
Tagline nya bagus ya. Saya menyambungnya dengan Umroh Happy, (dan) Umroh Lagi 😀 Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Pagi Shubuh saya bangun dengan syukur melimpah. Badan saya terasa full energi. Mandi, sholat Shubuh. Bebersih rumah. Masih sempat membuat review artikel, merekam materi perkuliahan, dll gaweyan sampai adik dan ipar saya datang. Mruput mereka karena nggak bisa antar ke bandara; ada arisan trah.
Kami hanya sebentar ngobrol karena urusan arisan trah 100 an orang ya rada rieweuh. Saya njur melanjutkan gaweyan. Karena hari sudah terang, saya bisa pamitan tetangga kiri kanan secara langsung. Kalau umroh harus berangkat jam 03 dini hari, pamitan mung via grup WA. Ya nggak mungkin lah saya gedor rumah orang pagi pagi gulita 😀🙏
Ya ampun, niy rombongan yang satu bus dengan saya jian rajin-rajin. Lha jadwalnya diminta datang jam 11.00; lha jam 10.30 wes lengkap kecuali saya. Hadeuh berasa telat deh. Untung saya datang tepat waktu. Jam 10.55 setelah saya datang dan duduk, bus langsung berangkat ke bandara. Ustadz Faqih sempat menanyakan tentang koper kecil saya. “Memang nggak dibawa.” Jawab saya. “Hanya backpack itu saja?” Tegasnya lagi. Saya mengangguk.

Bersama adik lelaki dan ipar saya di Bandara Soetta, Jakarta. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Sepertinya Ustadz Faqih ingin memastikan bahwa nggak ada barang bawaan saya yang tertinggal. Kalau dia sempat menenteng tas punggung saya itu pasti terasa ringannya (hanya berisi 2 setel baju dan alat mandi minimalis), power bank, topi payung, dan copy berkas identitas. Paling hanya 3 kg dari kapasitas total 12 kg. Sementara ada banyak orang (terutama ibu-ibu) yang bawaannya mbriyut.
Saya termasuk yang sangat praktis membawa barang saat bepergian. 12 hari ya berarti 12 setel baju lengkap dari ujung rambut ke ujung kaki, plus 3 baju tidur, piranti mandi komplit, 2 setel baju cadangan, 2 mukena plus sajadah, sandal, jas hujan, obat-obatan, makanan kering, gantungan baju, dll kruncilan barang perempuan. Dari 30 kg beban koper, hanya terpakai 15 kg. Itu karena saya wes antisipasi, sebab di penerbangan domestik bagasi hanya dapat 20 kg. Kelebihan yo silakan tanggung sendiri. Lumayanlah kalau masih ada 5 kg nggo oleh-oleh nanti. Kalau kurang, masukkan saja ke backpack. Jadi nggak ada cerita koper beranak dan over bagasi.
Bagi mereka yang wes biasa travelling, itung-itungan begitu sudah otomatis terpetakan di kepala. Tambah bagasi, tambah beban, tambah charge. Kalau ketemu modelan kek bandara Vietnam yang nggak mau dibayar pake mata uang apapun kecuali Dong Dong, itu sudah bikin mumet lagi. Tukar tukar uang dulu, lari sana sini pula… Beuuh😆😅
Dan seperti kebiasaan, setelah menyapa kawan duduk saya, sebentar saja duduk di bus langsung tidur. 😂🙈 Bangun sudah dekat YIA. Turun, mider sebentar. Njur saya makan bekal. Lha orang-orang yang datang baru sedikit, masih lama. Wes beberes foto-foto dll masuk bandara dengan syukur melimpah saya. Ya Rabb, saya penuhi panggilan-Mu. Mudahkan semua urusan kami. Kabulkan semua doa kami. Ampunilah semua dosa-dosa kami. Belum berangkat pun, saya wes ndremimil berdoa. Karena kita nggak pernah tahu doa yang mana, di saat apa yang dikabulkan oleh Allah.

