

Sisi depan toko tempat beli oleh-oleh di Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Di Turki mata uangnya Lira. Tapi kalau kamu piknik ke sini, mata uang apa aja diterima. USD, Riyal, IDR, debit Visa Mastercard bahkan kartu kredit di beberapa gerai. Belanja memang gampang dan lebih menyenangkan lagi “menghabiskan uang” 😀
Saat di Indonesia saya nggak menukar Lira karena mikir nggak belanja. Hanya tukar USD dan Riyal secukupnya. Beneran saya nggak ada niat belanja. Oleh-oleh umroh wes dikompliti di rumah diurus saudara saya. Biar nggak berat di bagasi dan saya pun nggak ribet gotong-gotong oleh-oleh.
Tenan, kalau sudah lelah dari perjalanan jauh itu, bawa diri sendiri bae bisa terasa berat. Apalagi masih kudu narik bawa koper berat. Weizh… saya siy ogah. Ada porter yang bisa kita minta bantuan; tapi pada titik-titik tertentu tetep kita sendiri yang harus beresin.


Mendengarkan kuliah bakul manisan asli Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah dari Bosphorus, kami mampir ke pusat oleh-oleh khas Turki. Komplit di sini untuk semua makanan tradisional dan khas yang wes diolah dan dikemas modern. Setipe dengan Kebun Kurma di Madinah, mereka juga menyediakan aneka tester gratis ambil bebas makan dan minum. Termasuk cokelat, manisan, aneka teh, dll.
Di sini tuh toko jualan kek-nya seperti kewajiban ada presentasi dulu. Ada orang yang jelasin tentang produk-produknya dengan rinci detail, lalu memberi tester. Wes mengadopsi cara dagang China banget, terutama di areal wisata. Bahkan di China ada program wisata shopping. Ya piknik, tapi lebih fokus ke belanja produk dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Pokmen masuk toko/mall/perusahaan wisman kudu dengerin kuliah dulu; dan biasanya yang dipajang tuh ganteng-ganteng atau cantik-cantik 😂 Setelah itu kita kudu belanja. Kalau sampeyan nggak belanja, haizh bisa dikejar-kejar sampai beli pokoknya 🤣
Di Indonesia? Kayaknya sudah hampir semua tempat pariwisata Indonesia wes saya jelajahi; baik dengan trip mandiri, private trip, atau open trip, tapi belum ada aturan model begini. Hanya beberapa saja yang melakukan dan itu kebijakan internal perusahaan mereka. Di Bali, beberapa toko yang sudah begitu. Di Magelang, justru beberapa UMKM yang begitu. Wisatawan disambut, dikuliahi produk produk dan cara produksinya termasuk masuk ke unit-unit pembuatannya, lalu ke showroom jualan produk mereka. Di Lombok ada beberapa yang begitu.

Niat nggak belanja boleh aja, tapi perempuan pasti tetap beli-beli. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Daerah-daerah lainnya di Indonesia kok belum dan pemerintah kayaknya juga tidak (cmiiw) mewajibkan model begini. Padahal ini jelas presentadi begitu bisa mendongkrak omzet penjualan. Karena kalau kita paham manfaat produknya, kecenderungan beli lebih besar.
Di sini saya ada membeli beberapa jajanan dan souvenir untuk kepentingan pribadi. Pas bayar itu saya tahu harga manisannya 388 rb IDR. Jadi saya kasih uang 350 rb IDR. Kasirnya bilang, “No, tambah 50 rb lagi.” Kebetulan saat itu uang saya 50 ribuan.
Saya ngikik, lah ini kasir nya kok mudheng hitung duit. Saya pun kasi 50 rb lagi dan sampeyan tahu, kembalian 12 rb itu berupa recehan 2 ribuan sebanyak 6 lembar. Biyu… Sereceh itu pun mereka punya uang kita. Ketahuan kan kalau pasti banyak turisman Indonesia yang belanja di sini dengan mata uang IDR 😁😆
Setelah itu kami makan siang. Sik lali saya nama restonya apa ya? Itu di dekat areal perbelanjaan oleh-oleh, tapi makanannya khas Turki banget. Ya nanti kalau ada fotonya saya sebut namanya.



Saya, Bu Yuli, Pak Bambang, Bu Ening; saat makan siang di sekitaran tempat belanja oleh-oleh. Saya lupa nama tempatnya dan jangan tanya nama menu makanannya, ora ngerti 😁Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Usai makan… Cuuuz… Kami jalan ke areal Sultan Mehmed, areal Hagia Sophia. Tempat wisata ikonik di Turki. Pokmen kalau sampeyan ke sini, itu formasi atau struktur tempat dan bangunannya setipe dengan areal Malioboro ke arah istana Jogja. Inget-inget areal pariwisata seputar titik 0 km Jogja wes. Ada keraton/istana, mesjid, kaki lima (Malioboro), museum, dan taman-taman😁😅
Tenan, model atau struktur tata letaknya ya mirip-mirip gitulah. Kalau kita rujuk sejarah tata kota di Indonesia, jelas warisan kolonial (Belanda, Eropa). Nah, Turki ini kiblatnya yo Eropa, meskipun sebagian yo Asia kek kita (tapi mereka lebih senang kalau “dianggap, diakui” sebagai bagian Eropa. Kalau ada komparasi sejarah bangunan, mungkin lebih banyak persamaannya antara Istanbul dengan Jogja daripada perbedaannya.
Lha wong yang jualan jagung rebus sama galundeng (roti goreng) pun ada di sini 😁😆 Saya beli jajanan itu? Jelas enggak. Rasanya jagung rebus, westalah di mana-mana podho bae. Daripada makan jagung rebus jauh-jauh ke Turki, ke rumah saya bae bisa taksuguh munyukan komplet (kacang, kedelai, jagung, ubi, ketela, pisang —semua direbus) bisa makan sakkemenge, sekenyangnya.😁 Belum jalan mider keliling, saya merasa Istanbul nggak asing-asing atau beda banget dari Jogja🤣
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
