
Saya, Bu Atmudah, Bu Neli, Bu Nunu, Bu Yuli. Istanbul Buyuk. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oh iya, sebelum saya lupa. Grup umroh kami kali ini isinya 33 orang (30 orang dewasa, 2 remaja, 1 bocil), ditambah 1 TL dan 1 muthowib. Jadi sekali jalan di bus selama di Madinah Mekkah ada 37 orang (driver dan kru), kadang 38 kalau ada fotograger turut serta. Cukup ideal untuk ditangani oleh seorang TL.
Nah di grup kami ini ada 2 orang yang saya sebut happy virus, orang yang gembira terus, bikin orang lain ketawa; Bu Neli dan Bu Nunu. Dua kakak beradik beriparan ini, kalau saya nimbrung ngobrol dengan mereka, ya ampun bisa kaku perut saya diajak ketawa. 😂
Di luar teman sekamar, dengan keduanya saya cukup nyambung. Prinsip hidup mereka yang sederhana, melihat hidup dari sisi yang lebih objektif, menghadapi tantangan dengan keteguhan hati mereka. Energi positif yang mereka bawa, terasa ikut menghangatkan hati saya pas down. Trip umroh kali ini, terasa bukan trip yang “mudah” buat saya. Toh saya tetap bersyukur, berterima kasih pada Allah yang telah melingkupi saya dengan orang-orang baik sepanjang perjalanan dari berangkat hingga kembali ke tanah air. Terimakasih untuk Bu Nunu dan Bu Neli, sampai jumpa lagi di umroh-umroh berikutnya ❤❤



Beberapa menu yang ada di resto GHotel, Istanbul. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Oke, sekarang saya lanjutin cerita perjalanannya. Di pesawat menuju Turki, saya yo tidur 😀 Orang-orang dekat yang sudah biasa jalan dengan saya, tahu betapa mudahnya saya tidur. Terutama kalau do nothing, tidur bikin saya lebih aman dari dosa-dosa nggak sadar (misalnya ngrasani orang, mikirin dengan iri pulak kok hidup orang kayaknya lebih enak daripada saya😂, dll yang bikin nggak syukur bae). Tahu-tahu pas dibangunin untuk makan. Habis makan kenyang yo tidur lagi sampai tiba di bandara Istanbul.
Kami keluar bandara dengan bus menuju hotel. Di hotel masih dibagi nasi box dan air mineral. Perasaan di pesawat barusan makan. Tapi semua diminta untuk menerima, karena saya pun maunya menolak. Jelas nggak kemakan. Di bandara YIA saja, saya mengekori seseibu yang menyerahkan nasi box nya ke OB di bandara. Kalau enggak, yo nggak kemakan dan dibuang pula. Pokmen kalau ikut Dewangga rasah sangu makanan minuman, wes turah-turah. Mengingatkan saya pada biro Blessing Tone yang semua trip dengan makanan enak-enak berlimpah turah-turah 😀
Kami nginep di GHotel. Saya sekamar dengan Bu Yuli. Usai mandi, sholat, saya njur pamitan Bu Yuli untuk tidur. Kayaknya Bu Yuli belum selesai mandi pun, saya wes pules meskipun di pesawat saya wes tidur terus. Kayaknya “capek” saya sejak 3 bulan terakhir masih belum ilang dari tubuh bawah sadar saya.
Pagi kami sarapan di hotel dengan makanan ala Turki (Eropa) nggak ada nasi, tapi full roti, olahan gandum, pasta, kentang-kentung, jus, susu, keju, selai, dll. Nggak sempat lapar, saya makan yang versi lidah bisa saya makan.

Fashion show di Best Fashion, Istanbul, Turki. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Topi kami cakep kan? Produk Best Fashion. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Setelah itu kami pergi nonton fashion show di Best Fashion. Ini brand terkenal di Turki dengan produksi fashion dari kulit domba. Industri fashion kulit yang memasok produk produk branded kelas dunia di Eropa dan Amerika. Produk halusan yang tahan lama sampai sebosannya kita pake. Pun jangan tanya harganya. Bandrol jaket dewasa saja antara 1500 s/d 15000 USD. Mabuk tenan.
Saya yo nggak ada niatan beli apapun dari brand sini. Indonesia juga banyak produk kulit berkelas. Eh, pas mider mider di bagian limited edition ada jaket warna gading dan lebih gelap. Pas saya di situ nggak ada marketing nya. Jadi saya cobain deh. Mikir kalau nggak cocok, bisa langsung saya lepas tanpa banyak pertanyaan.
Ealah, baru saya pake jaket itu satu lengan lhah kok makbedunduk (ujug-ujug alias tiba-tiba), marketing nya muncul. Hadeuuh…. Saya diurusinnya dan jaket pun melekat pas di tubuh saya. Ukurannya pun nggak perlu motong, mermak, jian pas dan enak tenan. Ya ampun, saya kok wes suka duluan. Karena saat itu dingin, di badan langsung terasa hangat, ringan, dan lembut.

Best limited, hanya dibuat 1-5 untuk setiap model. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya dengan marketing Best. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Biyuuu… Lihat harganya beuuh, menjerit tenan IDR saya. Tapi khusus rombongan umroh Indonesia bisa dapat diskon sd 60% atau lebih. Dan saya dikasih tahu harga jaket itu jadi turun jauh setelah diskon. Duit jelas (alhamdulillah) saya punya, tapi bayar segitu banyak untuk 1 jaket jelas meringis saya. Menawar begini begitu, turun lagi. Saya wes mikir emoh saja, tapi berasa nggak ikhlas juga melepas jaketnya. Nyaman tenan jaket ini. Beuuuh, perempuan ya. Maunya dapat barang bagus harga murih 😁😆
Saya boleh jadi buta merek fashion (nggak beli barang dari brand-nya), tapi saya pastikan semua baju saya dibuat dari bahan terbaik (versi saya) dan dijahit penjahit langganan yang saya tahu persis kualitas halusan, teliti, rijik, rapi, detail jahitannya. Pun kalau beli jadi, yo yang terbaik dan harganya terjangkau duit saya. Kalau sudah begitu kan jelas dipake tuh nyaman dan bikin pede. Versi saya, itu sih yang paling penting soal pakaian.
Nah soal jaket ini, saya njur ngitung harga jaket dengan kurs IDR menggunakan debit internasional. Lha kok itu setara gaji pokok saya sebagai dosen 4 bulan, nggak boleh diutak-atik.😆 Wes mau saya lepas saja, tapi inget saya biasa pergi ke mana-mana dan sering beribetan dengan jaket besar, berat, gembung; jaket itu nggak jadi saya lepas lagi. Saya minta harga turun lagi, salesnya ngeyel nggak boleh.
Sampe akhirnya manajernya kasih harga mati no tawar tawar lagi. Ya weslah saya bilang oke. Jaket termahal yang saya beli hingga saat ini. Beberes bayar dan jaket ya langsung saya pake. Lha itu pas hujan di Turki. Jadi berasa banget nyamannya dan yo pisan saya pake sholat bolak-balik, takut kalau hisabnya berat.
Ahamdulillah. Menyenangkan diri sendiri dengan hal-hal ringan di hati. Percayalah saya beli jaket itu bukan lantaran brand-nya; tapi karena fungsinya, tingkat kepraktisan, kelembutan, dan kenyamanannya. Dibawa pun mirip outer tipis yang ringan dan nggak bikin tas tenteng saya “menggendut”. Selain itu, nggak ada tulisan/tanda brand di areal luar jaket, justru bikin hati tenang. Kalau saya pake, nggak akan dihitung orang😆😅
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