Saya, Mas Donni (Mas Dokter), Mas Indra di Emirates untuk penerbangan Jakarta Dubai. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Nunggu is waiting. Saya bengong bingung mo ngapain. Njur tertidur lagi, sebelum boarding. Alhamdulillah kami dari YIA-YK ke SOETTA- JKT dengan Trans Nusa. Adem. Dapat snack minum. Layanan ramah. Full banget pesawat. Weekend ya. Yang dari Jogja pada pulang Jakarta. Sesuk nyambutgawe.
Sebentar saja wes landing. Jakarta. Wah, senangnya. 12 tahun di Jakarta tentu saya nggak asing dengan bandara ini. Tapi beneran syok dengan perubahannya. Luar biasa. Saya bahkan bingung ketika adik dan ipar saya menanyakan mau jumpa di mana di bandara. Wes saya manut saja dan nanti akan tanya orang. Adik saya bilang di dekat tempat check in Emirates saja.
Iya, penerbangan kami dengan Emirates. Alhamdulillah. Maskapai besar ini kondang sebagai penerbangan dengan full service, full hiburan, full makan minum, dan tentu saja AC nya dingin. Kelas ekonominya pun wes super sekelas Etihad. Apalagi kelas bisnisnya, nyamannya pasti luar biasa. Satu kursi di kelas bisnis itu setara ruang 4-5 kursi di kelas ekonomi. Jadi maklumilah kalau harganya juga 5-10 kali kelas ekonomi.
Umroh kedua saya (tahun 2023) alhamdulillah menggunakan Etihad bisnis, jian nyaman tenan. Versi saya itu tentang mencintai diri sendiri, menghargai hasil kerja keras untuk saya nikmati dengan sukacita. Toh ini untuk perjalanan ibadah, bukan perjalanan aneh-aneh atau maksiat.

Salah satu pramugari Emirates di kelas bisnis. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Dan memang enak betul di kelas bisnis. Check in wes diuruskan, boarding nggak perlu antri, barang dibawain, tempat duduk luas, tidur nyaman serasa di kasur empuk, selimut hangat, makanan melimpah, layanan hiburan beragam, turun duluan nggak perlu nunggu. Beneran pengalaman yang nggak murah, tapi sungguh menambah syukur saya pada Allah yang Maha Memberi Rezeki ❤
Kalau naik first class nya turun dijemput pake limosin 😀 Saya belum kuat untuk naik first classnya 😁 Ya nanti kalau diberi rezeki berlimpahan, sekali-kali bayar first class biar tambah syukurnya. Beda harga memang beda layanan. Saya bekerja sangat keras, salah satunya biar enteng beli atau bayar ini itu tanpa beribetan dengan hitungan duit. Saya hidup sederhana, tapi urusan mencintai diri sendiri sungguh nggak pernah sederhana.😀
Di penerbangan Emirates dari Jakarta ke Dubai ini saya duduk dengan Mas Donni (Mas Dokter) dan Mas Indra. Karena saya wes capek dan ngantuk banget, begitu menyapa mereka berdua, saya langsung pamitan tidur. Dan beneran tidur pules. Hanya terbangun saat guncangan pesawat karena petir hujan, njur tidur lagi. Bangun lagi wes jelang waktu makan.
Saat itu saya belum tahu kalau dokter yang disebut-sebut di grup kami itu ya Mas Donni yang duduk di samping saya. Saya merasa lebih tenang. Kalau ada kedaruratan soal kesehatan saya, sekurangnya ada yang bisa dimintai instruksi P3K standar dokter. Belum-belum saya merasa betapa sayangnya Allah sama saya. Kesehatan saya nggak prima, di grup wes ada dokternya 🤩 Alhamdulillah.
Besoknya pas sudah sampai di Dubai, Mas Donni cerita kalau nggak bisa tidur di pesawat. Hanya bisa ngelihatin kami (saya dan Mas Indra) di kiri kanan, tidurnya pules bener. Hahaha… maafin kami ya Mas Dokter, yang nggak toleran soal tidur 🤣🙈
Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari
