalam yang tersembunyi di setiap sudut kota.

Kami berempat usai Shubuh di Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Momen yang paling magis, dan yang paling mengunci hati saya di Madinah khususnyaMesjid Nabawi, tentu saja adalah ketika saya berkesempatan memasuki Raudhah Syarifah. Area ini dikenal sebagai salah satu taman surga. Berada di dalamnya adalah sebuah anugerah, tempat di mana doa-doa terasa begitu dekat untuk diijabah.
Setiap langkah menuju Raudhah terasa seperti berjalan menuju pertemuan yang telah lama dinantikan. Ketika akhirnya saya bisa berdiri dan bersujud di karpet hijaunya, tangis sungguh nggak tertahankan lagi. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru dan rasa syukur yang meluap-luap. Di sanalah, saya merasa hati saya “dilepaskan” dari segala beban dunia, dan memilih untuk berdiam di taman surga itu.
Selain Raudhah, setiap momen di Madinah jadi pengikat rindu abadi untuk saya. Saat kita bisa menatap Kubah Hijau yang ikonik dari Masjid Nabawi itu serasa terapi jiwa. Warnanya yang sejuk seperti menenangkan segala kegelisahan.

Saya di halaman Mesjid Nabawi. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Saya sangat bersyukur saat di Madinah ini nyaris bisa full beribadah wajib. Sekali saja saya absen saat sholat Ashar, itu rasanya sudah bikin saya nyesel banget. Ya karena di tanah ini, rasanya hidup saya terhenti hanya untuk beribadah, menunggu dari satu waktu sholat ke sholat berikutnya.
Dan benar saat meninggalkan tempat ini, beneran bikin saya berbisik dalam hati, “Saya akan kembali lagi.” Saat ini, di tengah rutinitas harian di tanah air, saya sering mendapati diri saya mengingat kembali tentang kota Nabi Muhammad SAW ini. Hati saya yang tertinggal di Madinah kini menjadi kompas. Madinah selalu menunjuk pada satu arah: kebaikan, ketenangan, dan ketaatan.
Kerinduan ini menjadi sebuah motivasi. Motivasi untuk menjaga ibadah, memperbaiki diri, dan bekerja keras agar Allah SWT kembali mengundang raga ini untuk menyusul hati yang telah menetap di kota penuh berkah itu. Amin YRA.
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
